.
.
.
Disclaimer ~ Masashi Kishimoto
Love Like This ~ Keinarra Minami
Genre : Romance / Hurt/Comfort / Drama
Warning : Au, Ooc, No-EYD, Typo, Lime Inside
Don't like, don't read
.
.
.
..
Omotesando - Tokyo
Bertahun-tahun sudah aku lalui kehidupanku bersama putri kecilku dan keluarga baruku, tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Sekarang ia telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang begitu cantik, dengan kepribadian yang sebenarnya membuat aku tidak pernah bisa melupakan masa laluku.
Ya, Himawari memiliki sifat seperti ayahnya, walaupun tidak seutuhnya sama persis.
Tapi itu cukup membuat aku selalu memikirkan lelaki itu di sepanjang hidupku.
..
Embun pagi masih membasahi dedaunan, aroma sejuk tercium menyeruak begitu segar menembus paru-paru. Di sebuah apartemen mewah dengan ornamen Jepang klasik di setiap sudut ruangan, tercium aroma lavender yang begitu menenangkan saat mulai memasuki ruangan bernuansa biru muda dan putih.
Seorang gadis remaja berumur dua puluh tahun yang mempunyai mata blue sapphire indah dengan surai panjang indigonya tengah bersiap untuk melakukan sesi pemotretan hari ini, seperti biasa sebagai seorang model.
"Hima-chan, apa kau sudah siap sayang?" panggil seorang wanita cantik dari arah ruang makan.
"Sudah Kaa-chan, aku akan segera ke bawah." Gadis cantik bernama Himawari, keluar dengan mengenakan mini dress lengan pendek berwarna merah muda sepuluh senti di atas lutut.
Hinata sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya dan putri semata wayangnya yang amat ia cintai, selalu sepenuh hati membuat ramen kesukaan putri kecil yang sekarang sudah beranjak dewasa.
"Ohayou Kaa-chan."
"Ohayou Hima-chan."
Himawari mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang berada di ruang makan, membalas senyuman sang ibu yang masih terlihat begitu cantik di usianya yang sudah jauh dari kata muda.
"Ne ... tuan putri, hari ini cantik sekali!" ucap Hinata dengan seulas senyum penuh cinta.
"Arigatou Kaa-chan."
"Ayo habiskan sarapanmu sebelum Tou-chanmu datang."
"Ha'i. Em ... Kaa-chan." Panggilnya dengan nada serendah mungkin pada sang ibu.
Hinata menghentikan sarapannya saat Himawari memanggil dan melihat putri kesayangannya sedang menatap ke arahnya dengan tatapan takut. "Ada apa sayang? Kenapa kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu! Katakan saja, Kaa-chan tidak akan marah."
"Hm ... jadi begini, nanti malam Nii-chan ingin mengajakku menghadiri pesta ulang tahun perusahaan sahabat, Sai ji-san. Dan apakah aku boleh ikut, Kaa-chan!"
Masih menatap datar ke arah sang putri. "Emm ... jadi begitu, pantas saja dari semalam kau terlihat murung. Tentu saja boleh, sekarang kau sudah dewasa dan Kaa-chan tidak akan lagi melarangmu untuk pergi ke pesta orang dewasa." Ucap Hinata lembut.
Himawari membulatkan kedua mata indahnya, antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan sang ibu. Padahal selama ini ibunya selalu melarang dirinya melakukan apa pun yang menurutnya tidak penting, bahkan terkadang untuk sekedar berjalan-jalan dengan teman-teman saja, ia harus bersusah payah mencari alasan agar sang ibu mengijinkannya untuk pergi.
"Benarkah. Kaa-chan tidak sedang bercanda 'kan?"
"Tentu saja Kaa-chan tidak bercanda. Tapi, dengan satu syarat."
Glek
Menelan ludah mendengar ibunya memberikan syarat atas ucapannya tadi, ternyata ibunya belum sepenuhnya membebaskan dirinya.
"Jangan coba-coba menghabiskan satu botol sake sendirian." Setelah mengatakan itu Hinata tertawa, dan terlihat sangat lepas.
Ikut tertawa bersama sesaat setelah mendengar perkataan konyol sang ibu, bagaimana ia mau menghabiskan satu botol sake. Merasakan minum satu gelas kecil sake saja belum pernah ia lakukan sama sekali selama ini, walaupun teman-teman dan Nii-channya sering menyodorkan minuman berbau menyengat itu.
