Matahari sudah mulai meninggi, panas sangat dirasakan oleh Sasuke saat ini yang masih duduk sendirian dibangku taman. Beberapa menit kemudian Sakura datang.

"Sasuke" Panggilnya. Pria itu pun menoleh dan berdiri setelah melihat gadis yang ia tunggu sudah datang.

"Kau lama sekali" Ucap Sasuke. Wajah pria itu nampak kesal karena lama menunggu, namun saat ia melihat raut wajah Sakura yang berbeda,ekspresi wajahnya pun berubah menjadi khawatir.

Sakura tersenyum simpul, raut wajahnya tak seperti tadi pagi yang nampak segar, saat ini wajahnya sedikit pucat dan terlihat gelisah. Sasuke berjalan mendekati gadis itu dan membawa tubuh gadis musim itu kedalam dekapannya. Sasuke tau jika gadis yang ia rengkuh saat ini sedang bimbang,pria itu ingin memberi dukungan buatnya.

Dengan lembut Sasuke mengelus belakang kepala Sakura yang dipeluknya,membuat Sakura menjadi nyaman dan tenang atas perlakuan Sasuke saat ini. Tanpa sadar Sakura membalas pelukan Sasuke dan menyamankan diri dalam dada bidang pria raven tersebut.

"Aku akan selalu disisimu,Sakura" Batin Sasuke. Pria Uchiha tersebut lalu mencium pucuk kepala gadis itu.

Disclaimer : M.K

Pairs : Sasuke ,Sakura

Story : JuliaCherry07

Sentuh Hati Ku Chapters 13

Don't Like ,Don't Read

"Sasuke"

"Hn?"

"Ayo kita kepantai"

Sasuke menatap heran gadis yang duduk disamping ia mengemudi. Ya,setelah berpelukan mereka memutuskan untuk pergi dari taman itu dan sekarang mereka ada didalam mobil yang Sasuke sewa sebelumnya.

"Nanti sore saja,Sakura." Sakura nampak kecewa dengan jawaban Sasuke,membuat pria itu menghela nafas."Cuaca siang ini panas,itu tidak baik. Lihatlah wajahmu,kau terlihat pucat." Sambung Sasuke.

"Aku baik baik saja"

"Hn"

"Lalu kita akan kemana sekarang?"

"Aku akan mengantarmu kembali ke apartemenmu"

"Lalu kau?" Sakura bertanya dengan raut ingin tau.

"Tentu saja bertemu Itachi. Kau lupa tujuanku datang kesini?"

"Aa,begitu ya. Baiklah" Sakura membuang muka menatap pemandang diluar."Sendirian lagi diapartemen,membosankan" Beonya dan Sasuke terkekeh mendengarnya. Satu hal yang pria itu tau dari Sakura, bahwa gadis itu tak suka sendirian dan Sasuke berjanji pada dirinya bahwa ia akan selalu mendampingi gadis itu disaat gadis itu berjuang melawan kanker otaknya.

Northwestern ,Chicago - Amerika

"Bagaimana? " Tanya Sasuke pada Itachi. Saat ini mereka duduk ditaman rumah sakit. Itachi mengenakan baju bebasnya karena memang tugas kerjanya dirumah sakit baru nanti jam 3 sore.

"Dia setuju" Itachi tersenyum.

Sasuke tersentak. "Benarkah?" raut wajah Sasuke nampak tak percaya. Itachi mengangguk, membuat adiknya lega. "Syukurlah"

"Lusa,aku akan mulai memeriksanya. Semoga berjalan lancar"

"Hn, Arigatou. Aniki"

"Sasuke"

"Hn?"

Itachi memandang adik lelakinya dengan tatapan tenang dan lembut. "Bagaimana, kabar ibu dan ayah?". Sasuke sedikit terkejut, pria itu pun tersenyum simpul didepan kakak yang sangat ia rindukan itu.

