Hyurien92
Present
.
.
THE WILD ONE
Chapter 7
.
.
Cast
Louise Byun/Byun Baekhyun
Nicholas Park/Park Chanyeol
Edward Oh/Oh Sehun
.
.
Support
Dominic Zhang/Zhang Yixing
Mattheo Kim/Kim Jongdae
Valentino Garavani(OC)
Kim Kai(akan muncul nanti)
.
.
Genre : Romance, Crime
Rate ; M
Warning : Boys Love/Shounen ai
.
Typo everywhere
.
.
Note : disini aku menggunakan dua nama untuk setiap cast kecuali Valentino Garavani dan Kim Kai, harap pahami situasi saat aku menggunakan nama asli ataupun nama western mereka.
.
.
Summary
Ketika perasaan itu datang disaat yang tidak tepat, apakah yang akan mereka pilih? Cinta? Ataukah mempertahankan eksistensi yang ada?
.
.
.
Valentino Garavani nampak terkejut dengan kehadiran sosok diruang kerjanya, firasatnya mengatakan bahwa tugasnya telah selesai, lelaki itupun berharap tugas yang selama bertahun-tahun diembannya mampu diselesaikan dengan hasil yang memuaskan. Tentu saja dirinya tidak ingin bernasib sama seperti para rekannya.
"Ini imbalanmu!" seru Edward seraya melempar sebuah amplop yang berisikan sejumlah uang. "Tuanku sangat berterima kasih atas jasamu selama ini, dan kau berhak mendapatkan imbalan yang sesuai."
Valentino kemudian membuka isi amplop tersebut, senyum timpang pun terukir di wajah keriputnya."senang sekali berbisnis dengan kelompok The Darknes."
"Tuanku juga telah memesankan tiket pesawat untukmu, anggap saja itu hadiah atas jasamu."
Lelaki Eropa itu nampak terkejut"benarkah? Tidak kusangka Tuan mu bisa bermurah hati."
"Tidak perlu berpura-pura, aku tahu selain dengan The Darknes,kau juga berkerjasama dengan kelompok Yakuza di Jepang yang notaben nya adalah musuh terbesar kami."
"Aku berkerja kepada mereka yang menguntungkanku, Young man!. Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan. Kenapa Dia sangat menginginkan bocah Asia itu? Apa yang sedang direncanakannya? dan kenapa Dia sampai meminta bantuanku untuk mengawasinya?"
"Kau tidak perlu tahu apa alasannya, tugasmu hanya perlu mengawasi Louise dan sekarang tugas itu telah selesai."
"Dia benar-benar The Wild One."
"Pesawatmu berangkat besok pagi, pergilah! Dan jangan meninggalkan jejak." Edward membalik badan "dan satu lagi. Dia berpesan, kali ini kau selamat tetapi jika nanti dia melihatmu bersama musuh-musuhnya, nyawamu taruhannya. Jadi kurasa, kau tidak sebodoh itu menggali kuburanmu sendiri." Setelahnya Edward pun berlalu.
.
.
.
Bau obat yang menyengat mengusik tidur Louise, hidungnya mengernyit merasa tidak nyaman dengan aroma tersebut. ingin rasanya Louise membuka mata, tetapi rasa pusing yang dideranya membuat lelaki itu sulit untuk membuka mata walau hanya satu detik. Sembari menahan rasa pusing perlahan Louise membuka mata. Hal pertama yang lelaki itu lihat adalah ruangan bernuansa putih layaknya sebuah ruangan rumah sakit tetapi berukuran kecil.
Menyadari ada pergerakan dari seseorang yang sedang diawasinya, Dominic pun mendekati Louise. Sontak saja itu membuat Louise terkejut.
