.

Secret Admirer

.

oOo

.

Seoksoo

.

oOo

.

Genderswitch

.

oOo

.

Happy Reading

Seokmin menepati janji untuk menemani Jisoo yang akan menjemput ibunya di bandara. Mereka keluar ruangan bersama dan bertemu didepan lift, Seokmin berusaha menyembunyikan rasa cemasnya. Ia terus menarik nafas dan menghembuskannya.

"Santai saja." Bisik Jisoo saat sedang menunggu lift. Seokmin hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih seperti iklan pasta gigi.

Jisoo menggembungkan pipinya menahan tawa melihat wajah kekasihnya.

'Ting'

Pintu lift terbuka dan mereka berdua masuk ke dalam lift. Karena masih jam kerja maka keadaan sepi tidak banyak karyawan yang berlalu lalang.

"Aku parkir mobil diluar." Seokmin menekan tombol lift menuju lobby.

"Eoh? Memang kamu dari mana?"

"Tadi aku suruh orang mencuci mobil, tidak enak kan jemput mama kamu kalau mobilnya kotor." Seokmin tersenyum manis pada wanita cantik disebelahnya yang terlihat pipinya bersemu merah.

Seokmin paling suka saat menggoda Jisoo seperti ini. Wajah Jisoo terlihat sangat menggemaskan, Seokmin rasanya ingin menyerang Jisoo dengan memberikan kecupan-kecupan manis namun ia harus menahan diri.

'Ting'

Pintu lift terbuka dan mereka sudah sampai di lobby. Jarak mereka berjalan agak renggang mengingat mereka belum mendeklarasikan hubungan keduanya.

Tanpa disangka mereka bertemu Mingyu di lobby, ia memang masuk siang karena menemani Wonwoo yang ikut kelas yoga untuk ibu hamil.

"Oh kalian mau kemana? Memang sudah jam makan siang?" Ucap Mingyu menggoda Seokmin dan Jisoo yang terlihat berjalan berdua.

"Oh itu Gyu maaf aku izin sebentar ya. Aku mau jemput ibunya di bandara." Seokmin berbisik pada Mingyu. Mingyu membulatkan matanya karena kaget namun paham akan situasinya.

"Oh oke tidak masalah, good luck ya!" Mingyu memberi semangat dan Jisoo hanya tersenyum. Seokmin dan Jisoo segera meninggalkan gedung kantor menuju bandara.

Jisoo terus memerhatikan wajah Seokmin yang masih terlihat tegang saat mengemudi mobil.

"Tenanglah, mamaku tidak galak. Ia tidak menggigit orang."

"Iya sayang, tapi aku tetap saja eh itu apa namanya nervous, iya nervous." Seokmin sok berbicara dalam bahasa inggris membuat Jisoo tertawa geli ditambah ekspresi Seokmin yang sangat lucu.

Jarak dari kantor menuju bandara Incheon ditempuh dalam waktu 45 menit. Seokmin memakirkan mobilnya dan keluar bersama Jisoo menuju pintu kedatangan menunggu ibunya Jisoo.

"Mamaku kirim pesan katanya sudah selesai cek imigrasi." Jisoo memberitahu dan seketika wajah Seokmin berubah menjadi sangat tegang dan kaku melebihi saat akan berangkat tadi. Jisoo tertawa geli menatap wajah Seokmin yang pucat, ia mengusap punggung sang pria untuk menenangkan. Seokmin membalasnya dengan mengusap kepala Jisoo dan mulai merasa tenang lalu tersenyum.

"Jisoo?"

Seokmin dan Jisoo menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dengan troli berisi koper besar sudah berdiri didepan mereka.

"Mama..." Jisoo langsung berpaling dari Seokmin lalu menghambur memeluk sang ibu. Seokmin merapihkan pakaiannya dan langsung menunduk hormat mengucapkan salam pada ibunya Jisoo.

"Apa kabar sayang? Kamu sehat?" Ucap nyona Hong sambil tersenyum manis menatap sang putri kesayangannya.

"Aku sehat, mama juga kan?"

