IV

"Sh…", Namjoon mengerang berat sambil memaksakan diri untuk duduk. Pria berambut ungu itu meremas kepalanya sesekali, terkejut ketika pandangannya mulai terfokus. Ia melihat seorang pria yang tak dikenalnya, terduduk sembari memeluk lutut di ujung ruangan, dan Namjoon mengerti ia sedang menahan tangis sekuat tenaga.

"Perlu diikat tidak, sih?".

"Aku serius!", Namjoon terkejut ketika suara Hoseok menggelegar seperti badai. Ia mulai menyadari kehadiran Taehyung yang tampak malas berdebat sembari mendengus mencemooh.

Ada apa ini?, Namjoon membatin sembari mendekati Hoseok yang merah padam.

"Aku kan sudah bilang, jangan menyakitinya! Jangan memaksanya apalagi melakukan kekerasan!", tidak pernah Namjoon melihat Hoseok sedemikian marah. Pria itu memelototi koleganya tajam. "Tapi dia justru terluka parah seperti itu?!".

"Maksudmu memar?", tanya Taehyung sedikit tertawa.

"Kau kira ini lucu, hah?! Apa sih bedanya kau dengan Alpha brengsek lain?".

Taehyung hanya mengedikkan bahu. "Ya maaf ya, Hobi-hyung. Aku sudah berusaha untuk membawanya, tapi terpaksa aku harus‒".

"Menculiknya?!", Hoseok bertanya keheranan. "Tidakkah ada cara lain?", ia bernapas tidak habis pikir. "Cara lain sama sekali?!".

"Kau lihat sendiri kan, Hyung?", Taehyung mendengus kesal. "Beta-nya sangat menyebalkan".

Namjoon mengernyit ketika Hoseok menggeram marah, tidak habis pikir dengan koleganya yang mengingkari sumpah dan bertindak semaunya sendiri.

"Kau tidak apa apa?", Namjoon mendekati lelaki asing yang masih menunduk di ujung ruangan. "Kenapa menangis?", Namjoon menyentuh pundak pria yang langsung berjengit takut. Namjoon terkesiap, menoleh kearah dua rekan kerjanya yang hanya bungkam.

"Dia siapa?".

Hoseok menghela napas panjang, melembutkan wajahnya sembari mendekati Jungkook yang masih tidak mau berbicara sama sekali. "Aku minta maaf ya kalau temanku sudah memaksamu…atau menyakitimu", lanjut Hoseok sembari memelototi Taehyung yang tidak ambil pusing.

"Namaku Jung Hoseok, itu Kim Namjoon, dan pemimpin kita Kim Taehyung", Hoseok berusaha mengulas senyum menenangkan. "Namamu siapa?".

Tidak ada jawaban lagi.

Hoseok berusaha mencari topik pembicaraan yang bisa menenangkan Omega dihadapannya, namun, Namjoon sudah mendekat sembari tersenyum dewasa, "Tidak usah takut dengan kami, biarkan saja kalau Taehyung menyakitimu, okay?", terkadang, Hoseok merasa Namjoon jauh lebih bijaksana dan pantas menjadi pemimpin.

Hanya karena Taehyung menyandang hierarki murni dan terkuat diantara mereka, ia yang dipilih memimpin teritori barat Busan.

Taehyung ingin membela diri, menjelaskan bahwa ia terpaksa menyakiti Jungkook, hanya sedikit memaksanya juga, kan? Meski ia sadar, ialah yang membekaskan semua memar dan lebam ditubuh Jungkook.

"Sudah, jangan menangis, ya? Taehyung tidak akan menyakitimu lagi, aku janji", Namjoon tersenyum hingga lesung pipitnya muncul.

"Ya kalo dia bikin onar sih, kubanting lagi", Hoseok mendesis ketika Taehyung bercanda tidak lucu, menyebabkan Jungkook kembali menundukkan kepalanya takut.

"Kau bisa tidak sih diam saja?!", sentak Hoseok yang dibalas dengan helaan napas Taehyung.

Namjoon mendudukkan dirinya di samping Jungkook, tidak berani menyentuh tubuhnya yang sudah gemetaran. "Kau lapar, tidak?", Namjoon tersenyum lega ketika Jungkook menengadahkan kepalanya, tak disangka, ia tidak menangis sama sekali, tapi wajahnya sudah sepucat kapur.

Jungkook hanya menggeleng.

"Jadi, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa bisa sampai disini?".

Jungkook meremas jemarinya berulang kali, "Y-Yoongi…".

"Apa?".

"Yoongi-hyung", Jungkook menggeram sekaligus terisak, "Y-Yoongi…".

