.
Secret Admirer
.
.
Seoksoo
.
.
Genderswitch
.
.
Happy Reading
Tap tap tap tap...
Suara ketukan dari high heels yang dikenakan Jisoo mengetuk dengan sangat nyaring ditambah ekspresi raut wajah sang pemilik yang terlihat kusut. Seokmin yang baru keluar dari toilet melihat Jisoo melintas berjalan dengan cepat.
"Kenapa dia? Kenapa murung begitu?" Ucap Seokmin lirih, ia ingin bertanya namun Jisoo lebih dulu mengirimnya chat pada Seokmin.
"Aku pulang malam, Bos mengajakku untuk bertemu klien dari Busan malam ini."
Seokmin hanya menarik nafas setelah membaca chat dari Jisoo. Malam ini mereka sepakat untuk makan malam bersama. Namun, Jisoo membatalkan dan Seokmin tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tidak apa sayang, bisa diganti esok malam. Saranghae." Seokmin membalas pesan Jisoo walau ia merasa sedikit kecewa.
oOo
"Permisi, saya mau mengantarkan ini."
Jisoo menoleh saat seseorang mengetuk pintu dan masuk ke ruangannya yang dibiarkan terbuka dan seorang gadis datang membawa nampan. Jisoo menyunggingkan senyum melihat Yuha datang, Yuha meletakkan secangkir teh dan kotak kecil bertuliskan nama toko cake di meja kerja Jisoo.
"Terima kasih Yuha." Ucap Jisoo ramah dan Yuha tersenyum mengangguk.
"Ah, ini juga." Yuha mengeluarkan boneka bentuk beruang kecil dari saku bajunya, Jisoo menatapnya bingung, matanya melirik ke arah boneka yang diletakkan dekat cangkir.
"Saya pamit." Yuha bergegas keluar ruangan Jisoo setelah tugasnya selesai. Jisoo tersenyum menatap Yuha dan ia langsung mengambil boneka beruang yang seukuran telapak tangannya.
"Eh? Ini sangat lembut dan seperti ada pasirnya."
Ponsel Jisoo menyala ada chat masuk dan terlihat nama Seokmin dilayar.
"Pergunakan saat kamu sedang kesal, aku tidak suka melihatmu murung. Aku lebih menyukai senyum manismu."
Pipi Jisoo langsung memanas rasanya, ia hanya tersenyum geli setelah membaca pesan dari Seokmin. Seokmin sengaja memberikan sesuatu untuk meredam amarah saat Jisoo sedang kesal. Jisoo melihat isi kotak yang dibawa dan ada camilan cake cokelat untuk teman minum teh.
Jisoo tak berhenti tersenyum melihat perhatian dari penggemar rahasianya yang kini sudah menjadi kekasih hatinya. Ia langsung meraih ponselnya lagi dan membalas pesan dari Seokmin.
oOo
Jisoo melangkah dengan malas menuju unit apartemennya, ia pulang larut malam setelah acara makan malam bersama atasan dan klien. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian bekerja.
Jisoo menekan passwordnya seperti biasa dan melangkah masuk ke dalam unitnya.
"Selamat datang."
Jisoo tersentak kaget karena Seokmin berada di apartemennya menunggu ia pulang. Seokmin merentangkan kedua tangannya dan Jisoo langsung mendekat, menghambur memeluk sang pria.
"Lelah ya?" Seokmin merengkuh erat tubuh wanitanya dan mencium keningnya, Jisoo tersenyum senang karena disambut pulang kerja.
"Sudah makan?"
Jisoo mengangguk, senyumnya tak lepas dari paras cantiknya.
"Mandi lah agar segar, pakai air hangat."
"Kamu mau menginap?" Jisoo melihat Seokmin yang sudah berganti pakaian dengan kaos santai berlengan panjang dan celana panjang.
"Aku hanya mampir, menumpang wifi. Disini sinyalnya kuat."
