.

Secret Admirer

.

.

Seoksoo

Genderswitch

.

.

Happy Reading

Sudah 3 hari Jisoo tidak masuk kerja, ia sedang dinas keluar negeri. Sepulangnya dari Taiwan ia jatuh sakit karena kelelahan. Seokmin sangat cemas karena Jisoo tinggal sendirian. Ia bahkan sampai memesan makanan agar dikirim ke apartemen Jisoo. Malamnya Seokmin datang ke apartemen kekasihnya untuk membesuk.

Seokmin langsung masuk karena sudah hafal passwordnya. Keadaan sepi, ia langsung menuju kamar Jisoo dan melihat kekasihnya masih tertidur, ia langsung mendekat dan duduk ditepian ranjang. Seokmin mengecek suhu tubuh dengan menempelkan punggung tangan ke dahi Jisoo hingga membuat Jisoo terbangun. Dengan perlahan Jisoo membuka matanya dan membersihkan kotoran mata takut menempel bisa malu didepan kekasihnya.

"Masih sakit? Mau ke dokter?"

Jisoo hanya menggeleng tanpa menjawab, lalu berusaha bangun. Dengan masih lemas ia memeluk tubuh Seokmin dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman dalam dekapan kekasihnya. Seokmin tersenyum sambil mengusap lembut punggung kekasihnya. Saat dikantor Jisoo sebagai wanita yang berwibawa tapi saat berdua saja ia akan manja seperti wanita pada umumnya.

"Sudah makan?"

"Tidak selera makan." Ucap Jisoo manja.

"Aku bawa makanan dari rumah. Ibuku yang memasak."

"Eh? Tadi kamu pulang dulu?"

"Iya pulang sebentar ambil makanan langsung kesini."

"Ya ampun, dari kantor kamu pulang dulu lalu kesini?" Jisoo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum karena kagum dengan pengorbanan Seokmin.

"Iya ibuku sudah ribut saat aku bilang kalau kamu sakit. Ia langsung memasak dan memaksaku untuk pulang dulu mengambil makanan. Sekarang kita makan ya." Seokmin bangun lalu menuntun Jisoo untuk turun dari ranjangnya.

"Aku cuci muka dulu." Ucap Jisoo langsung ke kamar mandi.

Seokmin menyiapkan makanan yang sudah dibawa. Jisoo menyusul ke ruang makan. Ia sangat terharu melihat berbagai macam masakan rumah, sudah lama ia tidak merasakannya. Jisoo terdiam melihatnya saat Seokmin menghidangkan nasi beserta lauk yang masih hangat.

"Dimakan, biar kamu cepat sehat." Ucap Seokmin sambil tersenyum. Jisoo membalas senyuman lalu mulai menyuap nasi.

"Aku harus berterima kasih pada ibumu."

"Masalah itu nanti saja, sekarang makan saja dulu."

Selesai makan, Seokmin membereskan semuanya. Jisoo hanya berbaring di sofa karena kepalanya masih pusing. Setelah selesai Seokmin menghampiri Jisoo yang sedang berbaring, memberi kecupan di kening lalu ia duduk dibawah sambil menatap Jisoo yang masih pucat.

"Yakin tidak mau ke dokter?"

"Tidak usah, nanti juga sehat lagi."

Seokmin hanya tersenyum sambil mengusap kepala Jisoo dengan lembut, Jisoo memandanganya dengan tatapan sayu mulai mengantuk karena habis minum obat.

"Tidurlah dikamar."

Jisoo menurut langsung bangun dan Seokmin membantunya, mengantar ke kamar mandi untuk menyikat gigi lalu menemaninya sampai tertidur baru Seokmin pulang.


oOo


Jisoo berputar-putar mengelilingi komplek perumahan mencari alamat Seokmin. Ia bermaksud untuk berkunjung tapi tidak memberitahu kedatangannya pada Seokmin. Alhasil ia jadi kerepotan sendiri mencari alamat rumah, namun saat ia melihat mobil dan plat nomor yang ia kenal, ia tersenyum karena sudah sampai.

Jisoo menatap rumah didepannya, dengan mobil milik Seokmin ia yakin kalau itu rumah kekasihnya. Ia menekan bell tak lama ada seorang ibu paruh baya membuka pintu. Jisoo sempat berpikir kalau itu ibunya Seokmin.

