Embun pagi membasahi dedauan di halaman besar kediaman Haruno, Udara dingin pagi pun begitu terasa diluar sana. Namun itu tak membuat gadis merah muda yang sudah bersiap untuk joging pagi mengurungkan niatnya. Dengan baju olah raga, Sakura berlari keluar dari kediaman mewahnya menuju taman yang tak jauh dari distrik rumahnya. CEO Haruno Corp. itu memang selalu menyempatkan waktunya untuk joging setiap minggunya. Setelah sampai ditaman, Sakura duduk sebentar dibangku taman itu untuk istirahat sejenak. Nafas gadis itu terengah engah karna efek berlari tadi. Ia edarkan pandangannya kesekeliling taman, Bibirnya tersungging saat melihat seorang gadis kecil belajar sepeda dengan ayahnya. Namun senyum itu tak bertahan lama, tampak raut wajah Sakura yang berubah sedih saat ayah gadis itu meniup luka anak gadisnya yang terluka karna jatuh dari sepedanya. Ayah dari gadis kecil itu bahkan membuat anaknya tertawa dan tak menangis lagi. Sakura tersenyum miris melihatnya, pemandangan itu membuatnya teringat akan sosok ayahnya dulu. Sakura masih ingat dengan jelas dan tak kan bisa ia lupakan dimana dulu waktu masih kecil ayahnya selalu membuatnya tertawa saat Sakura kecil menangis dan ayahnya juga akan meniup lukanya saat Sakura kecil terluka.
Mengenang itu membuat air mata Sakura membasahi pipinya. Ia menundukan kepalanya dan menangis sesegukan. "Ayah, Buatlah aku tertawa hiks... Ayah... Hiks... Tiuplah luka ku, Sakura sakit ayah... hiks..." Dengan suara gemetar Sakura menangis terisak seorang diri dibangku taman tersebut. Gadis merah muda itu bahkan menutup mulutnya dengan tangannya agar mereda suara tangisannya.
DRTTT DRTTT...
Ponsel Sakura bergetar didalam saku celananya. Gadis itu menyeka air matanya dan mengatur nafasnya agar tak sesegukan lagi. Dahinya mengerut dalam saat dilayar ponselnya tertera nomor asing tak ia kenal. Dengan segera ia mengangkat panggilan itu.
"Siapa ini?" Tanyanya pada seseorang di seberang sana.
"Hn. Ini aku, Uchiha Sasuke."
Sakura tersentak, Sasuke menelphonenya dan darimana CEO Uchiha itu tau nomer ponselnya, itulah yang dipikiran Sakura. "Kau, Ada dimana?" Tanya Sasuke lagi.
"Memangnya kenapa?"
"Apa kau menangis?" Tebak Sasuke.
"Apa kau menghubungiku cuma karna itu?"
"Hn. Tidak. Aku hanya ingin mendengar suaramu saja." Akunya.
Sakura mendengus. "Jangan bercanda dipagi hari, tuan Uchiha-san"
"Aku serius, Nona Haruno-san".
Hening sesaat
Mereka tak memutuskan sambungan telephone mereka, Hingga Sakuralah yang memulainya. "Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, akan ku tutup" Ujar Sakura.
"Hn. Aku ingin bertemu denganmu sekarang" Kata Sasuke cepat.
"Untuk apa? Apa kau masih ingin tidur bersamaku?"
Sasuke terdengar mendengus diseberang sana. "Temui aku ddi caffe yang dulu aku menunggumu disana."
TUT... TUTTT
Setelah berujar, Sasuke lantas memutuskan sambungan telephonenya secara sepihak. Sakura berdecak kesal. "Mau apa dia bertemu dengan ku." Gerutunya.
.
•
•
•
•
Disclaimers : Masashi Kishimoto
•
•
Sakura Haruno, Sasuke Uchiha
•
•
•
Sentuh Hati Ku © JuliaCherry07
•
•
Warning!
Typo's , OOC, Gaje , Fiksi, Abal , EYD berantakan dll
~ DON'T LIKE , DON'T READ ~
Thanks to Readers yang sudah membaca fic saya
oooOooo
~ Happy Reading ~
•
•
•
.
