CHAPTER 2
.
.
.
2 bulan belakangan ini, Baekhyun mendapat kabar dari para ajudannya bahwa sang putra, Park Sehun, sama sekali tidak melakukan pendekatan dengan siapapun sekarang. Aktivitasnya sehari-hari hanya belajar di kampus, jalan bersama teman-temannya, dan mengunjungi rumah sakit untuk mengambil materi penelitian.
Dan hal itu terus terjadi berulang sampai Baekhyun mengernyitkan keningnya sendiri. Dia tahu soal sifat 'sedikit' playboy sang anak yang tak betah menyendiri lama-lama tanpa adanya seorang kekasih. Biasanya dalam waktu 2 bulan seperti ini, akan ada 2 gadis murahan yang siap Baekhyun depak dari kehidupan kencan putranya itu. Tapi sekarang? Tumben sekali.
Entah apapun alasannya, jujur saja Baekhyun agak bersyukur akan hal ini. Biarkan saja putranya itu tak usah pacaran dulu. Selagi dia fokus pada pendidikannya, mungkin Baekhyun akan mulai mencari calon menantu untuk ia jodohkan pada putra semata wayangnya. Seseorang yang pantas untuk mendampingi Sehun, dan tentu saja harus memenuhi seluruh kriteria yang telah Baekhyun tetapkan.
Carrier beranak satu itu benar-benar sedang dalam mood yang baik sekarang. Tentu saja itu berkat putranya Park Sehun yang tak banyak berulah akhir-akhir ini. Senyum manis tak lekang dari bibirnya yang pink bak sakura. Aura positif dan menyenangkan terus ia tunjukkan, hingga membuat para maid yang menemaninya di kebun belakang saat ini jadi ikut-ikutan merasa bahagia.
Tapi ketenangan di kediaman Park sepertinya tidak akan bertahan lama. Ditengah senandung merdu dari bibir sang Nyonya yang tengah menyirami gerombolan anggrek warna-warni kesayangannya, mereka semua tak menyadari bahwa sebuah sumber 'masalah' saat ini sedang berjalan mendekat.
Betapa terkejutnya para maid saat Tuan Muda mereka datang ke kebun belakang secara tiba-tiba di siang hari, apalagi dengan menggandeng tangan seseorang yang nampaknya adalah seorang carrier. Dan dia sangat cantik, ngomong-ngomong. Dari pakaiannya yang serba putih, kelihatannya itu adalah seragam khas seorang apoteker rumah sakit.
Para maid pun kompak membungkuk dan mengucapkan "Selamat datang, Tuan Muda." yang mana langsung membuat Nyonya Park terdiam ditempatnya sambil mengerutkan dahi.
'Anakku sudah pulang?'
"Mom,"
Benar, itu suara Park Sehun.
Sang ibu lantas berbalik, siap dengan senyum terbaiknya untuk menyambut sang putra yang tumben-tumbennya pulang cepat dari kampus.
"Hai, sa-..."
Pupus sudah.
Senyuman itu mendadak luntur. Teko penyiram bunga berwarna pink yang semula dia genggam juga jatuh ke tanah berumput hijau dibawahnya.
"Si-siapa dia?"
Tentu saja, pertanyaan sang ibu merujuk pada carrier bermata cantik yang kini tersenyum lebar ke arahnya.
Berani-beraninya dia tersenyum tanpa beban seperti itu didepan Nyonya Park yang agung dan bengis ini.
Dengan wajah datarnya yang entah kenapa terlihat sedikit menyembunyikan perasaan bangga, sang putra menjawab.
"Kenalkan, Mom. Dia Xi Luhan. Dan dia adalah calon istriku."
Satu
Dua
Tiga
Tunggu.
Kenapa pandangannya mendadak berkunang-kunang sekarang?
Rasanya begitu pusing, hingga refleks tangan kirinya memegang kepalanya sendiri.
Dan gelap...
Bruk!
"NYONYA!"
