.

.

.

Disclaimer ~ Masashi Kishimoto

Love like this ~ Keinarra Minami

Genre : Romance / Hurt/Comfort / Drama

Warning : Au, Ooc, No-EYD, Typo, Lime Inside

Don't like, don't read

.

.

.

..

"Akh ... emh ... sss ..."

Suara decitan meja beradu dengan jeritan penuh sensual seorang gadis remaja menggema di seluruh ruangan berdesain Eropa klasik.

Keringat semakin bercucuran membasahi setiap lekuk tubuh indah sang gadis yang nampak menikmati permainan sang pemuda.

Meninggalkan bercak merah di setiap sudut tubuh yang menggoda, saat bibir pemuda berkulit pucat sesekali menggigit gemas setiap inci tubuh harum memikat indra penciumannya.

Lengket dan hangat saat kedua kulit remaja yang kini tengah menikmati surga dunia, saling bersentuhan.

Mencumbu penuh nafsu beradu saliva yang ikut membasahi bibir keduanya, tak peduli seberapa lelahnya tubuh mereka karena sudah terlalu lama bercinta tanpa memperdulikan waktu yang terus berjalan.

"Akh ... aku ... a-akh ... akan sampai." Ucapan terakhir ketika sang pemuda hampir sampai pada titik kepuasannya.

"Aah ... akh ... emmh ... akhh ..."

Sang gadis terus merintih dan menjerit kenikmatan saat pemuda yang kini berada tepat di atasnya mulai mempercepat gerakan.

"Akh ... akh ... aaakkhhh ..."

Semakin mempercepat gerakan saat ia merasakan ada sesuatu yang ingin segera keluar dari dalam kejantanannya.

"Aaahhhkkk ..." Teriakan kencang sang gadis memantul.

"Uuh ... aakkkhhh ..."

Bruk

Lemas, seketika sang pemuda menjatuhkan diri di atas tubuh putih nan mulus yang begitu hangat dan basah.

Terengah-engah mengatur deru napas yang masih memburu, setelah klimaks keduanya secara bersamaan.

Terasa hangat di dalam tubuh sang gadis, dan juga mulai terasa mengalir keluar melewati lubang sensualnya.

"Kau sungguh luar biasa, sayang." kata sang pemuda sembari jemari panjangnya membelai lembut pipi merona gadisnya.

Cup

Satu kecupan mendarat tepat di bibir merah yang terlihat membengkak itu, sebelum sang pemuda mencabut kejantanannya dari dalam lubang kewanitaan gadis bersurai purple.

Drrtt Drrtt Drrtt

Suara getaran ponsel pintar berwarna hitam terdengar oleh sang pemuda, segera mengangkat panggilan yang ternyata dari sahabat karibnya.

"Moshimoshi"

"..."

"Ya, aku akan segera ke sana."

Tut Tut Tut

Memutus sepihak panggilan masuk, mengambil handuk bersih di dalam lemari yang tak jauh dari posisinya berdiri saat ini.

"Apa kau tidak ingin membersihkan tubuhmu, itu?" tanyanya pada sang gadis yang masih terlihat berbaring di atas meja besar di sudut ruangan, tempat mereka bersetubuh.

"Mandilah dulu, sebentar lagi aku akan menyusulmu." Jawabnya santai masih berbaring menatap langit-langit berwarna biru berlukis awan putih.

..

Setelah kurang lebih dua puluh menit membersihkan diri, dan hanya butuh waktu sepuluh menit untuk berdandan dan memoles wajah cantik nan natural.

Sang gadis melangkahkan kaki menuju tempat sang pemuda yang sudah menunggu sedari tadi di dalam mobil sport merah mengkilat miliknya, tepat di depan apartemen.

Segera masuk ke dalam mobil dan mendudukkan diri di sebelah sang pemuda.

"Ku mohon jangan katakan apa pun tentang semua ini padanya." Suara sang gadis memecah keheningan.

Sang pemuda hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan gadisnya, "Memangnya kenapa jika aku mengatakan semuanya? Lagi pula aku sudah pernah menjelaskan tentang perasaannya padamu, kalau dia itu tidak menyukaimu, apa aku harus mengulangi lagi kata-kataku itu, hm!"

"Tapi ..."

"Sstt ... sudahlah, hentikan ocehanmu itu. Sekarang kau sudah bersamaku, kau kekasihku, jadi turuti dan dengarkan semua yang aku katakan padamu."

Mengerucutkan bibir dan mengangguk pelan, "Baiklah."

.

.

