Hari sudah mulai pagi, sang mentari mulai menyinari muka bumi. Disebuah rumah mewah, tepatnya disebuah kamar yang sedikit gelap karena tirai yang masih menutupi jendela kamar itu sehingga sinar mentari pun susah untuk masuk kekamar tersebut. Seorang pria masuk kedalam kamar tersebut.

SREEEK

Pria itu menyibakkan tirai dijendela sehingga membuat ruangan dikamar itu menjadi terang seketika. Sasuke, Pria itu kemudian berjalan mendekati ranjang berukuran size yang ada dikamar tersebut, dimana seorang gadis terbaring di atasnya dengan mata yang masih terpejam. Sasuke lalu duduk ditepi ranjang dan memandangi gadis cantik bersurai merah muda itu dengan pandangan sendu. Entah kenapa hati pria itu selalu peduli pada gadis didepannya saat ini. Padahal biasanya ia selalu tidak peduli dengan orang lain, apalagi pada seorang gadis. Sasuke akui, bahwa sejak awal, Ia tertarik pada Sakura tapi ia tak menyangka bahwa rasa tertariknya akan menjadi lebih dalam seperti ini.

Salah satu tangan kekar Sasuke membelai lembut wajah Sakura yang terlihat damai. Mata onyxnya terus memperhatikan gadis yang masih terlelap tersebut.

[ Flashback ]

"Bagaimana keadaanya?" Tanya Sasuke pada seorang dokter yang kini tengah mengobati Sakura yang tak sadarkan diri diatas ranjang kamar Sasuke. Sepertinya pria itu membawa Sakura kerumahnya dan memanggil dokter pribadi kerumah untuk mengecek keadaan gadis itu, meski ia yakin bahwa gadis itu pingsan karena penyakit yang ia derita saat ini. "Dia mengidap kanker otak. Apa itu penyebab ia pingsan?" Tanyanya lagi.

Dokter wanita yang kini memeriksa Sakura pun menoleh dan berdiri dari posisi duduknya. "Sepertinya iya. Pasien yang mengidap kanker otak tak boleh sampai stress atau tertekan." Dokter itu lalu menyodorkan sebuah botol obat pada Sasuke. "Ini obat gadis itu bukan? Ini adalah obat penahan rasa sakit. Mungkin dokter pribadinya yang memberikan ini, tapi obat itu tidak ada gunanya. Sebaiknya kau bujuk gadis itu untuk segera melakukan operasi atau kemoterapi." Sambung dokter tersebut.

Sasuke menerima obat itu dan memandang obat Sakura lama. "Hn. Akan ku usahakan. Terima kasih, dokter" Ucap Sasuke.

[ Flashback Off ]

SasuSaku © Masashi Kishimoto

Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama

Warning!

Typo's , OOC, Gaje, Fiksi, Abal dll

Sentuh Hatiku © JuliaCherry07

Chapter : 8

- Happy Reading -

"Kenapa?." Sasuke diam sesaat. "Kenapa kau tidak mau melakukan operasi atau kemoterapi,hn?" Tanya Sasuke pada Sakura yang masih tak sadarkan diri. Pria itu tau bahwa gadis itu tak kan mampu mendengar suaranya. Pria itu terus memandangi Sakura. "Gadis bodoh, menyebalkan. Kau membuatku-..."

"Enghhhh" Ucapan Sasuke terpotong saat pria itu mendengar suara lenguhan Sakura yang mulai sadarkan diri.

"Sakura?"

Gadis itu mulai membuka kedua matanya yang sejak semalam terpejam itu. Dahi gadis itu mengerut dan menatap bingung keadaan sekeliling. "Dimana ini?" Tanyanya seraya bangkit untuk duduk. Sasuke membantunya.

"Kau pingsan. Dan ini adalah kamarku." Jawab Sasuke.

"Apa?!" Pekik Sakura. "K-kenapa aku bisa ada dikamarmu?" Tanya Sakura heran dan curiga.

Sasuke memutar bola matanya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau pingsan semalam, apa kau tak ingat,hn?"