"Ini Seokmin ya?" Nyonya Hong beralih menuju seorang pria yang sedari tadi menunggu dan ia memerhatikan Seokmin dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Salam kenal nama saya Lee Seokmin." Ucap Seokmin sambil membungkuk hormat. Nyonya Hong tersenyum senang saat pertama kalinya bertemu Seokmin secara langsung, perlahan rasa cemas yang sempat hinggap dalam diri Seokmin mulai terkikis dengan keramah tamahan ibunda Jisoo.

"Mari saya bawakan." Seokmin mengambil alih trolli barang dan memandu menuju tempat parkir untuk mengantarkan sang ibunda Jisoo ke apartemen putrinya.

"Bagaimana kalau kita makan siang dulu?" Ajak Seokmin untuk mengakrabkan diri.

"Wah ide bagus, sudah lama tidak makan makanan disini, kamu ada rekomen tempat makan yang bagus?" Ucap Nyonya Hong merasa senang.

"Oh saya tahu banyak tempat makan dengan menu tradisional." Ucap Seokmin riang selagi mengemudi mobilnya.

"Sayang, panggil mama kamu apa?" Bisik Seokmin pada Jisoo yang duduk disebelahnya.

"Oh? Apa ya?" Ucap Jisoo ragu sambil tertawa geli karena masih merasa aneh.

"Eih kamu ditanya malah tertawa."

"Aduh mama jadi mengganggu kalian ya?" Nyonya Hong menyela pada pasangan yang duduk didepannya.

"Oh tidak, mama tidak mengganggu. Eh maaf." Seokmin kelepasan bicara memanggil sang ibunda Jisoo dengan sebutan mama. Jisoo tertawa geli mendengar ucapan Seokmin.

"Mama?" Nyonya Hong bertanya balik dan Seokmin malu sendiri, Jisoo masih terkekeh geli melirik ke arah kekasihnya yang langsung terdiam.

"Haha jangan sungkan begitu, panggil mama juga tidak masalah."

Ucapan sang ibunda Jisoo membuat Seokmin bernafas lega walau masih ada rasa grogi yang belum mau pergi dari diri seorang Lee Seokmin.

Seokmin membawa Jisoo dan sang ibundanya ke sebuah restoran tradisional.

"Kamu mau pesan apa?" Tanya Seokmin pada Jisoo yang sedang melihat daftar menu.

"Hmm apa ya? Mama mau pesan apa?" Jisoo terlihat bingung dan beralih menanyakan pada sang ibu.

"Mama? Entahlah, semuanya terlihat enak."

"Oh bagaimana kalau sup ayam ginseng? Agar mama selalu sehat." Ucap Seokmin langsung merekomendasikan menu guna menarik hati sang ibu kekasihnya.

"Baiklah, mama ikut saja. Kamu makan apa Jisoo?"

"Samakan saja, biasanya yang di rekomendasikan Seokmin pasti enak." Jisoo tersenyum menatap sang ibu secara tidak langsung Jisoo ikut andil memberi kesan baik Seokmin didepan ibu kandungnya.

Seokmin tersenyum senang dipuji kekasih cantiknya, ia langsung memesan makanan. Suasana semakin hangat karena nyonya Hong selalu ikut tertawa saat Seokmin melontarkan candaan.

"Kalian kembalilah ke kantor jangan keluar terlalu lama, mama bisa pulang sendiri." Ucap sang ibu setelah selesai makan.

"Jangan mama, nanti kalau di jalan ada apa-apa bagaimana? Aku akan tetap antar sampai apartemen Jisoo." Ucap Seokmin mantap, ia tidak ragu lagi memanggil dengan sebutan mama pada ibunya Jisoo.

"Baiklah, kalau kamu memaksa." Nyonya Hong tertawa senang merasa sudah semakin akrab dengan Seokmin.

...

...

Seokmin mengantar ke apartemen Jisoo sesuai janji. "Eh sebentar jangan naik dulu." Tahan Seokmin pada Jisoo. Jisoo hanya menatapnya bingung dan melihat Seokmin berlari menuju meja resepsionis di lobby apartemen.

"Mau kemana?" Tanya nyonya Hong.

