Kisah Cinta di Balik Lukisan Himawari
Disclaimer: Naruto/Boruto belongs to Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto, and Pierrot Studio. I don't own any profit with this fanfiction.
Warning: Canon, OOC, dl.
Tema: Draw Your Dream!
Lagu yang dipilih: Taylor Swift-Love Story.
Interpretasi tema: Cinta adalah sebuah seni dan setiap seni ada sebuah cerita yang tersirat di dalamnya. Banyak sekali kisah cinta yang terjadi di setiap perjalanan kita. Setiap kita berjalan kaki satu langkah, pasti kita akan menemukan sekiranya satu pasangan yang sedang memadu kasih. Pasangan yang memadu kasih itu, pasti tengah mengukir sebuah cerita di balik kebersamaan yang tengah mereka lakukan. Cerita yang mereka ukir adalah sebuah kisah yang menarik dan indah, cerita yang mereka ukir adalah sebuah cinta yang nantinya akan menjadi sebuah kenangan. Dengan kanvas dan kuas berwarna-warni, kisah cinta setiap insan yang aku temui adalah seni yang kutuangkan dalam lukisan.
Sumarry: [#LibrettoNoUta] Di balik lukisan Himawari, di sana terdapat sebuah kisah cinta yang sangat indah di dalamnya. Kisah cinta antara setiap sepasang insan yang berada di Desa Konoha, kisah cinta yang terdapat pahit-manis di dalamnya/Borusara, NaruHina, KonoHana, SasuSaku, MitsuSumi, dll.
Chapter 5: Cinta Mati (MitsuSumi)
Himawari menatap ke arah lukisan-lukisan lain yang terpampang di dinding cinta, mata safirnya terhenti pada salah satu lukisan yang letaknya berada di paling tengah. Ia mendekati lukisan tersebut dan mengelusnya dengan penuh perasaan.
Di antara semua lukisan yang ada, lukisan tersebut lah yang paling menyimpan sebuah kisah tragis di baliknya. Di sana terlukis kedua tangan yang saling berpegangan erat dengan gradasi warna yang membiru, tanda kedua pemilik kedua tangan dalam lukisan itu sudah tak bernyawa. Meskipun lukisan itu sederhana, namun memiliki kisah yang begitu menyedihkan.
Himawari menangis saat melihat gambar tersebut.
"Kisah cinta yang ditolak dunia, akan bersatu di dunia yang berbeda."
...
Rumah Sakit Konoha, pukul 12.19
Seorang gadis berambut ungu pucat tengah berada di dalam ruangan berdua dengan seorang gadis berambut biru dan berjas putih. Mata gadis itu terlihat sendu, ia memiliki kesedihan yang teramat dalam dan ingin ia ceritakan pada seseorang di hadapannya saat itu.
"Sumire-san, apa masalahmu?" tanya Himawari sambil menatap Sumire dengan tatapan penasaran.
Sumire tidak menjawab pertanyaan Himawari, ia justru menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Apa kau terkena depressi?" Himawari kembali bertanya, kali ini dengan nada kekhawatiran.
Sumire tak menjawab dengan suara, ia hanya menganggukkan kepalanya sambil menunduk. Himawari menghela napas usai mengetahui jawaban Sumire, gadis itu tahu kalau Sumire tak sekadar depressi. Himawari tahu kalau Sumire memiliki masalah berat yang membuatnya stress, masalah itulah yang menyebabkan pikiran Sumire sedikit terganggu.
"Aku bisa melihat dengan byakuganku kalau kau tengah memiliki masalah berat. Ceritakan padaku," ujar Himawari dengan kalem sambil mengaktifkan byakugannya.
Sumire menghela napas sambil berkata, "Baiklah, aku akan menceritakannya."
Himawari menonaktifkan byakugannya, melipat kedua tangannya, dan menatap Sumire intens. Sumire pun memberanikan dirinya untuk menatap Himawari seraya berkata,
"Aku memiliki masalah berat tentang percintaanku."
Himawari mengangkat satu alisnya sambil bertanya, "Percintaan? Bukankah selama ini hubunganmu dengan Mitsuki baik-baik saja?"
Sumire kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam, kesedihan membuatnya tak mampu untuk menatap kedua mata Himawari.
