.
.
.
Disclaimer ~ Masashi Kishimoto
Love like this ~ Keinarra Minami
Genre : Romance / Hurt/Comfort / Drama
Warning : Au, Ooc, No-EYD, Typo, Lime Inside
Don't like, don't read
.
.
.
..
California
Bertemu sahabat lama membuat lelaki bermarga Uzumaki lupa waktu, hingga tak terasa sudah satu jam lebih ia berbincang dengan wanita bersurai pirang pucat di hadapannya kini.
Sushi ran restoran di Sun Fransisco yang mendapat satu bintang Michellin dan di nobatkan sebagai salah satu dari lima restoran top di Sun Fransisco Bay Area, karena terkenal dengan perpaduan sajian tradisional Jepang dan wine.
Menjadi tempat mereka menghabiskan waktu hari ini, membahas tentang masa muda mereka saat masih menempuh pendidikan bersama di Imperial College London, sebuah universitas terbaik dunia.
Sesekali tertawa mengingat kembali dulu saat mereka yang ternyata sama-sama saling menyukai satu sama lain, namun tidak ada dari mereka berani mengatakan perasaan masing-masing.
Hingga saat kelulusan tiba, sang gadislah yang akhirnya mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam kepada sang pencuri hati.
Namun hubungan mereka tak bertahan lama, setelah satu tahun menjalin kasih dengan hubungan jarak jauh. Saat sang kekasih harus kembali ke Jepang dan dirinya yang masih meneruskan kuliah di London.
Begitu hancur hati dan perasaannya saat ia tahu ternyata pemuda yang selama ini selalu mewarnai hari-harinya itu sudah memiliki seorang putra, di kunjungan pertamanya ke mansion Uzumaki saat itu.
Walaupun mereka sama-sama lahir di Jepang, tapi mereka tidak pernah mengenal satu sama lain sampai akhirnya menempuh pendidikan di negeri seberang yang mempertemukan keduanya.
Memutuskan untuk pergi dari kehidupan sang pemuda. Tidak ingin lagi mengingatnya pernah ada di dalam hidup dan hatinya, tapi takdir ternyata berkata lain.
Mereka tidak sengaja bertemu saat rapat pertemuan antar beberapa pemimpin perusahaan di Jepang, dengan tujuan membahas tentang kerjasama dan soal saham perusahaan.
Merasa dunia ini memang begitu sempit, akhirnya sang gadis memutuskan untuk kembali berhubungan dengan sang pemuda, namun sebagai sahabat.
Meski sebenarnya ia tidak bisa memungkiri bahwa hati kecilnya masih sangat mencintainya.
Di tengah percakapan, sesekali terdengar gelak tawa di lontarkan sepasang manusia dengan gurat wajah bahagia. "Hahaha ... aku masih begitu mengingat kejadian itu. Kalau saja waktu itu kau tidak datang, mungkin aku sudah sangat malu karena kecerobohanku sendiri." Kata wanita cantik bernama Shion.
Naruto tersenyum mengingat kenangan masa lalunya saat pertama kali bertemu dengan mantan kekasihnya ini. "Sungguh pertemuan pertama yang begitu konyol."
"Iya, kau benar Naruto." Shion menyeka air mata yang keluar di ujung mata karena terlalu banyak tertawa. "Aku ingin bertanya! Sebenarnya ... mengapa sampai saat ini kau belum juga menikah, Naruto?"
"Entahlah, aku merasa lebih baik jika sendiri." Jawab Naruto seadanya.
"Kau ini ada-ada saja. Apa kau masih belum menemukan gadis yang selalu datang dalam mimpimu itu?"
Pertanyaan Shion seolah membuka kembali mimpi buruknya setiap malam yang sudah lama tidak pernah ia alami semenjak meminum obat anti depresi.
"Emm ... belum, aku sudah lama tidak pernah merasakan sebuah mimpi."
Guratan di dahi Shion kini tercetak jelas setelah mendengarkan jawaban Naruto. "Apa maksudmu kau tidak pernah merasakan sebuah mimpi?" pekik Shion dengan seribu tanya.
"Aku sudah lama mengkonsumsi obat anti depresi, kau tahu selama ini aku begitu tersiksa setiap bermimpi tentang gadis itu. Seolah-olah aku kembali ke masa lalu, padahal aku tidak mengenalnya. Istriku sudah lama meninggal, tapi gadis di dalam mimpi itu selalu datang menghantui, mengatakan sesuatu yang tidak pernah bisa ku ingat. Dan membuat aku selalu gelisah, cemas dan begitu ketakutan setelah bertemu dengannya." Mata Naruto seketika terlihat begitu sayu.