"Entahlah." Jisoo mengedikkan bahunya tak lama Seokmin kembali dengan membawa buket bunga dalam keranjang.

"Ini untuk mama sebagai ucapan selamat datang kembali di Korea." Seokmin menyerahkan buket bunga tersebut pada nyonya Hong.

"Oh astaga, manis sekali. Terima kasih." Nyonya Hong menerima bunga tersebut dengan senang lalu memeluk Seokmin. Jisoo tertawa melihatnya dan Seokmin mengedip padanya.

"Ayo, mama pasti lelah harus istirahat." Seokmin langsung membawa koper milik sang ibu menuju lift yang akan membawa mereka ke unit apartemen milik Jisoo.

"Seokmin, apa nanti malam kamu kesini lagi? Mama mau masak untuk kalian. Kita makan bersama." Ucap sang ibu setelah sampai di unit apartemen Jisoo.

"Mama kan baru sampai, istirahat saja dulu." Ucap Jisoo.

"Ah, saya belum bisa janji tapi saya usahakan." Ucap Seokmin.

"Oh, kamu sibuk ya? Ya sudah kalau bisa pulang cepat tolong kabari ya." Ucap sang ibu dengan senyumnya.

"Iya mama." Seokmin mengangguk senang.

"Mama istirahat saja, aku tinggal dulu." Jisoo memeluk sang ibu sebelum kembali ke kantor.

Seokmin bernafas lega setelah keluar dari unit apartemen Jisoo.

"Terima kasih." Jisoo mengapit lengan Seokmin namun Seokmin melepas tangan Jisoo lalu ia memeluk Jisoo dengan erat.

"Kamu dengar? Jantungku terus berdetak dengan kencang sejak tadi." Ucap Seokmin dan Jisoo tertawa geli.

"Astaga!" Seokmin melepas pelukan lalu menarik tangan Jisoo dan berjalan dengan tergesa menuju lift.

"Kenapa? Ada masalah?" Jisoo ikut panik.

"Iya, ah tidak hanya saja jam 3 nanti aku harus ke lapangan bersama Mingyu. Aku baru ingat. Ayo, sebelum dia mengomel." Seokmin terus menggenggam tangan Jisoo selama di lift. Jisoo tertawa dan menyender pada tubuh Seokmin.

"Jadi?" Jisoo menoleh ke sang pria saat di lift.

"Kenapa?"

"Kapan kamu rencanakan ini semua? Aku penasaran bagaimana bisa kamu selalu memberikan kejutan." Ucap Jisoo menggoda Seokmin.

Seokmin hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi kebanggaannya. "Tadi saat di restoran, diam-diam aku telepon toko bunga untuk mengirimnya kesini dan menitipkan di lobby. Karena memberikan kesan yang baik pada ibumu adalah hal yang sangat penting." Ucap Seokmin pada wanita cantik disebelahnya.

Jisoo tersenyum senang karena mengingat ibunya seperti sudah menerima Seokmin.


oOo


Seokmin memakirkan mobil di garasi rumahnya, tubuhnya merasa sangat lelah setelah lembur, ia tidak jadi datang memenuhi undangan makan malam ibunya Jisoo.

"Eomma belum tidur?" Seokmin terkejut mendapati ibunya yang masih terjaga sedang duduk seorang diri di ruang tamu. Ia langsung mendekati sang ibu.

"Eomma kenapa menangis? Siapa yang menyakiti eomma?" Seokmin menatap lurus sang ibu kandungnya.

"Tidak apa-apa. Bagaimana tadi? Apa ibunya Jisoo baik padamu?" Nyonya Lee menyeka air matanya dan berusaha tenang.

"Hmm iya dia sangat baik, tapi eomma kenapa?" Seokmin menempel dan memeluk sang ibu dengan manja.

Nyonya Lee hanya menarik nafas dan mencium puncak kepala putra tunggalnya. "Eomma tidak apa, hanya saja sepertinya apa yang eomma takuti akan segera terjadi." Nyonya Lee menarik nafas dan menghembuskannya.

"Apa maksud eomma?" Seokmin melepas pelukan dan masih menatap sang ibunda.