"Hu-hubunganku dengan Mit-Mitsuki memang ba-baik, hiks. Te-ta-pi, hiks." Sumire menjawabnya sambil terisak, ia meremas roknya erat, dan membiarkan air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Himawari menghela napas, gadis itu tahu kalau ia tak seharusnya membuat Sumire bercerita semakin dalam karena hal itu akan membuat Sumire semakin depressi.
"Baiklah, aku tak akan memaksamu melanjutkan ceritanya. Aku tahu, kau akan semakin depressi kalau kau meneruskannya."
Usai berkata seperti itu, Himawari langsung mengambil kertas dan bolpoin seraya menuliskan sesuatu di atas kertas itu. Sumire hanya terdiam dengan mata yang berkaca, menatap Himawari yang tengah menuliskan sebuah resep obat untuknya.
Himawari meletakkan bolpoinnya seraya memberikan kertas resep obat itu pada Sumire yang berada di hadapannya.
"Ini resep obat anti depressan untukmu. Kau bisa menebusnya di Apotik," ujar Himawari sambil menatap Sumire dengan pandangan prihatin.
Mendengar perkataan Himawari, Sumire hanya mengangguk seraya menerima resep obat tersebut. Gadis berambut ungu itu menatap resep obat tersebut dengan tatapan datar nan sulit diartikan. Himawari yang mengerti arti tatapan tersebut, hanya bisa melipat tangannya sambil memikirkan solusi yang tepat untuk Sumire.
Sumire menghela napas seraya berdiri untuk beranjak dari ruang praktik Himawari.
"Aku pergi dulu," pamit Sumire sambil membungkuk.
Setelah berada di luar ruangan Himawari, Sumire menghela napas sambil menyandarkan punggungnya pada dinding Rumah Sakit. Matanya berkaca dan air mata hendak menetes membasahi pipinya. Ia terdiam memikirkan semua masalah yang ia alami. Ia ingin bersama Mitsuki dan ia begitu mencintai Mitsuki, namun kenapa ia harus dibenci karena rasa cintanya pada Mitsuki?
'Mitsuki, tolong aku,' batin Sumire lirih.
...
Pada malam hari di Kediaman Mitsuki, terlihat Mitsuki dan Sumire tengah berdua di ruang tamu dan berbincang-bincang. Wajah Sumire terlihat sedih sedangkan, Mitsuki yang berada di samping Sumire hanya bisa mengelus bahunya guna menenangkan sang kekasih.
"Ba-bagaimana ini, Mit-Mitsuki-kun?" tanya Sumire dengan terbata seperti orang yang menahan tangis.
Mitsuki mengenggam erat tangan Sumire seraya mengecup punggung tangan gadis itu.
"Tenanglah, sayang. Semua akan baik-baik saja," ujar Mitsuki dengan nada menenangkan.
"Ba-bagaimana de-dengan pernikahan kita?" Sumire kembali bertanya dengan nada terbata.
Mitsuki membawa Sumire ke dalam pelukannya sambil mengecup rambut kekasihnya yang beraroma mint. Mitsuki tahu, Sumire dalam keadaan rapuh dan butuh dirinya sebagai penopang. Mitsuki berjanji akan melindungi Sumire dari tangan jahat ayahnya, Mitsuki akan bersedia untuk menikah diam-diam jika sang ayah tak sudi merestui mereka.
Setelah dirasa Sumire yang sudah mulai tenang, Mitsuki pun melepaskan pelukannya seraya menangkup kedua pipi Sumire dan menghapus air mata yang mengalir di sana.
"Aku bersamamu, kita akan pergi jauh ke Desa Nadeshiko dan menikah diam-diam di sana."
Sumire melepaskan tangan kanan Mitsuki dari pipinya dan mengenggamnya erat sambil bertanya,
"Apa kau yakin?"
Mitsuki mengangguk seraya membawa Sumire kembali dalam pelukannya.
"Aku akan selalu yakin untukmu."
BRAAAKKKKKK!
Mitsuki secara refleks melepaskan pelukan Sumire setelah mendengar suara bising dari arah pintu, ia menoleh ke samping dan dilihatnya ada seorang pria berkulit pucat bagaikan ular yang tengah menatap dirinya dan Sumire dengan tatapan tajam dan membunuh.
"Ayah?" ujar Mitsuki sambil berdiri dari tempatnya dan menatap tajam Orochimaru, sang ayah.
