Disclaimers : Masashi Kishimoto

Story by JC07

Pairs : Sasuke , Sakura

Chapters : 14

Warn : Typo's, Gaje dll.

- Happy Reading -

Northwestern Memorial Hospital, Chicago - America Serikat.

"Ngh... " Sakura mulai tersadar dari pingsannya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah ruangan yang serba putih dan berbau obat. Ia yakin ini adalah rumah sakit. Sasuke pasti yang membawanya kesini. Kepalanya masih terasa berat dan sedikit pusing. Perutnya juga terasa sedikit mual. Sakura tersentak karena tersadar akan sesuatu, pria itu. Sasuke Uchiha, ia ingat sekarang alasanya ia pingsan karena pria itu, karena adik Itachi itu telah tau tentang dirinya. Kenyataan tentang hidupnya yang diambang hidup dan mati.

Sakura bangkit dari tidurnya dan menyandarkan punggungnya dibesi ranjang rumah sakit.

"Kau sudah sadar?"

Gadis itu menoleh, ia diam tak menjawab pertanyaan Sasuke yang baru masuk ruang inapnya. Pria raven bermata onyx itu pun mendekat dan duduk ditepi ranjang. Mata onyxnya memperhatikan wajah Sakura yang masih terlihat pucat. Gadis yang ditatapnya hanya diam dan membuang muka. Sepertinya ia masih marah dengan Sasuke.

"Kau marah padaku?"

Diam. Sakura masih enggan berbicara dengan Sasuke. Ia masih marah pada pria itu yang ternyata selama ini mengetahui penyakit kankernya dan tujuannya membawanya ke Amerika ternyata karena ia ingin mengobatiku. Sakura tau niat pria ini baik, tapi ia tak senang jika dibohongi dan yang paling membuatnya marah adalah karena pria yang semakin lama semakin menarik hatinya ini mengatahui kekuranganya. Ia tak ingin dikasihani dan terlihat lemah didepan Sasuke.

Sakura, marah dengan dirinya sendiri.

"Aku peduli padamu, aku ingin kau tetap hidup, Sakura".

Sakura tertegun dan menatap Sasuke, mata pria itu, Sakura yakin bahwa pria raven itu tulus mengatakannya dan tak ada kebohongan dari sorot mata tajam tersebut. Sebelah tangan Sakura mencengkram selimut putih itu erat.

"Untuk apa kau melakukan ini semua, Sasuke? " Tanyanya tanpa menatap pria tersebut. Gadis itu menunduk.

PLUK

Sakura tersentak dan mengangkat kepalanya saat sebuah tangan menyentuh kepalanya. "Karena aku mencintaimu, Sakura" Ungkap Sasuke.

Entah kenapa air mata Sakura jatuh tanpa ia kendalikan,bibir yang terlihat pucat dan kering itu bergetar. "Jangan sembarangan mengatakan cinta, jika itu hanya rasa kasihan." Ujar Sakura.

"Hn" Jawab Sasuke ambigu. Sakura terkekeh, jadi benar itu hanya rasa kasihan, eh? Pikir Sakura dalam hati.

"Aku tak butuh rasa cinta berdasarkan rasa kasihan, Uchiha Sasuke"

"Hn, aku tau itu Haruno Sakura"

"Baguslah" Kata Sakura ketus, jujur ia terlihat sedih dan kecewa karena ternyata benar, pria itu hanya kasihan bukan cinta. Tapi kenapa ia kecewa dan sedih? Bukankah ini bagus dan ia mau? Dengan begini ia tak kan membuat orang ia cintai terluka?

Tunggu!

Orang yang ia cintai? Apa ia benar benar mulai mencintai pria Uchiha ini? Rasanya kenapa sesakit ini, kami-sama.

"Uchiha Sasuke, tak pernah mengasihani orang lain, bahkan memperdulikan orang lain, itu kurang kerjaan." Ujarnya.

"Apa katamu? Kurang kerjaan?" Dahi lebar gadis itu mengerut dalam.

"Hn"

"Lalu,kenapa kau mengasihani ku dan peduli padaku sampai kau membawaku ke Amerika,hn?" Sungut Sakura.

"Sudah ku bilang,Karena aku mencintaimu bodoh!"

Sakura tertegun. "Aku tidak bodoh,Uchiha!". Gadis itu mulai emosi.

"Hn,kalau kau tak bodoh kenapa kau tak mengerti?" Sasuke mendekatkan wajahnya pada gadis dihadapanya hingga gadis itu bisa merasakan hembusan nafas pria itu. "Aku mencintaimu bukan karena rasa kasihan". Wajah Sakura merona,mata emeraldnya berkedip kedip tanda ia gugup. Sasuke melanjutakan "Hiduplah untukku,Sakura".

