Hyurien92

Present

.

.

.

THE WILD ONE

Chapter 5

.

.

.

Louise Byun/Byun Baekhyun

Nicholas Park/Park Chanyeol

Edward Oh/Oh Sehun

.

.

.

Support

Dominic Zhang/Zhang Yixing

Mattheo Kim/Kim Jongdae

Valentino Garavani(OC)

Kim Kai

.

.

.

Genre : Romance, Crime

Rate ; M

Warning : Boys Love/Shounen ai

.

.

.

Note : disini aku menggunakan dua nama untuk setiap cast kecuali Valentino Garavani dan Kim Kai, harap pahami situasi saat aku menggunakan nama asli ataupun western mereka..

.

.

.

Summary

Ketika perasaan itu datang disaat yang tidak tepat, apakah yang akan mereka pilih? Cinta? Ataukah mempertahankan eksistensi yang ada?

Louise terus melangkahkan kakinya tanpa kenal lelah berusaha membaur ditengah padatnya orang-orang yang berlalu lalang disalah satu Mall terbesar di kota Milan. Terkadang lelaki itu juga memasuki satu toko ke toko lainnya, guna menghindari seseorang yang sedari tadi terus mengekorinya, atau jika Louise beruntung, dirinya mamp lolos dari seseorang itu. Louise tidak tahu siapakah sosok yang terus membuntutinya, apakah fans fanatik ataukah seseorang yang berniat jahat kepadanya?.

Dan apakah Louise yang terlalu lamban ataukah sosok dibelakangnya yang mempunyai penglihatan setajam elang, hinnga selalu berhasil menemukannya dimanapun lelaki Asia itu melangkah. Sungguh, perasaan takut telah menguasai diri Louise, dan dengan tubuh bergetar lelaki itu mengeluarkan ponsel pintarnya kemudian menghubungi Mattheo.

"Jongdae ya, sepertinya aku sedang diikuti."

Bersamaan dengan itu sebuah sentuhan lembut mendarat di pundaknya, membuat Louise seakan sulit untuk bernafas.

"Byun Baekhyun!"

.

.

.

Mattheo memasuki rumah Valentino Garavani dengan langkah cepat, gerakannya bak lesatan peluru. Fokusnya hanya satu, menemui lelaki itu dan meminta bantuan untuk menemukan Louise.

"Biarkan aku masuk!" ucap Mattheo dengan nafas memburu ketika dihadang oleh beberapa bawahan sang Maestro"Aku ada urusan dengan Tuan Garavani."

"Maaf Tuan Kim, Tuan Garavani sedang ada tamu penting." Jawab salah satu bawahan yang diketahui bernama Xavier.

"Aku tidak perduli!" hardik lelaki Kim tersebut"apa yang ingin ku sampaiakan ini menyangkut keselamatan Louise."

"Tuan Louise Byun?" tanya Xavier sekadar memastikan apakah Louise yang dimaksud adalah model kesayangan tuannya.

"Kau pikir ada berapa model yang bernama Louise Byun di Italia yang berada dibawah naungan Tuan Garavani? Sekarang biarkan aku masuk, bodoh!"

"Tapi—"

"Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Louise, aku bersumpah hidup kalian tidak akan tenang."habis sudah kesabaran Mattheo, dia yang biasanya bersikap tenang sekarang mengeluarkan ancaman yang selama ini tidak pernah dilakukannya.

Xavier dan beberapa bawahan lainnya terdiam dan kesempatan itu digunakan Mattheo untuk menerobos ruang kerja Valentino. Pintu yang dibuka secara kasar membuat dua pria yang berada didalamnya menolehkan kepala.

"Sepertinya anda kedatangan tamu,Tuan." ujar lelaki yang duduk dihadapan Valentino.

"Maaf atas ketidaknyamanan ini."sesal lelaki berdarah Italia tersebut.

"Tidak masalah, Kita bisa melanjutkan obrolan lain kali."

Lelaki tinggi itu berdiri, dan setelah berjabat tangan dengan Valentino ia pun berlalu melewati Mattheo tanpa menoleh sedikitpun seakan lelaki itu hanya sebuah tembok. Namun disaat itulah Mattheo seperti mengenali sosok tersebut.

"Dan Tuan Garavani." Seru lelaki itu saat membuka pintu."jangan kecewakan aku!" kemudian keluar dari ruangan bercorak hitam tersebut. Walau intonasi yang digunakan biasa saja tetapi entah mengapa bagi Mattheo tersirat ancaman di dalamnya jika Valentino mengecewakan lelaki itu.

"Kuharap kau punya alasan kuat datang kesini dan mengganggu pembicaraanku dengan Investorku, Tuan Kim." Ucapan Valentino mengembalikan kesadaran Mattheo.

"Dia-investor anda?"

"Benar, dan yang terkuat."jeda sejenak."Jadi ada kepentingan apa kau datang kesini?"

"Ini tentang Louise."

"kenapa dengan Louise? Bukankah saat ini dia tengah menikmati waktu istirahatnya."

