Chapter 6

Disclaimer : Masashi kishimoto

.

.

Rate : T-M(mungkin)

.

.

Warning : Berantakan, abal, gaje, jelek, ooc,typo,aneh,dll

.

.

Summary: Naruto Uzumaki, seorang siswa pindahan dari Suna. Ia seorang yatim piatu semenjak smp. Dan ia merupakan siswa yang cerdas dan tampan. Seperti apa pengalamanya di sekolahbarunya, Konoha High School?.

.

.

Hallo, minna ! Ketemu lagi dengan author Lio-kun11 yang gak pernah up berbulan-bulan. Wkwkwk. Sebelumnya maaf nih klo fic nya lama gak up, karena masih fokusin ke fic yang satu lagi, yaitu Naruto DxD. Tapi sekarang dan kedepannya tenang saja, karena author bakalan memfokuskan kesemua fic author. Maksudnya gini... Misalnya yang Kimochi udah up, baru bikin yang Naruto Murid Baru. Kalau Naruto Murid Baru udah, up, langsung bikin Naruto DxD. Yahh... Intinya bergantian gitu.

Dan untuk genre, itu berubah ubah. Terkadang bisa Romance, kadang Horror, Mistery, dan masih banyak lagi. Jadi jangan heran kalau kedepannya ada genre tersebut.

Dan author minta pendapat para reader dan para senpai sekalian, nih fic lebih baik dihapus atau dilanjutkan ? Eeehh... Bukannya author gak mau lanjutin sih, hanya saja sepertinya yang minat sama fic ini sedikit, dilihat dari review juga sedikit. Nah ! Jadi saya minta pendapatnya nih... Dilanjutkan atau tidak.

Ahh ! Author juga punya satu pengumuman, yaitu...

1. Lio-kun11 dan Haikal-san membuat sebuah grup di wa, yaitu Grup Fanfic Indonesia.

2. Haikal-san dan Lio-kun11 membuat grup di FB, yaitu Komunitas Fanfiction Indonesia.

Nah ! Bagi para Author atau Reader yang berminat bergabung, silahkan beri tahu kami. Jika ingin bergabung di FB, minta pertemanan kepada Hashaka Lio, dan Muhd Haikal.(di FB). Jika ingin bergabung di grup wa, pm saja Lio-kun11 atau Haikal-san.(di FFn).

Untuk saat ini hanya itu saja yang dapat author sampaikan. Dan maaf jika mengganggu aktifitas membaca kalian. Tanpa banyak omong lagi, monggo diwoco(silahkan dibaca).

.

.

Chapter sebelumnya :

''KYAAAA!''

...

''Nii-chan, jika Nii-chan tinggal disini, Nii-chan mau tidak?''

...

''Jangan coba-coba.''

...

''Na-Naru-nii.''

''Ha-Hana...''

''Ka-kalian ?''

...

''Ha-Hanabi ? Na-Naruto ? Kalian...''

...

''O-Otou-chan/Hi-Hiashi Ji-san ?!''

.

.

''... Jadi seperti itu ceritanya Ji-san.'' kata Naruto mengakhiri ceritanya.

Mereka saat ini sedang duduk dibangku sofa, denga Hinata yang berada disamping Hiashi.

Sedangkan Hanabi hanya menundukkan kepalanya.

''Hahaha.''

Hanabi, Naruto, dan Hinata bingung kenapa Hiashi tertawa lebar seperti itu.

''Haha... Ternyata putriku Hanabi sudah besar ternyata.'' kata Hiasi membuat Hanabi menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

''Hah~ Masa muda memang menyenangkan.'' kata Hiashi.

Setelah itu, hening pun terjadi, sampai akhirnya Hiashi memecahnya.

''Oh ya, bukankah kalian hari ini sekolah ?'' tanya Hiashi.

''Ah, benar.'' timpal Naruto.

''Baiklah, aku pergi kekamar mandi dulu.'' ucap Hanabi sebelum berjalan cepat agar mereka bertiga(Naruto, Hinata, Hiashi) tidak melihat wajahnya yang memerah.

''O-Otou-san, aku akan menyiapka sarapan.'' kata Hinata yang mendapat anggukan dari Hiashi.

Kemudian, Hiashi berpindah tempat duduk disamping Naruto.

''Hei Naruto, bagaimana pendapatmu tentang mereka berdua ?'' tanya Hanabi kepada Naruto.

''Mereka baik, manis, cantik dan masih banyak keistimewaan dalam diri mereka.'' kata Naruto.

''Kau pilih siapa diantara mereka ?'' tanya Hiashi.

''Dua-duanya juga boleh.'' kata Naruto yang belum ngeh sama pertanyaan Hiashi.

''Ternyata kau serakah juga ya Naruto? Kau ingin menikahi kedua putriku sekaligus?'' tanya Hiashi.

''Eh ! Bu-bukan begitu, hanya saja...''

''Hahaha.. Santai saja Naruto, aku hanya bercanda.'' kata Hiashi sambil menepuk-nepuk bahu Naruto.

''Hah haha hah.'' sedangkan Naruto hanya bisa tertawa garing sambil menggaruk belakang kepalanya.

.

.

Konoha High School, merupakan tempat sekolah unggul di Konoha.

Tap tap tap

Suara langkah kaki menggema dikoridor kelas. Tapi kita tidak akan membicarakan tentang suara kaki tersebut, tetapi kita akan membahas keadaan kelas X-A.

Sorang pemuda cool dan berambut emo, sebut saja namanya Sasuke. Dia sedang termenung..eh!, bukan, lebih tepatnya memandang seorang perempuan berambut bubble gum yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya.

Naruto yang berada tak jauh dari Sasuke, menghampiri sosok cool tersebut. Sebenarnya Naruto sudah berulang kali melihat Sasuke menatap perempuan bernama Sakura. Naruto berpikir bahwa temannya ini menyukai Sakura..tidak, lebih tepatnya mencintai Sakura.

''Teme.'' panggil Naruto setelah berada disamping Sasuke.

Sasuke tidak mendengar teguran Naruto, pandangannya terus tertuju pada si Pink tersebut.

''Oi Teme.'' panggil Naruto lagi sambil menepuk bahu Sasuke.

''Ah ! Iya Sakura-chan.''

''Eh?''

