Konyol. Kiranya satu kata tersebut patut diutarakan, namun juga di saat yang sama dipendam dalam-dalam. Penyebabnya? Itu karena tepat di ujung pandangan pemuda itu, dia dapati dua orang siswa tengah bertumpuk dalam posisi yang mampu membuat gadis-gadis penggemar mereka bergelinjang terpuaskan sebelum pingsan tanpa sempat mendapat pertolongan.
Seorang pemuda pendek bernama Murasaki Yuu tertimpa berat badan dari tubuh kekar seorang anggota klub Rugby sekolah ─Kobayashi William. Sebuah insiden ataukah rekayasa yang disengaja?
Meski berdasarkan tes fisik seminggu lalu membuktikan bahwa terdapat selisih tinggi lebih dari sepuluh senti di antara kedua pemuda tadi, entah mengapa, wajah mereka dapat saling terkunci di selangkangan dengan sangat pas sekali.
Begitu intim, absurd, mungkin pula seksi dan erotis bagi beberapa mata kurang waras yang mendapati bahwa kedua siswa tersebut telah basah kuyup di samping tiga buah ember air yang tumpah menggelinding.
Jika situasi ini adalah secuil parodi di dalam serial animasi atau pun buku-buku cerita bergambar yang populer di negeri sakura, bisa dipastikan sebuah bulir air seukuran biji durian sudah menggantung tinggi di sudut kening si pemuda bermata merah delima.
Menggunakan ujung telunjuk dan ibu jari, dia pijit pelan-pelan nyeri kepala yang mulai menghampiri. Setelah menghela satu-dua napas berlanjut memicing lemas, Yohio pun akhirnya menyuarakan kalimat yang sempat tersangkut di kerongkongan saat pertama kali membuka pintu toilet laki-laki ─keinginannya untuk buang hajat kecil urung seketika.
"Hei, Wil, sungguh, apakah aroma celana dalam Yuu begitu kuat sehingga kau tidak bisa berdiri? Ataukah kabar burung dari beberapa fangirl mu itu benar bahwa kau memiliki kelainan persepsi seksual?"
Kelainan persepsi seksual. Dengan arti lain ketertarikan tak lazim pada sesama jenis. Homo atau Gay. Satu dari sekian hal di daftar tabu masyarakat. Meski tidak ada hukum tertulis mengenai sanksi yang dijatuhkan, sebagian besar orang-orang mengambil inisiatif menjaga jarak ─beberapa kasus bahkan berujung isolasi. Tentu, bukanlah sesuatu yang bisa dianggap ringan.
Terlepas dari kengerian semacam itu, apa yang paling dikhawatirkan oleh Wil ─sehingga dia segera bangkit dan secara otomatis membiarkan oksigen kembali masuk ke pundi-pundi udara Yuu─ justru...
"Yang benar saja?! Apa kata Mayu chan nantinya jika lelaki jantan sepertiku menyalahgunakan anugrah yang dimilikinya untuk menebar skandal sedemikian nista?!"
Sekilas, pemuda atletis itu mendapati siluet gadis kelas satu ─yang bahkan tanpa sadar dia sebut namanya─ melayang-layang di dalam benaknya. Rambut panjang mengembang bagai riak danau karamel. Paras manis dan bulat mungil, berhias sepasang manik indah, memantulkan kilauan jejak bening menuruni pipi. Isakan parau serta wajah yang berpaling penuh kecewa. Semua semakin dramatis dalam bingkai dunia penuh kelap-kelip cahaya tujuh rupa, ─yang seketika terpecah-belah berkeping-keping seperti dihantam sepakan nyasar bola kaki dari pekarangan rumah tetangga.
Bagus. Sekarang Yohio tahu alasan utama mengapa para gadis berpenampilan anggun dan modis yang mudah dijumpai di sekolah menengah atas tempatnya menuntut ilmu, hampir atau bahkan mungkin sangat mustahil mampu menarik minat sang bintang kejora klub Rugby.
Dia penyuka gadis cebol. Singkat, padat dan jelas.
Sementara mereka berdua tenggelam dalam lautan delusi ruang semu di sudut benak masing-masing, seorang korban lain yang masih terkapar dalam kondisi hiperventilasi hampir saja menemui penjaga pintu surga. Terima kasih sekali lagi kepada Yohio yang mengingatkan Wil agar segera berhenti menduduki wajah Yuu dengan pantatnya. Bocah malang itu hanya mengalami mulut berbusa sepanjang perjalanan mereka untuk membopongnya ke ruang kesehatan sekolah. Tidak ada tulang patah atau cedera lain berbahaya. Murni overdosis aroma senyawa-senyawa sulfida hasil limbah pencernaan manusia.
