Kisah Cinta di Balik Lukisan Himawari
Disclaimer: Naruto/Boruto belongs to Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto, and Pierrot Studio. I don't own any profit with this fanfiction.
Warning: Canon, OOC, dl.
Tema: Draw Your Dream!
Lagu yang dipilih: Taylor Swift-Love Story.
Interpretasi tema: Cinta adalah sebuah seni dan setiap seni ada sebuah cerita yang tersirat di dalamnya. Banyak sekali kisah cinta yang terjadi di setiap perjalanan kita. Setiap kita berjalan kaki satu langkah, pasti kita akan menemukan sekiranya satu pasangan yang sedang memadu kasih. Pasangan yang memadu kasih itu, pasti tengah mengukir sebuah cerita di balik kebersamaan yang tengah mereka lakukan. Cerita yang mereka ukir adalah sebuah kisah yang menarik dan indah, cerita yang mereka ukir adalah sebuah cinta yang nantinya akan menjadi sebuah kenangan. Dengan kanvas dan kuas berwarna-warni, kisah cinta setiap insan yang aku temui adalah seni yang kutuangkan dalam lukisan.
Sumarry: [#LibrettoNoUta] Di balik lukisan Himawari, di sana terdapat sebuah kisah cinta yang sangat indah di dalamnya. Kisah cinta antara setiap sepasang insan yang berada di Desa Konoha, kisah cinta yang terdapat pahit-manis di dalamnya/Borusara, NaruHina, KonoHana, SasuSaku, MitsuSumi, dll.
Chapter 6: Childhood First Kiss (InoHima)
Himawari mellirik ke arah lukisan lainnya dan mata safirnya terfokus pada sebuah lukisan kecil yang letaknya berada di paling kiri bawah. Lukisan itu menggambarkan seorang gadis kecil berambut biru dan seorang laki-laki kecil berambut kuning pucat tengah berciuman di bawah sinar senja.
Gadis berambut anggur itu berjongkok seraya mengambil lukisan tersebut. Ia mengelus lukisan itu dan membawanya ke dalam pelukan. Matanya menatap langit-langit ruangan galeri itu dengan berbinar dan seulas senyum tipis pun terukir di bibirnya.
"Aku terlalu sibuk menatap kisah cinta orang lain, hingga aku lupa tentang kisah cintaku sendiri," gumam Himawari dengan tawa kecil sambil mengecup lukisan yang berada di tangannya.
...
Di jalan menuju Toko Bunga Yamanaka, terlihat seorang gadis kecil berjaket kuning tengah berlari menuju Toko Bunga itu. Mata safirnya yang polos terlihat berkaca, sepertinya gadis cilik itu sedang sedih karena suatu hal entah apa.
Sesampainya di depan Toko Bunga, Himawari pun berteriak sambil menangis terisak.
"INOJIN-KUN, KENAPA KAU MELANGGAR JANJIMU?"
Mendengar sebuah suara teriakan, Inojin pun menoleh dan ia melihat Himawari yang tengah berdiri di depan Toko Bunganya sambil menangis dengan polos. Inojin tersenyum seraya mendekati Himawari dan mengelus rambut birunya.
"Himawari-sensei marah ya karena aku lupa mengantarmu?" tanya Inojin dengan nada bercanda sambil mencubit pipi Himawari dengan gemas.
Wajah Himawari langsung merengut usai mendengar pertanyaan Inojin. Memang, Inojin waktu pagi telah berjanji pada Himawari untuk mengantarnya ke sekolah. Namun karena ia terlalu sibuk menjaga Toko Bunga, Inojin pun lupa mengenai janjinya kepada Himawari.
Inojin tertawa kecil saat melihat Himawari memasang wajah cemberut. Ia memegang kedua bahu Himawari dan mengelus lembut pipi kucingnya.
"Maafkan aku ya, Himawari-sensei. Guru yang baik 'kan harus bisa memaafkan muridnya."
Himawari tetap terdiam dengan wajah cemberut. Inojin yang melihat hal itu, lagi-lagi tersenyum. Memang benar, anak berumur 7 tahun susah sekali ditaklukan kalau sedang marah. Inojin saja sampai pusing menangani Himawari yang masih saja merajuk dan menatapnya dengan mata marah khas anak kecil.
Inojin pun terdiam dan ia mencoba memikirkan sebuah cara agar Himawari mau memaafkannya.
"Bagaimana kalau kita melukis bersama di Taman Konoha? Hm?" ajak Inojin sambil mengelus rambut Himawari.
Mendengar ajakan Inojin, Himawari pun luluh dan akhirnya mengangguk sebagai jawaban. Inojin pun tersenyum lebar saat mengetahui Himawari telah luluh padanya. Ia benar-benar senang karena rencananya untuk meluluhkan hati Himawari telah berhasil.
...
Taman Konoha, pukul 16.000
Di sana terlihat Himawari dan Inojin yang tengah bersiap dengan kanvas di hadapan mereka. Himawari memulai gambar dengan membuat sketsa matahari terbenam di hadapannya. Gadis itu ingin melukiskan matahari senja sebagai objek yang ia sukai. Kebetulan, objek tersebut terpampang dengan jelas di depan matanya.
Inojin yang terkena artblock, hanya terdiam sambil menatap Himawari yang masih asyik membuat sebuah sketsa. Inojin benar-benar dibuat bingung dengan keproduktifan Himawari dalam menggambar. Kenapa guru privat ciliknya itu bisa seproduktif sekarang? Kenapa ia tidak bisa sepertinya juga?
