Semua karakter selain EXO muncul karna kurangnya nama yang aku bisa pikirkan wkwk

Genderswitch hanya untuk Baekhyun, Luhan, Kyungsoo, Tao

Jangan lupa review ya hehe

..

"Sehun, ayolaaaahhhhh." Jongin menarik-narik lengan Sehun seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.

"Tidak." Sehun tidak memperdulikan rengekan Jongin dan tetap membaca komik dengan bahasa Jepangnya itu, saat ini seperti biasanya, mereka sedang menghabiskan waktu istirahat berharga mereka diatap sekolah.

Atap sekolah adalah wilayah terlarang disekolah ini, semua murid yang ketahuan berada diatap sekolah akan menjadi pegawai pembersih sekolah dalam sehari, Sehun dan Jongin sudah melakukan pekerjaan itu selama empat kali, tapi mereka tidak pernah kapok dan selalu pergi ke atap ini.

Guru hanya akan memeriksa atap saat jam pelajaran, saat istirahat para guru itu lebih memperdulikan untuk memanfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya, jadi tidak akan ada guru yang memeriksa atap saat istirahat, tapi empat kali nasib buruk datang kepada mereka berdua.

"Ayolah Sehun-ah, aku ingin melihat rumahmu, pasti sangat mewah." Jongin kembali mengguncang tubuh Sehun.

"Diamlah Jongin-ah, kau tidak lihat aku sedang sibuk?" Sehun yang kesal menghentak tangan Jongin dari lengannya.

"Kau sibuk apa memangnya, dari tadi kau hanya membaca komik dengan bahasa alien itu!" Jongin berkata dengan sangat keras.

"Urusai!" Sehun bangun dari duduknya dan berjalan kearah pintu keluar, namun langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita dewasa dengan tangan berlipat didada sudah berdiri dipintu menuju tangga turun. 'Pasti si bodoh itu lupa menutup pintu' Sehun merutuki kebodohan Jongin yang lupa menutup pintu, jika pintu tertutup pasti dia bisa mendengar suara pintu yang berderit kencang dan bisa bersembunyi karna pintu itu lumayan berat untuk dibuka.

"Nakagawa Hito dan Kim Jongin murid tingkat 2 kelas A, sudah empat kali melanggar peraturan mengenai atap sekolah." Sepertinya kali ini nasib buruk ke lima mereka datang. "Ikut aku ke ruang guru."

..

"Apa kalian tidak pernah kapok dengan hukuman yang diberikan?" Sehun dan Jongin hanya bisa menunduk mendengar suara sang guru yang lumayan tinggi.

"Kalian ini benar-benar." Seorang pria yang memakai pakaian olahraga datang dan memukul belakang kepala Sehun dan Jongin.

"Ah Saem, appooooo." Jongin menatap kesal guru olahraga yang tadi memukulnya.

"Yoon Songsaenim, bolehkah aku mengambil alih murid Kim Jongin?" Guru olahraga itu merangkul bahu Jongin sambil menekannya, membuat Jongin meringis.

"Baiklah Lee Songsaenim, kau bisa mendapatkannya."

"Terima kasih Yoon Songsaenim." Guru olahraga itu menunjukan senyum penuh amarahnya dan segera menarik telinga Jongin dan menyeretnya keluar ruang guru.

"Ah Coach! Appo! Jangan menarik telingaku! Ya! Sehun-ah tolong aku, Yoon Saem tolong selamatkan aku!" Tanpa memperdulikan rontaan dan teriakan minta tolong Jongin, Guru olahraga itu pun tetap menyeret Jongin bersamanya. Sehun yang melihat itu senyum-senyum menahan tawanya, Jongin pasti akan dihajar abis-abisan oleh Guru olahraga sekaligus pelatih renangnya.

Asal kalian tahu, sekolah yang dimasuki Sehun ini adalah sekolah yang memilki murid anatara pintar akademik maupun pintar olahraga, jika bodoh dalam pelajaran, setidaknya dia haruslah jago dalam cabang olahraga, dan itulah yang membuat Kim Jongin yang bodoh bisa berada disekolah itu, dia unggul dalam olahraga renang dan sering memenangkan kejuaraan tingkat sekolah maupun lokal, bahkan nasional.

"Jangan senang dulu Nakagawa-kun, kau masih berurusan denganku." Yoon Songsaenim berhasil membuat Sehun menghentikan senyumnya dan menunduk.

"Aku harus membersihkan ruang apa Saem?" Sehun bertanya takut-takut.

