CHAPTER 3

x

xxx

x

"Sehunnie, kau tidak ke kampus hari ini sayang?"

Seminggu pasca drama pingsan Nyonya Park dipertemuan pertamanya dengan sang 'calon menantu', kediaman megah ini sudah terlihat kembali normal seperti biasanya.

Sebab Baekhyun berpikir bahwa si Carrier muda bernama Luhan itu sudah melupakan janji konyolnya untuk mengantar makanan ke kediaman Park. Ibunya Sehun itu hanya bisa bersyukur dalam hati. Setidaknya si carrier kampungan masih punya pikiran waras untuk tidak datang lagi ke rumah seseorang yang jelas-jelas menolak kehadirannya.

Sang putra yang tengah berbaring santai di sofa sambil membaca berita melalui iPad-nya itu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari screen "Tidak, Mom. Kebetulan hari ini aku hanya ada jadwal bimbingan dengan dosen. Tapi terpaksa dibatalkan karena beliau ada urusan pribadi."

Si Ibu hanya ber-oh ria sambil mengangguk. Baekhyun ingin duduk di tepian sofa, hingga Sehun menggeser pinggangnya agar sang Mommy bisa mendapat tempat.

"Kita jalan-jalan, yuk? Ayolah, Sehunnie sudah lama tidak menemani Mommy berbelanja. Apalagi sejak masuk semester 6."

Kerucutan lucu yang dilakukan sang ibu dibibir mungilnya hanya ditatap datar oleh Sehun.

Kalian dengar? Semester 6. Harusnya sang Mommy tahu bahwa setiap mahasiswa yang sudah menginjak semester itu akan sangat sibuk dibanding tahun-tahun sebelumnya. Boro-boro mau menemani ibu mereka jalan-jalan. Sekedar mendudukkan diri di cafe sambil bersantai saja sudah menjadi kegiatan langka untuk para mahasiswa di semester ini.

Tapi mau bagaimanapun, Sehun paling tidak bisa menolak keinginan sang ibu. Apalagi jika dia sudah memasang ekspresi memohon seperti ini.

"Aku ganti pakaian dulu. Mommy juga bersiaplah."

"Aayyyiii! Anak mommy memang paling pengertian!"

Tangan lentik carrier mungil itu mencubit pipi putranya dengan gemas. Tapi tetap saja hal itu tak bisa merubah ekspresi datar Sehun yang seperti tercetak permanen diwajah tampannya.

Setelah putranya menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai 2, Baekhyun memilih menuju lift karena letak kamarnya yang berada di tingkat 3. Sambil terus bersenandung, carrier cantik itu mulai memikirkan toko mana saja yang akan dia kunjungi hari ini.

"Aku harus mengajak Sehun ke official store Gucci dan membeli flip-flop couple terbaru yang kulihat disitusnya tempo hari."

Sambil menjentikkan jari karena merasa puas dengan ide cemerlangnya, Baekhyun keluar dari lift dan berjalan santai menuju kamar.

Baekhyun pikir, hari ini akan jadi hari yang sempurna karena tak ada hal yang lebih membahagiakan selain nge-date berdua dengan putra kesayanganya itu.

Ya... Semoga.

e)(o

Mall terbesar yang letaknya ada di tengah kota Seoul itu menjadi tujuan mereka. Selesai memarkirkan mobil sportnya di basement, sepasang ibu-anak itu keluar dari mobil dengan Baekhyun yang mengapit lengan putranya. Mantel hitam bulu membalut tubuh mungilnya, membuat penampilannya tampak begitu berkelas. Semua mata langsung melirik iri kearah mereka. Beberapa dari pengunjung Mall mengenali siapa itu Park Baekhyun dan Park Sehun karena pernah membaca beberapa artikel tentang mereka yang beredar di internet.

Crazy Rich Park Family.

"Gucci store ada di lantai berapa, ya? Mommy agak-agak lupa."

Dengan mata yang mengedar ke kanan-kiri, Baekhyun bertanya pada sang putra.

"Di lantai ini, Mom. Posisinya tidak jauh dari sini."

Sehun mengajak ibunya berjalan menuju Gucci store yang sering juga dia kunjungi kalau sedang ada waktu luang.

