Sebelumnya di Sentuh Hatiku...

.

.

"Ini..."

"Percepatlah,pernikahan putramu dengan gadis Haruno itu. Sebelum kau menyesal,Paman" Mei menyeringai melihat ekspresi Danzo. Sepertinya rencananya akan berhasil dengan memanfaatkan pria tua itu.


Disclaimers : Masashi Kishimoto

Pair : Sasuke U. , Sakura H.

Slight : Sai S., Ino Y.

Warn: Typo, OOC, Gaje dll

Story by JuliaCherry07

- Sentuh Hatiku-

Chapters : 10

~Don't Like, Don't Read~

.

Sai akhirnya melepas duluan pelukannya pada gadis yang ia rengkuh, ya.. meski sebenarnya gadis itu duluan yang awalnya merengkuhnya. Kedua tangan Sai menyeka sisa air mata yang ada dipipi Ino. Pria Shimura itu sempat tertegun saat melihat gadis yang selama ini ia cintai menangis karenanya. Lagi.

"Bagaimana kabarmu,Ino-chan" Sai tersenyum lembut pada gadis didepannya. Begitu juga dengan Ino, ia juga membalas senyuman pria itu. "Sudah lama aku tak mendengar panggilan itu darimu, Sai-kun" Bukannya menjawab Ino malah berkata seperti itu,membuat Sai terkekeh.

"Aku pun sama, sudah lama aku tak mendengar kau memanggil ku dengan shuffix 'Kun' ". Sai berucap seraya mengelus pucuk rambut pirang Ino penuh kasih sayang.

Sesaat suasana menjadi hening. Mereka hanya saling memandang satu sama lain. Mereka seakan terbuai dengan perasaan rindu satu sama lain. Hingga Ino memecahkan keheningan itu dengan pertanyaan yang membuat Sai tertegun.

"Apa berita dikoran itu benar?"

"Apa kau tak percaya padaku?" Tanya balik Sai.

Ino menunduk sedih. "Sejujurnya aku percaya pada mu, sangat percaya. Tapi...".

"Tapi apa?" Potong Sai.

"Tapi aku takut jika keadaan akan memisahkanku denganmu." Lanjut Ino. Gadis itu tetap menunduk dan meremas ujung dressnya. "Sakura, Gadis yang baik. Aku percaya pada kalian. Tapi orang tuamu bisa saja..." Ino tak dapat melanjutkan kalimatnya saat pria itu tiba-tiba saja memeluknya. Ino tersentak.

"Aku tak akan membiarkan itu terjadi, percayalah padaku."Sai mempererat pelukanya dan mencium pucuk rambut pirang Ino. "Aku mencintaimu, Ino-chan".Sambungnya.

Mata aquamarine gadis itu kembali berkaca-kaca."Aku percaya padamu, Sai-kun" Lirihnya seraya menyandarkan kepalanya kedada bidang Sai. "Dan aku,juga mencintaimu" Sambungnya.

Mereka saling berpelukan,menyalurkan rasa rindu,cinta dan sedih mereka masing-masing. Tanpa menyadari bahwa saat ini, Akan ada badai untuk kedua kalinya yang akan menguji cinta mereka lagi.

.

.

.

.

.

.

Narita Airport, Tokyo - Jepang. 22:05.

.

Sakura berjalan menghentak-hentakkan kakinya seraya menyeret kopernya yang berwarna merah. Sasuke yang berjalan disampingnya pun hanya bisa menghela nafas dan mengeleng melihat tingkah gadis disampingnya saat ini. Mereka berjalan menuju pesawat mereka yang akan segera lepas landas.

Sasuke masuk terlebih dahulu kedalam pesawat dan segera mencari tempat duduknya. Sakura menyusul kemudian setelah pria raven itu sudah duduk manis dikursi pesawat dekat jendela. Pria itu bahkan kini tengah asyik membaca buku ,entah buku apa itu. Yang jelas Sakura kesal saat ini. Ia menyesal telah setuju ikut ke Amerika dengan pria itu tapi disisi lain ia juga senang karena ini satu-satunya cara untuk memoloskan diri dari rencana Danzo dan ibunya yang ingin mempercepat pernikahannya dengan Sai.