"Mereka baik. Pulanglah jika kau merindukan mereka"

Itachi menunduk sejenak dan terkekeh. "Mungkin lain kali." Ia pun mendongak dan tersenyum lembut. "Sampaikan maafku pada mereka, Sasuke".

"Hn, Aku tidak janji"

Itachi mendengus mendengarnya. "Dasar". Mereka pun sama sama terkekeh.

••••

Sentuh Hati Ku

••••

Sakura menunggu Sasuke pulang diapartemenya. Gadis itu nampak jenuh diapartemennya sendirian. Entah kenapa dirinya kini mulai membutuhkan pria itu berada disisinya. Pria itu bagaikan candu buatnya sekarang. Ada ruang kosong saat Sasuke tak ada disisinya saat ini. Sakura menjadi binggung dengan perasaanya sekarang. Apa karena ciuman dan pelukan pria itu, pikirnya.

Sakura memerah mengingat kejadian itu dan menggeleng. "Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya". Gadis itu mengusap kasar wajahnya.

Clekk

Terdengar suara pintu depan yang terbuka dan kembali tertutup. Sasuke muncul dihadapannya saat ini. Sakura menyambut kepulangan pria raven itu dengan wajah cemberut. "Kau lama sekali.".

Sasuke mendekat dan duduk disamping gadis itu. "Kau menungguku? ".

"Tentu saja, bakka" Kesalnya, Sakura melanjutkan. "Aku ingin kepantai sekarang."

"Hn, Baiklah. Tapi aku mau mandi dulu" Pria itu lantas berdiri dan menuju kamarnya. Sakura tersenyum menatap kepergian Sasuke. Perasaanya kini senang bisa melihat pria itu. Perlahan tangannya meremas dadanya yang nampak sesak. Raut wajahnya berubah sendu.

"Dia tak boleh tau tentang perasaanku. Itu hanya membuatnya menderita." Gumamnya lirih.

Saat kau diberi cobaan hidup, disitu kami-sama akan mengirim seseorang untuk membantumu, bukankah begitu?.

••••••

North Avenue Beach, Chicago - Amerika Serikat.

Waktu menunjukkan jam 5 sore. Sakura dan Sasuke menikmati segarnya udara sore ditepi pantai North Avenue Beach, salah satu pantai terbaik dichicagoMereka berdua duduk beralasan pasir saat ini sambil memandangi ombak yang bergerak indah dengan pantulan cahaya matahari sore. Sasuke menoleh kesamping dimana gadis musim seminya menutup mata sambil tersenyum. Sasuke lalu merogoh ponselnya. Pria itu lantas mengambil obyek fotonya yang menurutnya lebih cantik daripada pemandangan pantai.

Saat Sakura mendengar suara jepretan kamera ia langsung membuka mata dan menoleh. "Apa yang kau lakukan?" Sakura tau Sasuke mengambil fotonya.

"Ayo kita foto bersama" Sasuke lantas langsung merangkul bahu Sakura dan selfie berdua. Di foto itu nampak Sakuda yang menatap Sasuke dengan ekspresi tertegun sedangkan Sasuke tersenyum tipis menatap kamera. Lucu sekali.

"Hapus fotonya, aku tidak suka" Sakura mencoba merebut ponsel Sasuke namun pria itu dapat mengelak.

"Kita foto lagi" Ajak Sasuke lagi. Dan kali ini membuat Sakura shock dengan tindakan tiba tiba Sasuke. Pria itu mencium pipinya saat foto. Lagi lagi hasil foto itu menampilkan wajah Sakura yang tertegun. Shannarooo!.

Hari sudah mulai malam, Sakura dan Sasuke masih ada di tepi pantai. Gadis itu masih ingin ditempat ini katanya. Udara mulai dingin dan itu membuat Sasuke khawatir pada kondisi kesehatan Sakura. Sasuke memberikan jaket yang ia gunakan pada Sakura.

"Pakailah, udara semakin dingin"

Sakura tersenyum simpul. "Terima kasih" Sakura tertegun saat Sasuke membawa tubuhnya dalam rengkuhannya. "A-apa yang kau lakukan?" Wajahnya seketika tersipu.