"Aku ingat tapi kenapa kau membawaku kerumahmu?" Sungut Sakura. Kemudian ia memeriksa keadaan tubuhnya. Gadis itu merasa lega karena gaun yang ia pakai masih melekat ditubuhnya. Sasuke mendengus melihat tingkah Sakura yang seakan tak mempercayainya.

"Jika tau begini, lebih baik aku menidurinya saja tadi malam" Gerutu Sasuke pelan yang terdengar berbisik.

"Kau bicara sesuatu,Sasuke?" Tanya Gadis merah muda itu.

"Tidak" Elak Sasuke. Pria itu lalu berdiri. "Jika kau sudah baikkan bersihkan tubuhmu. Aku akan mengambil makanan untukmu." Sambungnya.

Sasuke berbalik dan hendak pergi. "Tidak perlu." Tolak Sakura. Pria itu pun berbalik lagi menatap Sakura. "Aku akan langsung pergi saja." Sambung Sakura.

Wajah pria itu berubah dingin dan menatap tajam gadis yang kini berdiri dari duduknya diatas ranjang. "Hn. Kau tidak akan kemana mana sebelum kau makan" Sakura hendak memprotes namun Sasuke kembali berbicara. "Dan aku tak menerima penolakan, Sakura." Pria itu pun pergi dari kamar itu setelahnya. Sakura mendengus kesal.

"Dasar pria pemaksa" Umpat Sakura. Gadis itu pun segera pergi kekamar mandi yang ada dikamar tersebut.

Setelah beberapa menit Sakura keluar dari kamar mandi setelah mencuci wajahnya. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kamar itu. Tak banyak foto didinding berwarna biru tersebut. Hanya satu foto yang ada dimeja kerja dikamar itu. Foto Sasuke bersama seorang pria. Sakura mendekat kemeja tersebut dan tangannya menyentuh bingkai foto tersebut.

"Bukankah ini... Dokter Itachi?" Gumamnya memperhatikan foto Sasuke bersama seorang pria yang hampir mirip dengan Sasuke.

CEKLEK

Pintu kamar itu pun terbuka. Sasuke masuk dengan membawa nampan yang berisi makanan. "Makanlah" Perintah Sasuke yang kini menaruh makanan itu diatas meja kerjanya dimana Sakura berdiri sekarang. Gadis itu meletakkan kembali foto itu ke meja kerja Sasuke. "Terima kasih" Ucap Sakura. Lalu ia duduk dikursi kerja Sasuke dan mulai memakan sarapannya dengan lahap.

Sasuke terkekeh geli melihat cara makan gadis didepannya saat ini. "Makan pelan-pelan nanti kau-..."

"Uhuk...Uhuk" Sakura tersedak makannya sebelum Sasuke menyelesaikan ucapannya.

"Bukankah sudah ku bilang, makanlah pelan-pelan. Kau jadi tersedakkan?" Sasuke memarahi Sakura seraya menyodorkan minuman pada Sakura. Sakura segera meminumnya. Pria raven itu memandang khawatir gadis merah muda yang tengah meneguk minumannya.

"Kau cerewet sekali pagi ini" Komentar Sakura seraya meletakkan gelas minuman itu di atas meja.

"Hn. Dan itu karna mu, Koneko-chan." Sahut Sasuke.

"Kenapa kau memanggilku seperti itu? Kau pikir aku anak kucing!" Sakura tak terima.

"Hn. Karna itu cocok untukmu." Sasuke menyeringai.

Sakura mendengus seraya mengerutu tidak jelas.

Keheningan terjadi sesaat.

"Sasuke." Panggil Sakura kemudian.

"Hn?"

"Kau, kenal dengan dokter Itachi? Wajah kalian mirip. Apa kalian bersaudara?" Tanya Sakura hati-hati.

Pria itu nampak terkejut. "Kau mengenal kakak ku? Bagaimana bisa?" Tanya balik Sasuke.

"Jadi benar kalian saudara ya. Hm... sebenarnya dia senpai ku dirumah sakit, dimana aku magang. Dia dokter hebat di rumah sakit disana."