[ FlashBack ]

.

"Menikah? Minggu depan?" Sakura tak percaya akan perkataan Ibunya."Ibu, Apa aku sekarang tengah hamil,sehingga ibu ingin aku dan Sai segera menikah minggu depan? Yang benar saja." Decak Sakura kesal.

"Ibu juga terkejut saat memdengar permintaan ini dari Danzo-san. Tapi setelah ayah Sai itu menjelaskan niat baiknya itu,ibu menyetujuinya. Lagi pula kau dan Sai kan sudah lama bertunangan dan mengenal baik Sai. Jadi apa salahnya jika rencana pernikahan kalian dipercepat." Jelas Mebuki.

"Lagi-lagi pria tua itu." Batin Sakura menggerutu. "Aku tidak bisa menikah dengan Sai minggu depan,bu" Tolaknya.

"Kenapa?" Tanya Mebuki heran.

"Karena 3 hari lagi, Aku akan kembali ke Amerika"

"Apa? kenapa kau ingin kembali kesana,Sakura? Lalu bagaimana dengan perusahaan ayahmu?". Tanya Mebuki menggebu-gebu.

"Tenang saja bu, Aku ke Amerika hanya beberapa hari saja. Ada seseorang yang ingin ku temui" Dustanya.

"Siapa? apa dia sangat penting untukmu?"

"Tidak juga. Tapi dia sangat penting bagi seseorang." Saat mengatakan itu Sakura tiba-tiba teringat Sasuke. Dia memutuskan akan ikut Sasuke ke Amerika. Ini satu-satunya cara untuk menghindari pernikahannya. Ia tak mungkin menikah dengan Sai. Ia sama sekali tak memiliki perasaan dengan pria yang sudah ia anggap kakaknya tersebut. Lagi pula ia juga akan membuat hati seorang gadis hancur nanti,jika ia menikah dengan Sai. Jadi akan lebih baik jika Sakura memanfaatkan ajakan Sasuke,untuk pergi bersamanya ke Amerika untuk bertemu Itachi.

Mebuki menggenggam tangan putrinya. "Apa kepergianmu ke Amerika karena pernikahan ini? Ibu mengenal baik putri ibu,Sakura." Ujarnya. "Dulu kau ke Amerika karena ayahmu. Dan sekarang karena ibu. Maafkan ibu Sakura" Sambungnya.

Sakura tau, ini adalah kelemahannya. Selalu tak tega jika melihat ibunya bersedih dan meminta maaf. Tapi jika ia mengalah, akan ada dua orang yang tersakiti nantinya dengan pernikahan ini,dan Sakura tak mau membuat kedua orang saling mencintai itu tersakiti.

Sakura memeluk ibunya. "Ibu, Jangan meminta maaf padaku. Aku pergi kali ini bukan karna mu. Aku pergi karena ada sesuatu yang harus ku urus disana. Dan aku akan pulang secepatnya." Ujar Sakura penuh kasih sayang.

Lalu Mebuki melepas pelukan putrinya penuh selidik putrinya."Janji kau akan pulang secepatnya?". Sakura mengangguk mantap. "Baiklah,kau boleh pergi. Aku akan bicara lagi pada ayah Sai. Mungkin pernikahan kalian akan ditunda sampai kau kembli nanti."

Sakura memutar bola matanyanya bosan."Bu, Lebih baik ibu bilang pada pria tua itu. Aku tidak ingin menikah terburu buru. Aku masih muda,bu. Jika ia tak sabar menimang cucu, suruh saja Sai menikah dengan perempuan lain. Ino misalnya." Celetuk Sakura.

Mebuki mengerutkan dahinya saat mendengar nama tak asing yang disebut putrinya tadi. "Ino?". Sakura mengangguk. "Kenapa harus Ino?" Tanya Mebuki.

"Karena Ino gadia baik dan cantik" Jawab Sakura seadanya seraya mengidikan kedua bahunya.

