Sejatinya sekat antar dunia adalah semesta tanpa cahaya. Tanpa secercah warna.

Tempat ini sekedar pembatas dua wilayah berseberangan. Tirai yang amat tipis di mana sisi gelap objek jatuh di permukaannya ketika tertimpa cahaya tertampil layaknya pertunjukkan boneka bayang-bayang. Bagi makhluk lintas dimensi, terjebak di ruang peralihan seperti ini tentu tak pernah terpikir sama sekali.

Siluman tarantula itu mendesis murka. Setiap kali dia menjerit melebarkan rahangnya, liur-liur berasam lebur turut meloncat dari mulutnya. Sungguh menjijikkan.

Di lain pihak, Yohio menyungging senyum menantang. Dijentikkan ibu jari dan telunjuk, cincin cahaya pun tunduk menjawab isyarat pemanggilan yang telah disederhanakan.

Selepas campur tangan sang Dewi yang selama ini membimbingnya melalui untaian nada, pemuda itu telah mahir menguasai sebagian bakat alami, bukti waris garis keturunan penjaga perbatasan. Di dimensi di mana si pengamat itu sendiri dituntut untuk menterjemahkan segenap keberadaan, medan berupa lembah berbatu terjal, dalam hitungan sepersekian detik menggulung ketiadaan yang semula dominan. Selaras mengikuti gaung petikan jari yang bergema dalam hampa di mana pemuda itu menjadi titik awalnya.

Bentangan angkasa tepat di atas kepala menyajikan pemandangan di mana lokasi terakhir mereka sebelumnya berada dari sudut pandang si siluman. Terarsir kasar mirip cetak biru bangunan atau tata letak kota di atas media gambar. Sedangkan pijakan di bawah kaki mereka tertera oleh sebuah pemandangan dunia kelam. Di mana pepohonan tumbuh tinggi menghunjam langit dengan batang gemuk meliuk-liuk berkelit-kelindan, ─diambil dari sisi pengamatan si pemuda.

Mencermati keberadaan situasi kedua pihak itu seperti mendapati objek tiga dimensi dijejalkan pada ruang dua dimensi yang memotong kedua dunia dalam bidang vertikal.

Si siluman tarantula betina terkesiap ketika indra pengelihatannya turut menyesuaikan diri. Semula, dia mengira bahwa seorang anak manusia tengah lancang menguji kebolehannya begitu dia dapati dunia gelap tiba-tiba menyelubungi. Tapi sungguh di luar perkiraan, ternyata dia justru dilempar paksa ke dimensi sekat yang dalam beberapa dekade ini pengawasannya dikabarkan sepi.

Bahkan seorang sang penjaga, ─pihak antagonis dalam tali ikatan hubungan mereka yang telah terjalin semenjak semesta utama tercipta. Keberadaan yang begitu gigih dan mulia mengabdikan diri meski jasa mereka terus terkikis oleh perkembangan teknologi yang merajalela.─ rupanya anak manusia yang dia maksud tadi.

Makhluk itu terbahak dalam suara desis begitu dia mengutip kerancuan yang sepintas singgah di benaknya. Sekian hal berkaitan dengan kontradiksi manusia yang turut tercerna sepanjang hidupnya memburu mereka, akhirnya turut hadir susul-menyusul. Hilir mudik mengisi kepalanya seiring gelak tawa yang kian sukar terbendung oleh kehendak bebasnya. Segalanya berputar bak arus di corong air dan bermuara pada bocah ingusan di hadapannya.

Betapa bodoh dan gegabah untuk ukuran penjaga muda yang hanya memamerkan kebolehan memanfaatkan penjara dimensi?

Keangkuhan, kerakusan dan segenap naluri hewani memantulkan bayangan merah padam keempat mata majemuk yang memandang penuh kelaknatan. Di benaknya sekarang, bocah itu tampak semakin menggiurkan. Rasanya baru kemarin saja dia menyantap bibit unggul yang ditemuinya, dan sekarang sebuah kecambah mengantar nyawa.

"Apa kau pikir semua manusia itu remeh di matamu, pecundang?" kalimat itu terbisik oleh sosok mangsa yang semula diincar, tanpa tersadar telah berhadapan berjarak sejengkal saja.