Beban mental yang ia rasakan selama ini tidak pernah bisa ia salurkan, berpuluh tahun ia mencari wanita dalam mimpinya. Namun hasilnya tetap saja nihil, semua sahabat yang mengetahui kondisinya juga tidak bisa membantu banyak.
Apa lagi mereka tidak tahu ciri pasti sang gadis, latar belakang, marga keluarga atau pun di mana tepatnya gadis itu berada.
"Tenanglah Naruto, aku mengerti perasaanmu saat ini. Mungkin memang belum saatnya kau bertemu dengannya, tapi suatu saat nanti aku percaya dia akan datang menemuimu."
Deg
Perkataan sahabatnya ini membuat detak jantung Naruto tak beraturan, mana mungkin gadis itu akan datang menemui dirinya. Bagaimana bisa? Jangankan mengenalnya, bertemu sekali pun mereka tidak pernah.
"Mendengar perkataanmu, sepertinya kau sangat yakin kalau dia akan datang menemuiku! Sejak kapan kau jadi peramal?"
Menatap lekat blue saphhire di hadapannya, begitu sebal mendengar pertanyaan konyol sahabat blondenya ini.
Shion menarik napas dalam menahan rasa kesalnya. "Sekarang dengarkan aku, pikirkan secara logika dan putar kembali ingatanmu kemasa lalu. Kau memiliki seorang istri, dia sudah lama meninggal dunia karena kebakaran hebat di mansion lamamu di Hokkaido, dan sekarang dia di makamkan di pemakaman milik keluargamu, bukan!"
Naruto menganggukkan kepala pelan.
"Aku ingat betul saat kau menanyakan tentang foto mendiang istrimu pada Kushina ba-san, beliau mengatakan kalau foto mendiang istrimu sama sekali tidak tersisa karena kebakaran itu, dan saat kau menanyakan tentang silsilah dari keluarga mendiang istrimu, sama sekali tidak pernah ada jawaban dan ... apa kau tidak pernah curiga dengan semua kejanggalan itu?" ucap Shion panjang lebar masih menatap lekat blue sapphire sebiru lautan yang terlihat jelas tengah meresapi setiap ucapan sang wanita.
"Mungkin Kaa-chan tidak ingin membuatku terlalu terpuruk dengan kejadian itu, hm." Naruto mendesah di akhir kalimat.
"Dulu ... itu dulu Naruto. Sekarang kau sudah dewasa, sudah saatnya kau tahu tentang semua masa lalumu."
Shion sangat yakin ada suatu hal besar yang sepertinya memang sengaja Kushina tutupi dari Naruto, setelah kecelakaan yang mengakibatkan sang putra koma hingga lupa ingatan.
Tidak sampai disitu, setelah kecelakaan yang menimpa putranya. Kushina bercerita pada Shion kalau satu bulan kemudian sang suami Minato meninggal dunia karena serangan jantung.
Tapi lagi-lagi Kushina enggan bercerita secara terang-terangan tentang kejadian di mana tepatnya sang suami meregang nyawa karena serangan jantung itu.
Memang sebenarnya selama ini Shion diam-diam sudah mengulik informasi dari beberapa sumber dan mulai sedikit menemukan titik terang tentang masa lalu Naruto, tanpa sahabat blonde di hadapannya ini tahu bahwa Shion sangat peduli dengannya.
"Apa kau berpikir kalau gadis di dalam mimpiku itu adalah mendiang istriku? Dan kalau dia memang mendiang istriku, mengapa kau tadi mengatakan kalau di suatu hari nanti dia akan datang menemuiku! Kau ingin menakutiku, ya." Naruto memutar bola mata bosan dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Shion tersenyum kecut mendengat tanggapan Naruto, setelah ia menjelaskan panjang lebar apa yang selama ini ada di dalam pikirannya tentang semua yang di alami sang sahabat.
"Pfftt ... mana mungkin orang yang sudah mati itu bisa hidup lagi, dan dia akan datang hanya untuk mencari dan menemui lelaki bodoh sepertimu, Naruto."
"Hey ... hey ... hey ... siapa yang bodoh! Berani sekali kau mengataiku bodoh, apa kau tidak tahu sekarang kau sedang berbicara dengan siapa, hah."
"Aku tidak peduli walaupun kau seorang pemimpin negara sekali pun, yang ku tahu kau itu tetap lelaki bodoh yang entah mengapa dulu aku bisa menyukai lelaki bodoh sepertimu." Shion menekan pelan pelipisnya mengingat masa bersama Naruto.
Naruto tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Shion yang seperti memopong beban hidup yang amat berat. "Sudah ku katakan padamu, walaupun aku bodoh. Tapi karismaku tidak akan bisa membuat wanita mana pun menolaknya."
"Ya, dan aku bertaruh kalau sifat angkuh dan bodohmu ini menurun ke putra semata wayangmu, si Boruto."
