Disclaimer : Masashi Kishimoto.


Setelah mengendalikan diri dari rasa terkejutnya, Sakura tersenyum pada Sasuke dan menundukan sedikit kepalanya pada pria itu. Senyum gadis itu sepertinya membuat dua pria tampan dikedai ramen itu terpesona, lihat saja Naruto bahkan memerah wajahnya, sedangkan Sasuke. Pria angkuh itu yang biasanya berwajah datar nampak tertegun melihat senyuman Sakura, bahkan lupa berkedip.

"EHEM" Kakek tua itu berdehem keras agar menyadarkan kedua pria itu. Sakura terkekeh geli, apalagi melihat Naruto yang langsung salah tingkah.

"Ini ramen jumbo pesananmu, Naruto" Seru Teuchi (paman penjual ramen). Naruto dan yang lain lantas melihat kearah Teuchi yang membawa dua ramen jumbo.

Mata Naruto berbinar binar melihat mangkuk didepannya yang berisi ramen favoritenya. "Wah... Aku sudah tidak sabar memakannya." Naruto bersiap memakan ramen jumbo itu. "Selamat makan" Serunya. Sasuke mendengus melihat Naruto. Sedangkan kakek tua berambut putih terkekeh geli. Ia kemudian menoleh pada Sakura yang diam dan memperhatikan Sasuke yang kini sedang makan ramen disamping Naruto.

"Kau juga ingin ramen jumbo, Sakura?" Tanya Kakek itu.

Sakura sedikit terperangah dan menoleh. "Iya." Jawabnya.

"Ayo, duduk". Sakura duduk disamping Naruto dan kakek duduk disamping Sakura. "Teuchi, pesan dua ramen jumbo ya." Ujar Kakek.

"Baik, tunggu sebentar ya." Teuchi pun kembali kedalam untuk membuatkan ramen pesanan Kakek dan Sakura.

Sakura memandangi pria berkulit tan yang duduk disampingnya yang tengah asyik menikmati ramen jumbonya. Sebuah ide konyol muncul dipikiran gadis merah muda itu. "Hei Naruto, Kau mau berlomba denganku?" Tanya Sakura.

Seketika Naruto menghentikan ritual makannya dan menoleh kearah Sakura. Sebelah alisnya terangkat tinggi."Lomba apa,Sakura-chan?". Tanyanya bingung.

"Kita lomba makan ramen. Siapa yang bisa makan ramen jumbo ini dalam waktu 5 menit, maka dia lah pemenangnya."

"Cih!" Sasuke yang mendengarnya berdecak. Ternyata CEO Haruno Corp. itu benar benar konyol seperti sahabat blondenya itu.

"Baiklah, Aku setuju. Tapi aku sudah memakan setengah ramenku" Kata Naruto.

"Jangan khawatir,Naruto. Kau bisa makan ramen ku nanti. Aku akan jadi supporter kalian nanti" Sahut Kakek.

"Lalu, siapa yang jadi jurinya?" Tanya Naruto. Sakura dan Kakek itu seketika langsung menatap pria berambut raven yang tengah duduk tenang. Naruto yang tau arah pandang Sakura dan Kakek, ikut memandangi pria Uchiha itu. Sasuke pun menoleh, dahinya mengerut melihat ketiga orang itu menatapnya. "Apa?" Tanyanya innocent.

Naruto menyengir lebar. "Teme, kau jadi jurinya." Ujarnya.

Sasuke mendengus. "Tidak." Tolaknya mentah mentah.

"Siapa yang setuju Teme jadi juri angkat tangan." Seru Naruto. Seketika Sakura dan Kakek pun angkat tangan. Pria raven itu berdecak kesal. Kenapa juga ia harus ikut terlibat permainan konyol mereka.

"Sakura-chan, Apa hukuman untuk yang kalah?" Tanya Naruto.

Sakura nampak berpikir. "Hm... Apa ya. Aa, bagaimana jika yang kalah harus membayar semua pesanan ini " Ujar Sakura.

Naruto menggeleng tidak setuju."Bagaimana jika yang kalah harus menuruti permintaan yang menang". Usul Naruto.

Sasuke nampak tak setuju dengan usul Naruto, ia kenal betul sifat sahabatnya itu. Sasuke yakin jika sahabatnya itu pasti akan meminta Sakura berkencan dengannya jika dia menang.

"Baiklah. Aku setuju." Kata Sakura.