Tanpa mempedulikan Mitsuki yang telah berdiri menghadapnya, Orochimaru berjalan melewatinya dan menuju ke arah Sumire. Orochimaru langsung menarik tangan Sumire dengan kasar dan menatap tajam kedua mata Sumire yang terlihat ketakutan.
PLAAKKKKK!
Orochimaru langsung menampar gadis itu hingga menangis dan tersungkur.
"Sumire!" seru Mitsuki yang langsung berlari ke arah Sumire, berjongkok, dan memeluk tubuh kekasihnya.
"Jauhi anakku, dasar jalang!" bentak Orochimaru sambil menatap Sumire hina.
Mitsuki mengepalkan tangannya erat-erat saat mendengar sang ayah mengatai Sumire dengan sebutan 'jalang'. Ia pun beranjak dari posisi berjongkoknya sambil menatap ayahnya dengan tatapan tajam. Mitsuki benar-benar emosi, ia tidak tahan mendengar sang ayah menghina perempuan yang ia cintai dengan sebutan tak pantas.
"Sumire bukan jalang, Ayah dan jangan sakiti dia," desis Mitsuki dengan nada menggeram menahan emosi.
Mendengar Mitsuki yang justru membela kekasihnya, membuat Orochimaru semakin emosi. Ia pun menampar pipi Mitsuki dengan kencang.
PLAKKKKK!
Mitsuki memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Orochimaru, dirinya menatap sang ayah dengan tatapan tajam nan penuh emosi.
"BERANI KAMU MEMBANTAH AYAHMU, SUDAH DIBAYAR BERAPA KAU OLEH GADIS JALANG INI."
Sumire yang berada di belakang Mitsuki, hanya bisa memeluk lututnya ketakutan sambil menangis terisak. Mitsuki mengepalkan tangannya setelah ia mendengar bentakan Orochimaru, ia ingin sekali menghajar sang ayah karena telah berani menghina istrinya.
"Aku memberimu pilihan, tinggalkan gadis itu atau kubunuh ia sekarang juga."
Mendengar perkataan Orochimaru, membuat Sumire dan Mitsuki membelalakkan kedua mata mereka. Tubuh Sumire semakin bergetar ketakutan setelah ia mendengar ancaman dari Orochimaru.
'Mitsuki-kun, tolong aku,' batin Sumire ketakutan.
Mitsuki menatap ayahnya datar, menghela napas, dan ia menjawab pertanyaan Orochimaru demikian,
"Aku memilih Sumire dan aku tidak percaya kalau ayah akan melakukan itu."
Orochimaru tersenyum licik usai mendengar jawaban Mitsuki. Ia mengeluarkan sebuah suntikan bisa ular dan melemparkannya ke arah Sumire hingga suntikan itu tertancap di leher gadis itu. Mata Mitsuki yang melihat hal itu langsung membeliak.
"Sumire!" teriak Mitsuki sambil berhambur ke pelukan Sumire yang sudah sekarat.
"Mit-Mitsuki-kun." Sumire berkata dengan nada terbata dan mata yang membeliak lebar.
Orochimaru menyeringai dan pria berwajah ular itu langsung menghilang setelahnya. Sepeninggal Orochimaru, Mitsuki langsung menangis dan memeluk tubuh Sumire erat. Pria itu mengeluarkan jutsu medis yang ia miliki untuk menyembuhkan Sumire namun, hasilnya hanyalah sia-sia.
"Sumire, sembuhlah... Jangan tinggalkan aku," ujar Mitsuki lirih sambil menangis.
Hingga beberapa menit kemudian, tubuh Sumire menjadi dingin dan matanya sudah terpejam untuk selamanya. Mitsuki yang sudah tidak merasakan detak jantung dari Sumire, langsung menangis kencang sambil memeluk Sumire dengan lebih erat.
"SUMIREEEE," teriak Mitsuki dengan penuh kesedihan.
Mitsuki mengambil sebuah suntikan racun dari dalam kantungnya dan menusukkan suntikan tersebut di atas urat nadinya. Sebelum Mitsuki menutup mata untuk selamanya, ia menggenggam erat tangan Sumire dan mengecup keningnya.
'Aku mencintaimu, Sumire. Kita akan bahagia selamanya.'
...
