ramai-ramai
dekat ruang simpan sapu
kawan bilang
sepasang tengkar

kudengar suaramu
jerit pedih kehujanan serapah si bedebah

marahku
hujan serapahku
buat si bedebah

mari
genggam ini
lari kita
jauh, jauh
ke kafetaria

...

Tidak biasanya gudang tempat menyimpan alat kebersihan dikerubungi para siswa. Dengar-dengar, itu karena ada yang sedang bertengkar di sana. Aku masa bodoh, lebih pilih merampungkan catatan ketimbang ikut-ikut jadi spektator. Sampai jerit pilu itu tertangkap gendang telingaku.

"Hentikan! Aku mohon, hentikan! Kita sudah selesai, sudah selesai!"

Balasan serapah menyusul segera sesudahnya.

"Goblok, lacur goblok! Itu keputusanmu sepihak, aku tidak!"

Kupingku pengang. Bedebah satu itu memang merangsang nafsu orang untuk melempar bogem mentah. Bagus, aku sedang ingin orgasme amarah. Tanganku mengepal, siap meninjunya tepat di bibir yang cuma bisa mengeluarkan sampah.

"Kamu, kamu yang goblok! Dia bilang sudah selesai, tapi otakmu kelewat bebal untuk bisa memahami omongannya!" Tinjuku belum jadi kulayangkan. Si bedebah cuma mendecih-decih, meremehkanku sejadi-jadi.

"Kamu tahu apa? Lihat, Hyuck, pahlawanmu!" Si bedebah menyeringai, "Sudahan denganku karena anak culun ini? Benar begitu, Hyuck? Lacur goblok!"

"Bedebah sial! Kamu nggak pantas buat Hyuck!" Kuikhlaskan tinjuku sekadar jadi angan. Tidak bijak kalau aku main tangan terhadap si bedebah yang belakangan kutahu ternyata adalah anak tunggal dari Bapak Kepala Sekolah.

Kugandeng tangan Donghyuck erat. Berjalan berdampingan, kami menjauh dari keramaian yang berangsur lengang, menjauh dari si bedebah yang mendendam.

Kami berhenti di kafetaria. Sebelum memilih meja, kutanya dia ingin apa. Dia menggeleng, tidak lapar katanya. Lantas, kubelikan dia minum.

"Maaf, ya?"

"Kenapa minta maaf?"

"Maaf, aku nggak bisa bantu banyak."

"Yang tadi sudah cukup. Terima kasih, Mark."

Bukannya sama-sama, balasanku malah gelengan putus asa.