Sasuke Uchiha , Sakura Haruno

Warning !

Typo, OOC, Gaje , AU dll

Sentuh Hatiku © JuliaCherry07

Chapter : 5

- DON'T LIKE , DON'T READ -

Disebuah restauran mewah dan berbintang, dua keluarga sedang makan malam bersama. Mei Terumi dan Ayahnya duduk berhadapan dengan keluarga calon tunangannya, Fugaku Uchiha dan Mikoto Uchiha.

"Kenapa Sasuke tidak datang?" Tanya Mei.

"Maaf, Sepertinya putra ku sedang sibuk. Dia memang pekerja keras." Jawab Fugaku. Mikoto yang duduk disamping suaminya memperhatikan gadis yang akan menjadi tunangan putranya tersebut. Nyonya Uchiha itu nampak tak suka melihat Mei yang berpenampilan seksi, seperti model dimajalah dewasa.

"Aku, sangat kagum dengan putramu, Fugaku. Dia masih muda tapi dia sudah memajukan perusahanmu dengan pesat." Puji Ayah Mei.

Fugaku tersenyum bangga. "Hn. Terima kasih".

"Aku jadi merindukannya." Ucap Mei.

"Bersabarlah, bukankah pesta pertunangan kalian akan diadakan sebentar lagi." Kata Ayah Mei.

"Itu benar. Sepertinya putrimu sangat menyukai putra ku." Timpal Fugaku. Mei tersipu malu mendengarnya.

Mikoto memandang tak suka. "Tapi putraku, belum menyetujuinya. Sebaiknya kita tanyakan dulu padanya." Ujar Mikoto.

"Aku yakin, Sasuke pasti menyetujuinya." Kata Fugaku.

"Jangan memaksakan kehendakmu, Suamiku. Kau terlalu menuntut banyak terhadap Sasuke. Aku tidak mau, Kehilangan putra ku untuk kedua kalinya." Tegas Mikoto seraya berdiri dan berlalu pergi.

"Mikoto!" Panggil Fugaku, namun istrinya itu mengabaikannya dan terus pergi. "Maafkan istriku, dia memang seperti itu jika menyangkut putra bungsu kami. Kami permisi dulu." Pamit Fugaku pada keluarga Terumi sebelum ia pergi menyusul istrinya.

"Sepertinya, ibu Sasuke tak menyukaiku. Ayah" Ujar Mei. Ayah Mei menggenggam tangan putrinya dan berkata. "Jangan khawatir, Tugasmu hanya membuat Sasuke jatuh cinta padamu saja. Kalau bisa sentuh hatinya agar dia bisa kau kendalikan." . Mei dan Ayahnya menyeringai penuh arti.

.

.

.

.

"Mikoto, Apa yang kau lakukan, heh?" Fugaku memarahi istrinya karna bertingkah tidak sopan pada keluarga Terumi.

"Aku tidak menyukai gadis itu. Coba lihat cara berpakaiannya.".

"Apa salahnya. Ia memang seorang model jadi wajar. Kau kan belum mengenalnya."

"Tapi insthing ku berkata, gadis itu tidak cocok dengan putraku. Dan yang terpenting kau harus bertanya dulu pada Sasuke, Dia setuju dengan pertunangan ini atau tidak. Jangan mengulangi kesalahan yang sama, Anata." Tukas Mikoto. Fugaku terdiam. Ya , dia tau apa maksud istrinya itu. Fugaku sadar dialah yang membuat istrinya jauh dari putra sulungnya. Karna keegoisannya putra sulungnya, Itachi Uchiha pergi dari rumah dan tak pernah kembali sampai sekarang.

"Aku tak mau kehilangan Sasuke, Suamiku." Tambah Mikoto dengan tatapan memohon pada suaminya. Mikoto yakin putranya tidak akan setuju dengan perjodohan ini. Buktinya putranya tidak datang keacara makan malam hari ini. Mikoto tau alasan Sasuke yang bilang sibuk dan ada meeting penting yang tak bisa ditinggal itu hanyalah omong kosong belaka, Karna sebelumnya Mikoto sudah bertanya pada Ayame dan sekertarisnya itu bilang Sasuke sudah pulang dari kantor bersama Naruto dan tidak ada meeting malam ini.


