•
•
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke U., Sakura H.
Warn : Typo's,OOC, Gaje dll.
Chapter : 12
- Happy Reading -
•
•
"Kanker otak, stadium 2?" Itachi mengulangi perkataan Sasuke. Sepertinya pria itu sedikit tidak percaya.
Sasuke mengangguk lemah. Mata onyxnya terlihat sendu menatap meja didepannya saat ini. Itachi yang melihatnya menjadi kasihan pada adiknya. Ia kenal sifat adik bungsunya itu, sekali adiknya menyukai sesuatu, ia akan menyayanginya sepenuh hati. Adiknya memang bersifat dingin dan cuek akan suatu hal, namun Itachi tau adiknya itu sebenarnya orang penyayang, contohnya saat adik bungsunya itu dulu yang masih berumur 14 tahun, saat itu melihat seekor anak kucing hitam yang kelaparan duduk dipinggir jalan yang sepi dekat rumah mereka,adiknya yang mempunyai sifat tak perduli akan sekitar ,tiba tiba berjongkok didepan anak kucing hitam itu dan memberikan susu kotak yang ia pegang pada anak kucing tersebut,tak hanya itu. Sasuke bahkan membawa anak kucing hitam itu pulang ke rumah. Adiknya sangat menyukai anak kucing tersebut bahkan menganggap anak kucing itu sahabatnya. Hingga suatu ketika,Sasuke menemukan anak kucing hitam itu tewas karena tak sengaja tertabrak mobil yang lewat dekat rumah mereka. Meski saat itu Sasuke tak menangis melihat anak kucing itu tewas tapi Itachi bisa melihatnya waktu itu,bahwa adiknya sangat sedih dan rasa kesedihannya itu dipendam didalam lubuk hatinya dan tak pernah ia tampakkan pada orang lain,tapi sekali lagi Itachi tau akan hal itu, karena ia kakak kandungnya. Kakak yang sejak kecil selalu menemani adiknya sebelum ia pergi meninggalkannya dan kedua orang tuanya. Itachi sedih melihat raut wajah adiknya saat ini. Ia berjanji akan menyembuhkan Sakura, agar adiknya tak kehilangan lagi yang adiknya itu sayangi. Gadis musim semi itu harus ia sembuhkan. Demi adiknya.
"Aku akan berusaha menyembuhkannya, Sasuke"
Sasuke tersentak mendengarnya dan mendongak menatap kakaknya penuh harapn. "Jangan menatapku seperti itu, Ototou" Tegur Itachi. Dokter yang masih single itu pun melanjutkan. "Besok, pertemukan aku dengannya. Ya, setidaknya aku harus melakukan pemeriksaan dulu terhadapnya. Agar lebih tau lagi, virus kankernya itu sudah menyebar kemana saja. ".
"Hn,besok aku akan membawanya kesini".
"Jam 3 sore." Itachi berucap."Karena aku bekerja dijam itu." Sambungnya.
"Baiklah." Sasuke pun berdiri. "Terima kasih,Aniki".
Itachi terkekeh,adiknya itu benar benar berubah banyak karena mantan juniornya tersebut rupanya."Hn. Kau sudah mau pergi?" Tanyanya.
"Hn"
Itachi ikut berdiri."Ya baiklah,sampaikan salamku buat Sakura."
Sasuke mengangguk."Aku pergi" Sasuke pun pergi berlalu,meninggalkan Itachi yang masih berdiri mematung menatap punggunya dengan tatap lembut.
"Padahal,masih banyak yang ingin aku bicarakan padamu,Ototou"
•
•
Sentuh Hati Ku - JC07
•
.
Shimura Kingdom, Tokyo - Jepang.
Danzo duduk disofa diruang kerjanya,dan didepannya saat ini,Mebuki duduk diseberang sofa. "Kita bicara to the point saja,Mebuki-san" Ujar pria tua tersebut.
"Ya,baiklah. Aku datang kesini hanya ingin bilang bahwa aku menolak pernikahan Sakura dengan putra mu Sai,Danzo-san" Ucap Mebuki tegas.
