Hyurien92
Present
.
.
THE WILD ONE
Chapter 2
.
.
Louise Byun/Byun Baekhyun
Nicholas Park/Park Chanyeol
Edward Oh/Oh Sehun
.
.
Support
Dominic Zhang/Zhang Yixing
Mattheo Kim/Kim Jongdae
Valentino Garavani(OC)
.
.
Genre : Romance, Crime
Rate ; M
Warning : Boys Love/Shounen ai
.
.
Ada kemungkinan cast akan bertambah sesuai jalannya cerita
Note : disini aku menggunakan dua nama untuk setiap cast kecuali Valentino Garavani, harap pahami situasi saat aku menggunakan nama asli ataupun nama western mereka.
Summary
Ketika perasaan itu datang disaat yang tidak tepat, apakah yang akan mereka pilih? Cinta? Ataukah mempertahankan eksistensi yang ada?
.
.
Mereka disana berdiri dengan gagahnya, menatap tubuh tak bernyawa di hadapannya, kedati cipratan darah menodai wajah tampan keduanya tak lantas membuat kesempurnaan dalam diri mereka sirna.
"Kau memilih korban yang bagus." Puji salah satunya.
"Aku selalu memilih korban dengan teliti."
Lelaki bersurai hitam itu berjongkok, meneliti dengan sangat paras korbannya.
"Sangat disayangkan wanita secantik dirinya harus bernasib seperti ini, andai dia mau bekerjasama sudah pasti hidupnya akan bergelimang harta."
Lelaki tinggi satunyapun ikut berjongkok, kemudian jemari runcingnya membelai lembut pipi tubuh tak bernyawa itu."Ini lah akibat jika kau menolak tawaran kami, sweety." Kemudian berdiri" bereskan semuanya dan jangan ada kesalahan!" dan berlalu diikuti lelaki bersurai hitam dan beberapa anak buah mereka.
.
.
Pemirsa, model asal Australia,Adriana Rosalie ditemukan tewas mengenaskan didalam apartemennya. Diduga kuat model cantik ini menjadi korban sindikat penjualan organ tubuh manusia. Terbukti dengan menghilangnya beberapa organ tubuh sang model saat dilakukan autopsy. Polisi…..
"Kenapa belakangan banyak sekali kasus kejahatan?" tanya Louise tanpa mengalihkan fokusnya pada layar datar itu."apa dunia sekarang benar-benar tidak aman?"
"Ini Amerika, Negara adikuasa. Bukan hal yang aneh jika kejahatan merajalela." Timpal Mattheo sahabat rangkap manajer Louise Byun yang tengah sibuk menyiapkan menu sarapan mereka.
"Tapi tetap saja menghilangkan nyawa orang lain bahkan menjual organ tubuhnya adalah kejahatan besar. Aku penasaran apa sebenarnya yang ada di otak mereka sampai tega berbuat keji begini?"
"Uang, Lou. Kau tahu uang bisa membutakan segalanya"
"Apa kepolisian setempat tidak sanggup meringkus para penjahat ini?"
Mattheo mulai jengah "Jika bisa, maka tidak akan ada kasus seperti ini, Louise."
"Kau benar juga."
"Daripada kau mengurusi para polisi dan tugas mereka, kenapa kau tidak berbenah diri? Dua jam lagi Valentino akan menjemputmu untuk mencocokkan pakaian apa yang akan kau kenakan di fashion week nanti sementara saat Ini kau pun belum memakan sarapanmu."
"Astaga. Aku melupakan hal penting seperti itu. Thanks, Matt, kau sudah mengingatkanku.". setelahnya Louisepun berlalu.
"Lou, wait!" langkah Louise terhenti,."be careful" lekukan alis pun tercetak di wajah tampan Louise "mengingat Rosalie tewas di New York tepat empat hari sebelum pagelaran di mulai, kurasa para sindikat itu sengaja mengincar kalian para model. Aku tahu ini tidak bisa dijadikan patokan, tapi jika menilik kebelakang semua korban kejahatan adalah dari orang ternama. Jadi kuminta berhati-hatilah!"
Lelaki bermarga Byun itu tersenyum tipis."Kau tenang saja, ada Valentino yang melindungiku."
