.
.
.
Disclaimer ~ Masashi Kishimoto
Love Like This - Keinarra Minami
Genre : Romance / Hurt/Comfort / Drama
Warning : Au, Ooc, No-EYD, Typo, Lime Inside
Don't like, don't read
.
.
.
.
Kedua remaja yang saling berdiam diri, meski kenyataannya mereka berada di dalam satu mobil yang sama. Tidak ada suara yang keluar dari masing-masing mulut mereka, hanya suara bising mesin mobil yang terdengar menembus indra pendengaran. Tidak pernah sebelumnya keduanya berada di dalam posisi yang seperti ini, sangat memalukan sebenarnya bertengkar hanya karena hal sepele.
Tapi, bukan keinginan sang kakak untuk tetap mendiamkan adik kesayangannya, namun rasa sakit yang ia rasakan ketika sang adik sepupu terus membela pemuda itu, yang membuat dirinya enggan untuk berkomentar lagi. Sebelum Himawari sendiri yang akan meminta maaf kepadanya.
Egois memang, tetapi rasa cinta yang telah ia pendam selama bertahun-tahun lamanya, seharusnya berakhir bahagia. Bukan malah sebaliknya, dan kejujuran yang ia ucapkan malah menjadikan keadaan bertambah buruk seperti sekarang.
Di lain sisi, sang gadis yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya pada jalanan beraspal, ia tengah mati-matian menahan air mata yang sesekali menetes; kecil bagaikan embun tertiup angin, hilang saat ia menemukan pori-pori wajah yang membuatnya tenggelam di sana.
Dia sangat heran pada dirinya sendiri, seperti bukan dirinya yang sebenarnya. Padahal selama ini ia tidak pernah membantah perkataan kakak sepupunya, dalam setiap berdebatan mereka, tapi hari ini. Beberapa menit yang lalu, ia tengah mati-matian membela seorang pemuda yang entah siapa dia. Bukan kakak, adik atau pun saudara, tapi mengapa ia merasa sangat tidak suka ketika Inojin menilai pemuda blonde itu adalah seseorang yang buruk untuk dirinya.
Terlalu tenggelam dalam lamunan, Himawari tak menyadari jika ia sudah sampai di tempat tujuan. Ia masih terdiam dengan tatapan kosong di wajahnya.
"Cepatlah turun, aku masih ada urusan lain." Suara dingin Inojin berhasil membuyarkan lamunannya.
Cepat-cepat Himawari tersadar dan menarik kasar tas berwarna navy yang ia letakkan di atas dashboard. Tanpa mengatakan apa-apa, ia membuka pintu mobil dan menutupnya sedikit membanting. Segera ia melangkah pergi, dan menemui pemuda blonde yang pasti sudah menunggunya.
"Tch, sial ... sial ...," terikan kesal Inojin setelah sang gadis pergi, dan beberapa kali pukulan keras ia lampiaskan pada setir mobil. "Kenapa semua jadi begini! Hah ..."
Kali ini emosinya benar-benar tidak terkendali, Inojin menghidupkan mesin mobil dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli jika nanti dirinya akan mati karena kecelakaan, atau membusuk dipenjara karena telah menabrak pejalan kaki hingga tewas dan melanggar tata tertib berkendara yang baik.
.
.
Bertemu di Manduka Cafe mungkin bukan hal yang buruk. Sengaja memang, Boruto tidak menyewa kafe-kafe mewah atau sebuah gedung mewah seperti biasa, meski hanya untuk mengadakan pesta kecil-kecilan seperti ini. Bukan karena hal lain, namun kafe ini adalah tempat di mana ia dan gadis berambut indigo itu pertama kali berkencan, maka ia putuskan untuk menyewa kafe ini untuk satu hari istimewanya.
"Hm, kenapa dia lama sekali." Boruto tak henti-hentinya mengamati arloji yang terpasang di tangan sebelah kanan, matanya pun melihat setiap pergerakan jarum jam yang bergerak.
"Maaf, membuatmu menunggu lama."
Hingga sebuah suara yang sangat ia kenali, membuatnya lantas menatap gadis yang tengah berdiri di hadapannya.
