Kisah Cinta di Balik Lukisan Himawari

Disclaimer: Naruto/Boruto belongs to Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto, and Pierrot Studio. I don't own any profit with this fanfiction.

Warning: Canon, OOC, dl.

Tema: Draw Your Dream!

Lagu yang dipilih: Taylor Swift-Love Story.

Interpretasi tema: Cinta adalah sebuah seni dan setiap seni ada sebuah cerita yang tersirat di dalamnya. Banyak sekali kisah cinta yang terjadi di setiap perjalanan kita. Setiap kita berjalan kaki satu langkah, pasti kita akan menemukan sekiranya satu pasangan yang sedang memadu kasih. Pasangan yang memadu kasih itu, pasti tengah mengukir sebuah cerita di balik kebersamaan yang tengah mereka lakukan. Cerita yang mereka ukir adalah sebuah kisah yang menarik dan indah, cerita yang mereka ukir adalah sebuah cinta yang nantinya akan menjadi sebuah kenangan. Dengan kanvas dan kuas berwarna-warni, kisah cinta setiap insan yang aku temui adalah seni yang kutuangkan dalam lukisan.

Sumarry: [#LibrettoNoUta] Di balik lukisan Himawari, di sana terdapat sebuah kisah cinta yang sangat indah di dalamnya. Kisah cinta antara setiap sepasang insan yang berada di Desa Konoha, kisah cinta yang terdapat pahit-manis di dalamnya/Borusara, NaruHina, KonoHana, SasuSaku, MitsuSumi, dll.


Chapter 3: Kerinduan (SasuSaku)

Himawari pun menatap ke arah lukisan lainnya, mencoba mencari tahu lukisan manakah yang akan ia amati dan ia kenang. Matanya terus melirik ke arah lukisan lainnya, hingga kedua matanya menangkap salah satu lukisan yang sangat menarik perhatiannya.

Gadis itu tersenyum dan ia pun berjinjit untuk mengambil lukisan yang berada di atas tersebut. Setelah mendapatkan lukisan itu, ia pun langsung berjalan ke arah jendela sambil duduk di tepi jendela.

Himawari langsung membentangkan lukisan itu ke atas. Di dalam lukisan itu, terlihat ada seorang perempuan berambut merah jambu dan seorang laki-laki berambut hitam panjang tengah duduk berdua di taman. Perempuan di dalam lukisan itu tengah menangis dan pria di samping wanita itu terlihat memeluknya. Mereka berpelukan berdua di bawah rindangnya pohon sakura.

Dengan senyuman riang, Himawari pun berkata,

"Cinta adalah tentang kerinduan satu sama lain. Seperti musim semi yang datang untuk menghapus kerinduan di musim dingin."

...

Siang yang cukup cerah dan hangat di Taman Konoha, banyak sekali anak-anak muda serta orang tua yang tampak asyik berkumpul bersama di bawah rindangnya pohon sakura. Siang itu juga merupakan siang di hari kedua pada musim semi, di mana semua orang dapat melihat indahnya bunga sakura bermekaran.

Namun, hari itu tampak tidak begitu indah bagi seorang wanita berambut merah jambu itu. Di bawah rindangnya pohon sakura, wanita itu hanya bisa menunduk dan wajahnya terlihat seperti orang yang tengah bersedih.

Himawari yang berada di sana dan tengah melukis, langsung menatap bingung pada Sakura yang terlihat bersedih. Ia pun menghentikan aktifitas melukisnya, lalu berjalan dan memutuskan untuk mendatangi wanita tersebut. Setelah berada di dekat wanita tersebut, Himawari langsung duduk di sampingnya seraya menepuk bahunya pelan.

"Bibi Sakura."

Sakura langsung menghapus air matanya dan menoleh ke samping saat mendengar panggilan dari Himawari. Wanita itu langsung tersenyum lembut kepada Himawari dan wajahnya kembali sumringah seolah tidak terjadi apa-apa.