Krik krik..krik krik

Seluruh kelas sunyi ketika Sasuke menyebut nama Sakura. Sedangkan Sasuke ia hanya menutup mulutnya dengan erat, Naruto yang dipanggil 'Sakura' oleh Sasuke, alisnya bertemu(bingung).

Sakura yang mendengar namanya terpanggil oleh Sasuke langsung memerah wajahnya. Berbeda dengan Sakura, berbeda lagi dengan wanita yang lai, kecuali Hinata.

''Wahh! Ternyata Sasuke-kun menyukai Sakura.''

''Sayang sekali ya, aku terlambat.''

Kira-kira seperti itulah tanggapan dari para siswi lainnya, kecuali Hinata.

''Ne, jadi kau menyukai Sakura ya ?'' tanya Naruto berbisik kearah Sasuke.

"'U-urusai.'' kata Sasuke sebelum bediri dari duduknya dan pergi meninggalkan kelas.

''OI ! TEME ! APA KAU INGIN MEMBOLOS, HAH ?'' teriak Naruto saat Sasuke pergi keluar.

''Ahh! Teme sialan.'' kesal Naruto berlari mengekor Sasuke.

Ditoilet khusus lelaki...

Sasuke berdiri disebuah wastafel, tak berapa lama datanglah Naruto.

''Oi Teme.'' panggil Naruto setelah berada disamping Naruto.

''Hah~. Naruto, apa kau tau apa yang terjadi denganku ?'' tanya Sasuke yang melihat dirinya dikaca toilet.

''Mungkin itulah yang dinamakan cinta. Apa kau mencintai Sakura ?'' tebak Naruto.

''Entahlah. Hah~'' desah Sasuke.

''Jika memang kau mencintai Sakura, kau hanya peelu menyatakan cinta padanya.'' kata Naruto menatap Naruto.

''Aku...tidak tau caranya.'' ucapan Sasuke sukses membuat Naruto ndongkol.

''Kau tidak tau?.'' tanya Naruto nunjuk-nunjuk wajah sok cool Sasuke.

Sasuke hanya bisa menggeleng mendapat pertanyaan semacam itu.

''Dasar kau ini. Kau hanya perlu mengatakan seperti ini '''' Oh Sakura-chan, aku sangat mencintaimu.'''''' kata Naruto mempraktekkan nada dan gerakannya.

Dengan posisi Naruto yang berjongkok dihadapan Sasuke seperti pria yang nenyatakan cinta kepada sang pujaan hati.

Cklek

'' Eh ?'' masuklah seseorang lelaki yang melihat kejadian ditoilet.

''Maaf mengganggu.'' kata sosok tersebut, lalu keluar dari toilet. Tapi tak berapa lama...

''OII ! NARUTO DAN SASUKE ADALAH PASANGAN YAOI !'' teriak sosok barusan yang membuat Naruto dan Sasuke hampir mati ditempat.

.

.

Akhirnya istirahat telah tiba, saatnya beberapa murid mengisi perut mereka yang cacingnya udah minta makan. (Pada cacingan semua nih anak).

''Ne, Naruto, apa kau mau kekantin bersamaku ?'' tanya gadis pirang gaya ponitail bernama Ino Yamanaka.

''Eee... Sebenarnya aku mau, tapi...e ehh.'' Naruto tidak bisa melanjukan perkataannya saat Ino menarik tangannya.

''Tu-tunggu Ino.''

''Cepat Naruto.'' Ino terus menarik tangan Naruto, tak memperdulikan bila tangan Naruto akan terlepas dari tubuh Naruto.

Akhirnya mereka sampai dikantin.

''Naruto, kau ingin makan apa ? Biar aku yang traktir.'' kata Ino membuat Naruto merasa tidak enak karena ia ditraktir perempuan.

''Tidak perlu Ino, aku juga bawa uang kok.'' kata Naruto.

''Baiklah, kau ingin pesan apa ? Aku yang akan membawakannya.'' kata Ino mendapat anggukan dari Naruto.

''Semangkok ramen ekstra 'naruto'.''

Ino mengangguk mendengar pesanan Naruto dan pergi meninggalkan Naruto yang duduk dibangku kantin. Biasanya jika kekantin, ia sering bersama Sasuke. Bicara soal Sasuke, dimana dia sekarang ? Dan Ino, biasanya ia dan perempuan bubble gum yang sering bersama, tapi dimana Sakura ?

.

.

Di atap sekolah~~

Kita lihat keberadaan si pantat ayam...eh, maksudnya Sasuke. Dan jangan lupakan gadis tsundere yang juga bersama Sasuke, namanya Sakura.

Hanya ada mereka berdua diatap sekolah, membuat l Sasuke dan Sakura sedikit gugup+canggung. Dan mereka saling menatap dalam jarak yang sangat... Jauh. Yah... Sakura duduk dibangku atap dan Sasuke sendiri duduk dipagar pinggir atap.

''A-ano... Sasuke-kun, ada apa kau membawaku kesini ?'' tanya Sakura dengan wajah memerah.

''Hn.'' Hanya itu yang Sasuke katakan.

Sakura menatap Sasuke penuh tanya, 'Apa Sasuke kebelet ?'

''Sasuke-kun?''

''Hn.'' lagi-lagi Sasuke hanya mengatakan 'Hn' karena...

'Kuso! Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.' Batin Sasuke nangis darah. Sungguh tak mudah seorang Uchiha Sasuke mengungkapkan sesuatu yang menurutnya memalukan.

''Sasuke-kun, jika tidak ada urusan, aku...''

''Tunggu !'' potong Sasuke-kun dengan cepat bagai Hiraishin.

''I-iya...''

''Ah ! Go-gomen, aku membuatmu takut.'' Ucap Sasuke dibalas anggukan oleh Sakura.

''Ja-jadi... Apa yang ingin kau bicarakan ?''

''Hahh~ Baiklah. Begini...'' Sasuke berjalan pelan kearah Sakura duduk, membuat jantung sang wanita berdugem ria didalam.

Sasuke mengukuti gaya Naruto saat ditoilet tadi. Menempelkan lutut kanannya kelantai atap sebagai tumpuan badan, serta kedua tangannya yang menggenggam tangan Sakura. Bahkan bisa dilihat wajah Sakura memerah bak lopster rebus.

