Kisah Cinta di Balik Lukisan Himawari

Disclaimer: Naruto/Boruto belongs to Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto, and Pierrot Studio. I don't own any profit with this fanfiction.

Warning: Canon, OOC, dl.

Tema: Draw Your Dream!

Lagu yang dipilih: Taylor Swift-Love Story.

Interpretasi tema: Cinta adalah sebuah seni dan setiap seni ada sebuah cerita yang tersirat di dalamnya. Banyak sekali kisah cinta yang terjadi di setiap perjalanan kita. Setiap kita berjalan kaki satu langkah, pasti kita akan menemukan sekiranya satu pasangan yang sedang memadu kasih. Pasangan yang memadu kasih itu, pasti tengah mengukir sebuah cerita di balik kebersamaan yang tengah mereka lakukan. Cerita yang mereka ukir adalah sebuah kisah yang menarik dan indah, cerita yang mereka ukir adalah sebuah cinta yang nantinya akan menjadi sebuah kenangan. Dengan kanvas dan kuas berwarna-warni, kisah cinta setiap insan yang aku temui adalah seni yang kutuangkan dalam lukisan.

Sumarry: [#LibrettoNoUta] Di balik lukisan Himawari, di sana terdapat sebuah kisah cinta yang sangat indah di dalamnya. Kisah cinta antara setiap sepasang insan yang berada di Desa Konoha, kisah cinta yang terdapat pahit-manis di dalamnya/Borusara, NaruHina, KonoHana, SasuSaku, MitsuSumi, dll.


Chapter 2: Public Intimacy (NaruHina)

Mata Himawari pun beralih ke lukisan yang berada di sebelah kirinya. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita berambut pendek dan seorang pria berambut cepak yang tampak berciuman di depan umum. Kedua sejoli di dalam lukisan Himawari, tampak serasi memamerkan kemesraan mereka tanpa mempedulikan keramaian di sekitarnya.

Gadis itu tersenyum dan ia pun meraih lukisan itu sambil mengangkatnya tinggi-tinggi. Dengan riang ia pun berseru,

"Jika sudah cinta, maka rasa malu pun akan terabaikan!"

Himawari pun tertawa riang sambil berusaha mengingat kejadian di balik lukisan itu.

...

Pagi hari yang cerah di Desa Konoha, seorang wanita bermata lavendel dan berambut indigo tampak berjalan santai di Pasar Konoha pagi itu. Kedua tangannya sedang menggenggam dompet dan tas belanja, pertanda jika ia akan berbelanja di Pasar tersebut.

"Pagi, Hime!"

Wanita itu hanya tersenyum tipis saat orang-orang di pasar memanggilnya dengan sebutan "Hime", panggilan yang sangat berlebihan menurutnya. Ia pun berhenti sejenak ketika dirinya menemukan toko sayuran, ya wanita itu memang berniat untuk membeli sayuran.

"Pagi, Bibi!"

"Wah... Selamat pagi, Hinata-hime. Tumben sekali pagi-pagi ke sini, ada apa?"

Hinata pun meletakkan jari telunjuknya di atas dagu sambil berusaha berpikir akan membeli apa pagi ini.

"Hmmm..." Gumam Hinata sambil berpikir.

Hinata pun masih berpikir karena dirinya masih bingung ingin membeli sayuran apa yang akan ia masak hari ini. Sampai akhirnya, Hinata pun menjentikkan jarinya tanda ia sudah mengetahui akan membeli sayuran apa untuk hari ini.

"Aaaa... Aku mau membeli bayam dan lobak saja, Bi. Masing-masing satu ya," pesan Hinata kepada sang Bibi penjual sayur.

"Baiklah, Bibi akan membungkusnya spesial untuk Hinata-hime."

Hinata hanya tersenyum dengan wajah yang merona.

...

Sementara itu di ruang Hokage, terlihat Naruto yang sedang pusing dengan dokumen-dokumen di mejanya. Pria berambut kuning cepak itu terkadang memegang kepalanya yang pusing karena terlalu banyak menangani dokumen-dokumen penting yang begitu menumpuk. Shikamaru yang berada di samping Naruto, hanya bisa menggeleng saat melihat keadaan Naruto yang sedang stress.

"Hoi, Naruto!" seru Shikamaru kepada sahabatnya.

Naruto pun menoleh ke samping dan menatap Shikamaru seperti seseorang yang ingin bertanya "ada apa?" Shikamaru hanya menghela napas dan ia pun memegang kedua pundak Naruto erat-erat sambil menatap kedua mata Naruto dengan intens.

"Kau lelah, hm?" tanya Shikamaru kepada Naruto yang terlihat letih.

Dengan lesu, Naruto hanya mengangguk dan hal itu membuat Shikamaru sebagai sahabat merasa prihatin. Pria berambut nanas itu menghela napas dan melipat tangannya sambil berkata,

"Naruto, lebih baik kau pulang saja. Biarkan aku yang mengurus semua dokumen itu," saran Shikamaru yang merasa prihatin dengan keadaan sang sahabat.

Naruto pun kembali berkata,

"Kau tidak keberatan? Aku takut merepotkanmu."

"Sudahlah tidak apa, lagipula kau juga belum tidur sejak semalam. Lebih baik kau pulang, daripada kau sakit."