Jika bukan karena persepsi ekstrasensor yang mendengingkan tanda bahaya di dalam kepala, tidak dipungkiri leher siluman itu akan terbabat saat itu juga. Terbantu oleh empat pasang kaki berangka kokoh nan berotot lentur, tubuh bongsor betina itu sigap meloncat mundur. Luput dari terkaman maut mewujud garis cahaya tipis yang terulur.

Netra di balik naungan anak rambut keemasan milik pemuda itu tak kalah sengit menyampaikan isyarat serupa. Transisi antara titik kemerahan di dalam kungkungan bayangan bagai menghadirkan tampilan kerling organ biolumens penghuni palung samudra.

Sadar bahwa kemampuan lawan kali ini tak sepadan penampilan luarnya, si siluman dari dimensi seberang menelan bulat-bulat arogansi yang hampir membuatnya celaka saat itu juga. Bibir yang sobek kembali berdesis seakan berujar...

Mari kita mulai dengan selayaknya.

Tanpa menunggu isyarat susulan, kedua pihak pun serentak bergumul dalam adu ketangkasan permainan gerak langkah yang sanggup mengelabuhi mata biasa.

= \/\/ /\ \/ =

Siluman itu tergolong lincah. Jauh dari sebutan tarantula, perilakunya lebih menjurus bangsa laba-laba peloncat yang memanfaatkan unsur kejutan untuk menyergap mangsa. Hanya saja hampir tidak ada kesempatan untuk memanfaatkan hal tersebut di medan terbuka. Bahkan Yohio terus merempet betina itu seakan pertempuran yang menuntut ketepatan keputusan dan ketajaman naluri tempur ini adalah hal lumrah.

Purwarupa materi semesta miliknya, Arcana, terus memburu Onigumo itu segesit apa pun makhluk itu berupaya menjauhi alur tebasannya. Lengan kanannya bahkan terlanjur buntung untuk membentengi titik organ vital yang hampir dirobek dan dikoyak isinya.

Mengabaikan struktur otot terpampat rapat terlapis kitin setangguh baja, bagian itu terpotong begitu saja seperti mertega terpapas ujung pisau panas. Racun yang sanggup melebur logam mengurai tersentuh bilahnya. Rajutan jaring yang istimewa, bahkan bisa menggantung seratus kali lipat bobot tubuhnya, dianggap utas-utas benang lapuk tak berguna.

Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin tampak nasib si siluman yang kurang beruntung. Dalam laju waktu seimbang, tubuh besarnya kini menjelma menjadi kelemahan paling merugikan. Dihadapkan pada sebuah senjata yang tak bisa ditangkis bagaimana pun dia berupaya, adalah kecurangan takdir yang tak bisa dia terima.

Penuh luka dan amarah, siluman itu menjulurkan lengan kiri yang masih utuh setelah mengorbankan kedua kaki depannya sebagai umpan.

Sesaat sebelum itu, dia telah menggunakan siasat pengalih yang bisa dia susun dengan melontarkan puluhan bongkahan batu raksasa yang terekat pada ujung-ujung benang yang ditebar selama pertarungan. Namun semua itu tak cukup untuk memberi celah balik melawan.

Apa boleh buat, bukan? Binatang buas yang tersudut itu jauh lebih berbahaya karena mereka akan melakukan segala cara meski nyawa mereka dipastikan melayang setelahnya.

Lengan yang terulur itu berhasil mendapatkan apa yang diharapkan. Saat itu juga Onigumo itu menghantamkan tubuh Yohio berulang-ulang seperti sebuah mesin pemecah karang. Memperlakukan pemuda itu bak ujung godam untuk meluluh-lantakkan tanah dan bongkahan batu yang berserakan. Dia tidak akan berhenti hingga tubuh itu lumat menjadi daging cincang sebagai tebusan atas luka-luka yang diberikan.

Tetapi sangat disayangkan, keunggulan itu hanya berlangsung singkat. Pada ayunan ke dua puluh dari kurun kecepatan semenit dua ratus pukulan, lengan tersebut ikut melambung tinggi ke udara bersama si 'bocah ingusan'.

Begitu siluman betina itu tersadar oleh sentakan rasa sakit yang menjalari syaraf dan mendongak kepala, ujung bilah Arcana sudah terlanjur berjarak selebar helai rambut saja. Tak bisa terhindari lagi, tubuh makhluk mengerikan itu pun terbelah dua. Terentang berbanding simetri antara sisi kiri dan kanannya.

