Hyurien92
Present
THE WILD ONE
Chapter 4
Louise Byun/Byun Baekhyun
Nicholas Park/Park Chanyeol
Edward Oh/Oh Sehun
Support
Dominic Zhang/Zhang Yixing
Mattheo Kim/Kim Jongdae
Valentino Garavani(OC)
Kim kai
Genre : Romance, Crime
Rate ; M
Warning : Boys Love/Shounen ai
Note : disini aku menggunakan dua nama untuk setiap cast kecuali Valentino Garavani dan Kim Kai, harap pahami situasi saat aku menggunakan nama asli ataupun nama western mereka.
Summary
Ketika perasaan itu datang disaat yang tidak tepat, apakah yang akan mereka pilih? Cinta? Ataukah mempertahankan eksistensi yang ada?
Nicholas mendengus ketika obsidiannya menangkap sosok Edward yang tengah mematut dirinya di depan cermin. Pikirnya-ada apa dengan teman sekaligus sahabatnya itu, tidak biasanya lelaki berkulit pucat itu berpakaian rapi seperti sekarang.
"Berhenti menatapku,Nick, jika kau tidak ingin jatuh cinta kepadaku,aku tahu bahwa aku sangat tampan." Timpal Edward penuh percaya diri membuat Nicholas berekpresi ingin muntah.
"Kau bukan lah tipeku, wahai muka datar." Ejek Nicholas."Tapi serius, apa kepalamu terantuk sesuatu saat dikamar mandi tadi? Tumben sekali kau serapi ini dan apa ini?" Nicholas memajukan kepalanya kearah mencium aroma lelaki itu"kau memakai parfum?"
"Ada yang salah dengan itu?"
"Woah,kau banyak berubah. Katakan padaku siapa lagi mangsamu kali ini, hmm!"
"Tentu seseorang yang berkelas. Bukankah kau tahu keahlianku?"
Nicholas mencibir merasa bahwa Edward tengah menyindirnya."Tidak usah kau banggakan kemampuan merayumu itu."
"Seriously,dude!" Edward membalik badan"cobalah buka hati dan pikiranmu. Sudah saatnya kau mencari pendamping hidup."
"Aku tidak tertarik." Sahut Nicholas sembari menuangkan air kedalam gelas
"Aku tahu, karena kau lebih tertarik pada si model Byun itu kan?"
Nicholas terbatuk dan itu membuat Edward terbahak.
"Sudah kuduga, bahwa kau tertarik pada model tuan Garavani bahkan sejak pertama melihatnya."
"Omong kosong macam apa ini?" Elak Nicholas
"Tidak usah mengelak Nick. Aku mengenalmu sejak kecil tentu aku tahu betul siapa dirimu."
Nicholas menyerah"katakanlah aku menyukai Louise Byun, tapi itu tidak ada artinya sama sekali-"
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Karena Louise tidak mungkin menyukaiku. Wake up, man! Lihatlah perbedaan diantara kami."
"Mau taruhan denganku?" tantang Edward
"Apa yang kau inginkan?" Nicholas langsung menyetujui taruhan itu tanpa pikir panjang,merasa tidak ada pilihan lain karena Edward adalah tipikal orang yang sangat menyebalkan.
"Mudah saja. Biarkan aku melakukan apapun yang ku mau."
"Bukankah selama ini kau selalu melakukan apapun yang kau mau?"
"Benar, tapi kau selalu mengawasiku. Tapi kali ini jika aku yang menang biarkan aku melakukan apapun yang ku mau, Bagaimana?"
"Dan jika aku yang menang, apa yang akan kau berikan Ed?"
"Aku yakin kau hanya bercanda jika menginkan sesuatu dariku, karena kau telah memilki apapun yang kau inginkan."
Nicholas terdiam seperti tengah memikirkan apakah menerima taruhan Edward atau justru menolaknya. Dan apa yang Edward katakan memang benar, jika dirinya menang sahabatnya itu tidak perlu memberikan apa-apa karena Nicholas telah memiliki segalanya jadi apapun yang dia inginkan mudah saja bagi lelaki Park itu mewujudkannya. Pun begitu dengan Edward, jika lelaki itu yang menang tentu Nicholas juga mampu memberikan apapun yang dia inginkan. Bukan maksud menyombongkan diri tetapi Nicholas sebenarnya terlahir dari keluarga kaya, namun memilih menyembunyikan identitasnya.
"Deal!" ujar lelaki bermata bulat tersebut, menciptakan senyum manis di bibir Edward." Berhenti tersenyum idiot seperti itu, kau seperti Joker."
"Kau tahu,Nick?" ujar Edward sembari merangkul bahu sahabatnya."Aku penasaran bagaimana rupa anak kalian nanti jika kalian bersama."
Nicholas merotasikan bola mata."Kau sinting, laki-laki tidak bisa mengandung dan melahirkan. Ku rasa kepalamu benar-benar terantuk sesuatu."
"Siapa tahu Louise Byun memiliki keajaiban."
"Ya ya ya. Silakan kau berimajinasi sesuka hatimu." Kemudian berlalu mengabaikan ucapan Edward setelahnya.
