.
Secret Admirer
.
oOo
.
Seoksoo
.
oOo
.
Genderswitch
.
oOo
.
Happy Reading
Pinky dan Yebin melirik satu sama lain dan pandangan mereka tertuju pada ruangan Jisoo. Yebin beranjak lebih dulu dan Pinky mengekor dengan membawa gelas minuman dari coffe shop.
"Eonnie apa kamu sibuk?"
Jisoo berhenti sejenak, pandangannya beralih dari layar monitor komputer didepannya menuju ke sosok temannya yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Tidak terlalu, ada apa?"
Yebin menengok ke belakang dimana Pinky berada, dan ia langsung mendekati meja kerja Jisoo. Pinky ikut masuk dan langsung menutup pintu serta menutup roller blind yang ada diruangan Jisoo.
Jisoo hanya terdiam dengan sepasang matanya yang terus mengawasi gerak-gerik temannya.
"Ada apa? Memang ada yang sangat rahasia?" Jisoo sangat penasaran.
"Sepertinya ini milikmu." Pinky meletakkan gelas minuman yang sedari tadi ia bawa. Jisoo hanya terdiam, ia mengenali gelas didepannya tapi ia berusaha tenang.
"Bagaimana bisa itu milikku?"
"Eonnie, ini memang milikmu walau di gelas itu bukan nama kamu yang tertulis." Ucap Yebin sarkatis dengan pandangan yang sangat tajam. Jisoo tidak berkutik lagi, ia memandang Pinky yang terus mengangguk menyetujui ucapan Yebin. Jisoo masih berusaha tenang.
"Apa yang kalian inginkan sekarang?"
"Kita butuh penjelasan." Ucap Pinky.
Jisoo menarik nafas. "Aku hanya ditraktir minum lalu aku terburu-buru jadi minumannya tertinggal."
"Aaaahhh bukan itu maksudnya, apa hubunganmu dengan dia? Apa selama ini dia secret admirer kamu?" Pinky merasa gemas dengan jawaban Jisoo.
"Oh benar, kami tidak sengaja melihatmu berdua tadi. Dan aku bisa membaca matanya, ia terlihat sangat sedih." Ucap Yebin dan Jisoo membuang muka.
"Eonnie... apa kamu tidak mau cerita?" Pinky menghampiri Jisoo dan memeluknya.
"Kembali ke meja kalian, sekarang!" Ucap Jisoo tegas.
"Wae? Benar adanya kamu menyembunyikan sesuatu. Oke, kita keluar. Kenapa kamu sangat introvert? Aku bisa baca dari raut wajahmu, ada yang mengganjal." Ucap Yebin dan ia menarik tangan Pinky agar keluar dari ruangan Jisoo.
"Baiklah, kita keluar." Pinky merasa kecewa. Jisoo hanya terdiam melihat kedua temannya pergi.
"Dia kekasihku, itu saja."
Ucapan Jisoo menghentikan langkah kedua temannya saat sudah mendekati pintu.
"Omo!" Yebin dan Pinky terkejut dan saling menatap satu sama lain.
"Aaaaakkkk!" Yebin bersorak lalu memutar tubuhnya kembali mendekati Jisoo dan langsung duduk di hadapan Jisoo. Pinky pun ikut duduk untuk mendengar informasi lebih lanjut.
"Jinjja? Kamu dan dia? Omo! Sejak kapan?" Yebin terkekeh geli.
"Sudah kubilang kembali ke meja kalian!"
"Kami tidak akan pergi sebelum kamu ceritakan semuanya." Ucap Pinky mantap.
Jisoo menarik nafasnya, lambat laun memang hubungan ia dan Seokmin akan terkuak. Jisoo menceritakan dari awal dimulai dengan penyelidikannya tentang orang yang selalu mengantar minuman setiap pagi hingga masalah dikantin siang ini.
"Aku tak menyangka, Seokmin orang yang romantis!" Ucap Yebin.