Seorang gadis berdiri disekeliling tanaman yang sedang berbunga indah. Gadis bersurai pirang itu tersenyum saat melihat bunga mawar hijau yang sedikit langka itu berbunga indah. Gadis yang diketahui seorang pemilik toko bunga itu lalu menyirami bunga itu. Ia tak menyadari bahwa diluar jendela toko bunganya, berdiri seorang pria bermata obsidian tengah memperhatikannya. Sai, Pria itu tersenyum miris saat memperhatikan gadis itu. "Ino." Gumamnya lirih.

Ino, Gadis bermata aquamarine itu menoleh kearah luar jendela. Ia seperti merasakan ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya, namun saat ia menoleh tidak ada siapa pun diluar sana. Rupanya Sai sudah pergi sebelum gadis itu menoleh ketempat ia berdiri tadi.

.

.

.

.

.

Sakura dan Naruto berlomba makan ramen tercepat. Sakura hampir menghabiskan ramen jumbonya begitu juga dengan Naruto yang tak mau kalah. Sasuke memandangi mereka dan ponselnya bergantian.

"Sakura-chan ayo... Naruto... semangat" Kakek menyemangati keduanya.

"5, 4,3.." Sasuke mulai menghitung. "2..1" Sasuke menekan tombol stop dilayar stopwatch diponselnya. Sakura berhasil menghabiskan ramennya tepat pada waktunya.

"Yeaah... Aku menang" Pekik Sakura senang.

Naruto menyusul kemudian. Pria itu tertunduk lesu karna telah kalah dari seorang gadis. "Aku kalah...hiks..". Lirihnya.

"Cih! Kau memalukan. Dobe." Komentar Sasuke.

"Diam kau, Teme!" Naruto menatap tajam Sasuke.

"Tidak ku sangka, badan mu kecil tapi makanmu sungguh mengagumkan, Sakura-chan" Puji Kakek tak percaya dengan kemampuan makan Sakura.

Gadis musim semi itu menyengir lebar namun tiba tiba ia merasa mual. "Huekkk." Segera Sakura menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Semuanya menatap Sakura. "Kau, baik baik saja?" Tanya Kakek.

"Aku ingin muntah" Sakura berlalu pergi keluar kedai, Ia ingin segera memuntahkan makanannya.

"Sakura-chan!" Seru Naruto terlihat khawatir. Ia pun menyusul gadis itu keluar.

Sasuke mendesah. "Bodoh." Ia pun ikut keluar, Namun sebelum itu ia mengambil botol mineral yang sedari tadi ia bawa dari mobilnya dan ditaruh dimeja kedai itu. Kakek pun ikut keluar setelah membayar semua makanannya.

"Hueeekkk...Hueeekkk." Sakura memuntahkan semua makannya. Naruto membantu gadis itu dengan memegangi rambut gadis itu dan mengusap tengkuknya.

"Sakura-chan, kau tidak apa apa?"

"Maaf ya, Naruto. Aku jadi merepotkanmu." Sesal Sakura.

"Ini" Sasuke tiba tiba menyodorkan botol mineral pada Sakura. Sakura dan Naruto menoleh bersamaan kearah pria raven itu. Tatapan tidak percaya terlihat jelas diwajah Naruto pada sahabatnya itu. "Seorang Teme, Peduli pada orang lain? menakutkan" Batinnya.

"Terima kasih." Ujar Sakura seraya menerima botol pemberian Sasuke dan langsung meneguknya.

"Hn." Respon singkat pria raven itu.

"Kau, sudah baikkan, Sakura-chan?" Tanya Naruto lagi. Sakura mengangguk dan tersenyum. Wajah gadis itu semakin memucat dari sebelumnya. Kakek tua yang menyadari hal itu pun menatap khawatir Sakura.

"Ayo, Kakek antar pulang. Wajahmu semakin pucat dari sebelumnya."

Sakura menggeleng. "Aku baik baik saja, Kakek.".

"Kau pulang naik apa, Sakura-chan? mana mobilmu?" Tanya Naruto.

"Aku naik bus, Naruto." Jawabnya.

"Eh? naik bus?" Pekik Naruto tak percaya. Pantaslah jika pria blonde itu terkejut, Pria itu kenal betul siapa Sakura, Putri tunggal dari Haruno Corp. yang sekarang menjabat sebagai CEO diperusahaan itu. Pria itu heran. Mana ada seorang CEO dan Anak dari orang kaya naik bus pulang pergi kekantor.
Bukan hanya Naruto, Sasuke pun juga heran. Namun pria itu tak terkejut seperti sahabat bodohnya itu. Karna sebelumnya Sasuke juga sudah pernah lihat Sakura dihalte bus.

