Rapat akhirnya selesai. Dari raut wajah angkuhnya, kita bisa tau. Siapa pemenang kali ini kalau bukan Uchiha Sasuke dari Uchiha Corp., sepertinya dewi fortuna selalu berpihak padanya atau memang kemampuan pria tampan itu yang mampu membius para investor tersebut.
Sakura, keluar duluan dari ruang rapat itu bersama sekertarisnya, Asuma. Sasuke melirik sekilas saat gadis merah muda itu keluar. Pria itu pun berdiri dan hendak keluar namun sebelum itu ia tak lupa berjabat tangan dan mengucapkan terima kasih pada para investor yang mau bekerja sama dengannya.
Sai menatap sinis pria Uchiha bungsu tersebut. Sai berdiri dan menghampirinya. "Selamat, Atas kemenanganmu. Sasuke." Ujarnya dingin dan syarat akan penekanan. Sasuk menoleh dan tersenyum pongah pada pria Shimura itu. "Hn. Terima kasih. Aku memang selalu di atasmu. Sai." Balasnya.
Sai tersenyum palsu."Ya. Aku tau itu. Tapi asal kau tau, bahwa ada hal dimana aku berada diatasmu. Karna aku memiliki perasaan, tidak sepertimu. Uchiha Sasuke." Ujar Sai sebelum meninggalkan Sasuke dan berlalu pergi.
Sasuke mendengus. Ia tau arah pembicaraan Sai tadi. Ya. Sasuke tau, bahwa ia tak mempunya perasaan. Apalagi yang dimaksud Sai tadi tentang cinta terhadap lawan jenis. Sai adalah temannya saat kuliah dulu. Gadis yang disukainya ternyata menyukai Sasuke. Namun dengan kejamnya pria itu menolaknya didepan umum, membuat gadis malang itu malu bahkan hendak mengakhiri hidupnya. Sejak itu Sai menjadi tidak suka padanya, apalagi ditambah persaingan bisnis. Jarak pertemanan mereka semakin menjauh dan terus menjauh.
•
•
•
•
Disclaimers : Masashi Kishimoto
•
•
•
Sasuke Uchiha , Sakura Haruno
•
•
WARNING!
TYPO, OOC , AU, GAJE ,FIKSI DLL
•••••
- DON'T LIKE , DON'T READ OK -
•
•
•
Sakura melangkahkan kaki jenjangnya dengan perasaan kesal. Ia terus berjalan cepat menuju pintu keluar perusahaan Uchiha secepatnya. Asuma bahkan kewalahan mengikuti langkah CEO nya itu.
"Nona, Jika terus begini perusahan kita akan benar benar bangkrut." Asuma berbicara seraya berlari kecil untuk menyamakan langkah Sakura. Gadis merah muda itu mendengarkan dan terus berjalan. "Apalagi para dewan direksi yang telah lama bekerja sama dengan kita. Mereka pasti akan mengundurkan diri nanti jika perusahaan kita terus mengalami penurunan saat ini." Lanjut Asuma.
TAP
Sakura berhenti tiba tiba. Asuma pun ikut berhenti. Gadis merah muda itu berbalik menatap sekertaris yang sudah bekerja diperusahaan ayahnya selama bertahun tahun tersebut. "Aku tau itu, Paman. Tapi apa yang harus ku lakukan? Aku masih baru didunia bisnis tapi aku harus menanggung beban perusahaan ini. Aku sudah berkorban banyak demi perusahan ayah, Impianku dan bahkan..." Sakura sadar saat ini ia tersulut emosi bahkan hampir mengatakan sesuatu yang hanya ia sendiri yang tau. Bahwa dia, bahkan juga mengorbankan. Hidupnya.
Sakura menghela nafas panjang, Ia mencoba menenangkan pikirannya agar tak tersulut emosi sesaatnya. "Maafkan saya, Paman. Ayo kita kembali kekantor." Ia pun kembali melangkah keluar gedung Uchiha Corp. tersebut dan diikuti Asuma yang mengekor dibelakangnya. Mereka tidak tau bahwa saat ini Sasuke menatap Sakura yang keluar gedungnya dari jendela kaca diruang kerjanya. Kening pria itu mengerut saat mata onyxnya melihat dari kejauhan, Sai berlari kecil menghampiri Sakura dan menarik lengan gadis itu supaya menghadap padanya. Sasuke terus memperhatikan dari jendela kaca ruang kerjanya.