"Maaf, Seokminnya ada?" Jisoo sudah pasang senyum paling manis karena ingin membawa kesan baik yang baru pertama kali bertemu orang tua Seokmin.

"Itu, disana." Ibu paruh baya itu menunjuk ke rumah seberang, Jisoo bingung saat mau bertanya lagi si ibu sudah menutup pintunya.

"Oh wow, kasar." Jisoo menggaruk kepalanya dan ia kaget dengan papan nama rumah itu.

"Hmmm ternyata salah rumah." Jisoo berbalik ke rumah di seberang karena rumah yang ia ketuk adalah rumah keluarga Jung. Ia menatap rumah 2 lantai didepannya dan ada papan nama Lee, dan ia yakin kalau itu rumah Seokmin. Ia langsung menekan bell.

"Iya, siapa?" Seorang wanita yang masih terlihat sangat cantik menyambut Jisoo.

"Ooh Jisoo ya?"

Jisoo kaget karena wanita didepannya mengenal dia. "Iya, saya Hong Jisoo."

"Ya ampun, sama siapa? Kenapa tidak beri kabar mau datang? Ayo masuk. Seokmin kenapa tidak bilang kalau kamu mau datang?" Rentetan pertanyaan keluar dari ibunya Seokmin. Jisoo hanya tersenyum, mirip sekali dengan anaknya.

"Iya maaf, saya memang tidak beritahu sebelumnya."

"Oh begitu, ayo masuk. Si bujang malah masih tidur itu, nanti eomma bangunkan." Ibunya Seokmin mengajak Jisoo masuk kedalam. Jisoo melihat rumah Seokmin sangat nyaman, semua barang diatur dengan rapi.

"Tadi sempat salah rumah karena lihat mobil di rumah seberang."

"Oh itu tadi pagi Seokmin habis antar eomma ke pasar lalu ada tetangga mau pindahan ada truk menghalangi jadi tidak bisa masuk garasi. Sementara parkir disana. Dia malah lupa, setelah sarapan langsung tidur katanya lagi banyak pekerjaan di kantor."

Jisoo tersenyum mendengar celotehan ibunya Seokmin yang menyebut "eomma" seolah-olah Jisoo sudah dianggap anak.

"Oh iya sampai lupa, karena baru bertemu nama eomma Lee Ha Nui. Panggil eomma saja ya biar lebih akrab. Eomma senang saat Seokmin memberitahu sudah punya pasangan. Biar terlihat ramai dirumah ini karena kita hanya tinggal berdua, appa Seokmin sudah tidak ada."

"Oh iya hmm eomma, begitu?"

"Iya seperti itu, aduh cantik sekali. Eh sebentar sampai lupa belum dikasih minum."

"Tidak perlu repot-repot."

"Tidak, eomma malah senang kamu mau datang kesini."

Nyonya Lee menghidangankan secangkir teh untuk Jisoo. "Diminum Jisoo."

"Terima kasih." Jisoo tersenyum malu lalu mencicipi teh buatan ibunya Seokmin.

"Oh ini ada sekedar oleh-oleh saat saya ada tugas dari kantor." Jisoo memberikan paper bag yang ia bawa.

"Oh apa ini? Aduh aduh cantik sekali." Nyonya Lee sangat senang dengan pemberian Jisoo walau hanya sebuah scraf bermotif bunga.

"Terima kasih ya." Nyonya Lee langsung mencoba memakainya dan Jisoo tersenyum mengangguk senang karena terlihat cocok pilihannya.

"Saya yang berterima kasih, hmm eomma sudah mau masak saat saya sakit." Jisoo masih agak canggung saat mengucap kata eomma.

"Oh itu tidak masalah, eomma suka apalagi masak untuk calon." Nyonya Lee tertawa malu-malu membuat pipi Jisoo merona.

"Eh sampai lupa, itu si anak bujang belum di bangunkan sebentar ya. Apa kamu saja yang bangunkan?"

"Eh? Saya?"

"Iya tidak apa. Sana, kamarnya di atas tapi jangan kaget isinya berantakan. Biasa kamar anak bujang begitu."