Dan,sebelum gadis itu sempat menjawab. Bibir gadis itu telah disentuh oleh bibir Sasuke. Ciuman Sasuke terasa lembut dan memabukan. Sakura memejamkan kedua matanya.

"Kami-sama, bolehkah aku mencintainya? bolehkah aku hidup untuknya? aku ingin hidup."Air mata jatuh dibalik kedua matanya yang tertutup.

- Sentuh Hati Ku -

Konoha Hospital ,Tokyo - Jepang.

Sai, berada diruang Tsunade saat ini. Ia ingin tau tentang penyakit yang disembunyikan sahabat pinky nya selama ini.

"Aku tau, Sakura melarangmu mengatakanya. Tapi aku hanya ingin memastikanya saja. Kau tinggal menjawab ya atau tidak" Tegas Sai.

"Kau memerintahku, anak muda?" Dokter Tsunade terlihat kesal dengan sikap Sai. Tsunade tau, Sai peduli pada Sakura tapi sebagai dokter ia juga memegang teguh rahasia pasien.

"Aku tidak memerintahmu, kau hanya jawab saja. itu saja" Sai lantas mengeluarkan sebuah bekas botol obat yang ia temukan ditempat sampah kamar Sakura. "Apa ini obat untuk penderita kanker? Ya atau tidak? ". Tanya Sai.

"Aku tidak ingin menjawabnya, Sai. Pulanglah" Elak Tsunade.

"Ini tidak akan melanggar sumpah doktermu, kau tenang saja" Sai seakan mengerti apa yang membuat Tsunade enggan memberitahunya.

Tsunade menghela nafas. "Kau, tanyakan saja pada tunanganmu itu. Maaf tapi aku harus segera pergi. Ada operasi penting saat ini" Tsunade berdiri dari duduknya. Sai ikut berdiri dan mendengus.

"Baiklah, aku mengerti. Tapi aku tau satu hal. Jika kau tak mau memberitahu ku, itu berarti penyakit Sakura sangatlah serius bukan?" Sai terlihat khawatir akan sahabatnya tersebut.

"Aku hanya bisa bilang. Jaga Sakura baik baik dan buat ia bahagia."

Sai duduk sendirian dan melamun disebuah caffe favoritnya bersama Ino dulu saat masih kuliah. Banyak kenangan indah dicaffe ini saat ia bersama Ino dulu. Ia jadi merindukan gadisnya itu. Seharian ini ia tak datang ke toko bunga gadis itu karena sibuk memikirkan Sakura. Bahkan ia tak datang kekantor. Sai menghela nafas pelan.

"Gadis musim semi, sebenarnya kau sakit apa? jangan membuatku khawatir" Gumamnya. Sai sangat menyayangi Sakura, sejak kecil mereka berteman dan Sai sudah menganggap Sakura sebagai sahabat sekaligus adik perempuannya. Pria Shimura itu lantas berdiri dan keluar dari caffe itu dan memutuskan bertemu Ino. Ia rindu dengan kekasihnya dan mungkin dengan bertemu dengan Ino pikirannya sedikit tenang. Tapi sebelum bertemu Ino, Sai mampir sebentar kesebuah tempat, dimana tempat itu akan menjawab rasa penasarannya tentang penyakit Sakura. Jika Tsunade dan Sakura tak mau memberitahu itu tak mengapa, karena masih ada cara lain untuk mencari tau sendiri. Dan ditempat inilah ia akan tau obat apa yang selama ini diminum Sakura.

Northwestern Memorial Hospital, Chicago - America Serikat.

Sasuke menunggu diluar ruang inap Sakura karena saat ini gadis itu tengah diperiksa kakaknya, Itachi.

Didalam ruangan terlihat Sakura yang tengah selesai diperiksa dokter Itachi.

"Kau harus segera melakukan Radioterapi, Sakura. Ini tak bisa ditunda lagi." Ujar Itachi.

"Tapi aku akan segera pulang kejepang dua atau tiga hari lagi, dokter Itachi"

Itachi nampak terkejut mendengarnya. "Tapi ini sudah tak bisa ditunda lagi, mengertilah. Sasuke sangat berharap padamu" Bujuknya.

Sakura menunduk sedih. "Aku tau, Aku juga ingin, tapi Ibu...".

"Aku akan membantumu bicara pada ibumu, bagaimana?" Potong Itachi. Sejujurnya selain ia peduli pada rekan juniornya ini ia juga tak mau melihat usaha Sasuke sia sia dan ia juga tak mau melihat adiknya kehilangan orang yang ia cintai.

"Bagaimana caranya?"

"Kau tenang saja, bukankah dulu ibumu pernah bertemu denganku satu kali saat ujian masuk fakultas kedokteran dulu?"

"Aa, dokter benar. Saat itu ibuku datang berkunjung karena ingin mendukungku. Lalu?" Sakura mulai penasaran.

