Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story by JuliaCherry07
Sakura turun dari mobil Sasuke, Setelah pria itu bersedia bertemu dengannya besok disebuah caffe didekat kantor Uchiha Corp.
Pagar secara otomatis terbuka dan Sakura pun masuk kedalam.
Naruto dan Sasuke memperhatikan Sakura hingga gadis itu masuk kedalam rumahnya. Mobil Sasuke pun berlalu pergi dari rumah Sakura.
"Hei, Naruto. Apa dia memang seperti itu?" Tanya Sasuke tiba tiba.
"Apa maksudmu?" Naruto menoleh kearah Sasuke yang tengah mengemudi.
"Dia aneh."
Naruto tak mengerti maksud sahabat rupawannya itu. "Aneh bagaimana, Teme?".
Sasuke mendengus akan kebodohan sahabatnya itu. "Kau tidak lihat, Ia tersenyum tapi matanya menyimpan kesedihan." Ujar Sasuke.
"Eh?" Naruto mengerutkan dahinya. Ia memandang lekat Sasuke. "Hei, Teme. Apa kau menyukainya?. Apa kau menyukai Sakura-chan? Kenapa kau begitu peduli pada orang lain? Tidak seperti dirimu saja." Cerocos Naruto.
"Diam kau, dasar bodoh".
"Besok, Aku ikut" Naruto memutuskan. Ia sepertinya tak rela jika Sakura bertemu berduan dengan Sasuke besok.
"Tidak". Tolak Sasuke mentah mentah.
"Kenapa?"
"Karna dia, hanya ingin bertemu denganku. Bodoh"
"Cih! Kau menyebalkan, ttebayou."
"Urusai".
•
•
•
Sasuke Uchiha, Sakura Haruno
•
•
•
Warning : Typo, OOC, Au, Gaje dll
•
•
Sentuh Hatiku © JuliaCherry07
Chapter : 6
•
•
•
.
Sakura berjalan memasuki kamarnya yang begitu luas. Kepalanya semakin pening. Ia berjalan terhuyung huyung menuju tempat tidurnya.
PRAAAK
Tanpa segaja ia menjatuhkan lampu tidur dinakas samping tempat tidurnya. "AAARGH.." Rintihnya seraya memegang kepalanya yang berdenyut. "Sakit sekali, Ibu..." Sakura menangis kesakitan didalam kamarnya seorang diri. Pasalnya ibunya saat ini sedang berada di Shibuya untuk mengurus Hotel mereka disana.
DRRTT... DRRRT...
Ponsel Sakura bergetar didalam tasnya. Dengan susah payah gadis merah muda yang kesakitan itu merogoh ponselnya yang ada didalam tas. Nama Sai tertera dilayar ponselnya. Sahabatnya itu seakan tau saja jika saat ini ia butuh bantuannya. Dengan cepat Sakura menekan tombol hijau untuk menjawab telephone.
"Sai..."
"Hei, Gadis musim semi kecilku, kau sedang apa sekarang, hm?" Tanya Sai diseberang sana.
"S-Sai... T-tolong..."
"Sakura, Kau kenapa? Kau dimana sekarang?" Nada panik terdengar jelas dari pria itu ditelephone.
"Dirumah...cepatlah..."
BRUKKK
Sakura tak sadarkan diri ditempat tidurnya. Sai terus memanggil nama gadis itu diseberang sana karna sambungan telephonenya yang belum terputus.
.
.
.
.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" Tanya Sai. Ia telah memanggil dokter setelah pria itu dibuat terkejut karna menemukan Sakura yang pingsan diatas tempat tidurnya.
"Sepertinya Sakura mengalami sakit kepala. Saya belum bisa memastikannya, Akan lebih baik jika Sakura segera memeriksakan diri kerumah sakit." Ujar Dokter cantik itu meski usianya sudah tak lagi muda. Dokter wanita ini adalah dokter keluarga Haruno.
"Baiklah kalau begitu. Besok akan ku suruh ia segera periksa kerumah sakit."
"Kalau begitu, Saya permisi.".
"Terima kasih, Dokter Tsunade-san".
