Jimin tertawa kecil melihat Yoongi yang sedang bergumam kecil, sepertinya istrinya ini sedang bermimpi sampai-sampai Yoongi bergumam kecil. Jimin mencium seluruh wajah Yoongi perlahan. Namun Jimin tidak mencium bibir Yoongi.
Saat Jimin akan menutup kedua matanya, Yoongi tiba-tiba berbalik menghadapnya. Ia mendekat pada Jimin dan menyenderkan wajahnya di dada bidang Jimin. Jimin hanya tersenyum kecil. Perlahan, Jimin makin menarik Yoongi mendekat padanya. Jimin memeluk pinggang Yoongi erat.
Dan merekapun tidur dengan nyaman dan saling berbagi kehangatan.
.
.
.
CHAPTER 2
Happy reading!
.
.
.
NB : Disini Jimin lebih tinggi dari Yoongi yaa, anggep aja Yoongi tingginya se-lehernya Jimin. Kali ini aku bikin Jimin tu tinggi ye, kaga bantet(?) :D
.
.
Yoongi bangun saat merasakan tenggorokannya kering, ia butuh minum. Saat akan bangun, dirinya mendengar suara degup jantung dengan jelas. Yoongi masih belum membuka matanya.
'Sial! Kencang sekali!' umpat Yoongi dalam hati.
Yoongi juga merasakan pipinya seperti menempel pada sesuatu yang keras namun hangat. Perlahan ia membuka kedua matanya. Hal yang ia lihat pertama kali adalah dada bidang seseorang yang berwarna sedikit tan. Dan disitu juga merupakan sumber suara degup jantung yang didengar Yoongi dengan jelas. Otaknya masih memproses apa yang ia lihat didepannya.
1..
2...
3...
Matanya membulat terkejut. Tentu saja ini adalah dada suaminya, Park Jimin. Ia hampir lupa jika kemarin ia baru saja menikah pada pria yang sedang memeluknya sekarang. Hampir saja Yoongi akan mendorong Jimin ketika mengetahui bahwa Jimin sedang memeluknya. Pria itu masih tidur, nafasnya berhembus teratur diatas kepala Yoongi.
Dengan pelan, Yoongi memindahkan lengan kekar Jimin yang memeluk pinggangnya. Lalu ia bangun perlahan, Yoongi tidak ingin mengganggu waktu tidur Jimin.
Yoongi melihat jam di meja nakas, sudah pukul 6.29 pagi. Ia pun berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Setelah itu ia mengganti pakaiannya, ia juga baru sadar jika dirinya masih mengenakan pakaian yang kemarin. Hanya jas dan sepatunya saja yang lepas. Mungkin Jimin yang melepas jas dan sepatunya.
Yoongi berjalan ke dapur, ia mengecek dapur dan membuka kulkas. Dan didapatinya jika kulkas apartemen mereka kosong. Hanya ada minuman dingin dan buah saja. Yoongi menepuk kepalanya pelan.
Yoongi masuk ke kamar lagi, mengambil jaket dan beberapa lembar won untuk belanja di minimarket dekat apartemen. Saat hendak keluar, ia melihat Jimin yang masih terlelap di atas ranjang. Yoongi hanya menatapnya datar.
.
Di minimarket
"Totalnya xxxxx won tuan," Yoongi mengeluarkan uang dan segera mengambil belanjaannya. Lalu ia segera kembali ke apartemen dan menyiapkan keperluan untuk Jimin dan dirinya.
"Heol.. Aku memang benar-benar menjadi seorang istri sekarang," gumam Yoongi.
Setelah sampai di depan pintu apartemen, Yoongi merasa bodoh saat dirinya tidak tahu apa password apartemen Jimin. "Aiss sialan!" umpatnya.
Yoongi dengan malas menekan beberapa angka dan semuanya salah. Ia benar-benar tidak tahu apa password apartemen Jimin. Hingga beberapa digit angka muncul di kepalanya. Segera ia memasukan beberapa angka yang ada dikepalanya itu, dan benar. Pintu apartemen terbuka. Lampu-lampu menyala secara otomatis begitu pintu apartemen terbuka.
