.
.
.
Disclaimer ~ Masashi Kishimoto
Love Like This ~ Keinarra Minami
Genre : Romance / Hurt/Comfort / Drama
Warning : Au, Ooc, No-EYD, Lime Inside
Don't like, don't read
.
.
.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam tengah melaju di jalanan kota Tokyo, daerah yang di lalui tidak begitu ramai. Hanya beberapa mobil yang melaju dengan kecepatan standar dan terlihat beberapa pejalan kaki di trotoar.
Himawari sedari tadi tidak berhenti memainkan ponsel pintarnya, mengabaikan pemuda yang tengah duduk di sebelahnya sembari menyetir mobil.
Sedang Boruto, tak henti-hentinya melirik ke arah Himawari yang sama sekali tidak menganggap dia ada di sana. Namun Boruto tidak keberatan, karena mungkin gadis itu tengah gugup untuk menjawab pernyataan cinta pikirnya.
"Ah, Hima-chan apakah kau menikmati makan malam hari ini?" tanya Boruto, berusaha menetralisir keadaan yang begitu hambar.
Merasa terpanggil, Himawari tersenyum dan menatap kearah Boruto. "Iya, makan malamnya begitu mewah. Aku sangat menikmatinya, arigatou Boruto."
Gadis mana yang tidak akan menikmati makan malam mewah jika bersama Boruto, kemewahan dan semua yang mereka inginkan pasti akan Boruto berikan untuk orang yang dia cintai.
"Jadi bagaimana jawabanmu?"
"Ja-Jawaban?" Himawari sedikit gugup dan ragu akan menjawab pernyataan cinta yang tidak mungkin bisa dia terima, karena ada cinta lain yang lebih dia inginkan dalam hidupnya.
"Iya, kau maukan menjadi kekasihku?" ucap Boruto to the point.
"Aku ...," Himawari benar-benar ragu akan mengatakannya, apa lagi mengingat pesan dari Inojin jika Boruto akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi dia harus mengatakannya dengan jujur sebelum semuanya semakin jauh. "Ma-Maaf Boruto, aku ... tidak bisa menjadi kekasihmu."
Ckiiitttt
Boruto menginjak rem kuat-kuat, membuat Himawari terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Boruto pun sangat terkejut dengan penolakan yang dilontarkan oleh Himawari, sungguh dia tidak menyangka jika gadis polos itu akan menolaknya, padahal selama ini banyak gadis di luar sana yang mengantri dan rela melakukan apa pun demi untuk sekedar mendapatkan perhatian, bahkan cinta dari sang pewaris tunggal keluarga Uzumaki.
"A-Apa ..." Kerutan di dahi Boruto sudah sangat jelas menandakan jika pemuda bersurai blonde itu sangat marah. "Berani sekali kau menolakku? Dengan semua yang telah aku lakukan, dengan semua waktu yang telah aku korbankan untukmu. Sekarang dengan mudahnya kau menolakku?"
Teriakan Boruto begitu kencang, membuat Himawari tersentak kaget dan tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya sekarang. Boruto, pemuda baik dan selalu bersikap hangat kini berubah menjadi monster hanya dengan hitungan detik.
"Bo-Boruto," tubuh Himawari bergetar, air mata mulai membasahi kedua pipinya, dia benar-benar ketakutan. Seumur hidupnya tidak ada seorang pun yang pernah berbicara kasar dan membentaknya sampai seperti ini.
"JANGAN PERNAH SEBUT NAMAKU, SIALAN."
Boruto benar-benar sudah diluar kendali, menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Membuat Himawari semakin terisak dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Hentikan ... hentikan ... berhenti Boruto ..." Himawari terus memohon ditengah isakan tangisnya, dia tidak ingin mati konyol, namun jika pun itu akan terjadi, setidaknya dia bisa berpamitan dulu kepada Kaa-chan dan Tou-channya.
"Kau harus menjadi milikku, malam ini juga kau harus menjadi milikku." Kata Boruto dengan seringai buas.
Himawari tahu apa maksud dari ucapan dan seringai licik Boruto, segera dia berusaha membuka pintu mobil namun itu tidak mungkin, karena pintu itu terkunci rapat.
"Tidak Boruto, berhenti ... aku bilang berhenti ..." Terus menangis, Himawari berusaha menggoyang-goyang tubuh Boruto. Jika dirinya harus mati malam ini bersama Boruto karena kecelakaan, itu tidak masalah. Asalkan dia tidak mati bunuh diri, karena rasa malu yang akan dia tanggung seumur hidupnya.
"Aakkhhh ... diam."