"Perlindungan Valentino saja tidak cukup,Byun Baekhyun." Kali ini Mattheo tak mampu membendung rasa khawatirnya."mereka yang berkecimpung dibisnis ini bukanlah orang sembarangan. Jadi kumohon, berhati-hatilah."lirihnya kemudian.
Menjalin pertemanan sekian lama, membuat Baekhyun memahami karakter sahabatnya ,dan jika lelaki telah menyebut nama aslinya, itu tandanya kegelisahan dan kekhawatiran tengah dirasakan lelaki bermarga Kim itu, begitupun sebaliknya. Sejatinya lelaki Byun itu juga merasaakn hal yang sama, hanya saja dirinya berusaha menutupi semuanya. Perlahan langkah kakinya pun membawanya mendekati sang manajer kemudian memberikan tepukan pelan dibahunya.
"Aku tahu, Jongdae-ya. Terima kasih telah mengkhawatirkanku. Aku akan menjaga diriku sebaik mungkin."
"Memang seharusnya begitu."
"Sekali lagi terima kasih." Setelahnya lelaki itu pun benar-benar berlalu dari hadapan Jongdae yang menatapnya penuh kekhawatiran.
"Semoga kau selalu baik-baik saja,Baek!"
.
.
New York fashion week akhirnya di gelar, berbagai macam busana rancangan designer-designer ternamapun sukses membuat para pengunjung berdecak kagum. Walau tema kali ini berbeda dari biasanya, namun itu tidak menjadi halangan bagi para designer kondang menunjukkan keterampilan mereka, pun begitu dengan Valentino Garavani. Designer kawakan itu justru sukses membuat semua orang berdecak kagum akan kepiawaiannya dalam merancang busana. Walau lelaki delapan puluh lima tahun ini baru saja kembali dari libur panjangnya, semua itu seakan tidak mengurangi keahlian yang dimiliki lelaki itu. Tidak salah jika Valentino Garavani menjadi salah satu dari sepuluh designer ternama dunia.
"Aku gugup."Ucap Louise membuat Mattheo menatap heran dirinya.
"Tidak seperti biasanya" timpal lelaki Kim itu.
"Entahlah, mungkin ini ada hubungannya dengan sponsor acara ini." Nampak kegelisahan menghiasi wajah rupawan sang model."disaat seperti ini aku justru teringat akan perkataanmu tempo hari,Matt, mereka mengincar para model. Dan terkutuklah pihak panitia yang tiga jam lalu memberikan pengumuman resmi bahwa sponsor utama mereka adalah kelompok The Drakness. Orang bodoh mana yang tidak mengetahui siapa mereka. Dan apa mereka tidak ada kerjaan yang lebih penting hingga harus hadir kali ini?"
"Tenanglah, Lou. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Walau The Drakness hadir mungkin ada segi positifnya, dengan kehadiran kelompok tersebut setidaknya kelompok didunia yang sama tidak akan berani menunjukkan batang hidung mereka disini dan membuat kekacauan seperti di Beijing beberapa bulan lalu."
"Bagaimana jika nanti aku menjadi salah satu korban mereka?" Dimana pertanyaan itu membuat Mattheo melebarkan bola mata.
"Jangan berkata sembarangan!" hardiknya tak suka.
"Bagaimana jika nanti aku bernasib sama seperti Rosalie, Jongdae-ya?
Helaan nafas terdengar."Aku harap tidak ada sesuatu yang buruk menimpamu. Tetapi jika itu terjadi aku akan berusaha menyelamatkanmu walau nyawaku sebagai taruhannya."
"Aku tidak ingin kehilanganmu, Jongdae-ya." Cicit Louise dengan tampang lesu.
"Karena itu jangan berpikiran macam-macam! Fokuslah pada kewajibanmu malam ini."
Louise menangguk kendati kecemasan masih bersarang dihatinya
"Mr. Byun!" kedua lelaki Asia itu menelengkan nenatap seorang wanita yang berdiri diambang pintu."You turn!"
"Thanks." Sahut Louise tak minat, kemudian mengalihkan tatapannya pada sang sahabat."Doakan aku!"
"Always."
Louise manarik nafas dalam kemudian perlahan menghembuskannya berharap itu bisa meredakan rasa khawatirnya. Setelah dirasa cukup tenang, iapun mulai melangkah menuntaskan kewajibannya.