Hari yang ganjil seperti biasa. Begitulah pikir pemuda itu ketika berlalu mengambil langkah memutar balik menuju ruang kelasnya setelah membaringkan korban insiden toilet laki-laki barusan.
Berdasarkan pengakuan pihak lain yang terlibat ─Kobayashi William─, pemuda jangkung itu bersumpah bahwa kejadian yang dipergoki Yohio tidaklah sesuai dengan praduga sesat yang sempat dia lontarkan. Anggota klub olah raga tersebut juga menambahkan, agar menjaga rahasia kecilnya mengenai ketertarikannya pada murid baru angkatan tahun ini.
Sebenarnya, hal itu sama sekali tidak penting bagi Yohio. Dia bukan laki-laki doyan gosip apalagi menyulut desas-desus. Meski begitu, dia masih sempat mengalami kerepotan untuk menghadapi Wil ─panggilan akrab William.
Mau tidak mau, Yohio harus mengangguk demi bisa lepas dari tatapan intimidasi serta cengkeraman kepalan pemuda itu yang sebelumnya dia terima saat keluar dari ruang kesehatan ─yang mana rupanya mampu merambatkan sensasi aneh yang sukar digambarkan. Mungkin itu pula rahasia di balik julukan "si mata elang" dari orang-orang yang pernah berhadapan dengannya di lapangan.
"Apa-apaan itu barusan... tatapan itu seolah mampu menelanjangi siapa pun... bahkan 'phantom' pun tak pernah membuatku merasa demikian." Hiperbola dan penuh khayal? Terserah. Tapi begitulah. Kau tidak bisa membantahnya. Yah, semoga siapa pun calon teman kencannya di kemudian hari tidak sampai kabur duluan karena merasa seolah hendak diterkam harimau ketika sedang musim kawin. Sungguh, betapa do'a yang indah dari seorang Kagamine Yohio untuk sahabatnya.
Phantom ─makhluk dimensi astral.
Dahulu kala banyak legenda mengenai para pendahulu dan kisah heroik mereka yang disampaikan dari mulut ke mulut. Melawan naga, membinasakan shapeshifter, menjalin persetujuan dengan angel maupun demon, perjalanan panjang penuh rintangan sarat sihir dan keajaiban. Semua hal menakjubkan tersebut mungkin tidak sepenuhnya sekedar karya sastra tak tertulis. Omong kosong tak logis. Bisa jadi, apa yang menginspirasi mereka adalah jelmaan phantom setelah mengambil wujud teror di dalam benak para korbannya. Seperti halnya kemunculan makhluk beraneka bentuk dan rupa sepuluh tahun silam. Serta pembantaian keji sepanjang malam tragedi Crimson Lullaby.
"Phantom..." gumam pemuda itu di sela langkah kaki yang berketuk teratur sepanjang koridor. Nama itu adalah sebutan yang diberikan oleh para peneliti beberapa bulan kemudian setelah mengamati ciri dan sifat naluriah mereka.
Secara kasat mata, phantom hanya akan tampak seperti gumpalan buram di ruang terbuka, atau terkamuflasi sempurna dengan lingkungan di sekitar mereka. Semua itu akibat tubuh phantom terus menerus bervibrasi.
Gelombang ─Itulah kata kunci di balik tipuan visual yang mereka mainkan. Eksistensi makhluk tersebut terselip di antara realita dan dunia tak kasat mata.
Teori ruang dimensi dan dunia paralel berperan penting dalam pengembangan teknologi untuk melawan balik keberadaan mereka yang muncul tiba-tiba dan mengamuk tanpa tahu apa penyebabnya.
Phantom memang pandai berbaur, namun bukan berarti keberadaan mereka tidak bisa dideteksi. Kemampuan untuk tetap tak terlihat adalah bentuk dari kengerian makhluk itu selama ini. Namun, dengan menggunakan gelombang dispersi yang tepat, maka mereka akan tampak jelas dan nyata seperti makhluk hidup lainnya. Sisanya hanya cara bagaimana untuk bisa menumbangkan mereka.