Danzo terbelalak akan hal itu,pria itu pun berdiri."Apa maksudmu?" Nada bicara pria tua itu meninggi."Bukankah waktu itu kau setuju akan hal ini? Kenapa kau berubah? Apa karena putrimu yang menolak menikah dengan putraku gara gara pria lain yang lebih kaya,begitu?" Tuduhnya sinis. Danzo lalu mendengus dan tersenyum sinis."Bahkan putrimu sekarang kabur bersama selingkuhannya ke Amerika."
Mebuki pun berdiri."Aku minta maaf sebelumnya.Tapi apapun yang kau bilang tentang Sakura,itu tidaklah benar. Aku mengenal baik putriku,dia tak mencintai putramu Sai,begitu pun sebaliknya. Mereka selama ini menerima pertunangan ini,semata mata karenamu,Danzo-san." Mebuki melanjutkan."Seharusnya kau bangga pada putramu,karena dirimu. Ia harus menderita selama ini. Menikah dengan orang yang tak dicintai. Bukankah itu menyakitkan, Danzo-san?" Tanya Mebuki sarkastik.
Danzo terdiam."Aku bangga pada putriku, karena putriku merelakan kebahagiannya untuk orang lain. Tapi aku sebagai ibunya, tak kan rela melihat putriku menderita, sebab itulah sebelum terlambat, aku memutuskan membatalkan rencana pernikahan ini dan memutuskan pertunangan mereka." Ujar Mebuki. Wanita paruh baya itu pun membalikkan badan hendak pergi. Namun sebelum pergi Mebuki kembali berucap. "Asal kau tau, Sakura ke Amerika karena membantu temannya, atau mungkin, gadis bodoh itu pergi karena ingin menunda pernikahan ini."Mebuki menolehkan kepalanya kearah Danzo. "Putramu, merelakan kebahagiannya demi ayah yang sejak dulu tak menyayanginya. Sedangkan kau, demi bisnis. Kau relakan kebahagian putramu sendiri. Sai tidaklah bersalah atas hidupmu dengan dia,Danzo-san" Mebuki pun pergi berlalu setelahnya. Danzo masih mematung ditempat ia berdiri. Pria tua itu tau, maksud Mebuki yang menyinggung tentangnya, ia paham dia yang dimaksud itu siapa. Siapa lagi jika bukan mendiang istrinya. Istri yang tak ia cintai, istri yang dinikahinya karena perjodohan. Istri yang dulu selalu ia abaikan walaupun tengah mengandung anaknya, dan istri yang ternyata sangat mencintainya,ia baru menyadarinya saat wanita itu telah tiada. Danzo menyesal terlambat menyadarinya saat itu,bahwa ia juga mencintai istrinya saat wanita yang selalu berada disisinya itu telah tiada,ia merasa ada ruang kosong yang ia rasakan dalam hatinya saat istrinya itu meninggal. Dan karena rasa bersalah itu,Danzo memutuskan menjauh dari anaknya tapi ia selalu mengawasi putranya itu meski dari jauh. Ia menghukum dirinya selama ini dengan jauh dari anaknya sendiri. Dan seperti ditampar cukup keras saat ia tau,putranya itu ternyata tak membencinya selama ini. Bahkan merelakan hidupnya demi dirinya. Selama ini ia hanya mengira bahwa Sai sama sepertinya. Dan mungkin putranya itu lama kelamaan akan mencintai gadis yang ia jodohkan sama sepertinya dulu, walau itu terlambat. Lagipula ia mengira sejak pertunangan mereka, putranya itu menyukai Sakura, dengan sikap putranya pada Sakura selama ini. Ternyata ia salah. Ia telah buta karena harta dan obsesinya pada bisnis. Dan ia tak kan mengulangi hal yang sama pada putra satu satunya itu. Tapi...
"Tetap saja, aku tak bisa memberikan putra ku satu satunya pada gadis sembarangan." Ucap Danzo dengan wajah bimbangnya.
•••••
Chicago, Amerika Serikat.
Sakura, sudah bangun sebelum subuh. Gadis musim semi tersebut ingin pergi olah raga pagi di taman yang tak jauh dari apartemennya. Gadis itu memakai celana training warna pink dan memakai kaos putih yang ia tutupi dengan jaket pinknya tersebut.