"Tidak! Beberapa saat lalu Louise menghubungiku dan mengatakan bahwa dia sedang diikuti."

Gerakan tangan Valentino yang sedang mencatat sesuatu di kertas terhenti, dan memusatkan perhatian kepada Manajer modelnya.

"Apa maksudmu Louise sedang diikuti?"

"Louise meninggalkan apartemen tanpa pengawasan."

Sontak pernyataan itu membuat Valentino terkejut."Bagaimana bisa? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk selalu bersamanya?"

"Saat itu aku sedang tidak ada, dan akupun tidak tahu bagaimana caranya Louise lolos dari pengawal-pengawalnya."

"Dan sekarang Louise dalam bahaya menurutmu?"

"Jika benar dia sedang diikuti,artinya nyawa Louise dalam bahaya. Kumohon,temukan Louise! Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya."

"Kau tenang saja. Louise pasti baik-baik saja. Kita pasti bisa menemukannya."

Selanjutnya hanya ada keheningan, kedua lelaki berbeda kebudayaan itu sama-sama terdiam. Keheningan itu terjadi selama hampir lima belas menit sampai suara dering ponsel memecah kesunyian itu dan Mattheo pun mengetahui siapa yang tengah menelponnya.

"Hallo,Baekhyun-ah"

"Jongdae-ya, aku—"

"Hallo, Tuan Kim?"

Terdengar suara asing di telpon Louise, menciptakan lekukan alis di wajah Mattheo, membuat jantungnya berkerja dua kali lipat,. Bagaimana jika pemilik suara ini adalah orang jahat? Yang berniat mencelakai Louise. Namun semua kekhawatiran itu lenyap saat Mattheo mendengar ucapan lelaki itu selanjutnya.

"Aku Nicholas, maaf tapi sepertinya Louise sedang ketakutan. Bisakah anda menjemput Louise di apartemen ku?, karena aku tidak bisa mengantarnya pulang, Louise tidak bisa ku mintai alamat tempat tinggalnya."

"Baik, Tuan Nicholas. Aku akan segera menjemputnya. Bisa kau sebutkan alamat apartemenmu?"

"Aku tinggal di kawasan—" Nicholas lalu menyebutkan sebuah alamat.

"Baiklah, sekitar 20 menit lagi aku tiba disana, tolong jaga Louise selama aku belum tiba. Terima kasih atas bantuan mu, Tuan Park."

"Akan ku pastikan Louise aman bersama ku, Tuan Kim"

Setelahnya sambungan komunikasi pun terputus, dan tanpa menghiraukan Valentino Garavani, Mattheo segera berlalu dari rumah lelaki itu.

.

.

.

"Minumlah!" suruh Chanyeol seraya memberikan secangkir teh hangat kepada Baekhyun.

"Terima kasih." Sahut lelaki itu, masih tersisa ketakutan di dalam suaranya.

"Apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol hati-hati.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ada seseorang yang mengikutiku sejak tadi. Dan sepertinya seseorang sedang mengawasiku. Aku takut" Baekhyun menelan ludah" aku takut menjadi incaran The Darkness berikutnya."

Chanyeol terpekur"Apa kau yakin? Maaf bukan maksud meragukan ceritamu tapi bisa saja itu penggemar fanatikmu."

"Aku tidak yakin, Yeol. Tapi aku benar-benar takut."

Chanyeol yang melihat kekalutan pada diri Baekhyun merasa iba, secara naluri lelaki itu kemudian mendekat kepada Baekhyun kemudian merengkuh si mungil dan menyandarkan kepalanya ke dada lebarnya sembari membelai surai hitam itu dengan lembut.

"Tenanglah! Kau aman sekarang, akan ku pastikan tidak ada yang menyakitimu disini."

Keduanya kemudian terlarut dalam dunia masing-masing, Chanyeol yang terus menyalurkan ketenangan kepada Baekhyun dengan sentuhan-sentuhan lembutnya, sedangkan Baekhyun yang terlena dengan kenyamanan yang diterimanya. Tidak ada yang membuka suara. Keduanya seperti tengah menikmati moment kebersamaaan mereka, hingga suara ketukan pintu membuyarkan kenyamanan tersebut.

Dengan enggan, lelaki bermarga Park itu melepaskan dekapannya kemudian keluar dari kamar yang ditempati Baekhyun dan membuka pintu apartemennya.

"Selamat sore Tuan Kim." Sapa Chanyeol ramah tatkala melihat Mattheo berdiri di balik pintu itu.

"Selamat sore Tuan Park. Apa Baekhyun baik-baik saja?" Tanyanya tak mampu membendung kekhawatiran.

"Baekhyun baik-baik saja tapi kurasa dia masih mengalami sedikit trauma."Chanyeol kemudian mempersilakan Jongdae memasuki apartemennya dan meminta lelaki itu untuk duduk. "Sebenarnya apa yang terjadi?" kali ini Chanyeol yang tak mampu membendung rasa penasarannya.