Sai, Duduk dikursi kerjanya. Sekertaris perempuannya masuk kedalam dengan membawa sebuah berkas ditangannya dan menyerahkannya pada Sai. Pria itu menerimanya dan menandatangi berkas tersebut. Sai kembali memberikan berkas itu pada sekertarisnya yang cantik tersebut. "Apa ada telephone untukku sebelum aku datang kesini?" Tanya Sai pada sekertarisnya.
"Tidak ada tuan. Tapi tadi ayah anda datang kemari" Jawab sekertaris itu.
"Ayahku? Ada apa dia datang kesini?" Sai tak mengerti dan sedikit terkejut mendengar ayahnya menemuinya. Seingat Sai, ayahnya sibuk mengurus bisnis hotel mereka diluar negeri dan jika ayahnya datang kesini, itu berarti ada hal penting yang ingin ayahnya sampaikan padanya. Dan Sai yakin itu hal buruk untuknya.
"Beliau cuma berpesan, Anda harus datang kepesta pernikahan tuan Hatake bersama tunangan anda, nona Haruno."
Sai, nampak terdiam sejenak, raut wajahnya berubah serius. "Hn. Baiklah, kau boleh pergi." Sekertarisnya itu pun berlalu pergi dari ruangan Sai. Sai menghela nafas seraya menyadarkan kepala serta punggungnya kesandaran kursi kerjanya. Tangan kirinya memijat pangkal hidungnya. Kemudian ia mengambil ponselnya yang ada dimeja kerjanya. Mata obsidiannya memandang nanar sebuah foto gadis berambut pirang dilayar ponselnya yang tersenyum sangat manis. "Aku merindukanmu, Ino" Gumamnya lirih.
Tiba-tiba, ia mendapatkan satu buah pesan singkat diponselnya. Dari Sakura.
'Jika kau tak ingin datang kepesta itu, tidak apa-apa. Aku juga tidak berminat pergi kesana. Temuilah dia, Aku tau kau pasti merindukannya kan, mayat hidup? Berbahagialah kau memiliki tunangan yang baik hati sepertiku.'
Sai, Mendengus geli membaca pesan singkat dari Sakura. "Dasar, Gadis musim semi jelek" Umpatnya. Pria yang sudah menjadi tunangan Sakura sejak mereka lulus SMA ini pun mendesah dan menutupi kedua matanya dengan tangan kanannya. Bibirnya tersenyum miris jika mengingat tunangannya tersebut. Bagaimana tidak, Danzo, Ayahnya memaksanya untuk bertunangan dengan Sakura. Padahal dia sudah memiliki gadis yang ia sukai. Saat itu Sai dan Sakura sama-sama menolak, Ayah Sakura pun menerima hal itu. Berbeda dengan ayahnya yang tidak menerima dan jika dengan Sakura gagal maka dia akan tetap dijodohkan dengan gadis dari keluarga kaya lainnya. Sai tidak mau akan hal itu, karna itulah ia meminta tolong pada sahabat musim seminya itu untuk menerima pertunangan ini agar ia tak ditunangkan dengan gadis lain, Setidaknya jika dengan Sakura, Ia bisa tetap bisa mendekati gadis itu meskipun gadis itu tak tau perasaannya. Pria itu terlalu takut jika gadis itu menjauh darinya. Namun semenjak lulus kuliah gadis itu bilang bahwa ia memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun karna ancaman ayahnya yang melarang Sai menemui gadis itu. Sai menjauhi gadis itu demi kebaikan gadis itu, meski tanpa disadari gadis itu maupun ayahnya ,Sai diam diam memperhatikannya meski dari kejauhan. Hanya Sakura yang tau akan hal itu. Dan tunangannya itu mendukung hubungannya dengan gadis yang ia cintai. Hanya karna gadis itu dari keluarga biasa, Ayahnya tak merestuinya. Sungguh miris.
Sakura meminum jus strawberry disebuah caffe dimana ia dan Sasuke janjian bertemu. Gadis itu mendengus kesal harus menunggu pria Uchiha itu yang tak kunjung datang. Padahal pria itu yang membuat janji. Sakura berdiri dari duduknya dan hendak pergi namun niatnya terhenti saat mata emeraldnya menangkap sosok pria yang ditunggunya masuk kedalam caffe. Pria itu berjalan santai menghampirinya.
"Hn. Apa kau menungguku?" Tanyanya datar dan langsung mendudukkan pantatnya dikursi yang sudah Sakura pesan tadi.
