"Hey, apa kau tidak bisa membaca jam? Ini sudah pukul sebelas malam dan kau memintaku bertemu seperti ini?" Sehun dengan pakaian santainya menghampiri seorang pria yang sekarang sedang menenggelamkan wajahnya pada sebuah meja minimarket. Sehun yang sedang bersantai-ria dikamarnya harus rela diganggu saat dia mendapatkan telpon dari Jongin yang meminta bertemu diminimarket dekat asrama sekolahnya.
"Sehun-ah." Jongin mengangkat kepalanya dan menunjukan wajah menyedihkan.
"Ada apa dengan wajahmu yang semakin jelek itu?" Sehun mengernyit melihat tampang Jongin yang menjijikan dimatanya, Jongin terlihat seperti seorang banci yang habis diperkosa.
"Yoora meminta putus." Jongin memberikan tatapan yang semakin terlihat menyedihkan.
"Ya! Jangan mengeluarkan tampang seperti itu! Kau terlihat seperti gay!" Sehun memukul kepala Jongin, ia tidak mencoba menahan pukulan Sehun dan menyebabkan wajahnya berciuman dengan meja. "Hey, kau sudah gila? Mana ada cowok selemah ini karna diputusi kekasihnya, kau benar-benar banci."
"Kau tidak tau rasa sakitnya karna kau tidak memiliki pacar!" Jongin kembali mengangkat wajahnya dan berteriak pada Sehun.
"Aish." Sehun memutuskan untuk masuk ke dalam minimarket dan membeli sesuatu untuk sang sahabat tercinta. Jongin hanya memperhatikan Sehun dengan garang.
Selesai membayar pada kasir, Sehun kembali menghampiri Jongin dan duduk dihadapannya dengan dua buah cup ice cream ditangan. Dia menyerahkan salah satu cupnya pada Jongin.
"Hey, yang aku butuhkan adalah alkohol, bukan ice cream!" Sehun refleks memukul kepala Jongin kembali dan wajah Jongin lagi dan lagi berciuman dengan meja.
"Kau ingin babak belur disini?" Sehun menatap Jongin dengan amarahnya. "Kembalilah ke asrama, kalau kau ketahuan pergi jam segini bisa-bisa ku diberi hukuman menguras kolam renang, lagipula besok senin, jika kau kurang tidur, besok pintu gerbang sekolah sudah tertutup saat kau bangun."
"Aku ingin menginap dirumahmu." Dan wajah Jongin kembali berciuman mesra pada meja untuk kesekian kalinya. "Ya! Berhenti memukulku!"
"Kau memang pantas, berhentilah menjadi banci seperti ini, masih banyak wanita baik dan cantik diluar sana."
"Tidak ada yang secantik dan sebaik Yoora." Jongin mengeluarkan wajah menjijikannya lagi.
"Kau tidak akan tau pribadi asli seseorang, mungkin saja memeng Yoora aslinya tidak sebaik itu." Sehun memakan ice creamnya tanpa memperhatikan wajah Jongin karna dia benar-benar merasa jijik. "Tapi karna dia mau berpacaran dengan orang bodoh sepertimu mungkin dia bisa dianggap sebagai malaikat baik hati."
Jongin melempar tutup cup ice creamnya pada Sehun. "Walaupun aku bodoh setidaknya ada yang mau denganku, tidak sepertimu yang peringkat satu namun tidak pernah memiliki kekasih."
Mereka terdiam dan menikmati ice cream masing-masing, Sehun memakan ice creamnya dengan nikmat sedangkan Jongin memakannya dengan perasaan menyedihkan.
"Baiklah aku akan kembali ke rumah." Sehun berdiri berencana meninggalkan Jongin, namun tiba-tiba Jongin berdiri dan memeluk Sehun. "Hey, apa yang kau lakukan? Apa kau gila? Penjaga minimarket ini akan berpikir bahwa kita gay, lepaskan!"
Jongin melepaskan pelukannya dan memberikan senyum yang terlihat manis bagi para wanita yang melihatnya, namun terlihat menjijikan didepan lelaki macam Sehun. "Terimakasih Sehun-ah, walaupun kau selalu mengeluh, tapi kau tetap datang menemaniku."
"Terserahlah."
"Ngomong-ngomong, mulutmu sedikit berbau alkohol." Sehun kembali ingin memukul kepala Jongin, namun kali ini Jongin menghindar. "Kenapa kau selalu memukul kepalaku, itu bisa membuatku gegar otak lama-lama, dan kenapa kau marah? Jangan-jangan kau benar-benar habis minum."