Mendengar saran dari Shikamaru, Naruto pun akhrinya menghela napas. Pria berusia 35 tahun itu langsung beranjak dari tempatnya dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Ya, memang apa yang dikatakan oleh Shikamaru itu benar, ia benar-benar butuh istirahat.

"Yasudah kalau begitu. Aku titip pekerjaanku ya, Shika," pamit Naruto sambil berlalu meninggalkan ruangan hokage.

Shikamaru hanya menggeleng sambil menatap punggung Naruto yang mulai menjauh.

"Kasihan sekali Naruto."

...

Setelah berada di luar, Naruto sangat kebingungan akan pergi ke mana saat itu. Hingga ia pun memutuskan untuk menelpon sang istri, ya untuk sekadar menanyakan kabar serta mengetahui kegiatannya saat ini sedang apa.

Naruto pun langsung mengeluarkan handphonenya dan langsung menghubungi sang istri.

Sementara itu di lain tempat, terlihat Hinata yang tengah berjalan di Pasar untuk melihat apa yang ingin dirinya belanjakan. Namun, wanita itu langsung berhenti di tempat saat merasakan adanya getaran ponsel dari dalam kantong celananya.

Hinata pun mengambil ponselnya dan tersenyum saat mengetahui siapa yang tengah memanggilnya saat itu.

"Hallo, Anata. Ada apa menelponku pagi-pagi? Tumben, kau tidak bekerja?"

'Ah, Hinata! Hari ini aku berlibur sejenak, kau sedang apa?'

"Oh, aku sedang berbelanja di pasar untuk kebutuhan rumah. Kau kesini saja, Anata sambil bantu aku belanja hihi," jawab Hinata sambil tertawa kecil.

Naruto pun tersenyum saat mengetahui jawaban Hinata dan ia pun menjawab,

"Baiklah, aku akan ke sana."

Setelah mengatakan hal itu, Naruto langsung mematikan ponselnya dan tersenyum tipis dengan sedikit seringai.

"Akhirnya, aku bisa berkencan kembali dengan Hinata!" seru Naruto sambil meloncat kegirangan.

...

Sementara itu di Pasar tempat Hinata berada, terlihat Hinata yang tengah berada di depan pasar untuk menunggu sang suami datang. Hinata lupa memberitahu kepada Naruto, jikalau dirinya sudah selesai berbelanja di Pasar.

Lalu beberapa menit kemudian, Hinata merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Hinata pun berbalik dan mengulas senyum saat mengetahui bahwa yang tengah memeluk dirinya adalah sang suami.

"Anata," gumam Hinata malu-malu.

Bagaimana Hinata tidak malu? Naruto memeluk dirinya di tempat umum yang bisa dilihat banyak orang. Wajah Hinata tambah memerah saat Naruto dengan beraninya menempelkan dagunya ke bahu dan mencium pipinya mesra.

Hinata pun mengenggam erat tangan Naruto agar pria itu mau melepaskan pelukannya.

"Anata, lepaskan pelukannya. Ini di tempat umum dan aku malu sekali," ujar Hinata yang sudah sangat malu.

Namun bukannya mengendurkan pelukannya, Naruto justru semakin mempererat pelukannya pada Hinata dan akhirnya Hinata pun hanya bisa pasrah menerima perlakuan Naruto kepadanya. Kedua pasangan itu akhirnya langsung terdiam dengan Naruto yang masih asyik memeluk Hinata.

Orang-orang yang lewat di hadapan mereka seakan tak mereka pedulikan. Hingga tanpa mereka sadari, banyak sekali orang-orang yang berbisik-bisik menggoda mereka.

"Hey, lihat Hokage-sama dan Hinata-hime mesra sekali."

"Kau benar, mereka benar-benar serasi."

Hinata yang sudah kelewat malu, hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam guna menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus. Naruto yang melihat wajah memerah Hinata hanya menyeringai dan menggunakan tangannya yang jahil untuk mencubit pipi tembam Hinata.

"Anata, aku malu sekali."

"Sudahlah, Hime. Kita 'kan jarang bermesraan seperti ini, lagipula kita 'kan sudah pernah berciuman bibir di depan umum saat penyelamatan Hanabi beberapa tahun lalu. Kau lupa, hm?"

Perkataan Naruto sontak membuat Hinata kembali tersipu untuk kedua kalinya, Naruto ternyata masih mengingat kejadian romantis mereka di hadapan sinar rembulan. Naruto hanya menyeringai dan ia pun membalikkan tubuh Hinata agar sejajar dengannya sambil mendekatkan wajahnya lalu berbisik,

"Mari kita ulang kejadian itu lagi."

Selesai berkata seperti itu, Naruto langsung menempelkan bibirnya ke bibir Hinata. Mereka terus berciuman dengan mesra tanpa menyadari banyaknya pasang mata yang menatap mereka dengan menggoda dan mereka juga tidak sadar jika di atap pasar, ada seorang gadis berambut biru yang tengah jahil melukis aksi mesra mereka.

...

Himawari tertawa saat ia mengingat kejadian tersebut, ia tak menyangka jika ayah dan ibunya bisa bertingkah mesra seperti itu. Gadis itu langsung mengembalikan lukisan itu pada tempatnya sambil tersenyum lebar dan berkata,

"Cinta itu tak akan pernah kenal rasa malu. Karena mengekspresikan cinta, bisa di mana saja selama hati kita ingin mengekspresikan cinta itu."

-TBC-