"Sepertinya dia depresi", Taehyung mendecak tidak prihatin. "Pasti sebentar lagi mati".

Hoseok mendorong koleganya dengan kesabaran yang sudah habis, memelototi Taehyung yang justru merokok tidak peduli, "Dimana sih, tanggung jawabmu sebagai pemimpin?".

Taehyung mengangkat alisnya keheranan, "Memangnya aku harus apa, ya?".

"Setidaknya bawa dia ke kamarnya", Hoseok menghela napas lelah. "Sepertinya ia butuh istirahat yang panjang". Taehyung mendengus, terdiam beberapa lama sebelum mengangguk terpaksa.

Ia pun mendekati Jungkook malas, "Ayo, kutunjukkan kamarmu, Omega".

Jungkook pada akhirnya menengadahkan wajahnya yang pucat pasi. Taehyung sedikit merasa bersalah melihat raut Omega yang ketakutan dan bingung.

Apakah ini memang salah Taehyung? Apakah seharusnya ia membiarkan Jungkook bersama dengan Beta itu?

"Kau bisa istirahat disini", Taehyung membuka pintu kamar kosong dengan kasar, membiarkan pria yang lebih muda darinya melangkah masuk. "Kalau butuh sesuatu, bilang saja", Taehyung kembali berdeham. "Mengerti?".

Jungkook mendudukkan dirinya di ranjang perlahan lahan, matanya tak pernah lepas mengawasi Taehyung yang merokok di ujung pintu.

"…Bisakah kau tutup pintunya?", pinta Jungkook dengan suara yang sangat kecil.

"Terserah kau", Taehyung kembali mendengus, ia pun menutup pintu dalam satu gerakan sebelum berjalan pergi terburu buru.[]

Jungkook mengetukkan jemarinya pada seprai ranjang, menerawang kearah jendela yang dilatari langit gelap. Jam menunjukkan pukul empat pagi dan yang Jungkook lakukan hanya duduk diam dengan mata yang sudah merah dan berair.

Tentu saja ia tidak bisa tidur, bahkan ia masih tegang sepanjang waktu. Jungkook tak mengerti ia berada dimana atau siapa yang sudah membawanya secara paksa. Tentu saja Jungkook tahu Yoongi memiliki sangat banyak musuh, tapi tidak pernah ada yang memisahkan mereka.

Tidak sebelum ini…

Jungkook menarik napas panjang dan membuka kenop pintu tanpa suara. Ia melongokkan kepalanya ke kanan dan kiri, memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatnya keluar. Jungkook harus pergi dari sini secepatnya, ia harus menemukan Yoongi, barulah ia dapat merasa aman.

Ia hanya perlu menemukan pintu keluar tanpa menimbulkan banyak suara dan‒.

Jungkook menjerit ketika seseorang membantingnya ke dinding. Jungkook menarik napas pendek pendek, menggeleng dan memberontak ketika ia kembali bertatapan dengan bola mata tajam yang mengamatinya remeh.

"Oh, kau mau kabur?", Jungkook meronta ronta ketika cengkeraman Taehyung mengeras pada kedua pundaknya.

"Menyingkir!", Jungkook menendang sejadi jadinya, Taehyung hanya mendengus malas dan membanting tubuh Jungkook jauh lebih keras lagi.

Jungkook tersentak dengan rasa sakit, tulangnya serasa diremukkan menjadi patahan patahan kecil, ia bahkan bersumpah dunianya terjungkir balik.

"Apa? Kau mau lagi?", Jungkook melebarkan bola matanya ketika Alpha gila itu kembali menghantamnya ke dinding. "Iya?!", bantingan lagi dan Jungkook pun ambruk ke lantai.

"Apa apaan?!", Namjoon membeku di ujung lorong, ia mendengar jeritan dan hantaman berulang kali. Pria itu terkejut bukan main menemukan koleganya dengan Omega yang sudah pingsan di lantai.

"Kau apakan dia, hah?!", Namjoon teburu buru menghampiri Jungkook, memeriksa napasnya yang pendek pendek. "Apa kau tidak waras?!", Namjoon memelototi Taehyung. "Kau bisa membunuhnya!".

"Hei, ada apa ini?", Hoseok datang dengan raut mengantuk, terkesiap ketika melihat Jungkook yang sudah membiru di lantai.

"D-Dia‒?!".

"Masih hidup", ujar Namjoon panik, ia dan Hoseok langsung menopang kepala Jungkook, berusaha berbicara kepada pria yang memejamkan mata dengan napas tak beraturan.

"Asal kau tahu ya, Hyung, aku bahkan tidak menggunakan tenaga loh?", ujar Taehyung sedikit mengejek.