"Edward Oh benar-benar sinting, dan aku lebih sinting karena menerima taruhannya."
.
.
.
Kilau lampu disko, gelak tawa, aroma alkohol yang menguar serta hentakan tubuh yang tengah menari nampak menghiasi sebuah Klub malam di salah satu sudut kota Italia Semua orang yang berada disana seakan terlarut dengan dunia mereka masing-masing. Pemandangan seperti ini sudah sering terjadi diConteStaccio,salah satu klub malam terbaik di Italia yang beroperasi dari hari Selasa hingga Minggu pukul 19.00-04.00 pagi. Sebuah tempat hiburan malam yang menawarkan pertunjukan musik oleh band-band secara live. Contestacio adalah salah satu dari beberapa klub non-mainstream di distrik Testaccio, dan pendengarnyapun terdiri dari para intelektual, seniman dan penggemar musik punk dan alternatif.
Louise melangkahkan kaki memasuki tempat tersebut diikuti oleh beberapa pengawal pribadi yang mengekor dibelakangnya, oh, dan jangan lupakan keberadaan Mattheo yang selalu saja menempel padanya. Membuat lelaki bermata sipit itu merasa jengah akan sikap protective sahabat rangkap manajernya tersebut.
"Jangan memprotes jika kau tidak ingin ku tarik paksa meningalkan tempat ini." Ujar lelaki Kim itu saat menyadari Louise hendak memprotes tindakannya entah untuk yang keberapa kali dalam satu hari ini.
"Kau terlalu berlebihan! Ini tempat ramai apa yang khawatirkan, Matt?"
"Justru aku lebih khawatir jika kau berada di keramaian seperti ini. Kau tidak tahu saja tempat-tempat seperti ini lebih memudahkan bagi siapa saja yang ingin berbuat jahat."
"Seingatku kau sempat berkata untuk selalu menyuruhku di keramaian, dan sekarang aku berada di sini tapi kau masih saja khawatir."
"Kau—" ucapan Mattheo tak lantas berlanjut karena salah satu kenalan Louise mendekati mereka.
"Hei, Lou! How are you? Long time no see!" sapa seorang wanita berambut pirang.
"Hei Natalie! I'm fine, and how about you?" balas Louise sembari memeluk wanita tersebut.
"Never Better! oh Mr. Kim, nice to meet you" sembari mengulurkan tangan.
"Nice to meet you too, Nat" balas Mattheo menerima uluran tangan dari Natalie.
"Kalian hanya berdua?" tanya wanita seksi tersebut.
"Always." Sergah Louise tak minat mengundang gelak tawa dari wanita Eropa itu.
"Oh, Come on. Cobalah mencari pacar."
"Jadwalku terlalu padat,Nat, dan ku yakin kau juga tahu kalau jadwal manajerku ini juga sama padatnya denganku. So agak sulit kurasa jika kami mencari pacar." Seloroh Louise dengan memberikan delikan tajam kearah Mattheo namun tak di gubris oleh lelaki tersebut."Oh kau datang bersama siapa? Bukankah kau dan Brandon telah berpisah?"
"Aku mempunyai kekasih baru, asal kau tahu."
"Really? Who is he?"
"Wait a minute!" Natalie mengedarkan pandangan mencari seseorang yang datang bersamanya."Honey." panggilnya lembut dan menghampiri sosok yangberdiri tak jauh darinya." Mari ku perkenalkan dengan kenalanku."
Lelaki itupun mengikuti Natalie, dan betapa terkejutnya Louise serta Mattheo saat melihat lelaki tersebut.
"Kau—" seru kedua lelaki itu bersamaan.
Natalie yang awalnya hendak mengenalkan kekasihnya merasa bingung akan respon Louise dan Mattheo."Kalian sudah saling kenal?" tanyanya.
"Kami bertemu saat pesta ulang tahun tuan Garavani." Jawab Mattheo."Tentu kau tahu insiden yang terjadi disana, dan kekasihmu ini kebetulan berkerja sebagai salah satu pengantar minuman di pesta tersebut." Lanjutnya tanpa ada maksud merendahkan.
"Oh benarkah itu?"
"Hanya mengisi kekosongan disela-sela waktu istirahatku, sweety"
Mattheo kemudian mengulurkan tangan "Senang bertemu denganmu lagi, tuan—"
Dan lelaki itupun membalas uluran tangan Mattheo "Edward, namaku Edward Oh."
"Tuan Edward."
"Panggil Edward saja. Agar terdengar lebih akrab. Dan senang bertemu dengan kalian juga tuan Mattheo dan tuan Louise"
"Panggil nama saja, itu lebih baik." Kali ini Louise yang bersuara dan di balas anggukan oleh Edward."Oh jika kalian ingin bersenang-senang,pergilah! tidak apa-apa. Kami bisa menikmati waktu kami sendiri." Lanjutnya ketika menyadari Edward tengah melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
"Maaf tidak bisa menemanimu lebih lama, Lou. Ada kerjaan yang harus ku selesaikan." Sesal satu-satunya wanita diantara mereka.