"Ish!" Jisoo melepas pelukan dan memukul perut Seokmin, sementara Seokmin tertawa geli melihat ekspresi marah Jisoo yang terlihat sangat menggemaskan.
Jisoo melewati ruang tamu dan melihat mejanya berantakan file serta laptop milik Seokmin. Jisoo menoleh dan melihat Seokmin membuka lemari pendinginnya. Seokmin memang sudah terbiasa di apartemen Jisoo.
"Aish benar-benar dia." Jisoo menggerutu sebal karena Seokmin hanya menumpang mengerjakan pekerjaannya. Jisoo melangkah menuju kamarnya untuk bersiap mandi.
Seokmin menunggu Jisoo selesai mandi dengan masih berkutat pada pekerjaannya. Jisoo keluar dari kamarnya sudah berganti pakaian tidur, ia langsung berselonjor di sofanya yang empuk dan langsung meraih remot tv.
Jisoo menoleh pada Seokmin yang terlihat serius tanpa memedulikan keberadaan Jisoo. Jisoo hanyalah seorang wanita biasa yang ingin diperhatikan dan disayang juga. Ia mendekati Seokmin dan memeluknya dari belakang.
"Hmm kenapa sayang?" Seokmin menoleh dan melirik wajah Jisoo yang terlihat lelah. Jisoo tidak menjawab hanya bergelayut manja dan menempelkan sebelah pipinya di pundak Seokmin. Aroma mint menguar dari leher Seokmin yang menenangkan Jisoo untuk terus menempel tidak ingin melepasnya.
"Sudah mengantuk? Istirahatlah." Seokmin mengusap lengan kurus Jisoo yang melingkar diperutnya.
Seokmin menghentikan kegiatannya, ia menyimpan semua data dan mematikan laptopnya. Perhatiannya beralih pada kekasihnya yang sedang memejamkan mata karena lelah seharian. Dengan perlahan, ia melepas tangan Jisoo yang masih melingkar dan Jisoo mulai terusik.
Seokmin menggendong tubuh Jisoo ala bridal dan mengantarnya ke kamar. Seokmin baru sadar saat itu Jisoo memakai gaun tidur berbahan tipis dengan tali kecil dan terlihat belahan dadanya. Jisoo mengeratkan tangannya dileher Seokmin saat digendong, dan raut wajah Seokmin merona yang berusaha menahan godaan.
Dengan perlahan Seokmin meletakkan tubuh Jisoo di ranjang, kedua mata Jisoo memang terpejam namun ia masih sadar belum jatuh terlalu jauh ke alam mimpi.
"Kamu mau pulang?" Ucap Jisoo sambil mencari posisi yang paling nyaman saat kepalanya sudah bersandar dalam bantalnya yang empuk.
"Kamu mengizinkan aku menginap?" Seokmin memandang Jisoo lalu mencium kening sang wanitanya dan membuat Jisoo malu-malu.
"Tidurlah disini, temani aku."
"Disini? Dikamar ini? Bagaimana kalau aku mendengkur malam ini?"
"Kamu terbiasa mendengkur? Aku akan menendangmu keluar kamar."
"He? Berani mengusirku eoh? Nyonya Lee galak juga ternyata." Seokmin merasa gemas, ia mengelitik perut Jisoo.
"What? Nyonya Lee?" Jisoo tertawa geli mencoba menyingkirkan tangan Seokmin.
"Sudahlah, aku lelah." Jisoo memejamkan matanya lagi dan Seokmin hanya tersenyum menatap wajah lelah Jisoo.
"Istirahatlah." Seokmin mendaratkan kecupan di pelipis Jisoo yang langsung tertidur dengan posisi miring.
Seokmin ikut rebahan disebelah Jisoo dan menyelimuti tubuh mungil kekasihnya yang sudah tertidur nyenyak. Ia tidak langsung tertidur, mengingat ini pertama kalinya tidur bersama lawan jenis. Seokmin memunggungi Jisoo karena takut tidak bisa mengontrol diri.
