.

.

.

Disclaimer ~ Masashi Kishimoto

Love like this ~ Keinarra Minami

Genre : Romance / Hurt/Comfort / Drama

Warning : Au, Ooc, No-EYD, Lime inside

Don't like, don't read

.

.

.

Distrik Shibuya

Hari ini begitu cerah, Hinata dan Ino menghabiskan waktu libur mereka untuk berbelanja dan sekedar bersantai di restoran mewah. Melepas penat setelah berhari-hari bekerja hingga larut malam, keduanya adalah seorang desainer yang kemampuannya sudah di akui di ajang internasional.

Tidak heran jika keduanya sudah memiliki banyak konsumen dari kalangan artis dan bahkan orang-orang penting, setelah beberapa tahun terakhir berkarir bersama, akhirnya Hinata pun memutuskan untuk membuka butik dengan Ino sebagai manager di sana.

Seperti biasa, Hinata selalu memesan green tea hangat tanpa cemilan. Bukan tanpa alasan, karena ia selalu mewajibkan dirinya untuk melakukan sarapan di pagi hari dan mengontrol pola makannya demi kesehatan. Karenanya setiap kali ia keluar bersama Ino, sudah bisa di tebak siapa wanita yang akan terlihat berdiet ketat di masa tuanya.

"Ne ... Hinata, sekali-sekali pesanlah sesuatu. Jangan hanya segelas teh atau kopi saja yang di pesan."

Sedikit saran dari sahabatnya sama sekali tidak menggiurkan bagi Hinata.

Hanya tersenyum, Hinata kembali melanjutkan pekerjaannya dan berkutat dengan semua kesibukannya.

"Oh iya Ino, apakah gaun nyonya Anko untuk acaranya minggu ini sudah kau kerjakan?" ujar Hinata.

Ino menghentikan kegiatan sarapannya yang sudah hampir masuk jam makan siang.

"Nyonya Anko ya! Sebentar aku cek dulu."

"Jangan katakan kalau kau belum mengerjakannya?"

Setelah menemukan yang ia cari, dengan cepat Ino mengirim sebuah data atas nama 'Nyonya Anko' pada Hinata. Sebuah foto gaun mewah yang terpasang ditubuh maneken, sebelum sahabatnya ini akan menceramahinya lagi.

"Coba kau lihat, itu sudah betul apa belum!"

Hinata mengamati foto gaun dari berbagai sisi itu, sangat detail dan terlihat sempurna.

"Bagus, tepat waktu. Nanti kita ke butik untuk memastikan apa ini sudah benar-benar sesuai atau tidak. Dan aku akan menghubungi nyonya Anko agar dia segera mengambil gaun itu, jika kita sudah benar-benar memastikan semuanya sempurna."

Ino hanya membalas ucapan Hinata dengan sebuah senyuman, ia baru teringat tentang sesuatu yang harus ia sampaikan pada sahabatnya ini.

"Hinata, semua dugaan kita benar."

Hinata yang merasa terpanggil, menghentikan aktivitasnya. Kedua mata amesthysnya menatap tajam wajah datar Ino.

"Dugaan?" Menelengkan sedikit kepala, ternyata Hinata belum paham dengan kata-kata singkat sahabat pirangnya.

"Hah ... kau ini, padahal aku sudah sangat serius."

"Makanya, bicaralah yang jelas. Agar aku bisa memahami ucapan anehmu itu." Senyum geli menghiasi wajah Hinata.

"Iya, akan aku lakukan. Um ... pemuda itu ...," sangat berat mengatakan hal ini, karena Hinata pasti akan sangat tidak menyukainya.

"Pemuda? Siapa? Jangan bilang kau menyukai seorang pemuda yang seusia dengan putramu, Ino?" Hinata terkekeh geli.

Sama sekali tidak ada aura keseriusan di antara keduanya, hanya melempar candaan yang mereka lakukan sedari tadi.

Tapi Ino senang ketika melihat sahabat berambut indigonya ini bisa tersenyum lepas seperti sekarang.

"Baikalah, sudah selesai bercandanya. Ini serius Hinata, pemuda itu! Pemuda dengan dua guratan di kedua pipinya, pemuda yang sedang mendekati Hima-chan." Ino menghentikan ucapannya, saat mendapati guratan di dahi Hinata.