Tsunade tersenyum dan berlalu pergi. Meninggalkan Sai dan Sakura dikamar gadis itu. Sai duduk ditepi ranjang Sakura. Ia memperhatikan Sakura yang menutup mata dengan tenang meski wajahnya masih sedikit pucat. Pria itu membelai pucuk kepala sahabatnya itu.
"Cepatlah bangun, Gadis musim semi kecilku yang jelek." Ujar Sai. "Apa kau begitu kesakitan tadi? Maaf aku datang terlambat. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, hm?" Lanjutnya. Sai sadar saat ini Sakura tak dapat mendengarnya. Sai merasa bersalah karna tak bisa menjaga sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai adiknya ini, padahal ibu Sakura sudah berpesan padanya untuk menjaga Sakura disaat ia sedang pergi. Sai merasa gagal menjalankan amanat itu.
"Ngh..." Sakura melenguh. Ia mulai sadarkan diri.
"Kau sudah sadar, Gadis jelek?"
"Sai?"
"Ya. Ini aku. Kenapa kau tidak segera menghubungiku jika kau sakit. dasar gadia bodoh." Omelnya.
"Aku baru sadar tapi kau, sudah memarahiku." Gerutu Sakura sambil bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.
Sai mendengus dan menyentil kening Sakura yang membuat gadis itu meringis kesakitan. "Apa yang kau lakukan, Mayat hidup!" Sakura tak terima.
"Memberimu hukuman. Dan besok kau harus ikut aku kerumah sakit."
"Tidak mau" Tolaknya.
"Kenapa?".
"Pertama, Aku sibuk besok. Dan kedua, Aku baik baik saja. Untuk apa aku kerumah sakit."
"Cih! tentu saja untuk memeriksa otakmu itu.". Hardik Sai ketus.
Sakura mendegus. "Otak ku baik baik saja, Bodoh." Sanggah Sakura. "Aku hanya sakit kepala biasa dan butuh istirahat. Kau pikir aku ini siapa? Jika kau lupa, aku ini mantan calon dokter." Tukasnya.
Sai mendesah, percuma saja jika berdebat dengan Sakura yang memiliki sifat keras kepala. "Terserah kau sajalah. Jika kau sampai sakit lagi, Aku akan jadi orang pertama yang akan menghajarmu.".
Sakura berdecak. "Kau kejam sekali." Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya. Sai mengangkat bahu tidak peduli. Membuat gadis itu semakin geram. "Pulang sana." Usirnya.
"Tidak mau, Aku mau tidur disini." Sai merangkak naik ketempat tidur dan berbaring disamping Sakura. Mulut gadis itu menganga melihat tingkah pria itu. "Kau gila ya. Pergi sana, dasar mayat hidup." Sakura memukul Sai dengan guling tapi pria itu tak bergeming dan pura pura tidur. Membuat Sakura menghela nafas pasrah. Ia pun berdiri, Sai menatapnya bertanya. "Kau mau kemana? kau tak mau tidur dengan tunanganmu ini?" Sai mengerling jail.
"Aku tidak mau tidur dengan mayat hidup." Sakura mendesah dan menoleh pada pria yang ada diatas tempat tidurnya itu. "Dan jangan menyebutku tunanganmu. Tunanganku sudah mati, asal kau tau itu."
Sai mendengus. "Astaga. Kau menyumpahiku mati?" Sakura mengangkat kedua bahunya acuh sebagai jawaban. Sai berdecak kesal. "Cepat sana pergi." Usir Sai seraya kembali memejamkan matanya dan tidur dikamar gadis merah muda itu. Kini Sakura yang berdecak kesal kenapa jadi dia yang terusir dari kamarnya. Dengan enggan Sakura keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar tamu yang ada disebelah kamarnya.
.
.
.
.
.
.
Sesuai rencana, Pagi ini Sakura datang lebih awal ke caffe dimana ia dan Sasuke janji bertemu. 10 menit setelah kedatangannya, Sasuke baru datang ke caffe tersebut. Sasuke duduk berhadapan dengan Sakura.
"Kenapa kau ingin bertemu denganku disini?" Tanya Sasuke to the point.
"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu?".
Sasuke memperhatikan gadis didepan lekat lekat. Ia tersenyum saat Sakura sedikit salah tingkah saat ia menatapnya. "Apa kau ingin bilang kau tertarik padaku?" Ujar Sasuke.