Peluru biasa bukanlah tandingan perwujudan mimpi buruk dari balik kotak pandora. Muntahan amunisi hanya akan melesat tembus seperti melewati udara. Satu-satunya cara adalah menggunakan benda berfrekuensi sama dengan tubuh phantom ─yang mana secara mencengangkan rupanya bisa dengan mudah dijumpai pada relik keramat peninggalan sejarah seperti tombak dan katana yang diyakini masih memiliki tuah.
Fakta ini tentu saja menuntun pada sebuah kesimpulan ─ Phantom telah ada sejak awal peradaban manusia. Sedangkan sebagian orang-orang yang mampu melihat dan merasakan kehadiran makhluk-makhluk tersebut, adalah mereka dengan kelebihan untuk merasakan disrupsi gelombang vibrasi yang dihasilkan oleh
phantom.
Para wave user ─istilah terbaru yang diberikan para peneliti. Seiring perjalanan zaman, keberadaan wave user dan phantom kian meredup ditelan kemajuan. Kisah mereka lambat laun hanya menjadi dongeng pengantar tidur, garis keturunan pun lenyap entah kemana. Nasib para ksatria penjaga gerbang perbatasan antar dunia satu persatu berakhir menjadi karakter fiksi tanpa mendapat penghargaan sama sekali.
Mungkin, kembalinya makhluk-makhluk tersebut setelah mati suri di sepanjang catatan sejarah, pertanda bahwa gerbang antar dunia manusia dan phantom kini tak terkunci rapat seperti dulu lagi. Yang jelas, apa pun alasan keberadaan mereka di sekitarnya, pemuda itu tak kan tinggal diam membiarkan isi perut makhluk-makhluk tersebut terpuaskan oleh potongan daging mentah manusia.
"Kagamine Kun! Kagamine Kun!" teriakan seorang siswi dari balik punggung seketika menghentikan langkah kaki Yohio. Derap sepatu yang tergesa-gesa berkumandang di dalam lorong koridor turut memancing rasa penasaran pemuda tersebut. Siapa dan ada perlu apa dengannya? Memutar mata seraya menoleh mencari tahu si pemilik suara nyaring di seberang jangkauan pandangannya, dia pun mendapati dua orang anak perempuan di sana.
Gadis berambut merah menyala digelung ekor kuda dan tengah melambaikan tangan dengan raut gembira adalah Sagana Cul. Sementara seseorang yang dikenal pendiam serta irit bicara di sampingnya adalah Minako Aria. Mereka adalah teman sekelas penghuni tempat duduk paling depan dari deret satu dan dua. Cul selalu ribut dan ekspresif, Aria sendiri lebih doyan tutup mulut dan mengamati. Si rambut merah mudah ceroboh, sedangkan si sahabat selalu menjadi orang yang ada untuk mengulurkan tangan.
Gubrak!
Seperti sekarang ini, setelah suara benda keras terantuk lantai yang tak lain adalah Cul yang terpeleset atau mungkin... tersandung seekor semut? Entahlah. Apa pun penyebabnya, hal itu sukses menambah jumlah kubik volume bulir air di kening pemuda itu sore ini. Pasalnya, gadis itu masih bisa bangkit dengan reflek menakjubkan seperti orang melompat dari ranjang tidurnya setelah penagih hutang melenggang pergi dari balik pintu rumahnya. Bahkan masih bisa cengar-cengir meski mendapat memar di bibir.
= \/\/ /\ \/ =
"Jadi, umm, bagaimana? Maukah kamu menerima tawaran kami, Kagamine Kun?"
Baju awut-awutan. Berdiri menenteng tas dengan kedua tangan. Menggores lengkungan senyum. Gadis sama yang sebelumnya terjatuh di koridor tersebut kini berada di hadapan Yohio.
Bibirnya masih memar. Terdapat benjolan di sudut alis kanan. Tidak luput pula dari pandangan pemuda itu, beberapa aksesori plester antiseptik tertempel di siku dan jari. Sungguh, apakah dia sedang meniru sebuah karakter dari video musik animasi yang sedang naik daun di NND*? Itulah yang sempat terpikir oleh pemuda itu ketika mendapati mereka berdua telah berada di luar gerbang untuk menunggunya.
Sebenarnya, Alasan mereka adalah berniat mengajaknya bergabung membentuk kelompok untuk tugas yang diberikan Meiko Sensei di jam pelajaran pertama hari ini. Jika diingat-ingat, waktu itu Yohio memang belum mendapatkan rekan, alih-alih membentuk kelompok. Lagipula, tugas tersebut tidak terlalu sukar untuk dikerjakan secara perorangan ─pendapatnya secara pribadi. Jadi, tidak memperoleh kelompok pun bukan sesuatu yang perlu dirisaukan, bukan?