"What? Darimana laki-laki Park itu tau tangal lahirku?" gumamnya. Yoongi mengendikan bahunya, yang terpenting adalah pintu apartemennya terbuka dan ia bisa masuk.
Yoongi melangkah kedapur dan menata belanjaannya di kulkas, ia juga mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk ia masak jadi sarapan Jimin dan Yoongi.
"Sebaiknya aku menyiapkan pakaian untuk Jimin dan keperluan lainnya. Akan kubuat nanti sarapannya saja," ucap Yoongi. Yoongi pun masuk ke kamar perlahan dan membuka lemari pakaian Jimin. Ia mengambil satu setelan formal Jimin dan membawanya keluar.
Yoongi menyetrika pakaian Jimin dengan hati-hati, lalu ia mengantungnya dan meletakan kembali di kamar Jimin. Sudah pukul 6.55, Yoongi menulis pesan untuk Jimin. Setelah itu ia kembali ke dapur.
.
.
.
Jimin bangun saat merasakan kekosongan di ranjangnya, pagi ini ia tidak melihat Yoongi saat dirinya membuka mata. Jimin bangun dan duduk di ranjang, ia mengambil gelas di meja sebelah ranjangnya dan meminum air didalamnya. Pukul 7.15 pagi.
"Kenapa dia tidak membangunkanku?"
Matanya melihat sebuah sticky note berwarna kuning di meja. Jimin mengambilnya dan membacanya. Bibirnya menyunggingkan senyuman.
Segera mandi dan bersiap. Jika sudah, lekas turun untuk sarapan.
Y
Dengan patuh, Jimin segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, beberapa menit kemudian ia sudah selesai dan mengenakan bathrobe dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Tercium aroma sabun aftershave yang menguar di tubuh Jimin.
"Dia menyiapkan pakaianku? Bahkan Yoongi tadi juga menyiapkan air hangat," Jimin tertawa kecil.
Lelaki itu segera mengenakan pakaiannya yang sudah dipersiapkan Yoongi sebelumnya. Jas hitam, celana bahan hitam dan kemeja biru muda. Setelah itu, ia mengenakan sepatu dan menata rambutnya di cermin. Lalu menyemprotkan parfum di pakaiannya.
"Kau memang tampan, Park Jimin," puji dirinya sendiri.
Jimin segera keluar kamar menuju dapur. Dilihatnya Yoongi yang sedang berkutat di dapur, Jimin dengan pelan berjalan mendekat dan berdiri di belakang Yoongi.
"Selamat pagi istriku yang manis," sapa Jimin dibelakang Yoongi.
Yoongi melompat kecil begitu mendengar suara Jimin dibelakangnya, hampir ia melempar spatula dari tangannya. Ia berbalik dan melihat Jimin yang tersenyum tampan padanya. Yoongi yang merasa pipinya merona langsung kembali pada masakannya.
"Kau masak apa?" tanya Jimin, ia melihat apa yang dimasak Yoongi. Tanpa melihat Jimin, Yoongi mendorong Jimin pelan dengan jarinya. Isyarat untuk Jimin duduk dan menunggu masakan Yoongi jadi.
Jimin mengerti maksud Yoongi, ia segera duduk dan menunggu Yoongi menyelesaikan masakannya. Jimin duduk memandang punggung sempit Yoongi.
Yoongi meletakan nasi goreng yang ia buat ke piring, ia juga meletakan telur gulung dan bacon ke piring lainnya. Setelah semuanya siap, Yoongi meletakan sarapan untuk Jimin di meja makan. Ia menyeduh teh untuk Jimin dan dirinya sendiri.
"Kau tidak makan?" tanya Jimin. Yoongi memandangnya sejenak. Ia pun lalu mengambil piring dan meletakan nasi goreng buatannya. Setelah itu ia menaruhnya di meja makan dan makan bersama Jimin.
