Hyurien92

Present

.

THE WILD ONE

Chapter 3

.

Louise Byun/Byun Baekhyun

Nicholas Park/Park Chanyeol

Edward Oh/Oh Sehun

.

Support

Dominic Zhang/Zhang Yixing

Mattheo Kim/Kim Jongdae

Valentino Garavani (OC)

.

Genre : Romance, Crime

Rate ; M

Warning : Boys Love/Shounen ai

.

Ada kemungkinan cast akan bertambah sesuai jalannya cerita

Note : disini aku menggunakan dua nama untuk setiap cast kecuali Valentino Garavani, harap pahami situasi saat aku menggunakan nama asli ataupun nama western mereka.

.

Summary

Ketika perasaan itu datang disaat yang tidak tepat, apakah yang akan mereka pilih? Cinta?Ataukah mempertahankan eksistensi yang ada?

.

.

.

Deretan sedan berwarna hitam tengah terparkir didepan rumah bernuansa klasik itu, kendati kuda besi tersebut berpenghuni tetapi tidak ada satupun manusia yang keluar dari mobil-mobil tersebut. Mereka hanya diam seperti tengah menunggu komando dari sang penguasa.

"Kau tenang saja, serahkan semua kepadaku. Kau hanya perlu menunggu hasilnya." Ujar seorang lelaki berparas lembut.

"Aku tidak mau ada kesalahan." Sahut suara lain diujung telpon.

"Ini bukan kali pertama aku melakukan nya,wahai tuan sempurna."

"Do it!"

"As Your Wish."

Dengan berakhirnya sambungan telpon lelaki tersebut keluar dari mobilnya diikuti oleh beberapa penghuni mobil lainnya.

.

.

.

Pesta yang semula berlangsung meriah berubah hening ketika semua lampu tiba-tiba padam, membuat semua orang terheran terlebih sang pemilik acara. Iapun memanggil salah satu pengawalnya guna memeriksa keadaan disekitar, namun belum sempat lelaki itu melakukan perintah tuannya sebuah suara tembakan menghentikan niatannya.

"Suara tembakan apa itu?" tanya Valentino sementara Louise mengkerut disampingnya perasaan takut tiba-tiba menyergapnya. "Erick! coba kau periksa apa yang sebenarnya terjadi?!" lanjutnya yang mana di jawab anggukan oleh Erick.

"Baik, Tuan!"

Baru saja kakinya hendak melangkah suara tembakan kembali terdengar kali ini dari arah yang cukup dekat. Entah apa yang telah disambar oleh peluru itu. Keadaan seperti itu membuat semua tamu berteriak, kepanikan perlahan menghampiri setiap orang.

"Jongdae-ya." Lirih Louise

"Ssttt, tenanglah! Aku disini." Sahut Jongdae membalas uluran tangan Louise.

"Erick! James! Xavier!" Valentino segera memanggil tiga orang kepercayaannya, "Cepat cari tahu apa yang terjadi, aku tidak akan memaafkan siapapun yang berani mengacaukan pestaku." Geramnya.

"Tidak usah terlalu buru-buru, tuan." Sebuah suara menginterupsi diiringi bunyi langkah kaki yang perlahan memasuki ruangan yang saat ini tengah diliputi kegelapan dan ketakutan.

"Aku masih punya banyak waktu untuk menungggu." Lanjutnya, bersamaan dengan itu semua lampu kembali menyala memperlihatkan seseorang berwajah lugu tengah memain-mainkan pistol di genggamannya.

Tak bersenggang lama selusin pria berpakaian hitam ikut memasuki ruangan kemudian berdiri tepat di belakang pemuda sekali lihat semua orang sudah tahu bahwa mereka adalah kelompok organisasi hitam, entah berasal dari kelompok yang mana.

"Sebelumnya aku minta maaf tuan Valentino yang terhormat." Lanjut pria itu "Telah mengacaukan pesta ulang tahun mu tapi ada seekor hama yang harus segera ku basmi dan sayangnya hama itu berada di tengah-tengah kalian saat ini". Jeda sejenak "Temukan dia!" lanjutnya yang segera dijawab tindakan oleh beberapa pria yang kemungkinan besar adalah bawahan nya. Sembari menunggu kemunculan hama yang dimaksud, lelaki berwajah lugu itupun melanjutkan ucapannya. "Ngomong-ngomong, apa aku harus memperkenalkan diri? Karena sepertinya ada diantara kalian yang belum mengenalku." matanya melirik Louise membuat lelaki itu tercekat. "Perkenalkan aku Dominic Zhang, anggota The Darkness."