'PLAK'
Dan tangan Sehun kali ini berhasil memukul kepala Jongin dengan kencang.
"Kau gila? Aku masih tau diri, kita masih dibawah umur, sudahlah, aku harus segera pulang."
..
Istirahat makan siang adalah waktu yang indah untuk menikmati udara segar diarea luar kelas, dan Jongin sedang menikmatinya dengan berlari mengitari lapangan.
"JONGIN-AH! LARI LEBIH KENCANG ATAU AKU AKAN MENYURUHMU MENGURAS KOLAM!" Teriak seorang pria dengan pakaian olahraga dari pinggir lapangan, Guru Olahraga Lee.
Tadi malam saat Jongin kembali ke asrama dia merasa sangat aman karna tidak ada satupun penjaga yang berkeliaran, namun saat dia masuk ke kamarnya, sebuah bencana besar datang. Pelatih dan guru olahraga yang sekaligus pengawas asramanya itu sudah duduk diatas kasurnya sambil membawa sebuah tongkat kecil.
Setelah mendapat sedikit ciuman mesra dipunggungnya dari tongkat kecil itu semalam, Jongin harus menerima hukuman lain yaitu lari 20 putaran dilapangan sekolahnya. Saat ini dia sedang menikmati hukumannya itu, namun sesosok manusia tampan yang mengenakan sebuah jas rapih menarik perhatiannya.
"YA, JONGIN! KAU MAU KEMANA?!" Tanpa memperdulikan teriakan sang guru Jongin berlari mengejar pria yang sudah masuk ke dalam gedung sekolahnya itu.
"Hyung!" Seseorang yang Jongin panggil hyung itu hanya menengok sebentar dan kembali fokus pada jalannya, Jongin berhasil mengejar sampai berada disamping pria itu yang masih melanjutkan jalannya tanpa memperdulikan keberadaan Jongin. "Hyung, apa yang kau lakukan disini? Kau ingin mengunjungiku?"
"Bukankah kau sedang dihukum? Larilah lagi." Tanpa menengok, pria itu masih melanjutkan jalannya dan kali ini berhenti didepan sebuah pintu yang memiliki papan bertuliskan 'ruang guru'.
"Untuk apa kau ke ruang guru?" Jongin terlihat heran.
"Junmyeon Samchon." Seorang pria menghampiri mereka berdua dan memanggil pria yang sedaritadi diajak bicara oleh Jongin, Jongin yang sadar ternyata pria itu adalah Sehun terlihat bingung dan memperhatikan Sehun dan Junmyeon secara bersamaan. "Jongin-ah? Apa yang kau lakukan?" Sehun terlihat heran dengan keberadaan Jongin disana.
"Aku akan menjelaskannya nanti Sehun, aku tidak memiliki banyak waktu, jadi kita segera bertemu gurumu saja." Sehun hanya mengangguk dan berjalan mendahului Junmyeon ke dalam ruang guru, dan Junmyeon pun mengikuti langkahnya.
Sedangkan Jongin masih bingung dengan apa yang terjadi, kenapa Sehun memanggil hyungnya sebagai paman, kenapa hyungnya mengenal Sehun, dan kenapa mereka masuk ke ruang guru bersama.
"YA! KIM JONGIN!" Namun pemikiran Jongin harus ditunda karna saat ini dia berhasil diseret kembali oleh sang pelatih.
..
"Jongin adikmu?" Sehun saat ini sedang menemani Junmyeon kembali ke mobilnya, dia sungguh sangat terkejut dengan fakta itu. "Bagaimana mungkin? Kalian terlihat begitu bertolak belakang. Bahkan perbedaan usia kalian 17 tahun."
"Berbeda ibu, Sekertaris Kim sudah menikah dua kali, dan dua-duanya berakhir dengan perpisahan karna kematian." Junmyeon dengan santai mengatakannya, mereka hampir sampai ditempat mobil Junmyeon terparkir, supirnya sudah menunggu disana.
"Kenapa dia tinggal diasrama?" Sehun sepertinya mulai penasaran dengan kehiduapan sahabat bodohnya itu.
"Setelah ibunya mati lima tahun lalu, dia mencoba terlihat sebagai seorang anak yang kuat, dan dia selalu mencoba untuk melakukan apapun yang aku dan ayahku tidak sukai, jadi saat dia memutuskan untuk tinggal diasrama aku cukup bersyukur." Sehun hanya membalasnya dengan anggukan.