Drrtt Drrtt
Merasa ada getaran dari dalam tas berwarna putih miliknya, Himawari memasukkan sebelah tangan mencari ponsel pintar miliknya. Segera mengangkat panggilan masuk dan kemudian mengarahkan ke telinga kirinya.
"Cepatlah keluar, aku sudah di depan pintu apartemenmu."
"Tunggu sebentar."
Memutus panggilan masuk dan berdiri dari duduknya, "Kaa-chan aku berangkat sekarang." ucapnya dengan senyum bahagia.
"Hati-hati di jalan sayang."
"Ha'i." Kemudian Himawari menyambar tas selempang di kursi sebelah dan melangkah menuju pintu keluar, meninggalkan ibunya yang menatap punggung sang putri dengan senyum penuh arti.
.
.
Cklek
"Nii-chan ... ayo kita berangkat sekarang." Keduanya berjalan menuju basemen.
"Tumben hari ini kau semangat sekali, Hima-chan? Apa kau baru saja menerima bonus, hn!" ujar pemuda berambut pirang di kuncir sambil mengusap lembut surai indigo sang gadis. "Jangan lupa teraktir Nii-chanmu yang tampan ini, ya." Lanjutnya.
Himawari mengembungkan pipi. "Ne ... tidak ada bonus, Inojin-nii. Dan Nii-chan tidak lupakan kalau hari ini akan mengajakku jalan-jalan?"
Sampai di tempat parkir sang pemuda bernama Inojin membukakan pintu mobil untuk sang adik dan mempersilahkannya masuk. "Tentu saja, nanti aku akan mengajak Imotou-chanku tercinta ini bersenang-senang," menyentil ujung hidung mancung Himawari. "Tapi, setelah kita selesai dengan acara pesta itu, ya!"
"Benarkah!"
"Apa pun untukmu," kata Inojin dengan senyum manisnya, yang kini duduk di sebelah Himawari tepat di kursi pengemudi.
"Tapi aku inginnya sekarang, pagi ini." Mengotak atik ponsel pintar miliknya. "Begini saja, kalau begitu hari ini aku akan ijin pemotretan pada Tsunade-sama." ucap Himawari kegirangan karena bila di ingat lagi sudah lama sekali ia tidak pernah jalan-jalan.
Apa lagi sekarang sang ibu sudah mengijinkannya untuk bisa pergi tanpa harus khawatir akan di telepon setiap jam, menit bahkan detik. Setiap kali ia keluar bersama Nii-channya atau pun teman-temannya.
"Hn, jika kau ingin Tsunade-sama tidak memberimu cuti sehari pun selama satu bulan." Melirik ke arah Himawari yang kini menatapnya dengan mulut berbentuk O.
"Tidak jadi kalau begitu, sekarang Nii-chan antar aku ke lokasi pemotretan. Dan aku akan segera menyelesaikan semuanya hari ini."
Hanya terkekeh kecil melihat ekspresi kepanikan gadis bertubuh mungil di sampingnya. "Baik, tuan putri."
Menghidupkan mesin mobil kemudian melesat menuju tempat tujuan.
.
.
.
Futako tamagawa - Tokyo
Mansion Uzumaki terlihat begitu lengang, seperti biasa kediaman Uzumaki sepi tanpa ada aktivitas.
Hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang dengan tugas mereka masing-masing.
Karena hanya di huni oleh dua lelaki tanpa adanya seorang wanita kecuali beberapa pelayan wanita. Dan tidak pernah ada lagi ocehan serta tawa seorang wanita, setelah tiga tahun yang lalu Kushina Uzumaki pemilik utama perusahaan properti terbesar di kota Tokyo itu memilih tinggal sendiri di kediamannya, yang sebenarnya tidak jauh dari mansion Uzumaki.
Memilih hidup sendiri untuk merenungi semua yang telah terjadi di dalam hidupnya, dan menikmati masa tua dengan semua beban yang selama ini ia pendam.
Mewariskan seluruh aset perusahaan kepada putra semata wayangnya Naruto Uzumaki yang saat ini tinggal bersama putra tunggalnya Boruto Uzumaki yang juga ikut andil dalam menjalankan perusahaan keluarga.
"Kenapa harus aku yang menghadiri pesta itu, Tou-chan?" menatap bosan ke arah sang ayah.
"Sekali ini saja, Boruto." Ucap Naruto dengan terus menatap koran yang sedari tadi ia baca.
Sebagai putra tunggal dari keluarga Uzumaki sudah sepantasnya kali ini Boruto menjadi perwakilan dari sang ayah yang kebetulan tidak bisa hadir di acara ulang tahun perusahaan sahabatnya yang bermarga Uchiha itu.