''... Sakura... Sudah lama aku merasakan ini semua. Rasa ini tidak dapat ku tahan lagi. Rasa yang tidak ku ketahui rasa apa ini. Hingga aku menyadari dengan pasti perasaan yang kurasakan padamu. Sakura...''

''I-i-i-iya...'' ucap Sakura gagap melebihi Hinata.

''Maukah kau... Menjadi kekasih ku ?''

''E'emm...'' Sakura mengangguk malu menandakan ia mau menjadi pacar Sasuke.

''Benarkah ? Arigatou, Sakura-chan...''

Greb

''Eh !...''

Sakura terkejut saat Sasuke memeluknya dengan tiba-tiba dan hasilnya... Badan Sakura lemas dan pingsan.

''Aishiteru... Sakura-chan...''

''...''

''Sakura-chan ?''

''...''

''Sakura-chan, kau masih disana?''

''...''

Sasuke memanggil Sakura berkali-kali, namun tak ada jawaban dari perempuan Tsundere ini. Merasa tidak ada pergerakan dari Sakura, Sasuke memutuskan untuk melihat keberadaan Sakura.

''Loh ? Sakura-chan ?''

Sakura telah pingsan dengan setetes darah segar keluar dari hidungnya, disertai senyum bahagia...

.

.

Back to Naruto & Ino

''Ahh... Kenyangnya...''

Naruto hanya tersenyum garing mendengar pernyataan Ino. Bagaimana tidak kenyang, Ino menghabiskan emat mangkok ramen ekstra jumbo, dan ia hanya berkomentar ''kenyangnya''. Naruto heran sendiri, nih perut cewek karet apa, ya?

''Ano... Ino-san, tumben kamu mengajakku makan bersama di kantin.'' Naruto membuka pembicaraan setelah sekian lama berdiam.

''Jadi, aku tidak boleh mengajakmu ?'' tanya Ino dengan wajah dibut-buat sedih.

''Bu-bukan begitu, hanya saja kau tidak pernah mengajakku kekantin sebelumnya.'' Kata Naruto cepat sebelum Ino merasa sakit hati.

''Ohh... Begitu. Haha... Tidak apa-apa sih, aku hanya ingin mengajakmu saja.''

Perkataan Ino hanya dibalas anggukan oleh Naruto.

''Oh, ya. Apa nanti malam kau ada urusan atau kerjaan gitu ?'' Ino menghadapkan dirinya kearah Naruto.

''Tidak ada. Emang kenapa ?'' tanya Naruto sambil memakan ramen yang masih setengah.

''Bukan apa-apa, hanya ingin main ke apartemenmu. Kau tinggal diapartemen kan ?''

Naruto menggosok-nggosok janggutnya berpikir.

''Untuk saat ini sih iya, tapi dua hari lagi aku akan pindah.''

''Pindah ? Kemana ?'' tanya Ino menatap Naruto penasaran.

''Kerumah teman ayahku.'' Balas Naruto singkat.

''Ohh.. Berarti nanti malam kau masih di apartemen, kan ?'' pertanyaan Ino dibalas gelengan pelan dari Naruto, menandakan ia tidak ada di apartemen.

''Sepertinya tidak, aku akan menginap dirumah Hinata-chan.'' Kata Naruto membuat Ino sedikit syok dan terkejut.

''Hi-Hinata ? Kenapa kau bisa tinggal disana ? Apa kalian ada hubungan sepesial ?'' wajah Ino langsung menampakkan wajah penasarannya.

''Tidak juga, sih... Ayah Hinata-chan adalah teman ayah ku.'' dan untuk untuk kesekian kalinya, Ino dibuat terkejut lagi oleh perkataan Naruto.

''Ehh ! Ayah Hinata-chan teman ayahmu ? Ja-jadi dua hari lagi kau tinggal di rumah Hinata ? Kok, bisa ?''

''Yahh... Ini karena perintah mutlak dari Hanabi, adiknya Hinata-chan..'' jawab Naruto seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

''So-souka..'' balas Ino dengan wajah aneh yang tiba-tiba tercetak diwajahnya.

'Jadi Naruto-kun takut dengan anak-anak ya.'

'' Dan jika nanti malam kau ingin main ke apartemen ku, datanglah kerumah Hinata-chan. Aku ada di sana.'' Ucap Naruto mendapat anggukan pasrah dari Ino.

''Baiklah, nanti malam aku akan kerumah Hinata.'' Ucap Ino dibalas anggukan oleh Naruto.

''Ino-san, berhubung bel sekolah sebentar lagi akan berbunyi, lebih baik kita kembali kekelas.''

Ino mengangguk membalas perkataan Naruto, Kemudian berdiri dari duduknya dan kembali ke kelas bersama Naruto.

.

.

Krinnggggggggggggggg~~

Bunyi lonceng panjang menunjukkan bel pulang sekolah telah tiba.

Didalam kelas XI-A

''Baiklah, anak-anak... Berhubung bel sudah berbunyi, mari kita mengakhiri pelajaran ini. Tapi sebelum itu, masukkan buku-buku kalian kedalam tas dan pastikan tidak ada yang tertinggal.''

''Ha'i, Sensei !''

''Dan jangan lupa kerjakan tugas kelompok yang tadi Sensei bagikan.''

''Ha'i, Sensei.''

.

.

''Hinata ! Naruto ! Tunggu !''

Sebuah teriakan menghentikan dua sejoli yang sedang asiknya berjalan berdampingan. Mereka berdua memutar tubuh mereka kebelakang, mendapatkan seorang perempuan berambut pirang pucat gaya ponytail tengah berlari mengejar mereka. Dan jangan lupakan sesuatu yang bergoyang pada perempuan tersebut.(Author hentai #plak)

''Ino/-chan ?'' gumam Naruto dan Hinata bersamaan.

''Hah...hah...hah... Huhh... Lelahnya !'' setelah sampai didepan Naruto dan Hinata, Ino mengatur nafasnya yang keluar masuk dengan cepat.

''A-ano... Ino-chan, kenapa kau me-mengejar kami ?'' tanya Hinata membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang tertuju kepada Ino.

''Hehehe... Bukan apa-apa, hanya ingin membahas kerja kelompok yang diberi Sensei tadi.'' Jawab Ino dengan cengirannya.

''Ohh... Souka. Apa yang ingin Ino-chan tanyakan ?''