Jisoo bergerak, ganti posisi menghadap punggung Seokmin. Dengan hati yang berdebar, Seokmin menoleh dan melihat wajah tenang Jisoo namun segera berbalik lagi.
"Oh astaga, belahannya sangat menggoda." Ia menelan ludahnya saat tidak sengaja ia melihat belahan payudara Jisoo lagi. Ia memejamkan matanya dan menggigit bibirnya lalu ia tersenyum geli.
Tak lama ia berbalik badan lagi dan memandang wajah cantik Jisoo dan mengusap lembut kepala serta mencium kening sang pujaan hati. Dengan perlahan ia meraih tubuh Jisoo agar lebih mendekat dan memeluknya dengan erat, tak lama ia ikut hanyut dalam mimpi.
oOo
'Pipipipipipippipipip'
Alarm Jisoo berbunyi, sang pemilik mulai membuka matanya untuk mencari alarm dan mematikannya.
Jisoo tersentak kaget karena ia melihat tangan seseorang berada di perutnya. Jisoo menoleh ke belakang dan melihat wajah Seokmin yang masih memejamkan matanya.
'Pipipipipipippipipip'
Jisoo kaget lagi dengan alarmnya yang masih berbunyi, ia sempat melupakan ingin mematikan alarm karena sempat terbius dengan wajah tenang Seokmin yang masih terlelap. Buru-buru ia mematikan alarm. Gerakan tubuh Jisoo tidak membuat Seokmin terusik.
"Aku lupa, dia kan sulit dibangunkan." Jisoo berbalik badan lagi dan terus menatap wajah Seokmin. Tangan mungil Jisoo mengusap-usap kepala dan hidung Seokmin yang mancung.
Jisoo meraih ponselnya untuk mengecek karena sejak semalam ia tidak membuka ponsel saat makan malam bersama atasannya.
"WHAT! MY GOODNESS!" Jisoo berteriak heboh langsung terbangun dan duduk membuat Seokmin tersentak kaget dan langsung ikut terbangun menatap Jisoo yang masih terdiam sambil menatap ponselnya.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Seokmin dengan mata setengah terbuka.
Jisoo menoleh ke arah Seokmin dengan tampangnya yang bingung semakin membuat Seokmin ikut bingung dengan yang terjadi.
"Ini bagaimana? Mamaku mau datang."
Jisoo menatap Seokmin dengan serius dan Seokmin yang baru bangun tidur masih merasa loading dengan keadaan.
"Ap... appaaa... datt...dataangg? Se.. se.. sekarang?" Seokmin langsung tersadar dan berubah panik karena ia menginap di apartemen Jisoo. Seokmin turun dari ranjang dan mondar-mandir mencari barangnya, ia tidak fokus sendiri.
"Ponselku mana, baju... baju aku letakkan dimana ya?" Seokmin sibuk mencari barangnya.
"Sayang, sayang." Jisoo memanggil namun Seokmin terlalu sibuk disertai dengan perasaan panik. Seokmin mengambil tas pakaiannya dari lemari Jisoo, ia tidak mengindahkan Jisoo yang memanggil.
"Lee Seokmin dengar!"
Seokmin terdiam saat Jisoo memanggil namanya dengan lengkap.
"Kamu mau kemana?"
Seokmin bingung, ia mengusap wajahnya dan menarik nafas.
"Mamaku datang siang ini, bukan sekarang."
"Eh? Siang? Siang ini? Bukan karena? Aku pikir sudah mau sampai. Ooh siang ini ya?" Seokmin bernafas lega, Jisoo hanya tertawa geli melihatnya. Seokmin sangat malu, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku sangat panik, bagaimana kalau mama kamu memergoki kita yang tidur bersama?" Seokmin kembali duduk diatas ranjang berhadapan dengan Jisoo.
"Ada dua kemungkinan, kabar baik dan kabar buruk." Ucap Jisoo sambil mengikat rambutnya
"Oh, apa itu? Aku mau tahu." Ucap Seokmin penasaran namun matanya tidak lepas memandang Jisoo yang terlihat sangat cantik saat baru bangun tidur.