"Saran eomma kalau kamu sudah yakin dengan Jisoo jangan terlalu lama, apalagi umur dia sudah sangat matang untuk menikah."

"Eommaa..."

"Ibunya? Apa dia terlihat senang saat bertemu kamu?"

"Eommaa..."

"Ini, ambillah. Kita mungkin memang bukan orang kaya tapi setidaknya ini cukup untuk biaya pernikahan kamu."

Seokmin menerima sebuah buku tabungan dari ibunya dan ia terkejut dengan angka nominal didalamnya. Jumlahnya terbilang banyak dan ia baru mengetahui kalau ibunya menyimpan uang dalam jumlah banyak.

"Eomma? Ini?" Seokmin melebarkan kedua matanya dan menatap sang ibunda dengan tatapan bingung.

"Ambillah, rundingkan dengan Jisoo. Ia mau pesta seperti apa? Karena ini sangat istimewa untuk kalian berdua. Eomma sudah ikhlas saat tiba waktunya kamu pergi dari rumah ini untuk membangun keluargamu." Nyonya Lee mengusap lembut kepala sang putra.

"Eomma..., ini tidak usah mengenai biaya aku akan cari sendiri."

"Pakailah, ini memang eomma siapkan untuk keperluan kamu menikah nanti. Appa kamu sudah mempersiapkan sejak lama bahkan saat kamu masih kecil, eomma tidak berani mengusiknya, eomma menambahkan dari uang asuransi milik appa kamu juga."

Sang ibu menarik nafas dengan menatap langit-langit rumahnya. "Appa kamu selalu mengingatkan eomma untuk menyisihkan uang setiap bulan hanya untuk kamu. Jadi saat kamu membutuhkan, kita tidak perlu cari pinjaman."

"Eommaa... aku tidak tahu harus bilang apa. Aku akan membayarnya nanti." Seokmin memeluk ibunya, air matanya terus mengalir. Dadanya sesak merasa sangat terharu dengan penuturan ibunya.

"Kamu mau bayar pakai apa? Saat kamu gajian nantinya juga untuk keluargamu." Nyonya Lee melepas pelukan sambil berusaha tertawa, jarinya perlahan menghapus air mata.

"Akan aku bayar dengan cucu yang lucu untuk eomma nanti." Ucap Seokmin sambil tersenyum dan tangannya ikut mengusap lembut pipi sang ibunda.

"Dasar kamu ya! Yang banyak ya!" Nyonya Lee mencubit gemas hidung mancung milik Seokmin.

"Oh? Yang banyak? Aku akan bicarakan dengan Jisoo nanti." Ucap Seokmin tertawa senang.

"Istirahatlah, sudah malam."

"Iya, jaljayo eomma." Seokmin memeluk sang ibu sebelum pergi ke kamarnya.


oOo


Seperti biasa saat jam makan siang, Seokmin kumpul dengan karyawan lainnya di kantin. Jisoo yang penasaran dengan obrolan Pinky dan Yebin terlihat berada di kantin juga. Ia sengaja memilih meja di pojok namun sepasang mata cantiknya tetap mengawasi keadaan.

Jisoo sengaja datang lebih awal saat keadaan masih sepi, tak lama saat mulai jam makan siang banyak karyawan lain mulai memenuhi sisi kantin.

Sosok yang ditunggu menampakkan diri, Seokmin datang bersama Mingyu. Jisoo masih terdiam dan pandangannya terus mengekor pada sosok sang kekasih yang sudah menemaninya 2 bulan terakhir.

Seokmin sendiri tidak mengetahui keberadaan Jisoo karena suasana kantin yang sangat ramai.

Jisoo masih mengunyah roti manis dan matanya terus mengawasi sekitar. Seokmin terlihat mengobrol bersama Mingyu yang duduk disebelahnya saat menyantap makan siang.

"Bagaimana?" Tanya Mingyu.

Tanpa menjawab, Seokmin mengacungkan kedua ibu jarinya pada Mingyu. Mingyu yang paham terkekeh geli.