Park Baekhyun pingsan dengan sangat dramatis di kebun belakang rumahnya yang mewah ini.
e)(o
"Apa yang terjadi? Kenapa istriku tiba-tiba pingsan?"
Tuan Besar Park Chanyeol yang buru-buru memasuki rumah bertanya pada salah satu ajudan yang saat ini berjalan mengikuti dibelakangnya.
Begitu mendapat telepon bahwa istrinya, Park Baekhyun, mendadak pingsan di kebun belakang, CEO perusahaan itu langsung meninggalkan kantor dan bergegas pulang menuju kediamannya.
"Ceritanya sedikit rumit, Tuan. Tapi pada intinya, ini semua menyangkut Tuan Muda Sehun dan calon istrinya."
Sebenarnya Chanyeol tak ingin membuang waktu dengan berhenti ditengah jalan seperti ini. Tapi dia melakukannya.
"Apa?"
Bukan hanya shock, tapi dia juga keheranan. Apa dia baru saja tertelan mesin waktu dan sekarang sedang berada di masa depan?
Bagaimana mungkin tahu-tahu anak semata wayangnya itu sudah punya calon istri, sedangkan kemarin dia baru saja mendengar cerita menggebu-gebu dari Baekhyun bahwa sang putra sedang betah menjadi single dan hanya fokus pada kuliahnya.
Terlalu lama stuck di ruang tamu, ajudan kepercayaannya (Mr. Jung) berusaha memecah lamunan sang Tuan yang masih tampak kebingungan ditempatnya saat ini.
"Detailnya akan kami jelaskan nanti. Sekarang, ayo temui dulu istri anda dikamar, Tuan Park."
Dan laki-laki dominan itu pun akhirnya tersadar. Mereka memasuki lift untuk naik menuju lantai 3, dimana kamar utama di mansion megah ini berada.
Pintu kamar pun dibuka untuk menyambut sang Tuan Besar yang baru datang. Seorang dokter yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan langsung menatap kearahnya, siap menjawab segala pertanyaan yang akan diajukan oleh Park Chanyeol.
"Bagaimana keadaan istriku? Apa dia sudah sadar?"
"Belum, Tuan Park. Tapi aku pastikan bahwa kondisinya saat ini baik-baik saja. Trigger yang membuatnya tak sadarkan diri adalah shock, dan efeknya tidak akan membahayakan."
"Syukurlah..."
Tak hanya Park Chanyeol, tapi semua orang didalam ruangan ini juga ikut menghela nafas lega.
Termasuk Sehun, putra semata wayang keluarga Park.
Sang Ayah berbalik untuk melihat ke arah putranya yang berdiri dibelakang. Dan benar saja, disampingnya berdiri seorang carrier muda yang memasang raut khawatir sambil terus menatap tubuh terbaring istrinya. Tangan sang putra tak lepas merangkul si Carrier dengan posesif.
"Sehun."
"Ya, Dad?"
Akhirnya ia bersitatap dengan sang putra.
"Bisa kita bicara sebentar? Ayo ikut Daddy keluar."
Sehun tak banyak protes dan hanya mengangguk menyanggupi permintaan ayahnya.
Carrier bernama Luhan itu mengerti saat Sehun langsung menatapnya. Dia tak masalah ditinggal sendirian sementara Sehun berjalan mengikuti ayahnya dibelakang untuk keluar dari kamar.
"Bisa kau jelaskan pada Daddy apa yang terjadi sebenarnya? Siapa carrier itu? Dan kenapa Mommy-mu bisa pingsan? Kau tidak sedang membuat kekacauan, kan?"
"Aku tidak, Dad. Sungguh Daddy tidak perlu khawatir."
"Lalu kenapa Mommy-mu sampai pingsan begitu?"
"Daddy seperti tidak tahu Mommy saja. Mommy mendadak dramatis kalau urusannya sudah menyangkut dengan kekasihku, Dad."
