Sepuluh tahun silam telah berlalu semenjak tragedi Crimson Lullaby menyulut kegemparan di bagian sayap barat ibu kota negeri sakura.
Peristiwa di tengah malam gerhana bulan tersebut memakan korban jiwa dalam jumlah mencengangkan hanya dalam waktu kurang dari dua jam. Anak-anak, wanita dan orang tua, semua tak luput dari maut yang seolah dilempar dan dibentangkan bagai jala. Jeritan serta lolong tangisan bercampur-baur merangkai selembar penuh bait-bait puisi pilu yang dikumandangkan untuk menyayat hati dan jiwa.
Termasuk bocah itu. Anak lelaki berumur delapan tahun yang menatap kosong bagaimana seluruh keluarganya dibantai di depan mata. Tubuh-tubuh yang dulu dia kenali tergeletak lunglai di atas lantai terpelamirkan cairan amis beraroma karat besi. Tak bergerak. Tak berdenyut. Tak bernafas.
Satu persatu dicabik dan dicacah. Ditelan rakus oleh sesosok binatang buas penikmat daging mentah manusia. Dia tak tahu itu apa. Dia tak mengerti mengapa makhluk itu ada dan berkeliaran di mana-mana. Pemandangan di balik kaca jendela depan yang jebol diterobos sebelumnya menampakkan bagaimana jalanan di balik pekarangan depan rumah mereka porak poranda. Ceceran darah, isi perut, potongan kepala serta anggota tubuh lain berserakan seperti tumpahan keranjang sampah. Lengkap pula kobaran api yang berpendar entah dari mana sehingga suasana remang terlihat lebih pekat, kelam dan hitam dari seharusnya.
Apakah ini mimpi buruk? Itu adalah pekikan lemah dari balik bilik hati kecil yang menolak realita. Cairan merah yang mengucur masuk ke kerongkongan dari secuil luka di dinding pipi akibat terjepit geraham, secara tidak langsung telah berkata padanya; Bahwa kedua retina berwarna arang menyala tersebut terbuka lebar dan berfungsi sebagaimana mestinya. Merekam setiap bingkai kejadian dan menyimpannya di sebuah rak di sudut tempurung kerangka tengkoraknya. Termasuk irama remuk tulang belulang terlumat di balik rumpun taring-taring tajam oleh gendang telinga. Juga hawa dingin tak kasat mata yang bergelantungan di ujung reseptor saraf permukaan kulitnya.
Tubuh kecil itu sedikit demi sedikit menggigil. Otot-otot rahang berkontraksi menyulut gemeletuk deretan gigi. Rasa takut, cemas, serta tak berdaya berbuncah menyudutkan. Hal itu terpantul jelas pada sepasang permata merah delima yang berkedut memberontak, seakan ingin meludah dengan sekuat tenaga kalimat 'Hentikan!' yang kini meletup-letup mencari jalan keluar dari kerangkeng rongga dada.
Tetapi apa yang bisa dia lakukan kemudian? Berteriak lantang dan melawan? Menangis dan memohon? Ataukah, memutar badan dan lari tunggang langgang seperti pecundang?
"Lepaskan...", suara bisikan seorang perempuan berkata padanya.
Bocah tersebut sontak terkejut, seketika berpaling tanpa sadar ke arah di mana datangnya si suara.
Helaian sewarna kristal pirus terpilin menjadi dua kuncir berpitakan sayap hitam tertangkap oleh ujung ekor pengelihatannya. Meski sepasang manik mata bocah itu terselip di antara juntaian keemasan anak rambutnya, dia masih bisa mencermati jelas sosok ganjil yang berdiri terpaut lebih dari sepuluh langkah di balik punggungnya.
Sinar bulan di tempat sosok itu berpijak memberikan penerangan, ditambah gaun hitam sewarna arang yang kontras dikenakan, cukup membuat perempuan tersebut memiliki kesan bagai Dewi malam yang turun langsung dari singgasananya di atas khayangan.
"...hanya kau lah saat ini yang bisa.", ucapnya sekali lagi.
Aneh, pikir bocah itu. Meski jarak mereka sedemikian jauh, namun dia bisa mendengar suara bergemerincing tersebut seolah bibir perempuan itu berada tak kurang dari panjang kuku jari dengan lubang telinganya.
Bocah itu tidak mengerti. Akan siapa jati diri sosok serupa Dewi, atau pula maksud dari perkataan ambigu yang dia beri.
"...ungkapkan rasa sakit di hati mu dan biarkan itu menjelma sebagai tameng dan pedang."
Halusinasi, kah? Nyata, kah? Apa tujuan awal kedatangan wanita itu? apa kaitan antara dirinya, dia dan makhluk buas yang membantai ibu dan kedua adik kembarnya ─seluruh anggota keluarga Kagamine selain dirinya?
Jalan pikiran yang begitu rancu tersebut seketika buyar tatkala suara raung ditujukan padanya. Sekejab mata dia kembali mengalihkan pandang, pada saat itu pula dia dapati deretan gigi tersusun layaknya kumparan kawat berduri terbuka lebar tepat di hadapan wajahnya.
