CHAPTER 4
xxx
x
xxx
Tiap 3 kali dalam seminggu, Baekhyun memiliki jadwal khusus yang disebut dengan "inspeksi pakaian". Sebelum baju-baju kotor milik suami dan anaknya dibawa keruang laundry, Baekhyun akan memeriksa satu persatu "keadaan" potongan kain itu dari keranjang yang sengaja diletakkan di sudut kamar.
Tujuan dari inspeksi pakaian ini tidak lain hanya untuk menyelamatkan beberapa barang penting yang sering menjadi korban keteledoran 2 laki-laki dominan kesayangannya.
Sehun seringkali punya kebiasaan menaruh black card-nya sembarangan di saku jeans. Begitu juga dengan uang kertas, tiket bioskop dan karcis berkas parkir yang akan hancur bila terkena air. Kalau sudah begitu, bubur kertasnya akan ikut merusak pakaian lain yang dicuci bersamanya.
Suaminya juga tak kalah ceroboh. Tak tanggung-tanggung, bahkan jam tangan Rolex mahalnya sering disimpan disaku mantel. Baekhyun selalu mengomeli keteledoran suaminya itu. Dan Chanyeol dengan senyum kikuknya akan menjawab "Aku harus melepas jam tangan kalau sedang cuci tangan, sayang. Kadang aku lupa untuk memakainya lagi. Hehehe maaf ya~". Dan Baekhyun hanya akan memutar bola mata malas mendengar alasan itu.
"Ck, anak ini. Sekarang malah kartu mahasiswanya yang tertinggal di kantung celana."
Keluh si carrier ketika melihat sebuah ID Card bernama Park Sehun dengan foto wajah putranya yang tampan terpampang disana.
Kalau sudah begini, Baekhyun yakin jika tidak lama lagi Sehun pasti menghubunginya lewat telepon. Putranya akan bicara seperti ini; "Mommy, tolong suruh seseorang mengantarkan ID Card milikku ke kampus. Aku butuh sekarang untuk izin masuk ke rumah sakit." Ya, pasti begitu. Sang Ibu hanya menggelengkan kepala mencoba memaklumi sifat teledor si anak yang menurun dari ayahnya.
Setelah selesai mengurus pakaian kotor di keranjang milik Sehun, kini Baekhyun kembali ke kamar untuk menilik baju-baju suaminya. Diperiksanya satu-persatu potongan kain mahal itu dengan teliti. Namun sesuatu yang janggal tiba-tiba mengusik indera penciuman Baekhyun. Ia segera mengangkat salah satu kemeja Chanyeol. Hidungnya mengkerut, mencoba mendekatkan bagian lengan kemeja itu pada penciumannya.
Ini... Harum apa?
Aromanya benar-benar asing. Jelas sekali kalau bau parfum ini tidak mirip dengan yang biasa dipakai suaminya. Ya, ini memang bukan harum Dior Armani. Baekhyun bersumpah bahwa parfum ini identik sekali dengan aroma khas parfum...
...Wanita.
"Park Chanyeol... Apa kau ingin main-main denganku, huh?"
Baekhyun meremat kemeja tak bersalah itu dipangkuannya. Ekspresi bengis dan emosi yang tertahan langsung tampak diwajah cantik si laki-laki carrier.
Diluar masih pagi, dan perasaannya sudah dibuat sekacau ini oleh aroma parfum sialan yang menempel erat di kemeja bekas pakai suaminya. Baekhyun bangkit dari duduknya dan menyimpan kembali potongan baju itu kedalam keranjang. Dia berjalan menuju walk in closet untuk bersiap-siap.
Sepertinya seseorang akan mendapat kunjungan khusus hari ini.
e)(o
Dalam situasi seperti ini, tentu saja Baekhyun lebih suka pergi sambil menyetir mobilnya sendiri. Tambahan; dengan ugal-ugalan. Kecepatan sedan Mazda hitam yang dikendarainya terbilang cukup ngeri untuk dipacu dijalanan padat Seoul. Dengan lihai ia memarkir mobil itu di basement gedung perusahaan Park Enterprise, keluar dari kursi kemudi dengan ekspresi yang masih tidak ingin beramah tamah.