"Sehun, jangan bicara seperti itu tentang Mommy-mu."
"Maaf, Dad."
Sehun menunduk singkat, menghormati nasehat dari Ayahnya.
"Dan siapa Carrier itu?"
Chanyeol mengulang lagi pertanyaannya. Sang putra tampak tersenyum tiba-tiba. Jarang sekali melihatnya tersenyum saat sedang membicarakan tentang orang lain seperti ini.
"Daddy pasti akan menyukainya. Dia adalah Xi Luhan, carrier pertama yang membuat aku jatuh cinta, Dad. Nanti setelah Mommy sadar, akan kuperkenalkan dia secara resmi pada kalian."
Sehun benar. Selama ini sang putra diketahui hanya pernah mengencani anak perempuan saja.
Ah, kenapa dia tiba-tiba jadi teringat pada masa mudanya dulu? Baekhyun juga merupakan Carrier pertama yang membuatnya jatuh cinta. Dan ya, mereka pun sekarang sudah menjadi sepasang suami-istri. Memang tak ada satupun manusia yang bisa menebak bagaimana Tuhan menuliskan jalan hidup mereka.
"Daddy tentu saja akan menyukai siapapun yang kau pilih, karena Daddy tahu kalau kau bisa memilih mana yang baik untuk dirimu sendiri. Tapi bagaimana dengan Mommy? Lihat, belum apa-apa dia sudah pingsan begini. Kasihan Mommy-mu, Nak."
Chanyeol menepuk punggung sang anak mencoba memberinya pengertian. Sehun menghela nafas berat, tentu saja dia juga khawatir soal ibunya. Tapi sungguh, kali ini dia akan berusaha untuk meyakinkan sang Mommy bahwa Luhan adalah pilihannya yang paling tepat.
Tentu saja Sehun tidak akan menyerah, khususnya sekarang.
"Aku yakin Mommy akan menyukai Luhan. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti Dad. Luhan sendiri yang akan meyakinkan dan mencuri hati Mommy, bukan aku."
Chanyeol jadi berpikir, seistimewa apa 'calon istri' Sehun ini sebenarnya? Putranya tampak begitu yakin dan mantap bahwa perkataannya itu bisa dibuktikan.
"Ya sudah, Daddy percaya padamu. Tapi tolong jangan beri tekanan apapun pada Mommy-mu, ya. Kau tahu bahwa kami berdua sama-sama sudah tidak muda lagi."
"Aku janji, Dad. Terimakasih sudah percaya padaku dan juga Luhan."
Sang ayah membuka lengannya lebar-lebar untuk memeluk putra semata wayangnya. Ya, mereka memang selalu kompak dan saling terbuka seperti sahabat. Tidak seperti kebanyakan hubungan antara ayah-anak yang suka canggung satu sama lain.
Ditempat berbeda, tepatnya didalam kamar utama kediaman Park, Luhan masih berdiri ditempatnya sambil terus memandang sang calon 'ibu mertua' dengan sendu. Sungguh, siapa yang akan menyangka bahwa ibu dari kekasihnya itu akan langsung pingsan didetik pertama mereka bertemu.
"Maafkan aku, ibu mertua..."
Dia bergumam sendirian sambil meremat ujung seragam dinas apoteker miliknya, benar-benar merasa bersalah atas kejadian yang menimpa keluarga Park hari ini.
Seakan perkataan Luhan adalah sebuah mantra penyembuh, tiba-tiba carrier yang berbaring diranjangnya itu terlihat menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Para maid yang berjaga didalam mulai sedikit riuh, juga mengalami konflik apakah mereka harus memanggil dokter itu lagi atau tidak.
"Aduh... Kepalaku..." Baekhyun meracau sambil memegangi kepalanya. "Sehun... Putraku... Kau dimana..."
Luhan yang melihat 'ibu mertuanya' telah sadar sontak tersenyum girang dan bergegas menghampiri ranjang.
"Ibu mertua, kau sudah sudah sadar?"