Duduk berdua bersama seorang pemuda yang beberapa hari ini tengah rajin mengunjunginya di tempat kerja, pemuda blonde dengan dua garis tanda lahir di kedua pipinya, sama persis seperti yang ia miliki hanya saja kini tertutupi dengan polesan make up agar penampilannya lebih menarik sebagai seorang model.

Manduka cafe menjadi tempat favorit mereka berdua akhir-akhir ini, cafe yang sering berkolaborasi dengan artis-artis Korea seperti 2PM, SNSD dan lain-lainnya. Maksud dari berkolaborasi di sini adalah memajang poster-poster ukuran besar, menggunakan pernak-pernik seperti coaster yang sudah di cetak dengan gambar sang artis dan tentunya lagu yang di putar adalah lagu-lagu dari artis tersebut.

"Hima-chan, apa kau suka dengan buket bunga yang aku kirim kemarin, hn?"

Himawari tersipu malu ketika pemuda di hadapannya ini menanyakan tentang buket bunga, sebuah buket bunga matahari dengan satu kertas berwarna merah muda.

"Tentu saja aku sangat menyukainya, dari mana kau tahu aku menyukai bunga matahari, Boruto?" tanyanya balik pada sang pemuda blonde.

"Kemarin aku tidak sengaja melihatmu sedang memegangi bunga matahari itu saat di toko bunga, jadi kupikir kau akan menyukainya jika aku membelikan bunga itu untukmu," jawab Boruto panjang lebar.

"Oh ... jadi waktu itu kau mengikuti aku, ya!"

Boruto tersenyum lima jari menampakkan semua deretan gigi yang tertata rapi, "Itu salahmu sendiri, kenapa waktu itu kau tidak menjawab pertanyaanku saat aku bertanya di mana rumahmu. Jadi, jangan salahkan aku jika kau sekarang mempunyai penggemar rahasia."

Gadis cantik yang tersipu malu sedari tadi kini tersenyum lebar, gurat merah di kedua pipinya nampak jelas saat mendengar jawaban pemuda blonde yang terlihat dingin di luar namun nyatanya begitu hangat.

Tap tap tap

"Ne ... Boruto, apa yang sedang kau lakukan di sini?"

Suara datar seorang gadis yang tiba-tiba menyapa sang pemuda dengan tatapan dingin.

Keduanya sontak menatap ke arah sumber suara, Sarada. Ternyata gadis bermarga Uchiha itu yang menyapa pemuda blonde barusan.

"Sarada, sejak kapan kau berdiri di situ! Sini, bergabunglah bersama kami," seru Boruto menawarkan sang gadis bernama Sarada untuk bergabung dengannya.

Mendudukkan diri tepat di samping Boruto, menatap tajam ke arah Himawari yang tersenyum ke arahnya.

"Salam kenal Sarada-san," mengulurkan tangan berharap sang gadis Uchiha itu membalas salam perkenalan darinya.

"Hm," Sarada memalingkan wajahnya tanpa ingin membalas jabat tangan gadis yang sedang bersama sahabat blondenya.

Merasa kecewa, tapi Himawari berusaha berpikir positif. Memang keduanya baru saja bertemu dan tidak saling mengenal, gadis di hadapannya ini juga terlihat sangat tidak bersabat pikirnya.

"Boruto, kenapa kau tidak membalas pesanku! Apa kau sudah melupakan aku?" tanya Sarada dengan nada sedikit meninggi.

Mendengar ucapan sahabat wanitanya Boruto segera mencari ponsel pintarnya di dalam saku baju dan celana tapi tidak ia temukan keberadaan ponsel hitam kesayangannya itu, "Maafkan aku Sarada, sepertinya ponselku tertinggal di dalam mobil."

Melipat kedua tangannya di depan dada, Sarada mengerucutkan bibir sebal. "Terus saja beralasan, dan untung saja aku bisa menemukanmu dengan GPS milikmu yang pasti lupa kau matikan. Sekarang aku tidak mau tahu, hari ini kau harus menemaniku jalan-jalan seharian sebagai hukuman untukmu karena sudah mengacuhkan aku."

"Ta-tapi Sarada ..."

"Tidak ada tapi-tapian, kau harus mengantar dan menemaniku, titik." Ujar sarada panjang lebar dan sedikit kesal.

"Emm ... maaf mengganggu kalian, sepertinya aku harus segera pulang." Himawari berdiri dari duduknya setelah suara lembutnya membuyarkan pertengkaran kecil kedua remaja berbeda kelamin itu.