"Pemuda itu!" barulah Hinata memasang raut wajah serius, saat mengetahui apa yang ingin sahabatnya bicarakan.

"Iya, pemuda itu adalah bagian dari keluarga Uzumaki, dan dia adalah putra dari Naruto Uzumaki. Boruto U-Z-U-M-A-K-I," sengaja Ino menekankan ucapannya di nama Uzumaki, yang langsung mendapat sebuah ekspresi terkejut dari lawan bicaranya, Hinata.

"B-Bo-ruto U-Uzumaki." Hinata tergagap, entah mengapa ada perasaan sakit dan sedih ketika mendengar nama itu.

Ino mengangguk dan kembali bertanya, "Hinata, apa mungkin dia itu putramu?"

Dan hening.

.

.

.

Omotesando - Tokyo

Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah beberapa hari yang lalu Hinata mendengar semua cerita tentang pemuda bernama Boruto itu dari sahabat pirangnya.

Setiap malam Hinata tidak bisa tidur dengan nyenyak, siang pun demikian. Di butik tempat ia bekerja, dan yang sekaligus sebagai kantor pribadinya, Hinata hanya menghabiskan waktunya untuk melamun. Hingga pekerjaan yang seharusnya di kerjakannya sendiri, menjadi terbengkalai, alhasil Ino lah yang harus mengerjakan semua pekerjaan itu.

Dan bagi Ino, mungkin dengan menceritakan semua kecurigaannya tentang Boruto pada Hinata adalah hal yang salah, jika ia tahu akhirnya akan menjadi seperti ini.

Seperti siang ini saja, Hinata hanya menghabiskan waktu untuk menatap hamparan gedung-gedung pencakar langit dari sebuah kaca besar di ruang kerjanya, tanpa melakukan apa pun sedari tadi.

"Hinata, apa kau baik-baik saja?" kata Ino, sembari menepuk pelan sebelah pundak wanita bermata amesthys itu.

Menghela napas pelan, Hinata benar-benar bingung sekarang, karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

"Ya, aku baik-baik saja. Hari ini aku akan pulang lebih cepat karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan di tempat lain, kuserahkan semua yang ada di sini padamu." Ucap Hinata, tanpa menatap lawan bicaranya. Ia masih sibuk menatap gedung-gedung tinggi di sana.

"Baiklah, kau bisa mengandalkanku."

Hinata berbalik dan menatap Ino dengan seulas senyum di bibir peachnya. "Ino, arigatou."

...

Hinata memutuskan untuk pulang lebih cepat, karena ia ingin sekali menceritakan semua keresahan yang di alaminya pada Toneri. Lelaki yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri, meskipun nyatanya Hinata belum sepenuhnya bisa memahami sifat dingin Toneri yang begitu misterius.

Sampailah ia di apartemen, tempat paling aman dan nyaman untuk melepas kepenatan. Toneri pun sudah ada di sana, lelaki itu terlihat tengah bersantai di teras balkon dengan sebuah majalah di tangannya.

"Huh~ kenapa hari ini aku lelah sekali! Ah, Toneri-san sepertinya kau sangat menikmati acara bersantaimu, ya!"

"Hn."

"Emm ... jawaban macam apa itu! Apa kau sudah lama menungguku, hingga kau merasa bosan dan kesal padaku?"

Toneri menutup majalah, dan memalingkan pandangan pada wanita paruh baya yang tengah berdiri di sampingnya dengan tatapan lesu.

"Sudah setua ini kau masih banyak bicara sekali, ya!" satu ucapan Toneri membuat Hinata naik darah.

"Hey ... apa-apaan itu, padahal umurku lebih muda darimu loh."

"Oke, aku kalah. Sekarang duduklah dan katakan apa yang ingin kau tanyakan padaku."

Hinata duduk tepat di samping Toneri, wajahnya yang lesu dan kusut kini menjadi sedikit lebih serius.

"Um, ada hal yang ingin aku tanyakan. Sesuatu yang sudah beberapa hari ini membuat pikiranku tidak tenang."