Semua orang terkejut tak terkecuali Valentino sendiri. Sementara Louise semakin mencengkeram erat tangan Mattheo membuat lelaki itu refleks melindungi Louise di balik punggungnya meski sebenarnya itu tidak terlalu berguna karena postur tubuh mereka yang hampir sama. Tapi setidaknya untuk saat ini hanya itulah yang bisa dilakukan untuk melindungi sahabatnya.

"Kalian tidak perlu berlebihan seperti itu. "Seloroh Dominic ketika menyadari ketakutan yang dirasakan oleh orang-orang disekitarnya seakan itu adalah hal lucu. "Aku tidak akan menyakiti kalian jika kalian tetap menjadi anjing penurut."

"Bagaimana kami bisa mempercayaimu ucapanmu? Sementara kau dan kelompok bahkan pemimpin gilamu menganggap nyawa setiap orang adalah mainan." sela lelaki bertubuh tambun yang diketahui sebagai salah satu anggota legislatif, ucapan sarkas itu dibalas senyuman misterius oleh Dominic.

Lima menit kemudian hama yang dimaksud pun di bawa kehadapan Dominic dengan cara ditarik paksa oleh beberapa pria berpakaian hitam tadi. Pria berumur itu berusaha berontak terlihat jelas sangat tidak nyaman akan perlakuan yang diterimanya.

"Hello! Mr. Kim. Nice to meet you, again! Aku tidak tahu bahwa kau rela terbang jauh-jauh dari Seoul ke Milan hanya untuk menghadiri acara membosankan seperti ini. Rupanya jaringan koneksimu begitu luas."

"Apa yang kau inginkan?" tanya masih berusaha membebaskan dirinya dari belenggu bawahan Dominic.

"Bukan aku yang menginginkanmu melainkan sang pemimpin."

"Kalau begitu kenapa bukan pemimpin psikopatmu saja yang datang secara langsung menemuiku?"

Moncong pistol terarah, "Untuk menghabisi tikus pengganggu sepertimu, cukup aku saja yang melakukannya."

"Apa pemimpinmu takut menghadapiku setelah aku berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba di Moskow beberapa bulan lalu?" bukannya merasa takut, lelaki berpangkat Jendral itu justru semakin menantang.

"Itu hanya hal sepele, kami bisa mengulanginya lagi, dan bisa kupastikan saat itu terjadi kau telah berada di Neraka."

Suara tembakan kembali terdengar kali ini timah panas tersebut tepat mengenai kaki kanan sang Jendral, membuatnya terduduk dan mengaduh kesakitan. Para tamu wanita sontak berteriak semakin menambah aura mencekam di ruangan itu.

"Bukankah aku sudah mengatakan tidak akan menyakiti kalian jika tetap menjadi anjing penurut. Jadi lakukan apa yang kukatakan karena suara teriakan kalian membuat telingaku sakit." Dominic menunduk, "Dan itu hadiah untukmu Jendral Kim karena tidak bisa menjaga mulut besarmu." Kemudian menegakkan badan. "Bring him!"

Kelompok organisasi hitam itupun perlahan mulai menjauh membawa serta Jendral Kim yang dipapah akibat salah satu kakinya yg ditembak, namun Dominic segera menghentikan langkah saat menyadari ada sesuatu yang tertinggal. Perlahan lelaki itu membalik badan dan sedetik kemudian sesosok tubuh jatuh tersungkur tak bernyawa. Teriakan dan tangisan kembali mendominasi, namun tidak ada satupun yang berani beranjak dari tempatnya masing-masing, tidak sebelum sang penembak jitu pergi. Edward dan Nicholas yang kebetulan berada tepat di samping tubuh kaku itu mematung.

"Bukankah tadi kau mengatakan tidak akan menyakiti kami jika kami bersikap layaknya anjing penurut?" geram Edward, yang justru menciptakan pelototan tak percaya dari Nicholas.

"Edward!" hardiknya

"Atau jangan-jangan semua yang kau katakan tadi hanya tipuan?" tangannya mulai bersedekap, seakan menantang lelaki berbaju hitam disana.