Luhan langsung berlutut. Dengan ekspresi ramah dan bersemangat dia pun menyapa calon 'ibu mertuanya' itu.
Ruangan seketika senyap, bahkan seperti kehilangan oksigen untuk beberapa saat.
Seluruh maid tampak menggigiti kuku mereka karena khawatir. Ada beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi setelah ini:
1. Nyonya mereka akan langsung meledak oleh kemarahan
2. Nyonya mereka akan menjambak rambut Luhan detik itu juga
3. Yang terburuk, Nyonya mereka akan kembali jatuh pingsan
Dan yang terjadi adalah...
"YA TUHAN, TOLONG KATAKAN BAHWA INI ADALAH MIMPI...!!! TOLONG SELAMATKAN MASA DEPAN PUTRAKU...!!!"
Dan teriakan itu lantas mendapatkan reaksi bingung dan tatapan lugu dari Luhan, para maid yang menutup mulut mereka karena shock, Chanyeol dan Sehun yang berlarian masuk dengan panik, juga para ajudan yang hanya bisa menggelengkan kepala di luar kamar.
Well, ucapkan selamat tinggal pada kediaman agung Park yang dulu damai dan juga tenang.
e)(o
"Tarik nafas, sayang... Tahan sebentar... Sekarang hembuskan..."
Sambil merangkul tubuh Baekhyun, Tuan Agung Park Chanyeol membimbing istrinya untuk mengatur pernafasan.
Wajah carrier paruh baya itu masih tampak shock, seperti habis melihat setan saja kalau boleh dibilang. Seorang maid lalu datang menyerahkan segelas air pada Tuan Besar Park.
"Minum dulu, istriku. Kau pasti haus."
Dengan hati-hati Chanyeol membantu sang istri untuk meneguk air putihnya. Sedikit tidak menyangka bahwa Baekhyun akan minum dengan cepat dan rakus. Entah olahraga seperti apa yang dilakukan oleh organ dalam istrinya sampai dia jadi sehaus ini.
"Sudah lebih baik?"
Dengan ekspresi yang masih agak ling-lung, Baekhyun mengangguk. Chanyeol tak melepas rangkulannya sama sekali, membiarkan Baekhyun terus bersandar pada dirinya sambil sesekali mengelus lengan sang istri untuk memberikan efek tenang.
"Dimana Sehun?"
"Aku disini, Mom."
Sang putra langsung menghampiri dan memastikan bahwa sang ibu bisa melihat dirinya.
Juga Luhan yang tak pernah ketinggalan.
Tatapan lugu dan wajah tidak berdosanya... Bahkan senyuman itu membuat Baekhyun bertanya-tanya, apa carrier muda ini sudah begitu siap untuk segera membunuh ibu dari Park Sehun? Ya, ibunya Park Sehun. Siapa lagi kalau bukan dirinya; Park Baekhyun.
"Sehun, tolong katakan pada Mommy bahwa kita sedang ada di alam mimpi."
Sang putra menghela nafas, bingung kapankah drama ini akan selesai. Mommy-nya benar-benar sedang dalam fase denial, seakan Luhan adalah bencana yang tiba-tiba datang tanpa pernah diharapkan sebelumnya.
"Mommy, kita tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan, Mom."
"Iya, ibu mertua. Ibu mertua baru saja sadar dari pingsan. Itu tandanya ibu mertua sedang tidak bermimpi."
"YA!!!"
Teriakan tiba-tiba Baekhyun lantas membuat Luhan tersentak kaget.
Apalagi Chanyeol, yang duduk merangkul tepat disamping istrinya. Untung saja telinga lebarnya itu tidak sampai mengalami cidera yang serius. Sebenarnya dia sudah cukup terbiasa pada tabiat istrinya yang suka meledak dan mengomel dengan suara cempreng tanpa ingat rem.
"BERHENTI MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN IBU MERTUA! SIAPA KAU INI SEBENARNYA, HAH?!"
