V

Park Jimin berulang kali menggigit bibirnya gelisah, ia menatap mata Jungkook yang terduduk lemas di dalam tabung eksperimen. Seokjin memaksa Jimin untuk mengurungnya selama masa percobaan. Seokjin berkata, ia ingin menciptakan sesuatu yang lain…sesuatu yang baru.

"Kenapa kau lemas sekali, eoh?", tanya Seokjin dengan senyuman lembut. "Apa kau sudah terpisah sekian lama dengan Alpha-mu? Hm?", Jungkook menggeram ketika sorot matanya bertemu dengan bola mata Seokjin yang sangat hangat sekaligus tidak waras.

"Oh…", Seokjin terkesiap ketika Jungkook menggeram makin keras. "Apakah aku…salah?", Seokjin menekan permukaan tabung eksperimen dengan seringai lebar. "Apakah…kau milik seorang Beta?", Jimin bergidik ngeri ketika dokternya tertawa keras.

"Bagus! Sangat bagus", Seokjin berpaling kepada Jimin yang langsung menunduk ketika menangkap kilas ambisi dan keinginan besar untuk mengotak atik subjek mereka diwajah Seokjin.

"Ambilkan aku pheromone Alpha".

Jimin tersentak kebingungan ditempatnya, "P-Pheromone…Alpha?".

"Ya", Seokjin mendekat kearah tabung, mengusap permukaannya dimana wajah ketakutan Jungkook balas memandangnya penuh kebencian.

"Bayangkanlah…seorang Omega dengan kekuatan seorang Alpha".[]

Taehyung menghentikan langkahnya dengan napas tak beraturan. Dia melirik ke kanan dan kiri, tak menemukan apa apa selain jalanan kosong Busan. Dini hari begitu sepi dan Omega itu tidak bisa ditemukan dimana pun.

"Sialan!", Taehyung mengacak rambutnya dengan kasar. Seharusnya dia tidak peduli, dia bahkan tidak akan menolong Omega itu kalau bukan karena sumpahnya. Namun, mengapa sekarang Taehyung justru cemas ketika Omega itu hilang?

Mengapa ia justru peduli?

"Tae!", Hoseok terengah engah di belakangnya, menepuk pundak Taehyung yang berpaling kesana kemari dengan raut pucat pasi. "Bagaimana?! Dimana dia?".

"A-Aku…", Taehyung menggeram marah. "Aku kehilangan jejaknya".

"Apa?!", Hoseok meremas perutnya sembari mendekati Taehyung. "Gawat, kita harus menemukan Omega itu sekarang juga, kita bertanggung jawab atas keselamatannya!".

"Aku tahu, Hyung", Taehyung mengangguk resah, ia hendak berbalik ketika melihat kubangan darah yang mulai mengering di trotoar Busan.

Taehyung mengernyit dalam, ia mengendus bau darah yang sangat menyengat dan sedikit pahit di jemarinya.

Tidak salah lagi…

"…ini milik Sub-Alpha", ujar Taehyung dengan geraman tajam.

"Seseorang telah membawanya pergi".[]

Min Yoongi membanting kaca hingga pecah berkeping keping. Ia berteriak keras, meremas rambutnya berulang kali. "Fuck, fuck, fuck!", Yoongi menggeram, tak peduli akan kamarnya yang sudah porak poranda.

"Alpha sialan!", Ia mengertakkan giginya keras, "Bangsat!", Yoongi menutup wajahnya dengan gigi yang bergemeletuk penuh kebencian. Alpha terkutuk itu telah membawa Jungkook pergi darinya, pasti Jungkook sangat ketakutan sekarang.

Yoongi mendesis dingin ketika bayangan akan Jungkook yang menangis menghantuinya. Ia harus mencari kemana sekarang? Semua ini salah pemimpin Alpha yang telah merampas miliknya dari Yoongi. Ia merenggut Omega-nya secara paksa.

"Awas kau, Alpha", Yoongi meremas pisau penuh dendam. "Aku akan menghabisimu".[]

Jungkook menjerit sekeras kerasnya ketika angsuran rasa sakit menghujamnya seperti sayatan pisau. Tubuhnya terasa panas dan jarum tak kasat mata seperti menusuknya ribuan kali. Jungkook benapas pendek pendek, menggeleng kencang ketika Seokjin menyeringai di luar tabung.

"Tambahkan pheromones-nya".

"T-Tapi‒!".

"Sekarang!".

Jimin gemetaran hebat, menyuntikkan hormon pada selang yang tertusuk ke dalam nadi Jungkook. Pria itu menjerit semakin hebat, meremas kepalanya ketika rasa sakit bertambah parah dan kepalanya serasa dibanting berulang kali.

"Hentikan!", Jungkook meremas rambutnya liar, ia terisak isak dengan napas tercekik. "Kumohon hentikan!", Jungkook berusaha menahan sadar, mencakari tubuhnya yang begitu panas.

Seokjin menggeleng dan tersenyum lebar, "Lagi".

Jimin memucat disampingnya, tak kuasa menatap mata Jungkook yang melebar takut.

"D-Dokter Kim".

"Lagi!", Seokjin menggebrak permukaan kaca dengan seringai gila, "Lagi! Tambahkan dosisnya tiga kali lipat lagi!".

"A-Andwae! Dia akan mati!", Jimin berteriak pecah, menahan isak tangis melihat Jungkook yang memohon kepadanya pilu. Seokjin menarik jarum dari tangan Jimin dengan kasar, "Kau lihat, Jimin?".