"Apa hubungan mereka. Apa mereka sudah saling mengenal sebelumnya." Gumam Sasuke bertanya tanya. Ayame masuk dan Sasuke bahkan tak menyadari kedatangannya karna sibuk memperhatikan Sakura dan Sai dibawah sana. Karna penasaran apa yang dilihat bosnya. Ayame menghampiri Sasuke dan ikut memandang kebawah dimana Sasuke begitu tertarik dengan pemandangan dibawah sana.
"Yang ku tau, Tuan Shimura adalah sahabat nona Haruno sejak mereka sekolah dulu." Ayame berucap seakan tau isi pikiran atasannya tersebut.
Sasuk sempat tersentak, karna ia tak menyadari keberadaan Ayame ,karna terlalu memperhatikan yang ada dibawah sana. Kemudian seperti biasa dengan cepat ia memasang kembali muka datarnya. "Benarkah?" Sasuke kembali kekursi kerjanya. "Sepertinya banyak pria yang menyukai gadis itu." Lanjutnya seraya memeriksa berkas yang baru disodorkan Ayame.
Sekertarisnya itu mengangguk setuju. "Anda benar, Sasuke-san. Bahkan Naruto-san pun menyukainya." Ayame terkekeh saat baru saja mengetahui fakta itu dari sumbernya langsung.
"Dari mana kau tau?" Sasuke mengerutkan keningnya.
"Naruto-san sendiri yang cerita padaku barusan." Jawab Ayame terkekeh.
Sasuke mendengus. Ternyata sahabatnya itu berkata benar saat bilang gadis itu cinta pertamanya dulu. Kenapa para pria yang ia kenal menyukai gadis itu. Apa istimewahnya dia? Sasuke akui bahwa gadis itu cantik dan tubuhnya juga proposional dan dia juga mengakui bahwa ia juga sedikit tertarik. Tapi ingat. bahwa ia tertarik pada gadis itu pun karna kemampuan bisnisnya yang Sasuke akui cukup baik jika mengetahui fakta bahwa gadis itu bahkan baru pertama kali masuk didunia bisnis. Sasuke kagum akan hal itu.
Dasar tsundere.
•
Sentuh Hatiku © JuliaCherry07
•
Sakura kembali kekantornya. Ia tidak tau harus melakukan apa agar bisa mengembalikan perusahaan ayahnya seperti dulu.
Lagi lagi ia menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya ke meja kerjanya."Apa yang harus ku lalukan, Ayah". Tanpa sadar air matanya menetes. Sakura memejamkan kedua matanya."Aku harus kuat, Aku harus bertahan." Sambungnya lirih.
Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu, yang membuat ia kembali menegakkan kepalanya dan menyeka air matanya. Asuma masuk kedalam.
"Ada apa?"
"Anda diminta keruang konferensi sekarang, Nona."
Sakura kembali menghela nafas, entah ini untuk yang keberapa kalinya ia lakukan. "Aku akan kesana secepatnya.". Ujarnya.
"Baiklah." Asuma berojigi dan berlalu pergi. Kepala Sakura benar benar pening sekarang. Ia tau rapat itu pasti tidak akan menyenangkan atau bahkan berdampak buruk. Dengan langkah berat Sakura pun pergi keruang konferensi ,semuanya pasti menunggunya saat ini.
Dewan direksi serta para staf sudah ada dikursinya masing masing. Sakura selaku CEO yang baru menjabat posisinya sebagai pengganti mendiang ayahnya pun kini tengah duduk dikursinya dengan tenang. "Apa kita bisa mulai rapatnya sekarang?" Tanya Orochimaru salah satu dari dewan direksi.
"Ya, silahkan" Jawab Sakura.
"Yang ku dengar, rapat tadi pagi berhasil dimenangkan kembali oleh Uchiha Corp.?" Sakura mengangguk saat Orochimaru bertanya lagi. "Jika seperti ini terus, bagaimana nasib perusahaan ini? Kami menanam modal disini agar apa yang kita tanam bisa membuahkan hasil yang baik. Tapi apa yang terjadi sekarang? perusahaan ini malah mengalami pailit." Ujar Orochimaru. Asuma tampak tak terima mendengarnya. Ia hendak protes namun Sakura menghentikannya. Sakura berdiri dari duduknya.
Semua mata kini tertuju padanya. Orochimaru pun menatapnya tajam. Pria itu sepertinya hendak memprovokasi pihak lainnya.
"Maaf, Soal kekalahanku dirapat tadi pagi." Sakura berojigi pada Orochimaru sebagai tanpa maaf dan penyesalannya. Asuma tertegun dengan apa yang dilakukan CEO nya itu. Semua staf dan dewan direksi terperangah dengan apa yang dilakukan Sakura barusan.