"Eonnie kamu sangat beruntung, aku ikut senang walau Seokmin yang awalnya kita kira single tenyata sudah menjadi milikmu." Ucap Pinky.
"Maaf, apa kalian patah hati?"
"Tentu saja tidak! Aku lebih senang kalau ia bersamamu dari pada dengan Yuju. Tapi omong-omong, Yuju itu siapa? Apa dia berada di tim Mingyu?" Yebin melirik pada Pinky.
"Wae? Kenapa melihatku?"
"Bukankah kamu bisa mengakses data karyawan? Cari tahu ia di bagian apa."
"Oh tidak! Aku tidak mau berurusan dengan si tua bangka itu, eonnie kenapa tidak ganti saja kepala HRD? Jangan si tua bangka itu." Pinky merengek.
Jisoo tertawa geli melihat ekspresi Pinky, ia merasa geli karena Yebin mengingatkan kalau ada yang menyukai gadis secantik Pinky, namun Pinky tidak suka karena orang itu sudah paruh baya.
"Tidak perlu, aku sudah tahu dia ada dimana." Ucap Jisoo sambil tersenyum.
"Jinjja?!" Ucap Yebin dan Pinky bersama.
"Hmm ternyata dia sudah gerak cepat dari kita." Yebin terkekeh geli.
"Sinyal wanita cemburu memang sangat kuat." Balas Pinky.
"Lalu dia dimana?"
"Dia anak trainee sudah hampir 3 bulan, dan dia berada di..."
Yebin dan Pinky mendekatkan wajah ke arah Jisoo karena rasa penasaran yang teramat sangat. Jisoo ikut mendekati wajah kedua temannya untuk memberi kabar selanjutnya.
"Di tim Mingyu." Ucap Jisoo pelan.
"Jangan diterima jadi karyawan!"
"Langsung putuskan saja, hempaskan dia!"
"Langsung pindahkan dia sekarang!"
"Jangan beri kesempatan padanya!"
Jisoo tertawa geli melihat penolakan dari kedua temannya.
"Tapi..." ucap Jisoo memotong keributan. Yebin dan Pinky langsung terdiam.
"Dia keponakan salah satu direksi kita. Dan selamat, kita tidak bisa berbuat apa-apa." Jisoo terkekeh geli.
"Wae?"
"Mwo?!"
"Andawe!"
Jisoo tertawa geli, beban pikirannya berkurang setelah bercerita pada kedua temannya. Siang itu, di ruangan Jisoo dijadikan tempat curhat bagi ketiga wanita itu.
"Jisoo eonnie, apa kamu ada arah serius dengannya?" Tanya Yebin.
"Hmm entahlah, mungkin saja. Aku kan tidak tahu jodohku siapa, bisa dia atau yang lain."
"Tapi kalau misalkan benar dia, apa kamu akan berhenti bekerja disini?" Ucap Yebin.
"Aku tahu, itu sudah jadi beban pikiranku sejak awal." Jisoo menunduk sedih.
"Benar, salah satu dari kalian harus ada yang mengalah. Kami tahu kamu wanita karir, tidak bisa diam dirumah saja. Kalau kamu tetap bekerja disini, maka dia yang harus keluar." Ucap Pinky lembut.
"Aku tahu..." Jisoo mengangguk lemah.
oOo
Jisoo menunggu respon dari Seokmin namun yang diharapkan tidak ada kabar sama sekali. Seokmin sama sekali belum mengirim pesan setelah bertengkar di kafe tadi siang.
Jisoo penasaran apa yang sedang dikerjakan oleh Seokmin karena tidak biasanya Seokmin melewatkan kirim chat.
"Apa dia benar marah? Aaaarrggh dasar bodoh, kenapa aku bisa berkata kasar begitu? Dia pasti sangat marah dengan kata-kataku." Jisoo bergumam sendiri diruangannya.
Merasa bosan, ia keluar dari ruangannya dan menuju toilet. Jisoo mencuci mukanya agar merasa lebih segar.