Gadis itu mendecih dan kembali duduk. "Katakan, apa mau mu, Uchiha-san?".
Sasuke tersenyum tipis. "Kita bicara nanti saja. Aku lapar" Ujar Sasuke seraya mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan. Dengan segera pelayan wanita datang menghampiri meja Sasuke dan Sakura. Sasuke langsung memesan omelet ekstra tomat dan jus tomat favoritenya. Sakura terkekeh saat tau makanan favorite pria itu. "Ternyata, Kau maniak tomat, eh?" Ejek Sakura pada pria yang duduk didepannya.
"Hn." Respon Sasuke datar.
"Ku harap kau membicarakan hal penting, Uchiha-san"
"Hn. Santai saja, Sakura." Sakura mengerutkan dahinya saat mendengar pria itu memanggil nama kecilnya.
"Ku kira kita tak seakrab itu, Uchiha-san" Komentar Sakura.
Sasuke mengidikan bahunya acuh. Membuat gadis merah muda itu mendengus kesal. "Cih! Terserah kau saja lah." Pasrah Sakura. Sasuke menyeringai. Pelayan wanita tadi pun kembali datang dengan membawa pesanan Sasuke. Dengan segera pria itu menyantap sarapan paginya dengan lahap.
"Apa kau sangat kelaparan?" Tanya Sakura memandangi Sasuke yang makan dengan lahapnya.
"Hn" Jawabnya sambil memakan makanannya. "Apa kau tidak ingin makan?" .
"Aku sudah kenyang melihatmu makan." Komentarnya.
Sakura membali meminum jusnya yang masih tersisa dengan menatap pemandangan diluar jendela caffe yang ada disebelahnya. Tiba-tiba penglihatannya menjadi buram, beberapa kali ia menggosok-gosok matanya agar penglihatannya menjadi jelas. Sasuke menyadari hal itu. "Sakura" Panggilnya.
Gadis itu pun menoleh. "Ya?" Jawabnya. Sasuke tersenyum miris, Dia menyadari Sakura tak baik baik saja saat ini, tapi ia tak mungkin menanyakan hal itu. Ia tak mau gadis itu tau, bahwa dia tau kondisi Sakura sebenarnya. "Untuk masalah kerja sama, aku akan memikirkannya. Kau berikan saja berkas yang perlu ku baca" Ujarnya.
Sakura mengerutkan dahinya. "Kenapa? Apa kau berubah pikiran? atau kau begitu ingin tidur denganku?" Tanyanya sinis.
Sasuke berdecak kesal, dia sudah sedikit menurunkan egonya dan peduli dengan gadis itu tapi gadis itu malah berkata seperti itu. "Hn. Aku sudah tak berminat lagi tidur dengan gadis penyuka anak kucing" Kata Sasuke sekenaknya.
"Apa maksudmu?"
"Hn. Tidak ada, jika kau tidak mau bekerja sama denganku. Tidak masalah."
'Sial! Jika aku menolaknya kali ini, Tua bangka itu pasti akan membuat masalah lagi denganku dan perusahaan.' Batin Sakura. "Baiklah, Aku akan datang ke kantormu dengan membawa berkas kerja sama besok." Ujar Sakura.
"Hn" Sasuke memandangi gadis didepannya intens sedangkan yang dipandang kembali memandangi pemandangan diluar sana, seakan pemandangan diluar sana jauh lebih menarik daripada pria rupawan didepannya. Sasuke dapat melihat wajah Sakura yang sedikit pucat. Pria itu semalaman bergelut dengan pemikirannya sendiri tentang gadis itu. Dan saat tadi pagi dia joging ditaman , tanpa sengaja ia melihat Sakura menangis pilu dan itu membuat pria Uchiha tersebut memutuskan membantu gadis itu dengan bekerja sama dengan perusahaan gadis merah muda tersebut. Setidaknya itu akan membuat beban pikiran Sakura berkurang dan siapa tau akan membuat gadis musim semi itu tersenyum. Entah kenapa Sasuke tak suka melihat Sakura menangis seperti itu.