"It's ok, Nat! kita bisa mengobrol lain kali."
"Hubungi aku jika kau tidak sibuk."
"Tentu."
"Baiklah kami pergi, sampai jumpa!" Setelah memberikan pelukan perpisahan pada Louise, Natalie pun segera pergi bersama Edward yang mengapit mesra lengannya.
"Aku tidak menyangka begitu mudah bagi Natalie menemukan pengganti Brandon." Ujar Louise yang terus memperhatikan kepergian dua sejoli itu yang langsung disesalinya ketika melihat Edward memagut mesra bibir Natalie.
"Memang seharusnya begitu. Putus cinta bukanlah akhir dunia." Timpal Mattheo.
Keduanya kemudian duduk di bangku depan meja bar sembari memperhatikan keadaan sekitar.
"Aku ingat betul saat pertama kali bertemu Natalie." Kenang Louise."Ketika itu dia baru pertama kali terjun di dunia Modelling, dia begitu gugup saat diminta berjalan diatas catwalk untuk memperagakan busana dari tuan Roberto. Kala itu dia masihlah gadis yang polos tapi lihatlah dia sekarang."
"Manusia cepat belajar, Lou. Beruntung saat itu kau memberinya kekuatan untuk menuntaskan kewajibannya. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada kariernya, terlebih itu adalah karya dari designer sekelas tuan Roberto."
Obrolan keduanya terhenti ketika indera pendengar Louise menangkap sebuah suara yang terasa familiar. Iapun membalik badan dan terkejut saat mengenali pemilik suara berat itu. Namun Louise tak kunjung buka suara, lelaki itu hanya diam.
Merasa ada yang memperhatikan lelaki pemilik suara berat itu pun ikut meolehkan kepala. Rekasinya juga sama seperti Louise ketika obsidiannya menangkap sosok indah di dekatnya.
"Louise Byun?" sapa lelaki itu
Louise yang kembali dari keterkejutannya segera merespon."Kau teman Edward, bukan?"
"Kau masih ingat ternyata. Oh apa kau melihat Edward?" tanya nya
"Dia baru saja pergi beberapa menit lalu bersama kekasihnya."
"Dia meninggalkanku lagi."
"Jika kau tidak keberatan kau bisa bergabung bersama kami." Tawar Louise
Alis Nicholas terangkat."Kami?"
"Iya, aku dan Mathheo, dia—" ucapan Louise terhenti ketika membalik badan dan menyadari Mattheo tidak ada di sebelahnya. Entah sejak kapan pemuda Kim itu pergi."Kurasa dia sedang ke toilet atau sedang menerima telpon."
"Apa boleh aku bergabung bersama kalian?"
"Tentu saja."
Nicholas pun segera mengambil tempat di sebelah Louise.
"Oh aku belum memperkenalkan diri." Ujarnya."Perkenalkan, namaku Nicholas Park. Kau bisa memanggil ku Nick atau Chanyeol."
"Chanyeol?"
"Itu nama Korea ku, dan bolehkah aku memanggilmu Louise?"
"Kurasa kita seumuran, jadi panggil Baekhyun saja. Itu juga nama Korea ku."
"Baiklah, Baekhyun." Jeda sejenak."ngomong-ngomomg apa kau tidak merasa terbebani selalu dikawal seperti ini?"
"Sebenarnya aku merasa risih dan tidak bebas. Tapi semenjak kejadian di pesta tuan Garavani penjagaan ku di perketat.
Keduanya lantas terdiam. Tidak tahu bagaimana memulai obrolan. Walau ini bukan kali pertama mereka bertemu tapi ini adalah pertama kalinya mereka bertemu dalam situasi normal pada umumnya. Kendati keduanya merasa canggung tapi bagi Chanyeol bisa sedekat ini bahkan mengobrol dengan sosok yang sedikit banyak menggetarkan hatinya membuat lelaki itu senang.
"kau sudah lama tinggal di Itali?" tanya Baekhyun berusaha memulai obrolan.
"Kurasa sejak aku berumur lima atau sepuluh tahun. Bagaimana denganmu?"
"Aku pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku jadi aku tidak tahu persis diusia keberapa aku menetap di Itali."
"Kecelakaan?"
"Yah, kecelakaan yang menewaskan orang tua dan juga adikku, sejak saat itu aku tinggal dipanti asuhan dan bertemu dengan Mattheo hingga akhirnya tuan Garavani memboyong kami ke Italia"
"Maafkan aku, Baekhyun aku tidak bermaksud mengingatkanmu akan memori yang menyakitkanmu."
Baekhyun tersenyum."Tidak apa-apa, itu sudah lama jadi aku sudah bisa mengatasinya."
"Pantas kalian begitu dekat, ternyata ada ikatan khusus diantara kalian."
"Sedikit banyak tuan Garavani lah yang membantuku mencapai posisiku sekarang. Lalu kau,Chanyeol? Apa yang membawamu ke Itali?"
Kecanggungan yang sempat dirasakan keduanya perlahan mencair karena obrolan ringan tersebut, merasa mereka cocok satu sama lain.