"Itu benar beritanya? Seokmin mau keluar?"
"Iya yang aku dengar setelah proyek yang pembangunan audiotorium selesai. Sepertinya ia akan resign."
Jisoo yang sedang menunduk di wastafel hanya terdiam lalu ia menoleh dimana kedua gadis yang ia lihat di kantin sebelumnya sudah berdiri tepat disamping ia.
"Lalu siapa yang menggantikan posisinya?"
"Aku tidak tahu, kabarnya Mingyu sedang dipertimbangkan posisinya juga. Pamanku hanya memberitahu itu saja."
Jisoo paham gadis yang berdiri disampingnya yang bernama Yuju sedang bercermin merapihkan ikatan rambutnya. Isi kepala Jisoo penuh dengan pertanyaan, ia harus segera menemui Seokmin untuk bertanya lebih lanjut.
Jisoo mencoba menelepon Seokmin namun tidak diangkat, masih dengan rasa penasaran ia masuk ke ruangan dimana Seokmin bekerja.
Ia mengedarkan pandangan, suasana sepi hanya ada pemuda yang sedang menatap layar monitor dengan serius.
"Ehem..."
"Oh, iya? Cari siapa?" Sapa Chan pada Jisoo.
"Oh, yang lain kemana? Kenapa sepi sekali." Jisoo berbasa-basi.
"Aaah itu, Mingyu hyung sedang meninjau lokasi proyek bersama Seokmin hyung. Kalau yang lainnya mungkin sedang ke atas."
"Oh begitu, oke." Jisoo langsung keluar dan berpapasan dengan Yuju serta temannya.
Jisoo mencoba menghubungi lagi namun ia mengurungkan niatnya, ia masih merasa gengsi untuk menghubungi lebih dulu.
Hingga malam menjelang tidak ada kabar dari Seokmin, Jisoo pun masih tetap pada pendiriannya tidak mau menghubungi lebih dulu.
Bolak-balik ia mengecek ponselnya namun tak ada satupun chat yang dikirimkan Seokmin untuknya. Jisoo mulai merasa kehilangan.
Dengan langkah lemas ia berjalan keluar ruangannya dan sedikit mengintip ruangan divisi Desain tempat Seokmin berada namun ruangan itu sudah sepi dan gelap tak ada tanda-tanda karyawan masih bekerja.
Jisoo pulang kerja sendiri dan merasa kesal Seokmin tidak memberi perhatian padanya.
"Aku pulang." Jisoo langsung terus masuk ke dalam kamarnya membuat sang ibu merasa heran dengan keadaan putri semata wayangnya.
"Jisoo, makan dulu."
"Ma, aku lelah." Jisoo menenggelamkan wajahnya di bantal, tak kuasa air matanya menetes dan ia tidak ingin ibunya mengetahui.
"Ya sudah, ganti bajumu dulu baru istirahat." Ucap sang ibu sebelum menutup pintu kamar Jisoo. Jisoo semakin terisak karena tak kuasa menahannya lagi, ia semakin merasa kesal dengan Seokmin.
oOo
"Jisoo, nanti malam ajak Seokmin makan disini." Ucap sang ibu saat sarapan keesokan harinya.
Jisoo tersedak mendengar permintaan ibunya. "Aku usahakan, yang aku tahu saat ini ia sangat sibuk. Mandunya enak." Ucap Jisoo lahap menyantap sarapannya.
"Makanlah yang banyak, kenapa tubuh kamu sangat kurus?" Ucap sang ibu sembari tersenyum. Jisoo membalasnya dengan senyuman.
Jisoo berangkat ke kantor sendirian seperti biasa, dan tak lupa ia mengecek ponselnya masih tetap tidak ada tanda-tanda Seokmin memberi kabar. Jisoo berencana akan meluapkan amarahnya kali ini.