Kepalanya mendongak menatap lurus pada sang gadis, masing-masing bola mata blue shapphire mereka saling beradu tatap.
Deg
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang di dalam hati keduanya, sebelah tangan Himawari menyentuh dadanya yang berdebar tak karuan.
'Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar sekencang ini?' batinnya bergemuruh.
Sedangkan Boruto hanya terdiam, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Padahal mereka berdua sudah sangat sering bertemu, tapi perasaan aneh yang barusaja ia rasakan, membuatnya bingung, dan mengapa baru pertama kali ini ia merasakannya? Tidak mau membuang-buang waktu dan ambil pusing akan hal itu, Boruto mengajak Himawari ke ruangan khusus yang telah ia pesan untuk mereka berdua.
Mempersilahkan sang gadis untuk segera duduk di sofa empuk berwarna ungu muda itu, dan di iya'kan oleh sang gadis.
Setelah mereka sedikit berbincang, inilah saatnya Boruto mengatakan sesuatu yang sudah sejak saat itu ingin ia katakan pada sang gadis pujaan.
"Em, Boruto. Sebenarnya untuk apa kau mengadakan pesta di sini? Dan mengapa di sini hanya ada beberapa orang saja? Uh, kita juga berada di ruangan yang berbeda dengan mereka?!" beberapa pertanyaan Himawari lontarkan, karena ia merasa sangat tidak nyaman dan tidak enak juga dengan teman-teman Boruto, karena mereka berada di ruangan yang berbeda dengannya.
Boruto tersenyum, ia sudah menduga jika Himawari akan menanyakan hal itu padanya.
'Sungguh gadis ini benar-benar masih polos.' Batin Boruto.
"Ah~, banyak sekali yang kau tanya Hima-chan! Akan aku jelaskan padamu. Ini hanyalah pesta kecil-kecilan untuk merayakan keberhasilan tim basketku, karena kemarin kami telah memenangkan turnamen antar Universitas. Jadi, aku sengaja menyewa tempat ini dan mengajak para anggota klub basket untuk bersenang-senang di pesta ini, sebagai hadiah keberhasilan kami." Boruto menghela napas panjang dan sekarang berjalan untuk berpindah tempat tepat di samping Himawari. "Dan mengapa kita berada di ruangan yang berbeda dengan mereka? Karena aku tidak ingin jika mereka mengganggu kencan kita."
"K-Kencan?" Ucap Himawari terbata.
Lantas kedua bola mata Himawari membulat sempurna, mendadak dipikirannya terlintas wajah kakak sepupunya, Inojin.
Dengan cepat Boruto memegang kedua tangan Himawari, dengan seulas senyum di bibir tipisnya. "Hima-chan sejak pertemuan pertama kita di pesta itu, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan. Setiap hari, aku selalu memikirkanmu, aku bahkan tidak bisa fokus dalam bekerja-"
"Sebentar Boruto, sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan? Kenapa jadi berbelit-belit seperti ini?" kata Himawari, memotong ucapan Boruto yang belum rampung.
Lagi-lagi Boruto hanya tersenyum, ternyata gadis yang terlihat manis dan pendiam ini, adalah tipe orang yang tidak sabaran, sama seperti dirinya.
Masih memegang kedua telapak tangan sang gadis, Boruto kembali menghela napas. "Hima-chan, aku sangat mencintaimu. Jadilah kekasihku!"
Untuk kesekian kalinya, Himawari membulatkan kedua bola mata blue sapphirenya. Ia sangat bingung kali ini, memang dirinya menyukai si blonde, tapi di lain sisi ia masih teringat pertengkarannya dengan Inojin tadi.
Perkataan Inojin tentang siapa Boruto yang sebenarnya, membuat hatinya ragu untuk menerima ungkapan cinta dari si blonde.
Melepas paksa kedua telapak tangannya dari genggaman hangat Boruto, Himawari menundukkan kepalanya sejenak, sebelum kembali menatap wajah tampan pemuda di hadapannya.
"Maafkan aku sebelumnya, tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang. Beri aku sedikit waktu untuk memikirkannya."