"Himawari, ada apa memanggil Bibi? Kamu praktik di Rumah Sakit, Nak?" tanya Sakura dengan nada yang begitu lembut.

Himawari tersenyum tipis usai mendengar pertanyaan dari Sakura dan ia pun menjawab demikian,

"Aku praktik di Rumah Sakit tadi pagi dan aku langsung ke sini untuk melukis. Tadi aku tidak sengaja melihat Bibi yang sedang menangis, Bibi kenapa?" tanya Himawari dengan nada khawatir.

Sakura menghela napas usai mendengar pertanyaan Himawari, Sakura menatap ke atas pohon sakura dan melebarkan senyumannya di bibir. Ia memejamkan matanya dan berusaha untuk mengabaikan pertanyaan Himawari namun, ia tahu bahwa Himawari pasti tak akan beranjak sebelum ia menjawab pertanyaannya.

"Tidak ada apa-apa, Nak," jawab Sakura berbohong.

Himawari mengernyitkan kedua mata biru safirnya usai mendengarkan jawaban Sakura. Gadis itu benar-benar cerdas sehingga tahu kalau Sakura tengah menjawab pertanyaan itu dengan kebohongan, tentu saja mengingat Himawari adalah seorang psikolog ninja.

"Bibi Sakura, jangan berbohong padaku. Aku tahu Bibi Sakura pasti ada masalah, bukan? Ceritakan saja padaku, Bi," ujar Himawari sambil mengelus lembut punggung Sakura.

Lagi-lagi Sakura hanya tersenyum dan menghela napas usai mendengarkan perkataan Himawari. Sepertinya, perempuan berusia 39 tahun itu masih belum siap untuk menceritakan semuanya dan hal itu tentu membuat Himawari menggeleng heran.

"Ayolah, Bi. Tidak baik masalah dipendam sendiri, siapa tahu aku bisa memberikan solusi," bujuk Himawari agar Sakura mau menceritakan masalahnya.

Karena Himawari terus-menerus membujuk dirinya, Sakura pun menghela napas dan mulai menceritakan semuanya.

"Begini Himawari, kamu tahu 'kan kalau Paman Sasuke dan kakakmu sedang pergi menggembara?"

"Iya, aku tahu. Lalu?"

"Ini sudah tahun kelima mereka menggembara dan mereka belum kembali juga. Kau tahu, Nak? Hal itu membuat Bibi sangat merindukan Paman Sasuke dan itulah kenapa Bibi menangis."

Himawari mengangguk usai mendengar penuturan Sakura.

"Jadi, Bibi Sakura sedang merindukan Paman Sasuke?" Himawari bertanya untuk memastikan.

Sakura hanya mengangguk sebagai jawaban dan Himawari pun menghela napas usai mengetahui dengan pasti jawabannya.

'Ternyata, Bibi Sakura begitu merindukan Paman Sasuke.'

...

Di dalam kamarnya, Himawari masih tidak dapat berhenti memikirkan permasalahan Sakura saat di Taman waktu pagi. Gadis berambut nila itu masih berpikir bagaimana caranya agar ia dapat membawa Sasuke pulang supaya kerinduan Sakura terobati. Ia terus berjalan bolak-balik bak setrika sambil menopang dagunya untuk berpikir.

"Bagaimana ya agar Paman Sasuke pulang? Kasihan Bibi Sakura, ia pasti sangat sedih," gumam Himawari sembari berpikir..

Hingga 2 menit kemudian, gadis itu pun menjentikkan jarinya dan tersenyum tanda ia sudah menemukan ide. Himawari langsung mengeluarkan smartphone biru miliknya dan langsung menghubungi seseorang.

"Hallo, Aniki! Aku butuh bantuanmu."

...

Keesokan harinya, Sakura masih duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Wanita itu masih bergumul terhadap hal yang sama, ia masih merindukan suaminya yang saat ini belum kunjung kembali dari penggembaraannya. Ia meremas bajunya erat-erat dan menatap sendu rerumputan di bawahnya. Egoiskah ia yang ingin suaminya cepat pulang hanya untuk dirinya?