Naruto hanya diam mendengarkan pembicaraan dua wanita didepannya.

''Bagaimana kalau kita mengerjakan dirumah mu saja ?'' usul Ino mendapat anggukan dari Hinata.

''Ummu... Baiklah.''

''Oh ya, bukankah Sakura-chan juga kelompok kita ?'' tanya Ino lagi mengingat sensei menyertakan Sakura dalam kelompok mereka.

''Hu'um... A-pa kita perlu memberi tahu Sakura-chan ?'' perkataan Hinata dibalas gelengan dari Ino.

''Kalo masalah Forehead, biar aku yang urus. Nanti malam aku dan Forehead akan datang kerumah mu, Hinata.'''

''Humm..'' Hinata mengangguk mengiyakan perkataan Ino

''Baiklah... Sang surya telah meninggi, lebih baik kita pulang. Kau mau pulang bersama kami, Ino-san ?'' Naruto yang sudah merasa panas karena terik matahari mengusulkan pendapat untuk segera kembali kerumah masing-masing, kecuali Naruto yang akan menginap dirumah Hinata.

''Hmmm... Baiklah.''

Dan mereka betiga berjalan bersama menuju kerumah masing-masing, dengan Naruto yang berada ditengah

.

.

''Tadaima.''

Dua orang pemuda pemudi memasuki sebuah rumah tradisional Jepang.

''Okaeri, Hinata-nee, Naru-nii. Kenapa kalian pulang sedikit terlambat ?'' ucap seorang gadis berumur sekitar 14 thn membalas ucapan dua remaja tadi.

''Ah. Maaf, Hanabi-chan. Kami makan siang dulu tadi, di kedai ramen Ichiraku.'' Jawab pemuda yang dipanggil Naru-nii, atau yang biasa dikenal Naruto.

''Hmmph... Makan tidak mengajak-ngajak. Kalian curang.'' Hanabi yang dari tadi siang belum makan, memprotes perkataan Naruto.

''Gomen, Hanabi-chan. Tapi Hanabi-chan sudah makan, kan ?'' tanya Hinata dengan suara sedikit bersalah.

Hanabi hanya menggeleng menandakan ia belum makan siang ini.

''Belum ? Kenapa kau tidak makan ?''

''Tadi rencananya Hana mau makan, tapi lebih menyenangkan kalau kita makan bersama. Jadi Hana menunggu kalian agar kita bisa maka bersama. Tapi kalian... Hiks...''

Naruto dan Hinata terlihat panik saat melihat Hanabi menundukan kepala dengan isakan yang terdengar.

''E-eh ! Ha-Hanabi-chan. Ja-jangan menangis... Aduhhh... Bagaimana ini.'' Kata Hinata panik melihat adiknya menangis.

Naruto mencari cara agar Hanabi berhenti menangis.

''Ah ! Hanabi-chan, bagaimana kalau aku membuatkanmu makan ?'' usul Naruto dengan wajah berharap Hanabi mau berhenti menangis. Terkadang Naruto bingung dengan sikap Hanabi yang berubah-ubah. Terkadang sikapnya seperti orang dewasa, dan rerkadang seperti anak-anak.

''Ta-tapi sama saja aku akan makan sendirian..hiks..''

''Aku akan menyuapimu.''

''Eh !'' Hanabi dan Hinata mengucapkan pekikan bersamaan karena terkejut mendengar perkataan Naruto.

''Ho-hontou ?'' tanya Hanabi yang sudah selesai dengan tangisannya.

''Ee... Y-ya.. Hontou desu ka.'' Jawab Naruto tidak yakin. Pasalnya ia mengucapkan ''Aku akan menyuapimu'' tanpa terpikirkan. Kalimat itu keluar dengan sendirinya, seolah tidak ingin Hanabi menangis.

''Yey ! Arigatou, Nii-chan.'' Kata Hanabi bahagia. Hanabi dengan segera berlari kearah dapur.

''Na-Naruto-kun, maaf ya sudah merepotkan mu.'' Ucao Hinata dengan wajah bersalah.

''Hihihi... Tidak masalah. Baiklah, aku kedapur dulu ya, mau memasakkan makanan untuk Hanabi-chan.'' Naruto yang akan beranjak dari tempatnya sempat tertunda saat Hinata menahan tangan Naruto.

''Na-Naruto-kun, le-lebih baik Naruto-kun ganti baju dahulu.'' Ucap Hinata yang mengingatkan Naruto bahwa pemuda didepannya sedang mengenakan seragam.

''Tidak masalah, Hinata-chan. Emm... Aku kedapur dulu, ya.'' Naruto melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda menuju dapur.

Setelah Naruto pergi, Hinata kemudian berjalan menuju kamarnya untuk berganti baju.

Sedangkan Naruto yang sudah berada didapur, mempersiapkan alat untuk memasaknya. Dan Hanabi yang duduk di kursi ruang makan dapur, jangan lupakan senyum bahagia yang terus terpasang diwajahnya.

''Hanabi-chan, kau igin makan apa ?'' tanya Naruto menatap Hanabi yang senyum-senyum gaje.

''Emmm... Nasi goreng saja juga boleh, Nii-chan.'' Perkataan Hanabi segera dibalas anggukan oleh Naruto.

''Baiklah. Nasi goreng spesial ala Naruto, yang di khususkan untuk Hanabi Hime.'' Kata Naruto sukses membuat wajah Hanabi memerah.

Dengan cekatan, Naruto meracik bumbu-bumbu yang akan digunakan untuk memasak nasi goreng. Tak butuh waktu lama untuk Naruto mempersiapkan masakannya. Naruto meletakkan seporsi nasi goreng dipiring makan, serta secangkir teh hangat yang entak sejak kapan tersedia.

''Yosh ! Nasi goreng ala Naruto sudah siap !'' seru Naruto seraya berjalan menuju Hanabi berada.

Setelah tiba di samping Hanabi, Naruto meletakkan makanan buatannya di depan Hanabi.

''Silahkan dinikmati, Hanabi-sama...'' ucap Naruto membungkuk ala pelayan kerajaan.

''Mou~ Naru-nii lupa ya, kan Naru-nii berjanji akan menyuapiku.'' Ucap Hanabi seraya menggembungkan pipinya, serta bibirnya yang dimajukan.