Naruto hanya tersenyum kecil, ia tahu perasaan sang putra yang sangat tidak menyukai keramaian. Apa lagi selama ini memang ia tidak pernah mau ikut dalam acara-acara besar perusahaan atau pun acara pernikahan, setiap kali sang ayah mengajaknya agar sang putra bisa terbiasa dengan suasana keramaian di acara formal ata pun non formal.
Tapi apa daya, putranya itu begitu keras kepala. Dan Naruto tidak ingin membuat Boruto menjadi membenci dirinya karena terlalu memaksakan kehendak yang bukan keinginan sang putra.
"Ta-tapi ..."
"Sekali ini saja. Lagi pula ini bukan masalah besar untukmu 'kan, Boruto?" potong sang ayah cepat.
Melangkah ke arah sang ayah dan duduk bersama di sofa besar yang berada di ruang tamu. "Hn. Tapi acara seperti itu sungguh sangat membosankan."
"Aku tahu kau sangat bosan dengan acara seperti itu, apa lagi di sana hanya akan ada para orang tua yang sangat membosankan juga, bukan!"
Memutar bola mata bosan. "Tou-chan 'kan sudah tahu, kenapa masih menyuruhku untuk pergi ke acara itu?"
"Tenang saja, Sasuke ji-san sudah menyuruh para tamu undangan untuk mengajak anak-anak mereka. Jadi, kau tidak perlu merasa bosan nantinya." ujar Naruto pada sang putra.
Berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke arah kamar lagi. "Percuma saja Tou-chan mengatakannya, karena hal itu tidak akan membuat rasa bosanku pergi begitu saja."
"Tunggu, satu lagi Boruto." perkataan sang ayah membuatnya menghentikan langkah. "Dan kemarin Sarada baru saja pulang dari luar negeri, apa kau tidak merindukannya?"
Langsung berbalik menatap punggung sang ayah yang masih terduduk di atas sofa. "Tou-chan tidak sedang mempermainkan aku, 'kan?"
"Untuk apa juga Tou-chan mempermainkanmu, tidak ada untungnya."
Kini semangat masa mudanya kembali setelah mendengarkan ucapan sang ayah, karena Sarada adalah sahabatnya sedari kecil yang selama ini selalu bisa membuat ia bahagia meskipun mereka berdua sering bertengkar.
Jika bukan karena ia harus belajar di negeri paman sam sejak duduk di bangku menengah atas, mungkin sampai saat ini mereka tidak akan perlu repot-repot berkirim pesan melalui telepon atau pun media sosial hanya untuk menanyakan kabar masing-masing.
"Tapi kenapa Sarada tidak memberi tahu padaku jika ia akan pulang!" langkahnya terhenti tepat di depan pintu.
Naruto mendengus kesal karena sang putra hanya terus bertanya tanpa berpikir dulu sebelum menanyakan hal-hal tidak pentingnya. "Mungkin dia ingin memberi kejutan untukmu, jika kau tidak segera pergi. Kemungkinan besar kau tidak akan bisa bertemu dengannya."
"Kenapa begitu?"
"Karena hari ini juga dia harus kembali ke luar negeri."
Mengacak surai belondenya kasar. "Aah ... dasar dia itu ... baiklah ... baiklah ... aku akan berangkat sekarang."
Karena panik mendengar perkataan Naruto, segera Boruto membuka pintu dan berlari kecil menuju mobil yang sudah siap menunggunya sedari tadi.
Melihat kelakuan Boruto, membuat sang ayah terkekeh dan menggelengkan kepala pelan. "Dasar anak itu, mudah sekali tertipu. Tapi kalau tidak begini, pasti dia akan kembali ke kamarnya dan hanya tidur seharian." Gumamnya pelan.
.
.
.
Malam berbintang di salah satu hotel bintang lima di kota Tokyo, mobil-mobil mewah terlihat memenuhi tempat parkir hotel mewah itu.
Dekorasi dengan mengusung konsep mewah tidak akan jauh dari kata gemerlap, saat pertama memasuki gedung pesta di salah satu ruangan dengan perpaduan warna silver dan gold.
Mulai dari display setiap ornamen dalam gedung hingga penampilan tamu yang tentu saja tidak jauh dari kesan mewah.
Di dalam salah satu kamar hotel, gadis bermata onyx dengan dress maroon panjang tanpa lengan yang menutupi kaki jenjangnya telah selesai dengan semua persiapannya.