"Pagi eonnie." Sapa Pinky saat Jisoo baru datang dan langsung menuju ruangannya. Jisoo membuka perlahan pintu ruangannya berharap ada kejutan menanti yang biasa diletakkan di meja kerjanya.
Jisoo hanya terdiam melihat mejanya dan berjalan mendekati mejanya. Dadanya benar-benar terasa sesak sekarang, kepalanya mendadak pening. Ia merasa benar-benar kesal.
Tak ada lagi kejutan yang biasa Seokmin beri, mejanya masih rapi seperti semalam saat ia akan pulang kerja.
"Yebin-ah, apa anak divisi umum tidak mengantar minuman?"
"Oh? Tidak. Kamu butuh sesuatu? Mau aku buatkan?" Yebin merasa heran dengan pertanyaan Jisoo.
"Tidak usah." Ucap Jisoo lirih dan langsung kembali keruangannya dan langsung menutup pintu.
Jisoo mencoba menghubungi Seokmin namun tidak tersambung.
"Astaga! Dia kemana!" Jisoo memukul meja merasa kesal sendiri. Ia langsung keluar dan berjalan tergesa tak mengindahkan tatapan teman-temannya.
"Mingyu! Aku mau bicara!"
Mingyu yang baru sampai mejanya merasa kaget dengan kedatangan Jisoo dan tampangnya yang dingin.
"Oh, ada apa noona?" Mingyu merasa bingung namun tetap mengikuti langkah Jisoo keluar ruangan. Semua mata memandang heran.
"Chan, itu siapa? Kalau tidak salah kemarin ia juga dari sini." Tanya Yerin.
"Iya, kalau tidak salah itu Ibu Hong, manajer PR." Jawab Chan dengan polos. Kehadiran Jisoo yang langsung memanggil Mingyu dengan serius membuat karyawan lain bertanya-tanya.
Jisoo berjalan menuju lantai atas yang terus diikuti Mingyu. Mereka telah sampai di halaman atas gedung yang digunakan untuk karyawan sekedar menghirup udara.
"Mingyu, sebenarnya ada apa? Apa benar Seokmin mau resign?"
"Haaaaa noona tahu darimana?" Mingyu menjawab terbata-bata karena Jisoo langsung pada pokok masalahnya.
"Katakan dengan jelas, sebenarnya ada apa? Kemana dia? Biasanya dia selalu datang pagi! Tapi tadi dia tidak ada! Mejanya juga kosong!" Jisoo meluapkan amarah, namun sasarannya ke Mingyu.
Mingyu hanya bisa bersabar menghadapi amukan wanita didepannya yang sedang merasa kesal. Biasanya kalau Wonwoo yang marah maka Mingyu hanya perlu memeluk dan menciumnya namun yang didepannya saat ini bukan Wonwoo istrinya, melainkan Jisoo kekasih sahabatnya.
"Hari ini Seokmin tidak masuk, ia kusuruh mengurus surat izin bangunan. Kalau bisa selesai cepat, ia langsung ke kantor tapi aku katakan selesaikan urusan dulu baru lapor ke kantor."
Mingyu tahu saat ini Jisoo merasa sangat kesal.
"Apa Seokmin tidak mengabari?" Mingyu bertanya taku-takut.
"Kalau ia kasih kabar juga aku tidak akan mencarinya." Jisoo menunduk dan mulai terisak masih merasa sangat sesak dalam dadanya.
"Oh... maaf aku tidak bisa ikut campur dalam urusan kalian. Tapi sebaiknya noona tanya langsung padanya."
"Bagaimana aku bisa mengubunginya? Ditelepon pun tidak bisa." Jisoo menahan isak tangisnya yang hampir jatuh lagi. Ia menarik nafas dengan dalam dan menghembuskannya.
"Maksud noona, ia menghindar? Apa kalian kemarin bertengkar hebat?"
"Aku tidak tahu Mingyu-ya."
"Noona, mau kuberi saran? Aku tidak tahu ini berhasil atau tidak tapi tidak ada salahnya dicoba."