"Ku lihat tidak semua sifatnya sama sepertiku."
Shion memasukkan ponsel pintarnya ke dalam tas navy bermerk Guci miliknya. "Berarti dia sangat beruntung, dan aku yakin separuh sifatnya pasti ia dapat dari sang ibu. Satu lagi tentang ucapanku tadi, pasti gadis di dalam mimpimu itu ada hubungannya dengan masa lalumu yang selama ini di tutupi oleh Kaa-san mu. Karena bagaimana pun sebenarnya lambat laun ingatanmu pasti akan kembali jika kau mau berusaha.
"Cobalah untuk bertanya sekali lagi tentang mendiang istrimu. Karena selama ini aku berpikir kalau istrimu itu pasti belum meninggal, dan jangan meminum obat penghilang depresi lagi jika kau ingin benar - benar tahu tentang masa lalumu dan bertemu dengan gadis itu." Setelah mengatakan semua, Shion berdiri.
Masih terus memikirkan perkataan wanita bersurai pirang pucat panjang di depannya, yang memang sedari dulu sahabat wanitanya ini menaruh curiga dengan semua kejadian ganjal yang Naruto alami.
Dan kecelakaan tabrak lari yang ia alami, memang membuat semua ingatannya di masa lalu telah hilang, hanya menyisakan sebuah tanda tanya besar.
Apa lagi saat ia tahu bahwa di usianya yang masih sangat muda dirinya ternyata sudah pernah menikah, dan di karuniai seorang putra yang begitu mirip dengannya, seperti pinang di belah dua.
Belum lagi ia sama sekali tidak pernah tahu wajah sang wanita, mendiang istrinya yang sudah memberikan seorang putra yang sekarang hidup bersamanya.
Dan gadis dalam mimpinya itu benar-benar membuat situasi semakin buruk dan menambah depresi hingga hampir membuatnya gila.
Tidak ingin menambah beban pikirannya sendiri, Naruto memutuskan untuk menjalani hidup tanpa ingin kembali kemasa lalunya sampai ia bertemu dengan Shion. Dan wanita inilah yang akhirnya terang - terangan mengatakan bahwa ia akan dengan senang hati membantunya untuk mengungkapkan semua rahasia keluarga Uzumaki.
"Terima kasih karena kau sudah bersedia menemuiku di sini dan meyakinkan, Aku."
Shion menatap arloji di lengan kirinya dan mengalihkan pandangan pada lelaki pirang di hadapannya.
"Jangan sungkan meminta bantuan padaku, karena aku sudah menganggapmu seperti Nii-san ku sendiri. Aku harus pergi sekarang, sampai bertemu di lain waktu, jaa ne."
Naruto tersenyum menatap kepergian sang mantan kekasih sekaligus sahabat yang begitu baik padanya, padahal ia sudah menyakiti perasaannya dengan menutupi kebenaran tentang dirinya yang sebenarnya.
.
.
.
Tokyo
Sebuah clubs kelas atas di daerah Shibuya, Camelo clubs biasa di datangi oleh para pengusaha kaya, artis atau pun pengusaha muda yakuza.
Seorang gadis dengan kacamata hitam yang bertengger di atas hidung macung miliknya tengah duduk di salah satu ruangan dengan seorang pemuda yang mempunyai kulit putih pucat dengan tatapan tajamnya.
"Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Santailah sedikit, apakah kau tidak bisa sedikit lembut dengan seorang wanita, hah!" ucap gadis bermata onyx.
"Untuk apa juga aku bersikap lembut dengan seorang wanita keturunan Uchiha sepertimu! Toh, pasti ujung-ujungnya kau yang akan mencekikku terlebih dahulu." Jawab sang pemuda dengan senyum sinis.
"Tch, jangan sama 'kan aku dengan papaku. Karena aku sama sekali tidak sama dengannya."
"Benarkah! Akan ku pegang perkataanmu."
Sarada mengeluarkan selembar foto dan menaruhnya di atas meja."Apa yang kau ketahui tentang gadis itu?"
Mengambil selembar foto di atas meja, mengamati sosok gadis berkulit putih dan memiliki surai panjang terurai. "Ternyata sekarang kau sudah mulai mengerti soal cinta, ya!" Mitsuki melempar senyum remeh pada Sarada. "Maaf, kali ini aku tidak bisa membantumu."
Brakk
Sarada memukul meja dengan cukup keras, hingga membuat gelas yang berada di atasnya menjadi bergetar.
Dan guratan di dahinya nampak begitu jelas dengan tatapan amarah. "Selama ini aku sudah banyak membantumu. Tapi ... begini balasanmu padaku?"