"Tidak. Saya tidak enak." Ucap Jisoo malu.

"Eih tidak apa, ayo eomma antar nanti kamu masuk saja."

Nyonya Lee memaksa, Jisoo menurut mengikutinya menuju kamar Seokmin.

"Ini kamarnya, sudah ya eomma tinggal. Bangunkan dia sebentar lagi makan siang, kita makan bersama."

Jisoo ditinggal sendiri, menatap ragu pintu kamar didepannya, sempat mengetuk pintu namun tak ada jawaban lalu ia memberanikan diri masuk. Jisoo agak takut karena ini pertama kali masuk ke kamar seorang pria. Jisoo melihat isi kamar Seokmin dan benar seperti apa kata ibunya. Berantakan dan aroma khas pria. Namun berantakan karena berbagai kertas, Jisoo mengulum senyum karena saat dirumah pun Seokmin tetap bekerja. Benar adanya bahwa Seokmin tipe pekerja keras.

Jisoo mendekat melihat Seokmin masih tertidur, Jisoo bingung mau membangunkan dengan cara apa karena ini pertama kalinya apalagi melihat Seokmin sangat pulas jadi tidak tega.

"Sayang bangun." Jisoo mengguncang tubuh Seokmin. Tak ada reaksi. Lalu Jisoo masih mengguncang tubuh Seokmin lagi.

"Hnggg 5 menit lagi Miss Korea." Seokmin balik badan. Jisoo bingung dengan ucapan Seokmin.

"Miss Korea?"

Tak lama ibunya Seokmin datang untuk mengecek. "Bagaimana? Belum bangun juga ya? Aigoo dia memang sulit dibangunkan."

Jisoo menggeleng karena ia memang tidak tahu harus apa. Jisoo berdiri berganti posisi dengan nyonya Lee.

"Anak bujang! Bangun! Malu ih ada si cantik datang masih tidur!" Ibunya Seokmin membangunkan dengan caranya yang tidak biasa. Ia menarik tangan anaknya agar bangun lalu menggoyang-goyangkan tubuh tak lupa mendaratkan cubitan dihidung mancung Seokmin membuat Jisoo bergidik ngeri.

"Hehe harus begini caranya agar dia bangun. Eh bangun itu ada si cantik!"

"Aduh Miss Korea, iya iya ini bangun." Seokmin mulai membuka matanya.

"Nah sudah bangun, sisanya eomma serahkan sama kamu ya. Sebentar lagi makanan siap."

Jisoo hanya menatap heran, jadi Seokmin memanggil ibunya dengan sebutan Miss Korea. Seokmin sudah duduk tapi nyawanya belum terkumpul semua. Saat Seokmin menoleh ke samping ia kaget dengan adanya Jisoo yang berdiri didepannya.

"Sayang, kapan kamu datang? Apa aku masih bermimpi? Coba cubit." Seokmin mengulurkan tangannya dan Jisoo memberikan cubitan dan Seokmin mengaduh sakit. Jisoo mendekat lalu duduk berhadapan.

"Eh aku kira mimpi, ini benar kamu? Kok kamu bisa sampai sini? Sama siapa?"

Jisoo hanya tertawa mendengar pertanyaan yang sama. Seokmin tersenyum malu karena ketahuan aslinya.

"Aku cuci muka dulu ya, tapi aku sudah mandi. Ah aku mandi lagi ya, tidak enak sama kamu. Hmm kamu mau tunggu disini?"

"Aku akan ke bawah membantu ibu kamu."

"Oh oke."

Jisoo masih menahan diri karena ia dan Seokmin belum ada hubungan serius, ditambah ada ibunya Seokmin dirumah tentu tidak enak kalau harus berduaan di kamar. Jisoo keluar kamar menuju dapur, sekedar membantu sementara Seokmin mandi lagi agar terlihat segar.

Jisoo merasa nyaman dengan ibunya Seokmin, ia terus bercerita tentang masa kecil Seokmin. Jisoo hanya tersenyum mendengarnya, sesekali tertawa.

"Pasti sedang bergosip tentang aku ya?" Seokmin yang sudah mandi lagi menyusul ke dapur melihat keakraban ibunya dan Jisoo.