Melewati Loby, seluruh pegawai yang menyadari kedatangannya langsung menunduk hormat dan memberikan salam. Sedikit desas-desus heran mengapa 'Nyonya Park' mendadak berkunjung ke kantor juga samar-samar terdengar dari sini. Tapi Baekhyun enggan untuk peduli. Tujuannya sekarang adalah lift yang akan mengantarkannya ke lantai 12 dimana ruangan sang suami berada.
Entah kemalangan atau justru sebaliknya, Baekhyun menajamkan pandangan begitu menangkap sosok yang tak asing baginya sejak sebulan belakangan ini; berdiri menunggu pintu lift terbuka dengan seberkas map dipelukan. Seragam putih khas apoteker membalut tubuh mungil si pemuda yang sepantaran dengannya itu.
Xi Luhan?
Mau apa dia ke kantor Park Enterprise sendirian begini?
Langkah angkuh Baekhyun dipercepat hingga suara sepatunya terdengar lantang, memecah atensi si carrier muda yang sejak tadi terlihat sedikit melamun.
Senyum khasnya yang sangat sumringah tiba-tiba saja terplester kembali. Tangan itu melambai ke arah Baekhyun. "Ibu mertua!"
Jesus Christ. Jangan hari ini. Baekhyun benar-benar sedang tidak ingin meladeni si calon menantu konyol bernama Luhan. Dia sedikit menyesal. Harusnya dia tidak menunda-nunda "pekerjaan" untuk menyingkirkan si carrier Chinese itu dari hidup keluarganya.
"Mau apa kau kemari?"
Tanpa ba-bi-bu lagi Baekhyun langsung bertanya dengan tone suara khasnya yang congkak dan tidak ramah.
"Aku kesini untuk mengantarkan berkas penelitian milik Sehun yang tertinggal di Rumah Sakit. Dia bilang dia akan segera datang kemari dan aku disuruh menunggunya duluan di lantai 8."
"Sehun akan kemari?"
Ada apa?
Baekhyun benar-benar dibuat kebingungan sekarang. Tidak biasanya putranya itu datang ke kantor sang Ayah dihari sibuk begini.
Dan ya, lantai 8. Disana ada sebuah ruangan khusus yang sering dipakai Sehun untuk mengerjakan tugas-tugas kampusnya, dibantu oleh Jongin (salah satu pegawai Park Enterprise) yang memang berkawan akrab dengan putranya tersebut.
Apa Sehun membutuhkan bantuan Jongin lagi untuk mengerjakan skripsinya di kantor? Ya, sepertinya memang begitu.
"Ibu mertua ada perlu apa datang kemari?"
Pertanyaan polos dari Luhan entah kenapa membuat Baekhyun semakin kesal.
"Bukan urusanmu!"
Baekhyun mencoba acuh dan tidak menganggap eksistensi Luhan yang berdiri disebelahnya. Matanya dibawa fokus untuk lurus memandang pintu lift.
"Kau lihat? Wanita itu datang lagi."
"Iya. Aku juga heran, entah apa urusan yang dilakukannya di ruangan CEO Park hingga ia harus datang berkali-kali."
"Semoga saja status wanita itu bukanlah jalang penggoda yang sering ku lihat di drama TV."
"Aish, kau ini memang terlalu banyak menonton drama."
Samar-samar Baekhyun mendengar 2 karyawan wanita yang berjalan melewati punggungnya tengah bergosip, dan itu mengenai sang suami. Baekhyun pun bersumpah bahwa tak hanya dirinya yang mendengar bisik-bisik itu, melainkan juga Luhan.
Mereka berdua saling bersitatap, seolah bicara melalui pandangan mata masing-masing.
"Kau dengar? Ayahnya Sehun yang sialan itu benar-benar menyelingkuhiku!"
Baekhyun menyentak marah, dan hanya Luhan satu-satunya orang yang bisa ia ajak bicara saat ini.