"Apa? Aku tahu kamu pasti lebih berpengalaman dalam urusan seperti ini."
"Hmm dekati ibunya, Seokmin itu paling dekat dengan ibunya."
Jisoo hanya terdiam mencoba mencerna maksud dari Mingyu. Jisoo hanya tertawa dan merasa Mingyu benar adanya.
"Ok nice. Thank's Kim Mingyu."
"You're welcome Mrs. Lee." Balas Mingyu sambil tersenyum.
"Yak!" Jisoo kaget dengan panggilan dari Mingyu kemudian ia tertawa. Ia berencana akan datang ke rumah Seokmin sore hari setelah pulang kerja.
oOo
Jisoo telah sampai di rumah Seokmin, setelah menekan bell sang ibu dari Seokmin menyambutnya.
"Jisoo..." sapa nyonya Lee namun tidak ceria seperti biasa. Jisoo yang sudah pasang senyum merasa ada yang janggal.
"Eh, ayo masuk."
Jisoo benar merasa ada yang aneh, sebelumnya sang ibu kekasihnya terlihat sangat riang menyambutnya dan akan sangat cerewet dengan berbagai pertanyaan.
"Ini, untuk eomma." Jisoo memberikan sekotak isi berbagai roti manis yang ia beli saat dalam perjalanan.
"Eomma? Ah iya terima kasih."
Jisoo merasa benar-benar ada yang aneh, sebelumnya ia dipaksa memanggil dengan sebutan "eomma" pada wanita didepannya namun kini ia merasa sangat berbeda. Nyonya Lee tampak sangat canggung, Jisoo merasa ada yang tidak beres.
"Seokmin belum pulang?"
"Eh? Kalian kan satu kantor, apa tidak bertemu? Ah kamu mau minum apa?"
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kalian berdua sangat aneh?"
"Jisoo, ah mungkin Seokmin pulang malam lagi. Ia selalu bekerja keras, kasihan anak itu."
"Saya tidak bisa menghubunginya sejak kemarin dan ia tidak mengirim pesan sedikitpun pada saya sampai hari ini."
"Seokmin benar-benar sibuk sepertinya. Takut kamu menunggu lama, saya tidak tahu ia pulang jam berapa."
Jisoo menaikkan sebelah alisnya, ia benar-benar tidak habis pikir hanya karena ia bertengkar pada Seokmin kini sikap ibunya juga berubah.
"Saya diusir?"
"Tidak Jisoo, hanya saja akhir-akhir ini Seokmin selalu pulang larut takut kamu menunggu terlalu lama." Nyonya Lee berusaha tetap tenang didepan Jisoo.
Jisoo menarik nafasnya, kepalanya terasa sangat pusing dengan masalah yang menimpanya.
"Saya akan menunggunya, kalau tidak di izinkan menunggu disini saya bisa tunggu di mobil." Jisoo bangun dari duduknya.
"Jisoo, biar Seokmin yang mencarimu nanti. Kamu istirahatlah, pulanglah dulu bukan karena kamu di usir."
"Terima kasih, baiklah saya pulang." Jisoo bangun dari duduknya.
"Jisoo..." nyonya Lee menarik lengan kurus Jisoo.
"Apa kamu sangat mencintai Seokmin?"
"Maksudnya?" Jisoo menatap sang ibu kekasihnya karena semakin heran dengan sikapnya.
"Jisoo, kalau benar kamu mencintainya tolong jangan membuat ini semakin rumit. Kalian harus bersatu, jangan biarkan Seokmin berjuang sendiri." Nyonya Lee memeluk Jisoo dengan erat. Jisoo hanya bisa menebak apa karena pertengkaran kemarin ia langsung cerita pada ibunya.
"Entah Seokmin pulang malam ini atau tidak, eomma tidak tahu. Ponselnya rusak sejak kemarin dan belum sempat diperbaiki. Eomma hanya ingin kamu percaya pada Seokmin." Nyonya Lee berbicara sangat serius dihadapan Jisoo.