"Selamat datang. Silahkan melihat-lihat."

Seorang gadis bertubuh semampai dan berpenampilan berkelas langsung menyambut mereka di pintu masuk.

"Mommy mau melihat koleksi flip-flop mereka, Sehun."

"Kalau tidak salah letaknya agak didalam, Mom."

"Benar sekali, Tuan. Kalau begitu, mari saya antar."

Sang pegawai toko dengan sopan memberitahu informasi pada sepasang ibu-anak ini, kemudian berjalan mendahului keduanya.

Dengan lengan yang tak lepas dari apitan ibunya, Sehun melangkah menuju display yang memajang koleksi flip-flop ternama Gucci.

"Nah, Mommy mau beli yang itu, Sehun-ah."

"Ini?"

Sehun mengangkat flip-flop hitam bergaris hijau merah dan ada lambang khas Gucci ditengahnya.

"Kita beli 3, ya? Untukmu, Mommy dan juga Daddy."

Sehun menatap ibunya sedikit skeptis. "Mommy tidak pernah berubah."

"Kita kan keluarga yang harus selalu kompak, nak."

Sehun hanya mengangkat bahu asal dan tidak terlalu memusingkan hal itu. Dia menyerahkan sandal itu pada seorang pegawai sebelum akhirnya berbicara. "Kami beli 4 pasang. 2 ukuran 6.6, dan 2 lagi ukuran 4.7"

Baekhyun lantas mengernyitkan keningnya begitu mendengar Sehun meminta 4 pasang sandal.

"Empat? Memangnya satu lagi untuk siapa?"

"Untuk Luhan, Mom. Kebetulan ukuran kaki Mommy dan Luhan itu sama."

"APA?!"

Geez... Bencana.

Suara nyaring Park Baekhyun membuat sandal yang dipegang pegawai toko terjatuh, seorang ibu-ibu di section garmen tersentak, dan manager toko yang celingak-celinguk ke arah mereka.

"Tidak bisa! Ini sandal couple khusus keluarga Park! Mommy tidak mau carrier kampungan itu memakai barang yang sama dengan kita."

"Mom... Jangan berteriak seperti ini ditempat umum. Kita jadi tontonan banyak orang."

"Mommy tidak peduli! Mommy sedang kesal!"

Sang pegawai menatap takut-takut pada carrier paruh baya yang sedang merajuk itu.

Sehun menghela nafas berat sambil sesekali memijat keningnya. Dia lalu mengalihkan atensi pada wanita yang sedang melayani mereka saat ini.

"Kerjakan saja pesananku tadi sekarang."

"B-baik, Tuan."

Sang pegawai berjalan terbirit-birit sebelum Park Baekhyun yang tengah membelalakan matanya itu sempat protes dan menjadikannya sasaran amukkan.

Sehun menatap ibunya yang sudah diujung tanduk ingin meledakkan emosinya. "Sudahlah, Mom. Ini hanya sepasang sandal."

Ingat kalimat bercetak tebal di kamus kehidupan seorang Park Baekhyun? Apapun yang terjadi, dia sama sekali tidak bisa membentak putranya.

"Ya Tuhan... Berikan hamba ketabahan..."

Baekhyun mengipasi dirinya dengan tangan kosong sambil menatap langit-langit toko.

Sehun tak dapat menahan senyum melihat tingkah ibunya yang 'menggemaskan' ini. Dia seperti pemeran utama Mean Girls yang super drama queen dan sangat menyebalkan. Tapi Sehun sudah lama memaklumi hal itu dan hanya bisa tertawa karenanya, sama seperti sang ayah.

"Jangan marah lagi, Mom. Hari ini kan aku akan menemani Mommy seharian."

Setelah menerima paper bag berisi flip-flop yang mereka bayar dengan black card, Sehun menawarkan lagi lengannya untuk diapit oleh sang ibu.

Baekhyun menatapnya masih dengan ekspresi merajuk yang kentara. Sehun tersenyum lagi, dan secara drastis hal itu langsung melunakkan hati sang ibu.

"Mommy mau beli perhiasan."

Bibir mungil ibunya masih mengerucut disaat suaranya bercicit kecil, hampir seperti berbisik.