"Sakura-chan, kau sepertinya masih sama seperti dulu. Suka merakyat." Komentar Naruto.

Sakura mendegus geli. "Aku tidak merakyat, Naruto." Sanggahnya.

"Lalu? Apa kau tak bisa menyetir? kau kan bisa memakai jasa sopir, aku yakin mobilmu pasti banyak digarasi rumahmu.".

"Aku bisa menyetir, dan aku hanya ingin naik bus saja. Aku menyukai itu." Ungkap Sakura. Naruto mendesah, Sakura memang gadis kaya yang aneh sejak dulu.

"Aku jadi teringat saat dulu waktu kita masih sekolah, Kau kesekolah naik sepeda butut yang jelek. Semua teman menghindarimu karna dikiranya kau anak orang miskin yang dapat bersekolah disitu karna beasiswa. Hanya aku dan Karin yang tau bahwa kau anak orang kaya dan pendonor dana tetap disekolah itu." Ungkap Naruto.

Kakek tersenyum dan menatap kagum Sakura. Sedangkan gadis merah muda itu hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Sasuke yang dari tadi hanya diam dan terus memperhatikan gadis itu dan mendengus. "Hn. Dobe ayo pulang." . Naruto menoleh sebentar kearah Sasuke lalu kembali menatap Sakura. "Sakura, Kau ikut denganku. Akan ku antar kau pulang. Ini sudah malam dan tak ada bus." Ujar Naruto.

"Tapi... Naruto." Naruto langsung menarik tangan Sakura. "Kakek, Sampai jumpa" Teriak Naruto sambil menyeret Sakura kemobil Sasuke.

"Jaa ne, kakek" Teriak Sakura.

"Hati hati" Sahut Kakek tua itu seraya melambaikan tangannya.

Sasuke yang sudah duluan pergi menunggu didalam mobil. Ia menoleh kebelakang saat Sakura sudah masuk kedalam mobilnya dan duduk dikursi tengah. Naruto ikut duduk disamping Sakura,membuat Sasuke berdecak kesal.

"Dobe, kau duduk didepan. Kau pikir aku sopir."

Naruto mendesah dan akhirnya duduk didepan disamping Sasuke. "Kau, tak peka. Teme" Sindir Naruto melirik tajam Sasuke.

"Cih".

Sakura terkekeh. Gadis itu lantas menyadarkan punggung dan kepalanya kesandaran kursi mobil. Mata emeraldnya ia pejamkan. Sakura kembali teringat akan kata kata dari Orochimaru. Pria tua itu menyuruhnya agar bisa mengajak Uchiha Corp. berkerja sama dengan Haruno Corp., Suara desahan terdengar dari mulut Sakura. Sasuke yang fokus mengemudi sesekali memperhatikan gadis itu dari kaca spion tengah.

"Sakura-chan, Apa kau tidur?" "Tidak, Naruto.".

"Apa kau sakit?"

"Tidak"

"Apa-.."

"Berisik!" Potong Sasuke. "Kau ini cerewet sekali, Dobe" Omelnya pada Naruto.

Naruto mendengus kesal. Sasuke melakukan itu karna ia sempat melihat Sakura yang memijat pelipisnya. Sasuke tau, gadis itu sedang pusing sedangkan Naruto terus saja menganggunya dengan pertanyaan tidak pentingnya. Tapi kenapa ia peduli pada gadis itu? Sasuke pun tak tau, kenapa ia melakukan itu untuk gadis yang bahkan tidak begitu mengenalnya.

"Terima kasih, sudah mengantarku pulang, Naruto, Uchiha-san" Ujar Sakura. Mereka telah sampai didepan pagar rumah mewah keluarga Haruno saat ini. Sasuke mengangguk sebagai jawaban.

"Sampai jumpa, Sakura-chan" Jawab Naruto. Sakura hendak membuka pintu mobil, Namun ia urungkan niatnya.

"Uchiha-san, bisakah kita bertemu besok?" Tanya Sakura tiba tiba. Naruto dan Sasuke menoleh bersamaan kearah Sakura yang duduk dikursi tengah. Naruto menatap tak percaya padanya sedangkan Sasuke, pria itu menatapnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.

.

.

.

TO BE CONTINUED...