"Kabar baiknya disuruh menikah." Ucap Jisoo malu-malu dan Seokmin terkekeh geli.
"Lalu kabar buruknya?"
"Mamaku akan melaporkan kamu ke polisi dengan tuduhan berani mengganggu putrinya." Jisoo terkekeh geli sementara Seokmin langsung terdiam.
"Eih, aku pilih yang pertama saja. Lebih enak." Seokmin mencolek hidung mancung Jisoo.
"Apa kamu sudah buru-buru ingin menikah hmm?" Ledek Jisoo dengan menatap Seokmin dengan jarak yang dekat.
Seokmin hanya menunduk malu dan tersenyum lalu mengangguk.
"Iya aku ingin segera saja setelah melihat ini." Jari telunjuk Seokmin menunjuk ke arah dada Jisoo.
"Ish dasar mesum!" Jisoo memukul paha Seokmin dengan pipi yang merona. Jisoo menyilangkan tangan didepan dadanya. Seokmin hanya tertawa melihat Jisoo yang malu-malu.
Jisoo terdiam, Seokmin ikut terdiam dan menghentikan tawanya.
"Mamaku mau bertemu denganmu secara langsung." Jisoo memberikan ponselnya dan Seokmin membaca pesan yang dikirimkan. Seokmin mengerutkan keningnya, ia berubah serius.
"Baiklah, aku siap." Seokmin tersenyum dengan jawaban yang tegas. Jisoo tersenyum senang karena Seokmin terlihat sangat bertanggung jawab.
"Oh, jam berapa ini?" Seokmin melirik jam dari ponsel Jisoo.
"Astaga sudah siang!" Jisoo langsung turun dari ranjang dan terburu-buru menuju kamar mandi meninggalkan Seokmin yang tertawa geli melihat Jisoo yang panik kedua kalinya di pagi hari.
Seokmin menyiapkan sarapan selagi Jisoo dikamar mandi. Setelah semua rapi berpakaian mereka duduk bersama menyantap sarapan.
"Jam berapa mama kamu sampai?"
"Hmm sekitar jam 11 sudah landing." Jisoo menggigit roti panggangnya.
"Ooh oke, nanti aku temani ke bandara." Ucap Seokmin sambil tersenyum menatap Jisoo yang ikut tersenyum dan pipinya menggembung masih mengunyah roti panggangnya.
Layar ponsel Seokmin menyala, ia langsung meraihnya dan menarik nafasnya membuat Jisoo penasaran.
"Kenapa? Ada masalah?"
"Oh, tidak. Mingyu mengirim pesan kalau datang siang, semoga ia bisa cepat datang sebelum kita pergi."
"Mingyu? Mau kemana dia?"
"Seperti biasa menuruti kemauan sang ibu hamil. Katanya Wonwoo minta ditemani kelas yoga." Ucap Seokmin terkekeh geli.
"Aaah, Wonwoo? Istrinya yang manja itu?"
Seokmin menahan tawanya mendengar komentar dari Jisoo. "Kalau ada Mingyu, ia pasti sudah mengamuk mendengar istrinya diledek."
"Benarkah?" Jisoo makin tertawa geli dan menyelesaikan roti panggangnya hingga potongan terakhir.
"Bagaimana kalau kita menyusul mereka?" Seokmin berubah serius menatap wanita cantik di hadapannya yang sedang memegang gelas berisi susu cokelat.
"Apa maksudmu?"
"Ya, menyusul hmm menikah lalu kamu hamil dan menjadi manja, merepotkan aku sebagai suami kamu?"
Jisooo tertawa dan menyunggingkan senyumnya lalu meletakkan kembali gelasnya. Ia menatap balik Seokmin pria tampan kekasihnya yang menjalin hubungan dengannya terbilang baru dalam hitungan sekitar 2,5 bulan.