"Aku tidak tahu apakah aku pantas menceritakannya tapi karena kau bisa dikatakan menyelamatkan Baekhyun kurasa kau harus tahu apa yang terjadi." Jeda sejenak"Tentu kau pernah mendengar berita tentang kematian Adriana Rosalie yang diduga sebagai korban dari sindikat perdagangan organ tubuh manusia." Chanyeol mengangguk." Sejak saat itu Baekhyun mulai mengalami keresahan, ditambah saat acara Newyork Fashion Show beberapa bulan lalu organisasi hitam The Darkness juga hadir disana sebagai sponsor utama acara tersebut, dan secara kebetulan Baekhyun melihat salah satu anggotanya yang kemungkinan besar adalah pemimpin organisasi itu. Dan puncaknya saat ulang tahun Valentino Garavani beberapa waktu lalu." Chanyeol terus mendengarkan dengan penuh perhatian. "Aku tahu ini memang tidak bisa dijadikan patokan kalau Bekhyun adalah target selanjutnya, tapi Baekhyun—"

"Maaf memotong ceritamu, Jongdae. Tapi jika Baekhyun yakin bahwa ada seseorang yang berniat jahat kepadanya, harusnya dia selalu di awasi. Maksudku kemanapun Baekhyun pergi setidaknya ada dua atau tiga orang pengawal pribadinya yang selalu bersamanya bukan membiarkannya berkeliaran seorang diri seperti tadi."

Jongdae mulai jengah, merasa orang-orang meyalahkannya membiarkan Baekhyun pergi tanpa pengawalan.

"Jujur saja, akupun tidak tahu bagaimana caranya Baekhyun bisa lolos dari para pengawalnya dan pergi seorang diri. Karena saat itu aku sedang ada keperluan dan terlambat menemuinya. Tapi Chanyeol, bagaimana caranya kaku bertemu dengan Baekhyun?"

"Kebetulan aku juga berada di Mall yang sama dengan Baekhyun, saat aku keluar dari salah satu toko tidak sengaja aku melihat Baekhyun yang berjalan dengan cepat dan seperti ketakutan. Aku berpikir mungkin ada sesuatu yang sangat genting yang sedang terjadi. Dan karena aku khawatir padanya kuputuskan untuk mengikuti Baekhyun, aku juga sudah berusaha memanggil Baekhyun beberapa kali tapi sepertinya dia tidak mendengar."

"Apakau melihat seseorang yang sedang mengikutinya?"

"Entahlah, aku tidak yakin. Begitu banyak orang yang berjalan dibelakangnya."

"Jongdae ya." Panggil Baekyun lembut menghentikan obrolan kedua lelaki tersebut." Kau sudah datang."

Secara refleks Jongdae berdiri dari duduknya dan menghampiri Baekhyun kemudian memeluknya.

"Aku minta maaf, aku minta maaf atas kelalaianku, Baek." Sesalnya

"Tidak perlu meminta maaf, kau tidak bersalah."

"Jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku bersumpah tidak akan memaafkan diriku selamanya." Jongdae mulai terisak.

"Jangan bicara seperti itu, Jongdae ya."

"Sekali lagi aku minta maaf, Baek. Kumohon maaf kan aku."

"Tidak apa-apa Jongdae ya. Sungguh."

Kebersamaan yang di perlihatkan Jongdae dan Baekhyun menyentuh relung hati terdalam Chanyeol. Merasa iri sekaligus bahagia melihat hubungan keduanya. Iri karena dia tidak bisa mengekspresikan perasaannya sama seperti itu kepada sahabatnya, dan bahagia lantaran orang yang secara tidak langsung mencuri perhatiannya memiliki seseorang yang mampu menjaga dan melindunginya.

Sekitar sepuluh menit kemudian kedua sahabat itu melepas pelukan dan berniat untuk meninggalkan apartemen Chanyeol. Adalah Jongdae yang membuka obrolan lebih dulu.

"Terima ksih atas bantuanmu, Chanyeol. Aku tidak akan melupakannya."

"Tidak perlu berterima kasih, aku hanya kebetulan lewat."

"Apapun itu, aku sungguh berterima kasih. Akan ku balas kebaikanmu suatu saat nanti."

"Yang kuinginkan hanya satu. Jagalah Baekhyun semampumu." Jongdae hanya mengangguk menanggapi permintaan Chanyeol karena tanpa di mintapun lelaki itu pasti akan melakukannya. Dan Baekhyun perlahan mendekati Chanyeol kemudian menggenggam tangannya erat.

"Yeol, aku berhutang budi padamu." Membuat lelaki bertelinga peri itu salah tingkah.

"Tidak Baek, aku tidak melakukan sesuatu yang besar, hanya kebetulan lewat jadi kau tidak berhutang apa-apa padaku."

"Apapun alasannya, terima kasih."

"Aku terima ungkapan terima kasihmu."

Setelahnya kedua lelaki mungil itu pun pergi namun saat Jongdae hendak memutar kenop pintu, Edward lebih dulu melakukannya.