Namun, melihat penampilan Cul yang lebih seperti korban keroyokan para pelajar sekarang, membuat Yohio sedikit merasa tidak tega untuk mengabaikan. Pemuda itu tersenyum miring dengan alis berkedut-kedut ketika menyetujuinya dengan jawaban 'iya' beraksen patah-patah.
"Ya ampun." Desahnya lirih memandang buram langit senja setelah kedua gadis itu memberi salam perpisahan dan berlalu jauh darinya.
= \/\/ /\ \/ =
"Fu... fufufu..."
Sepanjang perjalanan pulang, Aria hanya bisa melirik sahabatnya dengan tampang datar seperti biasa. Anak perempuan berkuncir tunggal di sampingnya tak henti-henti mengeluarkan suara tawa tersebut setiap jeda sepuluh langkah. Apa yang lucu? itu pikirnya. Gadis itu sama sekali tak mampu mencerna sikap aneh Cul sejak mereka meninggalkan sekolah.
Dia melirik sejenak seekor kucing kuning belang-belang yang melintas di atas pagar bata merah, lalu kembali kepada Cul. Kali ini, gadis itu malah menatap balik ke arahnya. Raut wajah berubah menjadi seringai dengan ilusi sepasang bintang berkilau di inti retina.
"Apa..." Seucap kalimat datar dari Aria. Cul tidak menjawab. Dia hanya mencengkeram kedua ujung pundak Aria.
"Sebentar lagi," desisnya. Aria terpaku. Kelopak matanya turun setengah.
"Apa..." ulangnya sekali lagi.
"Sebentar lagi..." Apa Cul telah kerasukan? Bisa jadi. Aria tak bisa memberikan kesimpulan konkrit, tetapi kondisi melamun sampai terkikik seorang diri bisa menjadi sebuah indikasi sebelum seseorang mengalami kerasukan dan bertindak lebih aneh lagi. Itulah informasi yang dia dapat dari tayangan televisi bertemakan hal gaib dan supranatural yang terpaksa dia tonton kemarin lusa.
"A-P-A..." genggaman Cul mengerat, membuat sahabatnya semakin merasa tak nyaman oleh ulahnya.
"Aku akan membuat Yohio bertekuk lutut padamu, bwa ha ha ha!"
Berteriak seperti psikopat gila di tempat umum, saat itu pula Aria sadar bahwa memang gadis itu telah kerasukan hingga otaknya sedikit bergeser dari posisi semula. Sebuah tamparan mungkin lebih dari cukup untuk mengusir bangsa lelembut yang bergelayut sekaligus mengembalikan kesadarannya seperti sedia kala. Setidaknya itu patut dicoba.
Plak!
Selanjutnya, sore berhias mega hari itu berlangsung dengan isak tangis Cul memohon agar Aria memaafkan tingkah usilnya. Yah, dia pernah mendengar bahwa Cul berinisiatif untuk menarik benang merah antara dia dan pemuda pindahan tersebut. Tetapi dia tak pernah menduga jika gadis itu benar-benar nekat melakukannya. Bagi Aria, dia tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun untuk saat ini. Ingatannya tentang seorang bocah laki-laki yang gemar mengenakan topi bulat dan menghilang setelah menyuruhnya untuk melarikan diri dari kejaran seekor makhluk teror di malam kelulusan sekolah menengah pertama masih melekat di benaknya.
Bocah itu menodongkan sebilah wakizashi yang diturunkan dari generasi ke generasi oleh keluarganya di hadapan makhluk tersebut ketika berdiri membelakangi Aria. Dia sempat bertarung sengit menggunakan ilmu bela diri yang dia kuasai dan berhasil menorehkan luka di tubuh lawannya. Namun pada akhirnya, dia lenyap ketika makhluk itu tiba-tiba merobek udara, membuat celah hitam, kemudian menarik bocah itu ke dalam sana.
Karena dia... Aria masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan impiannya.
Karena dia... Aria bisa bertemu Cul yang selalu ceria dan banyak tingkah untuk menghiburnya.
Karena dia... ─Langkah kaki Aria tiba-tiba tertambat.
Napasnya tercekat. Denyut nadi meningkat. Pupil mata membulat. Bahkan, kedua ujung pundaknya yang gemetar pun, mata awam bisa melihat.