"Aku sangat berterima kasih atas idemu membelikan bunga, jujur aku benar-benar sangat panik dan tidak berpengalaman dalam hal itu. Apa kamu dulu juga begitu terhadap ibunya Wonwoo?"

Mingyu tertawa geli disela makannya. "Tidak, kalau dengan ibunya sudah menerimaku sejak aku mulai pacaran dengan Wonwoo. Tapi yang agak sulit dengan adiknya."

"Lalu? Kamu berikan dia apa hingga hatinya luluh mau menerimamu sebagai pacar kakaknya saat itu?"

"Murah. Hanya membelikan dia bakpau isi kacang merah dan kimbaap untuk sarapan." Ucap Mingyu santai sambil tersenyum mengigat kejadian yang telah lama.

Seokmin hampir menyemburkan isi mulutnya setelah mendengar penuturan dari Mingyu. Ia buru-buru mengambil minumnya sementara Mingyu masih tertawa.

"Serius? Hanya makanan itu dan adiknya mau? Lalu setelah itu?"

"Setelah itu ia langsung memanggilku hyung. Bisa kamu bayangkan rasanya seperti apa? HYUNG!" Mingyu sangat berantusias menceritakan pengalamannya.

"Ah iya aku paham situasinya. Kalau aku juga merasa senang kemarin ibunya mengajak aku makan malam." Seokmin mengangguk mengerti dan tangannya sibuk mengambil suapan nasi dari sumpitnya.

"Woah chukkae! Lampu hijau!" Sorak Mingyu.

Dari kejauhan Jisoo tersenyum menatap 2 sosok pria yang ia kenal. Walau tidak mengetahui apa isi pembicaraannya namun melihat tawa Seokmin sudah membuat ia senang. Namun senyuman Jisoo memudar seiring sepasang matanya melihat ada seorang gadis mendekati tempat dimana Seokmin duduk.

"Seokmin-ssi, apa disini kosong? Sepertinya hanya disini yang masih kosong." Tanya seorang gadis bernama Yerin dengan membawa nampan berisi makanan.

"Oh iya kosong, silahkan." Seokmin mempersilahkan.

"Oh terima kasih." Ucap gadis itu riang lalu memanggil seorang temannya lagi. Dan mereka duduk berhadapan dengan Seokmin dan Mingyu. Pandangan Jisoo menjadi terhalang dengan tubuh kedua gadis itu.

Disaat Seokmin terlihat fokus dengan makanan, maka kedua gadis itu terlihat grogi.

"Seokmin, apa kamu suka salad buah?" Gadis bernama Yuju memulai percakapan.

"Suka, kenapa?"

"Kalau mau, ini untuk kamu saja sebagai ucapan terima kasih atas bangkunya." Ucap Yuju malu-malu.

"Oh tidak perlu, itu kan milikmu."

Mingyu yang melihat hanya tertawa, lalu kembali ke makanan di hadapannya.

"Baiklah aku terima, rejeki tidak boleh ditolak." Seokmin menerima semangkuk salad buah dari Yuju.

"Wah hyung! Kenapa aku ditinggal? Kalian malah pergi makan duluan." Lee Chan datang langsung mendekat memberikan protes dan menengok ke segala arah mencari bangku kosong.

"Eh ada Yuju noona, annyeong." Sapa Chan pada Yuju yang terlihat malu-malu.

"Mingyu hyung, bisa geser?" Pinta Chan.

"Kamu saja yang kesini." Mingyu malas menuruti permintaan Chan.

"Padahal aku mau duduk berhadapan juga dengan para gadis." Chan berucap lirih sambil berjalan menuju ke sebelah Mingyu yang masih kosong bangkunya.

"Seokmin, makannya pelan-pelan. Ini." Yuju memberikan tissu pada Seokmin karena melihat sisa mayonaise di sudut bibir Seokmin.

"Eeeiiihhh." Mingyu dan Chan kompak meledek melihat sikap perhatian dari Yuju.

"Yuju noona, langsung saja bersihkan dibibirnya pakai tissu." Ucap Chan menggoda dan membuat Yuju tersenyum malu.

"Atau pakai yang lain?" Chan masih menggoda Yuju.

