Kisah Cinta di Balik Lukisan Himawari
Disclaimer: Naruto/Boruto belongs to Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto, and Pierrot Studio. I don't own any profit with this fanfiction.
Warning: Canon, OOC, dl.
Tema: Draw Your Dream!
Lagu yang dipilih: Taylor Swift-Love Story.
Interpretasi tema: Cinta adalah sebuah seni dan setiap seni ada sebuah cerita yang tersirat di dalamnya. Banyak sekali kisah cinta yang terjadi di setiap perjalanan kita. Setiap kita berjalan kaki satu langkah, pasti kita akan menemukan sekiranya satu pasangan yang sedang memadu kasih. Pasangan yang memadu kasih itu, pasti tengah mengukir sebuah cerita di balik kebersamaan yang tengah mereka lakukan. Cerita yang mereka ukir adalah sebuah kisah yang menarik dan indah, cerita yang mereka ukir adalah sebuah cinta yang nantinya akan menjadi sebuah kenangan. Dengan kanvas dan kuas berwarna-warni, kisah cinta setiap insan yang aku temui adalah seni yang kutuangkan dalam lukisan.
Sumarry: [#LibrettoNoUta] Di balik lukisan Himawari, di sana terdapat sebuah kisah cinta yang sangat indah di dalamnya. Kisah cinta antara setiap sepasang insan yang berada di Desa Konoha, kisah cinta yang terdapat pahit-manis di dalamnya/Borusara, NaruHina, KonoHana, SasuSaku, MitsuSumi, dll.
Chapter 4: Pregnant
Himawari menatap sebuah lukisan yang letaknya berada di paling ujung kiri. Lukisan itu tergambar seorang perempuan berambut hitam panjang yang tengah menangis sambil memegang perutnya, perempuan itu berdiri di samping seorang laki-laki berambut kuning yang tengah mendekapnya erat.
Gadis itu mengambil lukisan itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Setetes air mata tampak turun membasashi pipinya, seolah lukisan itu melambangkan sebuah kesedihan yang teramat dalam di dalam kisahnya. Hingga Himawari pun bergumam,
"Tak ada yang bisa menghindari nafsu apabila, mereka sudah terlalu mencintai."
...
PLAKKKKK!
Seorang wanita berambut hitam panjang dan berkacamata langsung tersungkur saat sebuah tamparan melayang ke pipinya. Ia menangis keras dan menatap sang ayah yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Sementara itu, ibunya hanya terdiam dan menatap dirinya dengan tatapan penuh kekecewaan.
Sasuke menarik tangan putrinya dengan kasar, memegang bahunya erat seolah memaksa sang putri untuk menatap matanya yang saat ini sudah mengeluarkan sharingan. Sarada menangis dan menunduk, ia benar-benar takut dengan tatapan ayahnya.
"Ma-maaf, maafkan Sarada, Papa."
Mendengar permintaan maaf yang terlontar dari bibir putrinya, membuat Sasuke langsung mendorong tubuh putrinya hingga tersungkur kembali. Sarada hanya bisa menangis keras dan memegangi perutnya yang saat ini tengah terdapat kehidupan.
"Pergi dan jangan pernah sandang Uchiha sebagai nama belakangmu lagi," ujar Sasuke dingin dan membiarkan putrinya tersungkur di sana.
Sakura hanya bisa terdiam menatap putrinya, ia tak bisa melakukan apapun selain diam dan mengikuti suaminya.
"Maafkan Mama, Sarada."
Sepeninggal Ibu dan Ayahnya, Sarada langsung menangis kencang saat itu juga. Orang tuanya tak salah, ia yang salah karena tak dapat menahan nafsunya. Air mata tak mampu lagi ia bendung, hujan di luar sana seolah menjadi saksi akan kepedihan yang ia rasakan saat ini.
Sarada beranjak dari posisi tersungkurnya, ia tahu harus pergi ke mana.
...
Kediaman Uzumaki saat ini tengah dalam keadaan sepi dan hanya terdapat satu orang saja di dalam sana. Hinata sedang pergi karena ada urusan klan, Naruto sedang ada rapat dengan para Kage di Suna, dan Boruto saat ini sedang ada misi individu. Jadilah di dalam rumah hanya tersisa Himawari.
Gadis berambut indigo itu saat ini tengah melukis di dalam rumahnya, hujan yang begitu deras membuatnya tidak dapat pergi untuk sekadar mencari angin.
TOK... TOK... TOK
Suara ketukan pintu membuat Himawari menghentikan aktifitas melukisnya. Gadis berambut indigo itu langsung berlari menuju pintu rumahnya untuk mengetahui siapa yang datang. Himawari benar-benar bingung, siapa pula yang mendatangi rumahnya malam-malam dan di tengah hujan seperti ini?
Setelah berada di depan pintu, Himawari langsung membuka pintu dan dilihatnya ada Sarada yang tengah berdiri di depan rumahnya dengan tatapan lesu serta tubuh yang basah kuyup. Himawari mengernyitkan keningnya bingung, keadaan Sarada saat ini benar-benar jauh dari kalimat "Ia sedang baik-baik saja."
Himawari mendekati Sarada, menyentuh bahunya, dan kemudian ia bertanya, "Sarada-neesan, kau kenapa?"
Himawari menanyakan hal itu dengan nada khawatir. Sarada tidak menjawab pertanyaan Himawari, ia justru terdiam dan menatap isi dalam rumah dengan tatapan kosong. Himawari tak tahu dengan apa yang terjadi pada Sarada, ia pun mengambil handuk dari dalam dan membalut tubuh Sarada yang basah kuyup sambil membawanya masuk.