•
•
•
Sentuh Hatiku © JuliaCherry07
•
•
•
Sakura merias sedikit wajahnya yang cantik dengan make up, Ia juga sudah memakai gaun pesta berwarna hitam dengan hiasan renda dibawah dressnya. Gadis bermahkota soft pink itu berdecak kesal saat mengingat pembicaraannya beberapa jam yang lalu dengan ibunya yang baru datang dari Shibuya. Ibunya memaksanya untuk datang kepesta pamannya, Hatake Kakashi. Sebenarnya bukannya gadis itu tak mau tapi jujur Sakura sedikit keberatan harus pergi kepesta dengan Sai, karna ia tau dipesta nanti pasti banyak wartawan dan para pebisnis lainnya yang datang kepesta tersebut. Karna paman Sakura itu juga seorang pebisnis. Dan gadis itu takut jika pertunangannya dengan Sai diketahui media dan itu akan membuat gadis yang dicintai Sai sedih. Meski Sakura tak begitu kenal dengan gadis pirang itu namun , ia yakin gadis itu sangat mencintai Sai. Sakura mendukung hubungan mereka, karna Sakura sudah menganggap Sai sebagai kakaknya sendiri. Sakura harus menemui gadis itu sebelum pergi kepesta pamannya. Ia sudah memberitahu Sai, jika ia akan kepesta dengan mobilnya sendiri dan lebih baik bertemu dipesta saja dan Sai setuju akan hal itu. Sakura yakin Sai juga terpaksa datang kepesta itu. Sakura merasa tak enak hati pada Sai, ia pun meminta maaf pada Sai karna harus datang kepesta itu, bagaimana lagi Sakura selalu tak tega jika ibunya memohon padanya.
Sakura mengemudi mobil sport merahnya yang jarang sekali ia gunakan dan ini untuk pertama kalinya gadis itu mengemudi mobilnya setelah kembali ke jepang. Sakura memberhentikan mobilnya tepat didepan toko bunga Yamanaka. Ia pun keluar dari mobil merahnya dan berjalan memasuki toko bunga milik gadis yang dicintai tunangannya tersebut.
"Selamat datang" Sapa gadis pirang pada Sakura yang baru datang. Gadis bermata emerald itu membalas senyum ramah gadis bernama Ino tersebut. "Apa anda ingin membeli bunga? Bunga apa yang anda cari?" Tanya Ino.
Sakura menggeleng. "Tidak. Aku datang kesini untuk bicara denganmu, Yamanaka-san" Ujar Sakura.
Gadis bermata aquamarine itu pun mengerutkan dahinya. "Maaf, anda siapa?" .
"Haruno Sakura, Tunangan Shimura Sai." Ungkapnya.
DEG
Mata Ino terbelalak mendengar ungkapan Sakura. Jadi, Sai sudah punya tunangan? sebab itulah ia menjaga jarak denganku, itulah yang ada dipikiran Ino saat ini.
"Jangan salah paham. Aku tau kau menyukai Sai begitu juga dengannya. Aku datang kesini hanya untuk memberitahumu agar kau tak terkejut dan salah paham nantinya." Ujar Sakura.
"Apa maksudmu sebenarnya?" Tanya Ino tak mengerti. Sakura tersenyum tipis dan mulai memberitahu sesuatu pada gadis tersebut.
Pesta sudah dimulai setegah jam yang lalu, Sakura dan Sai pun sudah hadir dipesta tersebut. Mereka mengobrol bersama dengan ibu Sakura, ayah Sai dan tuan rumah mereka Hatake Kakashi. Disisi lain tak jauh dari mereka seorang pria tampan memakai tuxido memandang tajam Sakura dan Sai yang terlihat mesra dimata onyxnya. Seringai muncul dibibir tipis pria berambut raven tersebut. Ia berjalan mendekati mereka yang asyik mengobrol. "Hn. Selamat atas pernikahanmu, Hatake-san" Ucap pria bernama Sasuke itu pada Kakashi pria berambut abu-abu tersebut. Kakashi menoleh dan tersenyum ramah pada CEO Uchiha Corp. tersebut.
"Aa, Sasuke. Terima kasih sudah mau datang" Ucap Kakashi.
"Hn." Sasuke mengalihkan pandangannya kearah Sakura yang sedikit terkejut melihatnya. "Sakura, bisa kita bicara sebentar?" Tanyanya pada gadis merah muda tersebut.