"Ya sudah. Ayo kita pergi lihat perhiasan."

Para pegawai toko hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil menatap kepergian ibu-anak yang unik itu.

e)(o

Baekhyun berjalan memasuki mansion megahnya sambil menyesap Starbucks pumpkin latte dari sedotan. Dia benar-benar senang karena seharian ini sang putra "berkencan" dengannya hingga sore. Kedua tangan Sehun sudah penuh oleh paper bag berisi belanjaan Mommy-nya dari berbagai macam toko. Ada Gucci, LV, Channel, Calvin Klein, bahkan Cartier.

"Ah, Nyonya Park, Tuan Muda. Kalian sudah pulang."

Salah seorang maid menghampiri mereka. Entah kenapa raut wajahnya terlihat tak enak hati dan terbeban. Padahal Baekhyun sedang tersenyum lebar kearahnya. Ya, pembawaan dari suasana hatinya yang baik tentu saja.

"Oh iya, besok akan turun bonus untuk kalian semua."

Baekhyun melepas kacamata hitamnya lalu mengedipkan sebelah mata. Ya, sebaik itulah mood seorang Park Baekhyun saat ini.

Sang maid malah menunduk sambil menggigit bibir. Dia membantin bahwa wacana "turun bonus" yang barusan Baekhyun ucapkan tidak akan terlaksana karena...

"Ada tamu didalam, Nyonya Park."

Dahi Baekhyun mengernyit, begitu pula dengan Sehun.

"Siapa?" Kali ini Sehun yang bertanya.

"Mm... Dia sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu. Sebaiknya Tuan Muda langsung temui saja."

Karena Park Sehun bukan tipikal pribadi yang riweh seperti ibunya, dia tak berniat untuk banyak bertanya dan langsung berjalan menuju ruang tamu utama kediaman Park. Kantung belanjaannya sudah beralih tangan kepada para Maid yang lain.

"Hatiku~ senang sekali~ lalala~"

Baekhyun menyusul putranya menuju ruang tamu sambil bersenandung, membuat para maid yang memperhatikannya diam-diam meringis sambil gigit jari.

Semoga tidak ada bencana sedahsyat puting beliung dirumah ini.

"Hit you with that ddu ddu ddu..."

"Luhan?"

Oh Sehun mendadak sumringah bukan main.

Apa?

Lu-Luhan?

Langkah Park Baekhyun terhenti. Sepasang mata cantiknya menangkap siluet yang akhir-akhir ini sering datang ke mimpi buruknya. Cup Starbucks yang dia pegang jatuh ke lantai dengan dramatis.

Rasanya seperti Dejavu.

Tidak. Park Baekhyun tidak akan pingsan untuk kedua kalinya.

Dia hanya...

"YA!!! MAU APA KAU KEMARI, SETAN KECIL?!"

"Ah, ibu mertua. Apa kabar? Aku merindukanmu, ibu mertua."

Luhan membungkuk cepat dan menyapa Baekhyun dengan bersemangat.

Senyuman itu...

Wajah berseri-seri itu...

"Aku datang membawakan Yachaejeon untuk ibu dan ayah mertua."

Dan kotak bekal terbungkus serbet biru yang dibawanya...

Semua terlihat seperti ancaman dan gencatan senjata perang bagi Baekhyun.

"Yachaejeon, ya? Wah, aku juga mau."

"Tentu saja, Sehun-ah. Aku juga membuatkannya untukmu. Ini kan salah satu makanan kesukaanmu."

"Terimakasih, sayang. Yasudah, ayo kita duduk."

Baekhyun membulatkan matanya dengan tangan yang memegangi dada. Mulutnya ternganga seakan seluruh kalimat yang ingin dia lontarkan terjebak di kerongkongan. Carrier 49 tahun itu terlihat kepayahan dalam meraup oksigen untuk paru-parunya yang malang.

Sekarang apa? Putranya sedang suap-suapan dengan carrier kampungan itu? Didepan kedua matanya?

"Ayo, duduk disini, ibu mertua. Ibu mertua juga harus mencicipinya."

Baekhyun membeku, apalagi ketika Carrier bernama Luhan itu memegang tangannya dengan lancang lalu menariknya menuju sofa.

"Le-lepas!"