"Oh ya, dua minggu lagi kau ulang tahun, ingin dirayakan?" Junmyeon menghentikan langkahnya dan menatap Sehun.
"Kau tau sendiri pesta seperti apa yang aku inginkan."
"Tidak, jangan pesta seperti yang kau inginkan, lakukanlah pesta bersama teman-temanmu, minggu depan kau akan menjadi penduduk legal dan berada dalam usia dewasa, jadi lakukan pesta seperti remaja agar kau masih mempunyai kenangan masa remaja yang menyenangkan." Junmyeon kembali melanjutkan langkahnya dan Sehun hanya diam menatap punggungnya, sepertinya dia sudah terlalu banyak bercerita pada Junmyeon saat weekend kemarin.
..
"Byun Baekhyun-ssi, film terbarumu ini kan sangat sukses, apa kau memiliki projek baru lagi setelah promosi film ini selesai?"
"Untuk saat ini aku tidak berniat melakukan projek apapun. Aku ingin sedikit beristirahat."
"Cih, dia tidak ada kerjaan tapi selalu bilang sibuk padaku." Kesal seorang pria yang sedang duduk bersender diranjangnya sambil memangku sebuah laptop yang menampilkan sebuah interview aktris papan atas Byun Baekhyun. "Senyumnya terlihat palsu."
"APPA!" Suara cempreng seorang gadis kecil berhasil mengganggu kegiatan paginya, yaitu menonton video-video yang berkaitan dengan sang wanita tercinta. "Appa, kau sudah berjanji akan mengantarku ke sekolah hari ini!"
"Neeeee, Appa sudah bangun." Dengan malas Park Chanyeol membawa tubuhnya ke kamar mandi karna sang tuan putri sudah menatapnya dengan wajah kesal yang terlihat lucu.
"Luna tunggu di ruang makan, Appa jangan lama-lama mandinya nanti Luna bisa terlambat." Dengan sedikit menghentak, Luna meninggalkan kamar Chanyeol.
"Aish, dia benar-benar mirip dengan ibunya, menyebalkan." Chanyeol menggerutu namun tetap melanjutkan jalannya ke kamar mandi.
Selesai dengan ritual mandi pagi, Chanyeol sudah berpakaian rapi dengan kemeja biru langit yang kancing atas terbuka dan kerah yang sedikit diangkat serta sebuah jas santai berwarna putih keabu-abuan, gaya pakaian seperti itu yang sering Chanyeol kenakan saat kerja, atau bahkan kadang hanya mengenakan kaos dan jaket.
Dia adalah seorang direktur diperusahaan arsitektur, banyak menghabiskan waktu bertemu klien ditempat-tempat proyek, berpakaian sangat rapih hanya dilakukan jika diacara resmi maupun bertemua presdir perusahaan besar.
Pagi ini dia harus menjadi supir pribadi seorang tuan putri yang tidak pernah mau dibantah, tuan putri egois yang sangat menggemaskan. Park Luna, semua orang yang mengetahui keberadaan Luna selalu memiliki pertanyaan yang sama, yaitu siapa ibu kandungnya.
11 tahun yang lalu, setelah beberapa kali pulang-pergi ke Amerika, tiba-tiba Chanyeol membawa seorang bayi mungil yang masih berusia 7 bulan pulang ke Korea, kedua orang tua dan kakak laki-laki Chanyeol sangat terkejut saat Chanyeol mengatakan bahwa bayi itu adalah anaknya. Tak berselang lama, Chanyeol memperkenalkan Sooyoung kepada orang tuanya dan mengatakan bahwa selama ini dia menyewa rahim Sooyoung untuk mengandung Luna di Amerika.
Tentu itu terdengar gila, mereka tidak menikah, mereka bahkan bukan sepasang kekasih, tapi mereka memiliki anak bersama, lebih tepatnya Sooyoung membiarkan bayi Chanyeol besar dirahimnya. Sooyoung menuruti permintaan Chanyeol karna Chanyeol berjanji akan menjamin hidupnya bahkan membantunya untuk bengkit.
Orang tua Chanyeol awalnya memerintahkan mereka untuk menikah, namun penjelasan Chanyeol bahwa Luna adalah bayi tabung dan sel telur wanita lain lah yang menghasilkan Luna membuat kedua orang tuanya benar-benar tidak habis pikir, jika Chanyeol menginginkan anak dia bisa menikah tanpa harus melakukan hal gila seperti itu.
