.
.
.
Disclaimer - Masashi Kishimoto
Love Like This ~ Keinarra Minami
Genre : Romance / Hurt/Comfort / Drama
Warning : Au, Ooc, No-EYD, Typo, Lime Inside
Don't like, don't read
.
.
.
..
Tanpa pikir panjang lagi, segera Ino melangkah pergi, berniat meninggalkan sang putra yang masih tertegun dengan raut wajah bingung di sana.
Grep
Dengan cepat tangan besar Inojin menarik lengan sang ibu, menahannya agar tidak langsung pergi meninggalkan dirinya dengan semua kejanggalan yang baru ia sadari.
"Tunggu sebentar Kaa-chan, sebenarnya apa yang telah terjadi dengan keluarga Uzumaki?"
"..."
Masih menatap sang putra tanpa sanggup menjawab, karena tidak mungkin ia akan menceritakan hal ini padanya.
"Kumohon katakan apa yang sebenarnya terjadi! Kaa-chan tidak sedang menyembunyikan sesuatu, 'kan?"
"Inojin ..."
Sungguh bodoh memang, Ino melupakan satu hal jika sekarang ia sedang berhadapan dengan sang putra yang sudah beranjak dewasa, tidak mungkin bukan, jika pemuda di hadapannya ini akan diam saja setelah melihat kelakuan bodohnya barusan.
"Aku sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi di sini! Jadi tolong ceritakan padaku, ada apa dengan keluarga Uzumaki, Kaa-chan?"
"..."
Ino masih saja terdiam, mematung tidak bisa berucap apa pun saat ini. Ia sangat bingung sekarang, mana mungkin ia akan menceritakan rahasia sahabatnya yang selama ini harus ia tutup rapat-rapat.
"Kaa-chan ...," berusaha mendapatkan apa yang ia mau, Inojin terus mendesak dengan masih menggenggam erat lengan sang ibu.
Menghela napas pelan, Ino menatap putranya dengan penuh keyakinan. "Memang tidak seharusnya kau tahu tentang masalah ini. Jadi ... Kaa-san mohon, jangan beritahu pada siapa pun tentang yang baru saja kau dengar. Kaa-san berjanji, suatu hari nanti kau akan mengetahui semuanya," Ino berbalik, dan melangkah pergi.
Sama sekali tidak ada jawaban dari Inojin, hanya terdiam mematung. Pikirannya kacau, apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapa sebenarnya keluarga Uzumaki? Siapa sebenarnya Hinata dan Himawari? Ia sekarang benar-benar seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.
Sebelum menutup pintu, Ino kembali bersuara, "Satu lagi Inojin. Kaa-san mohon, tolong jaga Himawari baik-baik jika memang kau mencintainya, jangan biarkan dia jatuh cinta dengan pemuda bernama, Boruto itu." Ucap Ino pelan, sebelum akhirnya menutup pintu rapat-rapat.
Dan membuat sang putra kembali tertegun menghadapi situasi yang semakin tidak ia mengerti.
.
.
Pagi hari di kediaman Otsutsuki. Seperti biasa, Hinata tengah sibuk membuat sarapan untuk tamu spesial yang pagi-pagi buta sudah mengagetkannya. Dan pasti putrinya yang masih tertidur di kamarnya, juga akan terkejut setelah melihat kedatangan sang ayah, seperti apa yang ia rasakan pagi tadi.
"Ohayou, Hinata-chan." Sapa Toneri yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ohayou, Toneri-san. Sarapan sudah siap, mari kita makan bersama," ujar Hinata sembari menata piring di atas meja.
"Wah ... banyak sekali? Apa kita bisa menghabiskan semua makanan ini?"
Hinata mengacungkan sendok yang ia pegang ke arah Toneri, "Aku membuat semua ini khusus untukmu, jadi kau harus menghabiskannya." Ucapnya dengan senyum bahagia.
"Ah ... aku jadi tidak enak padamu, Hinata-chan."
"Jangan memelas begitu, kau sudah berbulan-bulan tak mengunjungi kami. Jadi buatlah dirimu senyaman mungkin di sini."