Tidak lupa heels dengan warna senada menambah kesan elegannya malam ini, mencepol rambut panjang berwarna hitam legam yang sangat lembut itu, hingga menampakkan leher putih nan mulus yang berhias kalung liontin berwarna putih.
Dengan di temani sahabat masa kecil yang sedari tadi telah menunggunya, dan kurang lebih sudah satu jam yang lalu.
Sedikit membenarkan kembali riasan di wajahnya di depan cermin. "Bagaimana kuliahmu sekarang, Boruto?"
"Tidak ada yang menarik, kau sendiri apakah tidak bosan bertahun-tahun tinggal jauh dari kedua orang tuamu, Sarada?" ucap Boruto yang kini tengah duduk santai di atas kasur empuk di sana.
"Rasa bosan pasti ada, tapi semua itu sudah berlalu."
Boruto bangkit dari duduknya, ia melangkah mendekati sang gadis dan memeluknya mesra dari belakang. "Jadi, apa sekarang kau ingin melanjutkannya di sini saja bersamaku?"
"Em ... entahlah, aku masih belum memikirkannya. Memangnya kenapa, Boruto?" jawab gadis bernama Sarada dengan sedikit memiringkan kepala, karena ulah pemuda blonde yang saat ini tengah menaruh dagunya tepat di leher jenjang miliknya.
Cup
Mencium mesra leher jenjang sang gadis dan sukses membuatnya sedikit mendesah karena rasa geli.
"Emmh ... Kau ini nakal sekali, Boruto."
Menghirup dalam aroma parfum sang gadis yang begitu elegan dan membius. "Aku lelah jika harus terus berjauhan denganmu. Jangan pernah pergi lagi dariku."
Sarada menatap ke arah cermin yang sedari tadi menampilkan kedua sejoli yang seperti akan memadu kasih di malam pertama mereka. "Apa yang kau lakukan? Kau ini menyebalkan sekali, memang kau siapaku!"
"Memangnya aku bukan orang yang spesial untukmu? Tak apa, itu bukan masalah bagiku. Hanya saja aku terlalu letih jika harus menunggu sahabatku yang pergi jauh meninggalkan aku lebih lama lagi." ucap Boruto yang kini juga menatap ke arah cermin di depan mereka.
"Berhentilah merayuku, lebih baik sekarang kita segera turun sebelum mama memarahi kita berdua."
Terpaksa sang pemuda melepaskan tautan lengannya pada pinggang Sarada, dan membenarkan tuxedo mahal berwarna hitam yang membuatnya terlihat begitu gagah malam ini.
"Oh ... baiklah, mungkin lain kali bisa kita lanjutkan."
Sedikit mendengus mendengar ucapan sang pemuda, "Boruto ..."
Hanya di balas senyum santai oleh pemuda bernama Boruto, dan mereka berdua segera turun menuju acara pesta.
.
.
Ruang pesta sudah mulai ramai oleh para tamu undangan yang datang menghadiri acara ulang tahun perusahan Uchiha Corp.
Seorang gadis bersurai indigo terlihat begitu anggun dan elegan dengan one soulder dress berwarna hitam, gaun yang hanya mempunyai satu lengan di sebelah kiri atau kanan yang memang sengaja di rancang untuk menampilkan sebelah bahu pemakainya.
Dengan riasan natural di wajah cantiknya dengan model rambut loose plait yang menambah kesan simple namun tetap menawan.
Berjalan berdampingan di atas karpet merah dan lengan saling bertautan, dengan pemuda bersurai pirang panjang yang di kuncir rapi dan terlihat sangat tampan malam ini, mengenakan jas berwarna grey, sangat serasi dengan gadis bersurai indigo di sampingnya.
Inojin melihat ke seluruh penjuru ruangan, di lihatnya pemuda berambut blonde teman satu sekolahnya saat di sekolah menengah atas dulu.
"Hima-chan, ayo kita ke sana." ajak Inojin pada Himawari yang hanya mengekorinya sedari tadi.
"Tunggu Nii-chan, aku haus." Ucap sang gadis.
Inojin mengambil dua minuman berwarna merah dari nampan pelayan yang kebetulan lewat di depan mereka.
"Satu untuk tuan putri." Memberikan satu minuman itu pada sang gadis dan keduanya menengguk minuman manis itu.
"Hey Inojin ..."
Suara sapaan lelaki yang memanggil namanya, membuat ia segera membalikkan badan mencari asal suara.
Dan benar saja, pemuda berambut blonde tadi yang memanggilnya.