Sehun memijit hidungnya, pasrah karena untuk beberapa menit kedepan ibunya akan terus bicara dengan sangat bar-bar seperti ini.
Sehun dan Chanyeol kompak melirik ke arah Luhan. Carrier manis itu, entah kenapa, sama sekali tak merasa ciut walau sudah dibentak oleh Park Baekhyun.
Malah, ekspresi ceria dan ramah miliknya seakan tak bisa luntur sama sekali.
Mungkin ini yang dimaksud oleh Sehun bahwa carrier pilihannya bisa mengatasi sifat keras Baekhyun dengan caranya sendiri.
"Perkenalkan, Aku Xi Luhan, kekasihnya Sehun." Carrier cantik itu menunduk 90 derajat sebagai tanda hormat. "Dan bagiku, ibu dan ayahnya Sehun adalah orangtuaku juga. Mulai sekarang, aku akan memanggil kalian sebagai Ayah mertua dan Ibu mertua."
"Chan... Kau lihat itu? Lancang sekali dia Ya Tuhan... Cepat lakukan sesuatu, Chan..."
Baekhyun merengek pada suaminya, berharap dia punya sekutu untuk melawan setan kecil bernama Xi Luhan itu.
"Ada apa dengannya, B? Dia manis dan juga sopan. Lagipula aku tidak masalah kalau dipanggil Ayah mertua secepat ini."
"PARK CHANYEOL!"
"Mom... Kasihan Daddy kalau Mommy bentak juga seperti itu."
Chanyeol tersenyum menang karena baru saja mendapat belaan dari putranya.
Satu yang harus semua orang tahu, kelemahan terbesar Baekhyun adalah putranya. Dia bisa membentak siapapun, tapi tidak dengan Park Sehun.
"Ish, kau ini. Sana jauh-jauh."
Baekhyun mencubit kesal suaminya sambil berbisik agar omelannya tak didengar oleh sang putra.
"Tidak mau."
Chanyeol tersenyum jahil dan bertahan untuk merangkul Baekhyun dengan posesif. Benar-benar tidak tahu malu. Si istri hanya memicingkan mata pada suaminya karena masih kesal.
Luhan yang menyaksikan interaksi lucu antara suami-istri itu jadi terkekeh geli. Sehun bilang mommy-nya itu galak. Tapi bagi Luhan, Park Baekhyun malah terbilang ibu yang unik dan sangat awet muda. Benar-benar Carrier panutan. Luhan jadi ingin seperti itu kalaupun dia sudah berumur nanti.
"Mari kita persingkat ini. Aku ingin tanya satu hal, apa perkejaanmu?"
"Aku seorang apoteker di rumah sakit Gangwon, Ibu mertua."
Baekhyun berdesis ngeri mendengar panggilan itu lagi. Tapi sudahlah, dia akan mengurus itu nanti.
"Rumah sakit Gangwon? Itu tempat anakku melakukan penelitian skripsinya, kan?"
"Benar, Mom. Kami bertemu disana."
Ibu satu anak itu berdecak sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba bertambah pusing. Bodohnya para Ajudan suruhannya itu karena melewatkan info sepenting ini. Jadi selama ini putranya suka berpacaran di rumah sakit? Apa mereka semua sudah terkecoh?
"Apa ibu mertua masih sakit? Aku tahu obat apa yang cocok untuk meredakan pusing pasca jatuh pingsan. Apa ibu mertua punya riwayat anemia? Sepertinya-..."
"KENAPA MULUTMU ITU TIDAK BISA BERHENTI MENGOCEH, SIH?!"
Chanyeol dan Sehun kompak mengunci rapat bibir mereka untuk mencegah kekehan geli yang ingin keluar. Keduanya tidak tahan melihat pertengkaran antara Baekhyun dan Luhan yang persis seperti Kucing dan Tikus.