"Sebelumnya kami menetap di Rusia dan menjalankan bisnis keluarga tapi setelah ayahku tiada kakek membawa seluruh keluarganya pindah ke Milan dan memindahkan bisnis yang ada di Rusia ke Milan. Dengan alasan ingin melupakan kenangan menyakitkan di Rusia, biar bagaimanapun ayah ku wafat karena musuhnya. Yah kau tahu dunia bisnis itu terlalu kejam."
"Dan keluargamu tidak mengusut kasus kematian ayahmu?"
"Tentu kakek sudah menyelesaikannya. Dan orang yang menyebabkan ayahku wafat juga sudah mendapat hukumannya."
"Aku turut berduka cita, Chanyeol."
"Itu sudah lama, Baekhyun. Akupun sudah melupakannya. Tapi apa kau merasa kehidupan kita hampir sama?"
"Maksudmu?"
"Kita sama-sama menetap di Milan karena satu alasan. Kau yang kehilangan kedua orang tuamu karena kecelakaan dan aku yang kehilangan ayahku karena musuh-musuhnya. Bukankah itu kebetulan yang tak disengaja?"
Baekhyun menyesap minumannya."Benar, tapi bukan berarti kita jodoh."
"Hei, aku tidak mengatakan kita jodoh."protes Chanyeol tak terima akan pemikiran Baekhyun."Aku hanya mengatakan kebetulan yang tidak disengaja. Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Karena aku sudah hafal kalmat yang kau ucapkan tadi. Akhir dari kalimat-kebetulan yang tidak disengaja-adalah-mungkin-kita berjodoh"
Chanyeol bersedekap, meniliti Baekhyun dari atas sampai bawah."Kau tahu, Baek? Apa yang baru saja kau katakan menunjukkan bahwa kau terlalu sering dirayu."
Baekhyun tersedak minumannya setelah frase itu terlontar, membuat Chanyeol kelimpungan. Iapun segera mengambil sapu tangan yang berada di saku celana dan bergegas menghampiri Baekhyun. Entah keberanian dari mana Chanyeol yang awalnya ingin memberikan sapu tangan itu kepada Baekhyun justru berbalik membersihkan sisa minuman yang ada di sekitar bibir Baekhyun. Baekhyun yang menerima respon tersebut sudah pasti terkejut, tetapi menatap Chanyeol dari jarak sedekat ini juga melihat ekspresi keseriusan di wajah rupawannya kala membersihkan sisa air di wajahnya, membuat Baekhyun terpesona dan tidak memprotes perlakuan Chanyeol.
Sadar akan tindakannya, Chanyeol pun segera membuat jarak. Merasa tidak enak pada sosok yang dikaguminya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud lancing padamu,Baek." Sesal lelaki Park itu.
"Tidak perlu meminta maaf, aku memahaminya."
"Aku benar-benar minta maaf."
"Tidak perlu kau risaukan. Sungguh aku tidak apa-apa. Justru aku merasa kagum akan responmu,Yeol."
Kemudian keduanya terdiam, menetralkan detak jantung masing-masing. Biar bagiamanpun apa yang terjadi beberapa menit lalu membuat kinerja jantung keduanya berdetak tidak normal. Keterdiaman itu akhirnya pecah dikala Mattheo datang entah dari mana.
"Lou, maaf meninggalkanmu. Aku tadi sedang menerima telpon yang cukup penting jadi perlu suasana yang tenang,"
"Aku tahu."
"Oh hai tuan, kita bertemu lagi. Apa kau mencari temanmu?" ujar Mattheo saat melihat Nicholas disamping Louise
"Awalnya memang begitu tapi kurasa dia tengah bersenang-senang. Beruntung aku bertemu dengan Baekhyun jadi kami bisa mengobrol banyak."
"Baekhyun?" heran Mattheo
"Aku yang memintanya memanggil nama asli ku, Matt."
"Ah.. begitu rupanya. Oh perkenalkan namaku Mattheo Kim, tapi karena Louise mengijinkanmu memanggilnya Baekhyun jadi kaupun boleh memanggilku Jongdae."
"Kalau begitu panggil juga aku Chanyeol." Keduanya pun lantas berjabat tangan.
"Oh, Lou. Kita harus pergi sekarang. Tuan Song memintaku untuk membawamu ke rumahnya."
"Selarut ini? Dan apa kau lupa aku sedang menikmati waktu liburku?""
"Kau tahu kan siapa tuan Song itu."
"Dasar tua bangka sialan. Kenapa dia tidak mati saja?"
"Sudahlah, jangan mengumpat! Kita pergi sekarang!"
"Chanyeol, maaf aku harus pergi. Apa kau mau ikut pulang bersama kami? Kurasa temanmu tengah asyik dengan dunianya."
"Kau pulanglah,aku bisa pulang sendiri."
"Apa kau yakin tidak ingin ikut bersama kami?"
"Tidak perlu, aku membawa motor sendiri. Oh Baekhyun, apa aku boleh tahu nomor ponselmu?"