Sakura mendengus geli dan menatap tak percaya pria raven didepannya yang begitu percaya diri sekali. "Jangan bercanda. Aku ingin berbicara bisnis denganmu." Ujar Sakura.
Alis pria itu terangkat sebelah. "Bisnis?". Ulangnya.
Sakura mengangguk. "Bekerja samalah dengan perusahaan kami. Aku yakin Uchiha Corp. takkan rugi sama sekali.".
Sasuke tersenyum meremehkan. "Sayang sekali, Uchiha Corp. tidak sembarangan bekerja sama dengan perusahaan lain". Katanya.
"Haruno Corp. bukanlah perusahaan sembarangan, Asal kau tau itu. Uchiha-san" Tegas Sakura penuh penekanan.
Pria itu menyeringai. Entah kenapa ia merasa terhibur saat melihat gadis yang memiliki paras cantik didepannya ini menjadi marah. "Baiklah. Aku akan bekerja sama dengan perusahaan kalian. Dengan syarat.".
Dahi Sakura mengerut. "Apa itu?" Tanyanya tak mengerti.
Sasuke sedikit memajukan wajahnya kedepan membuat Sakura berkesiap. "Tidurlah denganku, satu malam." Ujar Sasuke sedikit berbisik.
Sakura tersentak dan mata emeraldnya menatap tak percaya pada pria didepannya saat ini. Sasuke menyeringai dan kembali memundurkan wajahnya. "Bagaimana? kau mau?". Tanyanya lagi.
Sakura menghela nafas panjang. Kemudian ia tersenyum manis pada pria itu. Sasuke memandang curiga senyuman itu. Sakura berdiri dan mendekat padanya.
"Tentu saja..." Jawab Sakura.
DUAAK
"...Dalam mimpimu." Sambungnya. Sasuke merintih kesakitan akibat tendangan Sakura pada tulang kakinya yang cukup keras. Gadis itu pergi begitu saja, mengabaikan Sasuke yang meneriakinya tak terima.
.
.
.
Gadis musim semi itu berjongkok dan menyembunyikan wajahnya dikedua lututnya tepat didepan pintu lift dikantornya sambil bergumam tidak jelas. "Apa yang tadi ku lalukan, Aaargh dasar bodoh. Kenapa aku tadi menendangnya.". Para karyawan yang melihatnya, memandanginya heran melihat CEOnya yang pagi pagi datang berjongkok didepan pintu lift yang tertutup. Benar benar aneh.
"Hei, Apa yang kau lakukan?" Tanya seseorang yang berdiri disamping Sakura. Gadis itu mendongak dan menoleh kesamping. "Kau seperti anak kucing yang tersesat saja." Sambungnya.
Sakura berdiri dan memukul pria yang mengatainya itu. "Untuk apa kau kemari, Mayat hidup!" Ketusnya. Siapa lagi pria yang dipanggil mayat hidup kalau bukan presiden direktur dari Shimura Kingdom, Sai Shimura.
"Kenapa ? Apa aku tidak boleh berkunjung kesini?"
"Tidak boleh, pergi sana."
Sai menggeleng tidak percaya. "Hei, berani sekali kau mengusir CEO dari Shimura Kingdom." Kata Sai.
Sakura bergidik bahu. "Aku tak peduli. CEO Uchiha Corp. saja tadi ku tendang kakinya." Ujarnya.
Sai nampak terkejut mendengarnya. "Kau, bilang apa tadi? Kau menendang kaki Sasuke? bagaimana bisa?".
Sakura kembali memasang wajah menyesal dan ingin menangis. Gadis itu mengangguk."Ya, dan aku menyesali itu hiks... Bagaimana ini... Aku yakin dia pasti semakin tidak mau bekerja sama dengan perusahan ini dan dewan direksi pasti akan memarahiku hiks... " Sakura kembali berjongkok seperti semula.
Sai mengeleng. "Bangunlah. Jaga wibawahmu. Kau ini CEO." Tegur Sai.
"Aku tidak peduli."
TING!
Pintu lift terbuka. Didalam lift ada Orochimaru yang menatap heran Sakura yang berjongkok seperti anak kucing , didepan lift. "Sedang apa, Kau?" Tanyanya heran.