Himawari yang sudah selesai dengan sketsanya, langsung menoleh ke arah Inojin. Gadis itu mengernyitkan keningnya saat melihat Inojin yang hanya terdiam sambil menatap dirinya dengan begitu intens. Ada apa dengan Inojin?
"Inojin-kun, kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Himawari dengan terheran-heran.
"Tidak ada apa-apa, Sen "
" chan," potong Himawari yang sedikit kesal karena Inojin masih memanggilnya dengan suffix "sensei" di belakang namanya.
Inojin menghela napas sambil melanjutkan perkataannya, "Tidak ada apa-apa, Himawari-chan. Aku hanya bingung, kenapa kau bisa semangat sekali dalam menggambar hari ini?"
Himawari hanya tersenyum tipis setelah mendengarkan perkataan Inojin dan gadis itu pun menjawab demikian,
"Tentu saja hari ini aku semangat, karena aku ingin memberikan lukisan ini sebagai hadiah untuk ayah!" seru Himawari menjawab pertanyaan Inojin dengan ceria.
"Loh, bukankah ulang tahun Nanadaime-sama di bulan Oktober? Ini 'kan masih bulan Januari."
Himawari menggeleng dan ia kembali berkata, "Memberikan hadiah untuk orang yang kita sayangi tidak harus di ulang tahun saja, Inojin-kun. Memberikan hadiah untuk orang tua itu bisa dilakukan kapan saja."
Inojin hanya tersenyum dan terkekeh menatap Himawari.
'Benar-benar anak yang polos,' batin Inojin sambil menyeringai.
...
"Yeay, lukisanku sudah jadi!" seru Himawari sambil melompat girang.
Inojin yang mendengarnya hanya tersenyum tipis sambil menatap lukisan Himawari. Hanyalah lukisan polos yang sederhana namun, sangat estetik untuk ukuran lukisan anak-anak dan terdapat makna di dalamnya. Himawari melukiskan matahari terbenam di atas hamparan bunga lavender dan bunga matahari. Jangan lupakan di atas kepala Matahari itu, terpasang sebuah mahkota yang berbentuk baut.
Inojin tersenyum, ia bisa menebak makna di balik lukisan Himawari. Sesaat kemudian, Himawari menoleh ke arah Inojin sambil bertanya, "Inojin-kun, mana lukisanmu?"
Inojin mengambil kanvasnya dan menunjukkan hasil lukisannya kepada Himawari. Himawari menatap lukisan milik Inojin dengan tatapan polos dan bingung, gadis cilik itu masih belum mengetahui makna apa yang berada di dalam lukisan Inojin.
"Inojin-kun, kau melukis tentang apa?" tanya Himawari polos.
Inojin memang melukiskan sebuah objek abstrak jalan raya yang berliku-liku. Di tengah jalan raya itu, terdapat sebuah hati yang bersinar.
"Aku melukis tentang suatu hal yang sangat rumit di dunia ini, yaitu cinta," jawab Inojin sambil memberikan senyuman kepada Himawari.
"Cinta itu apa?" Himawari kembali bertanya dengan nada yang sangat polos.
Inojin mendekati Himawari, berlutut, dan menggenggam kedua tangan Himawari disertai dengan tatapan penuh cinta pada gadis kecil itu. Wajah Himawari memerah tipis dan sinar matahari senja yang berwarna jingga itu seolah menjadi penghias di antara mereka berdua.
"Cinta adalah suatu keadaan di mana kita menyukai seseorang begitu dalam."
Himawari menundukkan kepalanya dalam-dalam dan memasang wajah kebingungan.
"Hima masih tidak mengerti," ujar Himawari dengan kepolosan yang sama.
Inojin pun menyeringai setelah mendengar perkataan Himawari. Ia pun memegang sisi kepala gadis itu sambil menempelkan kening dan hidungnya ke kening dan hidung Himawari. Himawari yang masih polos dan tak mengerti apa-apa, hanya terdiam membeku dengan wajah yang mulai merona.
"Akan aku ajarkan," ujar Inojin singkat.
Setelah berkata seperti itu, Inojin langsung mencium bibir Himawari. Mereka berciuman cukup lama hingga matahari petang yang tadinya bersinar, telah tenggelam tanpa mereka sadari. Mereka terus berciuman tanpa menyadari hari yang sudah menggelap.
Inojin melepaskan ciumannya dan Himawari yang terkejut, hanya terdiam sambil memegang bibirnya dengan wajah memerah bak kepiting rebus. Inojin hanya tertawa kecil saat melihat reaksi Himawari yang malu-malu setelah menerima ciumannya.
"Inojin."
Mendengar ada suara bariton yang memanggil namanya, Inojin pun menoleh ke belakang. Dilihatnya ada Sarada dan Boruto yang tengah berdiri di hadapannya sambil mengaktifkan kekkei genkai mereka, yaitu jougan dan sharingan. Inojin meneguk ludahnya dengan ketakutan pada saat itu.
...
Wajah Himawari langsung merona ketika mengingat kenangan menggemaskan itu. Ia pun berjalan menuju jendela dan membentangkan lukisan itu ke depan. Himawari juga memajukan wajahnya dan mencium lukisan itu dalam waktu yang cukup lama. Mengangkatnya tinggi-tinggi dan tersenyum malu-malu.
Kisah cinta masa kecil adalah kisah cinta yang paling indah.
-TBC-