Baekhyun lalu mengeluarkan secarik kertas dari tasnya kemudian menuliskan deretan angka disana. Setelahnya lelaki itu memberikan kertas tersebut kepada Chanyeol.
"Itu nomor ponselku. Kau bisa menghubungiku kapan saja."
Chanyeol tersenyum sumringah layaknya seorang idiot, menciptakan kikikan di bibir Jongdae."Terima kasih. Akan kuhubungi kau nanti."
"Baiklah, kami pergi."
"Hati-hati dijalan."
Setelahnya kedua lelaki yang memiliki tinggi badan hampir sama itu pergi meninggalkan Chanyeol di belakangnya yang masih mempertahankan senyum lebarnya.
"Kau bahagia sekali." Suara Edward melunturkan senyum idiot Nicholas.
"Sialan!" Maki lelaki itu."sejak kapan kau berada disini? Bukankah kau tengah bersenang-senang bersama kekasih barumu."
"Urusanku dengan Natalie sudah selesai, dan aku berada disini sejak kau tersenyum layaknya seorang dungu saat menerima kertas dari model seksi itu dan kutebak apa yang tertulis dikertas itu adalah nomor ponselnya." Mendengar itu Nicolas segera memasukan kertas tersebut kedalam saku celananya." Wah sepertinya aku hampir mendekati kemenanganku akan taruran kita tempo hari."
"Yang terjadi disini belum bisa membuktikan apa-apa."
"Logikanya saja,Park. Mana ada lelaki yang mau memberikan nomor ponsel kepada orang lain yang baru dikenalnya jika lelaki itu tidak menaruh hati pada orang tersebut."
"Kau terlalu banyak membaca novel romansa, tuan Oh."
"Aku berbicara berdasarkan pengalamanku."
"Terserah."
Kemudian keduanya meninggalkan tempat hiburan malam tersebut, mengabaikan seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi yang sempat terjadi antara Nicholas,Edward,Louise dan Mathheo.
"Mr. Song. Kau ingin bermain-main rupanya. Tunggu aku, maka akan ku hadapi permainanmu."
.
.
.
"Kalian terlihat akrab, apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Mattheo sesaat setelah mobil yang dikemudikannya melaju.
"Kami hanya mengobrol biasa, tidak ada yang istimewa." Jawab Louise seraya menyamankan duduknya.
"Benarkan? Tapi interaksi kalian seperti sudah lama saling kenal, terlebih kau dengan begitu mudahnya memberikan nomor ponselmu kepada lelaki itu."
"Aku hanya menghargai permintaannya, Matt. Akan terasa aneh jika aku menolaknya tanpa sebab."
"Apa kau yakin hanya itu? Bukan karena kau tertarik padanya?" Mattheo terus menggoda Louise.
"Kau bicara apa? Fokus saja pada menyetirmu!"
"Wajahmu memerah, Lou, tebakanku tepat kan. Kau juga menyukai si tinggi itu."
"Kau berisik!"
"Uh Uri Baekhyunie sudah dewasa."
"Yak, Kim Jongdae!"
"Baiklah-baiklah aku tidak akan menggodamu lagi. Tapi aku serius. Jika kau bersama dengan Chanyeol, aku akan menyetujuinya. Secara fisik dia tampan, tinggi dan badannya juga bagus jadi mampu melindungimu dari segala macam bahaya. Dan apa kau liat otot yang ada di perutnya?"
"Aku bukan maniak sepertimu."
"Ingin rasanya aku mencuci baju di atas otot perutnya. Dan dadanya, uh membuatku ingin bersandar disana."Mattheo terus berceloteh seakan memamerkan kesempurnaan Chanyeol kepada Louise."Hanya satu kata untuk tuan Nicholas Chanyeol Park. So hot."
"Apa-apaan itu? Nicholas Chanyeol Park. Kau tahu Matt, kau seperti maniak."
"ya ya ya, terserah kau menganggapku apa, yang jelas hanya orang bodoh yang tidak membenarkan semua ucapanku."
"Terserah kau saja."
Setelahnya Louise memejamkan mata berusaha tidak memikirkan semua ucapan sahabatnya, Kendati lelaki bermata sipit itu mati-matian melupakan sosok Chanyeol tapi tidak bisa di pungkiri kesempurnaan yang dimiliki lelaki Park itu menarik minat Louise. Senyum kecilpun tersungging di sepasang bibir mungilya.
.
.
.
Setelah dua jam berkendara, akhirnya Louise dan Mattheo tiba di halaman rumah Tuan Song. Suasana yang lengang seperti tak berpenghuni menciptakan lekukan tajam di alis Mattheo.
"Kenapa begitu sepi? Tidak biasanya rumah si tua itu sesepi ini."
"Kau yakin ini rumah yang di maksud pria berumur itu?"
"Tentu saja. Aku sudah mengkonfirmasi kebenaran alamat yang diberikan tuan Song pada tuan Garavani. Apa kau keberatan jika kita memeriksa kedalam,Lou?"
"Kau yakin ingin memeriksanya? Kenapa tidak menyuruh Albert dan yang lainnya untuk memeriksa?" tanya Louise seraya mengedarkan pandangan ke sekitar rumah.