"Kalian?" seru lelaki tinggi itu tidak percaya bahwa model nomor satu dunia itu ada di apartemennya.

"Hallo, Tuan Edward." Sapa keduanya

"Apa yang kalian lakukan disini?"

"Akan ku ceritakan nanti, Ed. Sekarang menyingkirlah! kau menghalangi jalan mereka."

"Oh oke. Senang bisa bertemu dengan kalian lagi." Edward kemudian menyingkir memberikan jalan bagi kedua sahabat itu untuk pergi. Setelahnya Edward pun menatap tajam Nicholas seakan meminta penjelasan lebih.

"Jika kau terus melotot seperti itu dalam lima menit kedepan matamu akan menggelinding dilantai."

"Apa aku melewatkan sesuatu?" Edward memicing." Apa yang telah kau lakukan padanya?"

Nicholas berjalan kearah dapur dan mengambil segelas air untuk di teguk, sementara Edward terus mengekorinya.

"Bisakah kau jelaskan padaku Tuan Nicholas Park?"

Nicholas meletakkan gelas keatas meja dengan kasar, menimbulkan suara benturan yang keras. Iapun menatap Edward dengan sorot mata tajam, seakan mampu melubangi kepala siapapun yang di tatapnya sedangkan Edward sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan tersebut. Namun sepuluh detik kemudian suara tawa keluar dari bibirnya.

"Kau tahu, Ed. Kau sangat lucu dengan rasa penasaran bodohmu itu."

Edward bersedekap"berhenti tertawa, bodoh! Aku meminta penjelasan bukan ingin mendengar tawa idiotmu itu."

"Baiklah-baiklah. Akan ku jelaskan. Jadi begini—"

Nicholas pun menjelaskan semuanya kepada Edward tanpa ada satupun yang dilewatkan.

"Apa itu sungguh mereka?" tanya Edward setelah Nicholas selesai mendongeng.

"Setidaknya dari cerita yang ku dengar, sepertinya itu memang kelompok The Darkness."

"Lalu apa kau sekarang akan berlagak seperti pahlawan yang akan melindungi Louise?"

"Kenapa aku harus melakukannya?"

"Karena kau tertarik padanya."

"Tidak-tidak. Aku tidak sebodoh itu melawan organisasi hitam terhebat di dunia, aku masih sayang akan nyawaku."

"Kau menghancurkan harapanku, Nick. Saat kau menceritakan semuanya, saat itu aku berharap kau akan menjadi tameng untuk Louise."

"Hei, sadarlah bung! Seorang Nicholas Park tidak akan mampu melawan organisasi sekelas The Darkness. Lagipula Louise sudah memiliki selusin pengawal yang akan selalu melindunginya. Kalaupun aku harus melakukan hal yang sama masih banyak cara lainnya yang bisa ku lakukan."

"Apa ini bukti bahwa kau telah jatuh akan pesona seorang Louise?"

"Apa yang kau katakan?"

"Kau carilah sendiri maksud perkataanku. Aku ingin istirahat."

Edward kemudian beranjak, meninggalkan Nicholas yang menatapnya dengan raut statis.

"Dasar albino!"

.

.

.

"Istirahatlah! Kau telah mengalami hari yang buruk." Perintah Mattheo lembut seraya membaringkan Louise di kamar tidurnya.

"Maaf membuatmu khawatir."

"Jangan pikirkan hal itu lagi. Yang terpenting kau baik-baik saja, jadi tidurla!."

"Kau tidak akan meninggalkanku, 'kan?"

"Aku akan ada disini sampai kau bangun. Hanya saja aku harus menghubungi Tuan Garavani, aku yakin saat ini dia juga sama cemasnya denganku."

Setelah membenarkan letak selimut Louise, Mattheo kemudian meninggalkannya. Membiarkan Louise beristirahat dengan nyaman. Namun, hanya beberapa menit saja Louise mampu memejamkan mata lantaran dering ponsel yang menarik atensinya. Deretan nomor asing yang terpampang membangunkan kembali rasa takut Louise. Sempat terbesit ingin memanggil sahabatnya akan tetapi diurungkan karena tidak ingin membuat cemas lelaki itu. Dan dengan perasaan ragu akhirnya Louise memberanikan diri menerima panggilan tersebut.

"Ha-lo?" sapanya, tapi tidak ada sahutan dari si penelpon, membuat Louise semakin ketakutan."Halo! siapa ini?"

"Baekhyun!" dan kelegaan pun melingkupi hati Baekhyun tatkala telinganya mendengar suara berat itu."Maaf, apa aku mengganggumu?"

"Tidak-tidak. Kau sama sekali tidak mengangguku." Bibir tipis itu melengkung membentuk senyuman indah.

"Apa kau baik-baik saja? Jujur saja setelah mendengar ceritamu dari Jongdae aku menghkawatirkanmu."

"Terima kasih telah mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja. Berkat dirimu, Yeol."

