Disclaimer: I own nothing but the story
Shortfic chaptered won. Enjoy~
.
.
.
Past Present Future
Chanbaek pairing
WARN: Sho-ai, BL, Yaoi
Sorry for typo(s)
.
.
.
Ruang dibatasi dinding kaca tebal dengan beberapa lubang kecil untuk jalan masuk partikel suara. Tanpa jendela. Hanya tersedia satu kursi di masing-masing ruangan. Tahanan bersurai kapas sedang mengangkat kakinya ke atas meja gantung, punggung bersandar penuh pada kursi dan tangan melipat di depan perut. Disebrangnya, terpisah kaca tebal, ada seorang lelaki paruh baya, rambut putih yang mendominasi menampilkan seberapa manusianya dia tidak peduli dengan kemampuan hebat yang dimiliki.
"Tugasmu mudah."
Sebuah dokumen berisi kertas-kertas dari data umum sampai beberapa rahasia yang ditutupi Negara. Siapapun yang memilikinya akan mendapatkan keuntungan jika menjual informasi tersebut. Direktur NIS memegang tanggung jawab berat itu sendirian.
"Gunakan informasi di sini untuk membantu pihak berwenang menyelesaikan masalah. Kau diperbolehkan meretas halaman mereka, tapi jangan menanamkan virus permanen, itu akan meninggalkan jejak."
Chanyeol mendorong-dorong kursi ke belakang dengan bantuan kaki dan punggung. Bermain tanpa takut dihukum gravitasi.
"Berarti aku menjadi anjing penjaga kalian sekarang?"
Direktur Choi menegakkan tubuhnya. "Kalau kau suka berbisnis, anggap itu uang sewa yang harus kau bayar. Kau mengerjakan tugas, kami memfasilitasi kebutuhanmu. Mutualisme."
Chanyeol menatap dokumen di hadapannya dengan bosan. Ia tidak begitu suka membaca informasi umum yang sangat mudah didapatkan tanpa media kertas. Sebagai orang yang pernah memiliki rasa hormat terhadap pangkat yang lebih tinggi, ia mengambil dokumen itu.
"Baiklah. Tapi aku mau satu anggotamu tetap berada di ruanganku. Aku butuh sedikit bantuan saat meretas laman."
Direktur Choi mengernyit, "Kau sudah memiliki penjaga. Tapi kalau kau mau orang tambahan kurasa kami bisa memberikan dari ruang server—"
"Tidak butuh. Aku hanya mau dia." sela Chanyeol.
Kepalanya menunjuk ke arah pintu di belakangnya. Kepada seorang anggota NIS yang berjaga di luar sana. Yang sipitnya setajam gigi hiu. Mencabik kepercayaan diri siapapun yang menantangnya.
Satu alis terangkat, nada suara yang dikeluarkan terdengar meragu tanpa diperintah. "Byun Baekhyun?"
Chanyeol mengangguk. Tersenyum lebar yang mengirimkan getaran sampai ke tulang punggung—sarat akan ancaman. "Orang yang sudah saling kenal mudah untuk bekerja sama."
Direktur Choi kelihatan sulit untuk memutuskan. Pria tua itu berpikir dalam sampai lipatan di dahinya terhitung tiga. Tapi Chanyeol tidak mungkin mudah menyerah. Seorang hacker itu dijamin sangat keras kepala. Mereka menggunakan segala cara sampai berhasil menghack suatu sistem.
Kaki diturunkan, kursi menghentak jatuh ke posisi semula. Debumannya menyentak ketegangan sampai Baekhyun menoleh dari tempatnya. Mengira-ngira apa yang didebatkan dua orang pembicara. Chanyeol menampilkan ekspresi kecewa.
"Sayang sekali. Sepertinya aku harus bekerja sendirian. Siapa tahu menemukan kode rahasia untuk kabur dari sini—"
"Baiklah. Kau mendapatkan Baekhyun." helaan napas berat dikeluarkan.
Chanyeol tersenyum sopan, "Terima kasih." Bangkit dari kursi, berdiri tegap. "Anda tidak akan menyesali keputusan itu."
Memunggungi lawan bicara untuk menuju pintu keluar. Baekhyun membukakan pintu untuknya. Chanyeol tersenyum lebar seperti anak kecil, merentangkan tangannya seolah menunggu sesuatu.