"Akan sangat merepotkan jika seandainya tuan Song ternyata ada didalam dan bertemu Albert lebih dulu."
"Baiklah, kita periksa bersama-sama. Pinta Albert dan beberapa temannya ikut bersama kita, sisanya suruh menunggu di luar."
Kedua sahabat itu akhirnya keluar dari dalam mobil kemudian berjalan memasuki rumah bergaya khas Eropa tersebut bersamaan dengan beberapa pengawal pribadi Louise. Langkah mereka begitu pelan dan sangat hati-hati, mengantisipasi kemungkinan yang bisa saja terjadi di dalam rumah megah tersebut.
"Tuan Song? Apa anda didalam?" tanya Mattheo namun tidak ada sahutan dari sang pemilik rumah."aku dan Louise telah datang sesuai dengan permintaan anda." Masih tidak ada jawaban.
Kesunyian ini sedikit banyak membuat Louise takut, ia pun secara refleks merapat kepada Albert.
"Bisakah anda tidak bermain petak umpet? Karena ini sungguh tidak lucu." Baekhyun mulai membuka suara tapi hasilnya tetap sama, tidak ada sahutan dari sang pemilik rumah."Matt, ini baru pertama kali terjadi. Biasanya walau tuan Song tidak ada di tempat pasti ada pengawal atau pekerja rumah yang berkeliaran tapi sekarang tidak ada satupun yang terlihat."
"Akan ku periksa dilantai atas bersama yang lain, kau tetaplah bersama dengan Albert disini."
Baekhyun mengangguk dan setelahnya Mattheo mulai menaiki satu persatu anak tangga tersebut sambil sesekali memanggil sang pemilik rumah. Selepas kepergian Mattheo, Louise mengedarkan pandangan kesegala penjuru rumah dan ada satu ruangan yang menarik perhatiannya. Dengan diikuti Albert di belakangnya, lelaki Byun itupun memasuki ruangan tersebut yang secara kebetulan tidak terkunci. Sesampainya didalam tidak ada hal menarik yang ditemukan Louise selain beberapa buku yang tersusun rapi didalam rak, yang ia tebak ruangan ini di gunakan sebagai ruang baca oleh si pemilik rumah.
Merasa kesal karena telah dipermainkan Louise pun berniat meninggalkan ruangan itu, namun belum sempat ia melangkahkan kaki, secara tidak sengaja ekor matanya menangkap secarik kertas yang tergeletak diatas meja. Louisepun mendekat dan membaca isi yang tertera dalam kertas tersebut.
"Sialan!"umpatnya."Seenaknya saja menyuruhku datang selarut ini tapi kenyataannya si tua itu pergi dengan alasan perjalanan bisnis yang mendadak."
"Tidak ada tanda-tanda keberadaan tuan Song di lantai atas." Seru Mattheo sesaat setelah bergabung bersama Louise dan Albert.
"Kau bacalah!" sungut sang model seraya menyerahkan kertas tadi kepada Mattheo. Dan setelah membaca isi surat tersebut, Mattheo pun sama kesalnya dengan Louise.
"Tapi apa kau tidak merasa aneh? Melihat karakter dari tuan Song, rasanya tidak mungkin beliau membatalkan jadwal pertemuan tanpa memberi kabar sebelumnya."
"Aku tidak perduli, yang jelas setelah ini aku akan berpikir dua kali jika diminta untuk datang menemui si tua itu. Menyusahkan saja."
"Aku akan meminta tuan Garavani untuk mengatur ulang jadwal pertemuanmu dengan tuan Song."
"Tidak perlu! Aku tidak ingin berurusan dengan pria Korea itu. Ini bukan kali pertama dia melakukan ini pada kita,Matt."
"Tapi dia membutuhkan jasamu untuk menghiasi salah satu majalah ternama di Korea,Lou. Dan setahuku kau dan tuan Song sudah terikat kontrak yang apabila dibatalkan secara sepihak salah satu dari kalian harus membayar ganti rugi yang tidak sedikit."
"Aku tidak perduli! Aku lebih memilih untuk membayar ganti rugi ketimbang harus berurusan dengannya lebih lama lagi."
"Lou—"
"Sudahlah! Aku ingin pulang. Kita pergi Al."
Louise mulai menjauh dan Mattheo hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Merasa tidak ada gunanya melawan sifat keras kepala seorang Louise Byun. Sejujurnya lelaki itu juga tidak ingin berurusan dengan pemilik salah satu majalah ternama Korea tersebut, pasalnya Mattheo tahu betul siapa itu tuan Song. Sering kali pria tua itu mencoba mendekati Louise padahal dia telah berkeluarga. Sifat mata keranjang tuan Song membuat Louise dan Mattheo gerah, jadi wajar saja jika modelnya tidak ingin berurusan dengan pria setengah abad itu, dan apa yang dilakukan Mattheo tadi semata-mata hanya ingin menjaga keprofesionalitasannya..
Dengan satu hembusan nafas lagi, Mattheo akhirnya menyusul Louise yang telah berjalan jauh didepannya.
.
.
.