"Baiklah" Jawab Sakura sedikit ragu. Ia meminta ijin pada ibunya dan yang lain sebelum pergi mengikuti Sasuke. Sai menatap kepergian Sakura dan Sasuke dengan tatapan bertanya. Kakashi menyadari hal itu. "Apa kau cemburu, Sai?" Tanya Kakashi.
Sai menoleh pada pria itu. "Tidak juga." Jawabnya menggidikkan bahu. "Hanya saja aku tak rela, Sasuke membawa tunanganku begitu saja." Sambungnya.
"Itu sama saja, Bocah" Dengus Kakashi. Sai dan Mebuki terkekeh geli sedangkan Danzho tetap berwajah datar.
"Jika kau tak ingin kehilangan tunanganmu, Menikahlah segera." Sahut Danzo.
"Ya. Itu benar, bukankah kalian sudah lama bertunangan?" Timpal Mebuki. Sai hanya diam tak menjawab, pria itu hanya memikirkan satu orang saat ini, Ino.
.
.
.
.
.
"Apa kau sudah menyiapkan berkasnya?" Tanya Sasuke. Jujur Sasuke tidak suka basa basi tapi sekarang karna rasa cemburunya melihat Sakura bersama Sai, Ia mengajak Sakura dengan alasan ingin berbicara dan sekarang ia berbasa basi karna tak tau harus bicara apa.
"Tenang saja, besok aku akan datang kekantormu dengan berkas itu." Ucap Sakura.
"Hn. datanglah jam 11 siang. Karna aku ada rapat penting besok pagi." Ujarnya.
"Baiklah."
Hening sesaat.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Sai?" Tanya Sasuke tiba-tiba.
"Untuk apa kau ingin tau?"
"Hn. Hanya ingin tau saja." Jawabnya acuh.
Sakura mendengus. Ia membuang muka kearah lain, matanya membulat sempurna dengan apa yang ia lihat saat ini. Sasuke yang melihatnya menaikan sebelah alisnya. "Ada apa?" Tanyanya heran.
"Kakek?" Gumam Sakura tak percaya. Matanya tak salah lihat bukan? Sakura melihat pria paruh baya yang sudah ia anggap sebagai kakeknya sendiri datang kepesta pamannya dengan pakaian resmi dan berkelas. Berbeda dengan biasanya kakek itu gunakan saat bertemu Sakura dijalan, yang lebih terlihat seperti gelandangan. Sasuke mengikuti arah pandangan Sakura, Onyxnya juga menatap tak percaya sosok kakek itu.
"Bukankah dia itu pria yang bersamamu waktu itu dikedai ramen?"
"Ya. Kau benar"
"Siapa dia? kenapa dia bisa datang kepesta ini?".
"Karna kakek Jiraya adalah tamu undangan disini, Dia pemilik Gamabunta Studio dan Gamakichi Resort terbesar ditokyo." Timpal Naruto. Sakura dan Sasuke menoleh kearah pria blonde yang tiba-tba ada datang menimpal.
"Jadi dia pemiliknya? darimana kau tau, Dobe?" Tanya Sasuke.
"Karna dia teman ayahku dan juga rekanku saat makan ramen dikedai ichiraku" Jawab Naruto polos. Sasuke mendengus.
"Aku tak percaya" Gumam Sakura.
"Jadi kau juga tidak tau? dasar bodoh" umpat Sasuke. Sakura berdecak kesal dan berlalu pergi menghampiri kakek tua tersebut.
.
.
.
"Kakek!" Panggil Sakura. Kakek itu menoleh dan tersenyum pada cucu perempuannya.
"Sakura-chan, Kau ada disini?"
"Justru aku yang seharusnya bertanya. Kenapa kakek tak memberitahuku bahwa kakek adalah pemilik Gamabunta studio dan Gamakichi resort?" .
"Bukannya kakek tak ingin memberitahumu, tapi kau sendiri tak bertanya." Kilah Jiraya.
"Tapi...-"
"Sakura, Kau sudah mengenal Jiraya-san ya?" Potong Sai tiba-tiba. Sakura dan Jiraya menoleh. "Iya" Jawab Sakura.
"Bukankah kau anak Danzo?" Tanya Jiraya. Sai tersenyum dan memberi hormat. "Benar, Perkenalkan nama saya Sai Shimura. Senang bisa bertemu dengan anda tuan Jiraya" Ujar Sai. Jiraya mengangguk dan tersenyum kaku. Jujur ia sedikit terganggu dengan pandangan Sakura saat ini padanya. Sepertinya cucunya ini marah padanya.