Chanyeol di sebrang sana menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendapat respon seperti itu, bolehkah saat ini ia berbangga hati?

"Aku hanya melakukan kewajibanku. Jadi bukan masalah yang besar. Oh ya kau sedang apa sekarang?"

"Hanya sedang bersantai di kamar." Baekhyun sengaja berbohong tidak sepenuhnya tentunya karena tidak mungkin ia mengatakan sedang tidur kemudian suara telpon mengganggu tidurnya."Kau sendiri sedang apa?"

"Aku sedang menyiapkan masakan untuk makan malam nanti. Kau tahu, Edward itu makannya sangat banyak jadi aku harus selalu menyiapkan masakan lebih dari dua orang." tanpa sadar Chanyeol mengeluhkan kebiasaan Edward kepada Louise, dan itu membuat si mungil semakin mengembangkan senyum indahnya.

"Biar kutebak, kau pasti selalu kerepotan."

"Sebenarnya tidak juga, tapi kau memang benar. aku selalu kerepotan jika menyiapkan makanan."

"Kenapa tidak menyewa seorang pembantu saja?" Baekhyun berusaha memberikan solusi.

"Kurasa aku masih mampu mengerjakannya, jadi tidak perlu. Tapi terima kasih atas solusinya."

Obrolan keduanya pun terus berlanjut seperti sudah lama menjalin hubungan. Di tengah obrolan tersebut tak jarang Chanyeol menceritakan sebuah cerita lucu membuat Baekhyun terpingkal mendengarnya.

"Kau tahu, Baek! Suara tawamu sangat indah. Aku menyukainya dan ingin selalu mendengarnya."

Ungkapan itu seketika menghentikan tawa Baekhyun dan Chanyeol langsung berdehem menyadari kesalahannya. Baekhyun berani bertaruh saat ini Chanyeol pasti salah tingkah dan itu membuatnya terhibur, ingin sekali rasanya Baekhyun melhat ekspresi salah tingkah di wajah Chanyeol, pasti sangat lucu-pikirnya.

"Ak-aku tutup dulu telponnya, Baek. Sampai jumpa."

"Sampai jumpa, Yeol.!" Kemudian Baekhyun menatap ponsel pintarnya.

.

.

.

"Kapan kau melakukan tugasmu?" seorang pemuda berperawakan tegap bertanya kepada rekannya yang tengah memandang keluar jendela.

"Tunggu sampai aku mendapat kepercayaannya." Sahut lelaki itu.

"Kau terlalu banyak membuang waktu."

Pemuda itu membalik badan" untuk mendapatkan hasil yang sempurna, tentu kita harus menyusun rencana akurat, tentu kau tahu bahwa aku tidak suka kekalahan."

"Kau telah mengawasinya selama tiga tahun terakhir apa itu belum cukup?"

"Aku ingin menghancurkannya, jadi aku perlu mendapatkan kepercayaannya. Dan setelah ia tahu kenyataan yang sebenarnya maka BOOM dengan sendirinya dia akan hancur."

Dengan langkah lamat pemuda satunya mendekati rekannya kemudian menyentuh bahunya dengan lembut kemudian berujar"apapun rencanamu aku akan selalu membantu, tapi kuharap rencana yang sudah kau susun dengan matang tidak menjadi Boomerang bagi kita terlebih dirimu sendiri."

"Serahkan semuanya padaku." Lelaki itu mengarahkan telunjuknya"kau, hanya menunggu perintah dariku."

"As you wish."

Kemudian keduanya terdiam, bukan karena tidak ada bahan obrolan melainkan seperti inilah interaksi keduanya. Setelah membicarakan sesuatu yang serius keduanya acap kali bersikap dingin menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.

"Kalian membosankan!" Suara Dominic tiba-tiba menyeruak di tengah keheningan."Kalian sudah menjadi rekan sejak pendiri The Darknes terdahulu menyerahkan jabatan ketua dan wakilnya kepada kalian berdua tapi interaksi kalian tetap seperti ini."

"Berhenti mengoceh! Sudah kau selesaikan tugasmu?"

Dominic memasuki ruangan kemudian mendudukkan dirinya. Lelaki itu tak langsung menjawab pertanyaan tersebut, justru lebih memilih meminum segelas wine kemudian menikmati sensasi saat minuman beralkohol itu melewati tenggorokanya.

"Sempurna! Sesuai dengan perintahmu." Sahut lelaki berlesung pipi itu setelah menikmati tiga tegukan minumannya.

"Sebenarnya aku masih memerlukan bantuan Tuan Song untuk memuluskan peredaran narkoba di Cina, akan tetapi dengan lancangnya dia mengganggu mainanku jadi itulah hukuman yang pantas untuknya."

"Kau telah menghabisi salah satu sekutu terbaik kita hanya demi mainanmu. Apa kau merasa ini tidak akan merugikan kita?" tanya Dominic.