Sakura mendongak dan tersentak saat melihat pria yang ia tak sukai itu berdiri didepannya. Seketika Sakura berdiri. "Tidak apa apa." Jawabnya sambil masuk kedalam lift dan bersikap seolah olah tak terjadi apa apa. Orochimaru keluar saat gadis itu dan Sai yang terkekeh geli ikut masuk kedalam lift.
TING!
Pintu kembali tertutup. Sakura kembali berjongkok dan menyembunyikan wajahnya dikedua lututnya. Benar benar seperti anak kucing yang tersesat.
.
.
.
.
.
"Bwahahahahah..." Naruto tertawa terbahak bahak saat Sasuke menceritakan pertemuan pria itu dengan Sakura tadi pagi. Naruto lupa memperingatkan Sasuke agar tak membuat gadis itu marah, Karna yang Naruto tau kebiasaan Sakura kalau marah sangat menakutkan, Seperti ibunya jika marah. Apa gadis cantik kalau marah seperti itu ya, Menyeramkan. "Maaf Teme, Aku lupa memberi tau mu. Kau jangan membuat Sakura-chan marah. Untung saja kau hanya ditendang olehnya. Dulu aku saja pernah dipukul hingga terlempar jauh olehnya. Sakura-chan itu dari luarnya saja seperti gadis lembut yang lemah tapi sejujurnya kekuatannya melebihi anak laki laki" Ujar Naruto.
Sasuke mendengus. Kenapa sahabat bodohnya tak bilang sebelumnya."Cih! Gadis itu akan menyesal nantinya." Gumam Sasuke. Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya, Apa yang akan kau lakukan padanya, Teme? Awas ya jika kau mau melukainya aku tak akan tinggal diam." Ancam Naruto. Sasuke mendengus geli. "Memangnya apa yang mau kau lakukan jika aku mau melukainya, hn?" Tantang Sasuke.
Pria blonde itu mengerang dan menatap sebal sahabatnya. "Jangan berbuat macam macam pada Sakura-chan ku. Dia itu gadis baik. Dulu dia selalu menolongku jika ada anak laki laki yang mengangguku waktu sekolah. Bagiku Sakura-chan adalah pahlawanku dan cinta pertamaku" Kata Naruto menerwang dan tersenyum tidak jelas. Sasuke menatap sebal sahabat bodohnya itu. "Cih! kau saja yang lemah." Cerca Sasuke berlalu pergi meninggalkan Naruto yang masih bernostalgia.
"Hei, Teme. Kau mau kemana?" Teriaknya setelah sadar. Ia segera berlari mengejar Sasuke . "Tunggu Teme, katakan padaku dulu, apa yang akan kau lakukan pada Sakura-chanku." Sambungnya. Sasuke terus berjalan dan menghiraukan Naruto.
.
.
•
•
Sentuh Hatiku © Chapter 6
•
•
.
.
Malam yang penuh bintang menghiasi kota tokyo malam hari ini. Semilir angin menerbangkan daun mapple yang ada dipinggir jalan. Seorang gadis bersurai soft pink dengan menggunakan syal dilehernya duduk seorang diri dibangku halte bus. Gadis itu nampak melamun dengan kepala tertunduk. Dipangkuan gadis itu ada sebuah amplob besar berwarna coklat dengan tertera cap sebuah rumah sakit umum ditokyo. Sakura, gadis yang duduk seorang diri dihalte bus itu menghela nafas panjang. Kemudian ia mendongakkan kepalanya dan tersenyum tegar. Bus yang ia tunggu akhirnya datang. Ia pun berdiri dan naik ke bus tersebut, Namun betapa terkejutnya ia saat mencari tempat duduk dan mata emeraldnya menangkap sosok pria yang tadi pagi ia tendang kakinya , tengah duduk santai dibangku penumpang dan menyeringai padanya.
"Hn, Kita bertemu lagi. Sa-Ku-Ra". Sapanya. Pria itu, Uchiha Sasuke begitu menarik perhatian para penumpang wanita yang ada dibus itu. Bagaimana tidak, penampilannya saat ini yang hanya menggunakan kemeja putih dengan lengan yang dilipat hingga batas siku siku dan kancing yang sedikit terbuka, sangat seksi dimata para wanita apalagi tampangnya yang rupawan. Hanya satu gadis yang tak terpesona dengan penampilan pria itu saat ini, siapa lagi kalau bukan Sakura. Gadis itu malah nampak terkejut sekaligus sebal melihat Sasuke.