Begitu kesadarannya sudah kembali, Baekhyun menepis tangan kurus Luhan yang serupa dengan miliknya; putih dan juga halus. Ibunya Sehun itu memandang kekasih anaknya dengan jijik. Dia benar-benar kesal.

Tapi bisa-bisanya Luhan malah terkekeh seperti baru saja mendapat cipika-cipiki dari si 'ibu mertua'.

Baekhyun melipat kedua tangannya dibawah dada, duduk dengan angkuh dan tatapannya terlihat menantang.

"Ayo cicipi sedikit, ibu mertua."

Luhan menawarkan sumpit dengan sopan. Senyumnya masih terlihat berseri-seri.

"Tidak mau! Cepat angkat kakimu dari rumah ini!"

"Mom..." Sehun memandang ibunya dengan tatapan jengah dan tak ingin berdebat. "Cukup, Mom. Tolong hargai sedikit kekasihku. Dia jauh-jauh datang kemari hanya untuk membawakan kita makanan."

"Park Sehun..."

Bibir Baekhyun bergetar. Ingin rasanya dia menangis karena sang putra terang-terangan lebih membela kekasihnya dibanding sang ibu.

"Sini, biar aku suapi."

Mata kecil Baekhyun menatap sumpit dengan sepotong pancake sayuran yang disodorkan oleh putranya. Ah... Sehun memang sangat pandai membujuk. Baekhyun jadi batal menangis karenanya.

Tapi ego kecilnya memberontak lagi. "Mommy tidak mau. Bisa saja makanan itu beracun."

Sehun balas menatap ibunya datar. "Racun apanya, Mom? Tadi aku sudah makan dan semuanya baik-baik saja."

Baekhyun sekilas melirik Luhan yang menatapnya penuh harap agar segera melahap pancake sayuran buatannya.

Tch, apa benar ini tidak ada racunnya?

"Ayo, Mom. Aaaa..."

Mau tak mau karena tak ingin mengecewakan sang putra yang ingin menyuapinya, Baekhyun terpaksa memasukkan pancake itu kedalam mulutnya.

"Yeay...!"

Luhan bertepuk tangan senang seperti seorang anak kecil yang habis meniup lilin ulangtahun.

Baekhyun mengunyah sambil tetap menatap 'calon menantunya' penuh selidik.

"Bagaimana, ibu mertua? Apa rasanya enak?"

"Ini tidak enak! Beda sekali dengan buatanku!"

"Benarkah?"

Luhan membulatkan matanya antusias.

Tunggu.

Antusias?

"Kalau begitu, tolong ajari aku bagaimana caranya membuat Yachaejeon yang enak, ibu mertua!"

Dengan matanya yang berbinar Luhan menggenggam tangan Baekhyun penuh harap.

Sehun tersenyum.

Para maid mengangguk-angguk menyetujui ide konyol itu.

Bahkan cicak yang menempel di dinding seakan tertawa mengejek dirinya.

Baekhyun memicingkan mata, merasa tidak nyaman karena Luhan yang berkali-kali lancang menyentuh dirinya seperti ini. Pertama dalam sejarah keluarga Park ada orang asing yang berani melakukan kontak fisik dengan Park Baekhyun yang memang dikenal sangat galak dan pemarah ini.

"Iiiihh... TIDAK MAU!!!"

Baekhyun berteriak tepat diwajah Luhan, hingga membuat Carrier itu mundur karena kaget.

Untuk pertama kalinya Luhan menunjukkan ekspresi sedih dari sekian banyak usaha Baekhyun untuk membentaknya. Entah kenapa, hati Baekhyun terasa mencelos dan tak tega.

"Mom, apa salahnya mengajari Luhan cara memasak Yachaejeon?"

Itu Sehun, yang saat ini merangkul tubuh ringkih Luhan yang tengah menunduk. Terlihat kekasihnya itu merasa tak enak hati karena telah memaksa sang ibu untuk mengajarinya memasak.

Baekhyun berdiri dengan tangan yang melipat dibawah dada. Ia menatap angkuh pada Luhan sebelum bicara.

"Yasudah. Aku akan mengajarimu cara membuat Yachaejeon. Kalau sampai kau berbuat kesalahan didapurku, jangan harap aku akan mengasihanimu kali ini!"