"Apa?" tanya Baekhyun dengan satu tangan memegangi revolver di kantong celana. Firasatnya berbisik bahwa tahanan ini akan berbuat tindakan kriminal.
"Menunggu pelukan selamat datang kembali."
Baekhyun membuang wajah. Memimpin jalan lebih dulu. "Tidak akan terjadi."
Chanyeol tidak kecewa. Matanya lurus tertuju pada punggung teman lamanya. Partner barunya. Dua sisi lorong memproyeksikan masa depan. Membayangkan misi-misi yang akan dilewati bersama seperti hari-hari sekolah dulu. Rasanya rindu sekali.
Kakinya melangkah, mengikuti jejak Baekhyun.
.
.
.
.
"Lakukan dengan benar, Park."
Mengangguk.
"Lebih cepat lagi."
Menurut.
"Kau ini lamban sekali seperti siput."
Lirikan sengit dilempar. "Jangan sombong ya. Kau baru dua putaran di depanku."
Baekhyun melambatkan lari, sengaja agar bersebelahan dengan Chanyeol. "Kau sendiri yang memilih misi sulit. Jadi kau harus tanggung resiko pelatihan fisik untuk menyusup ke headquarters."
Chanyeol mengiya-iyakan dalam hati saja. Raut wajahnya sudah super terganggu. Ia hampir tidak percaya bahwa lelaki pendek ini sama dengan teman sekolahnya dulu. Byun Baekhyun itu banyak mengeluh jika sudah menyangkut bidang lari. Mulutnya tidak akan menutup akibat sibuk menyumpahi guru olahraga mereka yang kejam tak kira-kira menentukan berapa putaran yang wajib dicapai.
Tapi lihat sekarang. Chanyeol menjadi satu-satunya yang kelelahan lebih dulu sementara Baekhyun sudah menyusul dua putaran.
Kemana Baekhyun yang lemah dan butuh dilindungi? Sudah wafat.
.
.
.
.
"Diam di tempatmu."
Chanyeol mendongak dari komik ditangannya. Baekhyun cukup menjulang dihadapannya dengan satu kaki naik ke atas meja seperti itu. Terkadang, sikap Baekhyun justru jauh lebih bar-bar dari lelaki bermarga Park.
"Secara harfiah semua murid seharusnya sudah berkumpul di lapangan. Apa yang kau lakukan di sini?"
Baekhyun menurunkan komik Chanyeol sampai menyentuh meja. "Kau tahu aku benci Guru Kang. Siapa yang mau lari keliling lapangan saat memasuki akhir musim gugur? Meski memakai jersey sekalipun aku tidak sudi."
Chanyeol merotasikan mata sebelum menilik pakaian yang pendek. "Kalau begitu untuk apa kau berganti seragam olahraga kalau tidak niat absen di kelasnya?"
"Untuk alibi!"
Chanyeol mengangkat komik lagi ke depan wajah, menghalau eksistensi lawan bicara. Tapi Baekhyun sama pemaksanya dengan Chanyeol. Jadi percuma. Untuk beberapa hal, Baekhyun mengambil tindakan ekstrem. Ia memutuskan naik sepenuhnya, duduk di atas meja Chanyeol lalu membuang komik itu ke belakang punggungnya.
Chanyeol terpongah. Tangannya terulur melewati sisi pinggang Baekhyun, berusaha menggapai komiknya dalam detik terakhir.
"Bacaanku—"
Kerah jersey Chanyeol yang tersleting tinggi ditarik tak senonoh oleh jemari lentik. Ketika mendongak, raut tegas Baekhyun berjarak sejengkal darinya. Konsentrasinya tersedot pusaran dalam iris kecoklatan itu.
"Dengar, karena kau juga punya reputasi buruk soal perabsenan, mari kita bekerja sama."
Tangan yang terulur akhirnya jatuh di atas meja. Raut wajah Chanyeol cukup terkontrol meski dalam benak terkejut luar biasa atas kenekatan Baekhyun.
Mendapati Chanyeol tak merespon apapun, Baekhyun pikir kali ini adalah kemenangannya. Namun sedetik kemudian asumsi itu dirobohkan dengan pergerakan Chanyeol yang berdiri sampai pegangan tangannya dikerah jersey terlepas.
"Tidak mau. Aku akan turun ke bawah sekarang."
