II
"Taehyung, akhirnya kau pulang juga!", Hoseok membuka pintu markas dengan sentakan cepat, wajahnya sangat pucat dan cemas. Taehyung mengernyit, ia mendengar rintihan kecil yang berasal dari ruang tengah, disusul dengan suara gemetar Namjoon yang menggigil dan demam.
"Apa yang terjadi?", Taehyung terkesiap ketika melihat koleganya, Kim Namjoon, yang terbaring dengan Hoseok berusaha menghentikan pendarahan di perutnya. "Apa yang terjadi kepadanya?", ulang Taehyung lebih tegas, kemarahan terbersit dalam suaranya yang berat.
"D-Dia…dia bertemu seseorang dan‒", Hoseok tidak tahu harus memulai darimana. Ia mencoba menenangkan Taehyung yang justru menepis tangannya kasar. Taehyung menghampiri Namjoon yang merintih kesakitan, ia meremas jemari pria itu.
"Siapa yang melukaimu, Namjoon-Hyung?".
Namjoon berusaha menahan kesadarannya, sedangkan Hoseok bersusah payah menahan air mata ketika pengelihatannya hanya dipenuhi oleh warna darah Namjoon yang terus mengalir.
"A-Aku…bertemu seseorang…aku melihatnya tengah menyiksa seorang Alpha‒", Namjoon bersuara serak, berusaha menatap Taehyung yang meremas jemarinya semakin erat. "A-Aku tahu itu tugasmu, Tae", pria itu tertawa rendah, meski bersusah payah menahan rasa sakit yang membakar perutnya.
"Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa tinggal diam, kan?".
"Dan ia melukaimu?", Taehyung berbisik dingin. "Siapa?".
"…Seorang Beta", Namjoon terbatuk menyakitkan, mengingat citra seorang pria yang nyaris merampas nyawa Alpha tak berdaya di sudut kawasan. "Aku tidak sempat melihat wajahnya…semuanya tertutup…", Namjoon menggertakkan gigi ketika Hoseok membalut luka tusuknya berhati hati.
"Dia berbahaya, Tae", Namjoon menarik napas pendek.
"Dia sangat…amat berbahaya".[]
Jungkook berpaling ketika ia mendengar derit pintu kamarnya yang terbuka. Jungkook tersenyum lebar melihat seorang pria yang berdiri di ujung kamar. Pria itu melangkah mendekat, melepas masker hitam yang menutupi sebagian wajah pucatnya.
Rambutnya yang seputih salju terjatuh ketika ia menurunkan tudung berwarna hitam yang memanjang sampai ke lutut.
"Yoongi-hyung, kau sudah pulang!", Jungkook menarik Yoongi ke dalam pelukan erat, tak ingin melepaskannya barang sedetik pun.
Yoongi menatap lelaki yang balas menatapnya dengan mata berseri seri. "Ya", ia tersenyum kecil, mengusap puncak kepala Jungkook yang kembali memeluknya hangat.
"Aku sudah pulang", Yoongi menyeringai, "Jungkook", jemari bernoda darah itu pun kembali menyentuhnya penuh posesi.[]
"Taehyung, tunggu!", Taehyung menyentak lengan Hoseok ketika pria itu hendak menahannya. "Tae, apa apaan, sih?!", Hoseok meremas jaket Taehyung lebih erat, pria itu sudah termakan emosi dan keinginan untuk menyakiti Beta yang telah melukai koleganya.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja dan memburunya, mengerti?!".
Taehyung menggeram penuh kebencian, "Ya aku bisa, Hyung, dan percayalah, aku akan menghabisinya".
"Taehyung! YA!", Hoseok mengepalkan kedua tangan ketika Taehyung beranjak pergi tanpa mendengarkan satu kata pun yang Hoseok ucapkan.
"Hei, bocah!", Hoseok menghela napas kasar sembari mengacak rambutnya yang berwarna hitam.
Bagaimana kalau Taehyung terluka? Bagaimana kalau ia‒
"Ah, benar benar", Hoseok mengikuti Taehyung dalam satu gerakan. Taehyung mengernyit ketika ia mendengar langkah kaki yang mengikutinya seiring dengan Hoseok yang bernapas panik.
"Ada apa lagi, sih, Hyung?", Taehyung bertanya kepada Hoseok yang terlihat frustasi.
"Apa?", balas Hoseok yang kesal dengan tindakan tanpa berpikir Taehyung. "Aku harus ikut dan memastikan kau tak terluka, kan?", Taehyung mendengus geli, meskipun ia sedikit khawatir dengan wajah Hoseok yang menegang dan pucat.
