III
Tidak ada pengecualian bagi Kim Seokjin yang masih bekerja dengan jas putih dan peralatan laboratorium lengkap pada dini hari. Seokjin mengernyit ketika berulang kali melakukan eksperimen dan pemetaan otak serta tingkah lagu relawan yang dipaksa memiliki pheromone seorang Omega.
Seokjin mengabaikan jerit kesakitan dan permohonan dari pria yang meremas tubuhnya berulang kali, rasa sakit dan panas akibat hormon yang saling berlawanan dalam tubuhnya. Toh, dia yang menginginkan eksperimen ini, kan?
"Dokter Kim", Jimin menyuara kecil, menghampiri dokternya yang terfokus pada layar dihadapannya, memetakan tingkah laku subjek dengan perbandingan subjek sebelumnya. Relawan sebelumnya yang meninggal karena sebuah eksperimen.
"Dokter Kim, aku rasa dia sangat kesakitan. Tidakkah sebaiknya‒", Jimin bungkam seribu bahasa ketika Seokjin berpaling dengan mata berkilat tajam.
"Aku sudah sangat dekat, Jimin. Aku tidak bisa berhenti sekarang".
"Tapi‒", Jimin meremas papan nama dengan garis merah yang mencoret lurus, tanda bahwa subjek sudah tidak bisa digunakan, kata lain, tewas ditengah percobaan. Sudah ada tiga pria yang meninggal akibat eksperimen gila ini. Jimin ingin berhenti, menyadarkan dokternya bahwa mereka terlalu memaksakan sesuatu yang tidak mungkin.
"Tambahkan pheromones-nya", Seokjin berujar tanpa belas kasihan ketika relawan memohon kepada mereka untuk berhenti.
"T-Tapi‒!", Jimin membeku ditempat, tak kuasa menatap bola mata pria yang berlinangan air mata. Bagaimana dengan lelaki yang ia temui di kawasan Barat Busan? Mungkinkah…ia subjek yang selama ini Seokjin cari?
Namun, apa yang akan Seokjin lakukan kepadanya?
"Aku bilang tambahkan hormone-nya!", Seokjin menghardik keras, membuat Jimn tersentak dan dengan segera mengambil dosis pheromone Omega dengan jemari yang gemetar. "D-Dokter Kim‒", Jimin menggigit bibir ketika dokternya hendak menyuntik relawan yang kejang kejang di meja eksperimen.
"Apa?", Seokjin berpaling dingin.
"A-Aku‒", Jimin tidak mempunyai pilihan lain. Ia tak mungkin membiarkan dokternya merenggut nyawa seseorang lagi karena ambisi buta. "S-Sepertinya aku menemukan apa yang kau cari".
"…Apa katamu?".
Jimin menelan ludah, "S-Sepertinya…aku menemukan seorang Omega pria".[]
"Memangnya tidak ada cara lain, ya?", Taehyung kembali angkat bicara dan menyatakan ketidaksetujuannya dalam tugas mereka. Untuk apa mereka memberi belas kasihan kepada Omega yang jelas jelas berpihak kepada seorang bajingan yang telah melukai Namjoon?
Persetan dengan kode etik, mereka adalah musuh.
"Ya mau bagaimana lagi?", Hoseok mendesah panjang. "Kau harus mendapatkan Omega itu secepatnya, dan ingat…", Hoseok menatap tajam. "Jangan melukainya, jangan memaksanya melalui kekerasan".
Taehyung mendengus atau mencemooh ucapan Hoseok bahwa mau bagaimana pun seorang Omega adalah tanggung jawab mereka.
"Aku tetap tidak setuju, Hyung", ujar Taehyung
"Ya sudah, aku saja yang pergi, kau disini", Taehyung tampak makin tak terima dengan keputusan Hoseok. Dengan terpaksa, ia pun memakai kembali jaketnya dan mengencangkan bandana yang mengikat rambut karamel acak acakan pria itu.
"Jadi, kita harus mencari bocah Omega itu, nih?", tanya Taehyung setengah hati.
Hoseok mengangguk, mengusap kening berkeringat Namjoon sebelum mengikuti pemimpinnya.