Orochimaru tersenyim sinis. "Kau masih muda, Apa lagi pengalaman bisnismu masih kurang. Aku tidak terkejut jika kau gagal dalam rapat itu. Sebaiknya kau serahkan saja posisimu itu pada orang lain." Cerca Orochimaru.
Urat syaraf Asuma menegang. Ia benar benar sudah tak tahan lagi dengan ucapan Orochimaru itu pada atasannya. "Apa maksud anda, heh?" Geram Asuma penuh emosi.
"Tenangkan dirimu, Paman" Sakura mencoba menenangkan Asuma.
Orochimaru mendengus. Para staff yang hadir terlihat bergunjing ada yang mendukung Sakura dan ada juga yang membenarkan ucapan Orochimaru. Begitu juga dengan para dewan direksi yang hadir. Izumo selaku direktur management ikut berdiri. "Maaf, sepertinya tidak ada salahnya kita memberi nona Sakura kesempatan. Ia baru saja memulainya tidak ada salahnya kan memberi ia kesempatan. Kami yakin nona Sakura pasti bisa." Komentar Izumo.
"Aku punya saran. Mungkin ini satu satunya jalan untuk menyelamatkan perusahan ini." Timpal Genma salah satu dewan direksi.
Semua mata kini tertuju pada pria itu. "Apa itu?" Tanya Sakura.
"Bekerja sama lah dengan, Uchiha Corp." Jawab Genma mantap. Semua yang hadir diruang confrensi itu tersentak mendengarnya. Begitu juga dengan Sakura. Gadis merah muda itu menatap tak percaya Genma.
"Itu ide yang bagus." Komentar Orochimaru, kemudian ia kembali menatap Sakura. "Dengar, Tugasmu sekarang adalah membujuk Uchiha Sasuke, agar mau bekerja sama dengan Haruno Corp. jika kau mau menyelamatkan perusahan ini. Itu adalah satu satunya cara yang kau bisa saat ini." Lanjutnya.
Asuma memandang iba Sakura. Ia tak yakin Sakura mampu membujuk CEO berhati dingin itu. Apalagi selama ini Uchiha Corp. adalah salah satu saingan Haruno Corp.
Sakura memejamkan matanya sejenak sebelum ia membukanya kembali. "Baiklah. Akan ku lakukan apapun itu, demi perusahan ini." Tukas Sakura.
.
.
.
Jalanan malam ini nampak lenggang, pertokoan pinggir jalan pun nampak tak ramai orang. Hanya para pejalan kaki yang cukup ramai berwara wiri disana. Begitu juga yang dilakukan Sakura saat ini, Dengan masih menggunakan blazernya berwarna merah serta rok hitamnya yang diatas lutut, Ia berjalan seorang diri diterotar disekitar pertokoan. Gadis merah muda itu nampak merenungkan sesuatu. Wajah cantiknya nampak sedikit pucat. Sesekali gadis itu menghela nafas berat. Langkahnya berhenti saat ia ada disebuah halte. Ia mendongak menatap langit malam yang bertabur bintang saat ini. Bibir ranumnya tanpa sadar tersungging saat ia melihat bintang jatuh. Matanya terpejam dan dalam hati ia memohon yang terbaik untuk Haruno Corp.
"Apa yang kau minta?" Tanya seseorang yang berdiri tepat disampingnya. Mata emerald Sakura kembali terbuka dan ia pun menoleh kesamping.
"Kakek?" Sakura tersenyum pada pria tua yang ia temui kemarin malam dihalte ini.
"Apa kau lapar? wajahmu terlihat pucat."
Sakura kembali tersenyum. "Kakek benar, Aku sangat lapar." Ujarnya.
Kakek itu pun terkekeh. "Cucu kakek, tidak boleh kelaparan. Ayo kakek belikan makanan dikedai sana" Tunjuk Kakek pada kedai ramen dipinggir jalan yang tak jauh dari halte tersebut.
Sakura terkekeh geli, Ia seperti berbicara pada kakeknya sendiri. "Baiklah, kalau kakek memaksa." Ujarnya sedikit manja.
Kakek tua itu mendegus geli.