Tak disangka Luhan langsung sigap ikut berdiri dengan senyuman yang kembali terulas dibibir cantiknya.

"Mohon bimbingannya, ibu mertua!"

e)(o

"Itu garamnya terlalu banyak!"

"Segini?"

"Kurangi sedikit lagi!"

"Mm... Segini?"

"Ya, sekarang masukkan kedalam adonan tepungnya!"

Dengan tangan yang berkacak pinggang Baekhyun terus memandori 'calon menantunya' itu untuk memasak Yachajeon didapur megah kediaman Park.

"Masa memotong daun bawang seperti itu?!"

Baekhyun melotot tak senang saat Luhan tengah mengiris daun bawang yang tekniknya tak sesuai dengan yang biasa Baekhyun lakukan.

Luhan tergugu bingung. Dengan sebal Baekhyun mengambil alih pisau dan mulai mengiris daun bawang itu sambil terus mengomel.

"Begini saja tidak bisa! Memotong daun bawang harus sedikit menyerong seperti ini agar rasanya bisa keluar, sama seperti kau memotong cabai!"

Dari kejauhan Sehun memandang kegiatan ibu dan kekasihnya itu dipintu dapur sambil bersandar. Ckckck... Apa ibunya tidak haus karena terus-terusan mengoceh tanpa rem seperti itu? Sehun hanya takut kalau suatu saat ibunya itu akan terkena penyakit darah tinggi karena seringnya memarahi orang, apalagi Luhan.

Kekasih Sehun itu sama sekali tak merasa tersinggung dengan ocehan Baekhyun walau sebanyak apapun si 'ibu mertua' memarahinya. Ia justru semakin bersemangat untuk belajar dan ingin melakukan semuanya persis seperti yang diajarkan oleh Baekhyun.

"Kalau mau menggoreng, pilih minyak yang tahan terhadap suhu panas tinggi seperti Canola atau grape seed oil. Jangan pakai olive oil karena itu hanya cocok untuk dipakai menumis!"

"Baik, ibu mertua. Aku akan terus mengingat hal itu."

"Sekarang, lihat bagaimana caraku menuang adonan pancakenya agar benar-benar tipis dan bulat merata."

Baekhyun memindahkan adonan yang telah dia buat kedalam gelas takar. Dia menuangkan pelan-pelan adonan tersebut dari tengah wajan dan dengan sendirinya adonan itu melebar hingga kepinggir.

Baekhyun dengan sigap menyusun potongan udang dan cumi diatas adonan, lalu menyiramkan kocokan telur diatasnya. Kerjanya begitu cepat seperti seorang chef profesional.

Apa sih hal yang tidak bisa dikerjakan oleh Park Baekhyun di dunia ini? Dia pandai memasak, mengurus rumah, merawat tanaman, mengelola bisnis, mengatur keuangan, mengawasi karyawan, dan lain-lain sebagainya. Dia bahkan sukses menjadi ibu seorang Park Sehun hingga sekarang ia tumbuh menjadi pria dewasa yang hebat seperti saat ini. Dan jangan lupa, Baekhyun paling hebat dalam menservis suaminya baik itu diatas ranjang maupun servis lain seperti memijat, menyiapkan segala kebutuhannya sebelum ke kantor, sampai ke hal terkecil seperti mengecat sendiri uban suaminya kalau sedang libur.

"Whoa! Rasanya aku seperti sedang menonton Master Chef. Ibu mertua memang benar-benar hebat!"

Luhan sepertinya punya kebiasaan bertepuk tangan kalau sedang senang atau kagum terhadap sesuatu.

Baekhyun sekuat tenaga menyembunyikan senyumnya setelah mendengar pujian dari Luhan. Park Baekhyun tetaplah Park Baekhyun. Dia harus jaga image didepan 'calon menantu' yang belum bisa dia terima kehadirannya ini.

"Hhmmm... Harum apa ini? Sepertinya Daddy sudah lama tidak mencium aroma Yachaejeon dirumah ini."

Mereka bertiga kompak menoleh pada sumber suara yang sedang berjalan mendekat. Dan benar saja, sosok Park Chanyeol yang baru pulang dari kantornya datang sambil tersenyum.