Jawaban tegas sang gadis membuat Boruto sangat kecewa, baru pertama kali ini ada seorang gadis yang menolak cintanya secara terang-terangan.
"Ah~ begitu ya ..."
"Maafkan aku sekali lagi, kita baru saja saling mengenal. Dan menurutku ini terlalu cepat, kuharap kau bisa mengerti."
"Tenang saja, sampai kapan pun aku akan menunggu jawaban darimu Hima-chan."
Himawari tersenyum lega, baru saja ia berpikir jika Boruto akan marah padanya.
"Arigatou ... Boruto."
"Iya, tapi besok kau harus menjawab pertanyaanku ini, ya!"
"Hah, besok! Jangan besok, beri aku sedikit waktu lagi." Rayuan Himawari sungguh membuat pemuda berambut blonde ini tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ya ... ya ... ya, terserah kau saja. Aku akan tetap menunggu jawaban darimu." Jawab Boruto, masih dengan hati yang kecewa dan sebelah tangannya mencubit gemas, salah satu pipi gadis imut berambut indigo di hadapannya.
"Auw ... sakit tau."
.
.
.
Omotesando - Tokyo
Hari sudah semakin larut, namun Himawari masih terus memikirkan Inojin. Di lihatnya jam dinding berwarna abu-abu yang sudah menunjukkan pukul dua pagi, gadis muda dengan mata sebiru lautan itu masih belum juga bisa terlelap.
Membolak-balik bantal empuk miliknya dengan sesekali menepuk-nepuknya pelan, supaya terasa lebih nyaman dan berharap hal itu akan segera membuatnya terbang ke alam mimpi. Tetapi semakin ia mencoba, semakin ia tidak bisa tidur, pikirannya terus membayangkan perkataan kakak sepupunya siang tadi. Semua perkataan yang membuat Himawari ragu untuk menerima sang pemuda blonde.
"Ah~ kenapa aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata! Ini sudah pagi, dan aku sama sekali belum menutup mataku meski hanya sebentar." Gumam Himawari sendirian.
Mengambil ponsel pintarnya di atas nakas, ia mengetik sebuah pesan untuk kakak sepupunya itu. Berharap pemuda berkucir itu akan memaafkan dirinya.
Tak butuh waktu lama, ponsel pintarnya bergetar. Menatap lekat-lekat layar ponselnya, ia tidak percaya jika Inojin akan langsung menelponnya di pagi buta seperti ini.
Dengan perasaan canggung, segera ia mengangkat telepon itu dan menunggu sebuah suara dari seberang sana.
"Kenapa kau belum tidur?" satu buah suara dari seberang membuatnya terdiam sesaat.
"A-Aku ... uh, kenapa kau tidak membalas pesanku barusan?" tidak menjawab pertanyaan Inojin, Himawari justru kembali bertanya dengan perasaan canggung.
"Itu ... ya, walaupun kau tidak meminta maaf pun, aku pasti sudah memaafkanmu."
Sungguh jawaban yang membuat sang gadis terkejut, Inojin memang begitu baik padanya. Mungkin keegoisan Himawari sendirilah yang membuat keadaan yang baik-baik saja, akhirnya menjadi rumit, pikirnya.
Tak terasa sebutir air mata menetes dari ujung matanya, sungguh ia sangat lega sekali sekarang.
"A-Arigatou Nii-chan. Oh iya, besok sepulang kerja kau tidak usah menjemputku, aku akan langsung ke apartemenmu."
"Oh, begitu ya! Baiklah."
"Ya sudah, kalau begitu aku tidur dulu. Jaa."
Tut
Panggilan itu berakhir, dan Himawari kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang akan membawanya berselancar di alam mimpi meski hanya sebentar.
.
.
.
Kiso - Nagano
Akhir-akhir ini Kushina tidak bisa tidur dengan lelap, semua terjadi akibat sifat keras kepala Naruto yang membuat sang ibu harus terjaga di setiap pagi buta seperti sekarang.