"Edward! Diamlah! Jika kau tidak ingin bernasib sama seperti pria itu!" protes Nicholas berusaha menghentikan aksi konyol sahabatnya.

"Tidak sebelum aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku."

Dominic melihatnya kemudian pandangan keduanyapun bertemu. Edward yang menatap penuh keberanian, dan Dominic yang menatap tanpa ekpresi. Sementara yang lain tengah menahan nafas menunggu apakah lelaki berparas tampan itu akan meregang nyawa? Namun sampai satu menit terlewat tidak terjadi apa-apa, yang ada hanya Dominic melempar senyum misterius kepada Edward.

"Ku akui kau begitu pemberani anak muda." Ujarnya. "Dan yang kukatakan sebelumnya memang benar, tapi tidak berlaku bagi tikus pengganggu. Pria tua itu." kini matanya mengarah pada tubuh kaku di seberang sana. "Pernah mencoba menggagalkan bisnis kami di Cina dengan semua saran yang diusulkannya kepada pemerintah. Jadi sudah sewajarnya dia mendapatkan balasan atas apa yang hendak dilakukannya."

"Kalian begitu menggelikan." Cibir Edward tak percaya akan apa yang didengarnya.

"Yang kuatlah yang bertahan itu sudah hukum alam, young man. Dan sebenarnya aku terganggu dengan aksi heroikmu ini, tetapi berhubung aku tidak ada urusan denganmu maka kau itu amat sayang sekali jika orang setampan dirimu harus mati. Oh satu lagi untuk tuan Valentino Garavani, aku yakin kau bersedia membersihkan kekacauan ini dan sekedar saran juga untukmu, lain kali lebih selektiflah memilih tamu undanganmu." Setelahnya Dominic pun berlalu tanpa ada niat sekedar menolehkan kepala.

"Itu adalah hal paling berani atau paling bodoh yang pernah ku lihat,, Edward Oh?!" seru Nicholas sembari bersedekap.

"Bedanya tipis, man!" sahut Edward tak kemudian sebuah tepukan lembut mendarat di bahu lebarnya, adalah Valentino Garavani yang melakukannya.

"Kau sangat berani anak muda." Ujar lelaki itu merasa terkesan. "Tidak banyak orang sepertimu di dunia ini. Mungkin lelaki tadi benar bahwa organisasinya tidak ada urusan denganmu, tapi kusarankan kau lebih baik berhati-hati mulai saat ini."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri, tuan. Tapi terimakasih atas perhatian anda." Jawab Edward sembari tersenyum ramah.

Sementara Valentino dan Garavani terlibat obrolan ringan, Louise yang sejak kemunculan organisasi hitam itu selalu menempel pada Mattheo tak mampu menyembunyikan kegugupannya, dan hal itu tak lepas dari perhatian Nicholas.

"Maaf menyela obrolan anda, tuan-tuan. Tapi sepertinya ada yang tidak beres dengan model anda, tuan Valentino." Ujar lelaki Asia itu tanpa melepaskan pandangannya dari Louise membuat dua orang lainnya mengikuti arah pandang Nicholas.

"Louise!" panggil Valentino sembari mendekat bersama Nicholas dan Edward. "Are you okay?"

"Ak-aku-"

"Louise hanya kelelahan Tuan Garavani." Sergah Mattheo. "Saya harap anda dapat memahami jam terbangnya."

"Kalau begitu cepat pulang dan beristirahatlah." Louise hanya mengangguk. "Dan Tuan Kim, tolong perhatikan kembali jadwalnya."

"Saya mengerti, kalau begitu saya permisi."

"Maafkan aku, Val. Aku tidak bisa menemanimu hingga akhir acara." Sesal Louise

Valentino tersenyum simpul, iapun mengenggam jemari lentik Louise." Jangan dipikirkan! Lagipula pesta telah berakhir sejak kemunculan organisasi hitam itu." Tanpa menyadari raut ketegangan diwajah Louise. "Pulanglah!" perintahnya lembut dengan membelai surai hitam modelnya.

"Ayo, Lou!" ajak Mathheo lembut dan keduanya segera meninggalkan kediaman Valentino menyisakan Nicholas yang tetap setia menatap mereka, namun Louise sempat melempar lirikan singkat kearahnya membuat manik keduanya bertemu beberapa detik.