= \/\/ /\ \/ =

Sudah sepekan ini Aria kembali terpergok sahabatnya diam-diam mencuri sosok pemuda berdarah campuran yang duduk tepat di tengah susunan tata bangku kelas mereka. Setiap kali Cul mengusung topik bicara, biasanya Aria berpura-pura tak acuh sembari menyalin materi dari buku pelajaran ke permukaan lembaran isi buku tulisnya. Gadis itu hanya menanggapi jika Cul mengajukan kalimat-kalimat bernada pertanyaan, atau sekedar melirik untuk memutuskan apa dia harus bungkam atau melanjutkan.

Tapi, oh, ada apa gerangan dengan si kawan? Paras cantik nan dikenal enggan bertolak sudut siku-siku kepadanya itu bahkan lebih merasa nyaman saat berserong badan bertumpu sebelah tangan sekarang. Bukan maksud hati ingin merecoki tumbuh kembang benih kasmaran, tetapi Cul sudah tak tahan membendung rasa penasaran.

"Jadi, apa kamu sudah meletakkan sepucuk surat cinta di kolong sepatunya?" bisik Cul seraya menarik sebelah alis dan dikedutkan. Bibirnya menyungging senyum lebar berisi deretan gigi seri, menanti bagaimana reaksi si gadis saat memberi tanggapan.

"Kamu ngomong apa?" sergah Aria. Netra safir siswi itu bergeming tanda si pemilik menolak berunding. Fokus pikirannya terlanjur terpusat pada soal-soal bertabur angka dan simbol asing.

Tapi bukan Cul namanya jika tak lihai menyulut sumbu atensi Aria. Gadis itu mengabaikan keberadaan atmosfer anti-jamah yang hadir melingkupi sosok salah satu pemegang peringkat 'siswi mempesona idaman siswa' tersebut dengan gempuran lincah persekongkolan antara ruas telunjuk dan ibu jari tangan kirinya.

Dia cubit bagian-bagian lengan dari siku ke atas. Siku ke bawah. Mencolek bagian bawah ketiak dan sisi perut. Juga tak tertinggal pipi berdaging empuk dari wajah bersih seputih susu kawan karibnya.

Perlakuan tersebut bukan berarti diabaikan begitu saja. Aria sudah berusaha menghalau dengan gestur sederhana dan peringatan lisan. Tapi tetap saja tubuhnya dibuat berjengit-jengit kegelian. Tak usah dipikir untuk kesekian, Cul perlu berdiskusi dua mata dengan telapak tangannya supaya sadar batasan.

Plak!

Suasana gaduh ruang kelas bebas guru, berpadu ulah sebagian murid kurang patuh, mendadak senyap. Mirip drama basi di mana adegan serupa dieksploitasi dari masa ke masa oleh berbagai tayangan di media televisi swasta.

"Oh, itu hanya Cul dan Aria."

"Ah, ya, tentu saja."

Butuh jeda seperempat menit bagi beberapa siswa dan siswi untuk memaklumi sumber suara tamparan nyaring barusan sebelum melanjutkan kesibukan pribadi. Aria bukan tipikal gadis gampang uring-uringan, tapi pamor Cul dulunya memang sudah tersohor doyan bikin kehebohan. Entah, bagaimana si jelita bisa berkawan makhluk bermuka anyaman bambu semacam dia.

"Nanti siang kita bicarakan, oke?" lanjut Aria mendengus lelah.

Persetujuan itu disambut gembira oleh si gadis bergelung tunggal dengan berpose high five tanpa acuh pada sekeliling pandangan.

= \/\/ /\ \/ =

"Cul, apa kamu ingat kejadian tiga hari kemarin?"

Sela Aria tanpa memberi kesempatan orang yang dimaksud untuk berbicara terlebih dahulu. Hal ini sudah mengganjal hatinya selepas perjumpaan kedua dengan mimpi buruk masa lalunya. Dia yakin bahwa makhluk itu tidak lenyap begitu saja. Ada seseorang yang hadir menolong mereka dan Aria yakin bahwa itu adalah anggota ke tiga tugas kelompok mereka. Kagamine Yohio.

Cul mendesah. Dipikir-pikir lagi, apa ruginya membiarkan Aria mengawali obrolan? Toh, nanti juga dia mendapat giliran. Sudah umum pemenang selalu tertawa belakangan.

"Coba ku ingat-ingat." gadis bersurai merah itu mengabaikan sesuap bekal yang hendak dilahapnya. "Gosip tentang saksi hubungan Yuu dan Wil?"