"Kali ini kau sangat mengecewakan." Sindir Dominic kepada pria berbaju merah di sebelahnya yang tengah asyik menyesap wine.
"Aku punya alasan kenapa melakukannya,Dom." Sahut pria itu.
"Oh ya? Dan apa alasanmu kali ini?"
"Alasan yang sangat berguna bagi kita terutama baginya, lagipula aku masih memerlukan orang itu."
Dominic bersedekap."bukan karena kau mulai tertarik padanya? Tidak biasanya kau melepaskan mangsamu."
"Percayalah, aku punya rencana kenapa membiarkannya tetap hidup."
"Dan kuharap rencana itu berhasil." Suara itu menginterupsi obrolan Dominic dan pria satunya. Keduanya menelengkan kepala, menatap pemuda tinggi yang tengah bersender di pintu dengan angkuhnya."Karena jika tidak, kau tidak akan selamat."
"Saat kau meminta kami untuk mengawasinya, saat itulah aku memerlukan seseorang sebagai alibi untuk memuluskan rencanamu, wahai tuan sempurna. Dan secara kebetulan dia cukup dekat dengan targetmu."
"Kuserahkan semuanya kepadamu. Dan ingat aku tidak ingin ada kesalahan."
"Aku bersumpah, targetmu akan kau dapatkan."
"Bagaimana jika kali ini kau gagal?" tanya Dominic main-main, karena lelaki itu tahu kemampuan pria disebelahnya tidak diragukan lagi.
"Kau boleh melakukan apa saja kepadaku, my boy!" jawab lelaki berbaju merah itu sembari membelai lembut pipi Dominic kemudian mengecup mesra pipi tersebut. sementara lelaki satunya hanya menatap interaksi keduanya tanpa ekspresi.
"Dan apa kau sudah mengerjakan perintahku, Dominic Zhang?!" kendati itu adalah sebuah pertanyaan, tapi bagi Dominic dan lelaki disebelahnya apa yang diucapkan lelaki tinggi disana adalah sebuah pernyataan yang mempunyai arti tersendiri. Dimana tersimpan ketegasan didalam setiap kata yang terlontar.
"Aku tidak pernah mengecewakanmu. Kita hanya tinggal duduk manis menunggu kabar baiknya." Bibir Dominic tersungging menciptakan senyum timpang.
.
.
.
Secercah sinar mentari pagi mengusik tidur nyaman Louise dengan enggan lelaki itu pun bangun dari mimpi indahnya. Sepi, itulah yang selalu dirasakan Louise setiap bangun tidur di keesokan harinya tapi inilah kehidupan seorang Louise Byun yang sudah dijalaninya hampir sepuluh tahun lamanya. Mulutnya menguap lebar ketika melihat jam di atas nakas yang menunjukkan pukul 8 pagi. Kemudian lelaki itu turun dari tempat tidur dan berjalan terseok-seok memasuki kamar mandi.
Setelah hampir satu jam lamanya merapikan diri, Louise pun keluar dari kamarnya menuju ruang makan dimana tercium aroma yang membuat perutnya menjerit minta diisi.
"Morning, Mr. Byun?" sapa Rosalie saat Louise telah duduk di kursi meja makan.
"Morning, Rose."
Rosalie adalah asisten rumah yang di perkerjakan oleh Valentino Garavani untuk merawat apartemen Louise. Bekerja dari pagi sampai sore hari.
"Mr. Kim tadi menelpon dan berkata dia akan terlambat menemuimu hari ini."
"Hmm"
"Dan aku minta maaf karena harus pulang setelah ini. Ibuku sedang sakit dan beliau sendirian dirumah."
Louise terkejut."Bibi Jeny sakit? Apa kau sudah membawanya ke Dokter?"
"Setelah dari sini aku akan langsung membawa ibu ke rumah sakit."
"Kalau begitu cepat pergilah, jangan membuat ibumu menunggu terlalu lama. Aku memberikan mu cuti selama ibumu sakit."
"Thanks, Mr. Byun."
"Sampaikan salam ku pada bibi Jeny, aku akan menjenguknya lain kali."
"Tentu. Akan ku sampaikan. Aku pergi Mr. Byun."
Selepas kepergian Rosalie suasana di apartemen Louise kembali sepi. Iapun dengan santainya menghabiskan sarapan pagi, tetapi semenit kemudian sebuah ide terlenintas di otaknya.
.
.
.
Tetesan air membasahi dada bidang Nicholas, aroma segar nampak tercium dari tubuh atletisnya. Edward yang memperhatikan tidak berniat untuk berkomentar, tubuh yang setengah telanjang hanya memakai selembar handuk guna menutupi tubuh bagian bawah, ditambah tetesan air dari rambutnya yang basah meluncur dengan mudahnya membasahi dada dan punggung Nicholas, bahkan gerakan tangannya yang tengah mengeringkan rambutpun tak luput dari perhatian Edward.