"Tidak perlu takut, aku tidak akan menyakitimu." Ujar lelaki berlesung pipi itu dengan wajah teduh, tidak nampak sedikitpun bahwa dia adalah salah satu anggota organisasi hitam, membuat Louise tidak yakin apakah lelaki yang ada dihadapannya ini sama dengan lelaki yang telah menghabisi Jendral Kim saat ulang tahun Tuan Garavani.
"Apa yang kau lakukan padaku?"
"Aku hanya memeriksa kesehatan dan tubuhmu."
"Untuk apa?"
"Memastikan kau baik-baik saja."
Setelahnya hanya ada keheningan, Dominic yang kembali sibuk dengan kertas-kertasnya sedangkan Louise yang berusaha menghilangkan rasa pusing dikepalanya.
"Minumlah air disampingmu, itu akan membantu meredakan rasa pusingmu."
Kendati merasa haus, tak lantas membuat Louise langsung meminum air yang disediakan untuknya, bisa saja terdapat racun di dalamnya.
"Itu hanya air putih biasa, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu tanpa perintah nya." Seloroh Dominic seakan mampu membaca isi pikiran Louise.
Kendati merasa ragu, namun rasa haus tak mampu ditahan Louise, ia pun segera meminum habis air tersebut dalam sekali teguk, membuat Dominic gemas akan sikap Louise.
"Selama kau bersamaku, kau akan selalu aman."
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Kau bagian dari mereka, bisa saja kau menghabisiku tanpa sepengetahuanku."
"Aku hanya menerima perintah dari nya. Dan Dia meminta ku menjagamu seperti aku menjaga nyawaku sendiri maka aku akan menurutinya."
Rentetan kalimat itu menimbulkan sedikit harapn di benak Louise, bisakah ia meminta tolong kepada sosok dideapnnya untuk membeskan dirinya?
"Maaf, aku tidak bisa membantumu keluar dari tempat ini." Ucap Dominic yang langsung membuat Louise terdiam. Dalam hati ia bertanya, apakah Dominic mempunyai kemapuan layaknya bisa membaca pikiran seseorang?
"Bagaimana kau?"
"Kau bukan orang pertama yang aku awasi tetapi kau orang pertama yang benar-benar aku perlakukan sengan baik."
Louise bukan orang bodoh yang tidak mengerti arti dari ucapan Dominic. Saat ini dirinya memang diperlakukan baik tapi siapa yang menjamin suatu hari nanti sosok berwajah malaikat didepannya ini berubah menjadi monster pembunuh. Melihat reaksi yang diberikan Louise, membuat lelaki satunya tertawa renyah.
"Sudah kukatakan aku tidak akan berbuat macam-macam padamu tanpa perintah nya." Yang langsung menciptakan kelegaan di benak Louise, setidaknya saat ini dia merasa aman untuk kedepannya akan dipikirkan nanti siapa tahu lelaki didepannya berubah pikiran dan membantunya keluar dari tempat ini.
"Oh ya, aku minta maaf karena menempatkanmu di ruangan sekecil ini. Kau pasti merasa tidak nyaman. Sebenarnya aku bisa saja menempatkanmu diruangan yang lebih besar, tapi aku tidak jamin kau aman disana."
"Apa maksudmu?"
"Bukankah sudah kukatakan, aku menjagamu seperti aku menjaga nyawaku sendiri. Artinya selama ada aku, kau akan selalu aman,tapi sayangnya aku tidak selalu ada disini. Dia bisa saja memberikan tugas padaku secara tidak terduga. Dan aku tidak mau selagi aku pergi kau tersakiti." Dominic mendekati Louise kemudian berbisik ditelinganya."Kau terlalu menggoda, siapapun pasti menginginkanmu mendesah untuk mereka. Dan aku berani menjamin, saat kami pergi kau akan menjadi piala bergilir. Semua bawahan kami tidak mungkin berani menyentuhmu, tapi tidak dengan beberapa sekutu kami yang berpikiran bodoh. Mereka bisa saling membunuh hanya untuk membuatmu membuka kaki lebar-lebar untuk mereka" Dominic pun menegakakkan badan.