"Bukan." Aria menggeleng. Cul kembali berpikir sembari melanjutkan suapan yang tertunda.

"Ah," Cul mendelik. Menelan isi mulutnya cepat-cepat. "Saat aku memanggil Yohio dan terpeleset?"

"Bukan itu juga."

"Hei, kamu tidak mencuri kesempatan untuk mengintip celana dalam ku saat itu, kan?"

Gadis cantik itu memejam mata. Versi imajinernya mencoba tabah mengelus-elus dada. Penyakit Cul kambuh lagi, sesalnya.

"Untuk apa?"

"Ku pikir kamu tidak berminat pada bocah laki-laki karena aku terlanjur berada si hatimu." gadis bergelung ekor kuda itu mengucapnya dengan nada bersalah. Sorot mata mengiba. "Tapi maaf, Aria. Aku tidak berpaling ke arah sana."

"Baiklah, langsung saja." Aria menegaskan tatapannya. Aba-aba bahwa kali ini tidak ada gurauan apapun yang ingin didengarnya. "Apa yang kamu ingat saat kita pulang berbarengan?"

"Hmm, memang ada sesuatu?" tanya Cul balik tanpa beban. Aria berkernyit heran.

"Apa kamu percaya aku sungguh-sungguh bisa melihat phantom?"

Gadis itu termenung sejenak. Mengapa si kawan mendadak mengungkit-ungkit hal yang dulu membuatnya trauma? Phantom tak lebih dari rekayasa media untuk membuat sensasi saja. Tak ada makhluk semacam itu di zaman serba canggih seperti ini. Tapi sebagai seorang sahabat yang peduli, Cul tak sampai hati mendebati.

"Tunggu sebentar, kamu menjumpai phantom? Saat kita bersama?" Kilahnya. Berharap Aria tak mencurigai kesangsian yang dia tutup-tutupi.

Terseling jeda berisi hening lantaran gadis di hadapan Cul justru menyipitkan netra safirnya mencari gurat-gurat prasangka. Atau kurang lebih demikian anggapan si gelung tunggal pada Aria.

"Ah, maaf. Kita lupakan saja omonganku barusan." Ungkapan tersebut membuat Cul tersedak potongan tempura. Gadis itu lekas menyambar botol minum dan menenggak sepertiga isinya.

"Ta-tapi aku percaya kok!" sahut Cul usai terbatuk tiga kali. Tenggorokannya sakit. Matanya berair. Pedih sekali.

Meski demikian, yang dirisaukan justru tindak-tanduk si kawan. Apa Aria berhasil mengendus bau-bau kebohongan? Apakah gadis itu tersinggung dan kecewa sekarang?

Alih-alih, sepasang manik Kirmizi Cul justru dipertemukan pada sikap Aria saat berupaya menahan tawa. Cara gadis itu ketika menudungi bibir semakin mempermanis keelokan parasnya. Tak salah beberapa bocah lelaki dibuatnya terpana. Sayang, fenomena semacam ini termasuk langka dan hampir tak pernah terjepret kamera.

"Terima kasih, Cul." Pungkas Aria. Dia betulkan napasnya untuk menenangkan diri. "Maaf, Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut. Hanya saja akhir-akhir ini ada yang mengganggu pikiranku."

"Dasar, ku pikir ada apa." Dengus si lawan bicara. Kegusarannya gugur, begitu juga niatan mengorek isi hati Aria. Mereka hanya mengobrol basa-basi, ─atau lebih tepat jika disebut Aria diam mendengar Cul bernarasi,─ hingga bel pertanda akhir istirahat siang berbunyi.

= \/\/\\/ =

Sungguh ganjil, pikir Aria. Firasat gadis itu mendesak nalar agar meyakini kemustahilan isyarat mimpi yang tiga hari belakangan ini mengusiknya.

Seperti sebuah rekaman video rusak, adegan serupa selalu diputar berulang-ulang meski segalanya terliputi oleh keburaman. Diawali dengan senja. Seekor kucing belang tengah melenggang di atas pagar sebuah pekarangan yang tak ia ketahui milik siapa. Udara yang beriak. Wajah makhluk mengerikan tengah mendesis. Persimpangan yang terus berganti. Cul yang telah letih. Lalu kehadiran seorang pemuda mengenakan gakuran memunggungi mereka. Dan...

Kosong.