"Jika kau ingin mendapatkan apa yang kau inginkan, tentu ada sesuatu yang harus kau korbankan. Lagipula Tuan Song sudah terlalu lama hidup di dunia ini dan juga sudah banyak menderita, jadi aku hanya membantu mengakhiri penderitaannya. Selain itu sudah sejak lama aku ingin menghabisinya, pengkhianatan yang dilakukannya beberapa tahun silam menimbulkan kerugian yang sangat besar bagiku tapi dengan mudahnya dia meminta maaf dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa kemudian berusaha menarik kepercayaanku dengan sikap rendahannya." Terdapat penekanan disetiap untaian kata yang dilontarkan,.

"Bagaimana denganmu?" Dominic mengalihkan atensinya kepada pemuda satunya yang sedari tadi hanya diam." Apa kau setuju dengan pemikirannya? Mengingat Tuan Song sudah sangat berjasa kepada organisasi kita."

Pemuda itupun menghampiri Dominic."Satu hal yang harus selalu kau ingat. Jangan pernah mempertanyakan apalagi meragukan apapun yang telah direncakan sang pemimpin. Lagipula dia benar, tua bangka itu sudah terlalu lama hidup sudah saatnya dia beristirahat."

"Sebenarnya aku masih tidak mengerti kenapa kau menginginkan si tua itu mati sementara kau masih memerlukan jasanya demi bisnismu terlepas dari sikap menjilatnya yang menjijikkan, tapi aku setuju dia memang sepantasnya lenyap dari muka bumi."

Lelaki yang berstatus sebagai pemimpin itu lalu membalik badan, menatap kembali keluar jendela sembari memperhatikan tetesan air hujan yang membasahi pekarangan rumahnya.

"Siapapun yang menghalangi rencanaku, sudah sepantasnya lenyap dari muka bumi." Dan kedua pemuda lainnya hanya diam.

.

.

.

Mattheo mengernyit tidak percaya akan kehadiran seseorang di apartemen Louise terlebih sikapnya yang seperti kesal akan sesuatu, terlihat dari beberapa kali bibirnya mengeluarkan umpatan.

"Tuan Garavani? Sedang apa anda disini? Sepagi ini?"

"Oh Tuan Kim. Apa Louise masih tidur?" bukannya menjawab pertanyaan lelaki Eropa itu justru balik bertanya.

"Iya, Louise masih tidur. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa anda sepanik ini?"

"Aku mencoba menghubungi Tuan Song sejak tadi malam tapi tidak ada satupun yang tersambung."

"Bukankah beliau sedang melakukan perjalanan bisnis? Seperti yang ku katakan pada anda"

"Awalnya aku mengira seperti itu tapi menurut beberapa orang kepercayanku, Tuan Song bahkan tidak sampai menginjakkan kaki di rumahnya setelah dia menghubungimu untuk bertemu dengan Louise."

"Jadi maksud anda setelah Tuan Song menghubungiku sesuatu telah terjadi padanya?"

"Itulah yang ku khawatirkan."

Tak bersengang lama, Michael salah satu orang kepercayaan Valentino Garavani mendekat kemudian membisikkan sesuatu kepada tuannya membuat lelaki berumur itu tercekat.

"Apa kau yakin?"

"Sudah di konfirmasi oleh kepolisan setempat, Sir!"

"Baiklah, terimakasih atas informasinya." Setelahnya Michael berlalu."kekhawatiranku terbukti. Tuan Song telah dibunuh sebelum tiba dirumahnya bahkan orang-orangnya pun juga ikut terbunuh."

Mattheo melebarkan bola mata."Bagaimana mungkin? Bukankah dia-" kemudian lelaki itu teringat akan catatan yang ditemukan Louise."Jika Tuan Song telah dibunuh sebelum tiba dirumahnya berarti catatan yang ditemukan Louise kemarin itu bukan dari Tuan Song."

"Seseorang sepertinya berusaha menjauhkan Louise dari Tuan Song."

"Aku memang tidak menyukai Tuan Song begitu juga dengan Louise. Tapi aku tidak pernah berharap sesuatu yang buruk menimpanya apalagi sampai dibunuh. Apakah ini perbuatan fans fanatik Louise?"

Valentino menggeleng"kurasa bukan, sefanatik apapun seorang fans dia tidak mungkin mampu melakukan kejahatan ini. Siapapun yang membunuh Tuan Song, berarti dia orang yang mempunyai pengaruh kuat.

Tanpa keduanya sadari Louise mendengar obrolan mereka dari lantai atas, tangannya mengepal kuat dan ekspresinya pun sulit dibaca.

"Tapi bIar bagaimanapun kuharap peristiwa yang menimpa Louise belakangan ini tidak mempengaruhi profesionalitasnya sebagai model. Milan fashion Festival tinggal menghitung hari."

"Akan ku pastikan Louise tetap melakukan tugasnya dengan baik, Tuan Garavani."

"Kupercayakan Louise padamu, Tuan Kim."

Tak bersenggang lama, Designer kondang itu pergi dari kediaman Louise dan Mattheo segera menuju lantai atas bermaksud untuk memeriksa apakah sahabatnya masih tertidur lelap, namun langkahnya terhenti saat melihat Louise tengah berdiri didepannya sambil bersedekap.