"Kau, Sedang apa kau disini, heh?" Tanyanya ketus.
"Kau pikir, cuma kau saja. CEO yang naik bus malam. hn?"
Sakura mendengus tak suka. Pria Uchiha ini sebenarnya apa maunya. Jangan jangan ia benar benar mau mengajaknya tidur bersama, Pikir Sakura.
Gadis itu berkesiap dan berniat mencari tempat duduk lain daripada meladeni pria menyebalkan itu. "Hei, kau mau kemana? disebelahku masih kosong jika kau mau duduk disampingku." Ujar Sasuke. Sakura menoleh dan menatapnya tajam. "Tidak. Terima kasih." Tolaknya.
Sasuke terkekeh. Gadis itu benar benar membuatnya penasaran dan tertarik padanya. Sakura tidak mendapatkan tempat duduk karna penuh, akhirnya ia berdiri didepan seorang pria yang terlihat mesum karna sejak tadi pria itu terus memperhatikan tubuh Sakura yang berdiri didepannya. Sasuke yang mengetahui hal itu terus memperhatikan gerak gerik pria mesum tersebut . Tangan pria itu bergerak menuju pantat Sakura namun dengan sigap Sasuke menghentikan tangan kurang ajar tersebut.
"Mau apa kau?" Tanya Sasuke dingin. Pria itu nampak tertegun dan gugup karna ketahuan hendak melakukan pelecehan. Sakura menoleh kebelakang dan menatap keduanya heran. Gadis itu tak tau bahwa Sasuke telah menyelamatkannya. Meski sebenarnya Sakura mampu mengatasinya karna gadis itu juara karate dulu waktu disekolah. "Apa yang terjadi?" Tanyanya heran. Sasuke menatap Sakura dan menarik tangan gadis itu dan menyeretnya kebangku dimana Sasuke duduk tadi. Pria Uchiha itu memaksa Sakura duduk, dengan enggan gadis itu pun menurut. Sakura melirik tajam pada pria yang kini duduk disampingnya.
"Apa yang pria itu lakukan tadi?" Tanya Sakura ketus.
"Kenapa kau suka naik bus? Banyak pelecehan terhadap wanita didalam kendaraan umum." Sasuke malah balik bertanya pada Sakura.
"Jangan khawatir aku bisa mengatasinya."
Sasuke menatap sinis Sakura. "Benarkah? Jika tadi aku tak menghentikanmu, pria itu pasti sudah keenakan menjamah pantatmu." Terang Sasuke kesal.
Sakura merengut mendengar ucapan Sasuke yang sedikit vulgar. "Itu bukan urusanmu. Kenapa kau peduli. Bukankah kau sama dengannya, heh? Kau bahkan mengajakku tidur bersama. Dasar pria mesum". Maki Sakura.
"Aku berbeda dengannya. Aku bernegosiasi denganmu." Sanggah Sasuke.
Sakura mendengus. "Aa, jadi itu caramu bernegosiasi,eh? jadi sudah berapa banyak wanita yang sudah kau tiduri jika mereka ingin bekerja sama denganmu, hn?" Tanya Sakura ketus.
Sasuke tersenyum sinis pada Sakura dan mendekat kearah gadis merah itu, Sakura berkesiap dan mundur sedikit kebelakang hingga kepalanya menyentuh kaca jendela bus. "Kau lah, yang pertama. Jika kau bersedia melakukannya." Ujarnya dingin dan menatap dalam mata emerald Sakura. Gadis itu menelan ludahnya susah payah, pria didepannya saat ini benar benar membuatnya gugup. Bus berhenti dihalte, Sakura yang tau hal itu lantas segera berdiri kaku. "A-aku sudah sampai. Minggir" Titahnya. Sasuke mendengus dan memberi gadis itu jalan. Sakura pun tak menyia nyiakan kesempatan itu dan segera turun dari bus. Namun gadis itu tak menyadari bahwa amplob besar yang ia bawa tadi terjatuh dibawah kursi bekas tempatnya duduk tadi. Sasuke yang masih duduk didalam bus tanpa sengaja melihatnya dan memungut amplob itu. Tertulis jelas nama Sakura di amplob itu.