Untuk pertama kalinya Nicholas melihat sang model dalam jarak sedekat itu, untuk pertama kalinya Nicholas menatap langsung manik kelam Louise. Dan lelaki tinggi itupun membenarkan apa yang dikatakan banyak orang, bahwa pesona Louise Byun tidak terbantahkan. Sosoknya yang nyaris sempurna membuat siapa saja berlomba-lomba ingin memilikinya, tak terkecuali lelaki tua yang kini kembali menemui rekan-rekan bisnisnya walau pesta sudah usai, memohon maaf-mungkin. Bahkan saat punggung Louise dan Mathheo menghilang dari balik pintu pun Nicholas enggan mengalihkan atensinya. Dan apa yag dilakukan Nicholas juga tidak luput dari perhatian Edward, lelaki itu hanya terdiam membiarkan sang sahabat terlarut dalam dunianya.

.

.

.

"Jongdae-ya" panggil Baekhyun lirih.

"Hmm?"

"Kau kenal mereka?"

Alis Jongdae menukik, "Maksudmu dua orang lelaki tadi?" Baekhyun mengangguk. "Aku baru melihat mereka di pesta tadi, kurasa mereka hanya mengambil pekerjaan di sela-sela waktu senggang, kau tahu? Tipikal mahasiswa pada umumnya." Jeda sejenak, "Kenapa kau menanyakannya?

"Entahlah! Aku merasa seperti pernah melihat pemuda yang berbicara dengan Valentino tadi. Sorot matanya seakan sangat familiar tapi aku tidak tahu dimana pernah melihatnya."

"Itu hanya perasaanmu saja, pekerjaanmu mengharuskanmu bertemu banyak orang, mungkin diantara orang-orang tersebut ada yang memiliki sorot mata seperti itu, tegas, tajam dan terkesan bengis kalau boleh kukatakan."

"Mungkin saja."

"Sudahlah jangan terlalu kau pikirkan. Kau baru saja mengalami kejadian yang tidak terduga jadi jangan buang tenagamu untuk sesuatu yang tidak kau ketahui secara pasti,"

"Kau benar, mungkin itu hanya perasaanku saja." Ujar Baekhyun sembari menyamankan duduk di dalam mobil namun masih tercetak diwajahnya rasa penasaran akan pemuda tadi dan itu hanya menciptakan senyum simpul di bibir Jongdae.

"Kembali ke apartemen, paman!" ucap Jongdae kepada sang supir, tak bersenggang lama mobil putih itupun membaur bersama mobil-mobil lain yang memadati kota Milan.

.

.

.

"Itu tidak mudah, seharusnya kau paham akan hal itu" protes seorang pemuda berwajah lembut.

"Aku tidak menerima penolakan!" ujar lelaki satunya.

"Kalau begitu kau lakukan sendiri! Apa kau pikir gampang melakukan pekerjaan yang bukan keahlianku?"

Pemuda yang lain tersenyum sinis.

"Kau bicara begitu seperti kau tidak pernah melakukannya."

"Itu karena kalian yang memaksa. Pokoknya aku tidak mau!"

"Aku sudah pernah melihat kinerja yang kau bilang bukan keahlianmu, dan aku sangat puas akan hasilnya."

"Itu tidak merubah keputusanku. Lebih baik aku bekerja di dalam ruanganku membedah tubuh manusia daripada harus mengotori tanganku dengan darah manusia-manusia rendahan seperti mereka."

"Apa yang kau lakukan juga mengotori tanganmu, bodoh!"

Ditengah perdebatan dua lelaki tersebut, muncul lelaki lain yang berjalan angkuh kearah mereka.

"Hentikan perdebatan tidak bermutu kalian jika tidak ingin lidah kalian ku umpankan kepada Xena."

"Lidahku terlalu berharga jika harus menjadi makan malam singa betina peliharaanmu, brengsek" Sahut lelaki berwajah lembut tadi.

"Dan kau!" telunjuk panjangnya mengarah kepada pemuda tinggi satunya, "Jangan memaksanya! Apa yang dia lakukan belakangan ini hanya sekadar menggantikan kita yang terlalu asyik dengan dunia kita." Mendengar penuturan itu, lantas membuat lelaki yang satunya tersenyum menang.

"Kau terlalu membelanya,hyung!

"Dengar! Kita berkerja sesuai dengan porsi masing-masing. Kendati dia sebenarnya memiliki kemampuan yang sama seperti kita tapi lelaki ini lebih cocok melakukan apa yang selama ini dikerjakannya."