"Ya, katakan saja. Aku akan mendengarkan semuanya dan sepertinya ini sesuatu yang serius, hingga kau terlihat sangat gusar dan tidak segar, tidak seperti biasanya."

"..." Hinata terdiam, ia bingung harus memulai percakapan ini dari mana.

"Kenapa kau diam?" ujar Toneri, menunggu wanita di sampingnya berbicara.

"Aku tidak ingin kembali ke masa lalu, bertahun-tahun aku bersusah payah menghapus semua kenangan itu. Tetapi, semua usahaku sepertinya hanya sia-sia."

"Apa yang sedang kau bicarakan? Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini?"

"Na-Naruto, mantan suamiku. Dia mempunyai seorang putra, dan sekarang dengan sengaja atau tidak, putranya itu tengah mendekati puriku, Himawari. Aku tidak ingin jika lelaki berengsek dan pemuda dari keluarga Uzumaki itu sampai menyakiti putriku juga, Nii-san." Jawab Hinata tegas.

Tidak pernah salah dugaan Toneri, cepat atau lambat pasti Hinata akan tahu tentang hal ini. Tidak menampakkan keterkejutan, Toneri mengangkat sebelah tangannya dan menepuk pelan pundak Hinata.

"Sampai kapan kau akan terus menghindar? Ini adalah takdir, takdirmu di masa lalu yang cepat atau pun lambat, pasti akan kembali menghampirimu. Kau harus menyelesaikan semuanya, jika kau benar-benar ingin terlepas dari kenyataan pahit ini."

Deg

Hinata tercengang, bukannya Toneri yang seharusnya terkejut akan kabar itu. Namun Hinata lah yang kini terkejut karena ucapan Toneri padanya.

"Tunggu, tunggu sebentar. Kenapa sepertinya Nii-san sangat mendukung keluarga itu? Apa Nii-san ingin aku kembali menderita seperti dulu?"

"Tidak, tentu saja tidak. Tetapi, tidak semua pemikiran yang terkadang kita anggap benar, itu adalah jalan terbaik untuk menuntun diri kita sendiri," menatap lekat kedua mata mutiara Hinata, Toneri meyakinkan wanita itu agar dia bisa merubah pendiriannya. "Kesempatan, masih ada kesempatan jika kau ingin benar-benar bahagia. Dengarkan orang lain, dan hancurkan keegoisanmu."

"N-Nii-san," perempatan di dahi Hinata begitu kentara, napasnya pun menjadi tidak teratur, emosi yang selama ini menguasainya telah membuatnya menjadi sekeras ini.

"Kau tahu aku sangat menyayangi Himawari dan kau juga sangat menyayanginya, bukan! Jika kau ingin benar-benar dia bahagia, lakukan apa yang seharusnya kau lakukan sejak dulu." Toneri berdiri dari tempat duduknya, masih menatap Hinata yang terdiam di tempatnya.

"Tapi, di-dia ... sudah tidak mencintaiku lagi." Hinata tertunduk, ia berbicara dengan bibir yang sedikit bergetar.

"Bukan, bukan seperti itu. Jika kau memang mengenalnya lebih dari siapa pun, seharusnya kau tahu apa yang sebenarnya telah terjadi." Jawab Toneri.

Menengadahkan kepala dan memejamkan kedua mata, Hinata benar-benar sedang berusaha mencerna semua ucapan Toneri padanya.

"Apa aku harus kembali ke Los Angeles?"

"Lakukan, jika memang kau ingin terus berlari tanpa tujuan."

Menghela napas panjang, Hinata tengah mati-matian menahan emosinya yang terus memuncak setiap membahas tentang hal ini. "Baiklah Nii-san ... akan kupikirkan lagi."

Toneri menyambar jas berwarna merah maroon yang ia letakkan di atas kursi, dan mengenakan jas itu pada tubuh tegapnya. "Sekarang semua keputusan ada di tanganmu, aku akan menjemput istriku di bandara."

Kembali Hinata di buat terkejut oleh Toneri untuk yang kedua kalinya. "Nee-san pulang? Kenapa dia tidak memberitahuku jika akan datang hari ini?"