Disaat Sakura pergi untuk berolah raga, Sasuke masih tertidur dikamar diapartemen Sakura. Sepertinya pria itu sangat lelah, terlihat jelas diwajah tidurnya saat ini. Sasuke baru bisa tidur jam 3 pagi semalam, pria tampan dan kaya itu semalaman tak bisa tidur karna memikirkan cara untuk mengajak Sakura kerumah sakit. Kalau hanya mengajak gadis itu kerumah sakit sih Sasuke dengan mudah pasti bisa, tapi masalahnya bagaimana cara membujuk gadis pink itu untuk menjalani pengobatan untuk penyakitnya itu, Yang gadis itu tau alasan Sasuke membawanya ke Amerika karena kakaknya bukan karena Sasuke ingin membuat gadis pink itu sembuh. Bahkan Sakura tak tau jika Sasuke mengetahui penyakitnya itu.
"Ngh... " Perlahan pria Uchiha itu membuka matanya yang terpejam. Sasuke yang baru bangun mengedarkan pandangannya. "Jam 7?" Gumamnya saat melihat jam didinding. Ia pun bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar.
"Sakura" Panggilnya. Tak ada jawaban dari orang yang ia panggil. Sasuke pun mencari gadis itu dikamar yang ditempati gadis itu semalam. "Sakura? " Panggilnya lagi. Kamar gadis itu terlihat kosong. "Kemana dia pergi?" Sasuke bergumam sambil menutup kembali pintu kamar Sakura dan berjalan menuju dapur.
Sasuke, mengambil air minum dikulkas. Setelah meneguk air dingin, pria itu pun merogoh ponselnya yang ada disaku celana yang ia pakai. Sasuke berjalan menuju sofa tamu sambil menekan nomer dilayar ponselnya.
"Itachi-ni" Sasuke mendudukan pantatnya ke sofa sambil bicara pada Itachi diseberang sana. "Aku... "Sasuke nampak sedikit ragu mengatakannya. "..Butuh bantuanmu lagi".
••••••
Tokyo - Jepang.
Seperti biasa,Sai berdiri tak jauh dari toko bunga Yamanaka untuk melihat gadis pujaannya saat ini. Namun toko bunga Yamanaka kini sudah tutup, pria itu tak bis melihat gadisnya ditoko. Sai mendesah dan berbalik hendak pergi.
"Sai-kun" Langkah pria itu pun terhenti saat sebuah suara yang ia kenal memanggilnya. Sai pun berbalik, seorang gadis yang ingin dilihatnya kini berdiri dihadapannya. Sinar rembulan malam ini menjadi saksi pertemuan mereka.
"Ino" Sai berjalan mendekati Ino, gadis itu tersenyum manis padanya.
"Sai-kun, apa kau mau pergi tanpa bertemu denganku terlebih dahulu?" Ino bertanya dengan wajah manisnya, membuat pria dihadapannya gemas melihatnya.
"Hn" Sai mengidikan kedua bahunya acuh dan mencubit pelan pipi kiri Ino.
Ino tersenyum dan memegang tangan Sai yang ada dipipinya. "Aku merindukanmu" Ungkapnya.
Sai mendengus sekaligus terkekeh. "Bukankah tadi pagi kita sudah bertemu?" Sai mengerling jail.
Ino terkekeh dan tersipu malu. "Entahlah, Rasanya aku ingin melihat Sai-kun terus hari ini" Jawab Ino.
Sai membawa gadis itu kedalam pelukanya. "Aku juga." Ungkapnya. Ino membalas pelukan Sai dengan senyum yang mengembang tanpa tau bahwa pria yang memeluknya kini berwajah sendu. "Apapun yang terjadi, Aku akan mempertahankanmu, Ino" Batin Sai seraya mempererat pelukanya.
•
Sentuh Hati Ku : Chapter 12
•
Chicago, Amerika Serikat
Sakura telah kembali ke apartemennya setelah selesai berolah raga pagi. Saat gadis itu masuk ke apartemennya, ia dikejutkan dengan keberadaan Sasuke yang berdiri dengan bersilang tangan didada tak jauh dari pintu. "Astaga Sasuke! Kau mengejutkanku saja" Pekik Sakura kesal.