"Eh... Bisa saja itu hanya salah paham, Ibu mertua. Kita jangan berburuk sangka dulu sebelum mendapatkan bukti."
"Bukti? Bukti apa lagi maksudmu?"
Baekhyun mengerang frustasi sekalipun Luhan tengah berusaha menenangkannya.
"Mm, misalnya saja, kita cari tahu apa benar wanita itu ada diruangannya Ayah mertua."
"Ya, kau benar. Kalau begitu aku akan langsung melabraknya saja!"
Baekhyun membuat ancang-ancang hendak menggulung lengan mantelnya.
"Eits, tunggu dulu ibu mertua. Melabrak itu tidak sopan. Dan kurang anggun." Untung Luhan cepat tanggap menahan laju langkah sang calon ibu mertua yang hendak memasuki lift.
Dahi Baekhyun mengernyit, sedang gurat-gurat emosi diwajahnya juga belum hilang. Apa Luhan tengah mengajarinya cara bersikap sekarang? Huh, berani sekali dia.
Baru saja Baekhyun hendak protes, tubuhnya keburu ditarik oleh Luhan ke sebuah sudut sepi di kantor ini. Ck, mereka itu jauh berbeda usianya. Tapi entah bagaimana Luhan malah memperlakukan Baekhyun seperti teman gosipnya saat ini.
"Apa ibu mertua tidak ingin menyelidiki lebih dulu siapa perempuan yang kabarnya sedang mendekati ayah mertua?"
Tring!
Seperti ada bohlam lampu yang kini menyala diatas kepala Baekhyun, sebuah ide cemerlang yang harusnya terpikirkan sejak awal kini tiba-tiba muncul.
"Kau... Cepat tinggalkan saja berkas milik anakku di resepsionis."
Kini giliran Luhan yang mengernyitkan dahi bingung.
"Kau harus ikut denganku! Kita sama-sama menunggu disini untuk memantau gerak-gerik suami sialanku itu. Kalau dia tiba-tiba keluar kantor, kita akan mengikuti kemana dia pergi!"
Ya, setidaknya itu cukup bagus. Mereka bisa mencari bukti terlebih dahulu dibanding langsung melabrak dan berteriak tak karuan di ruang kerja sang CEO.
Luhan mengangguk setuju dan membentuk tanda "OK" dengan jarinya.
Ugh, sepertinya Baekhyun mendadak lupa kalau orang yang dia ajak kerjasama saat ini adalah si calon menantu menyebalkan yang ingin dia singkirkan sejak awal.
e)(o
Bunyi 'kring' dari bel diatas pintu terdengar ketika 2 Carrier bertubuh mungil masuk kedalam cafe--dengan langkah yang kentara sekali sedang mengendap-endap.
"Selamat datang. Silahkan pilih tempat du-"
"Ssssttt!"
Itu Baekhyun, menatap galak si waitress wanita yang kini mengunci bibirnya dengan buku menu.
"Kami akan cari tempat duduk sendiri. Dan ya, bawakan kami minuman terenak disini. Apapun itu."
Sang waitress mengangguk cepat walau sebenarnya dia agak bingung melihat tingkah aneh ibu-ibu ini beserta rekannya yang lebih muda.
Luhan mengikuti langkah Baekhyun, masih mengendap-endap, ke sebuah meja yang tertutup sekat dinding. Akhirnya si pemuda China itu bisa menghela nafas lega kala keduanya berhasil menempatkan pantat mereka dengan aman diatas sofa.
"Hah... Ibu mertua, sebenarnya jantungku masih berdebar-debar akibat kejadian di mobil tadi. Ibu mertua mengemudi dengan sangat cepat dan ugal-ugalan, bahkan sampai menerobos lampu merah. Fiuh... Untung kita selamat."
Luhan mengipasi lehernya dengan tangan, sesekali memegangi dadanya yang belum sepenuhnya berdetak teratur.
"Tch, jangan banyak mengeluh. Kalau tidak begitu, kita bisa kehilangan jejak ayahnya Sehun."