"Mohon perhatiannya sebentar" Sebuah suara mengintrupsi perhatian tamu didalam pesta tersebut. Danzo dan Mebuki juga Kakashi bersama Hanare istrinya berdiri diatas panggung. Danzo berbicara dengan microphone ditangannya.
"Saya hanya ingin mengumumkan sesuatu pada kalian yang hadir disini, mungkin ini sudah saatnya. Atas ijin dari Kakashi selaku tuan rumah pesta ini dan paman dari Sakura. Saya ingin memberitahukan bahwa putra ku Sai dan Sakura, putri dari mendiang Kizashi Haruno. Akan segera menikah ditahun ini" Ungkap Danzo. Semua tamu nampak tertegun mendengar nya, para wartawan yang hadir pun tak membuang kesempatan. Sakura yang berdiri disamping Sai nampak terkejut mendengarnya. Ini diluar dugaanya, ia pikir pertunangan mereka yang bakal diketahui publik.
"Jadi, kalian akan segera menikah ya?" Komentar Jiraya pada Sakura dan Sai yang nampak sama-sama terkejut.
Disisi lain, Naruto pun tak percaya. "Tidak mungkin. Sakura-chan ku , akan menikah dengan Sai?" .
Bukan hanya Naruto, Pria raven yang berdiri disamping Naruto pun terkejut. Sasuke mengepalkan tangannya erat. "Kuso!".
"Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa mereka bisa tiba-tiba akan menikah. Sebenarnya kami merahasiakan sesuatu pada kalian. Sai dan Sakura mereka sudah lama bertunangan semenjak mereka lulus SMA, kami sengaja tak mengundang banyak orang dan hanya keluarga yang mengetahui hal ini." Sambung Danzo.
Sai, menggerang tertahan mendengar ucapan ayahnya. Sedangkan Sakura nampak menahan sakit dikepalanya yang tiba-tiba kambuh. Dengan segera gadis itu meninggalkan pesta tersebut menuju mobilnya. Ia ingin segera meminum obatnya yang ia taruh didalam mobil.
Sasuke, mengedarkan pandangannya kesekeliling, ia ingin bicara saat ini juga pada Sakura namun ia tak melihat gadis itu dimana pun. "Kemana dia?" Gumamnya bertanya-tanya. Ia langkahkan kakinya keluar gedung pesta tersebut namun langkahnya terhenti saat tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang.
"Sasuke, Kau kemana saja. Aku merindukanmu. Jika aku tau kau juga datang kepesta ini juga, lebih baik aku datang bersamamu. Kenapa kemarin kau tak datang kejamuan makan malam?" Tanya gadis itu bertubi-tubi. Sasuke hanya diam dan memegang kedua tangan gadis itu yang lancang memeluk pinggangnya dari belakang.
"Jangan sentuh tubuhku semaumu!" Sasuke menekankan kalimatnya dengan aura dingin. Pelukan itu terlepas, tanpa menoleh kearah gadis itu Sasuke kembali melangkahkan kakinya keluar gedung untuk segera mencari Sakura. Mei, mengerang. Gadis itu menatap marah punggung pria Uchiha tersebut yang semakin menjauh.
.
.
.
"Arrgh" Erang Sakura seraya memegang kepalanya yang terasa sakit. Tangannya yang bebas mencari-cari obat yang Tsunade berikan padanya. "Dimana obat itu, Sial" Gerutu Sakura. Gadis itu terus mencari didalam mobilnya dan akhirnya ia menemukan obat itu. Sakura keluar dari dalam mobil saat seseorang yang berdiri didepan mobilnya memanggil namanya.
"Sasuke?"
Pria itu berjalan menghampiri Sakura yang berdiri disamping mobilnya dengan wajahnya yang pucat. Gadis itu memicingkan matanya saat penglihatannya tiba-tiba mengabur. "Sakura, Jelaskan padaku" Tuntut Sasuke yang kini berdiri didepan Sakura.
"Sa-suke.. a.."
BRUUKK
Dengan sigap Sasuke menangkap tubuh Sakura yang tak sadarkan diri dalam pelukanya.
.
.
.
.
BERSAMBUNG...