"Disana? Apa maksudmu disana itu di amerika?" Dahi Sasuke mengerut saat bertanya. Sakura mengangguk sebagai jawaban. "Dan dia sekarang jadi seorang dokter?" Tanyanya lagi.

Sakura berdecak kesal dan berkacak pinggang. "Hei, Bukankah kau adiknya? kenapa kau seolah tak tau apa-apa tentangnya?" Omelnya.

Sasuke terdiam tak menjawab. Gadis itu semakin curiga dan heran. "Apa tebakan ku benar. Aa, aku jadi sadar sekarang. Dokter Itachi menyembunyikan nama marganya. Beliau tidak mau memberitau siapa pun marganya kecuali pimpinan rumah sakit pastinya." Ujar Sakura.

"Aku merindukannya" Ungkap Sasuke pelan.

"Temui saja" Sahut Sakura enteng.

PLETAK

Sasuke menyentil dahi lebar Sakura, menyebabkan gadis itu meringis kesakitan. "Hei! Sakit bodoh. Apa yang kau lakukan" Bentaknya seraya mengelus elus dahinya.

"Kau pikir Amerika itu dekat,hn?"

Sakura memutar bola matanya bosan. "Kalau dekat aku sudah naik mobil untuk kesana. Bodoh" Jawab Sakura sekenaknya. Sasuke berdecak kesal dan ingin menyentil dahi gadis itu lagi namun dicekah oleh Sakura. Gadis itu menggenggam pergelangan tangan pria itu. Mata mereka saling beradu pandang lama.

TOK TOK TOK

Suara ketukan itu membuat mereka berdua tersentak. "Tuan. Nyonya ingin anda segera turun. Beliau ingin bicara pada anda." Seru pelayan dibalik pintu yang masih tertutup.

"Hn. Baiklah" Sahutnya dari dalam. Kemudian pria itu kembali menatap Sakura. "Ada apa denganmu?" Tanya Sasuke yang melihat raut wajah gadis itu yang berubah cemas.

"A-apa, orang tuamu tau. Aku menginap dikamarmu?" Sasuke menyeringai tipis saat Sakura bertanya dengan wajah seperti itu.

"Hn" Sasuke mengangkat bahunya acuh.

"Astaga" Sakura menepuk dahinya cukup keras dan itu membuat pria didepannya terkekeh geli.

"Gadis ini benar-benar membuatku gila". Batin Sasuke.

.

.

Sai, mondar mandir tidak jelas diruang tamu kediaman Haruno dengan menempelkan ponsel ditelinganya.

"Bagaimana, Apa Saki sudah bisa dihubungi?" Tanya Mebuki yang terlihat cemas. Bagaimana tidak. Putri satu-satunya sejak semalam tiba-tiba menghilang entah kemana. "Ini semua salahku. Dia pasti marah karena aku tidak memberitahunya tentang pernikahan kalian terlebih dahulu." Sambung Mebuki.

"Tenanglah bibi, Sakura pasti baik-baik saja sekarang."

.

Sentuh Hati Ku © Chapter 8

.

Sakura duduk dengan gelisah disofa diruang tamu keluarga Uchiha. Pasalnya saat ini ibu Sasuke terus menatapnya tanpa henti. Sedangkan pria itu sendiri tengah duduk tenang dengan menghisap tehnya disalah satu sofa diruangan itu.

"Jadi, Siapa namamu?" Tanya Mikoto.

"Sakura, Haruno Sakura." Jawabnya sopan. Sasuke memperhatikan dan tersenyum tipis. Sungguh ia menikmati kegelisan gadis itu saat ini.

Mikoto pun sama. Ibu Sasuke tersenyum pada Sakura. "Kau, sangat cantik, Sakura-chan. Apa semalam kau pergi kepesta bersama putraku? dan kau menginap disini?" Tanya Mikoto lagi.

Sakura tersentak dan semakin gelisah. "B-bukan begitu. Sebenarnya saya..." Sakura melirik Sasuke untuk meminta bantuan.

