.
.
.
Disclaimer ~ Masashi Kishimoto
Love like this ~ Keinarra Minami
Genre : Romance / Hurt/Comfort / Drama
Warning : Au, Ooc, No-EYD, Typo, Lime Inside
Don't like, don't read
.
.
.
Futako Tamagawa - Tokyo
Pagi-pagi sekali Boruto sudah sangat rapi, tidak biasanya pemuda berambut pirang dengan dua garis di kedua pipinya itu bangun sepagi ini.
Di lihatnya arloji di pergelangan tangan kanan, menunjukkan pukul enam pagi. Kaki jenjangnya melangkah menuju ruang makan, dengan seulas senyum yang sedari tadi menghiasi wajah tampannya.
"Maaf tuan muda, ada tamu untuk Anda." Kata seorang pelayan yang datang menghampirinya.
Bersama seorang lelaki yang seumuran dengan ayahnya dan mempunyai rambut mirip buah nanas, yang sama persis dengan rambut salah satu teman baiknya.
"Hai, Shikamaru ji-san. Lama tidak bertemu, ya?" ucap Boruto dengan gaya santainya dan tanpa sopan santun yang sudah sangat biasa ia lakukan.
"Hn, di mana Naruto?"
"Oh ... Tou-chan, dia sedang berada di rumah Obaa-chan."
"Katakan padanya untuk menemuiku di kantor jika dia sudah kembali," ujar Shikamaru sebelum ia melangkah pergi.
"Hn." Jawaban singkat si pemuda berambut blonde.
Namun belum sampai Shikamaru meninggalkan ruang makan, ia berhenti dan memutar badan. "Ne ... Boruto, tumben sekali kau sudah bangun pagi-pagi begini?"
Boruto berkedip beberapa kali dan tersenyum. "Memangnya tidak boleh ya, kalau aku bangun sepagi ini, Ji-san?"
"Bukannya tidak boleh, tapi ini adalah sebuah keajaiban dunia. Kau tahu!" jawab Shikamaru sedikit meledek Boruto.
"Ya, Shikamaru ji-san. Jika urusan Anda sudah selesai, lebih baik Anda cepat pergi dari sini sebelum aku melempar sup panas ini ke arah Ji-san," ucap Boruto dengan nada sedikit meninggi, bukan marah.
Hanya saja ia sedikit kesal dengan teman sang ayah yang terkenal pemalas ini, karena masih sepagi ini ia sudah membuat perasaannya sedikit memburuk dengan ucapannya.
"Sekarang kau sudah berani mengusirku ya, Anak muda." Shikamaru sedikit menarik ujung bibirnya, geli melihat ekspresi kesal Boruto yang sama persis seperti ayahnya.
"Cepatlah pergi dari sini, Ji-san. Kau membuat pagiku rusak." Boruto semakin menekuk wajahnya hingga seperti pakaian kusut yang baru saja keluar dari mesin cuci.
Mendengus pelan. "Tsumane," desis Shikamaru, sedikit tersenyum kemudian melangkah pergi tanpa menjawab perkataan Boruto lagi.
"Hah, sungguh menyebalkan sekali."
Boruto mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam saku celana, mengotak atiknya sebentar. Dan akhirnya menemukan nomor kontak yang ia cari, menekan tombol hijau, dan menempelkan ponselnya pada salah satu daun telinga.
Menunggu beberapa saat sembari melanjutkan sarapan, namun hingga sambungan teleponnya terputus, sang pemilik nomor sama sekali tidak menjawab panggilannya.
Hingga beberapa kali Boruto mencoba kembali menghubungi nomor yang sama, tetapi hasilnya tetap saja sama, tidak ada respon.
"Sial, kenapa dari kemarin dia tidak mengangkat teleponku!" desis Boruto, dengan menampakkan raut kesalnya. "Apa lebih baik aku pergi kerumahnya saja." Gumamnya.
.
.
.
Hiroo - Shibuya
Kediaman keluarga Uchiha, sangat tenang dan terlalu sunyi jika dikatakan sebagai rumah berpenghuni. Di karenakan sang pemilik yang sangat jarang sekali berada di rumah, membuat mansion bergaya Belanda klasik modern ini, sudah mirip seperti rumah mewah berhantu.
Belum lagi, memang di kawasan ini terkenal dengan pemukimannya yang sangat tenang. Menjadikannya lokasi pemukiman paling tenang di Shibuya.