"Ini milik, gadis itu." Gumamnya. Sasuke menyerngit saat nama sebuah rumah sakit juga tertulis di amplob besar itu. "Rumah sakit umum Konoha?". Dengan pelan Sasuke membuka amplob besar itu dan mengambil isi dari amplob tersebut. Sasuke membaca berkas pemeriksaan kesehatan Sakura. Mata onyxnya terbelalak saat membaca berkas itu. "Dia..." Gumam Sasuke.
.
.
.
.
.
.
Sakura berjalan kaki menuju distrik konoha dimana rumahnya berada. Ia berjalan santai dengan pandangan kosong.
Flashback...
"Apa tingkatanya bertambah?" Tanya Sakura pada dokter Tsunade.
"Jadi. Kau sudah tau, bahwa kau terkena kanker otak?". Tanya balik Tsunade. Dokter wanita itu nampak sedikit terkejut mengetahui bahwa Sakura ternyata sudah tau penyakitnya, Tsunade tau Sakura adalah mahasiswa kedokteran, mungkin karna itu gadis itu mengetahui kondisi tubuhnya. Namun yang Tsunade tak mengerti kenapa gadis itu nampak biasa saja dan tidak segera melakukan pengobatan.
"Hn. Begitulah. Aku sudah mengetahuinya saat masih di Amerika." Ujar Sakura.
Tsunade tersentak. "Lalu kenapa kau tak melakukan pengobatan lebih dini. Jika itu kau lakukan, mungkin kanker otak yang kau derita tidak meningkat menjadi stadium 2, Sakura." Omelnya.
Gadis merah muda itu tersenyum miris. "Bagaimana aku bisa mengobatinya, dokter? saat itu ayahku meninggal, aku harus pulang dan mengurus perusahaan ayah. Aku tak punya waktu untuk melakukan operasi atau pun kemoterapi." Ujarnya.
"Jadi maksudmu kau akan membiarkan kanker otak mu ini menjadi stadium akhir, begitu.? Apa kau sudah gila!" Bentak Tsunade. Sejujurnya ia tak mengerti dengan pemikiran Sakura. Kenapa ia tak punya keinginan untuk sembuh.
"Bukannya aku tak mau sembuh, dokter. Hanya saja aku tak punya waktu untuk itu."
Tsunade mendengus. "Jika Mebuki tau tentang ini, Aku yakin dia akan menyuruhmu untuk melakukan pengobatan penyakitmu.". Kata Tsunade.
Sakura menatap datar dokternya itu. "Dokter, jawab pertanyaan ku. Jika aku melakukan operasi apa itu tidak akan membahayakan nyawaku? yang ku tau, operasi itu beresiko tinggi. Karna sedikit kesalahan saja, pembulu darah di otakku bisa pecah dan infeksi. Apa aku benar?" Tanya Sakura.
Tsunade menghela nafas dan mengangguk. "Ya, kau benar." Jawabnya. "Tapi jika operasi itu berhasil kau bisa sembuh, Sakura. Apa kau tak percaya padaku?".
Gadis itu tersenyum. "Aku percaya padamu, dokter. Kau adalah guruku dan karnamu aku mempunyai cita cita ingin menjadi dokter yang hebat sepertimu, Tapi aku tak bisa untuk saat ini, karna aku harus melakukan sesuatu dulu pada Haruno Corp. , aku ingin membuat ayahku disurga bangga padaku." Tukasnya.
Tsunade mendesah, Pasiennya ini benar benar keras kepala. "Baiklah, Aku akan memberimu waktu dan obat agar kankermu tak semakin menyebar dan meningkat. Tapi ingatlah Sakura, obat ini hanya menghambat agar kanker otak mu tak cepat meningkat. Kau harus secepatnya operasi atau menjalankan kemoterapi. ".
"Aku mengerti dokter, Arigatou." Ucap Sakura tulus.
Flashback Off...