Baekhyun lebih gesit dari Chanyeol. Jika lelaki tinggi itu tidak berhasil menggapai komiknya, Baekhyun berhasil meraih sejumput lengan jersey hijau itu.
"Chanyeol. Aku tidak percaya akan mengatakan ini, tapi…" tegukan sekali untuk menelan ego sampai lambung, "..please accompany me."
Baekhyun paling anti meminta pertolongan pada musuh bebuyutan. Chanyeol pun paling anti berbelaskasihan padanya. Untuk beberapa faktor, Baekhyun rela meletakkan harga dirinya dulu ke lantai. Dan untuk beberapa faktor yang lain, Chanyeol tidak bisa menolaknya.
Chanyeol menghela napas. Kembali duduk di kursinya sambil mengeluarkan ponsel untuk bermain game. "Lakukan sesukamu. Tapi jangan merengek karena aku tidak mendengarkan ocehanmu."
Baekhyun tersenyum. "Tenang saja. Aku juga berniat mengabaikanmu kok."
Meja Chanyeol bergeser sedikit-sedikit karena pergerakan Baekhyun di atasnya yang mencari posisi nyaman untuk duduk. Ia bersandar ke dinding tanpa ada niatan untuk turun dari sana. Chanyeol mengacuhkannya. Iris gelap lurus pada layar ponsel meski kaki berbalut celana training panjang milik Baekhyun agak mengganggu konsentrasi.
Dan selanjutnya sungguhan senyap.
Tak ada suara selain sound effect dari speaker ponsel Chanyeol. Lelaki tinggi itu terus bermain sampai berlevel-level lamanya. Hingga ia kehabisan darah untuk memulai stage baru, ponsel dilepas dari genggaman lalu lengannya merentang ke atas.
"Ah duduk tegap seperti ini membuatku pegal." gumamnya seorang diri.
Ia melirik, tak jauh dari ponsel ada tangan Baekhyun yang terkulai tanpa tenaga. Penasaran, pandangannya dinaikkan ke atas lalu yang didapatinya kemudian adalah wajah tidur Baekhyun. Anak itu benar-benar tidur duduk di atas meja dengan satu kaki terlipat dan lainnya menjuntai ke bawah.
Chanyeol menyimpan ponsel ke kolong meja secepatnya. Lehernya pegal karena menunduk sementara punggungnya pegal karena terus menegap. Niat membaca komik sudah musnah. Permainan diponsel sudah kehabisan darah. Jadi yang ia lakukan selanjutnya adalah merebahkan kepala di atas paha Baekhyun. Daritadi ia meliriknya, kelihatan empuk. Proporsional untuk dijadikan bantal dadakan.
Sebelum waktu berlalu cepat, Chanyeol tidak ingin menyia-nyiakannya. Ia menarik diri, meraih tangan Baekhyun untuk dicium sekilas. Senyuman geli tidak bisa ditahan. Terkadang ia berpikir betapa cheesy dirinya selama ini.
Kembali merebahkan kepala, tangan Baekhyun sengaja diletakkan di atas lehernya. Biar saja. Supaya saat bangun nanti, Chanyeol bisa puas mengejek Baekhyun dengan tuduhan sudah meraba-raba kepalanya dalam tidur. Dengan pemikiran dangkal itu ia menikmati keheningan sampai terlelap.
Tapi bukankah Baekhyun bisa lebih dulu menuduh Chanyeol karena tidur berbantalan pahanya?
Sekali bodoh, tetap bodoh.
.
.
.
"Kau menyiksaku dengan putaran sebanyak itu, Baekkie."
Baekhyun meletakkan botol mineral ke samping sebelum beralih menatap Chanyeol yang menghampirinya dengan wajah kelelahan. Pria tinggi itu baru selesai sementara Baekhyun sudah nyaman bersantai mengatur napas sejak tiga menit yang lalu.
"Whiny-brat." ledek Baekhyun.
Chanyeol menjatuhkan diri, sengaja merebahkan kepala pada paha Baekhyun yang menganggur. Si anggota NIS terkesiap.
"Pinjam pahamu sebagai gantinya."
Dengusan dikeluarkan. Ia tidak kaget lagi dengan sikap lancang. Mau mengusir pun percuma. Baekhyun mengalihkan pandangan ke lapangan luas yang kosong. Bangunan di belakang punggungnya dikhususkan untuk para tahanan NIS yang sedang diawasi dalam ikatan perjanjian kerja sama. Mereka difasilitasi namun juga dikurung. Diberikan yang diinginkan namun juga dibatasi. Bagai penjara pribadi.