"Hn" Respon Sasuke acuh.
"Ada apa?" Sakura menatap heran Sasuke.
"Cepat mandi, kita akan sarapan diluar"
Sakura mendesah. "Kenapa tidak sarapan disini saja, aku bisa memasak" Tawar Sakura.
Sasuke menggeleng tanda tak setuju. "Aku tak mau keracunan" Sasuke berbicara sambil berjalam melewati Sakura yang masih berdiri didepan pintu. "Cepat mandi aku akan menunggumu diluar. Aku sudah menyewa mobil" Sambungnya berlalu pergi meninggalkan gadis pink itu yang mematung dengan dahi yang terhiasi sudut siku siku.
"Apa katanya? keracunan?" Sakura mendengus. "Dasar" Gerutunya.
••••••
Tokyo - Jepang.
Setelah mengantar Ino pulang kerumah, Sai kini mengemudikan mobilnya menuju kediaman Haruno. pria itu ingin menemani ibu Sakura yang kini sendirian dirumah bersama pembantunya karena ditinggal putri tunggalnya ke Amerika. Sai ingin menjaga wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri itu saat sahabatnya pergi.
"Sai? Kenapa kau datang larut malam? " Tanya Mebuki heran melihat kedatangan Sai.
"Boleh aku menginap disini, Bi?"
Mebuki tersenyum ramah dan mengerti maksud Sai. "Tentu saja boleh. Masuklah".Sai pun masuk kedalam setelah Mebuki mempersilahkanya.
Pria yang sudah lama berteman dengan Sakura itu, berjalan beriringan dengan Mebuki menaiki tangga menuju lantai dua."Apa kau sudah makan malam, Sai?" Tanya Mebuki.
"Sudah, aku tadi makan malam bersama Ino, bi"
"Aa,begitu ya" Mebuki mengangguk paham."Sakura pernah bilang,Ino gadis cantik yang baik. Bibi jadi ingin bertemu dengannya" Ujarnya.
Sai tersenyum simpul."Hn,lain waktu aku akan mengajak bibi ke toko bunganya untuk bertemu dengannya".
"Kau janji?"
Sai terkekeh."Tentu bibi ku sayang" Sai memeluk Mebuki penuh kasih sayang.
"Baiklah,tidurlah dikamar Sakura seperti biasanya saat kau menginap" Kata Mebuki. Sai mengangguk.
Mebuki hendak menuju kamarnya yang berbeda arah dengan kamar Sakura, Langkahnya terhenti saat Sai memanggilnya.
"Bibi"
Mebuki berbalik dan tersenyum simpul. "Aku tau, tenang saja ayahmu pasti akan menyadari kesalahannya dan merestui hubunganmu dengan Ino".
"Terima kasih, bibi" Sai tersenyum tulus pada wanita paruh baya tersebut.
"Selamat malam, Sai"
"Selamat malam, bibi".
••
•
•
•
Chicago - Amerika Serikat.
Sakura dan Sasuke sarapan pagi disebuah restauran asia yang berada tak jauh dari rumah sakit dimana Itachi bekerja. Sasuke memang sengaja mengajak gadis musim semi itu makan direstauran ini. Sasuke tersenyum tipis saat memandangi gadis itu makan dengan lahapnya.
"Kenapa kau tidak makan?" Tanya Sakura saat menyadari bahwa pria dihadapannya hanya memandanginya saja tanpa menyentuh makananya.
"Hn."
Sakura mendengus mendengar jawaban ambigu dan aneh Sasuke itu. Ia pun meneguk air minum setelah selesai makan. Saat mengusap bibirnya setelah minum dengan tissu dihadapannya, Sakura jadi teringat kejadian semalam. Dimana Sasuke mencium bibirnya diam diam. Wajah Sakura memerah mengingat kejadian itu, jantungnya jadi berdetak tak beraturan. Sasuke menyerngit menatapnya heran.
"Kau kenapa? Wajahmu memerah, kau demam?" Sakura menggeleng.
"Aku baik baik saja" Jawabnya sedikit ketus dan memalingkan wajahnya. Sasuke tersenyum geli melihat tingkah Sakura saat ini. "Benar benar menggemaskan" Batin Sasuke.