Mulanya Aria menganggap mimpi tersebut hanya bunga tidur yang muncul lantaran letih dan tekanan aktivitas akhir-akhir ini. Bahkan, jika bukan karena mimpi itu sendiri, gadis itu tentu akan mengabaikan urut-urutan kejadian pada hari di awal mimpi itu datang mengunjungi. Seperti halnya Cul, dia pun tidak bisa mengingat pasti apa saja yang dilakukannya pada sore itu. Ingatannya seakan digiring oleh suatu sugesti yang selalu berbisik...

"Aku terlalu lelah. Sore ini aku harus lekas sampai di rumah. Mandi. Makan malam. Kemudian tidur dan melupakan semua..."

Rasa kantuk yang kuat tiba-tiba mencengkeram kesadaran Aria ketika dia tanpa sengaja mengeja secara seksama bisikan halus tersebut di dalam kepalanya. Pandangan gadis itu hampir pudar andai suara derak pintu kelas terlambat berbunyi. Aria berjengit, di saat bersamaan benaknya mulai menyadari keganjilan barusan. Dia hampir tertidur pulas di kelas meski pun dirinya dalam kondisi segar bugar. Seperti korban hipnotis yang akan kehilangan kesadaran ketika kalimat kunci diucapkan oleh pelaku.

"Tunggu. Aku... dihipnotis?"

Kesimpulan itu terlalu gila untuk orang awam percaya. Tapi bagi Aria, pengalaman pahit yang melibatkannya pada keberadaan makhluk penghuni dunia seberang, membuatnya sukar untuk menampik hal-hal tak logis di sekitarnya. Mengapa dia dihipnotis? Tentu untuk menghalanginya mengingat kelanjutan mimpi tersebut. Alam bawah sadar gadis itu berkata padanya, bukan hanya ingatannya dicacah-cacah menjadi potongan memori, bahkan ada sebuah bagian terakhir yang dirampas paksa darinya.

Satu kepingan yang tertinggal. Isyarat halus yang menuntun pada sosok Kagamine Yohio. Di mana punggung pemuda itu bertumpang tindih, menyatu dalam ilusi, menjelma menjadi sosok heroik yang hadir di dalam mimpi.

"Ssst, Aria, jika kamu terlalu malu untuk menuliskan surat cinta, aku bersedia kok menawarkan jasa."

Tawaran cuma-cuma si gadis bersanggul, kawan karib Aria, saat itu juga disambut gembira oleh guru bahasa inggris yang sekarang bertugas mengajar di kelas mereka. Menggunakan aksara abjad yang ditulis tak beda jauh dari hasil cakaran kaki ayam, Cul harus mengarang "surat cinta" di papan tulis.

= \/\/\\/ =

"Kau tidak bisa menipu gadis itu untuk selamanya, Yohio. Matanya melihat terlalu banyak."

Dari sebuah gang terpencil di area distrik kumuh dan remang-remang, seorang pria berjambang tipis, berpakaian kemeja usang serta bercelana jins lusuh bergumam pada dirinya sendiri. Di sekelilingnya bergelimpangan manusia-manusia yang tergolek tak sadarkan diri. Sekilas, pemandangan itu menghadirkan kesan bahwa suatu pergulatan sengit baru saja terjadi, sedangkan pria itu tampil sebagai orang terakhir yang masih berdiri.

"Crimson Lullaby. Malam itu akan hadir kembali. Siap atau tidak, kita semua yang ada di sini akan terlibat."

Monolog pria itu serempak diredam oleh suara jerit melengking bersahut-sahutan. Lima titik buram muncul dari tiga dinding bangunan yang mengelilingi dan mengarah ke satu jalan. Dari empat titik itu, empat kepala nenek-nenek menyembul keluar. Masing-masing dari kepala tersambung pada badan seekor ular raksasa bersisik hitam. Mereka tidak sepenuhnya memisahkan diri dari dimensi seberang. Sebagian tubuh terulur. Meliuk naik. Senyum mereka menyeringai di wajah yang hanya tersisa kulit tanpa daging. Sedangkan di titik terakhir, sebuah bola mata seukuran sepuluh kali bola sepak berkedip-kedip. Melirik kesana kemari sebelum terkunci pada sosok si pria.

"Inilah mengapa aku benci orang-orang berimajinasi tinggi. Mereka hanya membuat pekerjaan ini semakin repot saja. Awas saja jika sampai aku berhadapan dengan Godzilla."