Gadis itu menangkap sekelebat bayangan buram menampakkan diri beberapa meter dari tempat mereka. Sama seperti waktu itu, terdapat riak permukaan air di udara sebelum makhluk tersebut menjadi nyata.
Kaki-kaki runcing berjumlah empat pasang menjulur keluar. Separuh tubuh tanpa sehelai kain dari sosok wanita dewasa muncul dari balik lapisan buram tersebut layaknya berudu menetas dari cangkang telurnya. Kedua lengannya sepanjang tiga kali lipat ukuran manusia biasa. Dipenuhi rambut hitam lebat serta berujung kuku-kuku runcing. Bibirnya lebar tersobek dari telinga ke telinga. Meski kulitnya berwarna putih mengkilat, siapa pun pasti akan bergidik melihat wujud tersebut secara lengkap.
Orang dahulu menyebut mereka Onigumo. Siluman wanita tarantula. Umumnya ditemukan tinggal di gunung dan goa-goa. Ganas dan sangat beracun. Aria bisa melihat bagaimana uap berwarna abu-abu menguar dari balik deretan gigi-gigi gergaji di balik bibirnya. Dia pun bisa merasakannya, mata bulat berjumlah dua pasang yang tertutup beberapa helai anak rambut dan tertuju padanya.
Makhluk sama yang membawa lari Yuuma. Mimpi buruk yang membuat jantung melompat naik mengganjal pita suara. Apakah kali ini dia datang untuk menjemput dirinya juga? Atau kah kejadian heroik konyol yang sama akan kembali terulang?
"Mustahil..."
"Aria? Ada apa? kenapa kau terlihat... ketakutan?"
Mengerjap tak mengerti. Aria menatap balik Cul yang mengintip dari sudut ekor matanya. Apa maksud ucapan gadis bergelung ini? Retinanya semakin mengecil saat sahabat barunya sejak kelas satu tersebut hanya menolehkan kepala kesana kemari mencari-cari sesuatu yang membuatnya bertingkah paranoid.
"Aria, ada apa? katakan sesuatu." Wajah Cul berkerut cemas karena dia masih diam tak menjawab.
"Cul..." menggunakan segenap tenaga untuk melawan rasa gemetar yang mengguncang keseimbangan tubuhnya, tanpa basa-basi lagi Aria segera mencengkeram pergelangan gadis itu. Menariknya. Membawa lari sahabatnya menjauh dari ancaman makhluk tersebut yang sekarang mulai menggerakkan kedelapan kaki-kaki tarantula di bagian abdomen bawah tubuhnya untuk memulai permainan perburuan manusia.
= \/\/ /\ \/ =
Lari.
Lari.
Lari.
Teriakan protes Cul tidak dia hiraukan sama sekali. Napasnya menderu. Jantung dan paru-paru bekerja keras untuk menuruti kehendak si pemilik tubuh. Dia mencoba melalui jalanan sepi demi mencegah jatuhnya korban. Keluar masuk gang serta jalanan kecil hingga tak tahu lagi telah berada di mana. Makhluk itu masih mengekor di belakang, menikmati reaksi ketakutan dan kekhawatiran mangsa yang sudah pasti tidak akan bisa luput dari jeratannya.
"A-Aria..." rengek Cul sekali lagi. Organ respirasi udaranya kalang kabut. Pengelihatan pun telah dibutakan kunang-kunang. Kedua kakinya terasa lembek. Dan akhirnya sudah lah pasti, gadis itu hanya bisa bertumpu bermandi keringat di atas tungkai-tungkainya.
Habis sudah.
Tepat di saat Aria berniat menopang tubuh Cul, makhluk itu rupanya lebih dulu menampakkan wajahnya dari balik tikungan jalan yang mereka lalui.
Jarak mereka hanya sepuluh meter. Dalam skala sebanding, dua tubuh dan dua pasang kaki sejak awal memang bukan tandingan dari sesuatu yang memiliki empat pasang kaki lebih.
Makhluk itu tersenyum puas. Liur yang mengandung sejenis asam kuat berjatuhan melebur batako jalan. Awalnya Cul tidak menyadari apa yang Aria takutkan, namun mendapati kepulan asap dan celah cekung di kejauhan bergerak mendekati mereka, gadis itu mulai mengerti situasi macam apa yang mereka hadapi.