"Apa itu terlihat menarik? Bagian aku menjadi manja? Apa kamu melamarku hanya untuk itu?"
"Eoh? Apa aku salah kalau mengharapkan kamu bergantung padaku?" Seokmin berubah sangat serius tidak bercanda seperti biasanya membuat Jisoo tidak berani menatapnya.
"Apa kamu pikir aku hanya bermain-main dalam hubungan kita?" Seokmin menatap lurus pada Jisoo yang menunduk.
"Ehmmm maksudku, lakukan dengan benar. Aku ingin dilamar dengan suasana romantis dan tidak terlupakan karena aku ingin itu terjadi sekali dalam seumur hidupku." Jisoo membereskan piring dan gelas miliknya, ia berjalan menuju wastafel.
Jisoo kaget karena Seokmin menarik pinggangnya dan Seokmin menatapnya dengan serius.
"Kalau aku melamarmu, apa kamu bersedia berpindah marga mengikutiku?"
"Eh? Pindah marga? Maksudnya? Hmm?" Jisoo tidak berkutik, ia memalingkan pandangan tidak berani menatap wajah Seokmin dengan jarak yang sangat dekat.
"Aku akan bertanya lagi nanti, yang aku butuhkan sekarang hanya..."
Seokmin semakin mengeratkan pelukan dan ia mengangkat dagu Jisoo dengan jarinya dan mendaratkan bibirnya pada bibir mungil Jisoo. Kedua bibir yang bertemu saling menautkan penyatuan dari sang pemilik. Lumatan-lumatan kecil dan perlahan membuat keduanya terlena dengan kegiatannya di pagi hari.
Jisoo melepas ciumannya dan menatap Seokmin dengan malu, ia mengulum senyumnya.
"Sepertinya lipstickku berantakan."
Seokmin hanya tertawa geli melihat Jisoo yang beralasan karena riasan di wajah Jisoo terlihat baik-baik saja. Jisoo menghindar karena wajahnya sudah terasa sangat panas saat ditatap terus oleh Seokmin. Ia mengambil piring dan gelas bekas sarapan Seokmin lalu mencucinya dan Seokmin membantunya.
oOo
"Aku keluar dulu."
"Oke." Seokmin menyetujui agar Jisoo keluar dari mobilnya terlebih dahulu setelah Seokmin memakirkan mobilnya di tempat parkir basement gedung kantor. Jisoo langsung membuka pintu dan berjalan dengan was-was sementara Seokmin masih menunggu di dalam mobil memberi jeda waktu pada Jisoo.
"Jisoo eonnie!" Teriak Pinky dan membuat Jisoo kaget langsung menoleh ke sumber suara. Jisoo memerhatikan sekitar belum nampak Seokmin dan ia bernafas lega.
"Tumben datang pagian." Pinky mengapit lengan Jisoo dan berjalan bersama menuju lift.
"Aah iya, aku bangun kepagian."
"Oh, itu Yebin." Ucap Pinky setelah melihat mobil Yebin melintas dan menunggu sampai Yebin keluar dari mobilnya untuk berjalan bersama. Jisoo masih melirik sekitar dan hanya mereka bertiga terlihat dalam basement.
"Kenapa liftnya lama sekali." Gerutu Yebin tak sabar karena pintu lift tak kunjung terbuka.
"Yak, jam segini memang liftnya sibuk." Balas Pinky. Jisoo hanya mengulum senyum melihat kedua temannya.
'Ting'
Pintu lift terbuka dan mereka langsung masuk.
"Eh tunggu! Tahan liftnya!" Ucap Pinky pada Yebin yang berada dekat pintu lift.
"Hmm? Kenapa?" Yebin menekan tombol menahan pintu lift.
"Itu. Seokmin-ssi! Ayo cepat!" Ajak Pinky agar Seokmin segera ikut masuk ke dalam lift. Seokmin menatap ragu karena melihat ada Jisoo di dalam.
"Ayo cepat. Lift ini lama sekali."