.
.
.
Lampu sorot langsung mengarah padanya pun begitu dengan jepretan kamera. Meski kegelisahan terus dirasakan, namun Louise berusaha bersikap tenang menunjukkan sikap profesionalitasnya sebagai model ternama. Perlahan iapun mulai berjalan melintasi catwalk berlenggak diatasnya dengan langkah ringan dan penuh percaya diri, seperti yang biasa dilakukan. Berita kehadiran kelompok The Drakness sedikit banyak membuat Louise penasaran akan sosok pemimpin organisasi hitam itu. Seperti apakah rupanya, mengingat selama ini sang pemimpin tidak pernah menunjukkan keberadaannya saat sedang beroperasi. Mungkinkah kali ini sang Mafioso berniat menunjukkan aksestensinya? Diliputi rasa penasaran, sesekali ekor matanya melirik kesisi kanan tepatnya deretan bangku yang hanya diperuntukan bagi mereka yang berkuasa, namun tidak ada yang mencurigakan disana, kecuali sebuah bangku kosong yang Louise duga sebagai tempat untuk sang Mafia.
New York Fashion Week pun sukses digelar tanpa adanya kendala berarti. Dan ketika semua designer yang terlibat beserta para model diminta untuk naik keatas panggung,disitulah Louise melihat lelaki berkacamata hitam dan memakai masker tengah duduk di bangku khusus VIP. Model itu hampir tergelak,pikirnya orang bodoh mana yang berpenampilan aneh seperti itu saat menghadiri pagelaran busana. Namun sedetik kemudian Louise terdiam saat menyadari orang tersebut menyamankan diri di bangku yang sebelumnya kosong, mugkinkah itu sang Mafioso? Jika ditelisik dari cara berpenampilan ditambah beberapa orang berpakaian serba hitam berdiri belakangnya menguatkan spekulasi Louise.
Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya, pun begitu dengan tangan yang saling meremat, tubuhnya memucat, terlebih secara tidak sengaja Louise menangkap lelaki itu memperhatikannya meskipun sepasang mata itu terbungkus kacamata namun Louise yakin lelaki disana tengah menatap lekat dirinya. Entah ini hanya perasaanya saja atau bagaimana tetapi lelaki yang diyakini Louise sebagai pemimpin The Darkness sempat menyunggingkan senyum timpang sebelum menjauh diikuti para pengukitnya.
.
.
.
"Baekhyun!" panggil Jongdae dengan nafas terengah ketika memasuki ruang ganti sahabatnya. Bagaimana tidak lelaki yang sama mungilnya dengan Baekhyun itu langsung berlari bak lesatan peluru ketika mendapat kabar sahabatnya dalam keadaan tidak baik-baik saja seusai acara.
"Baekhyun!" serunya lagi memastikan keadaan sahabatnya yang meringkuk di pojok ruangan memeluk erat tubuhnya.
"Aku melihatnya Jongdae-ya." Cicit Baekhyun.
"Siapa yang kau lihat?" tanya Jongdae tak mengerti.
"Pemimpin organisasi The Darkness." Jongdae terpekur."aku melihatnya dengan mata kepala ku -dia tersenyum padaku. Senyuman yang membuatku takut." Jelas terdengar ketakutan dalam setiap kalimat yang dilontarkan, dan sebagai seorang sahabat Jongdaepun bersimpuh didepan Baekhyun kemudian memeluk tubuh itu.
"Sstt.. tenanglah! Tidak usah takut."ujar lelaki Kim itu sembari mengelus rambut Baekhyun dengan sayang.
Baekhyun mencengkeram ujung kemeja manajernya itu."Bagaimana aku tidak takut? Pria itu-pria itu terlihat begitu bengis. Walau aku tidak melihat langsung wajahnya tapi aku sudah bisa merasakan aura kekejaman yang menguar dari tubuhnya. Aku tidak mau bernasib sama seperti Rosalie. Aku tidak mau Jongdae!" Baekhyun terisak dan itu menciptakan rasa nyeri pada lelaki satunya.
"Tidak ada yang akan terjadi padamu,Baek. Tidak selama aku masih hidup. Yang harus kau lakukan mulai sekarang adalah tetap berada dikeramaian."