"Hoaamm ... berisik sekali, siapa yang datang pagi-pagi begini, Kaa-chan?" Himawari baru saja keluar dari kamarnya, sembari mengucek mata yang masih sangat berat untuk di buka lebar.
"Ohayou ... sayang."
Suara lembut seorang pria yang terdengar begitu familiar di telinganya, dan mengucapkan selamat pagi untuknya.
"Tou-chan ...," teriakan Himawari begitu kencang, seketika kedua matanya terbuka lebar dan menatap seorang lelaki tinggi, dengan rambut berwarna silver yang tertata rapi, tersenyum bahagia melihatnya.
Berlari kecil dan dengam cepat memeluk erat sang ayah yang begitu ia cintai dan rindukan, setelah berbulan-bulan lamanya tidak bertemu, karena bulan lalu Toneri menunda kepulangannya.
Bukan tanpa alasan, karena Toneri adalah seorang dokter spesialis organ dalam yang sudah profesional, ia sering di tugaskan di rumah sakit lain. Namun terkadang ia juga di tugaskan oleh negara untuk membantu para korban perang di negara lain yang sedang mengalami konflik. Dan setiap ada waktu untuk pulang, pasti ia akan melepas rindu bersama Himawari putri tercintanya.
"Kau semakin cantik saja, ne ... Hima-chan."
"Tou-chan ... dari dulu memang aku sudah cantik, apa Tou-chan baru menyadarinya?" Himawari masih terus memeluk Toneri erat, enggan melepas pelukan hangat seorang ayah yang sangat jarang ia dapatkan.
Toneri tersenyum, merasa sangat beruntung bisa berada di dalam keluarga kecil ini. "Hahaha, iya ... iya ... kau memang sudah cantik sejak pertama kali kau di lahirkan ke dunia. Apa kau belum tahu tentang itu, Hima-chan?"
"Ah ... aku sama sekali belum mengetahui tentang hal itu, karena Kaa-chan tidak pernah memberi tahuku."
Hinata hanya tersenyum mendengar perkataan putrinya, "Sudah, sudah, sekarang cepat makan. Sebelum semua makanan ini dingin, karena sudah sedari tadi mereka menunggu untuk kalian santap." Ucap Hinata cepat.
"Nah Hima-chan, Kaa-chan sudah memarahi kita. Ayo cepat kita habiskan semua hidangan di atas meja itu." Jawab Toneri.
Dan mereka bertiga menyantap semua masakan yang ada di atas meja, dengan sesekali mengeluarkan candaan ringan, hingga tak terasa semua makanan sudah tak bersisa sama sekali.
.
.
.
Kiso - Nagano
Kediaman Namikaze, di sebuah desa yang tidak hanya memiliki pemandangan kota yang penuh dengan sejarah, tetapi juga kaya akan pemandangan alam.
Inilah yang selama ini diinginkan Kushina Uzumaki, wanita tua yang dulunya menjabat sebagai seorang pemimpin utama dari Uzumaki Property yang terkenal sangat tegas.
Memilih tinggal di pedasaan yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan, hidup damai tanpa beban, meskipun hal itu sangat mustahil ia lakukan, dulu.
Tapi setidaknya semua karunia yang tuhan berikan untuknya kali ini, mampu membuat dirinya menjadi seseorang yang lebih baik lagi, di sisa akhir hidupnya.
"Aku tidak menyangka kau akan menginap beberapa malam di sini, Naruto," ujar Kushina pelan.
"Sekarang ini hanya Kaa-san yang aku miliki, jadi aku ingin lebih sering menemani Kaa-san di sini."
Naruto tersenyum lembut, sebenarnya ia tidak tega melihat ibunya tinggal di sini seorang diri tanpa adanya keluarga. Meskipun ibunya masih sangat sehat di usia senjanya, tetapi sebagai anak, Naruto sangat ingin sekali menjaga Kushina sampai akhir hayatnya.
"Tenang saja Naruto, Kaa-san akan baik-baik saja. Lagi pula, ada mereka semua yang menemani Kaa-san di sini," Kushina menoleh ke arah para pelayan setianya yang sudah bekerja padanya sejak bertahun-tahun lamanya. "Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku, hn."