"Membuatmu hangat" Jawab Sasuke datar.

"Tidak perlu. Aku tau,kau hanya ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. "Sakura berusaha melepaskan diri namun Sasuke semakin mempererat. "Lepaskan, Uchiha! ".

"Hn, Aku juga kedinginan, Sakura."Wajah Sasuke nampak menikmati pelukanya. Sakura tak lagi meronta, gadis itu sekarang sadar Sasuke pasti kedinginan karena jaketnya ia berikan padanya.

"Kalau begitu, ayo kita pulang" Ajak Sakura pada akhirnya.

"Hn. Sebentar saja. Aku ingin seperti ini denganmu". Sakura nampak diam. Sasuke melepas pelukannya, wajahnya sangat dekat dengan Sakura, Tangannya membela wajah gadis itu lembut membuat Sakura tanpa sadar memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Sasuke. Perlahan Sasuke mencium bibir ranum Sakura. Dengan lembut bibir pria itu memangut bibir Sakura membuat gadis itu mendesah.

"Ngh... "

Sakura bisa gila hanya dengan ciuman pria itu. "Lama lama aku benar benar jatuh cinta padanya" Batin Sakura. Sasuke tersenyum tipis didalam ciumanya saat gadis itu mulai membalas ciumannya.

Bolehkah ia berharap, jika Sakura sudah mulai membuka hati untuknya?.

Sentuh Hati Ku

Tokyo - Jepang.

Sai, tak bisa tidur padahal hari sudah mau menjelang pagi. Pria itu bangkit dari tidurnya dan duduk ditepi ranjang Sakura. Pria itu memang sering tidur dikamar Sakura jika menginap dirumah Haruno dan Sakura sendiri akan dengan setengah hati mengalah dan pindah kekamar tamu.

Sai mendesah pelan, ia terus memikirkan hubungannya dengan Ino dan juga ayahnya. Mebuki memang bilang jika ini akan baik baik saja. Namun Sai sangat mengenal baik ayahnya, ayahnya tak mungkin langsung menerima Ino yang hanya dari keluarga biasa saja, apalagi gadis itu seorang yatim piatu. Apapun yang terjadi Sai akan selalu mempertahankan Ino, gadis itu hanya memiliki dirinya saat ini.

"Maafkan aku, Ayah" Gumam Sai. Pria itu lalu melihat bingkai foto yang ada diatas nakas dekat ranjang. Senyum simpul terukir dibibir pria itu. "Gadis musim semiku, Kapan kau pulang?" Sai mengambil bingkai foto dimana ia dan Sakura tersenyum bahagia didalam foto tersebut semasa sekolah. "Aku harap, kau baik baik saja disana. Dan maaf jika kepergianmu saat ini karna diriku" Tukasnya sendu.

Sai mengembalikan bingkai foto itu pada tempatnya. Ia lalu melirik ponselnya yang ada diatas nakas. Sai mengecek ponselnya dan ternyata baterai ponsel tinggal 25 persen. Ia lalu mencari charger guna mengisi baterai ponselnya, saat ia mencari charger dilaci dimana Sakura sering menyimpan charger cadangannya dilaci, Sai menemukan sebuah botol obat yang isinya sudah kosong. Pria Shimurai itu mengerut dan mengambil botol obat tersebut.

"Pasti ini obat sakit kepala Sakura" Gumamnya sambil membolak balikkan botol obat tersebut. "Aku heran, kenapa akhir akhir ini dia sering sakit kepala,apa anemianya separah itu?". Sai mendesah dan mulai melangkah menuju tempat sampah yang ada didekat meja rias gadis itu,namun saat ia hendak membuang botol obat itu kedalam tempat sampah gerakan tangan pria itu terhenti. Mata kelamnya membulat melihat isi tempat sampah tersebut.