"Pede sekali kamu. Ayo kita semua makan." Ucap nyonya Lee.

Mereka bertiga duduk bersama menikmati makan siang. Jisoo sangat senang karena ia sudah lama tidak makan bersama, ia jadi sangat merindukan ibunya ingin makan bersama juga.

.

.

"Rencana mau kemana?" Tanya Seokmin setelah makan, duduk berdua di ruang keluarga. Ibunya Seokmin pergi dengan alasan istirahat padahal ia sengaja tidak mau mengganggu.

"Tidak kemana-mana, hanya bosan saja."

"Oh begitu, aku sampai kaget kamu bisa kesini."

"Ibu kamu sangat baik." Ucap Jisoo sambil tersenyum membuat Seokmin malu.

"Hmm kenapa memanggil ibumu dengan Miss Korea?"

"Oh hahaha aku iseng saja dulu aku meledek karena eomma mengaku mirip dengan Lee Honey yang cantik itu jadi aku memanggilnya Miss Korea sampai sekarang."

"Oh begitu." Jisoo tertawa geli mendengarnya.

Diam-diam ibunya Seokmin mengintip dari balik pintu kamarnya. "Aish kenapa mereka biasa saja? Duduk pun berjauhan, kurang menempel. Persis almarhum appa-nya masih malu-malu. Ckck." Gumam ibunya Seokmin berharap ada adegan romantis malah biasa saja.

"Ah tidak menarik." Nyonya Lee kembali untuk tidur siang.

"Besok ada acara?"

"Belum ada." Jisoo menggeleng sambil tersenyum.

"Mau ke Everland? Hmm sekalian mampir ke tempat appa, lokasinya dekat."

"Boleh, sekalian kenalan." Jisoo mengangguk setuju. Jisoo mengambil ponselnya, ia melakukan video call ke ibunya. Awalnya Seokmin grogi tapi ia memberanikan diri untuk memperkenalkan diri pada ibunya Jisoo.

Mereka berdua berbincang dengan ibunya Jisoo, yang awalnya mereka duduk berjauhan jadi menempel. Sayangnya tidak dilihat oleh nyonya Lee, sementara nyonya Hong nun jauh disana melihat kemesraan putrinya bersama kekasihnya.

Seokmin mengantar Jisoo pulang naik mobil milik Jisoo setelah makan malam, awalnya ingin pulang sore tapi nyonya Lee menahan jadi Jisoo menyerah tidak enak menolak.

"Sayang, kamu yakin mobil kamu habis di servis?"

"Oh? Hnggg memang kenapa?"

"Hmm entahlah rasanya tidak enak. Kamu servis di bengkel resmi kan?"

Jisoo membuang muka, ia dulu sempat berbohong mengatakan mobil masuk bengkel padahal dia belum servis.

"Mungkin karena kamu tidak biasa, aku pakai tidak apa-apa."

"Oh mungkin ya." Seokmin tertawa. Jisoo menarik nafas karena Seokmin percaya, esoknya dia harus menelepon bengkel langganan untuk membawanya servis.

Seokmin mengantar Jisoo sampai depan pintu unitnya. "Istirahatlah, besok pagi aku jemput." Seokmin akan mencium kening tapi Jisoo menghindar.

"Oh. Kenapa?"

"Hmm, ada cctv." Ucap Jisoo lirih sembari tersenyum malu. Seokmin tertawa, ia menekan password lalu mereka masuk kedalam.

"Sudah boleh?" Ledek Seokmin dan Jisoo mengangguk. Bukan kecupan dikening yang diberikan Seokmin melainkan kecupan lembut dibibir tipis Jisoo. Jisoo mengeratkan pelukannnya disaat Seokmin melumat lembut bibirnya. Seokmin melepas ciuman dibibir beralih mengecup kening Jisoo cukup lama.

"Istirahatlah, gunakan pakaian yang nyaman esok. Jam 7 aku jemput dan sudah harus siap. Oke."

"Oke." Jisoo mengangguk setuju. Seokmin keluar dari unit apartemen Jisoo melanjutkan pulang dengan naik kendaraan umum.


oOo


Esoknya Seokmin, menjemput sesuai janji mengajak Jisoo ke tempat makam ayahnya untuk mengenalkan Jisoo pada ayahnya. Setelahnya mereka bermain ke Everland.

