Hyurien92
Present
.
.
THE WILD ONE
Chapter 6
.
.
Cast
Louise Byun/Byun Baekhyun
Nicholas Park/Park Chanyeol
Edward Oh/Oh Sehun
.
.
Support
Dominic Zhang/Zhang Yixing
Mattheo Kim/Kim Jongdae
Valentino Garavani(OC)
Kim Kai(akan muncul nanti)
.
.
Genre : Romance, Crime
Rate ; M
Warning : Boys Love/Shounen ai
.
.
Note : disini aku menggunakan dua nama untuk setiap cast kecuali Valentino Garavani dan Kim Kai, harap pahami situasi saat aku menggunakan nama asli ataupun nama Western mereka.
.
.
Summary
Ketika perasaan itu datang disaat yang tidak tepat, apakah yang akan mereka pilih? Cinta? Ataukah mempertahankan eksistensi yang ada?
.
.
.
Ruangan bernuansa hitam itu nampak di padati oleh beberapa orang, bahkan diantara mereka ada yang tengah beradu argument, entah apa yang mereka perdebatkan saat ini.
"Bagaimana mungkin dia melakukannya?" tanya salah satu pria
"Dia berkuasa, jangan lupakan itu!" jawab pria lainnya
"Tapi tetap saja itu melanggar kesepakatan kita. Bagaimana jika kita adalah target berikutnya jika nanti dia tidak lagi membutuhkan jasa kita?"
"Kukira dari awal kalian sudah memahami isi perjanjiannya." Seru pria berkemeja abu-abu." Dia berhak melanggar kesepakatan jika ditemukan sesuatu hal yang merugikan organisasi. Dan apa yang dilakukan si tua itu adalah bayaran atas semua kecurangannya. Jangan lupakan bahwa dia pernah merugikan kita semua!"
"Kau membelanya?"
"Aku berpihak kepada sesuatu yang kuanggap benar. dan sejauh ini apa yang dilakukan sang pemimpin selalu benar."
"Bukankah kau dulu orang yang paling menentang saat dia diangkat sebagai ketua organisasi menggantikan pemimpin terdahulu."
"Dengan berjalannya waktu, manusia bisa berubah."
Dan ketegangan itu berakhir tatkala sosok yang tengah mereka bicarakan memasuki ruangan diikuti oleh dua orang kepercayannya,seketika suasana menjadi hening, tidak ada satupun yang berani membuka suara bahkan sampai sosok tersebut duduk di tempatnya.
"Aku tahu kalian tengah membicarakanku." Ucap sosok tersebut."mempertanyakan keputusanku menghabisi Tuan Song, juga mempertanyakan kredebilitasku sebagai pemimpin The Darknes. Dan aku juga tahu kalian semua berkumpul disini untuk membahas kenapa aku menghabisi Tuan Song padahal kita masih memerlukan bantuannya."jeda sejenak" perlu kutegaskan, aku menghabisi keparat itu tentu ada alasan yang jelas, salah satunya adalah kecurangan yang pernah dilakukannya. Walau dia bersedia membayar atas kerugian yang kualami tapi itu tidaklah cukup. Dan yang paling utama, aku tidak pernah mentolerir pengkhianatan."
"Maaf kan aku, Sir, jika Tuan Song telah tewas, lantas siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai pemimpin di kawasan China?"
"Akan kuurus nanti. Dan jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan, kalian boleh pergi. Hari ini aku memaafkan kelancangan kalian tapi tidak untuk berikutnya."
Setelah ultimatum itu keluar, merekapun bergegass meninggalkan ruangan itu, menyisakan sang pemimpin dan dua orang kepercayaannya.
"Dominic, aku mengutusmu untuk mengeksekusinya malam ini!"
"Sesuai perintahmu."
Lelaki itu kemudian beralih kepada pemuda satunya."Dan kau, lakukan apa yang telah kita sepakati!"
"Aku tahu."
.
.
.
"Lepaskan aku! Apa yang kau inginkan?" seru Louise sembari berusaha melepaskan diri dari kelompok berbaju hitam itu.
"Sudah kukatakan bukan aku yang menginginkanmu, tetapi tuanku."
"Kenapa bukan tuan mu saja yang datang kesini untuk menangkapku?"
"Karena belum saatnya kau bertemu dengannya." Ucap Dominic seraya membelai pipi Louise. Sementara diujung sana Nicholas tengah mengepalkan tangannya.