"Banyak sekali botol obatnya. A-apa Sakura ketergantungan pada obat ini?" Sai heran."Sebenarnya obat apa ini?" Dan Sai memutuskan untuk menyimpan kembali botol obat kosong yang masih ada ditangannya, Besok ia akan bertanya pada Tsunade, dokter keluarga Haruno untuk mempertanyakan obat tersebut.

Dan Sai,Mempunyai firasat buruk akan hal ini dan berharap sahabat baiknya yang sudah ia anggap adiknya itu baik baik saja.

••••••

Chicago - Amerika Serikat.

Hari dimana Sakura harus bertemu Itachi untuk melakukan pemeriksaan pun tiba. Sakura pergi kerumah sakit seorang diri setelah beralasan pada Sasuke bahwa ia pergi kekampus untuk bertemu teman lama. Gadis itu tidak tau saja bahwa pria raven itu sudah tau bahwa ia pergi kerumah sakit untuk menjalani pengobatan. Sasuke nampak biasa saja dan terkekeh saat gadis itu sedikit gugup saat ijin padanya. Satu hal lagi yang Sasuke tau bahwa gadisnya itu tak pandai berbohong. Gadisnya, eh?

Sakura akhirnya sampai di Northwestern Memorial Hospital dimana mulai hari ini ia akan menjalani tahap pertama pengobatan kanker otaknya. Sakura segera menuju ruangan Itachi setelah sebelumnya ia berbicara pada perawat yang bertugas diresepsionis. Sakura mengetuk pintu ruangan yang terdapat name tag Dokter Itachi U. yang ada dipintu tersebut. Itachi yang berada diruangannya yang sudah menunggu kedatangan Sakura pun segera menyuruh gadis itu masuk.

"Duduklah, Sakura" Sakura pun duduk dikursi yang ada didepan meja kerja Itachi setelah pria itu mempersilahkannya duduk. "Apa kau sudah siap?" Tanya Itachi.

Sakura mengangguk dan sedikit meremas jemari tangannya, ia merasa gugup. Itachi dapat melihat kegugupan diwajah pasiennya itu. "Jangan khawatir. Santai saja, aku hanya akan melakukan Magnetic Resonance Imaging (MRI) terlebih dahulu sebelum aku melakukan pengobatan padamu."Ujar Itachi.

Sakura tau itu karena dia juga dulu seorang calon dokter bedah. Tahap tahap apa saja yang harus ia lakukan sebagai seorang pasien pengidap kanker otak pun ia tau. Setelah melakukan MRI ia pasti akan melakukan Radioterapi atau Radiosurgery. Sakura menghela nafas panjang, ini akan jauh lebih mudah bila ia setuju melakukan operasi pembedahan. Namun apa boleh buat jika ia operasi pemulihan kondisi tubuhnya pasti lama dan itu akan membuat ibunya khawatir, apalagi kemungkinan berhasilnya hanya 60 persen.

"Ayo, kita lakukan sekarang. dokter Itachi"

Disisi lain, Sasuke ternyata juga berada dirumah sakit. Pria itu berada lobi rumah sakit. Jemarinya sibuk mengetik layar ponselnya. Setelah ia mendapat balasan dari orang yang ia kirim pesan, pria itu nampak sedikit gugup. Sasuke pun berdiri dan beranjak dari tempat itu menuju ruangan pemeriksaan MRI.

Aku akan selalu berada disisimu, Sakura".

Tokyo - Jepang.

Mebuki,entah kenapa sejak semalam hingga siang ini perasaannya tidak enak. Hatinya gelisah memikirkan puterinya yang sudah hampir 5 hari pergi ke Amerika, padahal puterinya itu bilang hanya 3 hari saja disana. Ia pun memutuskan untuk menghubungi puterinya.

Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya puteri semata wayangnya itu pun menjawab panggilan telephonenya.

"Ibu?"

"Ya, ini ibumu. gadis nakal" Mebuki merengut kesal bicara pada Sakura diseberang sana."Apa kau sudah melupakan ibu mu,heh? kapan kau pulang!".

"Aku akan pulang ibu. Segera" Jawab Sakura diseberang sana. Mebuki dapat mendengar nada suara puterinya yang nampak lesu.