"Sakura?" Seseorang yang baru datang tiba tiba memanggil nama gadis itu, Sakura yang merasa namanya dipanggil pun menoleh kearah orang tersebut, begitu juga Sasuke.
Sakura tertegun melihat pria yang ia kenal tersebut dan tak menyangka akan bertemu disini. "Dokter Itachi?"
"Aniki?" Gumam Sasuke.
Pria dewasa yang memiliki mata yang sama dengan Sasuke itu pun berjalan menuju meja dimana Sakura dan Sasuke tempati saat ini. "Hei, Kalian ada disini? Di Chicago? dan saling mengenal?" Itachi bertanya dan berpura pura terkejut melihat Sasuke dan Sakura ada di Chicago dan saling mengenal.
"Dokter, Aku disini diajak Sasuke" Sakura memandang Sasuke yang nampak diam ."Dia ingin bertemu denganmu". Sakura kembali memandang Itachi.
Itachi tersenyum dan menatap Sasuke. "Hn, senang bertemu denganmu,Sasuke" Pria itu pun memeluk Sasuke tanpa aba aba,Adik yang ia peluk mendelik kesal.
"Apa yang kau lakukan?" Bisik Sasuke.
"Ini supaya sandiwara kita lebih nyata,otouto" Itachi melepas pelukannya. Dan tersenyum pada Sakura yang tersenyum kaku melihat dua pria dewasa yang saling berpelukan.
"Sakura,terima kasih sudah mempertemukanku dengan adik kesayanganku ini" Ujar Itachi.
"Tidak masalah" Jawab Sakura. Tiba tiba gadis itu terbatuk,membuat dua pria tampan Uchiha menatapnya khawatir.
"Kau kenapa?" Sasuke segera mengambil gelasnya dan memberikan air minum itu pada Sakura. Sakura mengambil air itu dan langsung meminumnya.
Itachi tersenyum tipis memperhatikan adiknya yang begitu perhatian pada Sakura. Namun senyum itu segera hilang dan berganti sendu saat ia ingat apa yang diderita gadis yang adiknya cintai itu."Sakura" Panggil Itachi.
Sakura menoleh,begitu juga Sasuke.
"Bisa kita bicara berdua?"
Sakura tersentak dan menatap heran Itachi. Ia lekas beralih menatap Sasuke. "Pergilah,Aku akan menunggumu ditaman dekat sini" Kata Sasuke saat tau arti tatapan Sakura padanya.
Dengan ragu Sakura pun menjawab."Baiklah,dokter Itachi".
Itachi dan Sakura pun pergi berdua,Sasuke menatap keduanya.
"Ku serahkan Sakura padamu,Aniki"
•••••••
Sakura dan Itachi kini berdua duduk disofa diruang kerja Itachi. "Kenapa kau membawaku kesini, Dokter Itachi?" Tanya Sakura heran. Katanya pria itu ingin bicara berdua dengannya, kenapa malah membawanya kerumah sakit? apa tidak ada tempat lain lagi untuk bicara?,pikir Sakura.
"Hn, aku akan bicara pada intinya saja. " Ujar Itachi. Sakura mengangguk, sangat jelas gadis itu sudah tak sabar menunggu apa yang ingin dikatakannya. "Apa kau berhenti kuliah karena kau sakit, Sakura?".
Mata emerald gadis itu membulat sempurna. "K-kau ini bicara apa, Itachi-san". Elaknya gugup.
Itachi tersenyum simpul. "Aku seorang dokter, dan aku tau itu dari profesor mu, Sakura" Itachi sengaja berbohong.
Sakura menegang. ia menundukan kepalanya dan meremas ujung roknya. "Jangan beritau ini padanya" Ucap Sakura.
Itachi mengerutkan dahi. Dan sedetik kemudian ia tau 'dia' yang dimaksudnya pasti Sasuke, adiknya. "Hn, baiklah" Jawab Itachi."Sudah mencampai tingkatan berapa? " Tanya Itachi kemudian. Pria itu menatap sedih Sakura yang duduk didepannya.
"Stadium 2" Sakura menghela nafas, ia mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Itachi. "Jangan khawatir, aku bisa bertahan sampai saat ini".