"Sudah cukup beraktingnya?" tiba-tiba suara Edward menginterupsi."Kupingku sampai gatal mendengar rentetan kalimat membosankan yang kalian ucapkan." Perlahan lelaki minim ekspresi itu mendekati Louise dan Dominic.
"Oh rupanya ada seorang pahlawan disini." Ejek pria berdarah China itu.
"Edward!" panggil Nicholas" apa kau sudah gila?"
"Diamlah Nick! Saat ini aku tidak ingin mendengar ocehanmu. Dan kau "Edward menatap Dominic" kenapa begitu lama? Apa kau tidak tahu betapa menderitanya aku harus bersandiwara seperti ini?
Ucapan itu langsung menimbulkan tanda tanya di benak semua orang, sandiwara apa yang yang mereka maksud?
"Aku hanya menjalankan apa yang sudah direncanakan wahai tuan sempurna, kau tentu paham betul bagaimana sifatnya."
Keakraban yang di ciptakan oleh Edward dan Dominic mengundang rasa penasaran setiap orang, ada hubungan apa diantara mereka? Dan semua pertanyaan itu terjawab tepat saat kedua lelaki itu berpelukan. Semua orang tentu terkejut akan kenyataan yang ada, tanpa dijelaskan mereka telah mengerti bahwa kedua lelaki itu bersahabat yang artinya Edward adalah bagian dari The Darknes. Tidak berbeda jauh dengan orang lain,Louise, Mattheo dan Nicholas juga tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, terutama bagi Nicholas sendiri, lelaki itu tidak menyangka bahwa lelaki yang sudah dikenalnya selama belasan tahun adalah bagian dari organisasi hitam.
"Edward, kau?" nampak lelaki bermarga Park itu kesulitan dalam menyelesaikan kalimatnya.
"Maaf, Nick, tapi inilah kenyataannya dan kau harus menerimanya!"
Bak lesatan peluru, Nicholas langsung menerjang Edward dan memukul wajahnya.
"Jadi selama ini kau membohongiku? Kau mempermainkan persahabatan kita? Brengsek!" Nicholas kembali menghajar Edward seakan menyalurkan semua amarahnya. Sedangkan Dominic hanya memutar bola mata melihat perkelahian kedua sahabat itu, tidak perlu mencampuri urusan mereka-pikirnya.
"Kau sudah kuanggap seperti saudaraku, tapi ternyata kau mengkhianatiku."
"Siapa yang mengkhianatimu,Nick? Dari awal aku memang sudah tergabung dalam kelompok The Darknes. Hanya kau saja yang terlalu bodoh sehingga tidak menyadarinya."
Langsung saja kalimat itu membungkam Nicholas. Edward benar, mungkin dirinya memang bodoh. Keterdiaman Nicholas memberikan celah bagi Edward untuk melepaskan diri dari kungkungan sahabatnya. Dengan masih mempertahankan wajah dinginnya, lelaki itu kemudian berdiri dan membersihkan debu yang menempel di pakaiannya.
"Honey" Natalie mencoba mendekati kekasihnya."katakan kau hanya bercanda! Semua yang kau ucapkan tadi hanya kebohongan."
"Aku serius! Dan berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu!"
"Bukankah kau mencintaiku?"
"Aku tidak pernah mencintaimu walau sedetikpun. Dan oh terima kasih atas jasamu."
"Apa maksudmu?"
Moncong pistol teratah.
"Selamat tinggal."
Bunyi tembakanpun terdengar bersamaan dengan jatuhnya tubuh Natalie yang tidak bernyawa.
"Sudah lama aku ingin melakukan ini."
"Dan kau mendapatkannya."
"Kita pergi!"
kelompok itupun pergi tanpa memperdulikan kekacauan yang baru saja mereka Louise hanya pasrah saat tubuhnya di bawa oleh orang suruhan Edward, jiwanya masih terguncang. Bukan hanya Louise, semua orang yang ada diruangan itu juga merasakan hal yang sama. Siapa yang tidak terguncang menyaksikan pembunuhan didepan mata kepala sendiri. Namun Nicholas adalah orang pertama yang tersadar, merasa nyawa Louise dalam bahaya, lelaki berdarah Korea itu segera berdiri kemudian kembali menerjang kelompok terasebut, lebih tepatnya lelaki yang telah membohonginya.