"Panggil walimu kesini."

"NE?"

"Panggil walimu kesini." Ujar Guru Yoon tanpa melihat ke arah Sehun karna dia sedang menulis catatan pelanggaran untuk Sehun.

"Tapi Saem, biasanya kan hanya membersihkan sekolah." Guru Yoon menghentikan gerakan menulisnya dan menghadap kepada Sehun.

"Atau kau mau orangtuamu yang kesini?"

"Ani Saem, mereka ada di Jepang." Sehun menundukan kepalanya.

"Makanya itu aku menyuruhmu membawa walimu besok."

"Tapi Saem, apa kau tidak tau bahwa perwalianku sudah dipindah tangan kan? Sekarang yang menjadi waliku adalah seorang kakek tua yang renta, dia tidak mungkin jauh-jauh datang ke sekolah hanya untuk mendengar penjelasan mengenai pelanggaranku."

"Aku dengar wali barumu adalah kakek tua yang memiliki banyak uang."

"Saem."

"Bawa dia kesini agar dia tau betapa meruginya dia karna mau menjadi walimu."

..

"Ada apa Tuan Muda?" Seorang pria dengan pakaian rapih dan wajah yang terlihat berwibawa karna usia yang matang terlihat risih duduk disebuah kafe penuh anak muda disekelilingnya, dia tidak akan berada disana jika bukan karna cucu dari atasannya memanggilnya untuk datang.

"Sekertaris Kim, aku butuh bantuanmu." Sehun yang ternyata adalah tuan muda itu menyerahkan sebuah surat kearah orang yang dia panggil Sekertaris Kim, yang merupakan Sekertaris walinya di Korea.

Sekertaris Kim mengangkat alisnya bingung, setelah itu mengambil surat yang diberikan Sehun. "Apa yang Anda lakukan?" Sekertaris Kim menunjukan wajah kesalnya setelah membaca surat yang merupakan surat panggilan untuk orang tua atau walinya Sehun.

"Hanya kesalahpahaman kecil, kau tidak perlu khawatir dan jangan memberitahu siapapun." Sehun kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan yang tadi ada dikursi sampingnya. "Saat aku sedang mencari jam tangan baru, aku menemukan sebuah arloji yang akan sangat cocok ditanganmu Sekertaris Kim." Sehun menyodorkan bingkisan itu pada Sekertaris Kim.

"Apa yang Anda inginkan sampai Anda harus menyogok saya?" Sekertaris Kim menyerahkan kembali suratnya pada Sehun.

"Jadilah perwakilan waliku." Sehun memohon dengan wajah sok memelasnya.

"Komisaris Byun saat ini ada dikantor pusat, serahkan surat itu padanya." Sekertaris Kim beranjak dari duduknya.

"Sekertaris Kim, aku tidak mungkin memberikan surat ini kepada Kakek, bagaimana jika dia marah-marah padaku dan membatasi uang jajanku?" Sehun mencoba menahan kepergian Sekertaris Kim.

"Itulah resiko yang harus Anda terima Tuan Muda." Sekertaris Kim mencoba melepaskan tangan Sehun.

"Tapi nanti dia bisa terkena serangan jantung jika terlalu stress, kau tau sendiri aku dan Eommaku tidak bisa mengurus perusahaan saat ini." Sehun menunjukan wajah sok khawatirnya.

"Komisaris Byun adalah pria 65 tahun yang masih sangat sehat."

"Aaahhh, Sekertaris Kim bantulah aku."

"Saya akan mengantarkan Anda ke perusahaan."

"Aisshh."

..

Sehun mau tidak mau memang harus menerima resikonya, saat ini dia sudah berdiri didepan gedung Byun Group, perusahaan kakeknya.

"Sekertaris Kim, kau tidak masuk?" Sehun terlihat bingung karna Sekertaris Kim yang tidak turun dari mobilnya.

"Komisaris Byun memerintahkan saya untuk pergi ke suatu tempat, anda masuk saja ke dalam, para petugas akan mengantarkan anda." Setelah itu kaca mobil Sekertaris Kim tertutup dan sang supir melajukan mobilnya meninggalkan Sehun yang sedang sangat gugup.

"Silahkan Tuan Muda." Seorang petugas gedung itu menuntun Sehun untuk masuk ke dalam gedung perusahaan, dia dibawa ke lift dan petugas itu memencet angka 47 pada tombol lift. Gedung yang ia masuki ini adalah gedung pusat milik Byun Group, ada 68 lantai digedung ini, dan nantinya dia yang akan memiliki dan memimpin semua yang ada digedung ini.