Kini tengah berjalan menuju ke arahnya dengan senyum khas lima jari miliknya.
"Hey Boruto, baru saja aku ingin ke sana menghampirimu." Ujar Inojin membalas sapaan Boruto.
Memutar bola mata bosan saat mendengar ucapan teman sekolahnya ini. "Ya, karena memang dari dulu memang aku lebih cepat dari mu. Dan kau masih tetap saja kalah cepat dariku."
Inojin hanya tersenyum simpul. "Rupanya kau masih tetap sama seperti dulu, Boruto."
"Jangan terlalu jujur seperti itu, Inojin." Potong Boruto cepat dengan sedikit melirik ke arah samping belakang Inojin, yang ternyata temannya ini tidak datang sendirian ke pesta ini. "Siapa gadis di belakangmu itu? Apakah dia kekasih barumu? Wah ... kau sekarang sudah memiliki kekasih rupanya, berarti kali ini aku kalah cepat darimu, ne ... Inojin!" ucapnya sambil terus mencuri pandangan pada sang gadis.
Kali ini Inojin yang memutar bola mata. "Dia bukan kekasihku, tapi dia adalah Imotou-ku."
"Imotou? Bukannya kau anak tunggal!" tanyanya tak mengerti.
"Hn, memang aku anak tunggal."
Boruto mengerutkan dahi tanda ia semakin tak mengerti dengan perkataan teman pirangnya. "Jangan bertele-tele cep-"
"Aiisshh ... kau ini, dengarkan dulu. Dia itu sepupuku, dan dia satu angkatan dengan kita." Potong Inojin.
"Satu angkatan! Tapi, kenapa dulu aku tidak pernah melihatnya?"
"Dia dulu menempuh pendidikan di sekolah khusus perempuan."
"Pantas saja aku tidak pernah melihatnya. Dan apa kau tidak ingin memperkenalkan Imotou-mu itu padaku, Inojin!" Boruto mengedipkan sebelah mata pada pemuda di depannya dengan senyuman centil, membuat Inojin bergidik ngeri.
"Tadinya aku tidak ingin memperkenalkannya padamu. Tapi ... setelah melihat itu. Dan ternyata sepertinya sekarang kau sudah tidak menyukai seorang gadis, aku berubah pikiran." Kata Inojin meledek pemuda yang masih mempertahankan senyum genitnya.
Boruto seketika merubah ekspresi wajah, sesaat setelah Inojin mengatakan hal itu padanya, "Kau pikir aku sudah tak waras!"
Inojin tersenyum, melihat begitu cepat pemuda di hadapannya merubah ekspresi wajah dan nada bicaranya menjadi begitu dingin.
"Baiklah," menatap ke arah samping tepat pada sang gadis. "Hima-chan perkenalkan, dia Boruto teman Nii-chan saat di sekolah dulu."
Sang gadis menatap Boruto yang begitu gagah dengan tuxedo hitam yang ia kenakan. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan satu yang sangat terlihat menonjol dari pemuda di hadapannya ini.
Begitu tampan dan berkarisma, sudah bisa di pastikan dia bukanlah pemuda sembarangan.
Boruto mengangkat sebelah tangannya tepat di depan sang gadis. "Salam kenal, aku Boruto Uzumaki."
Himawari menatap blue sapphire Boruto yang begitu indah, dan tak ia sadari ternyata bola mata indah itu sangat mirip dengan bola mata miliknya.
Kini pandangannya beralih pada tangan besar Boruto dan membalas jabat tangan sang pemuda blonde dengan senyum hangat menghiasi bibir peachnya.
"Salam kenal Boruto, Himawari Otsutsuki."
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Intan sept : Ok... kapan" juga boleh :))
Baenah231 : Ini sudah lanjut :)
TryanaYuhara : Iya Naru amnesia, saya usahakan secepat mungkin up - nya :D
yuHime-ChaN : Naru hilang ingatan karena suatu hal, Boruto sama dia. Saya usahakan bakal ada misteri" di dalamnya dan makasih yuhime-chan sudah mau nunggu cerita author ^^
Guest : Makasih. Ini sudah up
Barbara Pervin : Makasih sudah mau review dan nungguin cerita ini :)) Kie jadi makin semangat heehee
.
.
Konnichiwa minna...
Terima kasih buat para reader yang udah mau ninggalin jejak dan buat para silent reader yang udah mau baca cerita ini.
Maaf kalau ceritanya jelek :((
Salam hangat Keinarra M.
Mind to RnR?