Boruto baru saja memarkirkan mobil mewahnya di garasi, sudah seperti keluarga sendiri. Setiap kali ia berkunjung di kediaman Uchiha, Boruto merasa ini adalah rumah pribadinya sendiri, tanpa perlu permisi atau pun memberi tahu sang pemilik rumah, jika ia akan berkunjung kemari.
Para pelayan pun, sudah sangat paham dengan anak tunggal dari keluarga Uzumaki yang terkenal seenaknya sendiri ini. Namun di balik sikapnya yang dingin dan cenderung tidak peduli, sebenarnya ia adalah pemuda yang baik dan semua yang mengenalnya juga pasti sudah mengetahui hal itu.
"Sarada ... Sarada ... apa kau di rumah?"
Beberapa kali Boruto memanggil nama anak tunggal keluarga Uchiha itu, namun tidak ada jawaban sama sekali. Justru teriakannya yang terdengar menggema di dalam ruangan yang terlihat sangat lengang.
"Kenapa rumah ini selalu sesepi ini? Apa mereka tidak suka dengan rumah ini, hingga mereka sangat suka sekali membiarkan rumahnya seperti rumah berhantu seperti ini." Gerutu Boruto tidak jelas, sembari mondar-mandir ke sana kemari mencari Sarada.
Seorang pelayan datang menghampiri Boruto, ketika ia melihat pemuda itu tengah berjalan mondar-mandir tidak jelas di ruang tamu sampai ke ruang dapur.
"Maaf tuan muda," seorang pelayan menunduk sesaat, tepat di belakang Boruto. Membuat sang pemuda sedikit kaget dan membalikkan badan.
"Hah~"
"Maaf tuan, nona Sarada sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah." Ucap sang pelayan.
"Apa? Dia tidak pulang ke rumah? Lalu Sasuke ji-san dan Sakura ba-san di mana?"
"Mereka masih di luar negeri tuan."
"Baiklah, sekarang apa kau tau di mana Sarada?"
"Tidak tuan."
Boruto sudah seperti orang yang kebakaran celana, kakinya sedari tadi tidak bisa berhenti bergerak. Ia terus mondar-mandir sambil memegang kepalanya yang sepertinya sedikit pusing, karena mengetahui jika Sarada sudah tidak pulang beberapa hari ini.
Jika sudah seperti ini, pikirannya selalu berakhir pada sahabat pucatnya yang tidak pernah kehabisan informasi.
"Mitsuki! Iya, aku harus menemuinya."
Dan Boruto bergegas menemui sahabat pucatnya itu.
.
.
.
Azabu - Tokyo
"Tadi pagi aku sudah berpesan pada putramu, nanti kau temui aku di kantor saja."
"Saat aku pulang, dia sudah tidak di rumah. Lagi pula ini hal serius, aku tidak ingin jika orang lain sampai tahu." Jawab Naruto santai.
"Tch, mau bagaimana lagi jika memang itu sudah menjadi keputusanmu," ucap Shikamaru sembari menuang vodka ke dalam gelas kecil di atas meja.
"Apa yang kau katakan? Aku sama sekali belum berbicara apa pun tentang hal ini, Shika."
"Jika kau berkata seperti itu padaku, sudah bisa di pastikan kau tidak akan mau kuberi saran lain, bukan!"
Naruto tersenyum, di keluarkannya selembar foto dari dalam saku jas mahalnya. "Apa kau kenal orang ini?"
Tatapan Shikamaru beralih pada selembar foto itu, "Dia ... sepertinya aku pernah melihatnya, tapi aku tidak ingat di mana tepatnya!" masih berusaha mengingat tentang sosok lelaki di dalam selembar foto itu. "Ah, aku baru ingat. Dia berasal dari keluarga Otsutsuki, sebentar aku akan mengeceknya dulu."
Shikamaru masuk ke ruang kerjanya, setelah beberapa saat ia kembali keluar dengan membawa beberapa lembar kertas di tangan dan memberikan kertas itu pada Naruto. "Semoga ini bisa membantu."
"Toneri Otsutsuki, seorang dokter spesialis organ dalam, status kawin, tempat tinggal di-"
"Bisakah kau tidak membacanya dengan nada sekeras itu, Naruto! Lagi pula dari mana kau dapatkan foto pria itu?"