Mereka sampai dilantai yang menjadi tujuan mereka, lantai itu lumayan sepi, hanya ada beberapa pekerja dan ada beberapa pengawal sang kakek yang dia kenal. Para pengawal yang mengenalnya segera menundukan badan, sedangkan para pegawai terlihat kebingungan namun ikut menundukan kepalanya karna pastinya dia orang penting.

Petugas yang tadi mengantarnya membisikan sesuatu pada seorang wanita yang berdiri dibelakang sebuah meja, wanita itu mengangguk lalu membukan badannya lagi pada Sehun. "Silahkan masuk Tuan, Komisaris Byun dan CEO Kim sudah menunggu Anda didalam." Sehun mengangguk, lalu wanita itu membukakan sebuah pintu untuk Sehun.

"Ah, cucu ku sayang." Baru melangkah masuk ke dalam ruangan itu, Sehun segera disambut oleh pelukan seorang kakek-kakek tua, Sehun hanya diam dan membalas pelukannya. "Awalnya kakek kesini hanya untuk mengurus beberapa hal, tapi setelah Sekertaris Kim mengatakan kau akan menemui kakek, kakek rasa ini saat yang tepat untuk memperkenalkanmu pada perusahaan."

"Selamat datang Tuan Muda." Seorang pria yang terlihat masih muda namun memiliki wajah yang berwibawa dan dewasa menundukan kepalanya pada Sehun, Sehun mengangkat alisnya penasaran dengan pria tersebut.

"Tidak perlu sekaku itu pada Sehun, CEO Kim, anggap saja Sehun sebagai keponakanmu, dia kan anaknya Baekhyun." Ujar Komisaris Byun sambil kembali ke sofa yang tadi dia duduki.

"Baiklah Abeonim." CEO Kim mengangguk dan kembali mendudukan dirinya disofa panjang samping sofa yang diduduki Komisaris Byun.

'Siapa dia? Kenapa akrab sekali dengan Kakekku?' Sehun menaruh rasa penasarannya pada CEO Kim.

"Duduklah Sehun-ah." Komisaris Byun menunjuk sofa panjang yang diduduki CEO Kim dan Sehun pun berjalan menuju sofa tersebut dan duduk disamping CEO Kim. "Ini adalah hari yang baik untuk memperkenalkan kalian, Sehun-ah dia adalah CEO Byun Grup Kim Junmyeon dan dia juga anak pertama Sekertaris Kim, Junmyeon sudah seperti anak Kakek sendiri jadi anggaplah dia sebagai pamanmu."

"Ah anak Sekertaris Kim, annyeonghaseyo Sehun imnida." Sehun bangkit dari duduknya dan membungkuk sopan untuk tata krama.

"Annyeong Sehun-ah." Junmyeon memberikan anggukan sopan untuk membalas salam perkenalan Sehun.

"Samchonmu ini yang akan membantumu mempelajari semua mengenai bisnis dan perusahaan, bersikap baiklah dengannya dan hormati dia dengan baik, dan nanti jika kau bergabung dengan perusahaan kau harus menghormatinya sebagai seorang atasan." Sehun hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan kakeknya, tapi ada yang membuat dia sedikit penasaran.

"Bukankah saat aku bergabung dalam perusahaan dia akan menjadi bawahanku? Dan mengapa Kakek bisa mempercayainnya, bisa saja dia berencana membunuhku untuk mendapatkan Byun Grup." Dan kedua pria yang sedang meminum teh yang sudah disiapkan pegawai itu harus merelakan tangan mereka basah karna semburan mereka sendiri setelah mendengar ucapan polos seorang Sehun.

"Anda tidak apa-apa Abeonim?" Junmyeon yang tadi sempat kaget masih bisa mengendalikan dirinya dan segera mengambil tisu saat melihat Komisaris Byun masih terbatuk-batuk, dia pun membantu Komisarsis Byun membersihkan tangannya.

"Apa yang kau katakan?" Setelah batuknya reda, Komisaris Byun menatap sang cucu dengan tidak percaya, bagaimana bisa cucunya memiliki pemikiran seperti itu.

"Aku hanya memikirkan hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi." Sehun mengucapkannya tanpa rasa bersalah karna telah memikirkan hal buruk mengenai Junmyeon.

"Jumnyeon-ah, jangan dengarkan ucapan Sehun, dia masih belum mengerti apa-apa."