''Hahaha... Kau lucu sekali jika sedang ngambek, ya.'' Naruto mencubit pipi Hanabi yang menggembung, menyebabkan aduhan dari si empu.

''Adududuh.. Ittai, sakit Nii-san. Hmph..''

''Habisnya kau imut jika sedang manyun.'' lagi-lagi perkataan Naruto membuat wajah Hanabi memerah kembali.

''U-urusai ! Sekarang suapi aku.'' Perintah Hanabi sedikit menundukkan wajahnya menghindari tatapan Naruto.

''Iya, iya.'' Naruto duduk dibangku sebelah Hanabi. Mengambil piring yang ia letakkan tadi.

''Baiklah, Hanabi-chan. Buka mulutmu... Aaa'..''

Hanabi mengikuti perkataan Naruto, membuka mulutnya agar Naruto bisa memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya.

Mata Hanabi membulat setelah merasakan masakan Naruto.

''U-uhh... Oishi...'' gumam Hanabi berdecak kagum. Naruto yang mendengarnya hanya tersenyum senang karena masakan sederhananya terasa enak.

''Bagaimana rasanya, Hanabi-chan.'' Tanya Naruto dengan senyumnya.

''Masakan Nii-chan enak.'' Gumam Hanabi.

''Kau bilang apa ?'' tanya Naruto pura-pura tidak dengar.

''Ummu.. Ano... Ma-masakanmu...enak, Nii-chan.'' ucap Hanabi menundukkan kepalanya.

''Arigatou... Mau lagi ?'' Naruto menyodorkan sesendok nasi lagi setelah mendapat anggukan dari Hanabi.

Dan makan siang Hanabi berlangsung dengan acara suapan dari Naruto. Dan untuk Hinata, sepertinya dia sedang tidur di kamarnya.

.

.

19 : 45

Tok tok tok

Tiga ketukan pintu berasal dari sebuah rumah tradisionall khas Jepang yang mana letak keluarga Hyuuga tinggal.

''Iya sebentar !'' Hanabi berjalan kearah pintu setelah menyahut ketukan pintu tadi.

Cklek

''Hai, Hina.. Eh ?!'' ucapan dua pemudi yang berdiri didepan pintu terhenti saat menyadari bahwa yang membuka pintu bukan teman sekelasnya, Hinata.

''Hanabi ?''

''Sakura-nee, Ino-nee. Ada apa malam-malam kalian kemari ?'' tanya Hanabi dengan wajah bingungnya.

''Ah, tidak. Hanya ingin mengerjakan tugas dari sekolah.'' Jawab Sakura seraya tersenyum.

''Tugas kelompok, ya ?'' tanya Hanabi lagi.

''Iya. Tadi ada tugas kelompok dari sekolah.'' Kali ini giliran Ino yang menjawab.

''Malam-malam begini baru ingin mengerjakan ?''

Sakura dan Ino hanya cengengesan mendengar perkataan Hanabi.

''Baiklah, lebih baik kalian masuk terlebih dahulu. Aku akan memanggil Hinata-nee.''

''Permisi..'' ucap Sakura dan Ino bersamaa seraya memasuki rumah keluarga Hyuuga.

''Hinata-nee ! Teman mu datang.'' Ucap Hanabi seraya mencari keberadaan Hinata.

''Iya ! Sebentar, Hanabi-chan, Nee-san mu sedang ada di kamar mandi.'' Bukan Hinata yang menjawab, melainkan Naruto yang berada didapur.

''Hinata-nee, sedang ada dikamar mandi.'' Ulang Hanabi kepada Sakura dan Ino.

Sakura dan Ino hanya mengangguk. Tak berapa lama, Naruto datang sambil membawa sebuah nampan yang diatasnya telah diletakkan teko yang bersisi teh hangat, serta lima buah gelas yang terbuat dari bambu. Sungguh kental sekali ke-tradisional-an tempat ini, tapi elegan.

''Maaf menunggu lama.'' Ucap Naruto setelah menaruh bawaannya dimeja.

''Silahkan diminum, Nee-san.'' Kata Hanabi yang sudah duduk sofa.

Sakura dan Ino hanya mengangguk sebelum melakukan yang Hanabi katakan.

''Oh ya, Naruto-kun. Tadi siang aku sudah mencari bahan di internet, tapi ada yang membuat ku kurang paham.'' Kata Ino membuka pembicaraan terlebih dahulu.

''Apa itu ?'' tanya Naruto memfokuskan pandangannua kearah Ino yang merogoh sesuatu dikantong celanya.

''Sebentar...'' Ino mengeluarkan smartphonenya sebelum menekan-nekan layar benda itu.

''Ini...'' kata Ino seraya menyerahkan HP nya kepada Naruto.

''Hmm...'' gumam Naruto menatap beberapa kata yang tertera dilayar kaca HP Ino.

''Jadi begitu...'' Naruto manggut-manggut menandakan ia sudah mulai paham dengan kalimat yang ia baca.

''Kau mengerti Naruto ?'' tanya Sakura ikut dalam pembicaraan.

''He'em... Itu sangat mudah.'' Ucap Naruto menyerahkan kembali benda persegi panjang itu kepada pemiliknya.

''Memangnya tugas apa sih, Nii-chan ?'' tanya Hanabi dengan wajah bingungnya.

Saat Naruto akan menjawab pertanyaan Hanabi, seseorang memotong perkataannya.

''Ahh ! Kalian sudah datang.'' Sebuah suara merdu nan lembut memasuki indra pendengaran mereka berempat.

''Hai, Hinata.'' Sapa Ino dan Sakura bersamaan.

''Sudah selesai ?'' tanya Naruto yang hanya dijawab anggukan oleh Hinata.

''Sekarang giliranku kekamar mandi. Sudah mau keluar, nih..'' Naruto pergi kekamar mandi dengan terburu-buru karena sebenarnya dari tadi Naruto sudah menahan panggilan alamnya.

''Hinata, kita kerjakan kapan tugasnya.'' Tanya Sakura menatap Hinata yang sudah duduk disofa.

''Ba-bagaimana jika sekarang ?'' saran Hinata dijawab dengan gelengan kepala dari Sakura.

''Kita tunggu Naruto saja.'' Kata Sakura.

Sedangkan Ino hanya diam menikmati teh buatan Naruto.

''Ino ?''

''Hmm?'' gumam Ino melirik Sakura seraya tak henti-henti meminum teh yang menurutnya nikmat.