Jeritan dan tangisan Naruto yang sudah beberapa malam ini membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang, putranya itu selalu mengigau tidak jelas setiap malam. Kushina tahu, jika Naruto tidak meminum obat anti depresi yang ia berikan, meski setiap kali Kushina bertanya tentang hal itu pada putranya, ia selalu berdalih dan bersikukuh mengatakan jika obat itu mungkin sudah tidak bekerja dengan baik di tubuhnya.
Bukan karena hal lain, hanya saja Kushina tidak ingin kembali ke masa lalunya lagi. Masa-masa di mana kenangan kelam yang selama ini sangat ingin ia kubur dalam-dalam dan semua kejadian di masa lalu yang sudah membuat keluarganya hancur, akan kembali lagi.
Tok tok tok
Ketukan pada pintu kamar memaksanya untuk berdiri dari ranjang hangatnya, dan berjalan ke arah pintu, menuju asal suara ketukan.
Krek
Pintu itu terbuka, seorang wanita yang di ketahui sebagai pengawal pribadinya dengan mengenakan jas hitam dan mempunyai raut wajah dingin, tengah berdiri tepat di hadapannya.
"Apa dia mengigau lagi?"
"Iya Nyonya, kali ini Naruto-sama seperti memanggil-manggil nama seseorang." Jawab wanita muda yang sama sekali tanpa ekspresi itu.
"Seseorang ..."
Tanpa ingin melanjutkan ucapannya, Kushina sudah melesat pergi menuju kamar sang putra dengan tergesa-gesa. Kali ini dia benar-benar sangat khawatir jika Naruto akan kembali mengalami depresi berat akibat mimpi buruknya.
Krek
Ketika Kushina membuka pintu kamar sang putra, ia menemukan Naruto tengah duduk di atas ranjang. Pandangannya mengarah ke bawah, tepat ke arah lantai.
Tubuhnya yang bertelanjang dada dan memperlihatkan dada bidang dengan otot perut yang masih terlihat kencang, keringat mengalir turun dari beberapa bagian tubuhnya, membuat tubuh kekar itu mengkilat karena keringat yang terus keluar dari pori-pori.
Perlahan Kushina menghampirinya, mengambil handuk kecil yang berada di dalam lemari dan memberikan kain itu tanpa berucap sepatah kata pun.
"K-Kaa-san!" Naruto terkejut, sedari tadi ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Kushina di sana. "Sejak kapan Kaa-san di sini?"
"Baru saja, cepat bersihkan keringat itu, Naruto." Kushina duduk tepat di sebelah sang putra.
Sembari menunggu Naruto membersihkan tubuhnya dari keringat-keringat itu, Kushina mengambil sebuah cincin dari dalam lipatan saputangan berwarna merah muda yang sedari tadi ia genggam.
"Apa kau bermimpi tentang gadis itu lagi?" tanya Kushina.
Naruto terdiam, susah payah ia mengingat wajah dan nama gadis itu. Namun semakin di ingat, semakin terasa menyakitkan yang ia rasakan dari dalam isi kepalanya.
"Aakkhh ..., " Naruto memegang kepalanya dengan sebelah tangan, sungguh ia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit di kepalanya. "Gadis itu! Sebenarnya siapa dia? Apa dia ada hubungannya dengan masa laluku, Kaa-san?"
Kushina meneteskan air mata, hatinya terasa teramat sakit sehingga membuatnya tidak bisa menahan air mata yang semakin membasahi wajah keriputnya.
"Naruto ambilah, pakai cincin ini di jari manismu." Dengan tangan yang gemetar, Kushina memberanikan diri untuk memberikan cincin yang ia genggam itu pada Naruto.
"Cincin? Ini cincin siapa Kaa-san? Dan mengapa aku harus memakainya?"
Naruto tidak mengerti maksud dari sang ibu, lagi pula mengapa juga ia harus memakai cincin itu? Dan jika ia memakai cincin itu, pasti akan membuat kesalah pahaman dengan para sahabatnya jika mereka sampai tahu.
"Sudah pakai saja," Kushina menyematkan paksa cincin itu pada jari manis Naruto, dan tanpa ada penolakan darinya. "Pakailah cincin ini, jika kau benar-benar ingin bertemu dengan gadis itu."