Jimin terkesiap dan memberontak ketika Seokjin meremas wajahnya, memaksanya untuk menatap Jungkook yang gemetaran hebat di dalam tabung eksperimen. "Dia bertahan, kan? Kita sudah menambahkan sangat banyak dosis dan dia baik baik saja!".

"Lepaskan aku!", Jimin mendorong Seokjin sekuat tenaga, merintih ngeri ketika dokternya justru meremas tangan Jimin hingga membiru.

"Hei…", Seokjin mencengkeram pergelangan tangan Jimin yang berkeretak, membuat pria itu terisak ketakutan.

"Kau bersumpah untuk setia kepadaku, kan?", Seokjin tersenyum lembut. "Kau tidak mau melawanku, ne, Jimin?".

Jimin merasakan kedua kakinya melemas, tubuhnya mulai menggigil ketika Seokjin mengusap lebam ditangannya sangat lembut. "Ne?".

Jimin pun mengangguk kecil seiring dengan air matanya yang mengalir turun.

Seokjin pun melepaskan Jimin yang terisak isak dibelakangnya, ia berbalik menghadap Omega yang menangis dengan tubuh berbekas sangat banyak cakaran. "Akan terasa sedikit sakit, ya?", Seokjin menyuntikkan dosis terakhir kepada Jungkook yang langsung menjerit histeris.

Gendang telinga Jimin serasa robek dan pecah ketika tangisan Jungkook merambat sampai ke sepenjuru laboratorium. Jimin membeku di tempat, tak mampu bergerak hingga semuanya menjadi hening tanpa suara.

Jimin menatap penuh teror kepada tubuh Jungkook yang tiba tiba diam tak berkutik di dalam tabung. Wajah Jimin pucat pasi, ia menoleh kepada dokternya yang menegang di tempat.

"T-Tidak ... T-Tidak ...", Jimin menggelengkan kepalanya dengan liar. "D-Dia ... dia sudah mati", Jimin berteriak pada dokternya. "K-Kau membunuhnya, dia sudah mati!", Jimin memukul dokternya dengan keras, Seokjin berteriak ketika dia meraih kedua tangan Jimin.

"K-Kau membunuhnya, Dokter Kim!".

"Kau‒!", Mereka berdua membeku ketika mereka mendengar napas berat dari kedalaman tabung.

Seokjin membelalakkan matanya ketika Omega itu bangkit dengan perlahan, rambut hitamnya hampir menutupi wajahnya yang sangat pucat.

Kedua bola mata semerah darah itu menatap Seokjin penuh kebencian, diikuti dengan geraman rendah yang merambat sampai ke tulang punggung Seokjin.

Jungkook membantingkan tinjunya ke permukaan tabung hingga kaca bergoncang hebat. Seokjin tersentak melihat kaca yang berkeretak dan nyaris pecah berkeping keping. Kedua matanya pun melebar, senyumnya terangkat nyaris mencapai mata.

Seokjin tertawa tidak percaya "…Berhasil".[]

"Kami tak bisa menemukannya", Taehyung membuka pintu dengan kasar, diikuti oleh Hoseok yang memainkan jemarinya cemas. Taehyung masih tak mengerti mengapa ia peduli, namun, membayangkan Jungkook yang terluka…jantung Taehyung justru berdentam makin cepat.

"Apa?!", Namjoon mendekati mereka tak habis pikir. "Lihat ulahmu kan, Taehyung?! Sekarang, Omega itu hilang dan itu salahmu!".

Namjoon memelotot ketika Taehyung mengangkat tangannya, nyaris memukul wajah pria itu kalau ia tidak menahan diri. "Apa kau?!", Namjoon menghardik dengan napas tak beraturan. "Kau mau memukulku?! Silahkan!", Taehyung menggeram berat, namun, tak menggerakkan tangannya yang membeku di udara.

"Sudahlah!", Hoseok berteriak panik, berusaha melerai kedua koleganya yang bernapas beringas.

"Aku hanya berusaha memberitahunya", Namjoon menghela napas kasar, "Kau memang salah, Taehyung, kau bertanggung jawab dan kau harus mengakui itu". Taehyung mendesis kesal.

"Kau tak terima lagi? Sampai kapan kau mau bertindak seenaknya?!".

Namjoon tersentak ketika Taehyung menggeram dan membanting tubuhnya ke dinding. "Lakukanlah!", Namjoon berteriak ketika Taehyung meremas rambutnya frustasi. "Kalau kau mau menyakitiku, silahkan!", Namjoon berusaha mengatur dadanya yang naik turun akibat emosi.

"Tch!", Taehyung melepas pria itu dan berbalik badan sembari memejamkan mata.

"Jungkook itu hilang", Hoseok bersuara miris, "Berhentilah bertengkar". Namjoon mengangguk menyesal, berusaha mengatur emosinya sementara Taehyung membanting dinding kesal.

"Seseorang membawanya, Sub-Alpha", ujar Taehyung berat.

Namjoon mondar mandir di dalam ruangan dengan pikiran berkecamuk. "Apa kau bisa mengikuti scent-nya, Taehyung?", tanya Namjoon cemas.

"Itu dia masalahnya", Taehyung menggeleng heran. "Awalnya aku bisa mencium scent Jungkook samar samar, namun…tiba tiba saja hilang".

"Hilang?", Namjoon memucat.

"Seperti ada yang menutupi aromanya".

"Atau‒", Taehyung melanjutkan dengan helaan napas panjang. "Dia sudah mati", ia berpaling resah.

"Dan aku meminta maaf soal itu".[]