Baekhyun terus menatap sang 'calon menantu' dengan tatapan nyalang dan tidak suka. Berbanding terbalik dengan Luhan yang tidak bisa berhenti tersenyum polos.
Sepertinya Park Baekhyun mendapatkan "lawan" yang hampir setimpal.
"Mommy, sebaiknya Mommy istirahat sekarang. Aku khawatir karena badan Mommy masih lemah."
Mendengar penuturan Sehun, ekspresi Baekhyun mendadak melunak. Chanyeol hanya bisa geleng-geleng kepala. Istrinya ini seperti memiliki bipolar kalau sedang berhadapan dengan anaknya sendiri.
"Ayo, Mom. Aku bantu untuk berbaring."
Si Carrier mungil tersenyum manis pada anaknya yang sedang membantu menarikkan selimut. Chanyeol melonggarkan pelukannya dan membiarkan Baekhyun berbaring dengan nyaman. Ia membelai rambut sang istri penuh perhatian.
"Untung Sehun calon dokter. Jadi dia bisa merawat ibu mertua dirumah, iya kan?"
Senyum Baekhyun mendadak sirna karena tersadar bahwa Luhan masih ada disana.
"Sudah, sekarang biarkan Mommy istirahat dan tidur. Kalian keluarlah. Dan kau Sehun, antarkan Luhan pulang setelah ini."
Sang kepala keluarga memberi titah, membuat seluruh maid menunduk dan berjalan keluar dengan tenang.
"Ayah mertua, ibu mertua, aku pamit pulang, ya. Maaf sudah merepotkan hari ini... Semoga ibu mertua cepat sembuh."
"Iya, terimakasih Luhan. Jangan sungkan untuk datang lagi kesini--Auh! Sakit, B..."
Chanyeol kemudian meringis karena mendapat cubitan keras diperut dari sang istri.
"Tentu saja, Ayah mertua. Besok aku akan kesini lagi dan membawakan makanan untuk ibu dan ayah mertua!"
"TIDAK PERLU!"
Baekhyun mendengus dan menolak dengan spontan, membuat Sehun hanya menggeleng maklum. Tangannya kini merangkul Luhan lagi.
"Mom, Dad, aku antar Luhan pulang dulu."
"30 menit. Setelah itu kau harus sudah sampai dirumah. Kau mengerti, anakku?"
Baekhyun yang manja dan posesif itu memberi titah pada putranya. Dan siapapun tahu bahwa perkataannya adalah mutlak.
"Iya, aku akan langsung pulang."
Setelah Luhan membungkuk lagi sebagai salam perpisahan, kedua pasangan muda itu akhirnya pergi meninggalkan kamar.
Suami-istri Park masih terdiam satu sama lain.
"Kau menyebalkan sekali hari ini, Yeol. Aku benci!"
Baekhyun memalingkan wajahnya berlawanan arah dari sang suami. Chanyeol menarik nafas lembut, tersenyum karena jujur saja dia masih gemas dengan tingkah kekanak-kanakan istrinya.
"Lembut lah sedikit pada pilihan Sehun kali ini, sayang. Sepertinya dia anak baik-baik."
"Jangan tertipu pada wajah polosnya itu, Yeol! Dia senang membuatku tersiksa. Lama-lama aku bisa mati jantungan karena itulah hal yang paling dia inginkan sekarang."
"Hush, jangan bicara seperti itu. Kau belum mengenalnya saja, B... Mana mungkin Sehun mengencani seseorang yang mau mencelakai ibu kesayangannya."
Baekhyun hanya terdiam karena perkataan Chanyeol ada benarnya.
Tapi tetap saja, dia sangat tidak menyukai carrier bernama Luhan itu. Bahkan rasa bencinya seperti berkali-kali lipat dibandingkan saat ia melihat pacar Sehun yang dulu.
"Kalaupun kau memberinya restu, jangan harap aku sebagai ibunya Sehun akan memberi restuku juga."
"Kau bisa belajar menerimanya pelan-pelan, istriku..."