"Aisssh pakai apaan maksudnya?" Tambah Yerin dan membuat semuanya tertawa.

"Wah Seokmin pantas saja hari ini tenang, ada gadis cantik yang menemani." Ledek Baek Ho dari meja seberang kanan.

"Iya, biasanya kamu sudah memberi lawakan. Grogi ya ada Yuju." Ucap Aron menambahkan.

"Oh tidak, memangnya kenapa? Kan aku sedang makan." Jawab Seokmin sambil tertawa.

Yuju menjadi tambah malu hingga ia menutup wajahnya karena pipinya sudah bersemu merah.

"Seok, lihat. Gadis itu malu." Ledek Aron.

"Yak hyung, kamu yang mulai ya." Balas Seokmin sambil tertawa lalu melirik Yuju yang mengipas wajah dengan tangannya.

"Noona kenapa? Wajahnya merah." Ledek Chan, Mingyu tertawa geli karena Chan makin membuat Yuju malu.

"Seokmin, pulang nanti kita mampir ke karaoke bagaimana? Ajak Yuju juga." Ajak Baek Ho dengan suara yang lumayan keras.

"Karaoke?" Seokmin menoleh ke arah Baek Ho dengan tampangnya yang polos.

"Iya. Mingyu-ya berikan ia izin." Saran Aron.

"Kenapa harus aku? Memangnya aku ini ibunya?" Ucap Mingyu sewot dan semuanya tertawa.

"Mingyu, kamu ikut juga agar Seokmin bisa ikut." Ucap Aron.

"Tidak-tidak." Ucap Seokmin, Mingyu dan Chan serempak.

"Kenapa?" Aron terkekeh geli melihat penolakan secara serempak dari ketiga temannya.

"Bisa digantung aku kalau pulang malam. Ratuku dirumah bisa mengamuk." Ucap Mingyu sambil tertawa lebar, semuanya ikut tertawa.

"Istrinya kan sedang hamil tua." Seokmin menjelaskan dan Aron serta Baek Ho ber-oh ria.

"Yuju, kamu ikut saja. Seokmin juga pasti ikut." Ajak Baek Ho lagi.

"Aku? Hmm..." pipi Yuju bersemu merah lagi.

Mingyu menyenggol lengan Seokmin dan memberi kode untuk menatap lurus ke depan. Seokmin membuka mulutnya karena melihat Jisoo berjalan mendekat ke arahnya. Jisoo hanya terdiam dan berlalu tanpa menyapa.

"Bagaimana ini?" Bisik Seokmin pada Mingyu.

"Molla, kenapa dia ada disini? Dia tidak bilang? Cepat kejar dia." Bisik Mingyu.

"Tidak bilang apa-apa." Seokmin terlihat panik merasa cemas kalau Jisoo marah.

"Kalian kenapa?" Tanya Yuju.

"Aaah tidak, cepat sana!" Mingyu mengusir Seokmin agar segera mengejar Jisoo. Seokmin langsung pergi walau makanannya belum habis.

...

...

"Maaf." Ucap Seokmin saat berhasil membujuk Jisoo untuk bicara 4 mata di kafe dekat kantor. Suasana kafe sepi karena sudah lewat dari jam istirahat.

Jisoo hanya menarik nafas dan terus menunduk.

"Tidak apa. Tidak ada yang perlu di maafkan." Jisoo mencoba tersenyum menatap sang pria yang terlihat menyesal.

"Aku tidak tahu kalau ada kamu disana."

"Oh, aku hanya sedang merasa bosan saja."

"Lalu, kenapa tidak bergabung saja?"

"Aku? Hmm tidak, mereka pasti akan canggung." Ucap Jisoo pelan dan pandangannya ke lain arah tidak mau menatap Seokmin.

Seokmin terdiam karena merasa Jisoo masih marah. Keduanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing.

"Mama kamu sehat?" Seokmin berusaha mencairkan suasana.

"Iya." Jawab Jisoo singkat.

"Kamu masih marah?"

"Marah kenapa?"

Seokmin terus menatap Jisoo namun Jisoo selalu membuang muka.