Himawari tahu, saat itu Sarada sedang dalam keadaan kacau.
...
Himawari pun memberikan air hangat untuk Sarada, ia belum bisa menanyakan lebih lanjut tentang apa yang wanita itu alami saat ini. Himawari hanya mampu menatap Sarada dengan sirat mata kekhawatiran.
"Tolong ceritakan padaku, Neesan kenapa?" tanya Himawari.
Sarada menghela napasnya dan ia pun menjawab demikian,
"Himawari, aku hamil anak Boruto."
CTARRRRRR...!
Jawaban Sarada sontak membuat Himawari membulatkan kedua bola matanya lebar-lebar. Ditambah dengan petir yang menyambar di luar, membuat perasaan terkejut Himawari semakin menjadi. Sarada hamil anak kakaknya? Bagaimana bisa?
"Sarada-neesan, kau tidak bercanda 'kan?"
"Tidak, Hima. Neesan benar-benar hamil anak kakakmu dan sekarang Neesan diusir dari rumah karena kehamilan Neesan ini." Sarada mengatakannya sambil menangis.
Himawari menggeleng setelah mendengar perkataan Sarada, dalam hati gadis itu merutuki perbuatan kakaknya yang sangat mesum dan tak bisa menahan napsu.
'Aku harus segera memberitahu Papa dan Mama perihal ini.'
...
PLAKKKK... !
Suara tamparan terdengar menggema di Kediaman Uzumaki. Seorang pria berambut kuning langsung tersungkur usai mendapatkan sebuah tamparan keras dari ayahnya. Hinata yang berdiri di sana, hanya menangis sambil memeluk Sarada yang tengah ketakutan.
Himawari yang melihat hal itu hanya terdiam dan mengigit jari telunjuknya.
"Kau benar-benar keteraluan, Boruto!" bentak Naruto sambil menatap tajam putranya.
Boruto hanya terdiam sambil memegangi pipinya yang melebam akibat tamparan ayahnya yang cukup keras. Pria itu beranjak dari posisi tersungkurnya dan menatap ayahnya dengan tatapan tajam.
"Apa benar kau anakku dan Hinata? Dasar sialan!" bentak Naruto untuk kedua kalinya.
PLAKKKK!
Tamparan itu kembali didapatkan Boruto untuk kedua kalinya hingga membuat pria muda itu lagi-lagi tersungkur. Boruto hanya bisa menangis dan matanya menatap penuh cinta pada Sarada yang saat ini tengah menangis ketakutan di dalam pelukan ibunya.
"Maafkan aku, Tousan, Kaasan." Boruto meminta maaf kepada kedua orang tuanya sambil menangis dan berlutut.
Dengan langkah yang terseok-seok, Boruto mendekati Sarada dan langsung memeluk erat kekasihnya itu dengan erat. Himawari yang melihat hal itu merasa tersentuh, air mata mulai keluar membasahi pipinya dan ia menatap miris kedua pasangan tersebut.
"Keluar kalian dari sini!" perintah Naruto dengan nada membentak.
Himawari yang melihat hal itu, langsung membulatkan kedua bola matanya. Bagaimana mungkin ayahnya tega mengusir mereka berdua? Bukankah mereka berdua melakukan atas dasar cinta? Memang salah, tapi bukankah manusia tidak bisa 100% menjadi suci? Terlebih, jika cinta telah membutakan mereka.
Himawari menatap ayahnya tajam dan dengan tegas ia berkata,
"Papa tidak bisa mengusir mereka seperti itu!"
Boruto dan Sarada langsung menatap Himawari dengan serentak. Begitu juga dengan Hinata, wanita itu langsung menatap putrinya yang pertama kali berbicara setegas itu kepada orang tuanya. Naruto yang mendapat ucapan keras seperti itu, langsung menatap putrinya tajam.
"Berani kau Hima berbicara sekeras itu pada Papa!" seru Naruto dan menatap tajam putrinya.
"Biarkan kesalahan itu menjadi urusan mereka, apa Papa tidak tega? Sarada-neesan mengandung cucu Papa sendiri!" Himawari berseru sambil menatap Sarada dan Boruto miris.
"Berani sekali kau, Hima! Kalau kau masih ingin membela mereka, silahkan kau pergi saja ikut mereka!"
Himawari menggeleng saat sang ayah justru mengusirnya juga. Gadis itu benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ayahnya pikirkan saat ini. Jika itu yang ayahnya inginkan, Himawari akan pergi bersama Boruto dan Sarada.
"Baiklah, kalau itu yang Papa inginkan. Aku akan melakukan apa pun demi mereka dan keponakanku."
Boruto dan Sarada menatap Himawari terkejut, sedangkan Hinata yang berada di sana hanya bisa menangis.
...
Di sebuah rumah yang cukup kecil, terlihat Boruto yang tengah mengelus bahu Sarada dan menenangkan wanita itu yang masih menangis kencang. Himawari yang tengah melukis di belakang mereka hanya bisa menatap miris kedua pasangan itu. Salahkah nafsu mengelabui cinta?
...
Himawari langsung menangis ketika mengingat kejadian itu. Memang perbuatan yang dilakukan kedua insan dalam lukisan tersebut adalah perbuatan dosa. Namun, kenapa seakan manusia merasa dirinya paling suci seakan-akan mereka tidak pernah berdosa sama sekali?
"Manusia hanyalah makhluk yang merasa dirinya paling benar. Tak ada yang bisa menghindari dosa, terlebih itu karena cinta."
-TBC-