Itu adalah makhluk yang disebut phantom, bualan omong kosong yang sering digunakan teman-temannya untuk menakut-nakutinya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Seperti rumor yang beredar, mereka tidak bisa dilihat kecuali ketika aktifitas mereka mempengaruhi keberadaan benda-benda di sekitarnya.
Kini, makhluk itu membuktikan diri tepat di depan mata kepala Cul sendiri. Meski demikian, yang bisa dia lihat hanya udara kosong serta uap-uap kecil dari lelehan permukaan jalan merangkak menghampiri.
"A-Aria... jangan bilang kalau kita..."
"Ku mohon, Cul, berdirilah!"
Bukan mimpi. Alasan Aria bertingkah jauh lebih aneh dari biasa jelas-jelas karena dia mampu melihat apa yang tidak bisa Cul lihat. Aria pernah berkata mengenai hal tersebut padanya, meski Cul sempat meragukannya. Tapi, sekarang gadis itu benar-benar yakin dan percaya akan ucapan Aria. Bahkan dia menyadari kengerian macam apa yang dirasakan Aria. Tidak bisa melihat mereka saja sudah membuat suhu tubuhnya terasa turun menukik tajam. Bagaimana dengan Aria yang bisa bertatap muka secara langsung?
Awal kali perjumpaan mereka, gadis itu selalu tertutup dan tampak bersedih. Seiring usahanya untuk bisa berteman akrab dengan siapa pun, lambat laun Aria mulai membuka diri padanya. Meski dia masih doyan memasang wajah kaku, setidaknya kemurungan tak lagi terlihat meliputinya.
"Huh... jadi memang benar begitu ya?"
Sebuah senyum tersungging di bibir Cul. Dia melirik sekilas Aria yang bersimpuh di sampingnya, kemudian mengatakan hal yang paling tidak ingin didengar lagi oleh gadis itu untuk ke dua kali dalam hidupnya.
"Larilah... aku akan mencoba mengecohnya. Selama aku bisa melihat jejak tersebut aku pasti bisa memberikan sedikit waktu agar kau bisa menyelamatkan diri, bukan?" Kelereng bening Aria membulat kecil seketika.
"Kau tahu, memiliki teman unik sepertimu itu pengalaman yang mendebarkan dalam seumur hidup. Lagi pula, wajahmu itu jelek kalau menangis. Kan sayang kalau disia-siakan? Kau tahu, begini-begini aku sudah berpengalaman dalam hal perjodohan sejak SMP, ha ha ha."
Bodoh! Aria ingin meneriakkan kalimat protes tersebut, tetapi rasa kelu akibat teror yang mencengkeramnya lebih dulu membuat lidah membeku. Kalimat yang keluar dari celah bibirnya pun tak ayal hanya berupa bunyi-bunyian huruf vokal tanpa konsonan. Bisa-bisanya dia bergurau meski nyawa mereka sudah di ujung tanduk. Apa yang lucu dan menyenangkan jika kau hanya bisa lari meninggalkan temanmu seorang diri, bukankah itu egois? Aria tidak ingin menjadi penyebab nasib buruk bagi siapa pun lagi, mengapa dia tidak mengerti?
Terjepit di tengah keputus-asaan. Dihadapkan kembali pada dua pilihan sulit yang disodorkan. Lari untuk menyelamatkan diri sendiri dengan menumbalkan teman? Ataukah tetap bertahan dan bersama-sama menjalani kemalangan?
Jika Gadis itu mengira bahwa jawaban ujian pilihan ganda kali ini hanya ada "A" dan "B", maka dia salah besar dalam membaca kinerja nasib dan takdir. Masih ada aksara "C" berwarna transparan yang mengecoh peserta kurang jeli sepertinya. Jawaban tersebut berada pada seorang pemuda yang tiba-tiba muncul berdiri santai memunggungi mereka berdua.
= \/\/ /\ \/ =
Seperti halnya yang dilakukan oleh bocah laki-laki yang lenyap dilahap tragedi masa lalu ─bayangan sosok itu menjulur jatuh memberi naungan.
Seperti dia yang memberikan senyuman terakhir ─pemilik surai emas itu juga hanya menatapnya sekilas sebagai sapaan.
Seperti sebuah De javu yang menampilkan keajaiban ilusi waktu ─saat itu pula keberadaannya menghilang tanpa bekas.
Membawa mimpi buruk yang menjelma menjadi nyata kembali pulang ke dalam hampa.
Namun tragedi yang sama... bukanlah ujung dari takdir yang menantinya.
.
.
.
"BlackOut... Release..."