"Sebenarnya ada apa? Maksudnya kenapa?"
"Seokmin sedang mencari keberadaan ayah kandungmu karena itu syarat dari ibumu agar kalian bisa menikah."
"Aaaappaaaa...? Ceritakan dengan jelas. Syarat? Syarat apa?" Jisoo membulatkan matanya merasa sangat terkejut.
"Kemarin eomma datang ke apartemenmu dengan Seokmin karena ingin berkenalan. Saat mengutarakan niat untuk berbesan, ibumu meminta pada Seokmin untuk mencari keberadaan ayah kandungmu. Dengan restu ayahmu maka kalian bisa menikah, katanya itu kalimat terakhir sebelum orang tua kamu berpisah."
Jisoo terduduk lemas baru mengetahui alasan Seokmin menghilang tanpa kabar.
"Awalnya eomma marah dan bingung, tapi Seokmin bersikukuh ingin serius dengan kamu. Ibu kamu hanya memberikan alamat terakhir dimana ayah kamu berada, kalau Seokmin berhasil menemukannya maka kalian bisa menikah."
"Tapi, mamaku tidak bicara mengenai hal ini. Mama sudah menerima dengan adanya Seokmin. Tanpa ada ayah kandungku masih ada pamanku yang bisa mewakilkan. Aku tahu mama pasti tidak ingin bertemu ayahku lagi."
"Jisoo, mama kamu memang sudah menerima. Hanya saja, ia ingin melihat kesungguhan Seokmin dan Seokmin harus mencarinya sendiri tanpa bantuan jasa detektif."
"Jadi, dia dimana sekarang?! Bagaimana aku bisa menyusulnya? Kenapa ponselnya rusak? Kemarin masih baik-baik saja." Jisoo berubah menjadi panik sendiri.
"Mingyu. Seokmin masih dapat menghubungi Mingyu tadi pagi saat minta izin tidak masuk, tadi siang ia sempat telepon dan sekarang belum ada kabar lagi." Nyonya Lee terus mengusap tangan Jisoo untuk menenangkan.
Jisoo hanya terdiam dan seketika teringat panggilan dari Mingyu untuknya "Mrs. Lee". Jisoo yakin Mingyu mengetahui semuanya dan semakin yakin kenapa ia diberi saran untuk mendekati ibunya Seokmin, agar Jisoo mengetahui jawaban dari sang ibu kekasihnya.
"Eomma..." Jisoo menggenggam tangan wanita yang duduk disampingnya.
"Aku akan menunggu Seokmin disini."
"Terima kasih sayang, tapi sebaiknya kamu pulang saja lagipula ada ibu kamu di rumah. Nanti kalau Seokmin sudah pulang, eomma suruh hubungi kamu."
"Tapi..."
"Tidak apa-apa, kamu juga harus istirahat. Nanti eomma kabari kalau ia sudah pulang."
"Eomma, terima kasih." Jisoo memeluk nyonya Lee, ia mulai merasa lega telah menemukan jawaban tinggal menunggu penjelasan dari Seokmin.
oOo
Ting ting ting (bell apartemen Jisoo terus ditekan di pagi hari)
Jisoo melangkah malas membuka pintu, sejenak ia mengintip tidak tampak ada yang berdiri didepan pintu apartemennya.
Jari mungilnya memutar kunci dan menggerakkan handle pintu.
"Selamat pagi." Sapa Seokmin riang dengan membawa buket bunga dengan jenis bunga lily berwarna merah muda dan putih serta bunga aster.
Jisoo yang terkejut hanya terdiam sambil menatap bunga yang dibawa Seokmin.
"Kenapa? Jelek ya? Aku tidak tahu bunga yang bagus. Kata penjualnya ini melambangkan kesucian, lalu yang ini kasih sayang."
Jisoo tidak mengindahkan ocehan Seokmin saat menjelaskan arti bunga yang ia bawa. Jisoo langsung berjinjit untuk meraih tengkuk sang kekasih untuk dipeluknya.