"Mungkin dia terlalu sibuk," Toneri melangkah pergi melewati Hinata, namun terhenti tepat di ambang pintu sembari sedikit menengok ke belakang. "Dan satu lagi, kau sudah lebih kuat dari sebelumnya. Pertahankan itu, Hinata-san."

"Jangan meremehkan aku." Hinata tersenyum sinis, dan Toneri pun sudah menghilang di balik pintu.

.

.

Tap tap tap

Suara langkah kaki menggema saat melewati barisan pintu apartemen yang tertutup rapat dengan suasana hening, karena tidak terlihat satu pun aktivitas di sana.

Cklek

Membuka salah satu pintu dan menerobos masuk. "Maaf Nii-chan sudah membuatmu menunggu lama,," ujar gadis bersurai indigo yang kini sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk berwarna hitam.

"Hmm ... kau ini selalu saja terlambat, kau tahu ini sudah jam berapa?" omel Inojin seperti biasa, yang baru saja muncul dari arah dapur.

"Maaf Inojin-nii, kau tahu 'kan kalau aku akhir-akhir ini sibuk sekali."

"Sibuk apa?! Yang kutahu, setelah pulang kerja kau hanya bergosip dengan teman-teman modelmu di kafe coffe yang berada di ujung jalan sana, menghabiskan waktu seharian hanya untuk membicarakan orang lain."

Himawari berdiri dan berjalan menghampiri Inojin. "Ne ... jangan marah, nanti Nii-chan bisa cepat tua loh."

Melotot ke arah Himawari sambil mengepalkan kedua tangannya, Inojin begitu gemas melihat tingkah laku Himawari yang semakin hari membuatnya selalu dalam tekanan emosi.

"Huh ... kau ..., hah sudahlah. Percuma saja aku menasehatimu, besok pasti kau akan mengulanginya lagi."

"Hehehe, jangan terlalu pasrah begitu, di mana Nii-chanku yang selalu bersemangat!"

Inojin mulai mempersiapkan semua masakan yang telah ia buat khusus untuk dirinya dan Himawari malam ini.

Tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk mereka makan berdua. Ada sup miso, sushi, chicken katsu tojidon dan tidak lupa ramen spesial, makanan favorit Himawari.

"Nah sudah selesai, ayo duduk dan makanlah." Inojin mempersilakan gadis bersurai indigo itu untuk duduk di salah satu kursi, yang tepat berhadapan langsung dengannya.

Dan di balas dengan senyuman bahagia dari wajah cantik Himawari. "Wah ... aromanya begitu lezat, aku jadi sangat lapar."

Ssslluuurrpp

Satu suapan kuah ramen yang kental berhasil membuat lidah Himawari bergoyang.

"Bagaimana rasanya? Apa kau menyukainya, Hima-chan?" tanya Inojin.

"Ini sungguh enak, memang masakan Nii-chan yang selalu bisa membuatku ingin makan terus." Jawab sang gadis dengan senyum lima jari.

"Kalau begitu habiskan makananmu dan setelah itu cepatlah pulang, Hinata ba-chan pasti sudah menunggumu."

"Ha'i." Tiba-tiba Himawari teringat akan pemuda blonde, yang sudah beberapa hari ini tak mendatanginya di tempat kerja. "Inojin-nii, apa aku boleh bertanya sesuatu?"

Menghentikan acara makannya, Inojin menatap ke arah Himawari. "Boleh, memangnya apa yang ingin kau tanyakan?"

"Um... apakah Boruto itu sudah memiliki kekasih?" ucapnya takut-takut, ia khawatir jika kakak sepupunya yang kini menatapnya intens, akan marah seperti waktu itu.

Masih memasang wajah datar, Inojin menghela napas pelan. "Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal seperti itu, Hima-chan!"

"Em ... a-ano... eto ...," Himawari tergagap, ragu untuk menjelaskan pada Nii-channya yang pasti akan mengintrogasinya.

Mengalihkan pandangan dari sang adik, Inojin melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda.

"Emm ... i-itu ..." Kembali Himawari bergumam.

"Hm," Inojin meletakkan sumpit tepat di atas mangkuk. "Pasti dia sudah mengutarakan perasaannya padamu, ya?"