"Wow, ini enak. Kau belajar masak darimana?" Jimin mencoba mengobrol dengan Yoongi. Tapi sepertinya yang diajak bicara tidak berniat untuk membalas ucapannya. Mungkin Yoongi memiliki tata krama untuk tidak bicara saat makan, atau memang Yoongi yang tidak berniat membalas pertanyaan Jimin? Entahlah.
'Aboji benar. Yoongi sangatlah dingin, bahkan sejak kemarin dia sama sekali tidak membalas pertanyaanku.' Jimin mendesah dalam hati.
Jimin sudah selesai dengan sarapannya, ia meminum teh buatan Yoongi. Yoongi yang melihat Jimin sudah selesai makan langsung saja meletakan sendok dan garpunya.
"Yoongi.."
Yoongi hanya melihat Jimin sekilas, lalu melanjutkan sarapannya.
"Kau berangkat kuliah pukul berapa?"
Yoongi melihat jam di atas kulkas apartemen. "9."
Jimin mengangguk paham. "Mau kuantar?"
Yoongi mendongak. "Tidak."
"Lalu kau berangkat menggunakan apa? Perlu kah aku memanggil Lee ahjussi untuk mengantarmu ke kampus?"
"Tidak."
Jimin menghembuskan nafas pelan. "Apa kau bisa bicara lebih dari satu kata?" tanya Jimin, terkesan menuntut.
Yoongi hanya menatap Jimin datar, sama sekali tidak membalas pertanyaan Jimin yang menurutnya terselip tuntutan itu.
Yoongi selesai dengan sarapannya. "Jimin," panggil Yoongi pelan.
Yang dipanggil namanya pun menatap Yoongi. "Ya?"
"Apa kau keberatan jika aku masih menggunakan marga Papa? Setidaknya hingga aku lulus besok," tanya Yoongi pada Jimin. Walau bagaimanapun, Jimin adalah suaminya. Tentu saja ia harus meminta izin pada Jimin dalam segala hal. Ia ingat status jika dirinya sekarang adalah istri dari Park Jimin.
Jimin memandang Yoongi yang menunduk. Jimin mengerti, mungkin Yoongi belum siap menggunakan marganya saat ini. Maklum saja, Yoongi masih di bangku kuliah. Jimin memakluminya.
"Tidak, aku tidak keberatan. Kau boleh memakai marga Aboji, Yoongi," jawab Jimin lembut. Yoongi langsung menatapnya, namun kurang dari satu detik wajahnya yang semula senang berubah datar. Ia menunduk lagi.
Yoongi memang pandai menyembunyikan perasaan dan ekspresinya.
Yoongi melihat jam dinding. Jimin juga mengikuti arah pandang Yoongi. Memang sekarang kantornya sudah buka, ia pun lalu berdiri dan mengambil tas kerjanya. Jimin menghampiri Yoongi yang baru saja selesai membereskan bekas sarapan mereka.
Saat Jimin hendak mencium kening Yoongi, Yoongi malah mengentikannya. Jimin menatap Yoongi heran, namun setelah Jimin tau apa yang Yoongi lakukan, Jimin hanya diam memperhatikan wajah manis Yoongi.
Yoongi membenarkan simpul dasi Jimin. Setelah itu, ia melihat suaminya dari atas hingga bawah. Semuanya sempurnya. Jimin memang sangat tampan.
"Aku berangkat kerja dulu, nanti aku akan menjemputmu jika aku tidak ada meeting," Jimin mencium kening Yoongi dan berjalan keluar apartemen.
Yoongi masih berdiri ditempat. Ia masih merasakan keningnya yang hangat bekas ciuman Jimin. Ia menyentuh keningnya lembut, lalu tersenyum kecil.
Yoongi pun bersiap-siap menuju kampus dan memulai harinya yang baru.
Awal yang baru. Menjadi seorang istri dari Park Jimin.
.
.
.
.
.
.
.
tobecontinue
.
.
Hallo hallo... Maaf ye kalo ngalong:D minta sarannya dong buat fiction ini. Makasih loh(:
.
Jaga kesehatan kalian semua..
.
Seeyousoon.. GBU.. Salam Minyoon^^