"Tunggu, aku akan mengantarmu pulang." Ucap Boruto saat melihat sang gadis menautkan tas slempangnya dan beranjak pergi.

Grep

Tangan kecil Sarada memegangi lengan besar Boruto, berusaha menahan sang pemuda agar tak mengejar gadis itu.

"Kau mau kemana, Boruto! Kau ingin meninggalkan aku sendirian di sini? Tega sekali, kau 'kan sudah berjanji akan menemaniku hari ini." Kata Sarada dengan raut wajah di buat-buat agar Boruto tak meninggalkannya.

"Ah ... baiklah, aku akan tetap di sini dan akan aku turuti semua maumu."

"Souka!" Sarada tersenyum puas.

"Jadi, apa kau jadi pindah kuliah di sini?" ucap Boruto.

"Entahlah, aku masih belum memikirkannya," untuk kesekian kalinya Sarada menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sama, sembari asik mengotak atik ponsel pintarnya.

..

"Ehem, maaf sudah membuatmu menunggu." Kata seorang pemuda berkulit pucat.

Suara yang begitu Sarada kenal seketika membuat ia menghentikan kegiatannya.

"Mitsuki ...," desisnya pelan dengan bola mata onyx yang membulat sempurna, terkejut melihat pemuda yang sangat ingin ia jauhi kini tengah berdiri di hadapannya.

"Hey Mitsuki, duduklah!" Boruto merangkul singkat sahabat karibnya dan mengajaknya duduk di sana.

"Maaf sudah membuatmu menunggu, Boruto! Dan tidak kusangka kau akan kemari bersama Sarada." Menatap gadis di hadapannya dengan senyum remeh yang terlihat jelas di wajah tampan Mitsuki.

Boruto tersenyum kecut, masih mengingat kejadian tadi saat Himawari pergi begitu saja meninggalkannya. "Iya begitulah, dan kau sendiri kenapa bisa bersama Sumire! Kalian berkencan, ya?"

Tersenyum semanis mungkin, Sumire tak melepaskan pandangannya pada wajah tampan Boruto, "Ha'i, senang bisa bertemu denganmu, Boruto."

"Aah ... memang sudah lama sekali ya kita tidak ketemu, Sumire!"

"Iya begitulah." Jawab Sumire masih dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.

"Emm, Boruto. Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Himawari di depan, ku kira kau akan datang dengannya! Tapi ternyata dugaanku salah." tanya Mitsuki tanpa basa-basi.

"Ah iya, tadi kami baru saja minum kopi bersama di sini. Tapi sepertinya dia ada urusan penting, jadi dia pulang lebih dulu." Sedikit dusta kecil untuk menutupi rasa bersalahnya pada sang gadis indigo.

Mitsuki bukan orang yang bodoh, sudah beberapa menit yang lalu ia berdiri di depan cafe memperhatikan pemandangan menarik antara Boruto dan dua gadis yang sedang menemaninya, "Begitu ya, ku kira dia pergi karena kalian berdua mengabaikannya!"

Kerutan di dahi Sarada nampak terlihat jelas, entah mengapa dirinya sangat tidak suka dengan kehadiran Mitsuki di sini, "Jangan suka menuduh orang lain tanpa ada bukti." Celetukan pedas mendarat di kedua telinga pemuda bernama Mitsuki.

Tidak ingin melihat kedua sahabatnya ini bertengkar, Boruto mengalihkan pembicaraan. "Oh iya Mitsuki, bagaimana dengan acaranya! Apa semua sudah siap?"

"Tsk, di suasana seperti ini kau masih bisa menanyakan hal itu. Tenang saja semuanya sudah ku serahkan pada Chocho, jadi kau tidak usah cemas." ujar Mitsuki panjang lebar.

"Syukurlah, kau tahu 'kan kalau aku paling tidak menyukai sebuah kegagalan."

"Ya, itu memang sifatmu."

Syuutt

Sarada berdiri dari duduknya, "Boruto, aku menunggu di depan." Ucapnya singkat.

"Sa-" Belum sempat Boruto membalas perkataan Sarada, gadis itu sudah melenggang pergi tanpa menoleh lagi.

Mitsuki tahu jika gadis keturunan Uchiha itu tidak menyukai kehadirannya di sini, "Cepat kejar dia, Boruto."

"Hm, tapi kau!"

"Nanti aku akan menghubungimu lagi."

"Baiklah, aku pergi," usai mengatakan itu Boruto langsung melesat pergi menyusul Sarada yang terlihat jelas kalau suasana hatinya tak senang setelah kedatangan Mitsuki.