Blue sapphire sebiru lautan itu melebar seketika, setelah mendengar ucapan sang kakak.

"Iya kan!" tegas Inojin.

"I-Iya, sudah sejak saat itu, tapi ak-" Perkataan Himawari terputus.

"Kau masih belum menjawabnya, apakah kau menerimanya atau tidak. Dengan alasan karena kau belum terlalu mengenalnya, dan hal ini terlalu cepat untukmu." Lanjut Inojin yang sudah kembali menatap kedua bola mata indah Himawari, "sudah bisa di tebak."

Himawari tertunduk melihat mangkuk berisi ramen yang masih utuh dan hangat. Menanti untuk ia santap, "Iya, semua yang Nii-chan katakan itu benar. Karena ... dua garis itu."

"..." Inojin hanya terdiam, ia tidak mungkin menceritakan semua yang ia tahu pada Himawari.

"Menurut Nii-chan, aku harus bagaimana?"

Mendengus pelan, hari ini Inojin benar-benar tidak ingin makan. Tiba-tiba saja selera makannya hilang entah ke mana. "Hm ... sudahlah, jangan terlalu di pikirkan, Hima-chan. Dan cepat habiskan makan malammu."

Inojin berdiri dari duduknya dan berjalan menuju arah dapur.

Himawari sangat kecewa saat ia tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, sebenarnya bukan jawaban tentang perasaannya pada Boruto yang ingin ia dengar dari mulut Inojin.

Tetapi perasaan kakak sepupunya kepada dirinyalah yang ingin ia dengar sekarang, Himawari tahu jika Inojin juga mencintainya, karena sebenarnya Himawari pun sudah lama memendam perasaannya pada sang kakak sepupu.

Hanya saja, keegoisan dan kedekatan antara ia dan Boruto, yang akhirnya akhir-akhir ini membuat Inojin lebih memilih untuk mengalah dengan perasaannya dan menjauh dari Himawari.

Himawari tahu dan sangat mengerti dengan sikap Inojin yang selalu mengalah, ia tahu semua yang dilakukan kakak sepupunya hanya agar Himawari bahagia.

Sreekk

Grep

"Nii-chan," dengan cepat Himawari menyusul Inojin ke dapur dan memeluk pemuda itu dari belakang, yang membuat Inojin tersentak kaget. "Jangan tinggalkan aku."

"Hi-Himawari!" kata Inojin.

Himawari semakin memeluk erat pinggang Inojin dan menenggelamkan wajahnya pada punggung sang kakak.

.

.

.

Di tempat lain, Sarada terlihat sedikit lebih baik dari hari sebelumnya. Kini ia sudah terlihat rapi dengan polesan make up tipis di wajahnya.

Tap tap tap

"Lebih baik kau cepat pulang, apa kau tidak kasihan dengan Boruto?" ucap Mitsuki yang tengah menghisap sebatang rokok yang sudah hampir habis.

Sudah sejak pagi Mitsuki berada di apartemen Sarada, berusaha membujuk gadis Uchiha itu agar dia mau pulang dan tidak membuat semua orang khawatir.

"Apa arti dari kepulanganku, jika kehadiranku saja tidak pernah di harapkan!"

"Itu hanya pemikiranmu saja, jangan karena Boruto berkata seperti itu, kau sampai menyiksa dirimu sendiri," sahut Mitsuki cepat. "Ini, kuharap dengan ini kau akan merasa lebih baik."

Sarada menerima sekantong kecil serbuk putih dari Mitsuki. Segera memasukkannya ke dalam tas kecilnya dan tersenyum kecil.

"Hn, terima kasih kau sudah mau mengunjungiku. Kurasa ini terlalu berlebihan." Ujar Sarada.

"Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, tapi kurasa hari ini bukan hari baik untuk membicarakannya."

"Jika kau sudah menemukan hari baik itu, temui aku di tempat biasa." Jawab Sarada, kini gadis itu berada di depan pintu. Memutar knop, membukanya dan menghilang dibalik pintu.

Mitsuki menarik ujung bibirnya, menyeringai dengan tatapan menyepelekan seperti biasanya.

"Dasar gadis angkuh itu, menyebalkan."

.

.

.

To be Continued

.

.

.

RnR please!