Dan ya, orang yang mereka "kejar" tadi memang benar ada di cafe ini, siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol. Pria itu duduk berhadapan dengan seorang wanita yang mereka yakini bernama Rose.
Cih, namanya saja seperti bebauan pembersih lantai.Ingin rasanya Baekhyun berlari kesana dan langsung menjambak rambut coklat kemerahan si gadis. Mau apa dia mendekati pak tua yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya? Ingin jadi selingkuhan dan mengeruk hartanya, begitu? Tidak akan Baekhyun biarkan!
"Ish, senyum si tua itu menjijikkan sekali. Dia tidak ingat umur apa? Dan ya, apa dia tidak ingat kalau ada istri dan anaknya yang sudah dewasa tejogrok dirumah? Dasar tidak tahu malu!"
Baekhyun meremat-remat kasar serbet yang ada diatas meja. Wajahnya sudah memerah akibat terlalu lama memendam emosi.
Luhan melirik si calon ibu mertua, diam-diam meringis iba. Dia sesekali mengelus lengan atas Baekhyun untuk menenangkan. Matanya tak lepas memandang gadis yang kini tertawa sambil menutup mulutnya. Bagi Luhan pribadi, itu cukup membuatnya kesal juga. Kenapa dia jadi sok manis begitu sih didepan ayah mertua?
Pengintaian mereka terus berlangsung hingga 10 menit berlalu tanpa sebuah kejelasan untuk mengambil tindakan selanjutnya. Luhan tak kenal lelah mencoba menahan ibu mertuanya yang berulang kali mencoba bangkit dari kursi untuk segera meninju suami mesumnya itu, juga menampar gadis selingkuhannya.
Namun sekarang adalah puncaknya, dimana gadis itu tampak mendekatkan wajahnya pada telinga sang suami. Rose ingin berbisik-bisik, atau bahkan mencium leher suaminya, atau entah apa, Baekhyun tidak peduli lagi sekarang. Yang jelas, adegan itu sudah terlalu intim dan melewati batas. Luhan bahkan bisa melihat seperti ada asap virtual yang mengepul dari ubun-ubun calon ibu mertuanya.
"Awas kau ya, Park Chanyeol..."
Baekhyun menggeram tertahan, mulai menghentakkan kakinya untuk mendekati meja diseberang sana; tempat Chanyeol dan selingkuhannya itu duduk.
Langkahnya semakin dekat, aura panas pun menguar kemana-mana. Namun belum sempat Baekhyun sampai ke "tujuannya", seorang carrier muda mendahului langkahnya tanpa diduga-duga.
"YA! ROSE-SSI! BERHENTI MENGGODA AYAH MERTUA!"
Baekhyun seketika mematung, terkejut bukan main ketika pemandangan didepannya menampilkan sosok Luhan yang menarik gadis itu sampai berdiri dari kursinya, berhadapan langsung dengan sosok Luhan yang sedang berkacak pinggang.
Gadis itu tampak kebingungan bukan main sambil meminta jawaban dari Chanyeol. Tapi naas, laki-laki dominan itu justru keburu mengaduh sakit ketika telinganya dijewer secara tidak berperikemanusiaan oleh istrinya sendiri.
"OH... JADI INI BALASANMU TERHADAP ISTRI YANG SIANG MALAM MELAYANIMU, HAH? KAU MENGGERAYANGI TUBUHKU DIATAS RANJANG TIAP MALAM TAPI SAAT SIANG KAU MALAH ENAK-ENAKAN BERMESRAAN DENGAN GADIS MUDA, BEGITU?! MAU JADI AYAH MACAM APA KAU INI, PARK CHANYEOL! TIDAK MALU PADA ANAKMU YANG USIANYA SUDAH 22 TAHUN? KAU SENDIRI SUDAH 53 TAHUN, SADAR ITU PARK CHANYEOL SADAR!!!"