"Apa kau tak mengerti juga, Tae?", Hoseok berusaha mengabaikan jantungnya yang berdebaran cemas.
"Aku itu sangat peduli kepadamu".[]
Min Yoongi berjalan dengan kepala sedikit tertunduk, bayangan hitam menutupi wajahnya yang bertudung, diikuti oleh Jungkook yang melangkah kecil tanpa banyak bertanya. Sebenarnya, Jungkook tak tahu mereka hendak kemana ketika malam sudah sangat larut. Namun, tentu saja ia tetap mengikuti Yoongi kemana pun ia pergi.
"Tunggu", Yoongi menahan lengan Jungkook ketika ia mendengar langkah kaki yang mendekat dari ujung terowongan. Ia mengernyit ketika melihat dua pria yang berjalan terburu buru menyongsong mereka.
"Hyung?", Jungkook meremas tangan Yoongi ketika ia melihat pemimpin Alpha yang ia temui beberapa waktu lalu.
Ia diikuti oleh seorang lelaki lain yang tampak sangat cemas. Jungkook meremas tangan Yoongi lebih erat ketika Taehyung berdiri di depan Hoseok dengan wajah garang.
"Oh, kau lagi ternyata?", Taehyung mendengus ketika matanya melayang kepada Jungkook yang sedikit gemetaran. "Dan kau orang yang sudah melukai Namjoon?", Taehyung mendelik kepada Yoongi dan menarik keluar sebuah pisau. "Iya?!".
"Tae‒", Hoseok mengernyit ketika koleganya berjalan mendekat, "Tae, tunggu‒", Hoseok mengamati Jungkook yang gemetaran kecil di belakang Yoongi. Ada sesuatu yang salah dengan tingkah lakunya. Seperti seseorang yang sangat ketakutan dihadapan seorang Alpha sejati.
B-Bagaimana kalau‒
Hoseok menegang ketika Jungkook menarik Yoongi mundur, rasa takut bercampur dengan kecemasan besar akan keselamatan Beta yang ia peluk seerat mungkin. Ia sangat ketakutan, seperti sebuah teror yang diberikan seorang Alpha kepada hierarki terendah.
"Tae, changkkaman! Kurasa dia adalah‒", Hoseok berusaha menyeret jaket Taehyung ketika sebuah pemikiran mengerikan terlintas dalam benaknya.
Seorang Omega…
Jungkook menjerit dan melindungi Yoongi ketika Taehyung mengayunkan bilah pisaunya tanpa keraguan sedikit pun. Hoseok membeku ketika darah merah segar memuncrat dari tangan Jungkook yang merintih kesakitan.
"Oh, kau juga mau, hah?!", Taehyung menggeram penuh kemarahan. "Minggir atau kau yang mati pertama".
Hoseok dengan segera menarik tangan Taehyung, meskipun Jungkook memelotot penuh kebencian kearah mereka, menyembunyikan rasa takutnya dengan geraman keras.
"Tae, dia adalah seorang Omega!", Hoseok berbisik dengan desisan panik.
"Apa?", Taehyung menoleh terkejut.
Hoseok kembali menatap mereka, ia mengertakkan gigi ketika menangkap seringai kecil di bibir Min Yoongi.
"Kenapa berhenti? Kau ingin menyakitiku, kan?", dengusan Yoongi berubah menjadi tawa dingin.
"Lakukanlah, bunuh aku", Hoseok mengepalkan tangan ketika ia menyadari kedua tangan Yoongi yang selalu berada di sisi Jungkook, dibalas oleh pelukan erat Jungkook yang tak pernah bisa lepas darinya.
Kalau Taehyung menyerang lagi, tidak ada keraguan bahwa Omega itu akan mengorbankan nyawa demi Beta-nya.
"Taehyung, ayo", Hoseok berusaha menarik koleganya yang mengernyit bingung.
"Maksudmu apa, Hyung?", Taehyung mendesis keheranan. "Kukira kita akan menghabisinya?! Ia telah melukai Namjoon!".
"Tidak bisa!", Hoseok bernapas kasar, memelotot kearah Yoongi yang menyeringai lebih lebar. "Omega itu tidak akan membiarkanmu menyentuh Beta-nya", Taehyung tersentak ketika Hoseok menariknya penuh paksaan.
Hoseok mencoba berbicara kepada Taehyung yang hanya diam saja selama perjalanan. Matanya berkilat kilat benci, seperti ia tak menginginkan hal lain selain membunuh Sang Beta.[]
"Kau yakin, Hyung?".
"Sangat yakin".
Taehyung sedikit terkejut ketika Hoseok menjawab dengan suara tegas. Mereka telah berkumpul di ruang tengah markas, Namjoon tertidur pulas di pundak Hoseok, luka tusuknya sudah diperban dengan teliti.