"Ingat Taehyung, kita harus meyakinkannya untuk ikut. Jangan memaksanya".
"Oh, ya, ya", Taehyung tertawa merendahkan. "Pasti tidak dipasa kok", ia menyeringai lebar sembari mengingat wajah Jungkook yang sangat ketakutan.
"Omega itu tidak akan tersakiti".[]
Jungkook terduduk diam dalam sebuah bar, sesekali melirik ke belakang karena merasa tidak nyaman dengan suasana yang pengap dan berbau alkohol.
"Hyung?", Jungkook berusaha memanggil Yoongi yang menenggak habis bir keempatnya.
Ia ingin mengatakan bahwa tempat ini membuatnya gelisah dan merasa tidak aman, Jungkook harus berulang kali menoleh karena rasa takut dan waktu yang sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Alpha bajingan berkeliaran pada jam yang rawan seperti ini, mencari sasaran empuk untuk diperkosa atau mungkin…dihajar sampai mati.
Jungkook bergidik dan kembali memanggil Yoongi, "Hyung, aku mau pulang".
Yoongi membanting botol alkoholnya hingga terpecah, membuat Jungkook tersentak mundur dan menunduk dalam. "Tau tidak sih, aku sedang apa?", Jungkook menyesali semua perkataannya ketika Yoongi bangkit dan meremas kerah kemejanya.
"Kau mau pulang, hah?".
Jungkook kembali menggeleng, "Disini…tidak apa apa kok".
"Lalu, kenapa kau meminta?!", gertakan keras Yoongi membuat Jungkook merasa semakin takut Rasanya ia ingin berlari dan kembali mengunci dirinya di kamar, seperti malam ketika ia bertemu dengan dua pemerkosa sialan itu.
"M-Maaf, Hyung".
Jungkook terkesiap ketika Yoongi meremas wajahnya kasar, matanya menatap begitu dingin dan menusuk. "Kau tetap disini, sampai aku berkata sebaliknya, mengerti?".
"T-Tapi‒", Jungkook merinding mendengar gelak tawa para pria di meja seberang, ia merasakan banyak tatapan yang mengintainya, layaknya ia adalah sasaran yang bagus untuk dilukai.
"Hyung, aku mau pulang", Jungkook membenci suaranya yang terpecah, namun, rasa takut mengalahkan segala emosinya yang lain. Ia merintih takut ketika melihat seorang pria Alpha yang tersenyum penuh napsu ke arahnya.
"Hyung, aku ingin pulang!".
Jungkook menjerit ketika Yoongi menamparnya sangat keras hingga ia terbanting ke lantai. Kepalanya terasa begitu pusing dan tubuhnya lemas. Apakah Yoongi mengerahkan pheromones Beta nya agar Jungkook tidak bisa melawan?
Jangankan mempertahankan diri, untuk bangun saja kedua kaki Jungkook mati rasa.
Yoongi menatap setajam pisau, mendekati Jungkook yang memundur ketakutan.
"Apa kau tidak mendengarku, Jungkook? Kau boleh pergi ketika aku berkata demikian!", Yoongi tersentak ketika seseorang menahan tangannya yang nyaris menampar Jungkook.
Yoongi menoleh, ia menggeram penuh kebencian ketika tatapannya disambut oleh bola mata yang berkilat sangat tajam.
Pemimpin Alpha sialan…
"Wah, tertangkap basah, ya?", Taehyung menyeringai dingin sembari mendengus penuh ejekan kepada Jungkook yang masih merintih kesakitan di lantai. Ia meremas tangan Yoongi sekuat mungkin sebelum pria berwajah pucat itu menepis dengan kasar.
"Kau tidak apa apa?", Hoseok berlutut disamping Jungkook yang berusaha mengatur napas. Dada Jungkook serasa hendak meledak akibat pukulan kasar Yoongi dan kehadiran pemimpin Alpha yang seperti mencekiknya sampai mati.
"Kau tahu tidak, sih? Aku itu tidak menyakitimu hanya karena Omega konyol yang mengikutimu kemana pun", Taehyung tertawa pelan, "Tapi, kalau bahkan kau menyakiti Omega setiamu, yah…untuk apa aku menahan diri?".