Bukannya melanjutkan pertengkaran, justru Luhan dan Rose dibuat melongo mendengar ocehan Baekhyun yang panjang lebar seperti kereta api. Oh, jangan lupakan wajah garangnya yang menyeramkan, dan jeweran super kuat yang membuat telinga lebar Park Chanyeol memerah bukan main.
Para waitress dan kasir cafe menonton khusyuk bagaimana Chanyeol terus mengaduh dan meracau ampun pada istrinya yang galak itu. Beberapa gadis pengunjung meringis iba pada si dominan yang terlihat begitu pasrah saat menghadapi istri mungilnya sendiri.
"Iiihhh aku kesal padamu aku kesal!"
Baekhyun melepaskan jewerannya dan gantian memukuli tubuh Chanyeol dengan buku menu.
"Tenang sayang, tenang. Kau sudah salah paham padaku sungguh." Laki-laki dominan itu mencoba melindungi dirinya sambil berusaha menenangkan amarah Baekhyun.
"Apanya yang salah paham! Jelas-jelas kau berselingkuh! Dan kau! Gadis jelek! Mau apa kau mendekati suamiku, hah?! Mau menguras habis hartanya?! Mau merasakan penis gagahnya?! Ayo jawab aku!"
Gadis bernama Rose itu mencoba kabur dari serangan pukulan Baekhyun dan untung saja, Chanyeol berhasil menahan aksi istrinya dengan memeluknya erat.
"Iiihhh lepaskan aku! Kau brengsek Park Chanyeol aku benci!"
"Ssshhh... Tenang dulu, istriku. Sungguh kau sudah salah paham. Gadis ini, Rose, dia itu konsultan khusus On Clinic. Kau tau On Clinic, kan?"
"Ppffftt..."
Ups, itu suara salah satu pengunjung yang kepayahan menahan tawanya setelah mendengar pengakuan Chanyeol. Ya, mau tak mau Chanyeol harus mengaku dihapadan umum seperti ini agar istrinya yang galak berhenti mengamuk.
Baekhyun terdiam sejenak, mencoba menelaah perkataan Chanyeol barusan. On Clinic? Kenapa rasanya terdengar tidak asing? Bukankah ia pernah melihat iklannya di TV? Penyedia ruang konsultasi bagi pasangan suami-istri mengenai kehidupan rumah tangga dan aktivitas seksual...ah, itu dia.
"Y-ya... Kenapa kau tidak bilang dari awal, suamiku."
Baekhyun membuang pandangannya ke arah lain, begitu malu karena saat ini pipinya sudah sangat merah. Bukan hanya malu karena sembarangan menuduh suaminya selingkuh, tapi juga... eh... Ya, tahu sendiri. Memalukan saat semua orang tahu kalau suaminya ternyata sedang konsultasi, meminta tips "kelancaran" hubungan intim pada klinik ahli terkenal di penjuru negeri.
Luhan sendiri berusaha sekuat mungkin agar tidak terbahak-bahak, tapi dia memang sudah terlanjur tertawa geli saat ini. Rose pun senyam-senyum dibelakang, merasa lucu dengan pasangan suami-istri aneh yang menjadi kliennya.
"Aku memang mau cerita, tapi tidak sekarang. Dokternya bilang, aku baru bisa mengajakmu pergi di pertemuan ke-3."
"Yaaa! Jangan bicara keras-keras."
Baekhyun memelankan suaranya diakhir kalimat sambil mencubit kuat perut Chanyeol hingga sang suami meringis minta ampun.
"Ah, Park Baekhyun-ssi. Aku Rose. Senang berkenalan dengan anda, Nyonya Park."
Gadis itu menunduk sopan dan menjabat singkat tangan mulus Baekhyun. Laki-laki carrier itu tersenyum canggung, merasa tak enak hati karena sudah mengata-ngatai si konsultan On Clinic ini.
"Tidak perlu sungkan, Baekhyun-ssi. Tuan Park sendiri datang ke kami hanya ingin menambah keharmonisan rumah tangga saja. Hubungan kalian sangat baik dan sehat untuk usia pernikahan yang sudah hampir 30 tahun. Aku harap, dipertemuan selanjutnya anda bisa turut datang bersama suami anda sesuai janji."