"Ne, Abeonim." Junmyeon menundukan kepalanya hormat, sedangkan Sehun masih tidak merasa bersalah.

"Ah sepertinya kalian harus mengakrabkan diri dulu, karna nanti kalian akan bekerja bersama, aku harus kembali ke rumah karna aku sudah terlalu tua untuk terus berkeliaran seperti ini." Komisaris Byun bangun dari duduknya dan Junmyeon mengikutinya berjalan ke arah pintu keluar.

"Tapi Kek, ada yang ingin aku bicarakan." Sehun terkejut dengan keputusan kakeknya untuk pulang, padahal dia belum memberitahukan maksud dari kedatangannya ke sana.

"Bicarakan pada Samchonmu ini." Lalu Sehun ditinggal sendirian didalam ruangan itu.

"Aish bahkan aku belum memberikan suratnya." Sehun pun kembali duduk dan merutuki kebodohannya, tidak lama kemudian pemilik dari ruangan itu kembali.

"Komisaris Byun sudah pergi." Junmyeon pun melanjutkan jalannya kearah meja kerjanya dan duduk dibalik meja tersebut. "Berkelilinglah dulu, ada beberapa pekerjaan yang harus ku lakukan, setelah itu aku akan menjelaskan berbagai pengetahuan dasar mengenai perusahaan ini."

Sehun terlihat malas untuk beranjak dan malah mengeluarkan ponselnya. "Sebenarnya siapa dirimu? Kenapa kau yang menjadi CEO?"

"Jadi kau ingin Pamanmu yang sudah mati atau Eommamu yang sedang menjadi artis yang menduduki posisi ini?"

"Ah iya, hanya tinggal aku yang bisa memegang perusahaan ini." Junmyeon yang mendengarnya merasa maklum karna sepertinya keangkuhan Sehun itu adalah warisan dari Baekhyun. "Lalu mengapa kau yang menjadi penggantiku?" Junmyeon menghentikan gerakan membaca kertasnya dan menatap Sehun.

"Aku akan menjadi atasanmu."

"Bukankah jika aku berada diposisimu kau akan menjadi sekertaris sepertia Ayahmu?" Sehun bertanya bukan karna dia merendahkan Junmyeon, dia memang tidak mengetahui apapun.

"Semua tidak sesimple itu Sehun." Junmyeon terkekeh mendengar pertanyaan Sehun. "Saat kau masuk ke perusahaan kau akan menjadi bawahanku, dan saat kau berada diposisiku kau tetap menjadi bawahanku."

"Hah?" Otak cerdas Sehun sepertinya sedang tidak berfungsi.

"Kau CEO, aku Dewan Direksi yang punya wewenang untuk mengangkat atau memecatmu."

..

"Appa...?"

Tak ada jawaban.

"Appa!"

"Ne, Luna sayang."

"Apa ingin pergi kemana?" Luna memperhatikan seorang pria dewasa yang saat ini sedang merapikan dasinya.

"Pesta."

"Luna boleh ikut?"

"Ani, ini pesta untuk orang tua bukan untuk putri kerajaan."

"Tapi Luna ingin ikut." Luna mengerucutkan bibirnya lucu.

"Tidak, tidak, tidak."

Luna menekuk wajahnya kesal, namun kekesalannya hilang saat mendengar suara seorang wanita sedang memanggilnya dari luar.

"EOMMA!" Luna berlari kearah wanita yang tadi memanggilnya dan segera memeluknya.

"Oh Luna-ya, kau rindu dengan Eomma?"

"Neeeee. Eomma, Appa tidak mengizinkanku ikut ke pesta." Luna melesakan wajahnya ke dalam dada wanita yang dia panggil Eomma.

"Itu bukan pesta untuk anak kecil, Sooyoung aku titip Luna." Pria itu kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil beberapa barang, Sooyoung menyusul pria itu ke kamar.

"Chanyeol-ah, semangat!" Sooyoung meneriaki Chanyeol sambil memberikan tanda semangat dengan tangannya.

"Ada apa denganmu?"

..

Chanyeol bohong soal pesta, pesta apa yang hanya dihadiri dua orang saja.

"Berhenti menatapku." Wanita yang ada dihadapan Chanyeol merasa kesal dengan ulah Chanyeol yang terus memperhatikannya. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Kau tau, aku orang yang sangat sibuk."

"Makanlah dulu." Chanyeol memberikan senyum manisnya pada wanita itu.