"Beruntung kau bukanlah tipe idealku, Nick" Edward akhirnya membuka suara setelah beberapa menit terdiam, merasa jengah akan kelakuan Nicholas yang seakan menggodanya dengan aktivitasnya."kalau tidak, aku akan menyerangmu saat ini juga."Edward mecibir"apa-apaan ini? Kau berlagak bak pangeran negeri dongeng, keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk, membiarkan tetesan air membasahi tubuhmu terutama lantai kamar, sialan! Belum lagi gerakan tangan lambatmu yang tengah mengeringkan rambut. Oh Tuhan, kau benar-benar sialan!"
"Kenapa? Kau iri padaku?" Nicholas menaik turunkan alisnya.
"Pergilah ke Neraka!"
"Mungkin ini gila, tapi terlepas dari taruhan kita tempo hari, aku ingin lebih dekat dengan Louise." Dan kini penampilan Nicholas sudah rapi seperti biasanya.
"Sepertinya aku mencium aroma keinginan untuk memiliki Louise Byun dari dirimu."
"Kita lihat saja, apakah pemikiranmu bahwa Louise akan berbalik menyukaiku akan terbukti atau justru sebaliknya."
"Kau tahu, Nick? Hanya dengan sekali liat, aku sudah tahu kalau kau juga mengharapkan Louise membalas rasa sukamu."
"Hei, aku tidak mengatakan kalau aku menyukai Louise."
Edward merotasikan bola mata." Katakan itu pada lelaki yang beberapa menit lalu berkata ingin lebih dekat dengan Louise."
Skakmatt
Nicholas tiak mampu berkutik dari serangan Edward.
"See? Kau bahkan tidak mampu membalas ucapanku."
"Hanya satu yang ingin ku katakan."balas Nicholas" Aku berharap kau benar-benar pergi ke neraka!" membuat Edward terbahak mendengarnya.
Menjalin pertemanan sekian lama tentu membuat Edward dan Nicholas memahami karakter masing-masing. Dan setiap ada kesempatan untuk menggoda Nicholas, tentu Edward tidak akan melewatkannya karena menggoda Nicholas adalah hal yang sangat menyenagkan bagi Edward dan jika sahabatnya itu telah terpojok selalu saja kalimat itu yang akan di ucapkannya.
.
.
.
""Aku sedang belanja, mungkin sekitar satu atau dua jam lagi akan pulang." seru Louise sembari memilah-milah beberapa lembar pakaian.
"Kenapa kau pergi tanpa pengawalan?" Protes Mattheo diujung telpon.
"Aku bukan putra presiden yang harus selalu dikawal."
"Ini Semua demi kebaikanmu,Baekhyun."
"Aku juga ingin menjadi Baekhyun bukan sebagai Louise."
"Terserah, jika kau tidak kembali dalam satu jam aku bersumpah aku akan…."
"Aku tahu, kau menyebalkan!" Dan Louise pun mematikan sambungan telpon mengabaikan umpatan yang hendak dilontarkan sahabatnya.
Kemudian lelaki ini kembali melanjutkan kegiatannya. Sesekali bibir tipisnya menyanyikan beberapa bait lagu untuk menemani aktivitasnya berbelanja. Tangannya pun dengan cekatan mengambil beberapa setel pakaian kemudian mencocokkan dengan warna kulitnya melalui cermin besar yang terpasang di beberapa sudut toko. Saat tengah asyik memperhatikan pantulan dirinya di cermin, tanpa sengaja Louise menangkap kehadiran seseorang yang berdiri beberapa ratus meter yang tengah memperhatikannya. Dalam keadaan tertangkap basah tersebut lelaki misterius itu bukannya bersembunyi tetapi justru berdiam diri disana sengaja menunjukkan keberadaannya.
Awalnya Louise mengira lelaki tersebut tengah memperhatikan orang lain, namun saat dirinya bergerak untuk mengambil pakaian yang lain pandangan lelaki itu selalu mengikuti pergerakannya. Merasa dirinya dalam bahaya Louise pun perlahan berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaannya dan sebisa mungkin bersikap wajar seakan tidak terjadi apa-apa. Setelah menyerahkan sejumlah uang, lelaki Korea itu segera meninggalkan toko tersebut. Dan dalam keadaan seperti ini Louise teringat akan ucapan Mattheo yang menyuruhnya untuk selalu berada Louise menyadari bahwa lelaki misterius tersebut tengah membuntutinya, tanpa pikir panjang lelaki itu segera memencet angka satu di layar hanphone yang mana langsung tersambung kepada manajernya.
"Kau sudah selesai?"
"Jongdae ya, sepertinya aku diikuti."
Sementara diujung sana Jongdae berdiri dari tempat duduknya dengan tangan yang mengepal kuat.
TBC
Ada yang ngerasa fanfic ini ngeboringin gak? Atau alurnya terlalu lambat? Jujur aku sempat ngestuck beberapa hari ngerjainnya karena itu aku kurang percaya diri untuk ngepost chapter ini and sorry for typo.
Oh iya, ada yang ngerasa kurang nyaman gak sama nama western mereka? Jujur aja deh….
Okelah aku gak bisa kasih komentar apa-apa, yang jelas terima kasih bagi teman-teman yang bersedia meluangkan waktu membaca The Wild One.