Sungguh wanita itu sangat susah sekali untuk di tebak, kadang mereka terlihat baik-baik saja, tapi secepat angin mereka akan berubah menjadi tak sebaik awal bertemu.

.

.

.

Omotesando - Tokyo

Klik

Patah, pensil kecil yang sedari tadi ia genggam telah patah menjadi dua, benar-benar kesal dirinya hari ini, terduduk di lantai dengan setumpuk kertas yang berserakan.

Mengalihkan penglihatannya pada layar ponsel yang menampilkan sesosok gadis dengan senyum indah menghiasi wajahnya, dadanya terasa semakin sakit saat melihat foto itu.

Tok tok tok

Cklek

Pelan suara pintu kamarnya terbuka, suara langkah kaki mendekati. "Kenapa kau belum tidur?" tanya suara lembut wanita yang amat ia sayangi.

"Aku baru saja menyelesaikan tugasku, Kaa-chan?" jawab Inojin singkat.

"Ada apa sayang! Beberapa hari ini ku lihat sepertinya kau sedang ada masalah. Cobalah sedikit terbuka dengan orang lain, hm." Ujar wanita cantik bersurai pirang panjang, kedua bola matanya menangkap sebuah pensil yang sudah patah menjadi dua bagian.

Inojin mengangkat kepala menatap wajah sang ibu yang tersenyum padanya, "Apakah harus seperti itu!"

Mendengus pelan, Ino mendudukan diri tepat di sebelah sang putra. "Ceritakan pada Kaa-chan semua yang ingin kau katakan."

"..."

Pluk

Sentuhan lembut sang ibu pada pundaknya membuatnya terkejut, namun seketika sanggup menengkan hati yang sedari tadi bekecamuk.

"..." masih terdiam.

"Katakan saja, sayang."

"Em ... sepertinya aku menyukainya!" Menundukkan kepala, semburat merah terpatri jelas di kedua pipi, "Hima-chan, aku melihatnya bersama lelaki lain dan ... di sini terasa sakit." Tangan besarnya menyentuh tepat dada bidangnya.

Sama sekali tidak terkejut saat mendengar ucapan sang putra, Ino tersenyum. Ternyata dugaannya benar, jika putra tunggalnya ini menyukai gadis manis bermata indah itu.

"Lalu, kenapa kau tidak memperjuangkannya! Walaupun sekarang Hima-chan dengan lelaki itu, bukan berarti dia juga menyukainya 'kan?"

"Tapi aku melihatnya begitu bahagia saat bersama lelaki itu, Kaa-chan," Nadanya melemah, masih melekat di ingatan saat beberapa hari yang lalu melihat sang sepupu bersama teman blondenya. "Kaa-chan, apa aku salah menyukai sepupuku sendiri?"

Deg

Ino tertohok saat Inojin menanyakan hal itu, selama ini sang putra sama sekali tidak mengetahui jika sebenarnya mereka berdua bukanlah saudara atau sepupu seperti yang ia ketahui selama ini.

"...," Hening, Ino masih terdiam dengan lamunannya.

"Kaa-chan," melambaikan tangan di depan wajah cantik sang ibu, Inojin berusaha menyadarkan Ino dari lamunannya. "Kaa-chan, ada apa?"

Tersadar dari lamunannya, Ino kembali menatap sang putra. "Aah ... tidak ada, tadi kau bertanya apa, sayang!"

"Sudahlah, lupakan saja." Ucap Inojin malas, sembari melanjutkan tugas lainnya.

"Hahaha ... Gomen, kalau boleh tahu memangnya siapa pemuda yang mendekati Hima-chan?" tanya Ino penasaran.

"Teman satu sekolahku dulu saat di Sma."

"Eum ... siapa namanya?" tanyanya lagi.

"Kenapa Kaa-chan sepertinya ingin tahu sekali!"

"Hahaha ... memangnya tidak boleh, ya!" Ino tertawa garing karena Inojin kini menatapnya dengan tatapan datar penuh tanya.

Menaik turunkan kedua pundaknya, Inojin kembali melanjutkan tugasnya, "Uzumaki Boruto."

Deg

Kembali Ino terkejut saat mendengar marga Uzumaki yang baru saja Inojin ucapkan.

"Hah ... U-Uzumaki Boruto!"

Berarti benar apa yang ia pikirkan tentang ucapan Hinata waktu itu, jika Himawari bertemu dengan pemuda yang memiliki guratan yang sama dengan yang ia miliki.

Karena mereka itu pasti saudara dari satu ayah yang sama.