Menatap sahabat berambut nanas di hadapannya, Naruto meletakkan kertas itu di atas meja. "Dari Kaa-sanku, dan aku ingin kau membantuku lagi. Kali ini aku benar-benar akan menemukan gadis itu."
Sedikit terkejut, Shikamaru membenarkan posisi duduknya. "Aku tidak percaya ini, Kaa-sanmu berubah pikiran dan kau akan membuka kembali kasus yang telah di tutup betahun-tahun yang lalu itu?"
"Iya, kuharap kau mau membantuku lagi hingga kasus ini benar-benar terungkap."
"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu ini?"
Naruto meminum segelas vodka yang tadi sudah di tuangkan oleh sahabatnya itu. "Yakin, sangat-sangat yakin."
"Tapi seingatku, terakhir kali kita menjalankan misi ini, kau pingsan dan koma hingga hampir satu bulan lamanya, hanya karena sebuah syal yang sudah setengah terbakar saat kita di rumahmu yang di Hokkaido itu 'kan?"
"Syal sialan itu? Ternyata kau masih mengingatnya, aku sudah tidak ingat dengan kejadian konyol itu."
"Baiklah, aku akan membantumu. Tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak pingsan lagi, karena itu sangat merepotkan."
"Cih, sialan kau, sekarang aku bukanlah Naruto yang dulu. Dan ingat, jangan beritahu siapa pun tentang hal ini, tanpa terkecuali," Naruto menunjuk Shikamaru. "Hanya kau dan aku," dan kembali menunjuk dirinya sendiri.
"Aku sudah mengerti, apa kau mau vodka lagi?"
.
.
.
Denenchofu - Tokyo
Boruto terburu-buru menuju apartemen Mitsuki, mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan cukup tinggi karena terlalu cemas, hingga ia tidak melihat jika sudah ada sepuluh kali panggilan tidak terjawab dari sang ayah.
Tanpa memperdulikan suara dari ponselnya yang kembali berdering, sesampainya di tempat tujuan, Boruto terburu-buru meninggalkan mobil dan ponselnya tertinggal di sana.
Dengan sedikit berlarian dan napas terengah-engah, Boruto berusaha menekan-nekan bel yang berada di sebelah pintu, namun Mitsuki belum juga membukakan pintu untuknya, karena kesal akhirnya Boruto mencoba untuk menelpon sahabat pucatnya itu.
"Sial, pasti dia sedang berduaan dengan Sumire di dalam. Sampai tidak mendengarkan teriakanku yang sudah seperti orang gila di sini," Boruto berbicara sendirian di depan pintu. "Baiklah, kalau begitu aku akan menelponnya."
Tetapi sangat sial baginya, ia tidak menemukan ponsel itu di dalam saku celana, ternyata benda itu tertinggal di dalam mobil. Dengan terpaksa Boruto harus kembali ke basemen untuk mengambil ponselnya.
"Hah~ sungguh sial sekali hari ini."
...
Di dalam ruangan bernuansa serba putih, kedua sejoli yang tengah melakukan adegan panas di atas ranjang, tengah bersusah payah menuntaskan nafsu birahinya. Bukannya tidak mendengar teriakan pemuda blonde tadi, namun Mitsuki sedang tidak ingin di ganggu sebelum ia sampai pada puncak kepuasannya.
Dan setelah semua berakhir, Mitsuki merebahkan tubuh letihnya di samping sang kekasih, ujung bibirnya sedikit terangkat karena merasa puas dengan permainan hari ini.
"Aku akan mandi dulu." Kata Sumire.
"Ya, mandilah dulu. Aku akan pergi untuk melihatnya."
Setelah itu, Mitsuki lantas berdiri dan pergi menuju arah pintu, namun ia sama sekali tak menemukan sahabatnya di sana. Akhirnya ia putuskan untuk berjalan menuju halaman parkir dengan dandanan seadanya, mengenakan sebuah celana pendek berwarna biru muda warna kesukaannya dan dada bidang yang terekspos memperlihatkan tato bergambar ular di bagian punggung.
Tidak menghiraukan tatapan dari para penghuni lain, Mitsuki terus berjalan pasti.
Baru sampai beberapa meter Mitsuki berjalan, ternyata Boruto sudah kembali dan berjalan menuju ke arahnya dengan raut wajah kusut.
"Hey, hey, hey Boruto. Kenapa wajahmu berantakan sekali?"
"Nah, ini yang membuat wajahku berantakan." Kata Boruto sambil menunjuk ke arah Mitsuki.