Yoongi menggeram ketika pemimpin Alpha itu semakin mendekat kepadanya.
"Jungkook", Yoongi berujar sembari menatap tajam Omega-nya yang memaksakan diri untuk melawan pheromones superior disekitar mereka.
"Oh?", Taehyung kembali tertawa keras. "Apa iya sih, kau harus bergantung kepada Omega-mu agar aku memberi belas kasihan?", Taehyung memajukan dirinya kearah Yoongi yang menggeram semakin keras.
"Asal kau tahu, aku tidak masalah menyakiti kaum sepertinya".
"Hyung!", Jungkook berlari dan menghalangi Taehyung yang hendak menyerang Yoongi. Taehyung mendesis geram, "Menyingkir kau!", ia menendang perut Jungkook hingga terlempar menabrak meja. Hoseok membeku mendengar jerit kesakitan Jungkook dan koleganya yang tertawa tidak menyesal.
"Apa?", Taehyung mendengus dingin, "Kau kira aku tidak tega menyakiti Omega-mu, hah?".
Jungkook menggeram sembari meremas perutnya penuh rasa sakit.
"Taehyung, tahan dirimu!", Hoseok menarik jaket Taehyung yang menepis tangannya kasar.
"Tidak".
"Aku bilang tahan!".
Jungkook menggeram ketika Taehyung nyaris membanting tubuh Yoongi. Hoseok melebarkan bola mata melihat Omega itu menubruk Taehyung yang tertawa semakin keras.
"Tae, jangan‒!", Jungkook hendak mendaratkan pukulan ketika tubuhnya terbanting hingga tulangnya serasa diremukkan berulang kali. Hoseok tak bisa mendengar jeritan itu lebih lama lagi, ia tidak akan membiarkan Taehyung menyakiti seseorang yang tak mungkin bisa melawan balik.
"Hentikan!", Hoseok menghadang koleganya yang hendak mendekati Jungkook. Tatapan tajam Hoseok bergilasan dengan bola mata Taehyung yang sudah menggelap.
"Hobi-ya, bikyeo".
"Apa kau lupa semua yang kukatakan?! Kita tidak boleh menyakitinya!".
"Bagaimana kalau aku tidak peduli?".
Hoseok menggertakkan gigi, "Maka sudah kewajibanku untuk menghentikanmu!".
Taehyung terdiam beberapa lama, menatap wajah lembut Hoseok yang sudah mengeras.
Memang kewajibanmu yang terpenting, ya?
Taehyung mendengus geli sebelum tertawa mengejek, "Baiklah, terserah kau saja".
"Yoongi-hyung!", Jungkook kembali berlari kearah pria yang membeku di tempat. Ia berteriak dan memberontak kuat ketika Taehyung menarik lehernya kasar, "Jangan sentuh aku!", Jungkook menjerit dan mencakar, Taehyung mencengkeram kedua tangannya sekuat mungkin.
"Tidak‒", Yoongi menggeram ketika Taehyung meremas kedua pundak Jungkook dan memelototinya dengan tatapan dingin.
"Mau apa kau, hah?".
"Yoongi-hyung!", Jungkook berusaha melepaskan diri dari Taehyung yang menahannya hingga membekaskan lebam.
"Lepaskan aku!", Jungkook menjerit pecah ketika Taehyung membekap mulutnya. "Yoongi!".
Hoseok menguatkan diri, mengabaikan segala jeritan dan tangisan Jungkook yang berusaha kembali kepada Beta-nya. Taehyung membopong paksa pria yang meronta ronta seperti orang gila di pundak.
"Tae‒!", Hoseok mendesis ketika koleganya menyeret Jungkook sangat kasar.
"Wah, maaf, ya?", Taehyung tertawa melihat memar kebiruan disekujur tubuh Jungkook. Ia hanya mengangkat alis ketika Jungkook terisak penuh kemarahan. "Dia bandel, sih".
Taehyung terus menarik Jungkook secara paksa, sedangkan Hoseok berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan. Sesekali, pria itu menjambaki rambutnya frustasi.
Salah. Ini benar benar salah.
Taehyung melakukan semua hal yang telah dilarang bagi mereka.
Taehyung benar benar telah mengingkari sumpahnya sendiri.[]