"Iya, kenapa Kaa-chan terkejut! Dia anak Naruto ji-san dan bukannya Kaa-chan sudah tahu tentang keluarga Uzumaki?"

Mulai berpikir, Ino masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja ia dengar. "Setahuku Naruto itu tidak mempunyai seorang putra, apa dia menikah lagi?"

"Tidak, Kaa-chan ini bagaimana. Boruto itu anak dari istri Naruto ji-san yang dulu."

Kembali Ino terkejut, sungguh ia benar-benar masih belum bisa mencerna dan tidak mengerti dengan semua perbincangan ini.

Otaknya terus berputar-putar mengingat kembali tentang keluarga Uzumaki yang sungguh tragis di masa lalu, belum lagi isu tentang kematian keluarga Hyuga yang saat itu bersetatus sebagai besan keluarga terkaya di Tokyo kala itu.

"Meninggal? Tunggu dulu, Kaa-chan benar-benar tidak mengerti, coba ceritakan apa yang kau ketahui tentang keluarga temanmu itu?"

Mendengus kesal, sungguh wanita paruh baya di sebelahnya ini begitu ingin tahu tentang keluarga temannya setelah percakapan singkat tentang perasaannya tadi.

"Jika aku tahu akan seperti ini jadinya, pasti tadi aku tidak akan mengatakan apa pun pada Kaa-chan."

"Ayolah Inojin, Kaa-chan benar-benar tidak tahu dan kalau aku tahu pasti tidak akan bertanya padamu, Bocah."

Mengerucutkan bibir, Inojin kesal mendengar sang ibu memangilnya dengan sebutan bocah. Tapi jika ia tidak menjawab pertanyaan wanita di hadapannya yang ia panggil dengan sebutan ibu, pasti besok dia tidak akan di perbolehkan keluar rumah seharian.

"Baiklah, Boruto pernah bercerita padaku kalau Ibunya itu sudah meninggal karena kebakaran hebat di mansion milik keluarga Uzumaki saat mereka masih tinggal di Hokkaido, dan waktu itu Boruto masih bayi. Dan sejak saat itu juga Naruto ji-san tidak pernah menikah lagi sampai saat ini."

Deg

Ino tidak habis pikir, begitu tega Naruto mengatakan pada putranya jika ibu kandung yang masih hidup sudah meninggal dan memisahkan sang putra dari ibunya dengan alasan keji itu.

"Tunggu dulu, jadi ...," ucapan Ino terputus, ia masih tetap tidak mengerti dengan semua ini. Jika Boruto itu anak laki-laki Naruto dengan istrinya yang dulu, berarti wanita itu adalah putra Hinata juga ... dan Himawari dan Boruto ... benar, mereka adalah saudara.

"Apa yang sebenarnya terjadi, aku benar-benar tidak mengerti."

Melihat sang ibu yang mulai panik dan berdiri dengan wajah bingung, Inojin berusaha menenangkannya. "Kaa-chan, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Naruto ... apa yang ada di dalam pikiran lelaki gila itu? Apa ...? Sungguh dia begitu kejam." Ino berkata sambil sedikit menaikkan nadanya beberapa oktaf.

Kesal, marah, sedih dan emosi menggebu-gebu kini yang ia rasakan. Hatinya sakit, apa lagi jika sang sahabat mengetahui semua ini, bahwa sebenarnya ia mempunyai dua orang anak yang selama ini tidak pernah ia tahu.

Tapi, kenapa Hinata tidak pernah tahu jika ia mempunyai dua orang anak? Dan bukannya dulu Naruto sangat mencintai Hinata, dan selalu memperjuangkan cintanya walaupun sang ibu tidak pernah menyetujui hubungan mereka.

Pikiran Ino terus berputar kembali membuka ingatan di masalalunya tentang masalah kedua sahabatnya itu.

Ino mengeratkan cengkramannya di kedua bahu sang putra dan menatap lekat kedua bola matanya. "Apa lagi yang kau ketahui tentang Naruto! Katakan?"

"Tenanglah, Kaa-chan. Ada apa? Kenapa Ka-"

"Cepat katakan Inojin!"

Menelan ludah, Inojin benar-benar takut melihat wajah ibunya yang begitu marah. "Ba-Baiklah ... Na-Naruto ji-san dulu pernah mengalami kecelakaan tunggal dan mengalami amnesia, hanya itu yang Boruto katakan padaku."

Mendengus pelan, sekarang Ino mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ini adalah kesalahan, ada sesuatu yang harus ia luruskan.

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Mind to RnR?