"Ayo cepat Teme, cacing didalam perutku sudah memberontak ingin makan ramen" Naruto menyeret Sasuke masuk kedalam kedai ramen dipinggir Uchiha itu tampak enggan mengikuti Naruto. Sahabatnya itu sudah numpang pulang dan sekarang minta berhenti mendadak dikedai ramen karna kelaparan berat katanya. "Kau tau, Teme. Ini adalah kedai ramen favorite ku. Disini ramennya sangat enak." Ujar Naruto yang terus menyeret sahabatnya masuk kedalam kedai langganannya itu.
"Selamat datang" Sapa Pemilik kedai ramen tersebut.
"Paman, Aku pesan dua mangguk ramen jumbo." Kata Naruto. Sasuke mendengus kesal dan terpaksa duduk disamping Naruto.
"Oh, Naruto. Baiklah, tunggu sebentar ya.".
"Hei Teme, Jangan cemberut seperti itu. Aku yang akan traktir kali ini. Jadi makanlah sesukamu." Ujar Naruto.
"Cih! Kau pintar sekali. Jika kau yang ku traktir kau selalu memilih makanan mahal." Cibir Sasuke. Naruto menyengir lebar. "Ayolah Teme, kau kan CEO kaya, masa kau mentraktirku makanan murah. Yang benar saja, Ttebayou". Kata Naruto.
Pria Uchiha itu menghela nafas pasrah dan menggeleng. Namun tiba tiba samar samar ia mendengar suara diluar kedai yang pernah ia dengar tadi pagi saat rapat.
"Apa kakek yakin, ramen dikedai ini enak?"
"Tentu saja. Ini adalah kedai yang jadi langganan kakek."
"Baiklah kalau begitu, Ayo masuk." Sakura dan Kakek itu pun masuk kedalam kedai. Naruto dan Sasuke seketika menoleh kearah pengunjung yang baru datang.
"Sakura-chan?" Sapa Naruto dengan mata berbinar binar. Pria blonde itu pun berdiri saat tau, Gadis itu adalah Sakura, Cinta pertamanya dulu dan sekarang tiba tiba bertemu disini, kedai ramen Ichiraku favoritenya.
Sakura yang merasa namanya disebut menoleh kearah Naruto. Keningnya mengerut melihat pemuda yang dulu selalu mengejarnya. "Na...Naru-...Hm..." Sakura nampak mengingat nama pria didepannya.
"Naruto, Namikaze Naruto." Potong Naruto yang nampak kecewa karna gadis yang dulu menjadi cinta pertama itu melupakan namanya. "Sakura-chan, Kau tega sekali telah melupakanku hiks..". Pria blonde itu pundung dan kembali duduk dikursinya.
Sasuke tersenyum puas melihat sahabatnya yang sedang terpuruk itu. Sakura tersenyum miris dan merasa bersalah. "Maaf. Bukannya aku melupakan namamu, Naruto. Hanya saja kita kan sudah lama tak bertemu." Ujar Sakura mencoba menghibur Naruto yang pundung. Kakek yang berdiri disamping Sakura terkekeh geli melihat tingkah Naruto.
"Hei, Naruto. Sudahlah, Sakura kan tidak bermaksud seperti itu." Timpal kakek. Sakura menoleh kearah kakek. "Kakek, juga mengenal Naruto?" Tanya Sakura heran.
Naruto kembali mendongak dan menatap kakek itu. "Kakek, tak ku sangka. Kau juga kenal dengan Sakura-chan." Ujarnya.
"Tentu saja. Dia ini sudah ku anggap sebagai cucuku." Kakek itu menatap Sakura yang masih menatap bertanya. "Aku kenal Naruto dikedai ini. Kami sama sama penggemar ramen. Iya kan Naruto?" Kakek itu tersenyum pada Naruto yang menurut pria blonde itu, senyumnya menyeramkan.
"I-iya, begitulah." Jawab Naruto seadanya.
"Kau, kesini bersama temanmu ya, Naruto?" Tanya kakek menatap kearah Sasuke yang sedari tadi hanya duduk terdiam.
Naruto menoleh kesamping. "Ah, iya. Dia temanku. Sasuke, Uchiha Sasuke." Kata Naruto.
Mendengar nama yang ia kenal. Sakura pun menoleh kearah Sasuke. Matanya terbelalak saat pria itu ternyata kini juga menatapnya intens. Emerald dan Onyx saling berpandangan. Seringai tipis terukir dibibir tipis pria Uchiha bungsu tersebut saat melihat gadis merah muda itu sepertinya baru menyadari keberadaanya dan terlihat terkejut.
"Hn. Senang bisa bertemu denganmu lagi disini. Nona Haruno." Ujar Sasuke yang masih duduk dikursinya sambil menatap gadis merah muda itu.
.
.
TBC.