Pria itu pun mengerti. "Benar bu. Semalam aku dan dia pergi kepesta. Karena dia mabuk aku membawanya kerumah. Ibunya akan membunuhnya jika dia pulang dengan keadaan mabuk dan bersama seorang pria. Jika ibunya tau. untuk itulah aku membawanya pulang kerumah." Timpal Sasuke.

"Aa, begitu ya." Mikoto mengangguk mengerti. Sedangkan Sakura tersenyum kaku sambil membatin. "Tanpa dibunuh ibuku pun. Aku juga akan segera mati".

"Sakura-chan. Kenapa tadi kau tak ikut sarapan dimeja makan. Aku dan ayah Sasuke kan bisa menjamumu tadi."

"Tidak perlu repot bibi. Tadi Sasuke juga sudah menjamuku. Maaf aku tidak sopan karena makan dikamar." Sakura merasa tidak enak. Mikoto menggenggam tangan gadis itu."Tidak apa-apa,Sakura-chan. Lain kali datanglah kesini lagi. Dirumah ini cuma bibi saja perempuan disini. Dan itu tidak menyenangkan" Ungkap Mikoto mengerling.

Sakura tersenyum lembut. "Iya. Bibi".

"Ibu, dimana ayah? apa ia sudah pergi kekantor?" Timpal Sasuke.

"Hn, Ayahmu sudah pergi ke kantor cabang di Okinawa" Jelas Mikoto. Sasuke mengangguk mengerti. Sakura terlihat lega mendengarnya. Setidaknya ia tak harus ketemu ayah Sasuke. Diam-diam gadis merah muda itu tersenyum. Mikoto yang melihatnya pun terkekeh.

Sepertinya Nyonya Uchiha ini suka dengan Sakura. Mikoto tau anaknya pasti menyukai gadis merah muda tersebut. Karena putranya tak pernah sama sekali membawa pulang gadis kerumah apalagi menginap dikamarnya. Tak seorang pun yang boleh tidur dikamar pria itu, bahkan Itachi dulu dimarahi habis-habisan oleh Sasuke karena masuk kekamar pria itu tanpa ijin. Mikoto tau sangat jelas bahwa Sakura gadis istimewa dihati putra bungsunya. Dan Mikoto sangat senang jika Sakuralah gadis yang ditunangkan dengan putranya daripada gadis bernama Mei tersebut.

"Aku harus membicarakan ini pada Fugaku-kun." Batin Mikoto tersenyum penuh arti.


Sai masih sibuk dengan ponselnya, mencoba menghubungi semua teman Sakura dijepang, namun nihil. Mereka juga tak tau dimana gadis itu berada, bahkan salah satu teman Sakura ada yang baru tau kalau gadis itu sudah pulang ke jepang. Mebuki terduduk lemas disofa diruang tamu. Sebelah tangannya memijat pelipisnya. Kemudian nyonya Haruno itu pun berdiri. "Aku akan melapor ke kantor polisi" Putusnya. Sai menoleh.

"Tapi,.." Ucapan Sai terpotong saat suara lain mendahuluinya berucap.

"Ibu" Panggil sebuah suara. Sai dan Mebuki pun menoleh kearah sumber suara.

"Sakura/Saki" Pekik Sai dan Mebuki bersamaan. Mereka pun berlari menghampiri Sakura yang berdiri diambang pintu.

Gadis merah muda itu membalas pelukan ibunya saat sang ibu memeluknya erat. "Anak nakal. Kau kemana saja,heh? Sejak pesta itu kau tiba tiba menghilang. Apa kau marah pada ibu, Saki?" Tanya Mebuki seraya melepas pelukannya. Sakura tersenyum lembut.

"Tidak ibu. Maaf jika aku sudah membuat ibu khawatir." Sesalnya.

"Memangnya kau kemana semalam, Sakura?" Timpal Sai.

"Aku ada urusan sebentar dan karena sudah terlalu larut malam aku menginap dirumah kenalanku." Dustanya.