"Aku setuju."

"Tapi tidak menutup kemungkinan." Pemuda berparas tegas itu membalik badan menghadap satu-satunya lelaki yang lebih tua diantara mereka. "Suatu saat kau akan bergabung bersama kami."

Melihat ketegasan yang terkuar dalam setiap untaian kata dan tatapan tajam lelaki itu, membuat lelaki yang lebih pendek menghela pun tidak ada guna, karena setiap kalimat yang diucapkan adalah perintah mutlak tanpa ada penolakan.

"Aku tahu."

Dan menciptakan senyum timpang di bibir kedua pemuda lainnya.

"Dan jika tidak ada lagi pembicaraan tidak bermutu dari kalian aku harus kembali keruanganku, karena pasien kesayanganku telah menunggu. "Wajah yang awalnya terkesan lembut kini berubah layaknya seorang psikopat.

"Pergilah! Dan pastikan itu menjadi berita heboh di seluruh dunia."

"Dengan senang hati." Setelah frase itu terlontar, lelaki tersebut pun berlalu namun sebelum menutup pintu bercorak coklat itu ia sempat melontarkan kalimat yang membuat lelaki berparas tegas dan berpakaian hitam mendengus.

"Hati-hati dengan penglihatanmu!"

"Pergilah ke Neraka!"

Dan pintupun tertutup.

Setelahnya hanya ada keheningan, tapi itu tidak berlangsung lama karena beberapa detik kemudian suara tawa memecah kesunyian yang lelaki bersurai cokelat menatap tajam lelaki yang tengah tertawa tersebut.

"Apa yang kau tertawakan?" Ujarnya tanpa ekpresi.

"Hanya mentertawakan nasib tikus pengganggu diluaran sana. Aku penasaran apa yang akan terjadi besok saat mereka menemukan tubuh tanpa nyawa di depan kantor kepolisian Seoul?"

"Kau dilahirkan di Korea bahkan sempat merasakan kehidupan disana. Kenapa kau begitu senang melihat Negara itu hancur?"

"Persetan!" Sahut lelaki yang tertawa tadi penuh emosi, intonasi suaranyapun seketika berubah, kemudian melempar pisau tepat mengenai gambar salah seorang tokoh penting negeri ginseng tersebut. "Sejak mereka menghancurkan keluargaku, sejak saat itulah aku melupakan asal usulku. Dan asal kau tahu." lalu membalik badan, "Aku membenci darah leluhur yang mengalir ditubuhku, itu sangat menjijikkan sama seperti mereka."

Tak bersenggang lama terdengar suara teriakan seperti tengah kesakitan, menarik atensi kedua lelaki tersebut. Teriakan itu berlangsung selama beberapa detik sebelum akhirnnya menghilang dibalik pekatnya malam.

"Sepertinya dia lupa menutup pintu ruangan dan membereskan tikus itu sebelum melakukan tugasnya."

"Mungkin dengan mendengar jerit kesakitan dan wajah ketakutan korbannya saat beroperasi jauh lebih menarik ketimbang membelah tubuh yang sudah tak bernyawa. Jangan remehkan dirinya, dibalik wajahnya yang lembut tersimpan jiwa pembunuh yang sadis."

.

.

.

Louise menguap lebar sesekali matanya melirik malas jam yang ada diatas nakas, sembari merutuki kenapa pergerakan jarum jam tersebut terasa lambat. Karena bagi seorang Louise Byun yang setiap harinya selalu disibukkan dengan rutinitasnya sebagai seorang model tentu merasa bosan jika harus dihadapkan dengan yang namanya hari libur. Setelah melewati malam yang menegangkan di pesta ulang tahun Valentino Garavani, Mattheo selaku majaner Louise memberikan libur beberapa hari untuk modelnya. Bukan tanpa alasan lelaki Kim itu melakukannya, pasalnya di malam kejadian Louise terlihat sangat ketakutan dan ini pertama kalinya bagi lelaki tersebut melihat sang sahabat seperti itu.

"Membosankan!" gerutu lelaki bermata sipit tersebut, "Apakah Negara ini tidak memiliki acara yang berkualitas?" Lanjutnya sembari memencet tombol remot TV. Kegiatan itu terus berlanjut hingga akhrinya mata sipit itu melihat sebuah berita yang menayangkan tentang Negara asalnya.