"Jangan sangkut pautkan perasaanmu dengan masalah kita." Sahut Mitsuki dengan tatapan dinginnya.
"Baiklah. Mulai sekarang jangan pernah lagi meminta bantuanku, dan anggap saja kita tidak pernah terlibat apa pun selama ini." ujar Sarada dan mulai berdiri, melangkah meninggalkan sang pemuda berkulit pucat sendiri.
"Lakukan apa pun yang kau mau. Jika kau ingin semua rahasiamu terbongkar." pekik Mitsuki dengan sedikit mengancam.
Mengepalkan kedua tangannya erat, Sarada menggigit bibir bawah mendengar ancaman sang pemuda.
Membalikkan badan menatap benci ke arah pemuda bernama Mitsuki yang masih terduduk manis di kursi empuknya.
"Kau ..."
.
.
.
Malam yang begitu dingin, angin berhembus begitu kencang menerpa surai indigo dan surai pirang kedua wanita cantik yang kini tengah berdiri di balkon depan kamar beraroma lavender.
Wanita bersurai pirang bernama Ino meminum teh hijau dalam gelas yang ia genggam. "Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu ya, Hinata?"
"Hn. Hima dan Inojin, mereka berdua juga sudah semakin dewasa sekarang."
"Sampai kapan kau akan merahasiakan semuanya?"
"Entahlah, aku sudah sangat bersyukur dengan semua yang ku miliki saat ini. Dan ia juga terlihat begitu bahagia dengan keluarga baru kami, bukan! Ku pikir dengan aku tetap diam, semua akan lebih baik." Hinata memandang hamparan gemerlap lampu kota yang begitu indah.
"Ya, dan tapi aku yakin suatu hari nanti putrimu itu pasti akan mengetahui semua kebenaran ini, dan menanyakan keberadaan ayah kadungnya."
Hinata memutar bola matanya. "Itu akan terjadi jika mulut embermu tidak bisa di tutup, Ino-chan."
"Hehehe ... tapi guratan itu ...," Ujar Ino dengan tawa garing.
Perkataan sahabatnya mengingatkan Hinata tentang pertanyaan sang putri pada dirinya beberapa hari lalu.
"Guratan itu, beberapa hari yang lalu ia sempat bertanya padaku tentang guratan itu lagi. Ia mengatakan bahwa dirinya bertemu dengan seorang pemuda yang memiliki guratan di kedua pipinya seperti miliknya."
Sekejap Ino menatap wajah datar Hinata yang sepertinya terlihat begitu serius. "Di mana? Seorang pemuda?" Ino berpikir sejenak. "Jika itu Naruto, pasti dia sudah tua dan tidak bisa di katakan sebagai seorang pemuda."
"Bukan, dia bukan Naruto. Himawari bertemu dengannya di pesta ulang tahun perusahaan keluarga Uchiha." Ucap Hinata masih dengan wajah dingin dan nada datar.
"Lalu apa lagi yang Hima-chan katakan?" tanya Ino penasaran.
"Tidak ada, hanya itu yang ia katakan saat aku bertanya siapa nama pemuda itu."
"Apa mungkin dia putra Naruto? Ah ... tidak, setahuku Naruto tidak mempunyai seorang istri saat ini, dan darimu ia hanya memiliki seorang putri yang kini bersamamu, bukan! Kenapa kebetulan sekali Hima-chan bisa bertemu dengan pemuda yang juga memiliki guratan sama seperti yang ia miliki?" ujar Ino masih tidak percaya dengan ucapan Hinata tentang apa yang Himawari ceritakan.
Dalam pikiran Hinata, ia hanya berpikir kalau pemuda itu pasti masih ada hubungannya dengan mantan suaminya itu.
"Sudahlah, tidak usah terlalu di pikirkan. Lagi pula itu hanya sebuah kebetulan saja." Hinata tersenyum sembari menatap wajah polos ibu dari Inojin.
"Tapi mengapa sepertinya ada yang mengganjal di dalam pikiranku ini!"
"Hahaha ... kau ini jangan terlalu memikirkannya."
"Tenang saja Hinata, aku baik-baik saja. Dan nanti aku akan menanyakan tentang pemuda itu pada, Inojin." Ino mengedipkan sebelah matanya.
"Arigatou."
Senyum bahagia mengembang di wajah kedua wanita karir yang terlihat jelas mereka sudah tidak muda lagi.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Yakuza atau gokudõ adalah nama dari sindikat terorganisir di Jepang. Organisasi ini sering juga disebut mafia Jepang, karena ada kesamaan dari bentuk organisasi yang asalnya dari Italia tersebut.
.
.
Maaf lama up-nya, Kei baru punya kuota :D heehee
Keliatan bokeknya yaa ... semoga kalian suka dengan ceritanya.
Mind to RnR?