Baekhyun mengangguk, sikapnya sudah kembali biasa saat ini. Sesekali ia melirik pada suaminya yang entah mengapa tersenyum penuh kemenangan sekarang. Apa yang dia pikirkan? Apa dia merasa bangga karena baru saja dipuji secara tak langsung oleh konsultan mereka? Cih, dasar pria mesum sok gagah! Baekhyun melengos tak peduli pada suaminya yang memalukan ini.
Oke, satu hari yang absurd baru saja terlewati. Rose pamit pulang lebih dulu sedangkan Luhan sekarang sibuk berceloteh dengan calon ayah mertuanya sambil menyeruput latte.
Baekhyun memperhatikan mereka, sedikit membuka kilas balik kejadian-kejadian yang sempat dia alami bersama Luhan beberapa jam terakhir. Mereka berinteraksi seperti anggota tim yang sangat kompak. Baekhyun sendiri tidak menyangka, ternyata banyak juga kesamaan tak terlihat yang ia miliki bersama Luhan. Salah satunya, Luhan ternyata juga bisa berubah galak jika itu sudah menyangkut 'keluarganya'.
Ah, apa Luhan sudah menganggap keluarga Park seperti keluarganya?
Baekhyun merasa tidak senang, tapi entah mengapa ia juga tidak terlalu keberatan dengan hal itu. Mungkin... Hanya mungkin, ia bisa melembutkan sedikit sikapnya pada Luhan. Dan itu tidak berarti bahwa ia telah menerima Luhan sepenuhnya sebagai calon istri Sehun.
Baekhyun masih harus memastikan beberapa hal, dan juga melakukan serangkaian "test" pada carrier berdarah China itu.
Hm... Lihat saja nanti.
e)(o
"Istriku."
Suara Chanyeol membuyarkan konsentrasi Baekhyun yang tengah menepuk-nepuk serum pada kulit wajahnya. Matanya ia alihkan untuk memandang Chanyeol dari pantulan cermin.
"Lihat, aku punya sesuatu untukmu."
Baekhyun membalik badannya, menemukan sebuah paper bag mungil ditangan Chanyeol yang akan segera berpindah tangan padanya.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Chanyeol tersenyum penuh arti. Baekhyun membuka paper bag dengan santai dan voila, sebuah kotak parfum dengan brand yang amat familiar terpampang didepannya.
Fenty Beauty by Rihanna.
Tapi ada yang aneh. Baekhyun memang pengoleksi produk-produk Fenty Beauty paling sejati di muka bumi ini. Tapi sungguh, ia tidak pernah melihat bentukan parfum ini dimanapun. Apalagi setelah melihat botolnya. Tutupnya saja sudah berhiaskan diamond yang Baekhyun yakin mengandung lebih dari 120 karat, sangat cantik dan berkilauan.
"Dari mana kau dapat ini, Chan? Ini parfum baru? Kenapa aku tidak mendapat notifikasi dari PR Fenty Beauty kalau mereka mengeluarkan produk baru?"
Kebingungan Baekhyun dijawab oleh senyum penuh arti dari Chanyeol.
"Ya, itu memang produk baru, dan satu-satunya yang ada di dunia ini."
"M-maksudmu?"
"Aku sudah memesan parfum ini khusus untukmu Baekhyun. Mereka membutuhkan 1 tahun untuk pengerjaannya. Aku tahu kau penggemar berat Fenty Beauty, jadi... Apa salahnya kalau aku memberikan sesuatu yang spesial untukmu menggunakan brand itu."
Baekhyun menatap takjub sejenak pada botol parfum ditangannya, kemudian beralih memberikan atensi seutuhnya pada sang suami. Dia menatap Chanyeol dalam, ada binar bahagia dan rasa syukur yang terpancar dari wajah cantiknya.
"Terimakasih, Yeollie..."
Baekhyun memeluk leher Chanyeol dan berjinjit untuk mencium sekilas bibir suaminya.