"Sayang, kau sudah pulang."

Baekhyun meninggalkan kompornya dan segera berjalan mendekati sang suami. Setelah cium tangan, dia meletakkan tangan didada bidang itu kemudian bertanya. "Mau langsung kusiapkan air panas?"

"Tidak usah. Lanjutkan saja kegiatan memasak kalian. Aku jadi tidak sabar ingin mencicipi lagi Yachaejeon buatanmu. Rasanya sudah lama kau tidak membuat makanan ini. Benar kan, Sehun?"

"Mm, benar sekali."

Sehun mengangguk mengiyakan perkataan Daddy-nya.

"Ini semua pasti berkat Luhan yang datang kemari."

"Selamat malam, Ayah mertua. Maaf aku sudah merepotkan karena minta diajari memasak oleh ibu mertua hari ini."

Luhan membungkuk hormat dan tersenyum manis didepan sang 'ayah mertua'.

"Ya benar. Kau sudah sangat merepotkanku hari ini!"

Baekhyun kembali mendengus kesal sambil berjalan kembali menghampiri masakannya yang ia yakin sudah siap untuk dibalik.

"Sekarang, kau sendiri coba yang membalik pancake ini. Jangan sampai membuat kesalahan."

Chanyeol dan Sehun sama-sama menonton bagaimana Luhan dengan hati-hati mencoba membalik pancake sayuran itu dengan spatula.

"Yes! Sempurna!"

Luhan tersenyum senang pada ibu mertuanya karena begitu dibalik, kematangan pancake itu amat sempurna.

Jadi bukan karena dia telah berhasil membalikkan pancake. Luhan lebih senang karena hasil masakan ibu mertuanya itu terlihat begitu memuaskan.

Sehun dan Chanyeol saling berpandangan. Harusnya dua orang carrier itu bisa cepat akrab seandainya Baekhyun mau melunturkan sedikit saja egonya dan menerima Luhan dengan tangan terbuka. Mereka terlihat bisa saling mengimbangi kepribadian dan watak masing-masing yang saling bertolak belakang itu.

"Cepat atau lambat, sepertinya Luhan benar-benar akan mencuri hati Mommy-mu, Sehun. Dia benar-benar seorang carrier yang manis dan berhati lembut."

Chanyeol berbisik pada putranya. Matanya terus memperhatikan bagaimana Baekhyun menunjuk-nunjuk kearah wajan yang saat ini tengah dikendalikan oleh Luhan. Mulut istrinya sama sekali tak bisa berhenti mengomel.

"Sudah kubilang kan, Dad. Aku tidak salah memilih dirinya sebagai calon istriku."

Sehun tersenyum bangga melihat kekasihnya yang saat ini terlihat begitu bahagia karena bisa memasak bersama Mommy-nya.

Sepertinya kehadiran Luhan di keluarga Park akan memberikan warna baru dirumah ini.

e)(o

Diruang tamu, Baekhyun bersedekap melihat Luhan yang bersiap pamit untuk pulang. Mereka telah selesai makan malam dan Chanyeol juga sempat mengajak Luhan mengobrol bersama-sama sambil minum teh. Hanya Sehun, Chanyeol dan Luhan yang begitu menikmati obrolan itu. Sedangkan Baekhyun?

Dia lebih banyak diam dan merasa tidak tertarik untuk ikut hahahihi bersama 3 orang itu. Baekhyun kesal. Dia hanya terus berdoa kapan Carrier kampungan ini berinisiatif untuk segera angkat kaki dari rumahnya.

Sedikit informasi yang didapat tentang Luhan, ternyata carrier itu berusia 2 tahun diatas Sehun. Hal itu semakin membuat Baekhyun berdecak tidak senang. Dia adalah keturunan China asli yang datang merantau ke Korea bersama ayah ibunya saat berumur 12 tahun. Ayahnya sudah lama meninggal. Kini dia hanya hidup berdua saja dengan sang ibu di sebuah apartemen sederhana yang mereka sewa.