''Kau dari tadi minum terus. Apa kau tidak kenyang air, hem ? Dasar gemuk.''

Prrooffftt

Mendengar perkataan Sakura, Ino dengan reflek menyemburkan air yang hampir masuk ketenggorokan. Dan sialnya, air semburan Ino dengan telak mengenai mengenai wajah Hanabi yang duduk disofa depan Ino.

''Aahhrrgg ! Ino-nee !'' protes Hanabi.

Hinata dan Sakura hanya dapat menahan tawa melihat kejadian didepannya.

''Ah! Maaf, Hanabi-chan, aku tak sengaja.'' ucap Ino seraya membantu membersihkan wajah Hanabi.

Dan seterusnya hanya diisi dengan selingan candaan dan sedikit pertengkaran oleh Ino dan Sakura.

''Maaf menunggu lama.''

Hinata, Ino, Sakura dan Hanabi memusatkan pandangan mereka keasal suara, dan menemukan Naruto yang berjalan kearah mereka.

''Kau lama sekali, Naruto-kun.'' Protes Ino yang disetujui oleh yang lainnya, kecuali Naruto, Hanabi, dan Hinata.

''Ahahaha... Gomen, tadi susah sekali keluar.'' Ucap Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

''Baiklah, karena Naruto-san sudah dtang, lebih baik kita kerjakan sekarang.'' Kata Sakura.

''Hem. Itu benar. Ba-baiklah, lebih baik kita mengerjakan dikamarku saja.'' Usul Hinata.

''Ayo..'' seru Ino berjalan mendahului yang lain, kemudian Naruto, Hinata, Sakura, dan Hanabi mengekor dibelakang.

Yahh... Sebenernya memang Hanabi tidak ikut campur dalam tugas kakaknya, tapi daripada sendirian diruang tamu, lebih baik ia ikut kekamar Hinata. Bahkan Hiashi masih belum pulang dari kantornya.

Baru beberapa langkah, ponsel Naruto berdering, menandakan bahwa ada seseorang yang menelponnya. Ponsel yang beberapa bulan lalu ia beli.

Mengeluarkan ponsel dari sakunya, menatap nama yang tertera dilayar ponsel itu.

Jiraiya Jiji no Ero

Itulah nama yang tertera dilayar ponsel tersebut.

''Moshi-moshi...'' salam Naruto setelah menekan tombol jawab.

''Moshi-moshi mo, Naruto-chan.'' Balas Jiraiya melalui telpone.

''Ada apa...''

''Naruto.'' Potong Jairaya cepat, menandakan ada keseriusan yang ingin dibicarakan.

''Ha'i''

''Naruto, datanglah ke perusahaan Namikaze Corp secepatnya.'' Kata Jiraiya dengan serius.

''Tapi ada apa, Ji...''

''Cepatlah..!''

Tuut tuut tuut

Jiraiya segera mematikan panggilannya setelah memotong perkataa Naruto.

''Ada apa, Naru-nii ?'' tanya Hanabi setelah Naruto memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana.

''Tidak ada apa-apa. Oh ya, Hanabi-chan, boleh aku pinjam sepedamu ?'' tanya Naruto.

''Hem.'' angguk Hanabi.

Tapi Naruto berpikir lagi, jika ia naik sepeda akan lama.

''Ee... Hanabi-chan, tidak jadi, deh. Aku naik taxi saja.''

''Ano, untuk tugas sekolah, kalian jawab dahulu yang kalian tahu. Sisanya biar aku yang menyelesaikannya.''kata Naruto dibalas angguka dari yang lain, kecuali Hanabi.

''Baiklah, minna. Aku pergi dulu.'' Naruto dengan segera melenggang pergi.

.

.

20 : 22

Sebuah perusahan megah berdiri kokoh dengan beberapa mobil terparkir dengan apik dibawah sinar rembulan. Terdapat 3 buah pos penjagaan dan beberapa orang yang menjaga gerbang.

Didepan perusahan tersebut, sebuah taxi berhenti tepat didepan gerbang. Keluarlah seorang pemuda dari bangku penumpang sebelum taxi tadi berjalan meninggalkan si pemuda.

''Hahh... Sudah lama aku tidak datang kesini.'' gumam pemuda tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Naruto.

Tapi pandangannya berali kepada seseorang berpakaian seperti security berjalan kearahnya.

''Permisi, apa anda Uzumaki Naruto ?'' tanya security tadi setelah berhenti didepan Naruto.

''Ha'i. Saya Naruto.''

''Baiklah, Ojou-sama. Jiraiya-sama telah menungu anda. Mari saya antar.''

''Tidak perlu, Oyaji-san. Aku bisa sendiri.'' Kata Naruto serya melenggang pergi memasuki gerbang kantor Namikaze Corp.

.

.

Tok tok tok

''Masuk.'' Terdengar sebuah suara dari dalam setelah seorang pemuda mengetuk pintu disalah satu ruangan.

Cklek

Masuklah seorang pemuda pirang, berjalan menuju kearah pria paruhbaya berambut putih yang duduk dibalik meja yang penuh dengan beberapa berkas dan beberapa kertas. Pemuda pirang tadi berdiri didepan meja.

''Ada ap...''

''Duduk.'' Perintah pria paruhbaya itu dengan tegas. Matanya menatap lekat pemuda pirang yang menuruti perintahnya.

Setelah pemuda tersebut duduk dengan nyaman, ia berniat mengeluarkan suara, namun lagi-lagi perkataannya sudah dipotong oleh pria didepannya.

''Naruto. Apa kau tau alasan aku memanggilmu kesini ?''

Pemuda yang sudah diketahui bernama Naruto hanya menggeleng menandakan ia tidak tau alasan dirinya diperintah menghadap kakek angkatnya ini.

''Hahh... Baiklah. Naruto... Kau sudah tau bahwa aku sudah tua. Sudah saatnya aku menghabiskan waktu tuaku untuk sesuatu yang damai...'' kata Jiraiya menggantung.

Naruto hanya mendengarkan apa yang dikatakan Jiraiya.

''... Mungkin sudah saatnya kau tampil di perusahaan ini...''

''Tunggu dulu !'' potong Naruto cepat. Tak peduli itu sopan atau tidak. ''Jadi Jiji memanggilku kesini karena Jiji ingin aku jadi pemimpin perusahaan ini ?'' lanjut Naruto.