"Pria itu…seorang Omega?".
"Benar. Apa sih yang bocah itu lakukan?", Hoseok mengusap wajahnya dalam kebingungan ketika teringat Jungkook. Tak diragukan lagi, Min Yoongi tahu bahwa Taehyung adalah seorang Alpha pemimpin. Ia tahu Taehyung tidak akan bisa menyakiti seorang Omega.
Bagaimana mungkin? Taehyung bersumpah untuk melindungi mereka.
"Tapi kita harus menghentikan Beta itu, sebelum ia menyakiti orang lain!", Taehyung bernapas kasar, "Bagaimana sih cara memisahkan Omega itu darinya, for godsake?!".
"Tenanglah, Tae", Hoseok menghela napas, ia mengusap kepala Namjoon penuh kelembutan, setidaknya pria itu sudah bernapas dengan stabil, meski rasa sakit tak pernah meninggalkan wajahnya.
"Kita tidak boleh menyakiti seorang Omega. Itu sudah menjadi prinsip kita", Hoseok memperhatikan Taehyung yang menggeleng kesal. Ia bisa melupakan kode etik mereka kalau sudah berhadapan dengan para musuh.
"Jika kau ingin menyingkirkan Beta itu, kau harus membawa Omega-nya bersamamu".
"Apa?", Taehyung bangkit dari kursinya tidak terima. "Apa katamu?", ia mendengus marah.
"Omega itu tidak bisa lepas dari Beta-nya, kan? Itu berarti dia membutuhkan seorang Beta untuk alasan yang pasti…perlindungan, mungkin?", Hoseok berbalik menghadap Taehyung. "Kau tidak bisa membunuh Beta itu begitu saja lalu meninggalkan Omega-nya dalam rasa takut".
Taehyung menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, namun, Hoseok tidak akan membiarkan pemimpin mereka menyakiti kaum yang tak bersalah hanya untuk memberantas musuh.
"Kalau kau membunuh Beta itu, Omega-nya akan hancur", Hoseok menegaskan suaranya. "Tidak mustahil kalau ia bahkan mati karena depresi".
Taehyung menyidekapkan tangan dengan dengusan mengejek, "Wah, kau kira aku peduli, ya?".
"Kau harus!", Hoseok menyuara keras, membuat koleganya menunduk seketika. "Kau itu seorang Alpha. Tugasmu lah untuk melindungi kaum terlemah!".
"Lalu, apa yang kau sarankan, Hyung?".
Hoseok mendekati Taehyung yang menggelengkan kepalanya lagi.
Tidak, tidak bisa seperti ini. Mengapa semuanya menjadi kacau?!
"Taehyung, kalau kau menginginkan Beta itu untuk diadili, kau harus membawa Omega-nya denganmu".
"Tidak mau", Taehyung mendengus jengkel. "Itu tidak akan pernah terjadi".
Hoseok menghela napas sembari mengusap wajahnya lelah. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.[]
Yoongi terduduk di dalam kamarnya yang temaram, ia menatap Jungkook yang mengerang kecil sembari meremas luka tusuknya yang membara merah.
"Kemarilah", Yoongi menarik Jungkook dalam dekapannya, menutup tangannya yang terluka secara berhati hati. "Gwaenchana?".
"Aku baik baik saja, Hyung", Jungkook menjawab, meski Alpha sialan itu menusuknya sangat dalam dan meninggalkan rasa sakit yang berangsur angsur. Jungkook mendesah panjang, mengamati bola mata Yoongi yang hitam tak berujung.
"Apa kau baik baik saja, Hyung? Mengapa mereka mengincarmu?".
Yoongi menghela napas, ia mengusap puncak kepala Jungkook sembari mengamati wajahnya. "Banyak orang jahat diluar sana, Jungkook".
"Orang jahat?", Jungkook bertanya lagi. Apakah itu benar? Pemimpin Alpha itu justru melindunginya dari para pemerkosa beberapa waktu silam.
"Ya", Yoongi meremas helai rambut Jungkook yang terkesiap. "Mereka ingin membunuhku".
Jungkook membeku seketika, senyum dingin terukir pada bibir Yoongi ketika bola matanya berubah sekelam malam.
"M-Membunuhmu?".
"Ya, Jungkook. Apakah kau akan membiarkanku mati?".
Jungkook menggeram seiring dengan pikirannya yang berkecamuk. Tidak!", ia menarik Yoongi dalam pelukan yang sangat erat. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Hyung! Aku bersumpah!".
Yoongi kembali tersenyum, membalas pelukan Jungkook dengan kedua tangan dinginnya.
"That's a good boy".[]