"Apa itu membantu?"
"Tidak! Tapi itu bisa memberimu waktu untuk lolos dari mereka dan meminta pertolongan pada kantor kepolisian terdekat. Tidak terlalu berguna memang tapi setidaknya mereka bisa memberikan perlindungan terhadapmu. Dan aku juga akan meminta Valentino untuk meningkatkan penjagaan di apartemenmu. Jadi tenanglah, akan kulakukan apa saja untuk melindungimu."
.
.
.
"Jangan sampai ada kesalahan! jika tidak nyawa kalian taruhannya."
"Baik"
"Dan jika ada yang melawan. Kalian tahu apa yang harus dilakukan."
"Kami mengerti."
Sebuah senyum miring tercetak, onyx kelamnya fokus pada layar didepannya, menampilkan seseorang yang sebelumnya sudah menarik perhatiannya.
"Welcome in hell!"
.
.
"Nicholas!"
Pemuda bertubuh tinggi dan bersurai ash grey itu terhenti saat seseorang memanggil namanya. Iapun menolehkan kepala kesumber suara,namun beberapa detik kemudian menyesali akan perbuatannya. Pasalnya orang yang tadi memangilnya adalah orang paling menyebalkan dimuka bumi, terlebih senyum itu. Perasaan Nicholas langsung tidak enak.
"Tumben kau kesini?!" itu bukan pertanyaan melainkan sindiran tersirat, tapi tak cukup mampu meleraikan senyuman lebar sang sahabat.
"I need your help!"
Nicholas merotasikan bola mata."What?"
"You know what I mean."
"No! Edward! I'm busy!" Tolak lelaki dengan tinggi 185 cm itu.
"Ayolah. Untuk malam ini." Pinta Edward memelas dengan tatapan bak anak kucing kelaparan yang mana itu justru membuat Nicholas ingin melempar lelaki pucat itu ke sungai Amazon.
"Kenapa aku seperti merasa akan ada malam-malam berikutnya?" Ujarnya sangsi dan sukses menciptakan helaan nafas lelah saat melihat Edward semakin tersenyum lebar layaknya seorang Joker.
"You know me more than everything!"
"Kau pikir aku kekasihmu!"
"Lebih tepatnya calon."
"Kau menjijikkan!"
Keduanya terdiam lebih tepatnya Nicholas, karena Edward terus menatapnya penuh arti. Serius! ada apa dengan sahabatnya ini? Bukannya mencari pacar atau orang lain yang bisa disewa untuk menemaninya, justru malah selalu merepotkannya. Sekali lagi Nicholas menghela nafas lelah.
"Okey! You win! Dan berhenti tersenyum idiot seperti itu!" Setelahnya Nicholas segera berlalu menghindari jika Edward meminta yang lain lagi.
"Thanks! You're the best." Teriak Edward tanpa memperdulikan delikan tajam dari orang disekitarnya yang merasa terganggu.
"Tidak perlu memujiku, aku tahu kalau aku sangat tampan." Teriak Nicholas sambil terus berjalan bahkan tanpa menoleh kebelakang. Edward mendengus.
Seriously!
Ada apa dengan dua orang ini, tidak bisakah mereka berbicara layaknya orang normal pada umumnya?
Mengabaikan tatapan aneh dari orang-orang disekitar mereka, Edward terus melambaikan tangannya bak orang dungu. Namun, sedetik kemudian lelaki itu segera menurunkan tangan, dan kembali menatap penuh arti sosok yang perlahan menghilang dari balik pintu. Tak bersenggang lama ekspresi wajanya kembali seperti semula kemudian berlari menyusul Nicholas yang sudah memasuki ruang kelas mereka.
.
.
Sinar mentari mengintip dari celah tirai, matanya enggan terbuka seakan ribuan kupu-kupu tengah bertengger di helaian bulu mata. Sepertinya model cantik ini sedang mengarungi mimpi indahnya. Bunyi handphone yang tergeletak diatas nakas bahkan tak mampu mengusik kenyamananya dibalik selimut tebal bermotif ikan Nemo, jangan tanya dari mana Louise mendapatkan selimut tersebut, tentu sahabat alias manajernya lah yang memberikannya saat berulang tahun ke dua puluh. Mattheo beralasan bahwa Louise Byun begitu imut dan lucu seperti ikan di kartun anak-anak yang belakangan begitu sering ditayangkan ditelevisi.