"Ah, ini pasti hanya akal-akalanmu lagi, aish kau membuang-buang waktuku." Wanita itu berdiri dan mencoba pergi namun Chanyeol berhasil menahan tangannya.

"Ya Baekhyun-ah, makanlah dulu, kau terlihat makin kurus."

"Hei, jika kau tidak mengajakku bertemu, aku akan makan dengan lahap ditempat lain."

"Sekarang makanlah dengan lahap disini."

"Aish." Baekhyunpun kembali duduk dikursinya dan memakan makanannya dengan sedikit kesal namun tidak merusak ke anggunannya.

"Kau tau, aku mendapat kesempatan untuk menangani resort terbaru Byun Group." Chanyeol menunjukan senyum bahagianya.

"Jinja? Bagaimana mungkin Appa..."

"Mungkin dia sudah mulai menerimaku." Chanyeol memberikan senyum menjengkelkannya kepada Baekhyun.

"Menerima apa? Memangnya kau akan menjadi apa hah?"

"Tentu saja menantu." Chanyeol terlihat begitu percaya diri.

"Bermimpi saja sana."

..

Sehun sedang melakukan ritual sebelum tidurnya, yaitu melakukan analisis mengenai siapa ayah kandungnya. Untuk masalah sekolah semua sudah teratasi setelah dia berhasil membujuk Kim Junmyeon untuk menjadi perwakilan dari walinya.

Dia pikir awalnya Junmyeon adalah laki-laki menyebalkan yang akan terus merendahkan dan mencoba menjatuhkannya, ataupun laki-laki yang akan menghasut semua dewan direksi untuk tidak memilihnya kelak.

Setelah seharian berdiskusi dan belajar mengenai perusahaan dan juga makan malam bersama, Sehun rasa Junmyeon bukan orang buruk, usianya sudah menginjak 35 tahun tapi dia mampu memasuki dan berbaur dengan pemikiran remaja labil macam Sehun, apalagi dia setuju untuk datang ke sekolahan Sehun dan menganggap kenakalan seperti itu adalah hal yang wajar.

Itu yang membuatnya menulis nama Junmyeon dalam daftar kandidat ayah kandungnya, walaupun menurut analisanya sangat tidak mungkin karna usia mereka hanya terpaut 15 tahun, tidak mungkin Junmyeon menghamili Baekhyun yang berusia 20 tahun.

"Ah padahal dia orang baik." Sehun pun mencoret nama Junmyeon dari bukunya.

"Apa yang kau lakukan?" Ternyata Baekhyun sedari tadi memperhatikan kegiatan mencari ayah Sehun itu.

"E, Eomma, ketuk pintu dulu sebelum masuk."

"Apa yang kau lakukan?" Baekhyun mengulang pertanyaannya.

"Menganalisis orang-orang yang berpeluang menjadi Ayah kandungku. Aku mendapat tiga orang."

"Nugu?"

"Shim Changmin, Kim Minjun, dan Park Chanyeol." Baekhyun sedikit kaget mendengarnya.

"Lalu apa hasil analisismu?"

"Shim Changmin, dia lebih tua dua tahun darimu, saat kau mengandungku, kau dan dia sudah dekat karna dia adalah anak pegawai kakek, dia penerima beasiswa dari Byun Group dan sekarang dia bekerja sebagai pengacara difirma hukum yang didanai oleh Byun Group dan menjadi pengacara pribadi Byun Group."

"Kalau itu dia?"

"Aku berhenti, dia hanya pengacara, tidak ada yang bisa ku dapatkan."

"Yang lainnya?"

"Kim Minjun, kau dan dia berkuliah bersama. Tidak terlalu menguntungkan, dia pemimpin Nive Corp, tapi tetap saja Nive Corp adalah milik Byun Group."

"Hmm."

"Park Chanyeol, putra kedua Golden Tree Group, dengan usahanya sendiri dia berhasil menjadi pemilik sekaligus pemimpin perusahaan arsitektur terbesar dan sudah menangani banyak proyek penting di Korea. Kau dan dia pernah bersama sebelum aku lahir, perbedaan usia empat tahun."

"Bukankah dia menarik?"

"Tidak."

Baekhyun terlihat bingung, bukankah Chanyeol adalah kriteria Ayah idaman Sehun, yaitu kaya. "Why?"

"Kalau itu dia, berarti dia menghamilimu setelah menghirup sabu-sabunya. Dia pernah dipenjarakan?"

"Aku tidak tertarik menjadi putra seorang pecandu." Lanjut Sehun.

..

..

TBC