Himawari dan Sarada tengah berjalan berdua menuju rumah Mitsuki. Himawari memang sudah memiliki firasat buruk mengenai Sumire maupun Mitsuki sehingga, ia memutuskan untuk pergi ke rumah Mitsuki ditemani oleh Sarada.
Setibanya di rumah Mitsuki, Himawari dan Sarada langsung membelalakkan kedua mata mereka ketika menemukan keadaan Mitsuki dan Sarada yang sudah terbujur kaku nan tak bernyawa.
"Ti-tidak mungkin," ujar Sarada sambil menutup mulutnya dan menangis.
Himawari yang melihat hal itu menggeleng, air mata menetes membasahi pipinya. Firasatnya memang benar, sesuatu yang buruk akan terjadi pada Mitsuki dan Sarada. Himawari memeluk lengan Sarada erat sambil berkata kepada kakak iparnya demikian,
"Neechan, tolong aktifkan sharingan Neechan dan baca pikiran mereka. Aku penasaran, kenapa mereka bisa seperti ini?"
Sarada hanya tersenyum ke arah Himawari sambil mengangguk. Perempuan Uchiha itu berjalan ke arah Mitsuki dan Sumire, berjongkok, dan menggenggam kedua tangan mayat itu.
"Sharingan!" seru Sarada sambil mengaktifkan sharingannya dan mulai membaca pikiran kedua mayat itu.
Himawari hanya menggigit kuku jarinya sambil menatap mayat Sumire dan Mitsuki dengan penasaran. Gadis itu tengah menunggu sang kakak ipar yang masih memeriksa dan menyelidiki kematian Sumire dan Mitsuki yang tiba-tiba.
Beberapa menit kemudian, Sarada menonaktifkan sharingannya sambil beranjak dan menatap Himawari dengan air mata yang mengalir. Himawari yang melihat Sarada menatapnya dengan tangisan langsung mendekati Sarada sambil bertanya,
"Neechan, kenapa?"
"Himawari, Sumire meninggal karena dibunuh oleh Orochimaru yang membencinya. Dan Mitsuki, ia meninggal karena bunuh diri setelahnya."
Himawari menutup mulutnya dan menangis ketika mendengar cerita dari Sarada. Sebegitu miriskah cinta mereka? Kenapa Sumire tidak pernah terbuka mengenai hal ini padanya? Himawari menatap miris kedua pasangan itu dengan deraian air mata, ia merasa kasihan kepada kisah cinta kedua pasangan tak berdosa itu.
...
Usai mengingat hal tersebut, Himawari langsung menangis. Ia merasa kasihan terhadap kisah cinta kedua pasangan di dalam lukisan tersebut. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam dan berjalan menuju jendela terbuka yang letaknya berada di dalam galeri.
Himawari pun mengambil sebuah sketchbook kecil yang ia letakkan di meja samping jendela. Membuka halaman ketiga dan menggambar dua ekor kupu-kupu di dalamnya. Setelah sketsa kupu-kupu itu selesai, Himawari mengambil pensil warna lalu mewarnai kupu-kupu itu dengan warna biru muda dan violet.
Setelah kupu-kupu itu selesai diwarnai, Himawari membentuk tangannya untuk merapal sebuah jutsu.
"Chojuu giga!"
Gambar kupu-kupu itu menjadi hidup dan langsung terbang jauh menuju angkasa. Himawari tersenyum menatap kupu-kupu yang semakin terbang menjauh ke langit biru itu, kupu-kupu itu berterbangan bersama menembus rintangan menuju angkasa yang akan membawa mereka menuju kebahagiaan.
Mitsuki, Sumire... Kalian adalah lambang cinta sejati.
-TBC-
A/N: Chapter ini adalah chapter terumit di antara chapter-chapter lainnya wkwkwk. Anyway, chapter ini terinspirasi dari sebuah film Mandarin yang judulnya Butterfly Lovers. Atau kalian kenal gak sama legenda China tentang Sampek Engtay (?) Nah, cerita dari chapter ini terinspirasi dari sana ^^. Honestly, chapter ini adalah chapter yang paling nyambung sama lirik lagu Taylor Swift – Love Story hehe.
Anyway, aku makasih banget buat virinda yang udah setia mereview cerita ini hehe. Tapi, aku minta maaf kalau setiap pairing hanya kebagian satu porsi karena deadlinenya mepet T_T. Sekali lagi, makasih banyak yaa hehe.