Kerongkongan makhluk itu bagaikan liang hitam ─dalam tak berujung. Itu mengapa meski bertubuh kurus kering menyisakan kerangka, nafsu makannya tidak bisa mereda.
Kedua pasang kaki depan memiliki tiga kuku runcing besar menggantikan ruas jari, merentang meninggalkan jejak retak di atas ubin ketika dia melompat mempersempit jarak dalam waktu singkat. Menjebak bocah itu. Membuatnya terpaku dalam belenggu hawa kengerian yang muncul bersama keberadaannya. Dia bisa menterjemahkan arti dari sorot kemerahan yang berkedip di dalam rongga gelap letak mata seharusnya berada ketika mereka saling beradu muka.
Meski mulut tersebut kaku terlapisi tulang luar, entah kenapa dia berfirasat bahwa makhluk itu menertawainya. Dia bisa melihat bagaimana deretan gigi-gigi tersebut bergerak lambat seakan waktu disekitarnya berdilatasi seratus kali lipat dari semula. Namun dia hanya bisa terpaku. Menatap kalah bayang-bayang hitam yang sekarang menaungi wajahnya yang menengadah.
Apakah sampai di sini saja? Apakah dia hanya bisa pasrah tanpa mampu melampiaskan kekecewaan yang bergulung-gulung menghantam sudut relung jiwanya?
Makhluk itu melahap dunia indah tempatnya berada. Senyuman pagi dari ibu yang tak pernah lalai menyediakan sarapan. Canda usil si kembar yang masih berbicara berbahasa cadel serta gemar berpelukan pada kakinya ketika menyambut kepulangannya dari sekolah. Tidak menutup kemungkinan juga, setiap sapaan ramah orang-orang akrab yang bertempat tinggal di sekitar kediaman mereka.
Bagai jeruji kurungan, kelambu penutup panggung pertunjukkan yang diturunkan, dia bisa melihat bagaimana warna hitam tanpa dasar perlahan melingkupinya.
Apakah hanya sampai di sini saja?
Sekujur tubuhnya bergidik memberikan perlawanan. Tekad untuk tetap mempertahankan pijakan kakinya serentak bangkit menggedor-gedor rusuknya. Bermula dari ketukan kecil dan terus berimbuh tempo selaras waktu.
Setiap detik semakin kuat.
Semakin berontak.
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Begitu liar hingga dadanya terasa nyeri. Begitu membara seolah dirinya sendiri adalah kobaran api. Tatapan kosong berangsur pulih. Berganti sorot tajam pisau belati.
Gelombang.
Resonansi.
Sesuatu tengah berdetak. Berdenyut. Memberikan dorongan tanpa wujud.
Dia ulurkan tangan kanannya yang seakan dituntun oleh sesuatu, ke udara. Membuka kelima jemari dan melebarkan telapak di tengah hampa. Dan dia pun menyaksikan bagaimana kelip-kelip cahaya merangkai diri. Membentuk cincin gelang di pucuk telunjuk. Bergerak turun. Memberikan sensasi akan keberadaan sebuah materi.
Keras memadat bagai logam. Ringan tanpa beban bagai udara. Menyatu. Melebur dalam genggaman tangan tanpa sedikit pun perlawanan seakan air yang enggan diam dalam bentuk konstan.
Bocah itu pun kemudian menarik telapak tangan yang tertelan masuk lingkaran cahaya. Secara bersamaan mencabut keluar sebilah materi pendar menyilaukan, sekaligus melepaskan kegelapan pekat ke segala penjuru arah di dalam prosesnya. Makhluk itu menghilang. Wanita yang berdiri di balik punggungnya menghilang. Dinding. Lantai. Bahkan tubuhnya sendiri. Semua tak bisa dikenali lagi selain hitam pekat tak bertepi. Tetapi semua itu hanya berlangsung sekejap saja. Karena sebuah melodi indah yang mengalun entah dari mana seolah memantik indera pengelihatannya sehingga bekerja dengan cara yang tidak biasa.
Monokrom; Hitam dan putih terhampar menyingkap aneka bentuk bangun serta bidang di setiap penjuru delapan mata angin. Dia kemudian tersadar bahwa dirinya telah berpindah ke suatu tempat selain kediaman Kagamine tanpa dia mengerti bagaimana caranya. Wanita bernuansa pirus itu sendiri juga ada di sana bersamanya. Masih berdiri di belakang punggungnya. Menatap penuh kasih. Berhias senyum indah tanpa cela.
"Terima kasih, Yohio."
Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Dia tidak paham kalimat ambigu yang dia utarakan untuk ke sekian kali. Namun sebuah purwarupa materi semesta di lilitan jemari, serta makhluk mengerikan yang sebelumnya hendak memangsanya ─kini menjauh sekaligus memasang kuda-kuda waspada─ telah memberikan sebuah jawaban. Dirinya telah siap untuk menuntut balas. Mulai saat itu, hingga esok hari di mana pun "Phantom" menampakkan cakar dan taring mereka dari balik celah antar dimensi di hadapannya.