"Anata, aku begitu merindukanmu," ujar Sakura lirih.

Sakura menatap langit biru di atasnya dan membayangkan senyuman Sasuke di atas sana. Ia pun ikut tersenyum tipis saat membayangkan hal itu namun, senyum manisnya langsung memudar saat bayangan itu berubah normal menjadi tumpukan awan putih. Ia sadar, ia terlalu berlebihan

Gadis berambut pink itu langsung mengambil secarik foto yang selalu ia simpan di dalam kantungnya. Di sana terdapat dirinya, Sasuke, dan juga Sarada yang sedang berlibur bersama di Taman yang tengah ia kunjungi sekarang. Sakura benar-benar merindukan saat-saat itu, saat-saat di mana dirinya, Sasuke, dan Sarada masih berkumpul bersama sebagai satu keluarga yang utuh.

Kapan kejadian itu dapat terulang kembali? Sakura benar-benar merindukannya.

"Anata, aku begitu merindukanmu... Hiksss." Sakura kembali berujar dan kali ini sambil terisak.

"Aku juga begitu merindukanmu, Tsuma."

Sakura sontak membulatkan kedua bola matanya saat mendengar suara bariton dari seseorang yang sangat dikenalinya. Wanita itu langsung menoleh ke arah sumber suara dan ia terkejut saat orang yang begitu dirindukannya, sudah berada di hadapannya dengan sebuah senyuman yang sangat manis.

"Anata!" seru Sakura dan ia pun langsung menghambur ke dalam pelukan Sasuke.

Sasuke membalas pelukan Sakura dan membiarkan wanitaa itu menangis di dalam dekapannya yang hangat.

"Anata, aku begitu merindukanmu. Kenapa kau lama sekali perginya?" tanya Sakura sambil terisak pelan di dalam pelukan Sasuke.

"Hey, hanya karena itu kau menangis? Kau memang cengeng," ujar Sasuke sambil mengecup lembut pucuk kepala Sakura.

Pria itu pun melepaskan pelukan Sakura sambil menangkup kedua pipi cantiknya.

"Kau tahu, bukan keinginanku untuk seperti ini. Tapi percayalah, kalau aku juga selalu merindukanmu kemana pun langkahku pergi."

Ucapan Sasuke tak ayal membuat Sakura kembali menangis, kali ini tangisan penuh rasa haru. Sasuke yang melihat Sakura kembali menangis, kembali tersenyum tipis sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi Sakura. Pria itu mengecup kening Sakura lembut sambil menempelkan hidungnya ke hidung Sakura.

"Jangan menangis, kau jelek saat menangis," ujar Sasuke dengan tajam namun, justru terkesan lucu untuk Sakura.

Wanita itu terkekeh pelan usai mendengar perkataan Sasuke. Ia pun berjinjit dan mengecup bibir Sasuke sambil berkata,

"Terima kasih, Anata."

"Seharusnya aku yang berterima kasih."

Kedua insan itu sama-sama tersenyum dan langsung berciuman satu sama lain. Di bawah pohon Sakura, seolah menjadi saksi akan bertemunya kedua insan yang sudah lama tak berjumpa. Tanpa mereka sadari, di atas pohon tempat mereka berteduh ada seorang gadis yang tampak asyik melukis kemesraan mereka.

...

Himawari tersenyum usai menatap lukisan itu. Ia mengaguminya seolah lukisan itu memiliki nyawa yang bermakna bagi siapa pun yang melihatnya. Ia mendapat sebuah pelajaran berharga bahwa sejauh apa pun kita berpisah, cinta tetap akan selalu bersatu untuk selamanya.

Meskipun kita berada di tempat berbeda ketahuilah, bahwa cinta akan selalu mempertemukan kita di tempat yang sama kembali.

-TBC-