Orang tua Chanyeol memutuskan untuk tidak ikut campur lagi kehidupan anaknya, cukup dengan mereka harus menahan malu karna Chanyeol pernah tertangkap polisi sedang berpesta sabu dan bahkan harus mengalami rehabilitasi narkoba selama satu tahun, mereka sudah tidak mau memikirkan kekacauan apalagi yang anak itu buat, bahkan mereka akan bersikap bodo amat dengan kehadiran Luna, walupun ujung-ujungnya mereka tetap menyayangi dan membantu merawat Luna.
"Appa, belikan aku handphone."
"Pfff... uhuk uhuk." Chanyeol yang sedang meminum kopinya harus terbatuk-batuk karna permintaan sang tuan putri itu. "Luna-ya, kau masih terlalu kecil untuk memiliki ponsel sendiri, kau kan bisa menggunakan ponsel bibi Jung jika ingin menelpon Appa."
"Ani, aku bukan ingin menelpon Appa saja." Luna menggembungkan pipinya dan Chanyeol mencubitnya gemas.
"Mwo? Kau mau menelpon siapa lagi memangnya? Apa Luna Appa sudah mulai pacar-pacaran?" Chanyeol menatap anaknya curiga.
"Aniiiii, bukan seperti itu, tapi Luna ingin dapat mudah menelpon teman-teman Luna."
"Teman yang mana? Kau masih SD, tidak ada temanmu yang sudah memiliki ponsel sendiri."
"Aku memiliki teman yang sudah SMA."
"MWO?!" Chanyeol melototi anaknya. "Park Luna, kau bermain dengan orang yang lebih tua?"
"Memangnya kenapa? Bahkan Appa sering bermain dengan paman-paman dan kakek-kakek tua."
"Itu bukan bermain, itu namanya berbisnis, semua relasi Appa sudah banyak yang berumur, jadi wajar jika Appa bertemu mereka dan membicarakan tentang kerja sama." Chanyeol mengambil tas anaknya dan berdiri dari kursi makannya.
"Ya! Appa! Kenapa Appa mengambil tas Luna?!"
"Luna sudah mulai bergaul dengan pria-pria yang lebih dewasa, Appa tak rela, lebih baik kau tidak usah bersekolah saja." Chanyeol dengan kekanakannya menunjukan wajah sok cemburunya dengan bibir dimajukan dan berjalan ke arah tangga untuk ke kamar Luna.
"APPA!"
..
"Kekanakan."
"Mwo?"
"Kau kekanakan."
"Apa maksudmu dengan kekanakan?" Baekhyun menunjukan mata garangnya kepada Sehun.
"Kakek menyuruh kita ke rumahnya tapi kau malah pura-pura sakit seperti ini, apa lagi kalau bukan kekanakan?" Baekhyun melempar bantal yang ada disampingnya dan berhasil Sehun tangkis.
"Aku benar-benar sakit dan kau mengatakanku kekanakan?"
"Kau sakit apa memangnya? Terserang virus siput gila?"
"Aku tidak sakit diluar, tapi dihatiku, kau tidak akan tau betapa sakitnya ini." Baekhyun menunjukan wajah mendramanya dan memegang dadanya dengan erat.
"Ayolah, tidak ada yang buruk dengan Nenek, dia orang yang baik." Sehun duduk dipinggir ranjang ibunya.
"Hey, orang yang kau panggil Nenek itu usianya hanya berbeda lima tahun dengan ibumu!"
"Kau tau? Orang yang ku panggil ibu berbeda 20 tahun denganku, juga aku memiliki seseorang yang harus kupanggil paman namun usianya lebih muda dariku, tidak buruk memiliki nenek yang berbeda 25 tahun denganku."
"Kau pikir itu akan mudah untukku? Bagaimana jika aku menikah dengan pria yang berbeda 5 tahun darimu?"
"Tidak masalah, kita bisa berteman dengan baik." Sehun menunjukan cengirannya. "Tapi kau harus pastikan bahwa dia pria kaya."
Karma akhirnya terjadi, Sehun yang biasa memukul kepala Jongin sekarang harus mendapatkan pukulan dikepalanya dari tangan cantik milik ibunya.
"Hey, aku bisa terkena amnesia."
"Itu bagus, biar aku bisa memulangkanmu ke Jepang." Baekhyun menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala, Sehun berdiri dan berjalan ke arah pintu, tinggal selangkah lagi keluar dari kamar sang ibu, dia memutuskan untuk membalikan badannya.