Dengan cepat Boruto menghempaskan tangan Himawari dan mendorongnya kuat-kuat, sampai membuat gadis itu terpental dan membentur kaca mobil dengan kuat.
Dug
"A-Akkhh, he-henti-" sebelum Himawari selesai dengan kata-katanya, gadis itu sudah kehilangan kesadarannya.
.
.
.
Omotesando - Tokyo
"Terima kasih untuk makan malamnya hik- hari ini, la-hik lain waktu biar a-aku yang akan mentraktirmu." Ucap Hinata, dan di balas senyuman oleh laki-laki di hadapannya.
Kemudian seorang laki-laki berambut hitam dan berkacamata itu masuk ke dalam mobil, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Hinata di sana.
Dari kejauhan, sepasang mata tengah mengamati gerak-gerik Hinata. Sudah dua jam lamanya dia menunggu di tempat yang sama bersama satu sahabatnya yang kini sudah terlelap sejak satu jam yang lalu.
Keluar dari mobil, meninggalkan sahabatnya di sana dan berusaha mengikuti langkah Hinata yang ternyata sudah menghilang di balik tembok beton itu.
"Sial." Gumamnya pelan.
Tidak kehabisan akal, dengan langkah cepat dia menyusuri lorong dengan barisan pintu yang tertutup rapat, tercium jelas aroma parfum wanita yang sama seperti milik wanita tadi.
Dan benar saja, wanita itu akan memasuki kamar dengan nomor yang sama persis seperti nomor yang ada pada kertas yang berada ditangannya saat ini. Kamar milik dokter spesialis organ dalam itu, Toneri.
Grep
"Tunggu Nyonya."
"Hah!"
Hinata terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan memegang lengannya yang akan membuka pintu. Mengerjapkan mata beberapa kali, sepertinya Hinata merasa pernah bertemu dengan lelaki berambut pirang yang kini berdiri tepat di hadapannya. Namun sayang, dia sama sekali tidak bisa mengingat itu.
"Maaf Nyonya, apakah benar ini kamar apartemen Tuan Toneri?"
Hinata tidak langsung menjawab, dia sedikit berfikir dan berusaha mengembalikan kesadarannya.
"Oh ... Nii-san, hik se-sedang pergi." Jawab Hinata dengan sedikit sempoyongan.
'Sial, ternyata dia sedang tidak di sini.' Batinnya.
"Ma- hik masuklah dan tunggu dia pul-hik lang sebentar lagi." Hinata benar-benar ingin berbaring sekarang, dan sepertinya kakinya sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya.
"Ah terima kasih untuk tawarannya, tapi saya harus pergi sekarang. Mungkin lain waktu saja, saya akan kembali."
Baru saja Naruto akan melangkahkan kakinya, Hinata sudah jatuh dan tak sadarkan diri. Cepat-cepat Naruto menghampirinya dan berusaha membangunkannya, tapi Hinata masih tidak sadarkan diri.
Terpaksa Naruto harus mengangkat tubuh Hinata masuk dan membaringkannya di atas sofa berwarna krem. Setelah itu Naruto berniat pergi dari sana, namun lagi-lagi dia terhenti di langkah pertamanya. Hinata menarik ujung jas hitamnya dan berusaha berdiri di tengah kondisi mabuk beratnya.
"Sebentar Tuan, a-apakah a ... ku mengenalmu?" ucap Hinata sembari menatap wajah Naruto yang kebingungan.
"Maaf Nyonya, sepertinya tidak. Karena kita baru bertemu beberapa menit yang lalu." Jawab Naruto sedikit terkejut.
Naruto mulai gugup, namun ada banyak alasan mengapa dia gugup, selain dirinya yang sudah bertahun-tahun tidak pernah berkencan semenjak kandasnya hubungan percintaanya dengan Shion, dia juga bukanlah tipe pria yang mudah dan sering mencari kesenangan bersama wanita lain.
Di dalam hati dan pikirannya hanya ada dua hal yang ingin segera dia miliki sekarang. Yaitu menemukan seorang gadis manis yang selalu datang menghantui dirinya disepanjang malam, dan mengembalikan ingatan di masa lalunya. Hanya itu yang Naruto inginkan, sampai dia rela membuang jauh-jauh berahinya yang sesekali memuncak, memaksa untuk dipuaskan di atas tubuh seorang wanita dengan semua keringat penuh nafsu dan desahan yang sangat dia rindukan.
"Mendekatlah."
Grep
Hinata memeluk erat tubuh Naruto, mencium aroma parfum yang begitu maskulin. Dan sesekali tangan lentiknya mengelus elus pelan punggung bidang laki-laki yang berada dalam pelukannya.