Erangan pun meluncur dari bibir tipisnya, kali ini merasa terusik akan suara bel yang sejak lima menit lalu berbunyi membuat Louise ingin memenggal kepala siapa saja orang sudah menggangu waktu tidurnya. Dengan berat hati dilemparkannya selimut tersebut kesembarang arah kemudian berjalan terseok untuk membuka pintu.
Disana,Mattheo berdiri dengan alis mengernyit memperhatikan modelnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemeja kebesaran yang hanya sebatas paha hingga memperlihatkan bahu dan paha mulusnya, mata yang tertutup saking tidak mampunya menahan kantuk, mulut yang bergerak-gerak tidak jelas seperti sedang mengunyah sesuatu, dan rambutnya yang merajuk kesegala arah. Jika Mattheo adalah salah satu komplotan orang berbaju hitam, sudah bisa di pastikan lelaki didepannya ini akan diperkosanya. Orang normal mana yang tahan jika dihadapkan dengan pemandangan mengundang seperti itu? Louise yang seperti ini bukannya menjijikkan justru menambah kesan imut dirinya kendati lelaki itu baru bangun tidur. Beruntung lelaki bermarga Kim itu sahabat Louise yang sudah hapal betul dengan kebiasaan sahabatnya, membuat lelaki itu terbiasa dengan pemandangan seperti ini.
"Kau menjijikkan!" Umpat lelaki berwajah kotak itu."Jika penggemar fanatikmu melihat bagaimana koindisimu saat ini,aku jamin mereka akan segera beramai-ramai memperkosamu."
"Berhenti mengoceh!" protes Louise sembari menguap lebar membuat Mattheo terpaksa menutup mulut sang empunya.
Mattheo berdecak."Menyingkir! kau menghalangi jalanku!"
"Kau pikir ini apartemenmu?"
"Kau pikir aku perduli?"
Lihat? Bagaimana dua sahabat ini meributkan sesuatu yang tidak penting.
"Kurasa kau melupakan sesuatu,Lou." Ujar Mattheo setelah memasuki apartemen Louise kendati sang pemilik tidak mempersilakan.
"Apanya?"
Mattheo menepuk jidat."sudah kuduga, kau pasti melupakannya. Hari ini ulang tahun Valentino, dan kulihat kau belum mempersiapkan apa-apa."
Louise membulatkan matanya."What? are you kidding me? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?"
"For Your Information, . aku sudah belasan kali mencoba menghubungimu tapi yang ada kau lebih memilih memproduksi air liurmu ketimbang menerima panggilanku."
Louise hendak membuka mulut memprotes semua ucapan Mattheo, namun urung dilakukan karena lelaki Kim itu lebih dulu menyelanya.
"Sekarang, daripada kau meributkan sesuatu yang sudah jelas kesalahanmu lebih baik kau segera mandi dan berbenah diri, dan waktumu satu jam dari sekarang, kalau tidak aku bersumpah akan menyebarkan semua foto bugilmu."
Ancaman yang tepat sasaran, begitulah pemikiran Louise. Mana ada orang yang mau foto dirinya sedang dalam keadaan telanjang disebar luaskan. Salahkan Louise yang gemar mengabadikan dirinya tanpa busana dengan alasan ingin memeriksa seluruh tubuhnya agar selalu sempurna. Ayolah, tubuh yang sempurna tanpa cacat adalah asset berharga seorang model. Tapi, darimana Mattheo mendapatkan foto-fotonya? Terkutuklah Mattheo Kim dengan segala kemampuannya yang sanggup membuka kode ponselnya. Dan tanpa bantahan walau disertai umpatan lelaki itupun menuruti perintah manajernya.
Satu jam kemudian louise telah rapi, perlahan ia bawa langkah kakinya mendekati Mattheo."Menurutmu, apa yang harus kuberikan pada Valentino kali ini?" kemudian duduk disebelahnya."
"Apapun yang kau berikan, pasti Valentino akan menyukainya. Kau model kesayangannya, remember?"
