Naruto milik Masashi Khisimoto Sensei

Pejuang Skripsi punya Yeo yo-chan

Boleh di copy ga boleh di paste

Genre : Humor/ Romance

Pairing : Sasuke Sakura (Naruto)

Rate : T

Warning : Cerita ini hanya fiktif belaka. Kalo ada kesamaan crita, plot, dan alur itu hanya kebetulan semata. Tapi kalau ada kesamaan nama, tempat, judul dan sifat itu memang disengaja.

PEJUANG SKRIPSI

Sasuke memasukkan peralatan mandi ke dalam tasnya, mengabaikan Naruto yang kini mondar-mandir nggak jelas dengan ponsel di telinga. Beberapa kali cowok itu mengoceh tentang kembarannya yang tidak menepati janji untuk datang tepat waktu dan sebagainya. Ocehan yang semakin terdengar anarkis ketika untuk kesekian kalinya, ia tidak mendapat jawaban dari orang yang kini sedang ia hubungi.

"Si Menma kemana sih? Udah minjem mobil, telat lagi. Nggak tahu apa kita udah mau ketinggalan pesawat! Keluyuran aja tu anak kerjaannya!"

Ia membanting ponselnya sebelum ikut membanting diri pada tempat tidur di belakangnya.

"Tahu gitu nggak gue pinjemin. Bohong banget kalau dia bilangnya mau cari bahan buat Majalah Kampus. Pasti lagi asyik pacaran nih. Gue patah tulang cari duit sambil kuliah, dia malah hura-hura," omelnya sambil memungut ponselnya untuk kembali menghubungi makhluk yang ditakdirkan menjadi pasangan satu rahimnya itu.

Namun baru saja ia menempelkan benda persegi itu di telinganya, suara klakson yang di bunyikan berkali-kali membuatnya reflek menjulurkan kepala celingukan ngintip dari jendela kamar yang tidak jauh dari tempatnya berada. Mendapati sebuah mobil terparkir manis di pekarangan rumahnya membuatnya spontan berdiri.

"Nah, itu dia."

Ia menoleh menatap Sasuke yang kini tengah mengutak-atik ponselnya.

"Yuk buru."

Sasuke menggumam sebelum mengikuti langkah Naruto yang kini menjijing tas bawaan mereka keluar dari rumahnya. Cowok berambut pirang itu berdiri bercakak pinggang menatap sengit pada kembarannya yang cengengesan melihat kekesalan di wajah Sang Kakak. Udah bikin salah, nyengir seolah polos nggak berdosa lagi, bikin tambah keki. Sebelas dua belas tiga belas tuh sama Si Sasuke.

"Darimana aja lo?! Nggak liat ini jam berapa?"

Cengiran di wajah Menma musnah seketika.

"Ye elah, gitu aja ngambek. Yang pentingkan masih sempat masuk pesawat. Gandulan di roda-rodanya juga nggak masalahkan, yang penting nyampe," komentar cowok berambut kontras dengan Naruto itu enteng yang disambut dengan pelototan kakaknya. Ni anak kalo ngomong suka asal nyablak ya, kayak knalpot bajaj.

Namun kemarahan Naruto teralihkan ketika ia menyadari bukan adiknyalah yang menjadi sopir mobilnya, melainkan seorang cewek dengan tampang cemberut super bêtenya. Tunggu dulu, wajah itu terlihat familier. Ia pernah melihatnya, tapi dimana yah? Menyadari perhatian Sang Kakak tengah berfokus pada makhluk disebelahnya yang kini sedang meratapi nasib, cengiran Menma kembali.

"Oh ya, kenalin, ini sohib gue. Sakura. Cewek paling kece sekampus."

Boro-boro menjawab, Sakura malah makin cemberut . Udah tahu lagi bête malah diajak ngobrol. Ngajak gelud? Menma cuma bisa meringis melihat respon tidak bersahabat cewek di sampingnya ini dan akhirnya memilih menoleh menatap Naruto.