Namjoon yang sudah tidak bisa menghadapi koleganya pun hanya menutup wajahnya frustasi. "Bagaimana kalau kau membunuhnya?!", Namjoon mendesis ketika Taehyung hendak tertawa. "Aku tak peduli jika kau hanya main main! Baginya rasanya sudah sangat sakit!".

Taehyung pun memutuskan untuk tidak berbicara lagi, enggan untuk meminta maaf.

"Hoseok, bisakah kau ambilkan air putih untuknya?", ujar Namjoon gusar. Hoseok langsung mengangguk dan beranjak ke dapur. Gawat kalau mereka justru menewaskan seorang Omega, parahnya lagi karena pemimpin yang tidak bisa mengendalikan diri.

"Aku yang akan menjaganya", Namjoon memelototi Taehyung. "Kau, pergi".

"YA, Hyung", Taehyung berusaha mendekati Namjoon, ia sama sekali tidak bermaksud membuat situasi menjadi seburuk ini. Ia bahkan tidak berniat menyakiti 'Omega-yang-harus-mereka-lindungi' itu.

Taehyung berusaha mengelak ketika Namjoon kembali meneriakkinya marah, meskipun Taehyung sadar bahwa ia sedikit bersalah.

"Hei, dia mulai sadar", potong Hoseok yang sudah kembali dari dapur dengan segelas air hangat. Mereka langsung mendekati Jungkook.

Pria itu mengerang kecil, bernapas kesusahan sebelum membuka kedua matanya.

"Apa kau baik baik saja?", Namjoon memberanikan diri untuk memajukan tubuhnya kearah Jungkook, berusaha mengatakan kepadanya bahwa ia bersedia melindungi Jungkook dengan alasan apa pun.

Jungkook balas menatap mata Namjoon yang teduh.

"Aku berjanji akan melindungimu, okay? Dari siapa pun, aku tidak peduli", Namjoon mengabaikan dengusan Taehyung dibelakangnya. "Aku bersumpah", Namjoon menatap Jungkook selembut mungkin.

"Aku akan mengjagamu".

Jungkook mengamati mata Namjoon lekat lekat, ia hendak meraih tangan Jungkook ketika pria itu mendorongnya sangat kasar dan berlari keluar.

"Hei!", Namjoon terguncang ketika Jungkook membuka pintu dengan sentakan keras.

"YA!", Taehyung dengan cepat mengejar pria yang sudah hengkang dengan napas tersendat. Ia pun berlari secepat yang ia mampu dan berangsur menembus malam.[]

Jungkook memacu kedua kakinya yang terasa terbakar, ia mengabaikan rasa sakit diseluruh tubuhnya yang diremukkan oleh bantingan Sang Alpha. Jungkook bernapas pendek pendek, nyaris tersandung namun memaksakan kedua kakinya untuk berlari lebih cepat lagi.

Angin malam menerpa wajah Jungkook dengan hembusan dingin. Pria itu tak pernah berhenti meski tubuhnya menggigil dan semuanya terasa sangat perih. Jungkook mendengar langkah kaki yang mengejar di belakangnya, jantungnya berpacu hebat ketika ia berlari semakin kuat.

Tidak, ia tidak boleh membiarkan mereka menangkapnya lagi. Siapa pun orang orang itu, ia hanya percaya kepada Yoongi, hanya Min Yoongi yang akan menolongnya. Ia harus menemukan Beta-nya sebelum orang orang itu kembali menyakiti Jungkook.

Ia tidak akan pernah berhenti sebelum ia menemukan Yoongi, tidak akan‒!

Jungkook berteriak ketika ia menabrak seseorang sangat kencang. Pria dihadapannya menjerit dan terjatuh dengan keras. Jungkook terkesiap, mendekati lelaki yang merintih kesakitan sembari meremas lengannya. Aliran darah mengucur melewati siku pria yang meringis pedih.

"M-Maaf", Jungkook mendekat dengan panik. "Apa kau baik baik saja? Aku tidak sengaja".

Park Jimin menengadah dengan raut gelisah, ia menatap mata Jungkook yang memeriksa lukanya dengan rasa bersalah yang nyaris membunuhnya.

Tidak, Jungkook…, Jimin menunduk pilu. M-Maafkan aku…

Jungkook membeku ketika tiba tiba seseorang meraih pundaknya dari belakang. Jungkook menoleh dengan wajah penuh teror, disambut oleh seorang dokter yang tersenyum lembut kepadanya.

"Akhirnya kita bertemu", Seokjin tertawa kecil. "My male Omega".[]