"Kenapa dari dulu Kaa-san tidak pernah berubah? Selalu saja keras kepala."
"Hahaha ... kau ini. Em ... bagaimana kabar cucuku, Boruto? Dia sudah lama sekali tidak mengunjungiku." Tatapan Kushina terlihat sendu, sepertinya ia sedang teringat sesuatu.
Naruto menangkap raut wajah ibunya yang terlihat sendu sesaat, "Dia baik-baik saja, dan sekarang aku sudah memberinya sedikit pekerjaan di kantor, agar dia tahu susahnya mencari uang."
Tertawa kecil, Naruto melirik ke arah ibunya yang menampakkan sedikit senyum di wajah keriputnya.
"Tapi jangan terlalu memaksakannya, kau tahu 'kan kalau dia sama sepertiku," balas Kushina, masih tersenyum.
"Iya, aku sangat mengerti itu." Naruto menghembuskan napas pelan.
"Kudengar putri dari keluarga Uchiha itu sudah kembali ke Jepang. Apa itu benar?" tanya Kushina lagi, tapi kali ini wajahnya terlihat begitu dingin.
Selalu seperti ini, setiap kali ada sesuatu hal yang berhubungan dengan putri semata wayang keluarga Uchiha, pasti Kushina menunjukkan ekspresi ketidak sukaannya pada gadis muda itu.
"Ah ... Sarada. Iya, dia sudah kembali ke Jepang," jawab Naruto pelan, tanpa ingin bertanya alasan sang ibu yang tiba-tiba menanyakan tentang putri sahabatnya itu.
"Apa cucuku memiliki hubungan dengannya?" kembali Kushina bertanya, kali ini pertanyaannya membuat Naruto menatap ke arah Kushina.
Sedikit terkejut, Naruto masih tidak percaya jika sampai saat ini ibunya masih tak menyukai Sarada, dan alasannya untuk tidak menyukai gadis itu juga masih menjadi rahasia bagi Naruto sendiri.
"Ku-Kurasa tidak, mereka hanya sebatas teman biasa. Em ... jika memang mereka berdua memiliki hubungan, itu bukan masalah juga 'kan! Lagi pula keluarga kita dan keluarga Uchiha sudah seperti satu keluarga bukan, Kaa-san?" suara Naruto memelan di akhir kalimat, ketika ia mendapati perempatan di dahi Kushina.
Kushina berdiri dari duduknya, menatap lurus ke arah Naruto dan mulai membuka sedikit bibirnya.
Menghela napas panjang, "Kurasa cukup sampai di sini pembicaraan kita, Naruto. Kaa-san ingin istirahat." Kata Kushina, sebelum akhirnya ia pergi dari sana.
"Ha'i."
Naruto terdiam, sungguh ia sama sekali seperti tidak mengenali ibunya sendiri. Kushina benar-benar menjadi orang yang tertutup setelah Naruto sadar dari komanya, semua itu ia ketahui dari cerita para pelayan setianya yang menceritakan secara detail tentang Kushina yang sudah sangat berubah.
Tapi Naruto benar-benar merasa sangat jauh dengan ibunya. Entahlah, apa mungkin memang sifat ibunya yang seperti itu, atau karena kepergian sang ayah yang membuatnya berubah menjadi orang yang sangat dingin.
.
.
.
Omotesando - Tokyo
"Inojin, apa setiap hari kau masih mengantarkan Himawari ke tempat kerja?" tanya Toneri yang kini tengah bersantai di depan balkon bersama Inojin.
"Begitulah, Ji-san," Inojin tersenyum tipis. "Em, bagaimana pekerjaan Ji-san? Ah, maksudku seperti apa rasanya bekerja menjadi relawan di tengah-tengah medan pertempuran seperti itu? Menurutku, Anda itu hebat sekali." Lanjutnya, merasa kagum dengan pekerjaan Toneri yang sangat berbahaya.
Meminum sedikit kopi yang masih panas, Toneri menatap hamparan gedung-gedung tinggi pencakar langit di hadapannya.