Louise bergidik ngeri, tak mampu membayangkan bagaimana nasibnya jika harus menjadi budak nafsu lelaki bejat diluaran sana."Tapi bukankah itu bisa menciptakan perpecahan bagi kalian?"
"Asalkan bisa menyentuhmu, itu bukan masalah bagi mereka walau nyawa taruhannya."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Dominic segera beranjak dari ruangan tersebut. membiarkan Louise terlarut dalam pikirannya.
"Kenapa begitu lama?" tanya Edward setelah Dominic menutup pintu kamar Louise.
Dominic membuang nafas"Bukankah Dia menginkan hasil maksimal tanpa cela? Tentu saja aku harus teliti memeriksanya."
"Dan hasilnya? Kau tahu Dia tidak suka membuang waktu."
"Perfect. Dan kenapa kau masih disini? Bukankah kau harus ke Barcelona?"
"Penerbanganku masih tiga jam lagi."
"Lantas?"
"Aku ingin melihatnya."
"Apa yang kau inginkan?"
"Kenapa aku merasa sepertinya kau sedang menghalangiku?!"
"Saat ini keselamatan Louise ada ditanganku, dan aku tidak ingin mendapat masalah karena mu!"
Edward bersedekap."Jadi sekarang kau menjadi anjing penjaganya?"
"Aku hanya melaksanakan tugas yang diembankan kepadaku, dan tugasku adalah memastikan Louise aman."
"Kau terlalu banyak bicara." Tanpa mendengar protesan Dominic, Edward langsung saja memasuki ruangan Louise. Mendengar bunyi pintu yang dibuka secara kasar membuat Louise bangun dari acara tidurannya. Dan matanya pun melotot sempurna tatkala melihat Edward berjalan dengan raut datar.
"Kau menakutinya, bodoh!."
Mengabaikan ucapan Dominic, lelaki tinggi itu hanya diam tanpa melucutkan pandangan. Namun bagi Louise tatapan lelaki itu ibarat sebuah pisau tajam yang tengah mengulitinya hidup-hidup.
"Ap-apa y-yang kau inginkan?" tanya Louise takut-takut.
Edward tak segera menjawab pertanyaan itu, dia tetap diam mempertahankan wajah dinginnya, dan keterdiaman itu berlangsung selama lima menit.
"Kau memang barang berharga. Ku jamin banyak lelaki hidung belang yang berani membayar mahal tubuhmu walau hanya satu malam."
Diameter bola mata Louise makin membesar."kau bilang apa?"
"Aku tidak perlu memperjelasnya, ku yakin orang sepandai dirimu mengerti maksud ucapanku. Dan jika aku mau aku bisa saja membuatmu mendesah untuk ku detik ini juga. Kau benar-benar sangat nikmat,membuat setiap lelaki yang memandangmu ingin memakanmu." Edward kemudiann mendekati Dominic."Tugasmu kali ini tidak mudah. Pastikan dia selalu aman dan tidak tersentuh sedikitpun sebelum dibawa ke Mexico. Aku Pergi." Yang hanya mendapat respon bosan dari Dominic.
Selepas kepergian Edward, Dominic segera menghampri Louise.
"Jangan kau perdulikan ucapan bocah albino itu, Edward memang seperti itu. Sebenarnya Ed orang yang cukup setia kawan." Yang hanya ditanggapi Louise dengan diam."Baiklah, kurasa aku harus pergi. Kau beristirahat saja dan jika kau butuh sesuatu tinggal tekan tombol itu."
"Dome, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja." Sahut Dominic seraya tersenyum lembut
"kau terlihat seperti orang baik-baik. Bagaimamana bisa orang seperti dirimu bergabung dalam organisasi hitam?"