"Kamu datang..." Jisoo tak bisa membendungnya lagi, ia langsung menangis dalam pelukan Seokmin.
Seokmin hanya terdiam dan terus mengusap punggung Jisoo.
"Maaf, aku datang karena sangat merindukanmu. Rasanya sangat sulit tidak bertemu walau sehari saja."
"Aku mencarimu sejak kemarin, kamu tidak ada kabar." Jisoo melepas pelukan langsung memalingkan wajahnya dan menghapus sendiri air matanya.
"Maaf, ponselku rusak terjatuh saat di proyek, masuk adukan semen. Saat itu aku kerepotan mau terima telepon, lalu ponselnya terjatuh dari lantai 2 dan kemudian pluk masuk ke dalam mobil molen yang sedang parkir dibawah dan..."
Jisoo menangkup wajah Seokmin sambil berjinjit serta mengecup bibirnya agar berhenti bicara. "Berisik, cepat masuk."
"Oke sayang." Seokmin menurut untuk segera masuk.
"Ma... ada Seokmin datang." Teriak Jisoo menuju ke arah dapur dimana sang ibu sedang menyiapkan sarapan. Tangannya bergerak cepat mengambil vas bunga kemudian mengisinya dengan air untuk diletakkan bersama bunga segar yang dibawa Seokmin.
"Pagi mama. Ini ada oleh-oleh." Seokmin membawa plastik tentengan berisi jeruk.
"Terima kasih, oh iya mandunya enak. Jisoo sangat suka."
"Mandu?" Jisoo menaikkan sebelah alisnya, merasa bingung dan meletakkan vas bunga di tengah meja makan.
"Oh ya? Kamu suka?" Seokmin menatap Jisoo dengan riang tapi tidak dengan Jisoo yang merasa bingung.
"Mandu yang kemarin kamu makan, itu buatan ibunya Seokmin. Ayo sarapan."
Jisoo hanya tersenyum merasa malu sendiri, ia sempat berpikir bahwa Seokmin tidak memberi perhatian lagi. Mereka sarapan bertiga layaknya sudah menjadi keluarga. Jisoo melihat wajah Seokmin terlihat sangat lelah namun ia menutup dengan selalu memberikan candaan.
Jisoo kembali menjadi riang setelah Seokmin menjemputnya untuk berangkat kerja bersama.
"Biar aku yang mengemudi, kamu tidur saja." Jisoo merebut kunci dari tangan Seokmin dan mendorong tubuh kekasihnya agar berjalan ke sisi mobil lainnya. Seokmin hanya tersenyum, ia memang butuh istirahat. Ia sampai rumah jam 2 dini hari langsung tidur dan bangun jam 5 kemudian bersiap menuju apartemen Jisoo.
"Banyak hal yang mau aku tanyakan..." Jisoo sedikit melirik ke arah Seokmin yang terlihat mengantuk.
"Tanya saja, aku siap menjawabnya."
"Kemarin kamu kemana?"
"Kemarin aku ke kantor."
"Ish serius, aku ke ruangan kamu tidak ada." Jisoo melayangkan cubitan disela mengemudi mobil. Seokmin tertawa geli.
"Aku mencari ayah kandungmu sesuai petunjuk mama kamu tapi ternyata ia sudah tidak disana. Sekolah tempatnya mengajar sudah tutup 5 tahun lalu dan aku bertanya pada penduduk sekitar tidak ada yang mengenal ayahmu. Aku mencari alamat salah satu guru disana tapi tidak mengenal sosok ayahmu juga, mungkin saat orang itu mengajar sudah ganti Kepala Sekolah jadi ia tidak paham."
Jisoo menahan tangisnya lagi, ia melirik dan melihat Seokmin memejamkan matanya. Sebelah tangan Jisoo mengusap lembut kepala Seokmin.
"Akhir pekan, kita cari bersama."