Naruto tersentak kaget, perkataan ibunya membuat kedua bola mata blue sapphirenya membulat sempurna.
"B-Bertemu gadis itu! Ja ... jangan-jangan dia ... masih hidup? Gadis itu, gadis itu masih hidup, di mana dia sekarang? Katakan padaku Kaa-san, di mana dia?"
Tanpa sengaja, Naruto mencengkeram kuat kedua lengan Kushina. "Uh~ tenanglah Naruto."
Melihat ekspresi wajah sang ibu yang seperti menahan rasa sakit, cepat-cepat Naruto melepaskan cengkeramannya pada lengan Kushina dengan rasa bersalah.
"Maafkan aku Kaa-san, aku hanya ... em~ maksudku, aku sudah lama menunggu saat-saat ini. Aku ingin sekali melihat gadis itu, dan bertemu dengannya! Banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya."
Kushina tertunduk, Naruto pun bisa melihat wajah sang ibu dari pantulan cahaya rembulan, ada raut kesedihan di sana. Dan nampak bulir air mata mengalir membasahi pipi sang ibu, turun ke bawah hingga menyentuh bibirnya yang bergetar hebat.
"Kaa-san, ada apa? Mengapa Kaa-san menangis, atau ..." Perkataan Naruto terhenti, ia menatap sendu cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Maafkan Kaa-san, Naruto. Karena selama ini sudah membuatmu menderita, hiks ... hiks ..."
Naruto benar-benar tidak sanggup lagi melihat ibunya menangis, tetapi ia tahu jika dirinya tidak akan bisa menenangkan Kushina, selain sang ayah.
"Kaa-san ..."
"Tidak ada gunanya lagi menahan ini semua," Kushina menatap lekat wajah sang putra dengan penuh harapan, dan memberikan selembar kertas kecil yang ternyata itu adalah sebuah foto seorang pria. "Perbaiki semua yang telah terjadi, temukan dia dan lelaki ini, maka kau akan mengetahui semua kebenarannya."
Naruto hanya terdiam mematung, ia tidak menyangka jika hari yang selama ini di nanti akhirnya tiba.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Kushina pergi dari sana dengan perasaan lega, namun bercampur aduk dengan semua perasaan yang selama ini ia pendam.
.
.
Di dalam kamar, bernuansa pastel. Kushina masih terus melampiaskan emosinya, memegang erat foto sang suami yang tengah tersenyum lembut sembari memeluk seorang wanita berambut merah. Mereka berdua terlihat bahagia, sangat bahagia. Di tambah dengan adanya kehadiran seorang bocah kecil, yang tengah duduk di pangkuan sang wanita berambut merah itu.
Dia tersenyum, matanya pun juga tersenyum. Sungguh saat-saat seperti itulah yang sangat Kushina rindukan, walaupun itu tidak mungkin akan terjadi lagi.
Saat tengah bernostalgia, ia teringat sesuatu yang harus segera ia sampaikan kepada seseorang yang selama ini sudah membantu keluarganya.
Orang kepercayaan yang sudah tidak di ragukan lagi kesetiaannya, menekan beberapa nomor dan segera menghubunginya.
"Ini sudah saatnya, aku sudah tidak sanggup melihatnya menderita, sampai saat ini." Kata Kushina, berusaha mengeluarkan nada bicara yang tegas meski kenyataannya mata itu masih terus mengeluarkan bulir-bulir air mata.
Sepertinya suara seseorang yang tengah ia telepon, dapat memahami situasi yang tengah Kushina alami, terlihat jelas dari gerak-gerik Kushina yang sudah tidak lagi menegang.
Meski hanya sesaat, sebelum tubuh rentanya kembali menampakkan kekakuan yang di ikuti ekspresi keterkejutan dari wajah berkerut itu.
"B-Boruto ... oh Kami-sama, tolong jangan sampai kau lukai mereka berdua." Suara sesegukan kembali terdengar, benar-benar malam ini adalah malam terberat bagi Kushina.
Akhirnya ia mengakhiri sambungan teleponnya, pandangannya beralih pada foto berframe hitam yang terpajang di atas nakas itu.
"Huh~ Minato."
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