Sakura meneteskan air matanya, Ia tak tau dosa apa yang ia lakukan dimasa lalu sehingga mengalami semua ini, Awalnya Sakura ingin mengobati penyakitnya saat di Amerika , Ia ingin sembuh karna gadis itu ingin menjadi dokter. Bahkan berkat dukungan seorang teman prianya yang sudah dulu menjadi dokter disana, Sakura ingin sembuh, namun saat ia hendak melakukan pengobatan, Sakura mendapatkan kabar kematian ayahnya. Sejak itulah Sakura memutuskan untuk melupakan cita citanya menjadi dokter dan meneruskan perusahaan ayahnya serta mengabaikan kondisinya. Ia sudah tau hal ini akan terjadi, sebagai mahasiswa kedokteran ia tau, bahwa kanker otak yang ia alami akan meningkat tingkatannya jika tak segera di obati, dan benar saja sekarang kanker otaknya menjadi stadium 2.
Sakura menyeka air matanya, Ia tak boleh menjadi gadis yang lemah. Dia adalah Haruno Sakura, pewaris tunggal Haruno Corp. Ia akan bertahan dan tak kan menyerah, dengan penyakitnya maupun dengan usahanya meneruskan kembali perusahaan ayahnya.
"Meong..." Dengar suara anak kucing disekitar jalan yang Sakura lewati. Langkah Sakura terhenti dan mata emeraldnya mengedarkan pandangan kesekeliling untuk mencari sumber suara kucing itu. Sakura akhirnya menemukan anak kucing itu yang ada disebuah kotak kardus karton yang ada didekat tempat sampah dirumah yang ada disana. Sakura mendekat dan berjongkok. "Kau, lucu sekali. Apa kau dibuang?" Tanya Sakura pada anak kucing berwarna putih itu. Anak kucing itu hanya mengaung dan menatap Sakura seakan ingin gadis itu merawatnya.
Sakura tersentuh dan kasihan pada anak kucing itu. Lalu ia menggendong anak kucing itu seraya berdiri. "Hei, kau tau. Sai tadi pagi mengataiku seperti anak kucing. Dan sekarang aku bertemu dirimu, kau benar benar mirip denganku, lihat saja. Kau memiliki mata yang sama denganku, berwarna emerald." Kata Sakura pada anak kucing itu.
"Meong... Meong..." Jawab Anak kucing itu. Sakura tersenyum , melihat anak kucing ini membuat ia terhibur dan melupakan kesedihannya sejenak. "Dengar, Aku akan merawatmu mulai sekarang. Aku juga akan memberimu nama. Bagaimana jika namamu Shiro, seperti warna bulumu yang putih , apa kau setuju?" Tanya Sakura pada anak kucing itu dan lagi lagi Shiro hanya menjawabnya dengan mengaung.
Sakura, kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah mewahnya dengan menggendong Shiro ditangannya. Tak lupa ia selalu mengelus elus Shiro dengan lembut serta mengajaknya bicara. Sakura tak menyadari bahwa dibelakangnya ada seorang pria yang berjalan mengikutinya dari belakang. Pria yang memegang amplob ditangannya itu, menatap punggung Sakura dengan pandangan sulit untuk di artikan. Sasuke, Pria itu tak mengerti kenapa ia bisa begitu peduli dengan gadis itu. Gadis yang mungkin tak kan bisa hidup lebih lama lagi. Sungguh gadis yang merepotkan.
"...Tak ada seorang gadis yang bisa menyentuh hatiku. Jika ada, Mungkin aku akan menikahinya."
Sasuke tiba tiba teringat kembali kata katanya saat diwawancara dulu. Apa mungkin gadis itu berhasil menyentuh hatinya? ,pikir Sasuke. Yang ia rasakan saat ini hanyalah ia peduli pada gadis merah muda tersebut.
.
.
.
TBC
Special Thanks
DaunIlalang Kuning, hanazono yuri, Laifa, Yan Kaze , Luca Marvell,light flower22,Srisavers28,echaNM, , Guest, zarachan,QRen, Jamur lumutan462,Greentea Kim,alif yusanto, sasusaku,sss, SaraUchiha ,sasusaku lovers,kaki kuda, Yoshimura Arai,KendallSwiftie,Lotus393,Hanna Hoshiko,Nurulita as Lita-san,Akagami Shimura27, , Ti TakoyaUchiha,Joanna Katharina37,Arum Junnie
Thanks atas review, favorite dan follownya
With Love
JuliaCherry07