Sudah jelas bahwa dari latar belakang keluarganya saja, Baekhyun tak mendapati satupun hal yang memenuhi kriteria yang dia inginkan. Apalagi Luhan tak memiliki sedikitpun darah keturunan Korea. Apa ini artinya sang putra benar-benar akan menikah dengan pasangan lintas negara dan budaya? Tidak. Baekhyun sama sekali tidak menyukai ide itu.

"Oh iya, Lu. Aku punya sesuatu untuk kuberikan padamu."

Sehun menyela tiba-tiba saat mereka baru berdiri dari sofa dan ingin mengantar Luhan sampai depan.

Tuan Muda Park itu mengisyaratkan pada para maid untuk membawakan kantung belanjaannya tadi sore kesini.

"Ini, Gucci flip-flops yang sepasang dengan milikku, Mommy dan juga Daddy."

Mata Baekhyun terbalalak. Haruskah putranya itu mengatakan langsung pada Luhan bahwa mereka memiliki sandal yang sama persis? Tch, Baekhyun tidak suka. Bisa-bisa carrier itu jadi besar kepala karena sekarang mereka sudah punya barang yang identik walau hanya berupa sandal.

"Benarkah? Wah... Senangnya. Kalau begitu, ayo kita foto!"

Bukan main terkejutnya Park Baekhyun saat ini. Bisa saja rahangnya itu jatuh ke lantai begitu melihat Luhan menarik tangan suami serta anaknya untuk mendekat.

Apa-apaan ini?

"Ibu mertua, mari kita foto kaki kita saat sedang memakai sandal yang sama. Pasti hasilnya lucu. Aku akan mempostingnya di Instagram!"

"Ide bagus, Lu. Aku juga akan langsung memposting fotonya malam ini."

Luhan bertepuk tangan senang begitu Sehun dan Chanyeol juga ikut-ikutan memakai sandal baru mereka.

"Sayang, ayo kemari. Kau kan suka sekali kalau keluarga kita sedang pakai barang couple sambil difoto."

Ya Tuhan... Beri aku ketabahan.

Baekhyun mematung ditempatnya dengan ekspresi tidak percaya. Chanyeol sudah terlanjur menarik tangannya untuk ikut berkumpul, lalu membantu istrinya memasang sandal konyol itu.

Ya, pada awalnya Baekhyun begitu menyukai sandal ini. Tapi sekarang? Jangan harap! Dimatanya Gucci flip-flops telah menjadi sebuah lelucon. Semua itu berkat Xi Luhan. Dan ya terimakasih.

Masih dengan ekspresi speechless Baekhyun menyaksikan kaki kanannya dituntun oleh Luhan untuk maju dan membentuk sebuah lingkaran bersama kaki miliknya, Sehun juga Chanyeol.

"Sayang, fotonya pakai handphone-ku saja."

"Jangan! Pakai handphone Daddy saja."

Ish! Dasar kau Park-Norak-Chanyeol!

Dengan sigap Chanyeol mengeluarkan handphone Samsung dari sakunya dan memberikannya pada Luhan. Carrier manis itu menerimanya dengan senang hati.

"Baiklah, posisinya sudah bagus, ya. 1.. 2.. 3!"

Cekrek!

Sebuah gambar yang diambil dari angle atas telah tersimpan di handphone Chanyeol.

"Nanti akan Daddy kirim via WhatsApp."

"Siap, ayah mertua!"

"Jangan lupa kirim padaku juga, Dad."

3 serangkai ini seakan lupa dengan keadaan mengenaskan seorang Park Baekhyun yang tak bisa berhenti ternganga. Sulit baginya untuk mencerna situasi ini dengan akal sehatnya yang tak selaras dengan suami serta putranya itu.

Xi Luhan...

Awas kau ya!!!

e)(o

To be continued

A/N: Yeay! Sudah melampaui 80 review! Ini update untuk kalian semua~

Nih ya, fanfic ini memang akan terselip unsur komedi walau sedikit (aku ga pinter bikin scene lucu soalnya hiks). Thanks to Luhan, karena karakter dia disini juga sangat mendukung untuk memberikan angin keceriaan di keluarga Park!

Tolong review-nya yang bersifat kritik dan saran yang membangun ya... Supaya aku tahu letak kesalahanku dan mencoba menulis update yang lebih baik lagi utk kalian :)

Otw tembus 120 review? Langsung fast update!