"Tidak akan pernah! Sampai kapanpun, tidak akan kubiarkan Sehun mengencani carrier itu, apalagi sampai menikahinya!"
Chanyeol hanya bisa menghela nafas dan mencoba untuk tidak memperpanjang perdebatan.
"Aku mandi dulu ya, sayang."
"Biar aku siapkan air panasnya."
"Tidak usah. Kau istirahat saja, istriku."
Chanyeol mengecup kening Baekhyun sebelum bangkit dan meninggalkannya menuju kamar mandi.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Baekhyun bangkit untuk duduk bersandar pada headboard ranjang. Dengan cepat dia mengambil handphonenya yang ada diatas nakas.
Dia mengetikkan sesuatu dalam sebuah percakapan SMS, mengirim pesannya setelah memastikan bahwa semua yang ingin dia sampaikan tertulis rapi disana. Maklum, Baekhyun tidak begitu suka untuk berbalas pesan singkat secara digital. Tapi kalau harus menelfon, rasanya terlalu beresiko untuk saat ini.
Baekhyun tahu kalau dirinya--sebagai seorang ibu--punya insting kuat terhadap apapun yang menyangkut dengan putranya. Jika feeling-nya berkata bahwa Luhan bukan orang yang tepat, maka fakta juga akan berpihak kepada dirinya.
Menjadi egois dan kejam demi putranya adalah suatu keharusan bagi Park Baekhyun. Kalau perlu dia akan merengkuh seisi dunia asalkan Sehun bisa mendapatkan segala hal yang dia inginkan. Termasuk dengan melindungi masa depan putranya, itu sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang ibu.
Tidak akan dia biarkan orang seperti Luhan menginvasi kehidupan anaknya dan merusak segala rancangan indah tentang masa depan Park Sehun. Carrier kampungan dan sok lugu seperti Luhan ingin menjadi istri anaknya? Yang benar saja! Bukan gambaran seperti itu yang Baekhyun inginkan untuk rumah tangga putranya kelak.
Baekhyun tersenyum puas setelah meletakkan kembali handphonenya diatas nakas. Deretan skenario bermain dengan mulus didalam kepalanya. Kalau sudah berhasil mendapatkan seluruh informasi tentang siapa Luhan sebenarnya dan mencari titik lemah si carrier muda itu, Baekhyun akan dengan mudah menyingkarkannya seperti seekor kecoa. Nasib Luhan tidak akan lebih baik dibandingkan pacar-pacar Park Sehun sebelumnya.
Atau bahkan lebih buruk.
"Sebaiknya aku jangan sampai gegabah apalagi terburu-buru. Kita lihat seberapa jauh carrier itu bisa bertahan dibawah tekanan yang pelan-pelan akan kuberikan padanya. Jangan harap kau bisa lolos dari neraka ini, Xi Luhan."
Dengan efek suara musik kematian dari televisi yang menyala, rencana jahat Park Baekhyun sepertinya akan membawa kemenangan pada dirinya sendiri.
e)(o
To be continued
A/N: Yeay udah 40 review (42 malah). Sesuai janji, aku akan langsung update. Target selanjutnya jadi 80 bisa kan ya? Hehehe
Peringatan ya. FF ini bakal kental akan nuansa drakor nyerempet ke sinetron dikit (LOL). Karena sifat Luhan yang innocent dan baik, aku sendiri ga yakin kalau di FF ini dia bakal beneran "tersiksa".
Ada kalanya rencana Baekhyun bakal berjalan mulus. Tapi pada dasarnya Luhan itu punya jalan pikiran super positif yang membuat dia ga merasa disakiti oleh camernya yang jahat hahahaha
Nanti lah, pokoknya kita lihat saja di chapter berikutnya
Kalau responnya bagus tentu saja aku akan fast update. Dan aku GAK AKAN MENELANTARKAN FANFIC-KU YANG LAIN. Besok insyAllah update utk "Love Needs Sanity" ya