Itachi tersenyum penuh arti. "Serahkan padaku, dan sekarang beri aku nomer ponsel ibumu".

Tokyo - Jepang

Naruto berjalan dikoridor perusahaan Uchiha Corp. milik sahabatnya yang entah sekarang ada dimana dan bagaimana kabarnya pria Uchiha itu sekarang. Sesungguhnya ia kangen sahabat dinginya bermuka datar itu. Ditelphone tidak diangkat dan dikirim pesan pun tak membalas. padahal

Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan pada Sasuke dan itu sangat penting.

Naruto bertemu dengan sekertaris Sasuke. wanita berparas cantik itu memberitahu bahwa bosnya saat ini tengah berada di Amerika.

"Amerika? kapan dia perginya? "

"Hm.. mungkin sekitar 5 hari yang lalu" Jawab sekertaris.

"Apa untuk perjalanan bisnis?"

"Tidak. Ia pergi untuk urusan keluarga kata beliau"

Naruto nampak terperangah. "Keluarga? apa ada hubunganya dengan Itachi-nii?" Gumamnya. Sekertaris itu mengedikan bahunya.

"Aarghhhh teme sialan, padahal aku ingin memberitau bahwa Sakura-chan ku akan menikah sebentar lagi, ini tak bisa dibiarkan!!!!" Teriak Naruto frustasi.

Hei, Naruto. kau tenang saja. Sakura aman dan tak kan menikah karena ia sedang bersama Sasuke saat ini. Mungkin sedang kencan (?).

Chicago - America Serikat.

Sakura dan Sasuke kini berada didalam mobil. Sasuke menepikan mobilnya ditepi jalan saat Sakura bilang ia sudah memutuskan untuk melakukan pengobatan disini dan tak kan kembali kejepang.

"Aku tak salah dengarkan?"

"Ya, Kau tak salah dengar" Sakura menyakinkan.

Sasuke terlihat senang dan tersenyum penuh kelegaan. Ia lantas memeluk gadis itu erat. "Terima kasih" Sasuke yakin ia sangat jarang mengucapkan kata terima kasih dan tersenyum senang seperti ini sepanjang hidupnya, ia seperti tak menjadi dirinya sendiri saat bersama gadis yang saat ini ia peluk. Sungguh, Gadis merah muda ini mengubahnya, menyentuh hatinya yang paling dalam.

Sakura membeku. Ia tak menyangka pria pecinta bisnis ini akan sesenang ini hanya karena dia mau melakukan Radioterapi dan tak kan pulang kejepang. Begitu cintakah pria Uchiha ini padanya?, Pikir Sakura senang.

"S-Sasuke, Berhentilah mengambil kesempatan dalam kesempitan,bodoh!" Sakura mendorong tubuh Sasuke. Aa,tipe cewek tsundere eh Sakura?.

"Aku tak mengambil kesempatan dalam kesempitan,Apa salahnya memeluk kekasih sendiri,hn?" Sasuke menyeringai. lihat, wajah Sakura langsung merona semerah tomat favoritenya.

"S-siapa kekasihmu?" Sakura gugup.

"Siapa lagi memangnya,hn?" Goda Sasuke.

"Dasar bodoh" Sakura kesal dan membuang muka. Ia marah dan itu menggemaskan bagi Sasuke.

"Ayo kita kencan" Ajak Sasuke tiba tiba. Sakura menoleh.

"Kau gila ya?"

"Hn. Aku tergila gila padamu".

Ya ampun, Sakura benar benar tak paham,kenapa Sasuke yang terkenal dingin jadi pria gombal seperti ini.

"Hei,Kau seperti ini pada setiap perempuan ya?" Sakura akan menendang pantat Sasuke jika itu benar.

"Tidak" Wajah Sasuke kini nampak serius. "Kau lah yang membuatku tak menjadi diriku saat bersamamu." Tangan kanan pria itu menyentuh pipi Sakura dan membelainya. Mata mereka saling memandang satu sama lain. Teduh,itulah yang dilihat Sasuke dimata indah gadis yang ia tatap saat ini. Sasuke tersenyum tipis.

"Kami-sama, ijinkanlah aku terus melihat mata indah ini. Ia sangat berharga untukku".

Bersambung

Maaf lama tak update dan membuat kalian menunggu lama. Tapi tenang saja sesibuk apapun saya, saya kan tetap melanjutkan fanfic ini hingga tamat meski tak tau sampai kapan. hehehe.

Terima kasih karena sudah menunggu, mendukung, reviews, follow n favoritenya ya kawan, I love u all.

Sampai jumpa dichapter selanjutnya nanti ya. bye...

semoga hari kalian menyenangkan dan jangan lupa piknik.

- JuliaCherry07 -