"Sampai kapan kau mampu bertahan? Kanker otak bukanlah penyakit yang sepele, Sakura" wajah Itachi berubah serius kali ini.
"Aku tau itu. "
"Tentu kau tidak tau, jika kau tau kau akan bersedia menjalani kemoterapi atau operasi,bukan?" Sindir Itachi.
Sakura membuang muka."Aku punya alasan untuk itu" Elaknya lagi.
"Apa kau tidak mau sembuh?"
"Tentu saja aku mau" Nada bicara Sakura sedikit meninggi. Itachi diam mendengarkan gadis itu melanjutkan ucapannya."Ibuku akan sangat menderita jika aku mati" Tetesan air mata mulai membasahi pipi gadis itu."Aku...jika aku melalukan operasi,belum tentu akan berhasil dan aku takut itu." Sambungnya.
"Bagaimana dengan kemoterapi?"
"Ibuku akan tau penyakitku nanti jika aku menjalani kemoterapi" Sakura menyeka air matanya kasar."Aku tidak ingin ibuku tau."
Itachi menghela nafas panjang."Aku tau,kemoterapi akan membuat pasien mengalami kerontokan rambut sebagai efek kemoterapi itu sendiri. Tapi jika kau sembunyikan ini terus dan tidak melakukan apapun pada penyakitmu itu,kau tak kan mampu bertahan lebih lama lagi,Sakura" Terang Itachi.
Sakura meremas lebih kencang ujung roknya."Aku..." suara gadis itu melemah.
"Aku akan membantumu" Potong Itachi. Gadis musim semi itu menatap tak percaya."Percayalah padaku,Sakura." Tukasnya.
"Senior"
Disisi lain,Sasuke duduk sendirian dibangku taman dimana tak jauh darinya duduk ada sebuah kolam dengan air mancur ditengahnya. Banyak koin didalam kolam tersebut. Mata onyx Sasuke memperhatikan seorang anak kecil berambut pirang melempar koin kedalam kolam tersebut. Setelah itu,anak kecil berusia 15 tahun itu mengepalkan kedua tangannya kedada sambil memejamkan matanya. Anak kecil pirang itu sedang berdoa ternyata. Karena penasaran Sasuke menghampiri anak lelaki berusia 15 tahun itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Sasuke yang kini berdiri disamping anak lelaki itu.
Anak kecil itu pun membuka mata dan menoleh kearah Sasuke."Aku sedang memohon." Jawabnya polos.
"Memohon?"
Anak itu mengangguk."Kau tidak tau? orang Chicago sangat percaya tentang ini."
"Benarkah,apa itu?"
"Jika kau melempar koin kedalam kolam dan koin itu masuk kedalam sebuah tempat kosong didalam air kolam yang ada disana,maka segeralah memohon,permohonanmu akan dikabulkan nanti" Jelas anak kecil tersebut.
Sasuke mendengus."Konyol. Aku tidak percaya itu".
"Tapi aku percaya. Asal itu bisa membuat ibuku sembuh" Ujar anak lelaki itu lagi. Anak lelaki itu lalu merogoh koin disaku celananya dan memberikannya pada Sasuke. "Ambillah" Setelah memberikan koin pada Sasuke, anak kecil itu pun pergi, sedang Sasuke mematung dan menatap telapak tangannya yang terdapat satu buah koin.
Adik dari Itachi itu pun menggenggam erat koin tersebut dan berbalik memandangi kolam tersebut. Sasuke mulai menutup matanya dan mengatur nafas sebelum melempar koin tersebut kedalam air kolam. Setidaknya dicoba, tidak ada salahnyakan?, pikir pria itu.
Setelah melempar koin itu kedalam kolam, Sasuke mulai berdoa. Untuk pertama kalinya dan untuk gadis musim seminya, Uchiha Sasuke melakukan hal yang di anggapnya konyol dan mempercayai mitos seperti ini. Apapun itu pria Uchiha tersebut akan melakukannya demi Sakura, asal gadis itu bisa tetap bersamanya dan berada disisinya.
"Aku mohon, buatlah Sakura menerima tawaran Itachi-nii"
"Baiklah, kapan pengobatan itu akan dilakukan?"
"Besok lusa."
Bersambung...