"Sorry ya, dia lagi galau judul skripsinya ditolak terus plus bonsai ratusan jutanya di makan kambing tetangga. Makanya wajahnya kusut kayak baju abis keluar mesin cuci gitu. Biasalah masalah umum para pejuang skripsi," klarifikasi cowok itu lebay, yang sukses membuat Sakura melirik penuh ancaman ke arahnya. Nggak usah diperjelas kayak gitu juga kali.

"Trus kenapa dia bisa ikut lo?"

Menma cengengesan mendengar pertanyaan itu. Namun belum sempat cowok ember bocor itu menjawab, Sakura udah lebih dulu menyambar.

"Bukan urusan lo. Udah gih naik sono! Banyak nanya! Buang-buang waktu gue aja."

Jawaban sengak yang spontan membuat Naruto terkesima. Hey, dia makin yakin pernah ketemu cewek ini. Menma yang melihat perubahan ekspresi Sang Kakak spontan menyikut perut Sakura buat membungkam mulut nyonyor cewek itu yang kadang susah dikendalikan. Bisa berabe urusan kalau kakaknya itu ngambek karena ocehan nggak penting dari Sakura.

"Dia jadi sopir gue seminggu ke depan karena kalah taruhan," ucapnya singkat mengabaikan cewek yang kini meringis kesakitan karena sikutannya yang nggak main-main, sebelum beralih pada cowok di belakang Naruto untuk mengalihkan perhatian Sang Kakak.

"Hei, Sas? Tambah ganteng aja. Tapi jangan coba-coba ngerayu Sakura ya? Do'i masa depan gue," cerocosnya ngawur yang membuat Sakura langsung menoyor kepalanya.

"Masa depan, pala lo peyang! Gue bangsa merdeka," sengitnya nggak terima main di klaim seenak jidat, membuat Menma meringis karena rasa cenat-cenut yang kini mulai mendera kepalanya. Dalam hati mempertanyakan kenapa ia bisa hidup dengan para anarkis di sekelilingnya. Nggak Sakura, nggak Naruto. Kalau ngamuk serasa pegang granat.

"Naik gih, ketinggalan pesawat kapok lo bedua," kata Menma kemudian dengan tangan yang mengelus kepalanya, mengabaikan cewek yang masih ngomel-ngomel di sampingnya. Naruto yang tersadar karena perkataan adiknya itu spontan melirik jam di pergelangan tangannya dan tercekat ketika mendapati angka yang ditunjukan benda tersebut.

"Yuk Sas," ajaknya setelah menoleh ke arah Sasuke. Cowok itu membuka pintu belakang mobil dan kembali terpaku melihat sebuah printer dan laptop tergeletak manis di jok belakang. Trus gimana caranya ia bisa masuk kalau kayak gini ceritanya. Ia kembali menatap Menma di depan.

"Ma, ini punya lo?"

Menma menoleh dan spontan mengernyit ketika mendapati barang-barang yang ditunjuk oleh kakaknya itu. Dia juga baru sadar jika barang-barang itu ada di sana. Ia menyenggol lengan Sakura.

"Punya lo, Ra?" tanya sambil memberi kode ke belakang dengan dagunya. Cewek itu berdecak namun nggak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari depan.

"Geser aja," jawabnya seenak jidat yang membuat Menma meringis seketika. Bangsa merdeka mah bebas yes? Ia nyengir ke arah Naruto yang kini menatapnya dan Sakura bergantian dengan ekspresi campur aduk. Antara kesel dan nggak percaya. Ini mobil punya siapa sih sebenernya? Kok berasa dia yang numpang gini? Mau protes juga bingung, ni cewek sengak banget. Akhirnya iapun memilih untuk menggeser benda-benda itu dengan wajah cemberut yang tidak ikhlas, mengabaikan Menma yang kini menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada dengan wajah memelas minta pengampunan.

"Rese lo, Ra. Gue nggak bakalan dipinjemin mobil lagi nih kalo tampang Si Naruto kek gitu," bisik-bisik Menma curcol. Sakura mah bodo amat.