Seokmin langsung membuka matanya dan menegakkan tubuhnya. "Benarkah?"
"Iya, aku akan mencari info juga." Ucapan Jisoo membuat Seokmin merasa segar kembali seketika rasa lelahnya telah hilang. Mobil Seokmin yang dikendarai Jisoo telah sampai di halaman parkir gedung kantor mereka.
"Aku tunggu di mobil, kamu keluar saja dulu."
"Kita keluar bersama." Ucap Jisoo disertai senyum manisnya. Seokmin hanya terdiam menatap kekasih cantiknya.
"Tapi..."
"Cepatlah, aku harus siapkan data untuk meeting pagi ini." Jisoo langsung keluar dari mobil dan Seokmin menurutinya.
Berjalan berdua menuju lobby, Jisoo berjalan dengan penuh percaya diri dengan Seokmin yang terus mendampinginya. Suasana kantor masih sepi belum banyak yang datang.
"Aku dengar rumor, kamu mau resign?"
"Hah? Info darimana? Kalau aku resign lalu aku kerja dimana lagi? Siapa yang sebar gosip begitu?"
Jisoo hanya tertawa melihat Seokmin mengomel.
"Aaah sore nanti temani aku..."
"Oke aku temani." Jawab Jisoo mantap.
"Temani kemana? Bahkan aku belum selesai bicara." Seokmin merasa senang dengan perubahan sikap Jisoo.
"Urus kartu kamu kan? Dan beli ponsel baru." Ucap Jisoo percaya diri dan melangkah keluar lift menuju ruangannya.
Seokmin hanya tertawa melihatnya, ia senang melihat senyuman Jisoo. "Jichu-ya..."
Jisoo menoleh ke arah Seokmin yang mengedip dan memberi sign heart dengan kedua jarinya. Namun saat ada yang melintas Seokmin buru-buru bersikap biasa membuat Jisoo tertawa geli dan kembali berjalan masuk ke ruangan dan Seokmin berjalan berlawanan menuju ruangannya juga.
...
...
Tok tok tok...
"Permisi, saya mau antar ini." Yuha datang ke ruangan Jisoo, sejenak menghentikan kegiatan Jisoo dan beralih melihat apa yang dibawakan Yuha padanya.
Secangkir teh dan sekotak kue beras sebagai camilan. Yuha juga meletakkan amplop kecil, Jisoo semakin tidak sabar untuk membuka isi dari amplop itu.
"Terima kasih Yuha."
"Sama-sama, saya permisi." Pamit gadis itu dan dibalas anggukan Jisoo. Setelah Yuha pergi, Jisoo langsung membuka amplop dan ada selembar surat disana.
"Pagi, ibu manajer. Kalau boleh minta saran, apa aku bisa ajukan pinjaman untuk bulan ini? Aku sangat butuh uang untuk membeli ponsel, tanpa alat itu aku tidak dapat berkomunikasi dengan kekasih cantikku. Ia sangat kesal karena aku tidak menghubunginya. Sebagai pertimbangan, aku bawakan kue beras semoga ibu manajer bisa memberiku pinjaman dengan bunga 0%.
Ps: Bercanda ^^, selamat menikmati."
Jisoo tertawa geli membacanya, ia merasa senang Seokminnya telah kembali memberikan kejutan kecil.
.
.
.
TBC
Annyeong,
Holaaa reader, pertama mau ucapin Chukkaeyo uri Sebongie 1st Win Clap dilanjut menang award dari AAA juga ^^. Finally, bisa update SeokSoo again, maapkeun kalau lama karena memang dibagi-bagi dari Seoksoo lalu Meanie dan kesibukan realita juga hehehe...
Semoga pada suka ya...
Ditunggu review kalian ^^
Special thank's to :
jeonnram / Mockaa1617 / yo / jinseobsquad / shyfly9 - Kim / meltme17 / rizka0419 / zizi'd / Cha KristaFer / dokiyomi / Dardara / dyodomyeon /
16 November 2017