"Kau tidak membantu." Sungut sang model.
"Kau bertanya seakan kau tidak pernah memberikan Valentino hadiah disetiap ulang tahunnya saja."
"Kali ini aku ingin sesuatu yang istimewa. Bagaimanapun berkat dirinya aku bisa berada diposisiku sekarang."
"Kalau begitu kau jadi kekasihnya saja seperti yang ramai di bicarakan diluaran sana."
"Yak!Kim Jongdae!" teriak Louise merasa kesal.
"Aish! Jangan berteriak ditelingaku! Kau ingin aku tuli?" protes Mattheo sembari mengusap telinganya yang berdengung akibat teriakan supersonik modelnya."Jika kau ingin sesuatu yang istimewa buatklah sesuatu dengan tanganmu sendiri, kue ulang tahun, misalnya? Walau nanti di pesta juga ada kue seperti itu tapi jika dibuat oleh tanganmu sendiri dan dibawa langsung kehadapannya. Aku yakin lelaki tua itu pasti menyukainya."
"Kenapa ide itu tidak kupikirkan sebelumnya?"
"Karena kau bodoh!"
Louise mencibir"Dan kau lebih bodoh mau berteman dengan orang bodoh sepertiku. Sudahlah!" baru saja Louise hendak melangkahkan kakinya, panggilan Mattheo menghentikan niatannya.
"Baekhyun!" intonasi yang digunakan berubah."Bagaimana keadaanmu?" terselip kekhawatiran didalamnya.
Sadar akan perubahan intonasi suara Mattheo, lelaki yang berprofesi sebagai model itupun segera merubah air mukanya"Bohong jika aku mengatakan aku baik-baik saja, nyatanya setelah malam itu aku selalu dihantui ketakutan. Takut organisasi hitam itu menerobos apartemenku dan menculikku atau lebih parahnya membunuhku dan mengambil organ vitalku."
Mengetahui Louise ketakutan, Mattheopun berinisiatif mengenggam jemari lentik sahabatnya berusaha menyalurkan ketenangan."Aku sudah bicara pada Valentino. Dia akan meningkatkan penjagaan di sini dan sekitarnya. Jika perlu Valentino juga akan menambah tiga sampai lima bodyguard untuk menemani disetiap aktifitasmu."
"Ini semua membuatku takut, Jongdae-ya."
"Tenanglah! Tidak akan kubiarkan sesuatu yang buruk menimpamu."
Louise tersenyum."Terimakasih, kau selalu ada untukku." Kemudian memeluk lelaki yang sudah seperti saudaranya itu.
.
.
Seharusnya Nicholas tahu akan terjadi sesuatu yang buruk jika menerima ajakan Edward. Dan seharusnya Nicholaspun menolak langsung ajakan lelaki minim ekpresi itu mengabaikan tatapan bak kucing kelaparan yang ditujukan kepadanya. Ya, seharusnya Nicholas melakukan semua itu, bukan menerima ajakannya dan berakhir seperti ini. Seumur hidupnya lelaki itu tidak pernah membayangkan menjadi seorang pengantar minuman dalam sebuah pesta. Bukannya Nicholas membenci pekerjaan itu, hanya saja berada dalam keramaian membuatnya tak nyaman, terlebih pesta tersebut dihadiri oleh orang-orang ternama dengan pembicaraan yang tidak jauh dari yang namanya bisnis.
Membosankan!
Dan disinilah Nicholas dan Edward berada, menjadi salah satu dari belasan pelayan pengantar minuman di pesta ulang tahun Designer kondang, Valentino Garavani. Dari sekian banyak ajakan konyol Edward, menurutnya ini adalah ajakan paling konyol didunia.
"Tersenyumlah,dude! Jangan berwajah menyeramkan seperti itu, kau menakuti para undangan."
"Memang itu yang kuinginkan. Lagipula Ed. Apa yang ada diotakmu? Bisa-bisanya kau melakukan pekerjaan ini, bukan maksud menghina tapi setahuku kau bukanlah tipikal orang yang kekurangan uang."
"Aku ingin sesuatu yang berbeda, yang lebih berkelas."
Nicholas merotasikan kedua bola mata"Jawaban macam apa itu?"