"Derita lo," jawabnya jutek yang membuat cowok di sampingnya cemberut seketika, membuatnya memutuskan melanjutkan kembali dramanya.

"Padahal gue udah ngerelain semua tabungan gue buat ngadain pesta pora ngerayain kebahagiaan gue waktu denger lo putus, ini balesan lo atas semua ungkapan cinta gue? Tega banget sih lo," ucapnya dramatis yang dibales pelototan dari Sakura. Orang putus malah dirayain. Jangan bilang midnight party super heboh sebulan lalu yang viral karena sampe minjem auditorium kampus segala itu buat ngerayain kejombloannya dia?

"Bangke lo!" maki Sakura yang dibalas airmata buaya Menma yang membuatnya pengen ngirim tu cowok ke sungai Amazon buat dijadiin umpan Piranha.

"Udah dramanya? Buru berangkat gih. Udah telat gue gara-gara lo bedua!" Suara super bête dari jok belakang menghentikan tangisan sandiwara Menma. Ia langsung menepuk-nepuk lengan Sakura memberi kode agar cewek itu melaksanakan titah yang mulia raja sambil pura-pura menikmati pemandangan diluar sana, mengabaikan cewek yang kini mendengus karena belum puas menyumpahi kekampretannya. Menma lebih ngeri sama Naruto yang lagi bête daripada semprotan Sakura. Dari kaca spion ia bisa mendapati bagaimana kakaknya itu duduk desak-desak berbagi tempat dengan Sasuke dengan wajah ketekuk seribu. Belum lagi banyak polisi bobok di sepanjang jalan kenangan perumahaannya yang membuat tubuh keduanya oleng kanan kiri. Cowok itu kembali merapatkan tubuhnya pada Sakura.

"Lo liat tu mereka bedua. Kayak anak teka lagi naik angkot," komentarnya bisik-bisik sambil cekikikan.

"Diem lo sempak dinosaurus!"

Wuidih lupa dia kalau Sakura masih ngamuk.

.

.

.

Sasuke tersenyum tipis melihat dua makhluk yang sedang cekcok di depannya. Di sebelahnya Naruto tampak duduk gelisah karena kesesakan. Ia tidak menyangka dunia bisa sesempit ini. Ia masih tidak percaya pada penglihatannya saat ini, seperti ketika ia tadi terpaku mendapati cewek itu duduk di belakang kemudi mobil. Cewek yang dulu berhasil menyita semua fokusnya kini berada di hadapannya. Cewek yang dulu pernah berpisah raga dibatasi sebuah kaca bening, kini satu atap dengannya. Cewek yang tanpa ia berusaha seperti dulu kini datang sendiri padanya.

"Kalian ke Malang ngapain? Panen apel?"

Sampai suara itu menghancurkan senyum dan semua angannya. Ia melirik pada Menma yang kini sedang menatapnya dari kaca spion.

"Ada kerjaan," jawabnya singkat yang membuat Menma manggut-manggut nggak jelas.

"Kerjaan apaan? Panen apel?"

Kali ini Sasuke memilih menjawab pertanyaan Menma dengan gumaman. Bisa panjang ceritanya kalau ia meladeni cowok itu.

"Skripsi lo sampe mana?"

Menma masih keukeuh buat ngajak ngobrol sohibnya itu.

"Sama kayak yang lain," jawabnya singkat yang sukses membuat Menma meringis dengernya. Sama kayak yang lain gimana coba maksudnya? Itu cowok kayak Sakura versi laki-laki ya? Omongannya kadang bikin kesel. Cuma bedanya kalo Sakura keselnya karena sengak, kalo Sasuke karena nggak jelas.

"Jangan kerjaan terus yang lo pikirin. Skripsi lo tu dikerjain," nasehat Menma sok bijak. Naruto yang mendengarnya langsung nyinyir. Lihat siapa yang ngomong barusan? Menma Si Tukang Ngelayap. Boro-boro ngerjain skripsi, mikirin judul aja nggak ada tanda-tandanya tuh. Kaca di kamarnya udah dipecahin semua kali, makanya nggak bisa lihat diri sendiri.