Sedangkan Naruto yang semakin kebingungan berusaha melepaskan pelukan Hinata pada tubuhnya.
"Tolong Nyonya, lepaskan pelukan ini!" kata Naruto tegas dan telah berhasil melepas pelukan Hinata pada tubuhnya. "Saya harus pergi sekarang," lanjutnya.
Mendengar itu, Hinata mendorong tubuh Naruto kuat-kuat. Naruto pun langsung terduduk di atas sofa berwarna krem yang berada tepat di belakangnya.
Hinata benar-benar sudah di luar kendali karena dia terlalu banyak meminum alkohol, menyingkap gaun berwarna biru panjang yang dia kenakan dan memposisikan tubuhnya duduk di atas kedua paha Naruto.
Cup
Mencium sekilas bibir lelaki yang baru dia temui beberapa menit yang lalu. Dan air mata mulai menetes dari kedua mata amesthistnya.
"A-Aku merindukanmu ... hiks ... hiks ..., aku mencintamu ... hiks ... hiks ..." Hinata tertunduk dan menangis, dia mulai merancau tidak jelas.
Kedua bola mata sebiru lautan itu membulat sempurna, Naruto kembali terkejut namun dia juga tidak mengerti dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kau mabuk berat Nyonya, tidurlah. Aku akan mengantarmu ke kamar." Tawar Naruto.
Tapi jelas saja Hinata tidak akan meresponnya, masih terus menangis sambil bergumam tidak jelas. Naruto mulai mengangkat tubuh Hinata, berusaha membantunya untuk berdiri, namun lagi-lagi Hinata menolak.
Mata bulannya menatap lekat-lekat kedua mata sebiru lautan itu, meskipun Hinata dalam pengaruh alkohol tetapi dia masih cukup kuat untuk mengingat mata indah itu. Kedua bola mata indah seperti milik seseorang yang amat dia cintai.
Cukup lama mereka saling memandang, ada perasaan aneh yang menyelimuti di dalam benak Naruto, perasaannya mulai menghangat dan dirinya merasa seperti sudah sangat lama mengenal wanita yang kini tengah menatapnya dengan tatapan sayu itu.
Jantung Naruto mulai berdebar kencang, matanya tak lepas menatap wajah cantik wanita berambut pendek itu, entah perasaan apa yang kini tengah menyelimutinya. Namun kali ini dia benar-benar ingin mencium bibir ranumnya dan membelai wajah cantik dengan rona merah bak buah persik itu.
Cup
Tidak butuh waktu lama untuk melakukannya, bahkan lidah Naruto kini sudah berhasil mengabsen satu persatu deretan gigi Hinata. Tangan kanannya berusaha menekan kepala Hinata agar dia bisa masuk lebih dalam, dan tangan kirinya memeluk erat pinggang Hinata agar wanitanya tidak terjungkal ke belakang.
Hinata pun melakukan hal yang sama, kedua tangannya merangkul leher Naruto mesra, sudah lama sekali rasanya dia tidak melakukan ciuman panas seperti ini. Ada perasaan aneh yang menjalar disekujur tubuhnya, dia ingin lebih dekat dan dekat lagi dengan laki-laki yang sedang bercumbu dengannya, diantara sadar dan tidak sadar bahwa dia kini sedang bercumbu, namun Hinata sangat mengerti jika dia menginginkan hal yang lebih dari ini.
Cukup lama keduanya saling bercumbu dan mengadu saliva, hingga habisnya oksigen yang mampu melepas ciuman panas mereka. Saling bertatapan, berahi Naruto pun kini sudah tidak bisa dia tahan. Ingin sekali rasanya Naruto mengagahi wanita cantik yang masih berada di pangkuannya ini, tapi dia masih cukup sadar untuk tidak melakukan hal gila itu.
Hening, masih tidak ada percakapan diantara keduanya. Hanya terdengar deru napas tak teratur dan denting jam yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Naruto mendekatkan kepalanya pada salah satu daun telinga Hinata. Hanya bisa terdiam, bahkan Hinata mampu merasakan deru napasnya yang memburu.
"Aku menginginkanmu," bisik Naruto tiba-tiba, kemudian perlahan menjilat daun telinga itu dan membuat Hinata merasakan aliran panas yang langsung menjalar keseluruh tubuhnya.
.
.
.
Gaienmae - Tokyo
Aroma obat-obatan begitu khas tercium, ketika baru menginjakkan kaki di rumah besar kediaman Orochimaru sang dokter spesialis organ dalam yang sudah sangat terkenal di dunia kesehatan Jepang.