Baekhyun tahu ada banyak penjahat berbahaya di dalam gedung itu. Hanya saja tempat ini terlalu luas sehingga lapangan pun diisi mereka berdua saja.
Dan seseorang dipangkuannya ini pun termasuk dalam daftar orang berbahaya. Baekhyun hanya tidak menyangka bertemu lagi dengan pria ini dengan status yang berbeda jauh. Satu hal yang masih ia yakini, Chanyeol tetaplah Chanyeol. Tidak akan bosan mengganggu dan mengejeknya.
Hacker buruan CIA?
Yup, orang itu tengah mengipasi diri sambil mengeluh betapa pegal kakinya akibat berlari puluhan putaran. Really. He is such a whiny brat.
"Apa rambutku begitu enak dimainkan, Baekkie?"
Tersentak, pojok kesadarannya disentil bangun. Baekhyun mendapati jemari lentiknya mengait pada helaian pinkish Chanyeol.
Tunggu.
Sejak kapan?!
Apa dia terlalu gemas dengan pria tinggi itu? Tidak mungkin!
Baekhyun langsung mengeratkang cengkraman untuk menarik rambut dengan kejam, "Tidak enak. Rambutmu lepek."
Chanyeol meringis, "Sialan. Kau tidak perlu menariknya juga, kan."
Baekhyun sebenarnya tak mau peduli. Tapi yang namanya naluri kemanusiaan, sudah pasti ada sebersit perasaan bersalah. Cengkraman mengendur, kepala menunduk untuk melihat wajah lawan bicara lebih jelas.
"…maaf, apa sakit?"
Tangan terulur cepat. Jari telunjuk mengait pada choker hitam yang melilit leher Baekhyun lalu ditarik ke bawah—
—hanya berani dibayangkan dalam kepala. Chanyeol menahan dirinya terlalu kuat. Ia ingin sekali mencium lelaki itu usai melihat raut cemas untuknya. Kebutuhan duiawi yang sudah dipendamnya selama bertahun-tahun. Terkadang ia memuji kehebatan dirinya dalam mengontrol hasrat.
Ia memutuskan untuk mendaratkan telapak tangan Baekhyun di kepalanya lagi. Memperagakan gesture mengusap. "Lakukan lagi sampai aku selesai beristirahat sebagai permintaan maafmu."
Baekhyun merotasikan mata, "Tidak lebih dari dua menit."
Chanyeol tersenyum. "Deal."
Ya. Untuk beberapa faktor lain, Chanyeol tidak bisa menolaknya. Tidak jika itu keinginan Baekhyun.
.
.
.
.
TBC
a/n: Untuk reviewnya, untuk favnya, untuk follownya, untuk support and all—BIG THANKS TO YOU~!
to Real ayd: makasih udah disemangatin~ saya jurusan multimedia, dan semester 6 nanti bakal lebih intense lagi deadlinenya dibandingin semester 5 /emot nangis/ so sorry that very-slow-update mode on.
to baekthelight: that "I'm kinda thirsty of Chanbaek's ff" I CAN RELATE XD
to dhiandradhe18: sooooorry, stuck ditengah-tengah /insert emot nangis/ saya berusaha dapetin lagi feel Alexithymia. Please wait a bit more.
to chanbaekis: yes, a lot of sweets. I promised~!
...
Extra
"Kenapa setelah tidur rasanya pegal sekali, urh…"
Baekhyun mengucek mata. Lehernya memutar sampai berbunyi. Ia merasakan beban tambahan di pahanya. Ketika dilihat rupanya Chanyeol menjadi penyebab.
"Dasar."
Ia mendengus pelan melihat tangannya berada di sekitar leher lelaki tinggi. Sudah pasti ulah Chanyeol juga. Kepala menoleh pada jam dinding di atas papan tulis, memastikan waktu masih banyak sebelum pelajaran olahraga selesai. Tangan berpindah, merambat pelan-pelan untuk ditelusupkan pada helaian hitam ikal. Dengan penuh afeksi mengusaknya. Senyuman lemah, tender looks dengan tutur mengalun lembut;
"Kau akan bagaimana jika tanpa aku, Chanyeol."
Terima kasih sudah membaca~!