"Kalian satu jurusan?" Mengabaikan ocehan Menma, Sasuke lebih memilih mengorek informasi tentang cewek yang sedang mengemudi itu.

"Oh nggak. Kita beda fakultas malah. Sakura sohib seperjuangan gue dari jaman es em pe," jawab Menma bangga mengabaikan lirikan sinis dari Sakura. Seperjuangan apaan? Hura-hura terus kerjaan tuh anak.

Percakapan mereka berhenti tatkala suara lantunan nada dari Fur Elise menarik perhatian semuanya untuk menatap pada Sakura yang kini merogoh saku jeansnya untuk mengambil ponsel. Bukan karena suara itu mengganggu mereka, tapi karena instrument karya Beethoven yang dipilih cewek itu sebagai nada dering. Galak-galak selera musik high class juga ya? Raut Sakura berubah masam ketika melihat siapa yang menghubunginya sebelum mengangkat panggilan itu. Eh buset nelpon sambil nyupir. Mo mati kok ngajak-ngajak. Mulut Menma komat-kamit membaca mantra supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk.

"Napa No?" jawab Sakura setelah mendengar suara dari seberang sana. Menma yang awalnya nguping kepo karena khawatir ada saingan baru selain Gaara, mantan –coretterindahcoret– cewek itu, menghela napas lega ketika tahu siapa yang menelepon Sakura.

"Oh, printer ma laptop punya Majalah Kampus? Iya gue yang ambil. Napa emang?" Sama halnya dengan Sasuke dan Naruto yang langsung saling lirik sebelum mengalihkan pandangan pada dua benda di sebelah mereka, Menma juga menoleh menatap benda di jok belakang itu sebelum mengembalikan fokusnya pada cewek di sebelahnya.

"Udah gue jual. Mayan buat gantiin bonsai gue yang dimakan kambing lo," jawab Sakura asal sebelum memutuskan sepihak telepon dari sohibnya itu.

"Ra, itu yang di belakang laptop sama printer punya Majalah Kampus?"

Cowok berambut legam itu langsung memastikan apa yang terlintas di benaknya begitu melihat Sakura memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. Gimanapun, selain Ino yang nggak terlalu banyak berkontribusi selain papanya yang menjadi donatur tetap, dirinya adalah salah satu pengurus dari Majalah Kampus. Jadi saat nama UKM-nya itu disebut-sebut, tentu saja ia harus turun tangan.

"Gue pinjem buat ngerjain skripsi," jawabnya seenak jidat tanpa mempedulikan Menma yang kini melotot mendengar perkataannya.

"Sarap lo! Itu satu-satunya printer punya Majalah Kampus, tahu nggak lo!"

"Bodo! Minta beliin yang baru gih sono sama Ino. Diakan banyak duit. Masih ngutang bonsai ratusan juta tu anak sama gue," jawab Sakura mengembalikan kalimat lebay Menma tentang bonsai yang sebenarnya nggak segitu juga harganya, membuat cowok itu cuma bisa mendengus kesal kehabisan kata-kata.

"Semerdeka lo aja deh."

Sasuke mengulum senyum melihat cowok yang tadi sok bijak kini kemakan ucapannya sendiri. Mata elangnya beralih menatap cewek yang tampak acuh karena berhasil memancing kekesalan Menma. Cewek yang sama yang selalu mampu membuatnya tersenyum. Cewek yang kini ia ketahui siapa namanya

Sakura.

.

.

Hanya sebuah cerita iseng, buat ngasih tahu ke yg kangen sama saya (kalo ada), kalo saya sekarang lebih aktif di wattpad. Jd kalo bener2 kangen sm saya bs mampir..

Aegyo_yeodongsaeng

Jangan tanya kenapa saya ngilang, karena ceritanya panjang. Gitu saja ya bye bye…