"Hah! Aku?" Mitsuki menunjuk dirinya.
"Iya kau, aku tahu kau ada di dalam. Tapi kau tega sekali padaku, bisa-bisanya kau membiarkan aku berteriak-teriak di depan pintu seperti orang gila."
"Hahaha, ayolah jangan marah begitu. Aku tadi sedang sibuk, karena kau datang di waktu yang tidak tepat, yah ... dengan terpaksa aku tidak membukakanmu pintu."
"Terserah, aku capek dan haus."
Tidak menghiraukan ucapan pemuda berkulit pucat yang terus saja berbicara, Boruto melangkah pergi.
"Hey ... kau mau ke mana?"
"Aku minta minum, aku haus."
"Tunggu ..."
Sreett
Mitsuki tepat waktu, sebelum sahabat blondenya masuk ke dalam, ia sudah menghadangnya di depan pintu dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Jangan menghalangiku, menyingkirlah dari hadapanku."
Boruto bersusah payah menyingkirkan Mitsuki, meskipun itu hanya sia-sia karena ternyata pemuda berkulit pucat itu memiliki tenaga yang cukup tangguh.
"Aakh ... hentikan ini Boruto, sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Tidak ada, aku hanya ingin masuk dan meminta minum. Kau memperlakukanku dengan tidak baik, sampai aku jadi capek, berkeringat dan haus karena harus mondar-mandir ke sana dan kemari."
"Itu 'kan salahmu sendiri, aku tidak menyuruhmu untuk ke sana dan kemari 'kan! Nah, sekarang katakan ada perlu apa, sampai membuatmu harus datang kemari?"
Boruto benar-benar sangat kesal, tetapi ia sama sekali tidak bisa melampiaskan kekesalannya hari ini pada pemuda di hadapannya, karena jika itu terjadi Boruto tidak akan bisa menemukan Sarada, apa lagi jika nantinya Mitsuki yang akan membantunya untuk mencari Sarada sampai marah kepadanya.
"Oke, sekarang kau tidak memperbolehkan aku masuk dan dengan mudahnya kau memintaku untuk mengatakan masalah ini di depan pintu? Oh ... Kami-sama betapa baiknya teman yang kau berikan untuku."
"Hahaha, sudahlah terima saja takdirmu. Sekarang cepat katakan, jangan bertele-tele seperti ini, aku masih banyak pekerjaan di dalam."
"Itu bukan urusanku. Jadi begini, ada sedikit masalah, Sarada sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumahnya. Aku ingin kau membantuku untuk mencarinya, karena akan menjadi masalah besar jika kedua orang tuanya pulang dan gadis itu tidak ada di rumah." Jelas Boruto panjang lebar.
Mitsuki kembali tersenyum, entah sudah berapa kali ia tersenyum dan tertawa kecil, sejak kedatangan Boruto ke apartemennya beberapa menit yang lalu. "Ah, jadi hanya itu masalahnya. Aku kira ada hal lain yang lebih penting dari sekedar mencari seorang gadis yang hilang," ucapnya.
Boruto masih tidak bisa memahami Mitsuki yang selalu santai di situasi sesulit apa pun, asalkan sahabatnya itu merasa senang dan bisa diandalkan, Boruto akan selalu bersabar menghadapinya.
"Ya, hanya itu saja, kalau begitu aku akan pulang dan kabari aku secepatnya."
Boruto lantas pergi, setelah kejadian aneh yang baru saja ia alami karena ke konyolannya sendiri dan Mitsuki yang tidak memperbolehkannya masuk meski hanya sebentar, walau sekedar untuk meminta segelas air putih.
"Siap bos, jangan malas untuk mengunjungiku ya." Ujar Mitsuki di akhiri dengan tawa lebar.
"Sialan."
.
.
.
Di tempat lain, Sarada sudah seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, terus menangis, mengurung diri dan menyiksa dirinya sendiri hingga membuat keadaannya menjadi begitu mengenaskan.
"Hiks ... hiks ... mengapa kau setega ini padaku, Boruto ..."
Isak tangis Sarada pecah seketika, ketika ia kembali mengingat kejadian di klub malam itu.
"Aarrgghhh ...," Sarada berteriak, suaranya menggema di dalam kamar mandi yang cukup luas. "Kau jahat Boruto ... kau jahat. Hiks ... hiks ... kenapa kau sama sekali tidak bisa melihatku? Tidakkah kau merasakan tulusnya cintaku ... hiks ... hiks ... aarrgghh ..."