Inojin terdiam, menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"Sangat berbahaya, tapi ... kau harus tetap melakukannya. Karena kau akan merasa sangat berguna bagi orang lain, ketika kau bisa menyerahkan semua kemampuan yang kau miliki untuk kemanusiaan, semuanya ... tidak terkecuali nyawamu pun harus rela kau berikan," ucap Toneri, dan kembali meminum kopi yang masih terlihat penuh di dalam cangkir. "Anggap mereka saudaramu, saudarimu, ayahmu, ibumu, kakakmu, adikmu dan anakmu. Mereka semua keluarga kita, melihat mereka tersenyum dan membuat mereka merasa aman adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa kau dapatkan di manapun."
Inojin terdiam, sebenarnya dia tidak terlalu mengerti dengan ucapan Toneri yang baru saja di dengarnya, "Keluarga, ya?"
"Hn, dan sudah sejauh mana kau mengenal Himawari, Inojin?"
Kembali mengalihkan pembicaraan, pertanyaan Toneri langsung membuat remaja di sampingnya menoleh lurus ke arahnya.
"M-Maksud Toneri ji-san? A-Aku tidak mengerti." Jawab Inojin terbata.
"Kalian sudah lama berteman, tidak mungkinkan kau tidak mengenal dengan baik tentang putriku?"
"Ah, ano ... Himawari-chan, dia gadis yang baik dan penurut," jawab Inojin asal.
Toneri melirik ke arah Inojin, melihat raut wajah gugupnya dari ujung mata, "Apa kau tidak menyukainya?"
"Hah," langsung memerah raut wajah Inojin yang kebingungan. "I-Itu ... dia 'kan adikku, masa aku menyukai adikku sendiri," jawaban dusta untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Jangan gugup, aku tidak akan marah padamu jika kau berkata jujur."
Sungguh percakapan ini membuat Toneri ingin sekali tertawa, ternyata seru juga menjebak anak muda yang sedang jatuh cinta dengan pertanyaan-pertanyaan konyol seperti itu.
Inojin benar-benar menjadi kikuk sekarang, ia hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapan lelaki paruh baya yang terlihat sangat menikmati segelas kopi hitamnya.
Himawari yang ternyata sudah sedari tadi mendengarkan percakapan kedua lelaki itu dari balik tembok, akhirnya sedikit tahu tentang perasaan kakaknya pada dirinya.
Memutuskan untuk bergabung dengan keduanya, Himawari sekalian ingin mengajak Inojin pergi ke acara pesta yang diadakan oleh Boruto.
"Ne ... Nii-chan, Tou-chan. Sepertinya pembicaraan kalian seru sekali." Ucap Himawari tiba-tiba, membuat Inojin menengok ke arahnya. "Maaf jika aku mengagetkanmu, Inojin-nii."
"Ah, tidak apa-apa. Kau cantik sekali hari ini, Hima-chan! Apa kau ada acara pemotretan hari ini?" tanya Inojin penasaran, karena dia sangat tahu betul jadwal sepupunya ini.
Himawari tersenyum bahagia, "Tidak ada, hari ini aku ada acara. Nii-chan antarkan aku ke acara temanku, ya?"
Inojin mengerutkan dahi, dia curiga jika Himawari akan bertemu lagi dengan Boruto.
Toneri yang sedari tadi hanya diam, memutar badan dan menatap ke arah Himawari. Setelah cukup mendengarkan percakapan keduanya akhirnya ia ikut membuka suara, "Sudah, biar Tou-chan saja yang mengantarmu, Hima-chan. Lagi pula Inojin sudah setiap hari mengantarmu, bukan! Jadi hari ini biarkan dia beristirahat." Ucap Toneri panjang lebar.
Menelan ludah sebanyak yang ia bisa, Himawari tidak ingin jika ayahnya tahu kalau nanti dirinya akan bertemu dengan Boruto.
Melihat ekspresi Himawari yang sedikit terkejut, membuat Inojin semakin yakin jika sepupunya ini pasti akan bertemu dengan pemuda berambut blonde itu. Karena masih penasaran tentang pembicaraan dengan ibunya semalam, Inojin mendapat ide bagus dari situasi ini.
"Ah ... kenapa wajahmu menjadi tegang begitu, Hima-chan? Kau takut ya jika Toneri ji-san yang mengantarmu," ujar Inojin dengan senyum palsunya.