Sai mengerutkan dahinya. "Kenalanmu siapa?" Tanyanya curiga. Pria itu tau tunangannya ini sedang berbohong. Sai mengenal Sakura sangat lama dan ia tau jika gadis itu tak bisa berbohong dengan baik. Sakura gugup dan segera memutar otak. "I-ino. Ya. Aku menginap dirumah Ino." Jawabnya asal.

Sai terbelalak kaget. "Sejak kapan kau akrab dengannya,hn? Dan untuk apa kalian bertemu.?".

"Aku melakukan itu untukmu, Mayat hidup." Sahutnya. Mebuki terlihat bingung tak mengerti maksud kedua anak muda didepannya. "Kalian ini bicara apa? siapa itu Ino?" Tanya Mebuki.

Sakura menyeringai jail saat melihat wajah Sai yang terlihat gelisah. "Ibu... sebenarnya Ino itu... dia adalah..."

"Sakura!" Potong Sai cepat.

"Kenapa kau? Aku hanya mau bilang Ino itu temanku." Sakura tersenyum mengejek dan Sai mendengus sebal. "Bolehkan bu aku berteman dengan Ino, Dia gadis sederhana tapi aku menyukainya. Dia sama cerewetnya denganku." Sambung Sakura menatap Mebuki.

Mebuki tersenyum dan membelai pipi putrinya. "Tentu saja boleh. Siapa pun dan dari mana pun asal keluarganya. Asalkan ia orang yang baik. Dia pantas diajak berteman. Sayang" Ujarnya.

"Meskipun ia gadis sederhana?" Mebuki mengangguk sebagai jawaban. Sakura tersenyum dan memeluk ibunya dengan sayang."Ibu, Ino gadis yang baik. Tapi karena dia dari keluarga sederhana, Ayah dari pria yang dicintainya tak merestui hubungan mereka." Sakura mulai cerita tentang Ino dengan masih memeluk ibunya. Mata emeraldnya menatap nanar Sai yang juga menatapnya. "Ibu, Memangnya salah jika gadis sederhana mencintai pria kaya?" Sambung Sakura.

Mebuki melepas pelukan putrinya dan menatap lembut putri satu-satunya itu. "Tentu saja tidak salah. Siapa pun berhak mendapatkan cinta dan mencintai. Entah dia miskin atau kaya tetap mereka berhak mendapatkan cinta." Tutur Mebuki. Sakura tersenyum senang dan melirik Sai. "Kau dengar itu, Mayat hidup" Sindir Sakura pada Sai.

Pria itu mendengus dan tersenyum setelahnya. "Hn. Aku tau itu. Jelek".

"Ibu jadi ingin bertemu dengan teman barumu itu." Ungkap Mebuki.

"Tentu saja. Aku akan mengajaknya kemari nanti. Aku juga ingin menjadikannya saudara perempuanku. Ya, siapa tau ayah dari kekasihnya itu akan merestuinya." Sindir Sakura.

"Ide bagus. Ibu jadi tak kesepian nanti jika kau sibuk."

"Bukankah ibu yang selalu sibuk?" Sakura memprotes. Adu mulutpun terjadi diantara keduanya . Sai memutar bola matanya bosan dan memutuskan untuk pergi kehotelnya.

.

.

.

Setelah mengantar Sakura kerumahnya dengan selamat, Sasuke memutuskan segera pulang dan berangkat kekantornya. Saat ini pria raven itu mengemudi mobil mewahnya menuju Uchiha Corp. ,Pikirannya saat ini tertuju pada gadis yang semalam menginap dirumahnya.

"Sakura" Gumamnya . Tiba-tiba ia teringat ucapan Sakura tadi pagi."Sebenarnya dia senpaiku dirumah sakit ,dimana aku magang. Dia dokter hebat dirumah sakit disana".

Sasuke tersenyum penuh arti. "Aku tau sekarang. Hanya Itachi-nii yang bisa membantuku. Gadis koneko itu, harus segera melakukan pengobatan. Apa pun yang terjadi." Ujarnya.