"Jangan seperti anak kecil, kalau ada masalah kita bicarakan bersama." ucap Seokmin memecah keheningan.

"Apa? Kamu bilang aku anak kecil? Aku sudah bisa berjalan, sementara kamu baru menghirup udara." Jisoo melirik tajam pada Seokmin.

"Aku sudah bisa makan sendiri, tapi kamu masih disuapi. Kamu bilang kalau aku anak kecil?"

Seokmin kaget dengan ucapan Jisoo yang tajam.

"Maksudku bukan..."

"Oke, sepertinya kamu memang lebih cocok dengan teman-temanmu yang dewasa, pergi ke karaoke lalu minum-minuman keras. Memangnya aku ini siapa? Benar, aku hanya seorang anak kecil." Jisoo bangun dari duduknya bersiap pergi.

"Aku bilang, kita bisa bicarakan baik-baik." Seokmin menahan Jisoo dengan menarik tangannya.

"Aku ada meeting sebentar lagi." Jisoo melepas cengkeraman tangan Seokmin dan langsung pergi meninggalkan Seokmin seorang diri.

Seokmin hanya terdiam menatap kepergian kekasihnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil menatap gelas minuman milik Jisoo yang belum disentuhnya.

...

...

"Aku tidak salah lihat kan?" Pinky menghampiri Seokmin yang sedang melamun seorang diri. Seokmin langsung kaget dengan kehadiran 2 teman Jisoo di hadapannya.

"Kalian terlihat seperti..." Yebin menatap tajam pada Seokmin.

"Oh, kenapa? Sejak kapan kalian disini? Kalian tidak ikut meeting?" Seokmin mengalihkan perhatian.

"Meeting? Tidak ada meeting hari ini." Ucap Yebin.

"Benarkah?" Seokmin terkejut karena Jisoo telah berbohong. Seokmin berusaha tetap tenang.

"Hmm aroma coklat, dan masih hangat. Apa ini belum di minum? Sayang sekali." Ucap Pinky setelah meraih gelas minuman Jisoo yang masih hangat.

"Tolong berikan padanya." Seokmin mengambil gelas minuman miliknya dan langsung pergi meninggalkan Yebin dan Pinky.

"Ya ya tunggu!" Yebin mengejar Seokmin karena masih penasaran. Yebin sedikit berlari dengan heelsnya yang merepotkan untuk mengejar Seokmin.

"Kalian ada hubungan apa?" nafas Yebin tersengal-sengal setelah mengejar Seokmin yang berjalan dengan cepat. Seokmin masih terdiam.

"Jangan-jangan selama ini kamu itu... yang selalu mengirim Jisoo eonnie minuman?" Yebin langsung menebak dan sukses membuat Seokmin berhenti berjalan dan menoleh ke arah Yebin.

Yebin melebarkan matanya, ia langsung tahu jawaban dari ekspresi Seokmin.

Seokmin hanya menarik nafas dan menunduk pamit pada Yebin. Pinky datang dengan nafas yang tersengal-sengal juga karena mengejar Yebin dan Seokmin dengan membawa gelas minuman milik Jisoo yang tertinggal. Yebin hanya terdiam menatap kepergian Seokmin yang tidak bicara sepatah katapun.

"Aku sangat yakin." Ucap Yebin pada Pinky.

"Apa pikiran kita sama? Kita harus mengorek informasi lagi." Ucap Pinky dan dibalas anggukan oleh Yebin.

.

.

TBC

Annyeong,

Cuma mau bilang "Seokmin ganteng banget yak di MV Pinwheel, dan suaranya keren banget. Udah itu aja." Gegara abis nonton MV itu langsung kobam, eh ditambah Going Seventeen ep. 19 "Si Uji makannya banyak juga yak." Hehehe...

Ditunggu reviewnya ya ^^,

Keep healthy karena musim hujan yeorobun.

Special thank's

shfly9 - Kim / Mockaa1617 / levieren225 / dokiyomi / rizka0419 / ChaKristaFer / Teleportearth / zizi'd / Devil Prince / Uri SeokSoo / jeonghosh / Dardara

17 Okt 2017