Yoongi membenarkan simpul dasi Jimin. Setelah itu, ia melihat suaminya dari atas hingga bawah. Semuanya sempurnya. Jimin memang sangat tampan.

"Aku berangkat kerja dulu, nanti aku akan menjemputmu jika sempat," Jimin mencium kening Yoongi dan berjalan keluar apartemen.

Yoongi masih berdiri ditempat. Ia masih merasakan keningnya yang hangat bekas ciuman Jimin. Ia menyentuh keningnya lembut, lalu tersenyum kecil.

Yoongi pun bersiap-siap menuju kampus dan memulai harinya yang baru.

Awal yang baru. Menjadi seorang istri dari Park Jimin.

.

.

.

CHAPTER 3

Happy reading!

.

.

.

Yoongi berjalan pelan menuju kelasnya. 10 menit lagi dosen yang mengajarnya akan datang. Sekedar informasi, Yoongi adalah mahasiswa jurusan Seni Musik semester 7. Sebenarnya Ayahnya ingin Yoongi untuk kuliah jurusan bisnis, meneruskan perusahaan Ayahnya itu. Namun Yoongi tidak tertarik dengan dunia bisnis, kecintaannya terhadap musik sejak kecil membuatnya ingin menjadi seorang komposer dan songwritter. Tuan Min 'pun menerima keputusan Yoongi dan membiarkan Yoongi mengejar cita-citanya itu.

Yoongi mendudukan dirinya di bangku kelas, ia bersebelahan dengan Kim Seokjin, teman Yoongi sejak semester awal di kampus. Jin sendiri merupakan satu-satunya teman dekat Yoongi selain Jungkook, dan juga merupakan orang kedua di kampus yang kemarin datang di pernikahan Yoongi dan Jimin.

"Morning Sugar. Bagaimana harimu?" tanya Seokjin.

Yoongi menatapnya malas. "As usual, I'm fine. Dengan status lama."

Seokjin tertawa kecil. "Baiklah-baiklah. Lalu, bagaimana hari pertama menjadi seorang istri, hm?" goda Seokjin.

Pletak!

"Aw!" ringis Seokjin. "Kenapa kau memukulku?"

"Jangan buat mood ku menjadi buruk, Kim Seokjin! Atau kubakar semua koleksi Mario milikmu termasuk pemberian dari kekasih Monstermu itu," ancam Yoongi.

"Tidakkk! Kau sadis sekali sih, demi Tuhan aku hanya bertanya baik-baik. Dan ini jawabanmu?"

Yoongi menghembuskan nafas pelan. "Aku benar-benar menjadi seorang istri sekarang. Memasak, menyetrika pakaian kerjanya, dan kau tahu? Jimin ternyata lebih muda 1 tahun dibawahku dan dia adalah seorang direktur."

Seokjin melongo. "Hah? Kukira dia masih kuliah."

"Jungkook bilang jika Jimin mengambil kelas akselerasi hingga dia bisa lulus dengan cepat."

Seokjin mengangguk paham. "Kudengar dia adalah teman dekat Namjoonie dan Taehyung."

'Yatuhan, kenapa dunia ini sangat sempit? Kenapa juga Jimin harus dekat dengan kekasih orang-orang yang dekat denganku? Ck!'

Seokjin tiba-tiba menusuk pipi Yoongi dengan jari telunjuknya. "Ngomong-ngomong, selamat untukmu Min Yoongi-... ups, maksudku Park Yoongi.."

Yoongi hanya menatapnya datar, namun tatapannya pada Seokjin seperti berkata 'Kau sudah mengatakan itu kemarin berulang kali, sialan!'

Seokjin hanya menahan tawanya. Tepat pukul 9, dosen datang ke kelas Yoongi.

.

.

.

"Ayo ke kantin," ajak Seokjin.

Yoongi hanya diam, namun ia mengikuti keinginan Seokjin. Mereka berjalan menuju kantin.

"Mau makan apa?" tanya Seokjin.

Yoongi melihat buku menu. "Cheese cake and strawberry juice. Medium."

Seokjin mengangguk. Ia memanggil pelayan kantin dan mengatakan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, Seokjin kembali menatap Yoongi.

"Yoon?" hanya dibalas deheman oleh Yoongi. "Kulihat cara berjalanmu tidak aneh, apa kau belum melakukan itu?"

Yoongi menatapnya bingung. "Melakukan apa?" tanya Yoongi polos.

"Itu... making love.." jawab Seokjin. Dan dibalas gelengan kecil kepala Yoongi.

Seokjin terkejut. "WHAT?!"

Yoongi refleks melempar sapu tangannya pada Seokjin. "Sialan! Kau bosan hidup, hah?"

Seokjin menangkup kedua pipinya. "Kau bohongkan?"

"Untuk apa aku bohong?"