"Nii-chan ...," pekik Himawari panik.
"Benarkan kau takut? Sudah mengaku saja."
Toneri melirik ke arah Inojin, ia sama sekali tidak mengerti dengan percakan kedua remaja ini. "Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Em ... ano ... eto ...," Himawari benar-benar malu jika harus mengatakannya.
"Itu, Hima-chan takut jika Ji-san yang mengantarnya. Dia takut kalau nanti Ji-san akan tahu kalau ... dia akan bertemu dengan kekasihnya." Sahut Inojin tanpa basa-basi.
Glek
Kembali Himawari menelan ludah, entah sudah berapa kali ia menelan ludah pagi ini. Mendengar ucapan Inojin yang tanpa bertele-tele, membuatnya kesal setengah mati.
"Ah ... Tou-chan jangan dengarkan ucapan Nii-chan, aku hanya ingin pergi ke rumah temanku saja kok," sela Himawari cepat, sebelum ayahnya menjawab perkataan kakak sepupunya.
Rasanya jantungnya seperti akan terjun dari tempatnya, ia tidak tahu apa yang akan dikatakan ayahnya setelah ini.
"Tunggu sebentar, apa benar yang dikatakan Inojin, Hima-chan? Kau sudah memiliki kekasih?" tanya Toneri sedikit serius.
Memang putrinya ini sudah besar, jadi wajar jika banyak lelaki yang mendekatinya. Tapi setidaknya Toneri harus tahu siapa pemuda yang berani mendekati putrinya.
"Ano ... eto ..."
"Boruto, Uzumaki Boruto. Dia teman satu angkatan denganku waktu di sekolah menengah atas, Ji-san."
Sungguh kali ini gadis bersurai indigo yang tengah kesal setengah mati itu, ingin sekali memarahi kakak sepupunya yang sudah terang-terangan mengatan siapa pemuda yang tengah dekat dengannya.
"Tidak Tou-chan, dia bukan kekasihku. Dia temanku."
"Memang sekarang kalian masih berteman, tapi nanti setelah kalian bertemu. Apa yang akan terjadi, kami semua tidak tahu 'kan!" nada bicara Inojin sedikit meninggi, sebenarnya dari awal ia sangat tidak suka jika temannya itu mendekati adik sepupunya ini.
"Sudah, sudah. Kalian berdua membuat kepalaku pusing saja, lebih baik kau antarkan gadis kecil ini, Inojin," melangkah pergi meninggalkan keduanya di teras balkon. "Lebih baik aku istarahat saja," rancau Toneri di tengah-tengah langkahnya.
Di teras, keduanya masih saling bertatapan. Himawari kesal, tapi ia tipe orang yang paling tidak bisa marah hanya karena hal-hal sepele, melupakan kejadian barusan, keduanya kembali saling melempar senyum.
"Kau jahat sekali Nii-chan, untung saja aku tidak dimarahi."
"Padahal tadi aku sangat berharap jika kau akan dimarahi oleh Ji-san," balas Inojin sembari mencubit gemas pipi Himawari.
"Nii-chan sakit, ayo ... antarkan aku!"
"Tidak mau."
"Nii-chan ..."
"Iya, iya."
...
Di sepanjang perjalanan Himawari selalu bercerita tentang Boruto kepada kakak sepupunya, ia terlihat begitu bahagia. Sebenarnya Inojin benar-benar muak mendengar semua cerita tentang teman blondenya itu, hanya saja ia tidak ingin merusak suasana hati Himawari yang begitu bersemangat.
"Hahaha ... aku benar-benar tidak menyangka kalau dia akan mengikutiku sampai ke apartemen, untung saja dia tidak sampai mencari tahu nomor kamarku. Kalau itu terjadi, pasti Kaa-chan akan memarahiku habis-habisan," ujar Himawari dengan tawa renyah.
Terkejut, Inojin mendadak menginjak rem kuat-kuat.
"Aakkhh ..." Teriak Himawari kaget.
Ckiittt
Terdengar suara decitan dari ban belakang yang terdengar jelas, beruntung jalanan terlihat lengang.