Jiraiya diam sesaat sebelum memejamkan matanya. Menghembuskan nafas berat.

''Iya.'' Jawab Jiraiya sukses membuat Naruto sedikit menggigit bibir bawahnya.

''Tapi kenapa mendadak seperti ini, Jiji ? Bukan kah kita bisa membicarakan ini terle...''

''Dengar dulu, Naruto !'' lagi-lagi perkataan Naruto dengan tegas terpotong oleh Jiraiya.

''Aku tau kau masihlah seorang siswa, namun tanggung jawabmu sebagai penerus Namikaze Corp sangatlah penting, Naruto. Dan kau sudah mapan untuk masalah ini. Kau sudah mampu untuk meneruskan perusahaan ini.''

Naruto diam mendengarkan. Tak ada niat untuk penentang atau menanggapi.

''Ketahuilah, Naruto... Tou-chan mu berharap kaulah yang meneruskan perusahaannya. Namun waktu itu kau masih kecil. Kau masih belum mengerti masalah politik. Maka akulah yang meruskan sampai kau sudah siap meneruskan Namikaze Corp.'' Setelah itu Jiraiya diam menatap Naruto yang menampakkan raut wajah berpikir keras.

''Hahh~... Wakatta. Aku akan meneruskan perusahaan ini.'' Kata Naruto setelah sekian lama terdiam.

''Hem... Terima kasih karena kau sudah memahaminya. Malam ini kau akan menginap disini. Aku akan mengajarimu tata cara menjadi CEO yang efisien.''

''Tidak bisa, Jiji. Aku ada tugas sekolah. Nanti larut malam aku akan pulang.'' Kata Naruto dibalas anggukan oleh Jiraiya.

''Baiklah. Untuk masalah sekolah, kau lanjutkan saja pendidikanmu. Setelah pulang sekolah kau bisa datang kesini.'' Kata Jiraiya menasihati.''Dan malam ini aku akan mengajarimu beberapa tahapan menjadi CEO yang pandai dan cerdik. Serta bermain dengan jujur.'' Lanjut Jiraiya.

Dalam malam ini adalah malam panjang untuk Naruto. Lembur dihari pertama ia latihan. Tapi sebelum itu, ia menghubungi telephone rumah Hyuuga untuk mengabari bahwa ia akan pulang malam. Ia tak ingin membuat Hanabi dan Hinata khawatir.

.

.

Sudah lebih seminggu Naruto menjalani tugasnya sebagai pemimpin Namikaze Corp, tapi masih dalam bimbingan Jiraiya.

Selama Naruto sibuk dengan kerja barunya,beberapa orang mulai resah dengan hal ini. Tapi bukan resah karena meragukan skil dari pemuda tersebut, melainkan resah karena orang-orang itu jarang menghabiskan waktu dengan Naruto. Orang-orang itu adalah Hanabi, Hinata, dan Ino.

Yahh.. Semenjak Naruto jadi CEO, ia selalu menghabiskan waktu dikantor. Seperti saat ini. Duduk diam diatas kursi, mengamati beberapa kata yang tercetak disebuah kertas yang ia pegang.

''Ano... Jiji, ini maksudnya apa, ya ?'' tanya Naruto kepada Jiraiya yang duduk disampingnya.

''Itu penawaran kerjasama dengan Sabaku Corp.'' Kata Jiraiya. Tak berapa lama kemudian, ponsel Jiraiya berdering, mengharuskan si empu mengangkat panggilan tersebut.

''Ya, halo...''

''Ah.. Begitu.''

''Baiklah, baiklah. Aku akan segera kesana.''

Jiraiya mengakhiri panggilannya, kemudian menatap Naruto yang pandangan masih terfokus kepada beberapa kertas dan sesekali menuliskan sesuatu dikertas itu.

''Naruto, aku ada urusan mendadak. Kau selesaikan dahulu beberapa forum yang kau pahami, sisanya biarkan aku yang menyelesaikannya.'' Ucap jiraiya dibalas anggukan dari Naruto.

Setelah Jiraiya pergi, hanya ada Naruto sendiri didalam. Tapi tak berapa lama, telephone khusus kantor berdering.

''Halo, dengan Uzumaki Naruto disini. Ada yang bisa saya bantu ?'' tanya Naruto sopan.

''Permisi, Uzumaki-sama. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.'' Ucap seseorang dibalik telepon. Didengar dari suaranya, sudah dipastikan sipenelepon seorang wanita. Dan ia merupakan seorang manager yang bertugas dibagian lantai bawah.

''Siapa ?'' tanya Naruto heran. Pasalnya ia sama sekali tidak ada janji ataupun meeting dengan seseorang.

''Dia seorang gadis berumur sekitar... E ehh ! Tunggu, Nona !''

''HALO, NARUTO-NII !''

Dengan refleks Naruto menjauhkan telinganya mendengar perkataan (lebih tepatnya teriakan) dari balik telpon.

''A-ahh...'' lenguh Naruto mengorek telinganya.

''Eee... Hanabi-chan kah ?'' tanya Naruto memastikan. Pasalnya dari suaranya sudah diketahui bahwa dia Hanabi yang dengan seenaknya dengan paksa mengambil telephone dari sang manager.

''Ha'i. Ini aku, Nii-chan.'' Balas Hanabi dari seberang sana.

''Ohh... Apa ada sesuatu yang penting, Hanabi-chan ?''' tanya Naruto memastikan tidak ada masalah yang terjadi.

''Hehehe... Tidak ada, hanya... Tunggu dulu, Nee-san.'' Ucap Hanabi entah kepada siapa.

''Kembalikan Nona, nanti Uzumaki-sama bisa marah.'' samar-samar Naruto mendengar managernya berbicara kepada Hanabi. Naruto sudah menebak pasti mereka sedang berebut telephone.

''Tunggu sebentar, Nee-san.''

Naruto yang sepertinya bosan dengan suara kegaduhan yang terjadi, berbicara melalui telephone nya.

''Hanabi-chan... Halo.''

''Ahh... Iya, Nii-chan... Tunggu sebentar, Nee-san ! Kau tidak sabaran. Ya, Naruto-nii, ada apa.'' Tanya Hanabi.

Sepertinya kegaduhan tadi masih belum reda.