Dan senyum diwajah Dominic lenyap seketika. Menyadari perubahan lelaki berlesung pipi itu, langsung saja louise meminta maaf.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Ak-aku-"
"Yang bisa kukatakan hanyalah aku berhutang nyawa pada organisasi ini, kau tahu? tidak mudah bagi anak berumur tujuh menjalani kerasnya kehidupan. Baiklah aku harus pergi, sampai jumpa." Dominic pun segera meninggalkan kamar Louise tanpa ada niatan menolehkan kepala.
"Dia benar. Louise Byun bukan lelaki bodoh."
.
.
.
Satu umpatan lolos dari bibir Jongdae, bagaimana tidak ini sudah kesepuluh kalinya lelaki Kim itu mencoba menghubungi Valentino Garavani, namun hasilnya nihil ponsel lelaki itu tidak aktif semenjak Louise diculik.
"Bagaimana?" dan ini adalah pertanyaan yang sama yang dilontarkan Chanyeol sejak Jongdae mencoba menghubungi Valentino membuat lelaki itu merotasikan bola mata.
"Tetap sama."
"Apakah kau sudah mendatangi rumahnya?"
"Tentu saja. Dan tebak apa yang kutemukan disana?"
"Apa"
"Rumah itu kosong, seperti tidak berpenghuni."
Jika dalam situasi normal mungkin Chanyeol akan menggeplak kepala Jongdae seperti yang sering dilakukannya pada Edward jika lelaki itu membuat lelucon garing.
"Ini sungguh aneh. Aku merasa curiga kepada Designer itu, apakah mungkin dia terlibat dalam penculikan Baekhyun?"
"Kau ini bicara apa? Mana mungkin Tuan Garavani melakukan itu."
"Itu bisa saja, buktinya saat ini dia hilang tanpa jejak. Kalau memang Tuan Garavani tidak terlibat seharusnya dia ada bersama kita sekarang, membantu mencari tahu keberadaan Baekhyun."
Jongdae terdiam, jika dipikir-pikir ucapan Nicholas ada benarnya."Tapi Nick, jika Tuan Garavani terlibat, kenapa beliau membantu Baekhyun? seharusnya dari dulu saja Baekhyun diserahkan kepada The Darknes."
"Permaninan. Bisa saja kan Tuan Garavani berpura-pura baik terhadap Baekhyun."
"Tapi aku tetap tidak yakin lelaki itu terlibat."
"Segala kemungkinan itu bisa terjadi." Dan setelahnya Jongdae hanya terdiam, entah apa yang tengah dipikirkan lelaki Kim itu. Akan tetapi sedikit banyak apa yang diucapkan Chanyeol mengganggu pikirannya, bagaimana jika apa yang dikatakan lelaki Park itu benar? Tak ayal segala pemikiran itu mengingatkannya pada hari dimana Baekhyun lepas dari pengawasannya, lebih tepatnya saat Jongdae meminta bantuan Tuan Garavani.
"Brengsek!" umpatnya menciptakan lekukan di wajah Chanyeol.
"Ada apa dengamu?"
"Kau tentu masih ingat hari dimana kau menemukan Baekhyun?" Chanyeol mengangguk." Saat itu aku juga meminta bantuan Tuan Garavani, dan kau tahu apa yang kulihat disana?"
"Apa?"
"Tuan Garavani tidak sendiri, ada seseorang bersamanya."
"Lantas? Ada yang aneh dengan hal itu? Mungkin saja orang itu kerabat, rekan bisnis atau apapun itu."
"Tuan Garavani mengatakan kalau lelaki itu adalah salah satu investornya dan yang terkuat. Dan akupun mempercayainya, tapi setelah mendengarkan semua yang kau katakan tadi, kurasa kecurigaanmu benar."Jongdae menarik nafas" Tuan Garavani terlibat dalam penculikan Louise."
"Apa kau yakin?"
"Aku tidak pernah seyakin ini. Ketika lelaki itu melewatiku, aku merasa wajahnya sungguh tidak asing. Setelah kuingat-ingat aku yakin lelaki itu adalah Edward."