Mengalihakan pandangan pada gadis berambut indigo yang terlihat marah sekaligus terkejut. Napas Inojin tidak teratur, tangannya mengepal kuat dan matanya menatap lekat kedua blue sapphire Himawari.
"Ada apa? Kenapa Nii-chan tiba-tiba berhenti? Nii-chan ingin kita celaka, hah?"
Mendengus kesal, Inojin sangat marah setelah mendengar perkataan Himawari yang terakhir. Ini gawat, Boruto sudah tahu di mana Himawari tinggal, dan ini pasti adalah berita buruk jika sampai ibunya tahu, Hinata tahu atau jika sampai Boruto datang ke apartemen.
"Kenapa dia bisa sampai mengikutimu? Kau tidak tahu jika dia itu tipe orang yang sangat nekat, semua akan dilakukan untuk mendapatkan apa yang dia mau." Nada suara Inojin meninggi, sungguh ia sangat takut jika Boruto akan mengambil adik sepupunya yang sangat ia cintai ini.
"Apa yang sedang Nii-chan bicarakan? Aku tidak mengerti, dan dia itu orang baik. Boruto tidak pernah berbuat kasar padaku, dia hanya mengikutiku dan memberikan bunga padaku, itu saja. Apakah itu salah?"
"Memang itu bukan suatu masalah besar, tapi sekali kau berurusan dengannya, kau tidak akan bisa kabur darinya. Kau belum tahu siapa dia yang sebenarnya."
Himawari terdiam, sebenarnya ia tidak mengerti sama sekali dengan ucapan Inojin. Tapi mendengar perkataan kakaknya barusan, ia menjadi khawatir dan sedikit takut.
Jujur saja selama ini ia tidak pernah sama sekali dekat atau menjalin hubungan dengan seorang lelaki manapun, kecuali hanya dengan Inojin yang selama ini selalu menjaganya.
"Ke-Kenapa Nii-chan berbicara seperti itu? Aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat, itu saja. Dan selama aku mengenalnya, dia tidak pernah berbuat jahat atau pun menyakitiku," sahut Himawari sedikit ngotot. "Sekarang aku benar-benar tidak mengerti tentang masalahmu, jika memang kau pernah mempunyai masalah dengannya, jangan sangkut pautkan masalahmu itu denganku. Jadi, tolong jangan menjelek-jelekannya di hadapanku, jelaskan apa maksud perkataanmu itu?" lanjut Himawari, pandangannya kini beradu dengan kedua mata Inojin yang terlihat sendu.
Entah apa yang sedang kakanya pikirkan, tapi Himawari hanya ingin tahu saja tentang semua ucapan Inojin padanya.
"Tidak ada yang harus aku jelaskan, semua terserah padamu. Sekarang aku akan mengantarmu sampai tempat tujuan," jawab Inojin dengan nada dingin.
Himawari tidak percaya jika ia akan bertengkar dengan kakak sepupunya ini, hanya karena masalah sekecil itu.
.
.
Selesai mengerjakan laporan, Toneri berniat untuk menjemput Hinata di kantornya. Namun, saat ia akan mengambil ponsel pintarnya di atas nakas, benda itu bergetar cukup lama.
Sepertinya ada seseorang yang meneleponnya, dan benar saja, terlihat nama seseorang dilayar yang menyala itu.
Menggeser tombol hijau, segera ia meletakkan benda itu di telinga sebelah kanan. Seseorang tengah berbicara serius, sepertinya.
Toneri hanya terdiam mendengarkan setiap perkataan dari orang tersebut, bibirnya sedikit terangkat dan matanya menyipit.
"Saya juga tidak menyangka jika mereka akan bertemu, dan saya akan segera menghubungi istri saya."
Setelah mengatakan itu, Toneri menganggukan kepala pelan. Sepertinya ia sudah mengerti dengan ucapan lawan bicaranya.
"Ha'i, saya mengerti Sensei."
Tut
Mematikan ponsel pintarnya, Toneri mendengus pelan dan tersenyum menatap sebuah foto berbingkai hitam, yang tepat berada di atas nakas. Foto dirinya dengan seorang wanita yang amat ia cintai.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