"Anak bodoh!" Mebuki menyentil dahi Sakura. "Mana ada seorang gadis yang mencarikan gadis lain untuk tunangannya." Sambung Mebuki.

"Ibu...Andai kau tau, Ino adalah gadis yang dicintai Sai,dan pertunanganku dengan Sai hanya untuk melindungi gadis itu dari ayah Sai. Maafkan aku ibu" Batin Sakura memandang ibunya dengan tatapan sendu.
"Aku ingin bertanya pada ibu." Ucap Sakura.

"Apa?"

"Apa ibu akan sedih jika suatu saat nanti aku dan Sai tak menikah?" Tanya Sakura cemas.

"Tentu ibu akan sedih Sakura. Untuk itulah. Jangan kecewakan ibu. Kau adalah satu-satunya putri ku. Ibu percaya padamu" Mebuki merengkuh putrinya dalam pelukanya tanpa menyadari raut wajah putrinya yang sedih akan ucapannya barusan.

"Lalu,Jika ibu tau,bahwa putrimu ini mengidap penyakit kanker otak stadium 2, apa ibu juga akan sedih?" Tanya Sakura dalam hati. "Maafkan aku ibu,Tanpa kau sadari aku telah mengecewakanmu. Maaf" Sakura meneteskan air mata tanpa suara. Ia tak mau ibunya tau bahwa saat ini ia tengah menangis sedih. Ia eratkan pelukannya. "Aku menyayangimu,Ibu" Ungkap Sakura. Mebuki tersenyum dan membelai lembut punggung putrinya.

[ FlashBack Off ]

Sakura duduk disamping Sasuke. Ia nampak melamun mengingat kejadian 3 hari yang lalu saat bicara pada ibunya. Sasuke menyadari hal itu. Sebenaranya pria itu tau. Jika rencana pernikahan gadis itu dengan Sai dipercepat. Sasuke sempat sedih namun saat Sakura mengabari bahwa ia akan ikut dengannya ke Amerika Sasuke senang dan seakan ia tau jawabannya. Bahwa Sakura tak mencintai tunangannya. Dan Sasuke tau,jika sejak dulu mantan sahabatnya itu hanya mencintai satu gadis. Ino Yamanaka. Hanya gara-gara gadis itulah,Sai rela memutuskan persahabatanya dengan Sasuke. Karena dulu Sasuke menolak cinta Ino dan membuat gadis itu terluka karenanya.

"Sakura" Panggil Sasuke kemudian. Sakura tersadar akan lamunannya dan menoleh ke Sasuke.

"Apa?"

Sasuke menatap intens gadis yang duduk disampingnya. "Sepertinya. Aku mulai menyukaimu. Bagaimana jika kita menikah disana nanti,hn?" Sasuke menyeringai saat melihat wajah Sakura yang terkejut dan merona karena pernyataannya barusan.

"Kau,Gila!" .

"Ya. Uchiha Sasuke. Sangat tergila gila padamu. Haruno Sakura." Jawab Sasuke dalam hati. Pria itu tersenyum dan terus memandangi gadis yang terlihat kesal,merona dan salah tingkah karena ulahnya.


Mentari menyinari kota tokyo dengan sinarnya yang sangat terang dipagi hari ini. Mebuki dengan pakaian kantornya yang rapi hari ini berniat mengunjungi calon besannya,Danzo Shimura di hotel milik pria tua itu pastinya. Dengan langkah pasti wanita paruh baya itu memasuki Shimura Kingdom. Ia bertemu Sai dilobi. Tunangan dari putrinya itu menyapa Mebuki ramah seperti biasanya.

"Bibi,Ingin bertemu dengan ayah?" Tanya Sai heran setelah mendengar penuturan Mebuki alasanya datang ke hotel milik keluarganya.

"Iya, Apa ayahmu ada diruangannya?"

"Apa ini tentang pernikahanku dengan Sakura?" Tanya Sai balik, Mebuki mengangguk. "Aku juga ingin membicarakan ini pada bibi" Aku Sai.