"Jadi pria tua itu sudah mati!" Ujarnya sekadar memastikan

"Kau mendengar pembicaraan kami? Dan ya, Tuan Song telah wafat."

"Baguslah, dengan begitu aku tdak perlu berurusan dengannya lagi."

"Byun Baekhyun!" hardik lelaki Kim itu, merasa tidak percaya akan sikap sahabatnya.

"Tidak perlu membelanya, Jongdae. Karena kau tentu masih ingat apa yang telah dilakukannya padaku 3 tahun silam. jadi siapapun orang yang telah melenyapkan Tuan Song, aku sangat berterima kasih."

"Kau bukan seperti Baekhyun yang ku kenal."

"Aku berbicara sebagai Louise, model yang hampir direnggut kehormatannya oleh si tua bangka itu. Dan kurasa siapapun yang pernah mengalami hal serupa pasti akan bersikap sama sepertiku."

"Baiklah!' Jongdaepun mengalah "mari kita lupakan kematian Tuan Song. Sekarang fokuslah pada karirmu. Milan Fashion Festival sudah didepan mata. Persiapkan dirimu! Tapi itu jika kau tidak keberatan tentunya."

"Tidak apa-apa, Jongdae. Aku akan tetap menghadirinya."

"Oh, kau boleh mengajak Chanyeol. Setidaknya itu bisa membantumu." Disertai dengan kedipan mata, bermaksud menggoda Baekhyun.

"Yak! Kim Jongdae!"

.

.

.

Milan Fashion festival akhirnya digelar, banyak model terkenal dan Desaigner kondang yang turut hadir memeriahkan pagelaran tersebut. DIantaranya model cantik asal Kanada Natalie federson yang tengah mengapit mesra lengan kekasihnya, Edward Oh.

"Kuharap kau tidak merasa bosan menemaniku disini, Honey."

"Tentu saja tidak, kau adalah kekasihku tentu aku akan selalu bersamamu."

"You are the best!"

Kemudian keduanya pun berbagi ciuman mesra.

"Kalian menggelikan!" seru Nicholas yang sedari tadi dianggap tembok oleh kedua sejoli itu."Bisakah kalian tidak bermesraan didepanku?"

"Kenapa? Kau iri?" yang justru mendapat ejekan dari Edward.

"Pergilah ke Neraka!"

Edward pun terbahak." Santai saja, Man! Sebentar lagi pujaan hatimu datang, bukankah kau diundang secara special olehnya."

"Kenapa kau selalu memasukkan nama Louise Byun didalam setiap obrolan kita?"

"Apakah aku tadi menyebut nama Louise Byun? Aku hanya bilang pujaan hatimu dan itu bisa siapa saja kan?"

"Kau-"

Skakmat

Nicholas tak mampu berkutik.

"Aku sudah sering menjebakmu,Nick dan bodohnya kau selalu sukses kujebak." Edward kembali terbahak

"Sebentar!" Natalie akhirnya menyela obrolan kedua pemuda itu."apakah yang kalian maksud Louise Byun si model ternama itu? Louise Byun kenalanku?"

"Siapa lagi jika bukan dirinya,Sweetheart!"

"Amazing!" seru Natalie antara senang dan tidak percaya. Senang karena akhirnya ada yang berani menaruh hati pada model sekelas Louise yang kemungkinan temannya itu juga menyukai Nicholas. Ayolah siapa sih yang tidak jatuh cinta kepada lelaki Park itu. dan tidak percaya bahwa lelaki tampan nan gagah didepannya menyukai lelaki. Padahal jika mau Nicholas Park mampu mendapatkan wanita mana saja yang diinginkannya dengan kesempurnan yang dimilikinya.

"Aku tidak percaya." Lanjutnya."Kau menyukai Louise Byun?"

"Apa itu menjadi masalah untukmu?" tanya Edward seraya melirik kekasihnya kesal dan Natalie pun menyadari maksud dari lirikan itu.

"Bukan begitu, aku hanya merasa takjub saja. Sungguh."

"Jika kau berani selingkuh dibelakangku,maka-"

"Aku tidak mungkin melakukannya. Apa kau tidak bisa merasakan betapa besarnya cintaku padamu?"

"Baiklah! Aku mempercayainya." Edward kemudian merangkul pinggang Natalie seraya memberikan kecupan mesra di pipi wanitanya.

"Chanyeol!" seruan merdu langsung mengalihkan Chanyeol dari pemandangan yang membuatnya ingin muntah.

"Hai,Baekhyun. kau sudah datang,"

"Maaf aku terlambat."

"Tidak-tidak, akulah yang justru datang lebih cepat. Kau tahu karena si albino ini sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kekasihnya."

"Louise, sudah waktunya kau bersiap-siap." Perintah Mattheo

"Oke. Aku pergi dulu, semoga kau menikmati acaranya."

"Tentu."