"Serius, Min Yoongi? Kau belum melakukan itu?" Seokjin bertanya lagi untuk memastikan.

"Hm."

Tepat Yoongi berucap demikian, pelayan datang dan mengantarkan makanan yang dipesan Seokjin dan Yoongi. Yoongi mengernyit bingung.

"Kau yakin bisa menghabiskan ini semua? Kimbab, kimci, jjajangmyeon, teh lemon dan jus jeruk?"

Seokjin mengangguk antusias. "Tentu saja, asal kau tau aku belum sarapan. Dan dosen Choi tadi berceloteh panjang lebar. Kau tidak tahu bagaimana aku menahan rasa laparku ini," Seokjin berucap dramatis.

Yoongi hanya mengendikan bahunya, ia memakan makanannya begitupula dengan Seokjin.

Drttt...

Yoongi mendengar getar ponselnya diatas meja. Ia pun membuka ponselnya, dahinya mengernyit bingung. Nomor asing?

"Kenapa?" tanya Seokjin yang mulutnya penuh makanan. Yoongi tidak menjawab.

From : +01095xxxx

Apa kau bisa pulang sendiri? Aku akan menghubungi Lee ahjussi untuk menjemputmu. Hari ini ada meeting dikantor dan aku tidak yakin bisa menjemputmu, aku minta maaf sebelumnya.

Jimin

Yoongi hanya membaca pesan itu dengan wajah datar. Ia sudah biasa pulang sendiri, walaupun ia punya supir pribadi sekalipun. Jadi tidak masalah jika dia harus pulang sendiri, lagipula ada Seokjin yang selalu menemaninya saat pulang.

Setelah mengirim pesan balasan dan memastikan sudah diterima Jimin, Yoongi melanjutkan makannya yang tertunda.

"Jin.." panggil Yoongi pelan.

Seokjin menatap Yoongi. "Ada apa?"

"Kau pulang dengan siapa?"

Seokjin menatapnya heran. "Denganmu tentu saja. Memang aku biasanya pulang dengan siapa?"

"Oh, yasudah. Kukira kau dijemput kekasihmu," balas Yoongi datar. "Bisa kita pulang sekarang?"

Seokjin membalas dengan gesture pada tangannya, tanda untuk menunggu sebentar. Yoongi sudah menghabiskan cheese cake dan jus stroberinya. Ia pun menunggu Jin yang sedang menyeruput jus jeruk miliknya.

"Oke, ayo pulang.."

.

Dilain tempat

Jimin menatap ponselnya, ia menerima balasan pesan dari Yoongi yang benar-benar singkat.

From : Baby Sugar

Tidak perlu..

Jimin tertawa kecil, istrinya memang benar-benar dingin dan irit bicara. Tidak saat bicara atau lewat ponsel pun ia tidak membalas lebih dari 2 kata. Jimin pun membalas pesan Yoongi, namun setelah ia menunggu beberapa detik, pesannya belum dibaca oleh Yoongi. Jimin pun mencoba menghubungi ponsel Yoongi.

"Astaga, dia menon-aktifkan ponselnya?" Jimin geleng-geleng.

Tok tok

"Masuk."

Terlihat seorang wanita muda berjalan menuju meja Jimin. "Direktur Park, pihak dari perusahaan RM Group dan Victory Group sudah tiba diruang meeting," sekretarisnya berucap sopan padanya.

"Baiklah, siapkan semua bahan presentasinya. Aku mengandalkanmu," balas Jimin pada sekretarisnya.

"Baik, direktur," ia membungkuk sopan.

.

.

.

Yoongi tiba diapartemen langsung menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. Masih pukul 1 siang, ia tadi langsung pulang dari kampus. Yoongi bangkit dari sofa dan naik ke lantai dua menuju kamarnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah. Setelah itu ia menuju dapur, memasak untuk Jimin dan dirinya.

Setelah masakannya jadi, ia makan dan menyisahkan untuk Jimin. Tak lupa ia menutup makanan untuk Jimin dengan tudung saji.

Yoongi berjalan menuju ruangan bertulisan Yoongi's room. Ini bukan kamar Yoongi, tentu saja kamar Yoongi jadi satu dengan Jimin. Ini merupakan studio pribadi Yoongi. Semenjak SHS, dirumahnya yang lama ia menghabiskan waktunya di studio pribadi miliknya di rumah. Entah menulis lagu atau membuat demo lagu.

Yoongi tadi pagi menemukan ruangan kosong di lantai satu dekat kamar mandi tamu. Dan ia menyuruh beberapa bawahan Ayahnya untuk memindahkan semua barang-barang di studio pribadi rumahnya untuk dipindahkan diapartemen Jimin. Alhasil, Yoongi tadi hampir terlambat datang ke kampus.