"Kalian duluan saja." Ucap Seokmin.
"Hei nanti terlambat." Yebin menambahkan dan Seokmin masuk dengan ragu dan terdiam, begitu juga dengan Jisoo. Tidak ada yang memulai percakapan, semuanya terdiam dan pintu lift sempat terbuka di lantai lain lalu sedikit demi sedikit banyak yang keluar-masuk lift.
'Ting'
Pintu lift terbuka dilantai tujuan dan Seokmin keluar duluan meninggalkan 3 wanita yang masih di dalam lift.
"Oh astaga, dia tampan sekali!" Pinky memekik gemas berbisik pada Yebin saat ikut melangkah keluar lift, pendengaran Jisoo masih normal dan ia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan temannya.
Yebin tertawa geli dan matanya tak lepas terus memandang punggung Seokmin hingga menghilang masuk ke dalam ruangan. Pinky pun ikut terbius melihatnya.
"Hmm benar." Ucap Yebin dengan masih terkekeh geli.
"Apa yang kalian bicarakan?" Jisoo melirik sebal pada kedua temannya lebih tepatnya merasa cemburu.
"Eonnie, kita membicarakan Seokmin. Dia itu masih single kan? Dan ia populer di kalangan para wanita lajang disini." Ucap Pinky.
"Benar, dia nomor satu dalam urutan pria lajang di perusahaan kita. Kalau Mingyu belum menikah pasti posisi mereka berdekatan." Ucap Yebin.
"Dia? Terkenal di kalangan karyawati? Survey darimana?" Jisoo membulatkan matanya menatap lurus ke arah kedua temannya.
"Benar, ah kamu jarang ikut berkumpul saat jam istirahat dengan karyawan lain. Dia itu suka jadi pusat perhatian saat di kantin." Pinky bercerita dengan menggebu-gebu semakin membuat hati Jisoo terbakar api cemburu.
"Dia itu tampan dan humoris, paket lengkap." Ucap Pinky sambil tertawa kecil.
"Paket lengkap? Kamu kira ia dosirak?" Sindir Jisoo.
"Kenapa kamu terlihat marah eonnie?" ucap Pinky.
"Aku? Tidak, hanya aneh dengan penggunaan kalimat itu saja." Jisoo berbohong.
"Kira-kira kriteria wanita idamannya seperti apa ya?" Ucap Yebin.
"Yang pasti bukan seperti kalian berdua." Ucap Jisoo sambil berlalu langsung menuju ruangannya meninggalkan Pinky dan Yebin yang terdiam merasa bingung dengan sikap Jisoo.
Jisoo menggigit bibirnya, masih merasa kesal dengan obrolan kedua temannya. Ia menghempaskan dengan kasar bokongnya di kursi kerjanya. Sepasang matanya menatap boneka beruang yang pernah diberikan Seokmin. Ia meraihnya kemudian meremas boneka itu dan memejamkan mata. Jisoo membuka matanya dan mengatur nafasnya, ia merasa lebih baik dibanding beberapa menit yang lalu.
"Ada gunanya juga. Gomawo." Jisoo mencium boneka dan mulai melanjutkan pekerjaan.
.
.
TBC
Annyeong,
Mian, baru sempat update lagi hehehe... Semoga bisa mengobati rasa penasaran dari chap lalu, semoga puas ya hihihi... aku tidak menyangka kalau respon Seoksoo lumayan, karena terbiasa membuat Meanie jadi pembagian karakternya lumayan "butuh senyuman manis Jisoo" untuk mengangkat mood.
Special Thank's yang sudah memberi review, kiss kiss :
Mockaa1617 / shfly9 - Kim / zizi'd / Cha KristaFer / Uri SeokSoo / Devil Prince / Guixian cho3424 / Kanayaa / Dardara / dyodomyeon / dokiyomi
Dan juga yang sudah memfavorit dan memfollow
.
15 September 2017
D-8 menuju Diamond Edge 2017 SEVENTEEN 1st Worldtour in Jakarta