Mereka mengunci manik mata masing-masing, sedetikpun tak ingin melunturkan senyuman dibibir keduanya.
"Sepertinya aroma parfum ini cukup familiar."
"Benarkah? Padahal itu aroma yang dibuatkan khusus satu-satunya untukmu, istriku."
"Bukan begitu. Maksudku, aku pernah mencium aroma ini di lengan kemejamu."
Baekhyun tersenyum geli kala mengingat aroma parfum ini justru sempat membuatnya menarik kesimpulan bahwa Chanyeol berselingkuh.
"Oohh... Iya, aku diberi tester oleh mereka untuk dicium aromanya beberapa hari lalu. Wanginya sangat lembut, cocok dengan kepribadian istriku."
"Cih, itu namanya majas hiperbola. Sejak kapan kau mengakui sifatku ini lembut, huh?"
"Ayolah, izinkan aku menggombalimu sehari saja."
Baekhyun tertawa dan mengangguk paham. Setelahnya mereka melanjutkan kecupan yang awalnya bertempo lembut namun lama-kelamaan berubah menjadi panas.
"Ayo, kita membuat bayi."
"Lagakmu itu ya, Park Chanyeol. Kita ini sudah waktunya menimang cucu, bukan menimang bayi."
"Hehehe..." Chanyeol tertawa gemas sambil mencubit pipi gembil istirnya. "Maksudku, kita menikmati proses pembuatannya saja. Tidak harus membuat bayi betulan."
"Haduh... Aku heran kenapa pria tua dengan libido diatas rata-rata sepertimu ini masih membutuhkan On Clinic."
Baekhyun memutar bola mata malas dan berkata sarkastik.
Chanyeol terkekeh sambil mengikuti langkah istrinya yang berjalan menuju ranjang king size mereka.
"Aku butuh jasa mereka hanya untuk memastikan kalau aku masih cukup perkasa untukmu, Baekhyun."
"Dasar. Otak mesummu ini hanya bisa diajak berpikir seputar hal yang berbau genjot-menggenjotku saja. Mestinya aku yang jadi CEO Park Enterprise sejak awal, bukan kau."
Lagi-lagi, perkataan ceplas-ceplos Baekhyun membuat Chanyeol terkekeh. Sambil mengoceh pun, istrinya tetap saja memenuhi keinginannya dengan patuh.
Baekhyun sedang membuka atasan piama satinnya yang bermotif Teddy Bear itu dengan santai, tidak mempedulikan tatapan mengangumi dari suaminya yang sudah terlentang nyaman diatas ranjang saat ini.
"Kau tidak boleh menjadi CEO, sayang. Itu berat. Lebih baik kau menungging untukku saja tiap malam. Mudah dan enak, iya kan?"
"Iisshh! Kalau bukan suami, sudah ku potong penismu ini biar digondol kabur oleh mongryong sekalian!"
Kalimat itu datang dari mulut pedas Baekhyun; sedang bersiap menungging didepan suaminya yang hanya bisa menyeringai bahagia.
Baekhyun itu memang galak, arogan, keras kepala, pemarah dan suka mengomel. Tapi tetap saja, fakta bahwa dirinya adalah seorang istri yang baik dan patuh memang tak dapat terbantahkan.
e)(o
To be continued
A/N: Apa ini? Uuhh... Aku hanya berusaha membuat fanfic ini tetap berada dilajurnya yang "menggemaskan" meskipun aku tau ini tidak sama sekali.
Oke, fanfic ini rencananya ga akan aku buat terlalu panjang. Setelah konflik klimaksnya keluar (mungkin di 2 chapter kedepan?) aku akan segera menuntun cerita ini menuju ending.
Maaaaafffff banget karena aku terlambat update. Aku benar-benar sibuk dan ga punya waktu untuk nulis kemarin. Dan ya, aku harap ini terakhir kalinya aku NGARET bgt utk update. Besok InsyAllah update chapter 4 "HIS BITCH" ya. Terimakasih sudah mau bersabar~
REVIEW juseyo~ lewatin 160 ya hihihi~ and i love you~ do you love me too?