Setelahnya Louise dan Mattheo pergi meninggalkan Chanyeol, disusul Natalie yang juga menuju ruang gantinya.

"Bukankah menyenangkan jika memiliki seseorang yang dicintai." Seloroh Edward yang hanya dianggap angin lalu oleh Nicholas.

Tidak berselang lama seluruh penerangan ditempat itu dimatikan, hanya menyisakan satu lampu yang nantinya akan menyorot para model berlenggak lenggok diatas Catwalk dengan busana yang melekat ditubuh indah mereka.

Nicholas dan Edward mengambil tempat duduk paling depan,tentu saja itu keistimewaan yang mereka dapatkan sebagai tamu yang diundang secara special oleh model yang turut hadir dalam Milan Fashion Festival kali ini.

Satu persatu para model itu keluar dan berjalan seraya memperagakan busana yang mereka kenakan. Tubuh yang dibalut dengan hasil karya para Designer handal sudah pasti menambah keindahan yang mereka miliki membuat semua orang yang datang berdecak kagum, sampai akhirnya semua pasang mata tertuju pada satu orang yang menarik perhatian mereka.

Louise Byun, berjalan dengan anggunnya, Tubuh yang dibalut dengan setelan jas berwana hitam dipadukan dengan kemeja putih dan dasi berwana pink salem. Setelan tersebut merupakan hasil kreasi dari Designer bertangan dingin, Alexander Amosu. Bentuk kemewahan dari setelan jas tersebut adalah terbuat dari dua wol termahal, qivuik dan vicuna yang langka dan juga memiliki 9 buah kancing yang bertatahkan emas 18 karat dan permata. Kendati Louise Byun memiliki postur tubuh lebih kecil daripada Model lainnya, namun itu tidak mengurangi sedikitpun pesona yang dimiliki olehnya. Terbukti lelaki itu mampu menggaet beberapa Designer kondang untuk memakai jasanya.

Berbicara tentang Alexander Amosu, pria berkulit hitam itu sengaja menggunakan Jasa Louise Byun untuk memperkenalkan menurut kabar yang beredar setelan jas tersebut tidak dibuat secara massal melainkan hanya untuk satu pelanggan.

Louise terus berlenggak lenggok diiringi tatapan kagum oleh semua yang hadir disana. Tidak terkecuali Nicholas yang tidak melepaskan satu detik pun pandangannya.

"Air liurmu bisa saja menetes jika kau terus menatapnya." Ejek Edward.

Mengabaikan ejekan Edward, Nicholas justru tidak mampu menyembunyikan kekagumannya."So Beautiful" yang hanya dibalas gelengan kepala dari sahabatnya.

Sekitar 1 setengah jam kemudian pagelaran yang diperuntukkan untuk para Designer itupun berakhir, dan semua model telah berganti pakaian mereka masing-masing. Namun disaat sesi terakhir, dimana para model diminta keatas panggung bersama para Designer tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dari arah luar. Sontak hal itu membuat semua yang ada disana terkejut, beberapa dari mereka sudah bisa menebak apa yang tengah terjadi dan perasaan was-was serta takutpun mulai menghampiri mereka. Ditambah saat suara langkah kaki tertangkap oleh indera pendengaran mereka seakan-akan itu seperti suara lonceng kematian.

Dan apa yang dikhawatirkan pun menjadi kenyataan ketika Dominic datang bersama anak buahnya.

"Maaf mengacaukan kesenangan kalian." Ujarnya berbasa-basi."Aku harus menjemput seseorang. Dan kuharap dia dengan suka rela mengikutiku, Karena aku tidak ingin mendapat masalah nantinya."

Dominic lalu menolehkan kepala memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menjemput orang yang dimaksud. Dan alangkah terkejutnya Nicholas ketika mengetahui siapakah orang tersebut.

"Tidak mungkin!" ujarnya Refleks

"Lepaskan aku!" teriak sosok tersebut.

"Ssssttt, tenanglah! aku tidak akan melukaimu." Seru Dominic ketika seseorang itu tepat berada dihadapannya.

"Apa yang kau inginkan dariku?"

"Bukan aku! Tapi sang pemimpin yang menginginkanmu, aku hanya melaksanakan perintah. Tuan Louise Byun."

TBC

Aku tidak akan berkomentar hanya saja terima kasih bagi yang telah menyempatkan waktu membaca fanfic ini dan yang meninggalkan jejak. Kendati sebagian besar dari teman-teman bingung atau tidak nge fell dengan nama-nama tiap cast.

Sekali lagi terima kasih!

Di Chapter sebelum-sebelumnya banyak terdapat Typo, kurasa. Tapi tidak ada yang mau mengoreksinya. Kendati begitu aku tetap berterima kasih atas waktu yang teman-teman sisihkan. Semoga Chapter ini tidak ada kesalahan jikapun ada, aku mohon maaf.

Apdet jamaah bareng Azova10 dan Purflowerian. Rasanya udah lama gak ikutan apdet jamaah.

Terima kasih.