Rahang Chanyeol mengeras."Kurang ajar!" ucapnya penuh penekanan.
"Yeol!" panggil Jongdae, ada sedikit keraguan dalam nada suara."apa kau baik-baik saja?" alis Chanyeol mengernyit."maksudku setelah kau mengetahui siapa Edward sebenarnya." Kepalan tangan Chanyeol mengeras dan itu tidak luput dari perhatian Jongdae.
"Bohong jika aku baik-baik saja, nyatanya selama ini dia menipuku. Tapi bagusnya jika sampai Baekhyun terluka maka memudahkanku untuk menghabisnya."
"Kau terlihat seperti seorang psikopat."
"Begitukah menurutmu?"
"Hmmmm."
"Tidak perduli apapun,aku bersumpah jika Baekhyun sampai terluka, mereka tidak akan selamat."
"Kenapa aku merasa lelaki yang ada dihadapanku ini bukan Chanyeol yang kukenal?"
.
.
.
Nampak seorang pemuda tengah duduk bersantai disebuah meja kerja, kepulan asap pun sering kali keluar dari bibir seksinya. Dengan ditemani sebotol anggur, lelaki itu sama sekali tidak terusik dengan pemandangan yang tersaji didepannya.
"Aku sudah memperingatimu untuk selalu berhati-hati dengan kepolisian Barcelona, kenapa kau selalu saja ceroboh?"
"Maafkan aku, Sir. Kumohon beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya."
"Kesalahanmu sangat fatal, Pete. And The Darkness didn't given a second chances!"
Setelah frase itu terlontar, bawahan Edward sudah tahu apa yang harus ddilakukan. Langsung saja mereka menyeret paksa tubuh Peter yang sudah penuh luka kemudian menggantung lelaki itu dengan posisi terbalik. Tidak cukup sampai disitu, beberapa dari mereka juga melontarkan pukulan ke wajah dan tubuh Peter.
"Cukup!" perintah Edward setelah dirasa hukuman yang diberikan bawahannya sudah cukup. Dengan langkah pasti lelaki tampan itu kemudian mendekati tubuh lemah Peter.
"Ckckckc. Sayang sekali kau harus bernasib sial seperti ini. Sebenarnya kami menyukai cara kerjamu, tapi sayang kecerobohanmu tidak bisa dimaafkan." Perlahan Edwasd mengeluarkan senjatanya."sampaikan salam hangatku kepada mereka yang telah mendahuluimu." Dan dalam hitungan detik Peterpun tak bernyawa. Tubuh yang dulu gagah kini hanya bangkai tak berguna. Dan setelah menyelesaikan tugasnya, Edward pun mengeluarkan ponsel pintarnya.
"Sudah kubereskan!" seru lelaki itu sembari menginjak bekas rokoknya.
"Aku tahu kau tidak pernah mengecewakanku. Setelah ini pergilah ke Mexiko dan temui Mr Rudolf. Bilang padanya apa yang dia inginkan akan segera dia dapatkan!"
"Hanya itu? Tumben sekali kau menyuruhku bertemu dengan si brengsek itu."
"Lakukan apa yang kuperintahkan! Sisanya akan menjadi urusanku."
"Apa aku boleh bermain-main disana?"
"Lakukan sesukamu!"
"As you wish." Edwardpun memutus sambungan telponnya." Bereskan semuanya dalam sepuluh menit!"
"Kami mengerti,sir!
TBC
...
.
.
Mohon maaf jika update kali ini amat sangat lama, dan maaf juga jika ceritanya membosankan. Terima kasih kepada teman-teman yang telah menyempatkan waktu membaca fanfic ini. Kedepannya semoga aku masih bisa menyelesaikan fanfic The Wild One soalnya kurang dari satu bulan lagi aku akan menyongsong hidup baru. Mohon doa nya ya agar acaraku kasih….