"Eomma, jika lima belas menit lagi kau tidak siap,aku akan memberi tahukan password apartemen ini kepada Park Chanyeol."
"YA!" Baekhyun bangun dan membuka selimut yang menutup wajahnya.
"Jackpot." Sehun memberikan kedipannya kepada sang ibu.
..
"Menapa tadi kau menyebut Park Chanyeol?" Saat ini Baekhyun sedang mengendarai mobilnya bersama Sehun yang duduk dikursi penumpang disampingnya, Sehun berhasil membuatnya mau menghadiri acara makan malam keluarga kecil ini.
"Aku pernah melihat kalian bersama disuatu tempat, dan aku mendengar dari Junmyeon Samchon kalau pria itu mengejarmu." Baekhyun mendecih mendengarnya, dia merasa Junmyeon akan menjadi musuh besarnya karna Junmyeon mulai berpihak pada Sehun. "Kenapa kau terus menolaknya? Apa karna dia Ayahku?"
-Ciiiiittt-
"EOMMA!" Sehun terlihat begitu shock karna Baekhyun menghentikan mobilnya secara mendadak dan menyebabkan mobilnya kehilangan kendali dan berhenti dengan tubuhnya menabrak kursi mobil lumayan keras.
"Eomma! kau hampir membuat Byun Group kehilangan pewarisnya lagi untuk ke dua kalinya!"
"Jangan salahkan Eomma, tadi ada tikus yang menyebrang!"
"Ya! Kalau hanya tikus tidak perlu sampai direm, tabrak saja!"
Posisi mereka saat ini berada dijalanan tepi jurang kecil yang lumayan sepi, untungnya Baekhyun mampu mengendalikan mobilnya hingga tidak terjadi hal yang serius. Sebuah mobil datang dibelakang mereka dan membunyikan klakson karna badan mobil mereka menutupi jalan.
"Agashi! Kau tidak apa-apa?" Orang yang mengendarai mobil itu turun dan mengetuk kacanya, Baekhyun membuka sedikit kacanya. "Ah, bukankah anda Byun Baekhyun?"
"Kami tidak apa-apa." Baekhyu terlihat hanya memiliki goresan kecil didahinya karna tertubruk kemudi sedangkan Sehun merasa punggunya sakit karna benturan dengan kursi mobil.
"Kalian sepertinya hampir mengalami kecelakaan parah, lebih baik kalian pergi ke rumah sakit, takut terjadi hal buruk."
"Ah, tidak apa-apa, kami akan melanjutkan perjalanan, tolong rahasiakan hal ini."
Setelah meyakinkan pengemudi baik hati tadi kalau mereka tidak apa-apa, Baekhyun melanjutkan perjalannya.
"Gwenchana?" Baekhyun terlihat khawatir dengan Sehun yang meringis sambil memegang punggungnya.
"Jika ada tikus kecil, lindas saja, itu hanya hama tidak berguna, nyawanya tidak terlalu penting."
.
"Oppa, kau baru saja melindas tikus kecil!"
"Dia hanya tikus kecil Baekhyun-ah, hama, kau tau? Banyak orang mati karna ingin melindungi seekor tikus kecil yang tidak berguna, nyawa kita lebih penting dari tikus kecil itu, kau harus menyingkirkan seekor tikus kecil agar kau tetap hidup, ara?"
.
"Appa, aku ingin tetap hidup."
"Maksudmu?"
"Singkirkan bayi kecil itu dari hadapanku."
.
"Sehun-ah, kau tau? Mungkin mati dengan tidak adanya penyesalan akan lebih baik, dibanding harus hidup karna mengorbankan nyawa seorang tikus kecil."
"Huh?"
"Nyatanya aku pernah menyesal membiarkan seekor tikus kecil terlindas karna keegoisanku yang ingin tetap hidup."
..
..
TBC
HEHEHE
Maaf lama, karna liburan jadi mager gitu nulis wkwk, padahal ceritanya udah berjalan sangat mulus diotak, tapi pas mau nulis, keinginan fangirlingan sangat kuat dan menyebabkan lebih suka buka video Oppa daripada buka microsoft word hehe
Makasih buat yang udah nungguin, untuk Parents akan aku up antara nanti malam atau besok ya
Dan aku punya cerita baru lagi, menurut kalian kelarin cerita Crazy Life dan Parents dulu atau aku publish barengan sama Crazy Life dan Parents?
Makasih buat yang setia baca dan review ^.^