Kembali Sarada berteriak, air matanya ikut mengalir bersama aliran air yang keluar dari shower, lengkingan suaranya pun tak hentinya beradu dengan percikan air.
Setelah satu jan lamanya ia merasa sudah lebih baik, menarik kasar handuk berwarna merah yang tepat berada di sebelah tubuhnya, dan segera melekatkannya pada tubuh mulusnya.
Sarada melangkahkan kaki jenjangnya yang sangat terasa lemas, menuju ranjang queen size yang berseprai biru. Sudah dua hari ini Sarada mengurung dirinya di dalam kamar, tanpa makan. Walaupun perutnya terasa sangat lapar, namun ia enggan menyentuh makanan meski hanya sedikit. Baginya, cukup mengisi perutnya dengan air mineral yang berada di dalam lemari pendingin, yang tepat berada di salah satu sudut ruangan, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat perutnya terasa kenyang.
Mengambil ponsel pintarnya di atas nakas, ada tujuh panggilan tak terjawab dari Boruto. Lagi-lagi sahabat blondenya yang sialan itu meneleponnya, rasa senang selalu menghampiri perasaannya ketika pemuda itu berusaha menghubunginya, namun hanya dengan hitungan detik, seketika perasaan itu hilang saat pikirannya kembali mengingat tentang perkataan Boruto padanya.
Flashback On
Seperti biasa setiap malam, para pemuda dan pemudi, khususnya anak-anak orang kaya selalu menghambur-hamburkan uang mereka untuk bersenang-senang, berpesta, minum dan atau mencari kesenangan dengan para gadis malam. Meski begitu, ada juga diantara mereka yang pergi ke tempat seperti itu hanya untuk melepaskan kejenuhan mereka, atau hanya sekedar ingin menghabiskan malam panjang dengan alunan musik yang keras dan menonton tarian erotis dari para penari di klub.
T2 Shibuya yang terletak di tengah-tengah area perbelanjaan Shibuya Center Gai. Sebuah klub yang sangat besar dan populer di kalangan anak muda, di lengkapi dengan sistem suara terbaik di Jepang, DJ booth dengan projection mapping terbaru dan yang juga pertama di Jepang, serta klub dengan interior berkelas dan mewah.
Ada pula rekomendasi lain dari klub ini, sebuah restoran di dalam klub dengan masakan Eropa Barat, yang menyajikan menu dengan bahan-bahan berkualitas. Sangat cocok untuk pengunjung yang mungkin merasa lapar setelah bersenang-senang atau ingin makan malam.
Di lantai dua, disalah satu meja, terlihat sekelompok anak muda yang di temani beberapa teman wanitanya, tengah asik menenggak minuman beralkohol. Gelak tawa mereka dan suara keras dari dentuman musik yang di mainkan oleh seorang DJ di sana seakan menyatu. Sesekali terlihat salah satu diantara pemuda itu ada yang berdiri dan menari, dengan gayanya yang sempoyongan.
Sarada yang duduk tepat di sebelah Boruto, berusaha menghentikan pemuda berambut blonde itu untuk terus minum.
"Boruto kau sudah sangat mabuk, lebih baik kau berhenti minum. Aku tidak ingin kau sakit," ujar Sarada sembari mengambil kasar gelas kecil berisi alkohol, dari tangan Boruto.
Boruto yang sudah terlihat sangat mabuk, hanya bisa tersenyum dan membiarkan Sarada mengambil minumannya.
"Hai Boruto, setiap hari saja kau teraktir kami bersenang-senang seperti ini." Ucap salah satu gadis bertubuh tambun, dengan kulit berwarna coklat.
"Iya, kau 'kan yang paling kaya diantara kita. Tidak masalahkan kalau setiap hari kau mentraktir kami, Boruto." Kini pemuda dengan model rambut seperti nanas, bersuara.
"Tenang saja Cho-cho, Shikadai. Jika dia menerimaku, dan dia sudah sah menjadi kekasihku. Pasti kalian akan aku teraktir lagi, sepuasnya," jawab Boruto dengan nada cukup keras.
Deg
Sarada sangat terkejut, karena dia tidak mabuk. Jadi dia tidak salah, mendengar ucapan Boruto barusan, bukan!
"Boruto, apa maksudmu? Kekasih? Siapa yang akan menjadi kekasihmu?" Sarada bersuara cukup keras, tepat di depan wajah Boruto yang terlihat memerah.