"Lepaskan Louise! Tidak akan ku biarkan kau menyentuhnya!" Nicholas kembali melayangkan pukulan tetapi secepat kilat Edward menahan pukulan itu dan menghempaskan tangannya. Tak bersenggang lama iapun mengarahkan pistol kekepala Nicholas.
"Jika aku tidak memandang persahabatan kita selama ini, aku pasti sudah menghabisimu detik ini juga." Ujarnya tanpa ekspresi.
"Apa kau pikir aku masih menganggapmu sahabat?"
"Itu terserahmu. Yang jelas, kau harus menerima kenyataan." Setelahnya Edward dan kelompoknya benar-benar berlalu.
Selepas kepergian The Darknes, perlahan Mattheo mendekati Nicholas dan menyentuh pundak lelaki itu dengan hati-hati. Lelaki bermarga Kim itu tidak bersuara karena dia tahu bahwa saat ini Nicholas tengah menahan gejolak emosi yang bersarang didadanya, Mattheo menyadari itu saat obsidiannya menatap kepalan tangan Nicholas yang begitu erat.
"Dia tidak akan lolos" seru Nicholas penuh keyakinan menciptakan kerutan diwajah Mattheo."kupastikan dia tidak akan lolos."
"Apa maksudmu?"
"Jika mereka berani melukai Louise walau sedikit saja, akan kupastikan mereka akan berurusan denganku."
Entah ini hanya perasaan Mattheo saja atau bagaimana, tetapi kalimat yang baru saja terlontar dari bibir tebal Nicholas membuatnya terlihat seperti pembunuh berdarah dingin.
.
.
.
Deretan sedan berwarna hitam membelah kota Milan dengan gagahnya, suasana jalan yang sepi membuat deretan mobil tersebut melaju tanpa hambatan. Adalah Dominic yang sedang mengendari Mercedes Benz GLC bersama Edward disampingnya dan Louise yang tertidur pulas di kursi belakang lantaran pengaruh obat bius yang dihirupnya."Apa yang akan kita lakukan pada lelaki ini?" tanya Dominic tanpa megalihkan fokus
"Sesuai perintahnya, bawa dia ke markas."
"Aku heran dengan idiot satu itu, hanya untuk menangkap tikus kecil seperti ini rela melakukan pengintaian selama 3 tahun. Sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya?"
"Kau tidak akan pernah mengerti jalan pikiran nya. Yang terpenting kita sudah melakukan apa yang dia pinta, selebihnya biar menjadi urusannya."Edward menelan ludah, menimbang-nimbang apakah harus bertanya pada rekannya.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Dominic saat menyadari air muka Edward.
"Aku tidak yakin tapi apa kau merasa wajah Louise begitu mirip dengan seseorang?"
"Siapa?"
"Entahlah, aku hanya merasa familiar dengan wajah itu."
"Dia seorang model, Ed, didunia ini siapa yang tidak mengenal seorang Louise Byun."
"Mungkin kau ada benarnya." Sahut Edward saraya mengangkat bahu acuh.
Tak bersenggang lama ponsel dalam saku Edward berdering, tanpa harus melihat ID si penelpon lelaki berparas rupawan itu tahu siapa yang tengah menghubunginya.
"Sepuluh menit lagi kami tiba, kau tunggu saja! Aku tahu, mainanmu tidak akan terluka sedikitpun, akan kupastikan itu."
"So Funny!" cibir Dominic sesaat setelah Edward memasukkan kembali ponsel nya.
Enggan menanggapi cibiran rekannya, Edward memilih memejamkan mata."bangunkan aku saat kita sampai." Yang hanya mendapat lirikan dari Dominic.
.
.
.
Sesuai dengan perkataan Edward, sepuluh menit kemudian The Darknes tiba dimarkas besar mereka. Dari luar markas besar organisasi hitam itu tampak seperti rumah-rumah elit pada umumnya. Bangunan bergaya Eropa klasik dengan pagar besi yang menjulang tinggi, halaman yang begitu luas dikelilingi beberapa pohon sebagai penyejuk, adanya kolam ikan serta sebuah Gazebo untuk bersantai,dan juga terdapat fasilitas kolam renang indoor maupun outdoor. Mungkin yang menarik perhatian adalah terdapat dua buah patung singa berlapis emas dikedua sisi jalan menuju rumah tersebut, seakan melambangkan kekuatan sang pemilik rumah.
"Bagaimana cari kita membawanya?" tanya Dominic seraya melirik Louise yang masih dalam pengaruh obat bius.