Pemirsa, Jendral Kim Tae Jun ditemukan tergeletak tak bernyawa didepan kantor Kepolisian Seoul. Tidak ada yang percaya bahwa salah satu Jendral terbaik Korea Selatan itu pergi dengan cara yang sangat mengenaskan. Banyak yang menduga kematian Jendral Kim ada kaitannya dengan perjalanan beliau ke Italia beberapa hari yang lalu. Sampai berta ini diturunkan, belum ada yang satu pun pihak keluarga atau pun rekan beliau yang bisa memberikan keterangan perihal kematian Kim Tae Jun. hingga…..

"Berhenti menyaksikan berita itu! Itu hanya akan membuatmu paranoid." Louise sudah sedekat ini ingin melemparkan remot TV jika tidak menengenali siapa pemilik suara cempreng dan menyebalkan itu. "Sialan kau!" umpatnya.

Mattheo berjalan santai memasuki apartemen Louise kemudian meletakkan beberapa barang belanjaannya keatas meja makan.

"Jangan pernah menonton sesuatu yang membuatmu takut!" ujarnya sembari menyusun beberapa makanan diatas meja. "Sekalipun itu tentang Korea Selatan."

Louise mematikan TV kemudian melangkah menghampiri Mattheo.

"Menurutmu apa yang membuat kelombok berbaju hitam ini begitu sulit untuk di ringkus?"

"Uang."

Alis Louise mengernyit, "Apa maksudmu dengan uang?"

"Dengan uang, mereka bisa melakukan apa apa saja termasuk menyuap pihak-pihak tertentu untuk memuluskan bisnis mereka."

"Apa mungkin ada pihak kepolisian yang terlibat?"

"Itu bisa saja mengingat The Darkness seakan kebal akan hukum. Pasti ada beberapa pejabat pemerintahan yang melindungi mereka."

Kemudian hening.

"Kau baik-baik saja?" tanya Mattheo memecah kesunyian.

"Apa maksudmu dengan 'apa kau baik-baik saja'?"

"Aku mengkhawatirkanmu Baekhyun-ah."

Louise tersenyum simpul. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, meskipun peristiwa malam itu membuatku takut tapi aku bisa mengatasinya, jadi kau tenang saja."

"Berjanjilah padaku untuk selalu berhati-hati dan waspada terhadap orang-orang disekitarmu."

"Aku berjanji. Lagipula aku tidak selemah yang orang-orang bayangkan."

.

.

.

"Bagaimana?"

"Sudah kutemukan celah untuk melumpuhkannya."

"Kau yakin ini akan berhasil?"

"Jangan pernah meremehkan kemampuanku! Tapi aku penasaran akan satu hal, kenapa dia selalu mengincar orang-orang ternama?"

"Pemuda ini adalah aset yang amat sangat berharga, banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dan aku yakin dia pasti punya alasan khusus kenapa selama hampir tiga tahun ini mengawasi lelaki tersebut."

"Kuharap alasan itu masuk akal."

"Percayakan saja padanya tugas kita hanya mengeksekusi perintahnya."

"Dan kapan kita melakukannya?"

"Dalam waktu dekat."

TBC

.

.

Hai, masih adakah yang menunggu update an ff ini? Maaf updatenya lama tapi seperti yang pernah kukatakan diawal kalau ff ini akan sangat slow update memngingat genrenya bukan aku banget. Jujur aku sempat mikir untuk tidak melanjutkan ceritanya karena genre ini benar-benar sulit atau mungkin kemampuan otak ku yang mulai buntu?Entahah. Tapi setelah ku pikir berulang kali tetap ku putuskan akan tetap melanjutkannya kendati aku tidak tahu bagaimana nanti hasilnya. Yang jelas aku sudah menentukan ending dari The Wild harap Chapter ini gak berantakan dan bisa menghibur kalian semua.

Update jamaah barengan para Autrhor kece badai; Cactus93; ParkAyoung dan Baekhyeol. Silakan cek story mereka juga ya.

Berhubung besok udah lebaran aku mau bilang

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H

Minal Aidin Walfaidzin

Mohon Maaf lahir dan Batin.

Untuk kalian yang mudik hati-hati dijalan dan selalu jaga kesehatan, dan yang gak mudik ya sudah bukan masalah toh tetap ngumpul sama orang-orang tercinta.

Sampai ketemu setelah lebaran.