Dahi Mebuki mengerut mendengarnya."Ada apa?".

Sai menatap mantap ibu Sakura yang ada dihadapannya."Bibi,Maaf tapi aku tak bisa menikah dengan Sakura. Ada sesuatu yang ingin ku ungkap yang sebenarnya pada bibi antara aku dan Sakura selama ini" Ungkap Sai yang tak ingin lagi melanjutkan sandiwaranya dengan Sakura yang pura-pura saling mencintai. Sai bertekad untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Mebuki tentang alasan kenapa ia dan Sakura setuju ditunangkan dulu. Sai yakin ibu Sakura pasti bisa menerima semua ,lagi pula ia tak tega menyakiti Ino lebih lama lagi,dan untuk Sakura,Ia juga tak ingin lagi memanfaatkan sahabat baiknya itu untuk kepentingannya dan mengorbankan kehidupan pribadi Sakura. Gadis itu juga pantas bahagia dengan pria lain yang ia cintai. Sai juga sudah tau alasan kenapa semalam Sakura pergi ke Amerika. Demi dia ,Sakura bahkan pergi lagi ke Amerika asal pernikahan ini tak terjadi, Sai tak bisa merepotkan Sakura lebih lama lagi,untuk itulah ia memutuskan akan bicara pada ibu Sakura hari ini. Ini adalah waktu yang tepat.

"Ada apa sebenarnya,Sai?" Tanya Mebuki lagi.

"Aku dan Sakura tidak saling mencintai,bibi." Mebuki terbelalak dan tersentak mendengarnya."Sebenarnya,Aku sudah menyukai gadis lain dan pertunangan kami hanya untuk menyelamatkan gadis itu dari ayahku" Sambung Sai.

"Jadi,selama ini kalian membohongiku? Dan Sakura d-dia..."

Bruukk

Mebuki tak bisa melanjutkan perkataanya karena pingsan, Sai menangkap tubuh wanita paruh baya tersebut dan berteriak meminta pertolongan. Satu hal yang Sai lupa bahwa ibu Sakura memiliki penyakit hipertensi dan mungkin karena dia,emosi Mebuki jadi tidak setabil dan akhirnya pingsan. Sai merasa bersalah. Apalagi saat ini Sakura tidak ada dijepang.

.

.

.

Northwestern Memorial Hospital, Chicago - Amerika Serikat.

.

Northwestern Memorial Hospital,adalah rumah sakit terkenal dan 'wah' di Chicago. Rumah sakit yang awalnya bagian dari McGaw Medical Center di Northwestern Unoversity ini memiliki 22 lantai dan mendapatkan gelar rumah sakit tertinggi kedua di Amerika. Sakura memandang sendu rumah sakit didepannya sekarang. Ia tersenyum miris saat mengenang dimana dulu ia pernah magang dirumah sakit itu. Rumah sakit yang juga memiliki kampus fakultas kedokteran yang menciptakan calon calon dokter hebat seperti dokter Itachi misalnya. Dirumah sakit inilah ia bertemu dan berteman dengan Itachi yang ternyata adalah kakak dari Sasuke, pria yang berdiri disampingnya saat ini. Ia bahkan rela ikut pria ini kembali ketempat dimana ia meninggalkan cita citanya sebagai dokter demi ayahnya.

Sakura menghela nafas panjang kala mengingatnya. Pupus sudah harapanya yang ingin menjadi dokter bedah seperti dokter Itachi yang sudah banyak menyelamatkan pasiennya. bukan karena ayahnya saja tapi juga karena penyakitnya ia meninggalkan impiannya itu sebelum ia diwisuda dan mendapatkan gelar dokter. Sakura tersadar, ia tak boleh menjadi gadis lemah. Demi ibu dan perusahaannya ia harus menjadi gadis dewasa yang tegar meski kenyataanya hidupnya kini di ambang kematian.

"Dirumah sakit itu, Dokter Itachi bekerja. Kau bisa bertemu dengannya disana" Kata Sakura tanpa memandang lawan bicaranya. Saat ini ia tak mau melihatkan wajah sedihnya pada Sasuke.