Mitsuki yang juga tidak mabuk berusaha memberitahu gadis Uchiha itu untuk mengajak Boruto ke tempat lain, karena Mitsuki tahu pasti hal yang akan Sarada tanyakan akan membuat pemuda blonde itu salah paham, apa lagi dengan kondisinya yang sedang mabuk seperti sekarang.
Tapi karena musik yang terlalu kencang, membuat Sarada sama sekali tidak bisa mendengar dengan jelas suara pemuda berkulit pucat itu. Akhirnya Mitsuki mengatakannya tepat di telinga Sarada dengan suara cukup keras. Dan di balas anggukan oleh sang gadis.
Menarik paksa sahabat blondenya, kini mereka berdua berada di depan toilet. Masih cukup ramai orang berlalu lalang, namun tempatnya yang cukup tenang membuat keduanya tidak perlu berteriak saat berbicara.
"Boruto dengarkan aku. Apa maksudmu tadi? Gadis mana yang kau maksud? Apa gadis Otsutsuki itu yang akan menjadi kekasihmu?" tanpa basa-basi, Sarada langsung menanyakannya pada Boruto.
Tertawa lepas, entah apa yang Boruto tertawakan. Hingga matanya berair karena ia tak henti-hentinya tertawa, dan tidak menjawab pertanyaan Sarada.
Mencengkram erat bahu Boruto, Sarada sudah tidak bisa lagi menahan amarah dan rasa penasarannya sekarang. "Boruto jawab aku," menggoyang-goyangkan tubuh pemuda di depannya, berharap ia akan sedikit lebih sadar dari mabuknya. "Siapa gadis yang kau maksud?"
Mulai geram dengan sikap Sarada padanya, Boruto mencengkram lengan Sarada kuat-kuat dan kemudian menghempaskannya.
"Cukup Sarada, jika kau mengajakku ke tempat ini hanya untuk menanyakan hal itu, kurasa itu sangat tidak penting."
Sarada kira sahabatnya ini sudah terlalu mabuk, hingga tidak bisa mencerna kata-kata yang baru saja ia lontarkan. Tapi ia salah besar, nyatanya Boruto sangat sadar dan dengan tatapan dingin menjawab pertanyaan Sarada barusan.
"B-Boruto."
"Sudah jangan berkata apa-apa lagi, aku sudah sangat muak dengan semua ini. Kau selalu mengatur hidupku, kau selalu menghalangi jalanku, aku tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Sebenarnya apa yang kau mau dariku? Apa selama kita berteman, aku kurang baik padamu? Kenapa aku selalu salah di matamu? Atau selama ini kau hanya menganggapku sebagai seorang pecundang, seperti yang pernah kau katakan padaku dulu, hah?"
Deg
Seperti tersayat pedang, begitu sakit hati Sarada mendengar kata-kata Boruto. Padahal kejadian itu sudah sangat lama, waktu mereka masih sangat kecil dan belum mengerti tentang arti dari kata 'pecundang'.
Tapi Sarada benar-benar tidak menyangka jika Boruto masih sangat mengingat betul kata-kata yang pernah ia lontarkan pada sahabatnya. Dan Sarada tidak pernah mengira jika Boruto akan sakit hati sampai seperti ini.
Hanya bisa terdiam, air mata mulai menetes dari kedua mata onyx sang gadis. Dadanya terasa begitu sesak, hingga ia sama sekali tidak bisa berucap apa-apa.
"Hiks ... hiks ... a-aku ..." Sarada sangat bingung hingga terbata karena ia tidak tahu harus berkata apa sekarang.
"Dulu memang aku tidak mengerti tentang perkataanmu itu, sebelum Tou-chan yang menjelaskan kata-kata itu padaku. Sekarang aku hanya ingin bahagia, Sarada. Kuharap kali ini kau bisa mengerti," setelah mengatakan itu, Boruto melangkah pergi meninggalkan Sarada, yang sesegukan menahan rasa sakit di dalam dadanya.
Flashback Off
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
Minal aidzin walfaidzin teman-teman? mohon maaf lahir dan batin buat semua teman-teman yang merayakan hari raya idul fitri.
Kei minta kritik dan sarannya, karena sudah lama sekali nggak nulis, jadi tulisannya sangat berantakan sekali.
Mohon masukan dan bantuannya.
Terima kasih.