''Hanabi, kau mintalah Nee-san yang didepanmu untuk mengantarmu kesini.'' Kata Naruto tak ingin memperpanjang keributan.

''Ha'i, Naruto-nii.'' Terdengar suara Hanabi yang gembira dari balik telepon.

Tut tut tut...

Hanabi telah mematikan panggilan. Dan sekarang Naruto bisa mengerjakan beberapa data dengan nyaman. Namun suasana ini tidak bertahan lama ketika terdengar suara gemerucuk berasal dari perut Naruto.

''Ugh... Lapar. Hahh... Apa menjadi pekerja kantoran harus seperti ini ?'' tanya Naruto lesu.

''Andai ada seorang malaikat kawaii datang memberikan makanan. Dengan begitu aku akan bersyukur dan akan menikahinya.'' Ucap Naruto mulai menghayal.

''Hahaha... Sepertinya aku sudah mulai gila karena rasa lapar ini. Manamungkin ada seorang malaikat kawaii yang membawakanku makan. Aku sudah mulai mengha...''

Cklek

''Halo, Nii-chan !'' seorang gadis berambut coklat masuk kedalam ruangan Naruto. Siapa lagi kalau bukan Hyuuga Hanabi, dengan sebuah kantong plastik ditangan kanannya.

''Ahh ! Halo, Hanabi-chan.'' Sapa balik Naruto masih dengan nada lesu.

''Mou... Naru-nii terlihat lesu. Apa Nii-chan belum makan ?'' tanya Hanabi dibalas anggukan pelan oleh Naruto. Tebakan Hanabi tidak salah.

''Syukurlah. Berarti aku tidak sia-sia membuatkan makanan untuk Nii-chan.'' Hanabi meletakkan kantong plastik tadi dimeja kerja Naruto.

''Kau... Membuatkan ku bekal?'' tanya Naruto dengan mata berkaca-kaca karena perutnya bakal terisi.

''Iya.''

Saa ini dimata Naruto, Hanabi adalah seorang malaikat yang ia harapkan dengan datang membawa makanan. Ekspetasi Naruto, Hanabi memiliki sayap malaikat dibelakang tubuhnya. Serta memakai pakaian minim berwarna putuh. Tunggu dulu... Minim ?

''Nai !'' Naruto dengan refleks berdiri dari duduknya kala membayangkan yang tidak-tidak tentang Hanabi.

''Kenapa, Nii-chan ?'' tanya Hanabi dengan wajah bingung kala Naruto terhenyak dari duduknya.

''Ti-tidak apa-apa...'' balas Naruto cepat. Kemudian duduk kembali dengan wajah sedikit memerah, namun samar.

''Ne, lebih baik Nii-chan makan dahulu.'' Kata Hanabi berjalan kerah Naruto duduk, lebih tepatnya sebuah kursi yang dibuat duduk oleh Jiraiya tadi. Kemudian mendudukkan dikursi tersebut.

Naruto yang sudah tidak tahan dengan rasa laparnya saat ini, melakukan apa yang Hanabi katakan.

''Nii-chan, apa kau betah kerja seperti ini ?'' tanya Hanabi kepada Naruto yang sedang mengunya makanan yang dibuat Hanabi.

''Betah atau tidak, aku harus meneruskan perusahaan ini, Hanabi-chan. Bagaimana pun juga ini adalah perusahaan milik Tou-chan ku, jadi aku sebagai anaknya harus meneruskannya.'' Jawab Naruto setelah menelan makanan yang ada dimulutnya.

''Ohh...'' hanya sebuah kata 'Ohh' yang bisa Hanabi katakan, sebelum keheningan menyelimuti mereka.

''Kau tahu, Nii-chan... Semenjak kau sibuk dengan pekerjaanmu, kau jarang menghabiskan waktu denganku.'' Kata Hanabi menunduk sedih. Sebenarnya bukan hanya Hanabi yang merasakan demikian.

''Yahh... Mau bagaimana lagi, Hanabi-chan. Ini sudah tugasku.'' Kata Naruto menaruh bekal yang tinggal setengah dimeja kerjanya.

''Apa Nii-chan ada waktu luang lain kali ? Kalau ada kita bisa menghabiskan waktu dihari itu.'' Harap Hanabi dengan sungguh-sungguh.

''Entahlah. Tapi akan aku usahakan.'' Ucap Naruto sembari tersenyum.

Mendengar hal itu, Hanabi juga tersenyum senang.

''Emm... Nii-chan, lanjutkan makannya, masih ada itu sedikit. Apa mau Hana suapi ?'' tanya Hanabi merubah suasana yang semula sedikit kurang nyaman, menjadi cair kembali.

''Boleh juga. Aaa'...''balas Naruto sebelum membuka mulutnya lebar-lebar.

''Ihh... Mulut Nii-chan bau.'' Hanabi menutup hidungnya seraya sedikit menjauh dari Naruto.

''Eehh... Enggak tau. Mulutku wangi. Tadi aku sikat gigi kok.'' Kata Naruto dengan wajah masam.

''Hahah... Aku hanya bercanda, Nii-chan. Buka lagi mulutnya.'' Ucap Hanabi menyodorkan sesendok nasi dan beberapa lauk kemulut Naruto yang menerima dengan senang hati.

Dan siang ini hanya diisi dengan kesenangan dan kesengsaraan bagi Naruto. Baginya bekerja diperkantoran adalah hal yang sangat membosankan. Jika teman kelasnya berada dalam posisi Naruto, maka ia akan terus mengatakan ''Mendokusai''. Siapa lagi kalau bukan Shikamaru Nara yang malasnya kebangetan.

Mungkin ini awal Naruto menuju kesulitan... Mungkin. Yah, mungkin.

.

.

TBC

.

.

Chapter depan...

''Cepat, Nii-chan ! Aku sudah tidak tahan.''

''Ah ! Iya, tunggu sentar.''

...

''Akh ! Sa-sakit, Onii-chan...''

''Tahan, Hanabi-chan. Sebentar lagi keluar kok.''

''Ughh !''

...

Brakk

''Ka-kalian berdua?

Apakah yang Hanabi dan Naruto lakukan ? Apa mereka akan terjerat kepada masalah ? Nantikan kelanjutannya 1 abad mendatang..

Jangan lupa Review, Favorite, and Follow