"Apa kau baik baik saja?"

"Ya.".

"Jangan mencoba membohongi ibu,Sakura." Mebuki nampak tak percaya."Pulang besok,atau ibu yang akan kesana" Tegasnya.

Diseberang sana Sakura nampak menghela nafas panjang dan terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Aku akan pulang,dua hari lagi.Ibu"

Mebuki tersenyum lega setelah mendengar jawaban dari puterinya tersebut.

Chicago - Amerika Serikat.

Sakura menutup telephonenya setelah menjawab tuntutan ibunya yang menginginkan ia pulang ke jepang. Gadis itu mendesah panjang dan memijat pelipisnya.

"Kau tak bisa pulang, Sakura"

Sakura menolehkan kepalanya kesumber suara yang menginterupsi. Sasuke berdiri didepan pintu kamarnya. Sakura yang sedang duduk dikursi sofa tamu pun menatap pria itu bingung. "Kau menguping ya?".

Sasuke berjalan mendekat. "Kita tak kan pulang dalam dua hari ini" Tegasnya.

Sakura lantas segera berdiri. "Apa maksudmu?" Gadis itu nampak mulai kesal.

"Kita akan pulang setelah urusanku disini selesai."

Sakura mendecih. "Bukankah urusanmu sudah selesai? dan kau sudah bertemu dengan Itachi-san bukan? ".

"Hn. "

"Lalu? apa masalahmu?"

"Intinya kau dan aku akan tetap disini hingga waktu yang ku tentukan."

Sakura memijat pelipisnya, ia heran kenapa dengan pria didepannya saat ini yang biasanya bersikap manis dan penurut selama disini tapi sekarang pria ini menjadi dingin dan menyebalkan seperti dijepang. Sikap pria ini gampang sekali berubah rupanya.

"Aku akan tetap pulang dua hari lagi. Ibuku merindukanku dan aku harus pulang. " Sakura melangkah melewati Sasuke ."Jika kau ingin tetap disini tetaplah disini" Langkah gadis itu terhenti saat salah satu tangannya digenggam Sasuke. Sakura menoleh dan menatap pria itu heran. "Apa?".

Wajah Sasuke memandang serius gadis didepannya."Hasil pemeriksaanmu menyatakan... " raut Sasuke tegas namun matanya terlihat sendu dan nampak kesedihan mendalam di kedua onyxnya tersebut. "...Kanker otakmu semakin menyebar, Sakura".

Sakura tersentak dengan mata membulat sempurna. Ia terkejut, darimana bisa pria itu tau tentang penyakitnya dan juga hasil pemeriksaanya yang ia lakukan kemarin?,pikirnya.

"Apa dokter Itachi yang memberitahumu?"

"Tidak." Jawab Sasuke, dahi Sakura mengerut. "Aku sudah tau lama, tentang penyakitmu. Sakura". Dan Sakura kembali tercengang mendengar ucapan Sasuke. Gadis itu bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air mata perlahan jatuh kedua sisi pipinya. Bukan karena hasil pemeriksaanya atau karena Sasuke sudah tau tentang penyakitnya yang membuat gadis itu menangis, Sakura mengira bahwa Sasuke selama ini bersikap baik dan lembut padanya karena pria itu kasihan padanya, bukan karena pria itu menyukainya seperti apa yang pria itu pernah ungkapkan dengan perlakuannya selama ini padanya. Ia kecewa.

Tapi, bukankah seharusnya ia senang jika pria itu tak menyukainya? dan tak mengetahui perasaanya pada pria itu yang mulai tumbuh semakin dalam.

BRUUUKKKKK

"SAKURA!!!"

Sasuke merengkuh tubuh gadis itu sebelum jatuh kelantai. Gadis merah muda itu tak sadarkan diri masih dengan sisa air mata yang masih membasahi kedua pipinya. Sasuke nampak khawatir menatap wajah gadis didekapnya yang tak sadarkan diri tersebut.

Bersambung...