"Menggendongnya."
"Are You crazy? Dia pasti akan membunuhmu jika tahu kau menyentuh mainannya."
"Aku sudah pernah merasakannya, tidak masalah jika aku kembali mengalaminya."
"Your so crazy, Ed!"
Edward pun keluar dari mobil mewahnya, kemudian secara perlahan menggendong Louise. Jika dalam situasi normal, cara Edward menggendong Louise layaknya seorang suami menggendong pasangan hidupnya. Aroma wangi tubuh Louise tepat memasuki indera penciumannya, dan wajah rupawan sang model pun mampu dilihat dengan jelas. Kendati demikian Edward sama sekali tidak tertarik memperhatikan wajah indah tersebut, raut wajahnya tetap datar seakan-akan orang yang saat ini sedang ia gendong hanyalah sebuah patung.
Sama halnya ketika Edward menggendong Louise dengan perlahan, dengan perlahan pula Edward membaringkan Louise setelah mereka tiba disebuah kamar yang memang dipersiapkan untuk model tersebut. Tepat ketika Edward menyelesaikan tugasnya, sebuah benda dingin langsung menyentuh belakang dikepalanya. Lelaki itu hanya diam, tanpa menolehpun Edward sudah tahu siapa yang sedang menodongkan pistol padanya.
"Jika kau sekali lagi menyentuhnya, aku jamin kepalamu akan terlepas dari tubuhmu."
"Lakukan saja jika kau benar-benar sudah tidak membutuhkanku." Bukannya merasa takut, lelaki putih itu justru menantang sosok dibelakangnya. Dengan senyum timpang sosok itu menurunkan pistolnya,sedangkan Dominic hanya merokok di pojok ruangan dengan raut bosan.
"Berapa lama dia tertidur?"
"Satu jam empat puluh lima menit tiga belas detik setelah tiba dikamar ini" Sahut Dominic di pojok ruangan.
"Dan berapa lama lagi dia akan tersadar?"
"Lima puluh menit sepuluh detik dihitung dari sekarang."
"Kau selalu akurat."
"Karena aku tahu berapa lama reaksi yang diberikan oleh obat hasil ciptaanku."
"Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Edward sambil meminum segelas wine yang baru saja diterima."jika kau langsung membunuhnya, itu tidak akan seru."
Dengan langkah tegap, lelaki satunya berjalan mendekati Louise, kemudian membelai pipi mulus itu dengan lembut, puas membelai pipi, tangannya pun mendarat dibibir merah Louise. Senyum timpang kembali menghiasi wajah tampannya.
"Tentu aku tidak sebodoh itu langsung menghabisinya. Aku ingin bermain-main dengan lelaki ini lebih dulu. Bukankah bermain-main sebelum eksekusi sangat menyenangkan!"
Seakan mengerti arah pembicaraan lelaki itu, Dominic langsung buka suara.
"Kau ingin aku melakukan apa padanya?"
Sosok itu berdiri namun tak melepaskan pandangan dari Louise."Jaga dia seperti kau menjaga nyawamu! Aku akan segera menghubungi William untuk mengurus transaksi di Mexico. Aku yakin banyak pria brengsek yang berani membayar mahal untuk dirinya."
"As you wish!"
"Dan Ed, pergilah ke Barcelona! Bereskan tikus-tikus pengganggu itu untuk ku!"
"Dengan senang hati."
"Tapi sebelum itu, temui lelaki tua tersebut dan beri imbalan sesuai dengan yang diinginkannya. Dan mari kita lihat, seperti apa masa depan bocah malang yang sedang tertidur ini."
TBC
Maaf chapter kali ini tidak sepanjang chapter-chapter sebelumnya, padahal aku udah menargetkan setiap update setidaknya ada 2000 word, tapi apa daya otak ku lagi buntu banget belakangan ini. Chapter ini pun sebenarnya aku paksain ngerjainnya, jadi mohon maaf jika chapter kali ini amat sangat mengecewakan. Semoga next hasilnya lebih bagus dari ini.
Dan selamat tambah tua Mr. Park Chanyeol, maaf ya hadiah nya aku posting tidak bertepatan dengan hari ultahmu. Doa yang terbaik selalu menyertaimu Mr. Park
Dan terima kasih untuk teman-teman yang telah menyempatkan waktu membaca TWO. Maaf jika aku masih tidak ada apa-apanya.
Love you all