Seokmin terus menatap Jisoo sambil tersenyum karena mereka merasakan kencan seperti anak muda ditambah penampilan Jisoo yang terlihat berbeda. Jisoo terlihat santai memakai kaos, celana denim, sepatu kets serta menggendong tas kecil di punggungnya. Dan rambutnya diikat ponytail. Seokmin merasa gemas karena Jisoo terlihat seperti anak remaja sangat berbeda dengan penampilan sehari-hari saat di kantor.

"Kamu kenapa?" tanya Jisoo malu-malu.

"Aku merasa seperti seorang Oppa bersama adiknya pergi bermain."

Jisoo tertawa geli dan Seokmin terus tersenyum sambil menggandeng tangan Jisoo.

"Kamu tahu? Aku sudah lama sekali tidak pergi ke tempat seperti ini." Ucap Jisoo sambil berjalan mencari wahana bermain.

"Sama, aku juga. Terakhir mungkin saat SD." Balas Seokmin sambil tertawa.

"Itu apa? Apa itu rumah hantu?" Jjisoo menunjuk suatu tempat dimana banyak yang datang masuk kedalam.

"Rotating House. Mau coba?" ajak Seokmin.

"Boleh." Jisoo tersenyum manis dan mereka berdua masuk.

"Dari luar terlihat sepi, ternyata didalam ramai." ucap Seokmin yang merasa tertipu dan Jisoo hanya tertawa geli. Selama menunggu dalam antrian Jisoo merasa bosan, Seokmin memberikan tablet pc dan Jisoo bermain game. Keduanya terlihat tidak seperti orang dewasa umumnya dimana Jisoo terlihat sangat imut.

Seokmin terus menemani Jisoo yang bermain game, sesekali ia mencium aroma shampo dari kepala Jisoo, tubuh keduanya menempel dengan Jisoo yang terus menyender pada dada Seokmin dan Seokmin menahannya sambil memeluk dari belakang.

Saat masuk ke dalam lagi untuk memulai permainan, Jisoo merasa agak takut dengan ruangan yang gelap. Ia terus menempel pada Seokmin dengan memeluk lengannya. Sesuai namanya saat mereka duduk dengan ilusi optik, mereka seolah-olah berputar. Jisoo benar-benar terlihat manja, saat ia takut maka ia memalingkan wajahnya bersembunyi di belakang pundak Seokmin. Seokmin akan mengusap kepala Jisoo dengan lembut.

Setelah permainan selesai keduanya terus tertawa karena merasa senang dan mencoba permainan lain.

"Kamu tahu? Jangan sampai kita bertemu orang kantor disini." ucap Jisoo sambil terkekeh geli.

"Bisa kacau urusannya." Seokmin tertawa geli membalas ucapan Jisoo.

"Kamu mau bando itu? Aku pernah melihat foto di meja kerja Mingyu saat Wonwoo pakai bando seperti itu."

"What! Aku pakai itu? Oh tidak!"

"Tapi itu lucu, kamu pasti terlihat sangat imut." Seokmin terus meledek membuat Jisoo makin terlihat malu. Jisoo berlari kecil meninggalkan Seokmin sambil tertawa, ia merasa bebas bisa bermain terlepas dari pekerjaannya. Seokmin mengejarnya lalu merangkul dengan erat menuju wahana lain.

.

.

.

TBC

Annyeong,

Mencoba membuka draft lama Seoksoo, (mungkin?) akan dilanjut sesuai permintaan hehehe... Maaf kalau lama karena fokus di ff Meanie Married Life.

Rated dinaikin takut saya kebablasan ya.

Special Thank's

Mockaa2294 / CaratARMYmonbebe / Uri SeokSoo / meanie0617 / Dardara / Devil Prince / ajeng04 / Halololo . Hayiyiyi / shfly9

Ada yang suka SF9? Beberapa hari yang lalu iseng membuat ff SF9 dengan sudut pandang yang beda. Kalau berkenan bisa cari penname Lion Honey , sengaja dibuat terpisah karena penname ini khusus ff Seventeen saja terutama Meanie.