Dulu saat masih sekolah, Yoongi hanya memiliki ruangan kosong yang ia gunakan untuk menulis lirik dan bermain piano. Namun saat SHS tingkat 2 ia mencoba membuat demo lagu ballad dengan pianonya. Ia pun juga mencoba menjual demonya di beberapa studio agensi musik dan demonya terjual di salah satu agensi musik.

Akhirnya setelah mendapatkan uang hasil dari ia membuat lagu, Yoongi perlahan membeli seperangkat alat untuk meng composse lagu, sound recorder untuk merekam lagu dari instrumen murni seperti piano dan juga membuat dinding studionya jadi kedap suara.

Lambat laun, setelah ia sukses menjual beberapa lagu dan mendapat uang hasil dari jeripayahnya sendiri, Yoongi membeli beberapa alat musik seperti gitar dan ia meminta Jin untuk mengajarinya. Namun, akhir-akhir ini Yoongi lebih sering membuat demo lagu R&B dan Electronic Pop.

Yoongi menghidupkan ponselnya yang ia matikan tadi, terlihat pesan balasan dari Jimin -yang ia abaikan-, pesan dari operator dan email dari salah satu studio musik. Yah, bisa dibilang nama Yoongi sudah terkenal di kalangan komposer dan songwritter agensi musik Korea. Hanya saja, Yoongi bekerja sendiri. Tidak terikat dengan agensi musik manapun, yah seperti free lance.

Yoongi tertawa sendiri membaca email dari pihak studio musik yang menghubunginya itu. Yoongi bahkan masih tidak percaya jika ia dipanggil Min PD-nim.

Setelah ia membalas email tersebut, Yoongi langsung mengambil kertas dan pensil untuk membuat lirik lagu. Ia berfikir apa yang harus ia tulis, setelah mendapat ide, Yoongi langsung menulis lirik yang terus muncul dikepalanya itu. Lalu ia menghampiri pianonya dan mulai membuat nada disitu.

1 jam..

2 jam..

4 jam..

6 jam..

Langit berganti warna jadi gelap, dan Yoongi masih duduk didepan piano sambil mencari nada untuk musiknya, terkadang ia juga merubah lirik lagu yang sebelumnya sudah ia buat. Namun hingga waktu menunjukan hampir pukul 7 malam, Yoongi belum beranjak dari studionya.

"No, bukan seperti ini.." untuk kesekian kalinya, Yoongi mencoret nada not balok yang ia tulis sedari tadi.

Kepalanya menoleh ke samping, melihat langit yang berubah jadi gelap lewat jendelanya. Ia melihat jam yang sudah menunjukan pukul 7 tepat. Ia menepuk dahinya.

"Yatuhan Park Jimin!"

Yoongi segera keluar dari studionya, karena ia terburu-buru ia sampai tidak menutup pintu studionya. Yang dipikirannya sekarang adalah Jimin.

Yoongi berjalan menuju ruang tamu dan menemukan Jimin yang melepas sepatunya itu. Merasa jika ada yang melihatnya, Jimin mendongak dan melihat Yoongi yang berdiri didepannya. Nafas Yoongi agak terengah.

Jimin berdiri. "Selamat malam, sayang.." Jimin mencium kening Yoongi. Mungkin akan menjadi kebiasaan Jimin.

Awalnya Yoongi terkejut, namun ia cepat menutupinya. "A-Akan kusiapkan air hangat.." gagapnya.

Yoongi pun berjalan menuju kamarnya, ia masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Jimin. Lalu menyiapkan pakaian santai untuk Jimin, Jimin yang melihatnya tersenyum kecil.

"Yoongi kau belum mandi?" tanya Jimin. Ia melihat penampilan Yoongi agak berantakan.

Yoongi melihat dirinya sendiri. "Belum."

"Ingin mandi bersama?" tawar Jimin. Pipi Yoongi merona.

Tanpa menjawab, Yoongi langsung berlari keluar kamar untuk menyiapkan makan malam.

Jimin bingung melihat Yoongi berlari keluar. Setelah sadar dengan keadaan, Jimin meruntuki kebodohannya.

"Tentu saja dia berlari, kau mengajaknya mandi bersama. Dasar bodoh! Bukan seperti ini," runtuknya pada diri sendiri.

Jimin pun segera masuk ke kamar mandi, melepaskan semua yang melekat di tubuhnya dan meletakan pakaian kotornya di keranjang sudut kamar mandi.

Yoongi yang baru saja menghangatkan makanan kembali ke kamar, setelah memastikan Jimin sudah masuk ke kamar mandi, Yoongi mengambil pakaiannya dan memutuskan mandi di kamar mandi tamu lantai bawah.

Dan pertanyaan Jimin tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya.

"Jimin bodoh!" umpatnya.

.

.

.

.

.

.

.

tobecontinue

.

.

Aku lama ngilang ya? Hehe..

.

Sorry for typo gaes.. Seeyousoon.. Gbu.. Salam Minyoon^^