Meracik obat-obatan dan menemukan penemuan baru sudah menjadi ciri khasnya, tidak heran jika di usianya yang sudah sangat pantas di sebut sebagai seorang kakek, kulitnya masih begitu kencang dan terlihat sepuluh tahun lebih muda dari yang seharusnya.
Hari ini begitu istimewa, murid kesayangan dan putra semata wayangnya datang untuk mengunjunginya. Dan saat ini Orochimaru sangat bahagia, karena memang keduanya saat ini sudah jarang berkunjung dan Orochimaru pun adalah tipe orang yang sangat pemalas untuk bepergian, jika tidak ada urusan mendadak dan sangat penting.
"Bagaimana kabar kalian? Apakah semua berjalan seperti semestinya?" tanya Orochimaru.
"Ini sudah bertahun-tahun lamanya Ayah, tidak ada pergerakan dari mereka. Apa lebih baik kita hentikan saja misi ini?" sahut Mitsuki.
Orochimaru berjalan menghampiri wanita yang tengah duduk disofa dan membelai rambut pirang panjangnya yang tergerai. "Bagaimana kabarmu?"
"Sangat baik, Sensei. Lalu Sensei sendiri apakah anda baik-baik saja?" tanya wanita bermata kabut itu.
"Ya, aku baik dan bahkan sangat baik." Jawab Orochimaru dan tersenyum tipis.
Mitsuki mengerutkan dahi, karena sedari tadi ayahnya hanya berbasa-basi dan sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
"Ayah, kau belum menjawab pertanyaanku!" kata Mitsuki sebal.
Orochimaru hanya tersenyum tipis menanggapi bentakan kecil dari sang putra.
"Hoy Mitsuki, bisakah kau tidak berbicara seperti itu pada Ayahmu." Ucap Toneri yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Cih," Mitsuki berdecis sambil melipat kedua tangannya dan membuang muka masam.
"Sepertinya sebentar lagi Uchiha akan melancarkan misinya, mereka tidak berhasil memenangkan tender besar itu." Jelas Toneri singkat.
Orochimaru tersenyum simpul dan kembali duduk, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Tapi entah apa yang tengah dia pikirkan.
"Ya ampun ... kenapa di sini hanya aku saja yang tidak tahu apa-apa! Sejak dari awal kita menikah sampai sekarang, kau sama sekali tidak pernah memberi tahuku tentang rencana dan misi kalian ini, sayang." Kata Shion tiba-tiba sambil berdiri menatap suaminya, "Aku lelah jika harus terus menerus mencari informasi sendiri tanpa adanya penjelasan tentang misi yang sedang kukerjakan, apa lebih baik aku berhenti saja?"
Seperti biasa, Shion mulai merancau tidak jelas acap kali sedang berdiskusi bersama. Bukan tanpa alasan, karena sebenarnya dia hanya ingin hidup seperti wanita-wanita lain diluar sana, mempunyai suami, anak dan berumah tangga layaknya kebanyakan wanita. Tapi kenyataannya malah sang suami yang kini menjerumuskannya pada masalah rumit ini.
"Hentikan rancauan tidak bergunamu itu sayang," Toneri mendekati istrinya dan memeluk pinggang sang istri.
"Selalu saja seperti itu." Sahut Shion cepat.
"Kenapa di saat seperti ini Paman dan Bibi masih bisa berdrama." Tatap Mitsuki datar pada Toneri dan Shion.
Drrtt Drrrttt
Terasa getaran pada saku celananya, Mitsuki segera mengambil ponsel pintarnya itu dan sedikit kaget ketika melihat siapa orang yang tengah meneleponnya. Cepat-cepat dia menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ditelinga sebelah kanan.
"Hah apa!" satu kata yang Mitsuki ucapkan sanggup membuat seisi ruangan menatap kearahnya dengan wajah serius. "Oke, kirim lokasimu sekarang padaku. Tunggu aku, aku akan segera ke sana."
Mitsuki menutup panggilan itu, menyambar jas hitam miliknya yang tergeletak dikursi dan buru-buru pergi. "Aku pergi dulu Ayah, Paman, Bibi."
"Ada apa Mitsuki?" teriakan Orochimaru hanya sia-sia, karena Mitsuki sudah pergi dan menghilang di balik pintu. "Toneri, segera kau ikuti dia."
"Baik, Sensei."
Toneri pun bergegas pergi mengikuti langkah Mitsuki tanpa mengatakan apa-apa lagi.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
RnR Please!