"Setidaknya aku bisa melihat para model ternama dan juga orang-orang pentng. Siapa tahu ada diantara mereka yang bisa kujadikan sasaran berikutnya." Jawab Edward mengedipkan sebelah mata.
"Idiot!"
"Sudahlah, lebih baik kita selesaikan tugas kita kemudian mendapat bayaran lalu berpesta."
Tak berselang lama pestapun dimulai, semua orang yang hadir langsung bertepuk tangan ketika Valentino Garavani berjalan menuruni tangga, tak lupa bersama model kesayangan yang mengapit mesra lengannya.
"Terima kasih telah menyempatkan waktu menghadiri pestaku." Ujar lelaki itu membuka suara" Aku sungguh bahagia diusiaku yang sudah tua ini masih bisa menerima begitu banyak cinta dari kalian." Designer itu terus memberikan sambutan tanpa menyadari Louise yang perlahan meninggalkan acara.
"Kalian tahu, sebenarnya.." ucapannya tak lantas berlanjut karena sebuah suara merdu tengah menyanyikan lagu selamat ulang tahun, iapun menelengkan kepala mencari-cari siapakah pemilik suara tersebut, pun begitu dengan para tamu yang hadir. Dan senyum cerah akhirnya menghiasi wajah keriput lelaki itu setelah mengetahui bahwa sang model kesayangan lah yang bernyanyi, sembari berjalan dengan membawa sebuah kue kearahnya. Sedangkan Mattheo berdiri tidak jauh dari Louise sembari tersenyum lebar.
"Happy Birthday to You." Seru Louise tepat setelah berada didepan Valentino."aku sengaja membuat kue ini untukmu, Val."
"Thanks, Sweety."
Lelaki berumur itupun segera meniup lilin ulang tahunnya menciptakan gemuruh tepuk tangan semua orang dan tak lupa kecupan mesra di pipi pun diberikan seakan menambah kemeriahan pesta ulang tahunnya.
Nicholas melihatnya, melihat sosok bertubuh mungil disana. Tersenyum cerah bak sinar mentari dipagi hari yang mampu menggetarkan kehangatan dihatinya.
"Berhenti menatap model itu, kau bisa saja jatuh cinta kepadanya!" seloroh Edward sembari mengambil gelas dan meletakkan di nampan miliknya.
Nicholas mengalihkan pandangan kepada sahabatnya."Kau bicara apa?" kemudian kembali menatap si model yang kini tengah berjalan bersama Valentino Garavani menyapa para undangan yang justru terlihat seperti lelaki tua tersebut tengah memperkenalkan pasangan hidupnya kepada rekan-rekannya. Nicholas mendengus geli." Bukankah dia..."
"Louise Byun." Sahut Edward seakan menjawab pertanyaan Nicholas."Model nomor satu dunia sekaligus kesayangan Valentino Garavani." Kini atensinya terarah pada lelaki mungil disana.
"Mereka?"
"Banyak yang mengatakan mereka menjalin kasih, bahkan ada rumor yang beredar bahwa Valentino telah membeli satu unit apartemen mewah di Paris untuk Louise. Tapi semua itu hanya rumor, kau tentu tahu public figure tidak akan lepas dari yang namanya sensasi."
"Rupanya kau mengikuti betul jejak kedua orang itu." Sindir Nicholas setelah berhasil mengalihkan perhatiannya dari pesona Louise.
"Aku hidup di era modern dimana internet menjadi salah satu penunjang hidupku. Dan aku bukanlah si kutu buku yang setiap hari menghabiskan waktu di perpustakaan kampus hanya demi sebuah penelitian."
"Kau menghinaku?"
"Aku bicara kenyataan. Sesekali keluarlah dari zona aman mu, man?" Ejek Edwardyang hanya mendapat dengusan dari Nicholas, setelahnya lelaki bersurai dark brown itupun berlalu meninggalkan Nicholas yang kembali memfokuskan atensinya kepada sosok mungil disana. Mengabaikan seseorang yang berdiri ditengah para undangan dengan pandangan setajam elang.
"Mereka disini. Laksanakan rencana A!"
TBC
Cuap – cuap
Chapt kali ini sedikit lebih panjang dari chapt sebelumnya, salahkan tangan dan otakku yang gak sinkron. wkwkkww