"Hn"

"Hoam..." Sakura menguap entah keberapa kalinya. Sasuke yang berdiri disampingnya merotasikan matanya melihat wajah kantuk gadis disampingnya."Apa?" Ketus Sakura saat Sasuke memperhatikannya.

"Hn, Ayo kita cari penginapan. Bukankah didekat rumah sakit ini ada hotel mewah?" Sasuke sebenarnya ingin segera menemui kakaknya Itachi, namun melihat Sakura yang kelihatan ngantuk dan lelah ia jadi tak tega. Apalagi ia tau kondisi Sakura, ia tak mau membuat penyakit gadis ini kambuh. Untuk itulah ia menahan diri dan memutuskan untuk mencari penginapan agar bisa beristirahat sejenak.

"Darimana kau tau?" Tanya Sakura polos.

Sasuke mendengus."Matamu buta ya? Apa kau tak lihat bangunan tinggi itu? Kau bisa lihat dan membacanya kan? lagi pula bukankah kau tinggal lama disini?".

Sakura memutar bola matanya bosan."Bukan itu maksudku,sudahlah. Kita tak perlu hotel,aku punya apartemen didekat sini,lebih baik kita tinggal disana" Ketus Sakura seraya berjalan lebih dulu meninggalkan Sasuke yang mendengus. Namun sedetik kemudian seringai muncul dibibir tipis pria Uchiha tersebut.

"Ini akan jadi menyenangkan. Dan kita tak kan pulang ke jepang sebelum kau menyetujui permintaanku,Sakura."

.

.

.

.

Sakura masuk kedalam apartemenya yang ada di Chicago, dulu ia tinggal diapartemen ini karena tempatnya yang dekat dengan kampusnya di Northwestern University. Sakura menaruh kopernya didekat sofa ruang tamu. Sasuke menyilangkan kedua tangannya kedada seraya memandang gadis merah muda didepanya yang tengah duduk bersandar pada sandaran sofa sambil memejamkan berdecak dan mendekati Sakura. Pria bungsu Uchiha itu kini berdiri lebih dekat didepan gadis itu. Sakura tak menyadarinya, ia masih memejamkan kedua matanya yang terasa berat karena rasa kantuk dan lelah yang tengah menyerangnya saat ini. Ia tak bisa tidur selama dipesawat tadi. Gadis itu masih kepikiran ucapan Sasuke sebelumnya dan pernyataan pria itu mash terngiang diotaknya,sebab itulah ia tak bisa tidur.

Sasuke memajukan wajahnya kewajah Sakura yang menutup mata. Pria tampan itu bahkan bisa merasakan hembusan nafas dari gadis didepannya. Senyum tipis muncul dibibir Sasuke. Mata onyxnya mejelajahi tiap inci wajah cantik Sakura dan berhenti tepat dibibir ranum gadis merah mudah itu yang terlihat menggoda dimata Sasuke. Ingin sekali pria itu meraup bibir ranum itu. Perlahan tapi pasti Sasuke mulai mencondongkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya pada bibir Sakura yang terlihat menggoda.

Cup

Dengan detak jantung yang berdetak tak beraturan Sasuke mencium lembut bibir Sakura. Untuk pertama kalinya ini terjadi padanya. Ia tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Kenapa hanya karena gadis ini jantungnya berdetak lebih cepat. Sasuke ingin memiliki Sakura, gadis yang mampu membuatnya tak bisa menjadi dirinya sendiri jika didepan gadis merah muda ini. Lama Sasuke mencium bibir Sakura,bahkan ia menghisab sesekali bibir itu pelan tanpa menyadari bahwa kedua mata yang tadinya tertutup kini menampakkan kedua mata emeraldnya yang terbelalak karena ulahnya. Sakura tak mampu berkata. Ia tertegun,sedangkan Sasuke yang tak menyadarinya masih sibuk menghisab bibir Sakura, pria itu menikmatinya bahkan ia menutup matanya.

.

.

.

Bersambung...