Sai duduk dimeja kerjanya, tangannya meremas koran baru yang terbit hari ini, dimana halaman depannya terdapat berita tentang pengumuman tentang rencana pernikahannya dengan Sakura karena ulah ayahnya. Ditempat lain , Ino pun juga sama saat ini gadis bersurai pirang itu pun kini sedang membaca berita itu dikoran namun sepertinya gadis itu tak terkejut lagi tapi sorot matanya nampak terlihat sendu dan kecewa. Gadis cantik pemilik toko bunga itu pun tersenyum kecut. "Aku percaya padamu, Sai" Gumamnya. Gadis itu tak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dari luar tokonya. Orang itu menatap iba Ino dan tersenyum miris. Seseorang yang mempunyai mata teduh itu kini berjalan mendekat dan masuk kedalam toko bunga milik Yamanaka tersebut.

"Pagi, Ino" Sapanya dengan nada ceria.

Ino pun menoleh. Raut wajahnya nampak sedikit terkejut melihat kedatangannya. "Haruno-san?".

"Hei! bukankah terakhir aku kesini aku menyuruhmu memanggilku Sakura." Sakura berkacak pinggang. Ino terkekeh. "Maaf, Baiklah Sakura, ada apa kau datang kesini?" Tanya Ino.

Sakura menghela nafas. "Aku ingin berteman denganmu, bolehkan?"

Ino mengerutkan dahinya. "Berteman?".

Sakura mengangguk. "Temannya Sai adalah temanku juga. Aku ingin berteman denganmu. Aku akan membantumu agar bisa bersatu dengan Sai." Ungkapnya.

Ino tersentak. "Apa maksudmu. Sakura jika kau ingin berteman denganku baiklah aku terima pertemanan ini, tapi untuk membantu ku dengan Sai sepertinya itu tidak mungkin. Ayah Sai dia..." Gadis itu menunduk. "Lagi pula kalian kan..." Tangan gadis itu meremas koran yang sedari tadi ia pegang.

"Bukankah sudahku bilang sebelumnya. Apapun yang ada disurat kabar nanti itu semua bohong. Aku dan Sai tak memilki hubungan apapun kecuali persahabatan. Dan aku akan menolak pernikahan ini, kau tenang saja. Ino" Sakura mengatakan itu dengan senyum.

Ino mendongak menatapnya. "Sakura, Apa kau menolak pernikahanmu karena kau juga memiliki orang yang kau cintai?" Tanya Ino. Sakura tersenyum kecut dan menggeleng. "Aku tidak punya seseorang yang ku cintai dan tak akan" Jawabnya.

"Karena orang yang akan ku cintai, nantinya hanya akan menderita jika bersama ku" Sambungnya dalam hati.

DRTTT ... DRRRT...

Ponsel Sakura tiba-tiba bergetar, Ia segera mengangkat panggilan itu setelah meminta ijin pada Ino. "Ya. Paman Asuma, apa ada masalah dikantor?" Tanyanya pada seseorang diseberang sana.

"... "

Mata emerald gadis itu terbelalak. Ino bisa melihat raut wajah Sakura yang berubah. "Hn, Baiklah paman. Aku akan segera kesana." Setelah mengatakan itu Sakura lantas memutuskan sambungan telephonenya.

"Ada apa? apa ada masalah dikantormu, Sakura?"

"Sepertinya iya, Ino. Maaf ya aku harus segera pergi." Sakura memeluk Ino sebentar, gadis pirang itu mengangguk. "Hati-hati dijalan , Sakura." Katanya. "Terima kasih, Ino. Sampai jumpa" Sakura pun pergi meninggalkan toko bunga tersebut. Ino memandang kepergian gadis merah muda itu. Lalu ia tersenyum. "Dia gadis yang baik. Sai sangat beruntung memiliki sahabat sepertinya. Siapapun lelaki yang bersamanya pasti akan sangat beruntung." Ujarnya seraya menatap koran yang ia pegang dimana halaman koran itu terdapat foto Sai dan Sakura. Gadis pirang itu tersenyim miris untuk kesekian kalinya melihat koran tersebut.

.

.

.

.

TBC